BebasBanjir2015

Tirta Sangga Jaya (TSJ)

Tirta Sangga Jaya (TSJ)

Sunday, June 03, 2007

Di tengah krisis karya monumental bangsa di era modern ini, tak ada salahnya menengok ke belakang, merenung sejenak, bahwa nenek moyang kita telah mengerjakan dan mewariskan karya monumental, seperti Candi Borobudur, yang diakui sebagai salah satu keajaiban dunia.

Dalam wujud lain, Raja Purnawarman, penguasa Kerajaan Tarumanegara, pada abad kelima Masehi sudah menerapkan manajemen air dan pengendalian banjir yang terencana dan ber­jangka sangat jauh ke depan. Menurut catatan sejarah, Raja Purnawarman, dengan peralatan yang sangat sederhana, mampu membangun kanal, kemudian menjadi sungai, sepanjang 11 kilometer hanya dalam tempo 21 hari. Artinya, setiap satu hari diselesaikan 550 meter kanal. Kanal itu kemudian diberi nama Sungai Candra Bagasasi. Peninggalan sejarah itu, sekarang bernama Kali Cakung, membelah kawasan Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Jadi, dilihat dari perspektif sejarah, Tirta Sangga Jaya (TSJ) boleh dibilang bukanlah sesuatu yang terlalu besar, karena nenek moyang kita sudah mengerjakannya 1507 tahun lalu dengan peralatan yang sangat sederhana. TSJ atau sabuk kanal penyangga Ibukota Negara Jakarta, merupakan gagasan tentang tata kelola air secara holistik, yaitu mengamankan pasokan air baku dan mengendalikan arus air liar dari empat sungai besar Cisadane di barat, Ciliwung di tengah, Bekasi, dan Citarum di timur yang setiap tahun mengancam Jakarta dengan amukan banjir kiriman.

Lewat konsep tersebut, 13 sungai sebelum masuk ke Jakarta, dipotong oleh TSJ yang berbentuk huruf U. Pusat kendali waduk reservoir bisa dibangun di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Air kiriman sungai-sungai Ciliwung, Cisadane, Bekasi dan Citarum, ditampung di waduk Cibinong dan waduk-waduk persimpangan antara sungai-sungai tersebut dan kanal TSJ. Air kanal dan waduk-waduk itu dimanfaatkan juga untuk memasok kebutuhan air baku yang bermutu bagi warga Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Juga untuk keperluan industri perhotelan, apartemen dan perkantoran, sekaligus mencegah eksploitasi air tanah secara besar-besaran.

TSJ dengan kanal selebar 100 meter dan sepanjang lebih kurang 200 kilometer, membentang membentuk huruf U dari Cibinong ke Muara Mauk, Tangerang di sebelah barat, dan dari Cibinong menuju Muara Jaya, di sebelah timur. Gagasan ini lahir dari “Mimpi untuk Jakarta” Syaykh AS Panji Gumilang, pucuk pimpinan Lembaga Pendidikan Al-Zaytun. TSJ juga bisa berfungsi sebagai jaringan irigasi, pembangkit listrik tenaga air, pariwisata, dan prasarana angkutan sungai, baik angkutan penumpang maupun barang.
Yang jadi pertanyaan, bisakab mimpi atau gagasan itu terwujud sebagai kenyataan? Sebab, pembangunan proyek TSJ yang monumental dan spektakuler, membutuhkan biaya yang sangat mahal, menurut perkiraan Syaykh sekitar Rp 900 triliun. Namun menurut Syaykh, dana sebesar itu bisa diperoleh secara bertahap apabila dipikul bersama oleh masyarakat Indonesia yang berkemampuan secara ekonomi. Artinya, pemerintah bisa menjual Surat utang negara (SUN) atau obligasi berjangka tidak terlalu lama kepada publik.

Soalnya, TSJ diharapkan bisa memberikan return (penghasilan) begitu pembangunannya selesai dalam tempo 8 tahun (tahun 2015). Penghasilan TSJ diperoleh dari pasokan air baku bermutu pada perusahaan-perusahaan daerah air minum, perhotelan, perkantoran dan apartemen. Juga dari PLTA, angkutan air, angkutan jalan tol dan pariwisata.
Raja Purnawarman saja bisa membuat sungai dengan peralatan sangat sederhana. Tentu di era kemajuan ini, puteraputera terbaik bangsa, dengan teknologi dan peralatan modern, akan mampu membuat waduk, reservoir, jalan tol dan jembatan.

Persoalannya apakah pemerintah punya political will (kemauan politik) untuk mengatasi persoalan-persoalan fundamental yang dihadapi Ibukota Negara (Jakarta) secara holistik dan berjangka. panjang. Bukan semata-mata pengendalian banjir, tetapi juga penyediaan pasokan air baku bermutu penghentian ekspolitasi air tanah, penataan kembali tata ruang dan pemeliharaan keseimbangan lingkungan Jakarta.

Jika masalah Jakarta ditangani secara parsial, misalnya membangun terowongan air bawah tanah (deep tunnel), situ, resapan air dan sumur injeksi air, maka tak akan menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Jakarta takkan pernah memiliki pasokan air baku yang bermutu. Air baku kali-kali Jakarta dijejali pencemaran yang sangat serius. Sebab air baku Kali Ciliwung dan kali-kali lainnya, pada musim hujan penuh Lumpur, dan hitam pekat pada musim kemarau.

Kalau hanya berkutat di dalam, maka krisis air di Ibukota Negara Jakarta, takkan pernah selesai. Sebaliknya, air sungaisungai itu akan semakin kotor dan tercemar. Padahal manusia sangat membutuhkan sekitar 70% pasokan air bersih untuk kehidupannya sehari-hari.

Jika kebutuhan air Jakarta tidak ditangani secara terencana dan terarah mulai sekarang, maka dalam tempo tiga atau empat tahun ke depan, Ibukota Negara ini, akan mengalami krisis air bersih yang sangat serius. Sebab sekarang saja, intrusi air laut sudah sampan ke kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, dan Tomang, Jakarta Barat. Lambat lawn, warga Jakarta yang bermukim di kawasan barat, pusat, timur dan selatan, akan menghadapi kesulitan air seperti yang sudah lama dialami oleh saudara-saudara mereka di kawasan utara.

Kapan lagi Jakarta memiliki sungai-sungai yang mengalirkan air yang jernih dan sehat, seperti kota-kota besar dunia lainnva? Bagaimanakah nasib Program Kali Bersih (Prokasih) Jakarta? Kapankah Jakarta akan bebas dari banjir kiriman?

Semua pertanyaan tersebut hanya akan terjawab dengan membangun TSJ. Bukan mengutak-atik Banjir Kanal Barat atau Banjir Kanal Timur. Persoalan pasokan dan pengendalian air di Jakarta, tidak bisa ditangani dari bagian tengah atau hilir. Sebab sumbernya ada di hulu. Karena itu, TSJ akan melindungi Jakarta dari punggung dan lengan, sesuatu yang sangat ideal, meskipun harganya mahal.

Krisis air Jakarta hanya bisa diatasi dengan perencanaan dan manajemen air yang menyeluruh dan berjangka jauh ke depan. Kuncinya. mari kita mulai berpikir untuk mewujudkan “Mimpi untuk- Jakarta” melalui proyek monumental Tirta Sangga Jaya.

(Sumber Majalah Berita Indonesia – Edisi 39/2007)
Sumber: http://al-zaytun-online.blogspot.com/2007/06/tirta-sangga-jaya-tsj.html

Syaykh AS Panji Gumilang: Tirta Sangga Jaya Nama Yang Bagus

BERINDO 36-5: Pemimpin Kampus Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang memiliki mimpi besar tentang pengendalian air di Ibukota Negara, dengan berpijak pada proyek Waduk Windu Kencana yang sedang dikerjakan Al-Zaytun siang malam. Ia mengambil contoh pembangunan bendungan Azwan, di Mesir, yang berhasil mengendalikan kota Kairo dari ancaman air bah Sungai Nil dan serangan buaya-buayanya.

Berikut petikan wawancara mimpi Syaykh tentang Jakarta, disampaikan kepada Robin Simanullang dan Haposan Tampubolon, serta fotografer Wilson Edward.

Ibukota Negara selalu mengalami banjir berulang-ulang. Barangkali, Syaykh bisa memberikan sumbangsaran cara terbaik mengatasinya?

Kalau sumbang saran itu terlalu besar. Tapi, ada mimpi untuk Jakarta. Jakarta itu dikepung dan dialiri oleh berbelas-belas sungai yang besar maupun kecil. Selama itu sungai pasti dilalui air. Kalau tidak ter-manage, ya, menjadi melimpah dan bukan rizki.

Kalau kita ambil titik Jakarta dari Monas, sampai ke Cibinong, atau lebih sedikit, kemudian kita tarik dari Cibinong, atau lebih ke selatan sedikit kira-kira 60 kilometer dari titik Monas, di sana kita membuat sungai baru atau kanal.

Kanalnya jangan terlalu kecil, katakan 100 meter lebar, kemudian di kanan kiri ada 50 meter yang nantinya menjadi jalan raya di tebing atau bantaran sungai. Kemudian kedalaman disesuaikan dengan kontur tanahnya.

Kanal membentang ke barat, sampai lebih barat dari kota Tangerang. Katakanlah kalau diukur sampai ke Kresek, ditarik garis lurus mungkin sampai Cikupa. Itu kita buat lagi (kanal) yang sama 100 (meter), kanan-kiri ada jalan 50-50 meter.

Kemudian ke timur, kanal sampai ke Karawang yang lurusannya nanti Rengasdengklok. Keluar dari sana ada yang namanya Tanjung Jaya. Kalau di Tangerang sana ada Tanjung Kait.

Kalau itu dibuat maka terjadi, Ibukota Jakarta itu luasannya dari titik Monas 60 kilometer ke selatan. Kemudian dari titik Monas ke utara 30 atau kurang lebih 20 kilometer. Berarti hampir 80 atau 100 kilometer.

Kemudian timur-barat (dari Monas) sampai ke lurusan Kresek sana 60 kilometer, dari Kresek itu mungkin juga sampai lurusan Batu Jaya 60.

Berarti nanti akan ada sungai “Letter U” 60-60-60-60, yang totalnya menjadi 240 kilometer mengitari Ibukota.

Kitaran yang “Letter U” sudah barang pasti mencegat perjalanan aliran air yang 13-15 sungai itu. Dan yang terkenal kalau di tengah Ciliwung, di timur Citarum, dan di barat Cisadane sungai raksasa semua.

Itu sudah terbendung dulu. Bukan berarti tidak boleh mengalir (tapi) ada paras kontrol. Dengan adanya yang 240 kilometer ada penanggulangan lalulintas. Ada orang kurang senang jalan di darat, dia jalan di air. Sebab ada jalan yang mendukung kanan-kiri tadi, 240 kilo kali dua.

Sudah, manfaatnya besar bisa untuk rekreasi, bisa menghasilkan uang, secara estetikanya indah, arsitekturnya mendukung.

Mengapa sungai Nil bisa seperti itu, kita tidak bisa buat? Dulu sungai Nil kalau banjir bukan banjir air tetapi banjir buaya. Manusia Kairo banyak yang mati bukan tenggelam tapi dimakan buaya. Kalau Jakarta, banyak yang sengsara karena air.

Kemudian (sungai-sungai) yang masuk dalam kota dinormalisir. Tidak usah mengusir penduduk tetap saja di situ. Perumahannya tidak boleh horizontal, mulailah vertikal.

Sehingga di sisi-sisi sungai ada lahan yang luas. Katakan, Ciliwung yang dekat Tebet, nanti di pengkolannya, kampungnya masih Kampung Tebet, kelurahannya masih Kelurahan Tebet, kecamatan masih Kecamatan Tebet. Mereka tidak usah diusir karena sumber budaya ada di kampung-kampung itu.

Baru dibuat perumahan ke atas. Ada 1.000 kepala keluarga (KK) dalam satu rumah vertikal yang tadinya mendiami 200 meter lahan. Maka lahan yang ditinggalkan, 200 meter kali 1.000 KK sama dengan 200.000 meter persegi itu dijadikan halaman, tempat sekolah, tempat olahraga, tempat rekreasi, tempat penghijauan lingkungan. Rumah cukup naik ke atas untuk 1.000 KK. Untuk pengontrolan kependudukan lebih aman dan lebih terkontrol.

Jadi andainya seperti itu maka di dalam kota ada pilihan jalan. Ah, saya mau lewat Ciliwung saja, oh, saya mau lewat Ciliwung pinggiran kanan atau kiri. Maka tidak ada kesulitan jalan raya. Jadi bukan karena banyaknya kendaraan Jakarta macet, tapi manajemennya yang kurang tertata.

‘Oh, biayanya mahal’ (kata orang), oh memang mahal. Tapi lebih mahal jiwa satu orang yang terendam air, daripada kita menata seperti itu.

Katakan, ‘diperlukan puluhan miliar dollar’, oh sekali hutang saja 40 miliar (dollar), nah mengapa bukan itu.

‘Oh, darimana dananya’, orang Indonesia kaya. Karena jumlah penduduknya 240 juta. Ambil 10 persen yang punya uang diam, masing-masing 100 ribu dollar. Juallah obligasi kepada bangsa jangan ke luar negeri. Jangan pula mencetak obligasi yang cincai-cincai satu dollar dua dollar. Paling murah 1.000 dollar satu surat berharga, banyak orang yang bisa membelinya.

Lha, sejumlah itu apakah mungkin mengumpulkan 100 miliar dollar AS. Sangat mungkin. Bisakah kembali dengan tempo cepat? Sangat bisa, mengapa tidak? Sebab air berjalan. Ada transportasi air, ada wisata air, kemudian ada ketenangan jiwa. Terjadilah Ibukota menjadi tenang.

Kemudian tidak usah digembar-gemborkan istilah megapolitan dan sebagainya. Setelah dibuat seperti itu maka diputuskanlah oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Ibukota Negara Indonesia adalah Jakarta yang dibatasi oleh sungai baru “Letter U”. Selesai. Rakyat tidak berdebat.

Gubernur Jawa Barat tidak akan melawan, Gubernur Banten tidak akan melawan. Gubernur Jakarta tidak akan bangga la wong keputusan, menjadilah Ibukota Negara Republik Indonesia.

Jakarta perbatasannya sungai yang baru dibuat, katakanlah “Tirta Sangga Jaya” atau “Air Yang Menyangga Jakarta Raya”.

Tirta Sangga Jaya bermanfaat untuk Jakarta?

Bermanfaat sebagai Ibukota Negara.

Hinterland-nya turut memperoleh manfaat, untuk wisata misalnya?

Untuk wisata, kemudian air untuk pertanian diambil oleh Jawa Barat dan oleh Banten. Kan, asyik. Di sungai Nil ada wisata air tengah malam sambil menari-nari, di sungai Tirta Sangga Jaya pun bisa nanti keliling.

Sungai Nil cuma berapa kilo, ini 240 kilometer. Sedangkan, satu malam cuma 12 jam nggak cukup, ‘ah, besok lagi’, datang lagi, karcis lagi, masuk retribusi.

Nanti orang tidak hanya datang ke Bali. Ke Bali suatu waktu tapi Tirta Sangga Jaya tidak boleh dilupakan, kan begitu nanti. Kemana wisatanya, ‘Ke Tirta Sangga Jaya’.

Pendanaan, apakah lewat APBN?

Ya APBN dong. Kalau nanti nonbudgeter jadi rusak negara. Ditetapkan bahwa akan membuat obligasi jumlahnya sekian, masukkan anggaran belanja negara dan pendatapan, dikontrol, kalau tidak nanti ko and rup and si.

Dan untuk perbuatan itu jangan ditenderkan. Buatkan keputusan tertentu ditunjuk ataupun dilaksanakan oleh negara, dikontrol oleh masyarakat, negara luar pun menghormati, ‘Oh, putusan Majelis’.

Perlu dibentuk semacam Otorita?

Ya, otorita khusus supaya ter-manage apa saja bentuknya. Integrated nanti dengan hinterland-nya. Dilindungi oleh payung yang sangat kuat yaitu keputusan Majelis sebagai keputusan politik. Kalau tidak, saling berkuasa nanti. Kata Jakarta, ‘Oh, ini milik saya’. Kata Jabar, ‘Milik saya’, kata Banten ‘Milik saya’.

Berapa lama mewujudkannya sejak pelaksanaan?

Ah, kalau negara satu dua tahun selesai asal pendekatannya bagus. Sekarang rakyat tidak mau karena mereka memang tingggal di situ. Nanti, mereka tetap tinggal di situ.

Dikasih ganti untung?

Bukan dikasih ganti, disediakan. Rumahmu tetap ini, tapi dinaikkan, lebih bagus, bisa tahu bulan lebih dekat. Kalau dari bumi kan jauh. Mungkin tingkat 30, ‘Lebih dekat kamu kepada bulan’. Jadi kalau angin lebih dekat ke angin yang lebih segar.

Pembebasan lahannya mungkin yang sulit?

Jangan pernah dibebaskan lahan itu. Kalau dibebaskan tidak mau orang, bertahan. Ini dibuat sungai, rumahmu tetap di sini, lebih bagus, kampungmu tetap di sini, karena, Indonesia tanah airku/Tanah tumpah darahku. (Syaykh nyanyi dengan suara yang merdu).

Lah tanah tumpah darahnya dibuang, nanti ditanya dimana, ‘Itu sungai’. Tanah tumpah darahku di kampung ini, bercerita, dulu kampung saya di sini, yang sekarang dibuat sungai. ‘Lo, kok namanya tetap’. Iya, namanya tetap, nggak boleh dirubah.

Jadi, kalau dia orang di Tebet ya tetap di Tebet. Cuma dulu Tebetnya sini, sekarang Tebet sini (rumah vertikal). Jadi KTPnya enak. Ngontrolnya enak. Yang punya KTP jelas. Yang tidak punya KTPpun jelas. Budaya bisa ditata dengan baik. Bhineka Tunggal Ika bisa dimasukkan di situ. Jadi bukan hanya simbol, tapi ilmunya dan amalnya.

Bagaimaan dengan Banjir Kanal Timur atau Kanal Barat yang sedang dikerjakan?

Itu tidak memadai, sama saja dengan ini ada kudis, tet, dipencet terus keluar, pindah ke sini, tet, keluar. Kalau ini nggak. Kasih jalan air, ‘kamu’ lewat sini. Oh terlalu melimpah, buka sedikit pintunya, masuk dalam kota. Kotanya sudah lurus, air sungainya bisa disambung dengan sungai Cikeas, bisa disambung dengan sungai Ciliwung, interdependen. Nanti dibuat interdependen. Kan asyik dalam kota ada perahu, ada boat seperti negara-negara besar lain.

Mimpi yang sangat orisinil dari Syaykh?

Ya, tidak tahu, namanya juga mimpi.

Konsep Belanda dulu, masih konsep feodal Banjir Kanal Barat dibangun untuk melindungi Menteng saja?

Karena dulu batasannya kecil maka dikatakan orang kampung Kali Deres. ‘Deres’ itu cepat larinya. Begitu masuk Banjir Kanal Timur sekarang dinamakan Kali Malang. Dinamakan Kali Malang karena melintang masuk kota. Mestinya utara-selatan, ini lari ke barat menjadi timur-barat malang-melintang, Kali Malang.

Di mana-mana sungai itu ke timur, ini ke barat. ‘Ah, sudah, kali malang-melintang’, gampang saja orang Indonesia kasih nama.

Sekarang ada nama bagus Tirta Sangga Jaya?

Kalau Tirta Sangga Jaya agak sedikit pantas daripada Kali Deres atau Kali Malang. Masak orang segar-segar dikatakan Malang. Pantas banjir terus sebab kalinya malang. Coba kalau kalinya mujur.

Waduk Windu Kencana mungkin bisa menjadi wujud awal Tirta Sangga Jaya?

Itu, aplikasi mimpi. Sebelum yang besar kan yang kecil dulu.

Waduk Windu Kencana akan menjadi objek wisata juga?

Ya. Pembangunan itu harus punya nilai ekonomi, nilai hiburan, nilai rekreasi, nilai arsitektur, nilai kelestarian, baru namanya sustainable. Kalau cuma air, kaku.

Selain menyangkut ketahanan terpadu pertanian, ada manfaat Waduk Windu Kencana untuk masyarakat sekitar?

Oh, pasti. Kalau Al-Zaytun tinggal di belantara padang pasir Azwan sana ya nggak ada (manfaatnya). Ini kan tinggal di masyarakat. Kalau berbicara Zaytun bicara masyarakat sekalipun agak jauh letaknya.

Sungai itu kan air, tidak diam, dia merambat. Setiap yang dirambati air pasti bagus karena air itu sumber kehidupan.

Tirta Sangga Jaya sepertinya bukan mimpi sebab miniaturnya Windu Kencana sudah ada?

Yah, kalau bagi saya itu mimpi. Karena kita di sini.

Jakarta akan mengadakan Pilkada pada Agustus 2007. Tirta Sangga Jaya mestinya bisa menjadi isu andalan setiap kandidat?

Kalau sekadar oleh gubernur juga kurang. Harus oleh negara. Karena harus ada political will dari atas, kokoh sebagai payung yaitu MPR.

Secara politis Al-Zaytun bisa berperan mendorong political will dari atas tadi?

Oh, kalau peranan, semua bangsa. Al-Zaytun kan sebagian kecil dari warga bangsa.

Paling tidak calon gubernur Jakarta datang ke sini memperoleh masukan konsep membangun Jakarta?Biasanya kalau datang ke sini, ‘Oh, ini kan tempat kecil, jadi gampang. Jakarta itu besar, jadi susah’. Selalu mengedepankan susah.

Kalau kita selalu mengedepankan, semua tidak ada yang susah kalau dikerjakan. Dan tidak ada besar tidak ada kecil pekerjaan itu. Karena nilainya sama. Kecil tidak selesai ya tambah rusak. Besar tidak dikerjakan juga susah.

Tahun ini Al-Zaytun genap berusia sewindu. Syaykh bisa mengukur persentase pencapaian mimpinya, sudah berapa besar?

Kalau dipersentase kecil, wong mimpi itu besar. Kalau mimpi kecil ya sudah selesai. Mimpi kita kan besar. Daripada mimpi kecil mending mimpi besar. Tercapai sudutnya, lumayan. Jadi jangan pernah memprosentase pekerjaan. Lepaskan saja prosentase itu tapi terus perbesar mimpinya.

Karena mimpi besar belum terlaksana pun sudah gembira, ‘Ah, saya tadi malam mimpi,’ ya itu. (Syaykh kembali bernyanyi merdu). Waktu semalam bung aku bermimpi/Ketemu ular bung besar sekali/Ular menggigit jari kakiku/Aku menjerit aduh/Kenapa kok aduh/Mimpi. Jadi asyik, mimpi itu bisa jadi obat.

Visi Pendidikan Al-Zaytun 2020 juga mimpi yang mengasyikkan?

Oh, iya. Harus mimpi 2020. Jangan lama-lama, 2030 kelamaan. Bangsa ini kuat kok. (Tahun) 2030 lama belum tentu itu dipimpin oleh yang mimpi.

Kalau mimpi ciptakan yang riil dalam konsep yang bisa dilaksanakan. Kalau suatu negara mimpinya tuangkan dalam keputusan majelis yang tertinggi. Kalau (diputuskan) oleh Presiden yang berjalan itu kan terbatas cuma lima tahun belum tentu dipilih lagi. Itu (Visi 2030) sebetulnya kampanye. Kampanye kan bisa saja ngomong setumpuk pelaksanaannya belum ada. ► e-ti/ berindo

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sumber: http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/abdussalam/berita/2007/05.shtml

Jakarta butuh dari solusi banjir

Banjir tahunan yang melanda lbukota Negara Jakarta seolah momok yang tak pernah mau berialu. Karena itu, sangat mengejutkan sekali manakala tersiar gagasan Tirta Sangga Jaya, yang semula lahir dari “Mimpi Syaykh AI-Zaytun AS Panji Gumilang untuk Jakarta.” Gagasan ini bisa jadi solusi total atas krisis air clan banjir Jakarta.

Ide Tirta Sangga Jaya (TSJ) menurut Syaykh AS Panji Gumilang diilhami oleh pembangunan bendungan Aswan di Mesir. Sebelum dam dibangun, setiap kali musim hujan tiba, kota Kairo selain selalu dibanjiri air bah juga membawa Berta buaya-buaya Sungai Nil yang menerkam dan membunuh warga kota. TSJ juga terinspirasi oleh pengalaman praktis Al-Zaytun dalam menerapkan manajemen teknologi panen air yang menjamin takkan terjadi lagi banjir di musim hujan, sekaligus takkan ada ke­kurangan air di musim kemarau.

Filosofi panen air Al-Zaytun dikaji dan diterapkan dari sudut pandang dalam perspektif 50 tahun ke depan. Al-Zaytun bukan bicara persoalan hari ini saja, seperti sering dilakukan oleh para pe­mangku jabatan yang daerahnya sering dilanda banjir misalnya Jakarta. Syaykh menggambarkan, “Kalau saja para pemangku pimpinan Al-Zavtun cara berpikirnya seperti orang Jakarta, baik itu pemerintahnya, maupun sipilnya, maka akan tenggelam 50 tahun lagi.”

Waduk Windu Kencana yang akan menjadi simbol persembahan kepada bangsa, menandai delapan tahun kehadiran Al-Zaytun di jagat nasional, merupakan bukti konkrit dan miniatur mimpi bahwa Tirta Sangga Jaya bisa diwujudkan. Sebab Windu Kencana hanyalah cikal bakal dari rencana besar pembangunan Tirtaraksa Candrakirana Bangsa, yang akan memastikan Al-Zaytun terbebas dari gangguan banjir hingga 50 tahun ke depan. Jakarta agaknya perlu belajar mengatasi banjir ke Al-Zaytun. Pengaturan-pengaturan air secara tepat guna perlu dipikirkan lebih seksama, begitu juga infrastruktur pendukung lainnya masih banyak yang perlu dibenahi. Di lingkungan Al-Zaytun, air dikelola dan dimanfaatkan sangat efisien dan terencana.

Wakil Bupati Purwakarta, Dedy Mulyadi SH, melihat apa yang dilaksanakan oleh Al-Zaytun merupakan hasil teknologi yang perlu ditiru atau diterapkan di daerah-daerah lain. Jika masalah rutin Jakarta adalah pengendalian banjir tahunan yang sering menjadi isu nasional, Dedy pun sangat mendukung gagasan holistik Syaykh Dr. AS Panji Gumilang tentang perlunya pembangunan kanal Tirta Sangga Jaya. “Konsep ini sangat realistik, brilian dan layak ditindaklanjuti dengan riset,” kata Dedy.

Jika kanal TSJ dan kanal Jakarta Cirebon diaplikasikan secara terpadu, tambah Dedi, maka sebagian besar banjir di Pantura Jawa akan dapat diatasi. Konsep ini, kata Dedy, dapat mengangkat harkat penduduk Jawa yang kian tidak seimbang antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Solusi Komprehensif

Soal penanganan banjir Jakarta, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid yang terpilih menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan DKI Jakarta, mengusulkan solusi dengan menghadirkan satu pemahaman penyelesaian berbentuk kebijakan yang harus komprehensif. Masalah banjir Jakarta menurutnya adalah masalah besar, sebab melibatkan wilayah Jakarta dan luar Jakarta.

Hal kedua, perlu dihadirkan komitmen yang kuat dari seluruh pihak untuk menjadi bagian dari solusi. Selain pemerintah sebagai pihak yang paling berkewajiban, perlu dilibatkan masyarakat secara lugs, seperti mereka yang tergabung dalam partai politik, Ormas, LSM, kelompok-kelompok warga clan pemuda. Ini, kata Hidayat, akan menghadirkan kesadaran bahwa sesungguhnya masing-masing anggota masyarakat bisa menjadi bagian dari solusi sangat penting.

Hidayat mencontohkan, semua orang sudah tahu bahwa sesungguhnya kawasan bantaran sungai tidak boleh dihuni, ya mestinya jangan ada yang tinggal di sang. Selain karena bukan haknya, itu menjadi bagian yang bisa memicu terjadinya banjir. Atau, semua orang tahu bahwa salah satu penyebab banjir adalah kalau terjadi pendangkalan sungai akibat pembuangan sampah, maka jangan ada lagi yang buang sampah. “Artinya, pemerintah juga harus menyediakan tempat-tempat sampah yang memadai,” kata Hidayat kepada Berita Indonesia.

Hidayat berharap para calon gubernur DKI Jakarta yang akan bertarung dalam Pilkada, menghadirkan solusi total banjir Jakarta, bukan sekadar jualan politik menjelang pemilihan. Tetapi menjadi sesuatu yang diingat dan ditagih oleh rakyat, bahwa gubernur terpilih pernah punya janji membebaskan Jakarta dari banjir.

Marwan Batubara, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi DKI Jakarta, melihat persoalan banjir Jakarta dari sudut pandang yang lebih jauh. Menurutnya, selain menyelesaikan masalah banjir, Jakarta juga butuh solusi pengamanan pasokan air di musim kemarau. Dia mencermati bahwa isu masa depan dalam hubungan antar negara adalah isu air. Marwan menunjuk Singapura. Negeri kecil ini sangat tergantung pada pasokan air dari Malaysia.

Sebagai wakil Jakarta, Marwan sangat peduli memberikan kontribusi bagi penyelesaian berbagai persoalan Ibukota Negara. Soal banjir, misalnya, pada 8 Mei lalu dia menyelenggarakan rapat dengar pendapat umum mengenai “Telaah Kritis Atas Penyebab dan Solusi Banjir Jakarta”.

Slamet Effendi Yusuf mengungkapkan harapannya terhadap TSJ sebagai perwujudan dari prinsip air sebagai sumber kehidupan, bukan sebagai sumber bencana. Menyangkut pembiayaan proyek TSJ, Slamet Effendi Yusuf setuju dengan konsep Syaykh yang bersumber dari obligasi, namun tidak menutup pembiayaan dari sumber lain.

Peserta rapat sepakat untuk menanggulangi banjir di Jakarta, diperlukan lebih dari sekadar pembangunan Banjir Kanal Timur atau Deep Tunnel. Tetapi yang sangat diperlukan adalah langkah penanganan yang komprehensif, termasuk meluruskan kembali tata kota yang se-lama ini menyimpang. Langkah ini perlu segera dilaksanakan sebab banjir, menurut mereka, masih akan menghantui Jakarta di waktu-waktu mendatang, seiring dengan perubahan iklim dunia akibat pemanasan global.

Solusi yang disampaikan para pakar itu memang masih jauh dari ide besar TSJ yang digagas Syaykh. Nurfakih selaku wakil Pemda misalnya, mengatakan, banjir yang melanda Jakarta Februari 2007, akibat dari kondisi sungai yang sudah tidak memadai untuk menampung debit air yang masuk. Air kemudian meluap dari sungai dan menggenangi sebagian besar wilayah Jakarta.

Solusinya, kata Nurfakih, dengan pembangunan Banjir Kanal Timur dan revitalisasi Banjir Kanal Barat. Dia yakin optimalisasi kedua kanal tersebut dapat menjinakkan limpahan air dari 13 sungai yang mengaliri Jakarta, yang selama ini menjadi penyebab terjadinya banjir. Deep Tunnel menurutnya juga akan sangat membantu upaya penanggulangan banji- Jakarta.

Marco Kusumawijaya mengingatkan ancaman banjir akan terus meningkat seiring dengan fenomena global warming yang melanda dunia saat ini. Fakta adanya global warming berdampak pada naiknya permukaan air laut sekitar 0,5 cm setiap tahun, diikuti menurunnya permukaan tanah Jakarta sekitar 0,83 cm, dan curah hujan yang naik rata-rata dua persen setiap tahun. Semua fakta turut meningkatkan potensi terjadinya banjir di Ja­karta.

Apabila Marco menyebutkan banjir Jakarta lebih merupakan akibat dari keterbatasan lahan terbuka, sehingga air hujan tidak dapat diserap ke dalam tanah. Pendapat senada juga dipaparkan oleh Yayat Supriatna. Menurut Yayat, baik di hilir maupun di hulu, ruang terbuka hijau (RTH) terns saja mengalami penyusutan. Bahkan di Bogor, target penyediaan RTH sudah direvisi dari sebelumnya 40 persen menjadi hanya 10 persen. Ruang terbuka hijau dialihkan menjadi kawasan komersil, seperti pembangunan vila-vila di kawasan Puncak, dengan tujuan sempit mendatangkan pendapatan asli daerah.

Irfan Maksum termasuk sependapat dengan Syaykh Panji Gumilang tentang perlunya dibentuk semacam badan otorita di tingkat nasional dengan kewenangan penuh untuk mengelola kawasan TSJ. Alasannya, persoalan banjir melintasi berbagai wilayah administrasi pemerintahan, sehingga diperlukan badan khusus yang mengelolanya secara menyeluruh tanpa harus disekat oleh batas teritori pemerintahan.

Paulus Wirutomo menyatakan penting perubahan paradigma penyelesaian persoalan banjir Jakarta, dengan mengajukan visi educating city, yang bermakna kota mencerdaskan warganya. Kata Paulus, diperlukan komitmen pemerintah untuk memberikan informasi dan pendidikan kepada publik tentang permasalahan sesungguhnya dari banjir yang terjadi hampir setiap tahun. Tujuannya, masyarakat dapat melakukan penilaian secara tepat dan proporsional, sehingga dapat mengambil peran aktif dalam upanya penanggulangannya.

Menyalahkan Alam

Melatari idenya, Tirta Sangga Jaya, Syaykh menjelaskan, 73 tahun yang lalu pemerintah Hindia Belanda sudah berusaha menertibkan Jakarta. Kata Syaykh, yang namanya Banjir Kanal Barat, dikenal dengan Kalideres, tadinya sungai tersebut mengalir lambat, lalu setelah ditertibkan menjadi degas. Pads jaman itu, Belanda membaca Jakarta dengan mengadakan sodetan sungai sebelah barat.

Bahkan sebelumnya, tahun 1887, Belanda sudah memikirkan harus ads penampungan air kiriman dari daerah sekitar Jakarta. Maka di ujung Bogor dibangun bendungan Katulampa. Asal mula nama Katulampa adalah nama sebuah kampung, identik dengan nama seekor binatang yang berjalan tanpa benti, bernyanyi Siang malam, dan terns mencari terobosan. Bendungan Katulampa dibuat tahun 1887, diresmikan tahun 1911, lalu disambung pembangunan BKB.

Setelah merdeka, bangsa Indonesia lengah menata air. Akhirnya semua daerah mengalami banjir bandang. Tetapi semua orang di Jakarta malah menyalahkan alam. Banyak orang mengatakan banjir sebagai fenomena alam, siklus tahunan atau lima tahunan. Padahal, kata Syaykh, sebetulnya dari dulu alam tidak pernah butuh Jakarta, tidak pernah butuh Al-Zaytun, tidak pernah butuh Mekkah, sebab itulah alam.

“Kalau roda alam semesta bergerak tidak kenal yang namanya Mekkah, Madinah, Roma apalagi Jakarta. Semua bisa digilas oleh alam,” kata Syaykh. Dia menyebut banjir yang melanda Jakarta Februari 2007, bukan fenomena alam, tetapi fenomena kebodohan bangsa. “Dengarkan orang Jakarta, ini kebodohan bangsa. Kok menyalahkan alam, sebab alam tidak salah, dan tidak pernah butuh manusia, tetapi manusialah yang butuh alam, maka Anda harus dijaga,” kata Syaykh, penggagas Tirta Sangga Jaya sebagai solusi holistik mengatasi banjir Jakarta.

(Sumber Majalah Berita Indonesia – Edisi 39/2007).
Sumber: http://al-zaytun-online.blogspot.com/2007/06/tirta-sangga-jaya-tsj.html

TSJ dan Raja Purnawarman

Tirta Sangga Jaya, dilihat dari perspektif sejarah, ternyata bukan sebuah berita besar. Nenek moyang bangsa Indonesia justru telah mengerjakan proyek-proyek yang Iebih besar dengan dukungan peralatan yang sangat sederhana.

Apakah bisa diwujudkan? Ini mungkin pertanyaan yang dilontarkan setiap orang begitu melihat desain Tirta Sangga Jaya (TSJ) yang memang cukup mahal. Pertanyaan seperti ini tentunya sangat wajar mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan gagasan Tirta Sangga Jaya. Bahkan, jika dilihat dari besarnya sumber daya yang digunakan, bisa dikategorikan sebagai proyek mercu suar. Akan tetapi, dari sisi manfaatnya, TSJ tidak pantas dikategorikan mercu suar dengan citra proyek gagah-gagahan, karena manfaatnya jauh lebih besar dari sumber daya yang digunakan untuk mewujudkan TSJ. Karma itu, Drs. Mushoddiq (46), Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Cipta Karya Informatika (CKI) Jakarta dan Dosen Sekolah Tinggi ilmu Ekonomi (STIE) IPWIJA, mengatakan tantangan apa pun yang dihadapi, tidak seharusnya menjadi penghambat untuk mewujudkan TSJ.

“Soalnya, perwujudan TSJ ditunggu banyak orang dan dibutuhkan seluruh warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,” katanya ketika ditemui Berita Indonesia di sela-sela aktivitas me­ngajarnya, Jumat (18/5).

Mushoddiq yang juga pengajar bidang studi sejarah di SMU Negeri 103 ini, mengatakan proyek pengendalian banjir TSJ sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu besar dari perspektif sejarah. “Nenek moyang kita sudah mengerjakan hal-hal yang setara dengan TSJ di awal tarik Masehi,” katanya.

Ia merujuk Raja Purnawarman yang memimpin Kerajaan Tarumanegara (400-500M), membangun proyek saluran air pengendalian banjir dan irigasi, bernama Sungai Candrabhaga, sepanjang 6.122 busur atau 11 kilometer. Yang sangat memukau dari pembuatan Sungai Candrabhaga (Bekasi) dan Gomanti (Kali Mati, Tangerang). Penggalian sungai itu diselesaikan hanya dalam waktu 21 hari melibatkan puluhan ribu orang. Raja Purnawarman memotong 1.000 ekor sapi untuk selamatan selesainya pembuatan sungai tersebut.

Menurut prasasti Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, peninggalan abad kelima dari raja yang beragama Hindu ini sudah memperhatikan pengendalian banjir di musim hujan dan melindungi petani dari kekeringan pada musim kemarau. Sejarahwan Belanda, DR J Ph Vogel yang pernah menstrakripsi dan menelaah Prasasti Tugu, kini berada di Museum Nasional, sang raja sangat memperhatikan peng­airan sawah-sawah para petani. Artinya, kerajaan ini sudah mencapai taraf yang tinggi di bidang pertanian.

Berdasarkan Prasasti Tugu dan prasasti-prasasti lainnya, kekuasaan Kerajaan Tarumanegara meliputi wilayah Banten, DKI Jakarta, Bogor, Bekasi dan Citarum. Kata Chandra dalam Chandrabhaga, berarti sari atau bulan. Chandrabhaga artinya sama dengan Kali Bagasasi, kemudian berubah jadi Bhagasi atau Bekasi sekarang.

Prasasti Tugu dan Chandrabhaga terletak di antara lokasi yang sama jauhnya. Ini mencerminkan pelestarian keseimbangan ekosistem. Sang raja menempuh kebijakan pemukiman yang juga didasarkan pada azas keseimbangan ekologis. Karenanya, raja memperbolehkan rawa-rawa di pedalaman diuruk untuk pemukiman. Maka muncul nama-nama, seperti Rawa Bangke, Rawa Puter atau Rawa Puter. Tetapi rawa-rawa di pesisir pantai tidak boleh diurug untuk pemukiman, karena merupakan kawasan hutan (bakau) lindung dan resapan air.

Atas kerja kerasnya, para sejarahwan memberi apresiasi yang sangat luar biasa terhadap karya monumental Raja Purnawarman tersebut. Sampai saat ini, karya besar Raja Purnawarman masih dapat dinikmati oleh masyarakat Jakarta. Menurut para arkeolog, Sungai Bagasasi di abad ke-5, sudah berganti nama menjadi Kali Bekasi.
(Sumber Majalah Berita Indonesia – Edisi 39/2007).
Sumber: http://al-zaytun-online.blogspot.com/2007/06/tsj-dan-raja-purnawarman.html

2 Komentar »

  1. Semoga Para elit politik bangsa segera menyadari bahwa ada solusi jitu mengatasi banjir yaitu “Tirta Sangga Jaya”Lebih Cepat lebih baik…Amin

    Komentar oleh Medi — November 19, 2010 @ 6:14 pm

  2. Ide atau mimpi TSJ dr Syakh Alzaytun AS Panji Gumilang sngat luar biasa dn patut didukung demi klangsungan bangsa ini. Megaproyek ini bisa trwujud jika ego petinggi negeri ini bisa disejajarkn. Semoga bpk SBY maupun Jokowi diprkenankan Allah mmbaca atau mndengar mimpi TSJ, Dan sang pemilik mimpi dilindungi dn diberkahi Allah SWT. aamiin.

    Komentar oleh Nursyahril Aril — Januari 20, 2013 @ 9:53 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: