BebasBanjir2015

Christie Damayanti

‘Jakarta Bebas Banjir?’ Ah, Itu Hanya Ilusi

By Christie Damayanti,  26 June 2013 

Sumber: http://green.kompasiana.com/iklim/2013/06/26/jakarta-bebas-banjir-ah-itu-hanya-ilusi–568585.html  

Banjir! Satu kata yang bisa membuat warga Jakarta merinding. Bukan karena banjirnya sendiri yang akan membawa banyak permasalahan, tetapi yang lebih penting adalah ketika kita sebagai warga Jakarta sering marah dengan keadaan yang terjadi.

Bahwa Jakarta masih jauh dari sistem penanggulangan banjir itu sendiri. Bahwa pemda Jakarta pun menurutku belum mampu mengatasi permasalahan banjir. Dan bahwa warga Jakarta pun, belum sadar untuk berusaha dan bergotong royong dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan tertib, yang salah satunya untuk penanggulangan banjir.

13722324902061502704

Ketika aku mempelajari dan mengamati beberapa orang yang peduli dan berusaha dalam mengendaliah banjir di Jakarta, aku semakin sadar bahwa untuk sebuah kota besar dan kota metropolitan sebesar Jakarta, bukan hanya dibutuhkan keahlian dan orang2 yang peduli dengan Jakarta saja, tetapi yang paling penting, ternyata bukan hanya Jakarta saja yang mengalami ‘derita’ banjir setiap tahun dari dahulu, bahkan sekarng ini semakin melebar dan semakin sering ( bahkan hujan beberapa meni6 saja, sudah bisa menjadikan sebuah kawasan mengalami banjir ).

Bahwa ternyata di negara2 besar dan maju pun masih mengalami banjir. Seperti Jepang, Australia, bahkan Amerika pun masih mengalami banjir besar. Singapore yang di gadang2 merupakan negara terkecil di dunia dan termodren di Asia Tenggara yang katanya mempunyai sistem penanggulangan banjir modern, tahun lalu pun mengalami banjir besar …..

Ir. Sutami ( almarhum ) pernah mengungkapkan bahwa untuk mengatasi banjir di Jakarta itu adalah hanya sebuah ilusi semata. Beliau sempat juga mengatakan bahwa negara2 maju seperti Amerika dan Jepang pun tetap banjir, sekalipun biaya tetap tersedia guna menanggulangi sistem penanggulangan banjir. Begitu juga mantan Gubernur Ali Sadikin yang juga pernah mengungkapkan tentang realitas tentang banjir tersebut ( sumber : Sinar Harapan, 7 April 1984 ).

Bukan berarti kata2 orang2 penting ini menjadian kita pesimis tntang banjir Jakarta. Dan bukan berarti juga pemda Jakarta tidak bisa melakukan sesuatu lagi tentang penanggulangan banjir di Jakarta. Bahkan kita dituntut untuk ters mengupayakan untuk terus mencari cara untuk penanggulangan banjir Jakarta. Ditambah lagi, ketika gembar gembor penanggulangan banjir Jakarta terus berkumandang, seharusnyalah warga Jakarta tetap berusaha untuk menjaga kearifan lokal untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan tertib dan disiplin. Bukan hanya untuk penanggulangan banjir Jakarta saja, tetapi untuk semua aspek kehidupan warga Jakarta.

***

Sejak dahulu, pemda Jakarta cenderung memilih penanggulanan banjir Jakarta dengan sistem pembangunan kanal, sistem polder ( tanah dataran yang lebih rendah untuk menampung air banjir ) dan sistem waduk penampungan. Tetapi ketika sekarang banjir terus melanda Jakarta tanpa perubahan bahkan lebih meluas lagi, ternyata ketiga sistem penanggulangan banjir Jakarta tidak mampu membebaskan Jakarta dari banjir ( apalagi banjir badang 5 tahunan sekali ), seharusnya pemda Jakarta mulai memikirkan tentang ‘apa yang salah’.

Sistem kanal tidak berhasil ( atau belum? Entahlah ) karena tidak adanya cara tahu bahwa topografi Jakarta yang datar, tetapi tetap saja ada titik ‘cekung dan cembung’ untuk membuat aliran kanal terus menurun sampai ke laut. Artinya, jika memang topografi Jakarta yang memang datar, desain kanal harus mengacu kepada penurunan tanah sempai ke laut. Kanal di desain sedemikian dengan perhitungan yang matang, untuk dari arah hulu kanal sampai ke laut dengan kemiringan2 tertentu. Seperti hukum Phytagoras, denan kemiringan tertentu, akan mendapatkan jarak dari hulu ke muara dengan ketinggian hulu tertentu ( atau ketinggian muara ), sehingga air mengalir dengan lancar.

Itu hanya 1 jawaban. Jawaban yang lain adalah seperti yang aku tuliskan di artikelku ini Jakarta Butuh Peta Contour 3 Dimensi untuk Kebijakkan Banjir. Bahwa jika kita hanya mempunyai peta 2 dimensi saja, bagaimana kita bisa mendesain penurunan kanal untuk aliran air banjir ??? Jika haya kita mempunyai peta Jakarta yang hanya 2 dimensi saja, desain kanal ( atau apaun yang membuituhkan 3 dimensi ) menjadi tidak berguna, karena air banjir yang tertampung di kanal hanya ‘diam’ saja, tidak mengalir ke laut, dan ketika hujan terus turun, air yang tetap ‘diam’ di kanal, bertambah tinggi sehingga pada suatu tiik, permukaan air lebih dari tinggi kanal, dan meluaplah air dari kanal, apalagi dengan ketidak-dispiplinan nya warga Jakarta yang membuang sampah sembarangan, termasuk membuang sampah di kanal ……

Jawaban yang ketiga menurutku adalah tentang kependukukan. Ketika penduduk yang mendiami kanal, waduk atau sungai dan lingkungan sekitarnya, mereka membutuhkan lahan untuk membuang sampah. Jika pun sampah2 yang dibuang di penampungan sampah khusus, pasti tidak ada yang bisa menjamin bahwa warga di sekitar kanal, sungai atau waduk tersebut akan membuang sampah disana. Bahkan sekarang saja, kanal dan waduk Jakarta mengalami mendangkalan karena sampah bertumpuk dan pemukiman warga secara ’slum’ semakin meluas!

Artinya, upaya pengendalian banjir oleh pemda Jakarta harus lebih konseptual dengan mengatasi penyebabnya. Dengan banyaknya pemukiman disana yang semakin lama semakin luas, pada kenyataannya penggunaan lahan tidak sesuai dengan kemampuan lahan, sehingga terjadi menurunnya infiltrasi air ke permukaan tanah yang mengakibatkan meningkatnya aliran air di permukaan ( Sumber : Restu Gunawan ). Ditambah lagi, bertambahnya area beton, dibandingkan kuragnya ruang terbuka hijau ( RTH ) Jakarta. Sehingga air terus mengalir tanpa ada yang bisa menyerapnya, sehingga air bertambah tinggi di permukaan …..

Jadi, bagaimana? Apakah kita mau Jakarta terus dilanda banjir, walau memang sudah ‘di prediksi’ akan sebuah ‘ilusi’ bahwa Jakarta bebas banjir ? Ataukah kita terus berusaha untuk mengendalikan banjir Jakarta dengan beberapa cara yang teruji dengan salah satunya melakukan beberapa konsep diatas? Semuanya terserah warga Jakarta. Jika ‘penggede2′ Jakarta serta orang2 kaya di Jakarta tidak mau tahu tntang banjir Jakarta, mereka tinggal ‘cabut’ dari Jakarta, dan tinggal di luar negeri dan tinggallah kita, rakyak kebanyakkan, ‘tenggelam’ bersama Jakarta …..

Dan aku tidak mau ‘tenggelam’ bersama Jakarta …..

Rencana ‘Deep Tunnel Jakarta’: Apakah Memang Solusi yang Terbaik, untuk Meredam Banjir Jakarta?

By Christie Damayanti,  28 December 2012 

Sumber: http://jakarta.kompasiana.com/fasilitas-umum/2012/12/28/rencana-deep-tunnel-jakarta-apakah-memang-solusi-yang-terbaik-untuk-meredam-banjir-jakarta-514505.html  

Deep Tunnel yang akan membelah bumi Jakarta, merupakan salah satu solusi untuk pencegahan banjir. Ide cantik dan berteknologi tinggi. Konsep ini banyak terdapat di negara maju. Semisal di Chicago dan di New York. Deep Tunnel disana dipakai benar2 untuk saluran air bawah tanah. Terowongan itu besar sekali bahkan bisa mendirikan bangunan bertingkat 3. Dan karena salurannya bersih serta warga New York sangat disiplin memelihara kebersihan, justru Deep Tunnel disana banyak dimanfaatkan oleh tuna wisma New York untuk tempat tinggal. Walau itu bukan untuk tempat tinggal, tetapi tuna wisma di New York ( mungkin ) ’sebanyak’ tuna wisma di Jakarta.
Reklamasi air di Chicago

Chicago sudah lama mempunyai masalah dengan air dan limbah yang meluar ke Danau Michigan, dimana danau ini merupakan sumber air minum kota. Jadi tahun 1970-an Chicago membangun Chicago Deep Tunnel. Lebih dari 30 tahun, mereka membangun ‘amazing deep tunnel’ sepanjang 109 miles dengan kedalaman ratusan meter dibawah kota Chicago dan berdimensi puluhan diameter, bekerja sama dengan Perancis. Dananya sekitar $3 billion. Walau proyek ini sudah selesai, tetapi Chicago tetap sangat concern dengan limbah2 kota. Limbah2 ini termasuk limbah manusia, sampah rumah tangga dan sampah alam.

article.chicagotibune.com

Jika deep tunnel jadi terbangun di Jakarta, mampukah Jakarta untuk mendiplinkan warganya untuk menjaga kebersihan? Tidak membuang sampah sembarangan? MCK2 ilegal di daerah2 ’slum’ di Jakarta?

Dan berita buruknya sekarang ini, tim peneliti deep tunnel Chicago memprediksi bajhwa sistim ini mulai tidak mencukup karena sekarang curah hujan memang terlalu tinggi karena global warming …..
‘Water Tunnel’ di New York

Deep Tunnel yang lebih besar lagi di Amerika adalah di bawah kota New York dengan dana mencapai $6 billion! Proyek ini sangat besar! Dibagi beberapa tahan dan yang pertama disahkan tahun 1954. Yang kedua tahun 1970 dengan pipa sepanjang sekitar 60 mil dan rencana ketiga akan dibuka tahun 2020. Terowongan membentang di kota New York berada di kedalaman 800 meter ini terbangun selama 65 tahun! Dan seperti kota Chicago, deep tunnel bukan sekedar untuk saluran air saja, tetapi warga New York harus mampu mendisipilkan diri untuk menjaga kebersihan.

tradeslive.com

Ketika pertama kali aku ke New York ( aku masih kecil ), aku sungguh sudah mengamati tentang gorong2 ini. Musim dingin disana, berjalan2 disekitar hotel tempat kami menginap, aku melihat asap mengepul keluar dari lubang2 dari jalanan, dan semua lubang keluar asap. Aku bertanya kepada papaku tentang asap itu dan apakah itu berbahaya, dan beliau bercerita tentang sebuah terowongan besar di sepanjang kota New York.

Dulu sebagai anak2, aku sangat ingin tahu tentang itu dan aku mulai mencari tahu. Ketika itu ada film anak2 tentang ‘beauty and the beast’, dimana seorang laki2 di New York hanya keluar pada malam hari karena wajahnya sangat buruk dan dia tinggal di terowongan tersebut. Dan ketika itu juga aku membuka majalah tentang terowongan disana dengan foto2 yang jelas dan nembuat aku sangat tertarik, karena foito itu ‘bercerita’ tentang ‘kehidupan tuna wisma’ disana …..

Setelah itu aku sudah berpikir, mengapa Jakarta tidak seperti itu? Ini pikiranku waktu itu lho, dan aku semakin cari tahu, mengapa Jakarta tidak mencontoh seperti itu, dan akhirnya konsep pikirku berkembang bukan hanya gorong2 kota tetapi sampai tentang urban planning. Apakah konsep pikirku sejak anak2, salah??
Rencana ‘Deep Tunnel’ Jakarta

Konsepnya memang bagus dan cukup brillian. Sejak dulu sebagai urban planner dan mengamati banyak kota di dunia, aku agak termenung ketika mulai menyadari bahwa kota Jakarta yang aku cintai ini, tidak berusaha untuk melihat, mengamati dan mengambil contoh2 yang baik dari kota2 lain di seluruh dunia. Banyak sebenarnya yang bisa dipetik untuk Jakarta yang lebih baik. Salah satunya tentang gorong2 kota …..

bebasbanjir2025.com

Rencana ‘Deep Tunnel Jakarta’ ini menurut aku seharusnya sudah di teliti oleh banyak ahli2 ( termasuk ahli konstruksi, ahli air, ahli lingkungan dan sebagainya ), sehingga konsep ini dipandang baik. Tetapi seperti yang aku baca disebuah koran ibukota, dengan selebar 16 meter di sepanjang koridor jalan MT Haryono hingga Pluit, apakah para peneliti sudah menghitung debet air di jakarta? Karena air yang ada di Jakarta bukan hanya dari hujan yang sekarang curah hujannya semakin tinggi saja, tetapi ada aliran air besar dari Bogor. Sehingga konsep normalisasi sungai2 dari Bogor ke Jakarta, termasuk pendislinkan warga Bogor dan Jakarta, harus SEGERA dituntaskan!

Karena semuanya akan sia2. Dengan membangun apapun dan dengan desain secanggih bagaimanapun, pekerjaan manusia tidak bisa mengalahkan siklus alam, salah satunya aliran air. Bahwa dimana aliran air sama saja, air akan terhambat jika sampah atau limbah menumpuk.

Masalah besar yang harus kita pikirkan adalah tentang karakter warga Jakarta khususnya, dan warga Indonesia umumnya. Bahwa kita sangat tidak berdisiplin untuk menjaga kebersihan. Jangankan warga2 di daerah ’slum’ Jakarta, aku sering melihat warga Jakarta yang notobene ‘kaya’ dan berpendidikan tinggi, membyang sampah sembarangan! Sering aku melihat dari kaca mobil di depan mobilku, membuang tissue bahkan sampah di jalan raya! Termasuk mahasiswa2 yang notebene generasi muda berpendidikan tinngi, yang dengan seenaknya saja melempar botol plastik atau kaleng minuman ringan sambil menendangnya …..

Memprihatinkan!
Bagaimana Indonesia, atau setidaknya Jakarta bisa diajak maju???

Konsep Deep Tunnel merupakan konsep teknologi maju, walau di Amerika sudah dibangun puluhan tahun yang lalu. Tetapi jika disiplin warga hanya ‘tinggal di tempat saja’, akan sangat disayangkan bahwa Indonesia atau Jakarta hanya merupakan ‘tempat sampah’ dari hasil teknologi yang hanya bisa di ‘kais2′ oleh sebagian kecil warga yang peduli dengan kebersihan dan lingkungnnya.

Dan walaupun Deep Tunnel Jakarta jadi terbangun, seperti di tulisan2ku ( lihat tulisanku Pengendalian Banjir? Tidak Cukup Hanya Membuat Drainage Saja, Mengapa Baru Sekarang dalam Pencegahan Banjir di Jakarta?, Slogan ‘Jakarta Bebas Banjir’, Tetapi Tidak Peduli dengan Penyerapan dan Jakarta Bebas Banjir? Berusahalah untuk Mengelola ‘Ruang Terbuka Hijau!’), RTH dan lingkungan tetap harus terus di galakkan karena siklus alam tidak akan terbantahkan, dan karena Tuhan sudah menciptakan alam dengan sangat sempurna …..

Untuk pemda Jakarta, apakah sedikit solusi tentang cerita kontur Jakarta di tulisanku dibawah ini, bisa dipelajari, secara peta kontur Jakarta sama sekali tidak ada, sehingga konsep air mengalir di Jakarta tidak terekam? Air dengan bebas mengalir tanpa bisa dikendalikan, karena kita tidak punya peta konsur Jakarta, sehingga kita hanya melihat peta Jakarta secara 2 dimensi saja …… Silahkan baca pada tulisanku Banjir di Jakarta, Penyebab Serta (Sedikit) Saran Mengatasinya …..

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: