BebasBanjir2015

Tunggu 20 Tahun

Penggundulan Lahan Sekitar DAS Parah.

Solo Bebas Banjir, Tunggu 20 Tahun

Jumat, 11 Januari 2008 05:58:01

SOLO – Warga Solo harus bersabar paling tidak 20 tahun untuk terbebas dari ancaman banjir. Sebab, mulai hulu hingga hilir lahan kritis akibat penggundulan semakin luas. Hal itu diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar kepada wartawan saat kunjungan kerja di Solo kemarin (10/1).

Dari hasil pantauan lapangan di tiga wilayah (Solo, Wonogiri, Karanganyar), salah satu penyebab banjir akhir tahun lalu adalah berkurangnya fungsi resapan air di sekitar daerah aliran sungai (DAS) akibat penggundulan lahan. “Kalau gerakan tanam pohon dimulai dari sekarang, paling tidak butuh waktu 15-20 tahun untuk memastikan tidak ada banjir lagi di DAS Bengawan Solo,” kata Racmat.

Menurut Rachmat, hilangnya fungsi resapan air bukan saja karena penggundulan di lereng gunung. Namun, yang tidak kalah penting adalah penyempitan Bengawan Solo karena terjadi alih fungsi, dari jalan air menjadi kawasan pertanian dan permukiman. “Sebenarnya Bengawan Solo itu sudah cukup lebar. Tapi, karena digunakan untuk bercocok tanam dan tempat tinggal, akhirnya menyempit. Kalau air meluber, ya keduanya (lahan pertanian dan permukiman) kena,” imbuhnya.

Selain berkurangnya resapan air, Rachmat mengatakan, penyebab banjir beberapa waktu lalu adalah tingginya sedimentasi (pengendapan) di Waduk Gajah Mungkur (WGM) dan sepanjang DAS Bengawan Solo. Bahkan, sedimen itu terjadi merata di seluruh wilayah yang dilewati Bengawan Solo. “Meski tidak fatal, kondisi ini sudah parah dan serius sekali. Kalau tidak segera diatasi, air tetap tidak bisa mengalir dengan lancar dan banjir akan tetap menjadi masalah,” ungkap Rachmat.

Kondisi tersebut dibenarkan Kadiv Air dan Sumber Air (ASA) Perum Jasa Tirta I Bengawan Solo Suwartono. Menurut dia, penggundulan lahan terjadi di tiga lereng gunung, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu, yang menjadi pemasok air terbesar karena perubahan tanaman. “Tanaman yang seharusnya berupa tanaman teras atau penyimpan air berubah menjadi tanaman semusim. Itu pun kalau sudah bisa dipanen langsung dicabut. Akibatnya, kalau terjadi hujan, air langsung mengalir dan membawa tanah,” tutur Suwartono yang ditemui pada kesempatan yang sama.

Akibatnya, lanjut dia, terjadi perluasan lahan kritis. Kendati tidak mengungkapkan dengan pasti, menurut dia, jumlah lahan kritis tersebut diperkirakan 50 persen dari lahan yang ada. “Tidak hanya perubahan tanaman, tapi penebangan liar masih juga terjadi. Ini terlihat dari banyaknya sampah organik dan batang kayu di waduk menunjukkan masih ada penebangan liar,” lanjutnya.

Terkait dengan sedimentasi, Suwarto mengakui bahwa terjadi penurunan fungsi WGM akibat endapan lumpur. Kapasitas penampung endapan yang berkisar 130 meter kini telah penuh. Akibatnya, air yang tertampung hanya sedikit. “Kalau ketinggian sekarang 135 meter, berarti airnya hanya 5 meter sehingga perlu pengerukan sedimentasi,” jelasnya.

Dari kondisi tersebut, yang paling memprihatinkan, menurut Suwartono, adalah komposisi sedimen yang tidak merata. Yakni, hanya berpusat di sekitar bendungan dan intake (saluran air menuju turbin pembangkit tenaga listrik).

Kendati kekuatan WGM diperkirakan bisa mencapai 100 tahun sejak pembangunannya, dengan melihat keadaan tersebut, dipastikan banjir di sepanjang Bengawan Solo bakal terus berlangsung. Sebab, WGM menjadi satu-satunya pengatur air sekaligus pengendali banjir di sepanjang aliran Bengawan Solo yang panjangnya 600 kilometer.

Di tempat terpisah, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, salah satu upaya mencegah terjadinya banjir ialah membangun waduk-waduk kecil di sepanjang DAS Bengawan Solo. Dengan begitu, sebelum masuk ke Bengawan Solo air dapat ditampung di waduk-waduk tersebut. “Kurang lebih ada sekitar 40 waduk yang bisa dibangun. Waduk ini berpotensi memarkir banyak air sebelum masuk ke Bengawan Solo,” paparnya.((rk/jpnn/end))

Sumber: http://www.mediacenter.or.id/pusatdata/36/tahun/2008/bulan/01/tanggal/11/id/3086/

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: