BebasBanjir2015

Moehansyah

KERAWANAN BENCANA BANJIR, KEKERINGAN DAN KEBAKARAN DI KALIMANTAN SELATAN DITINJAU DARI BIOFISIK DAN KONSERVASI LAHANNYA

Moehansyah

Pusat Penelitian Pengembangan Wilayah Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat Jl. Brigjend. H. Hasan Basry Banjarmasin 70123

Pendahuluan

Banjir, kekeringan dan kebakaran lahan merupakan peristiwa yang dapat terjadi secara alamiah dan terulang dalam suatu kurun waktu yang cukup lama. Namun, manakala peristiwa tersebut di atas terjadi dalam kurun waktu yang pendek dari yang dianggap normal maka peristiwa tersebut sudah merupakan hal yang tidak wajar dan perlu dikaji penyebabnya agar dapat dihindari atau minimal dikurangi karena ketiga kejadian tersebut pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan makhluk yang ada di lahan tersebut dan di sekitarnya. Banjir di Kalimantan Selatan biasanya terjadi antara bulan Desember hingga Februari bertepatan dengan meningkatnya curah hujan dan kejenuhan air tanah. Sedangkan kekeringan dan kebakaran lahan umumnya terjadi pada musim kemarau antara bulan Juni hingga September Berdasarkan pengalaman dan informasi yang dikumpulkan penulis dari berbagai narasumber (komunikasi personal) banjir, kekeringan dan kebakaran yang dianggap “normal” untuk Kalimantan Selatan adalah bila peristiwa tersebut terjadi satu hingga dua kali dalam kurun waktu minimal sepuluh tahun dan dampaknya tidak banyak merugikan atau menimbulkan bencana.

Dalam periode lima tahun terakhir, banjir yang melanda wilayah Kalimantan Selatan semakin meningkat dari tahun-tahun sebelumnya dan sudah merupakan bencana. Banjir pada tahun 2003/2004 yang lalu tergolong besar, tetapi banjir pada bulan Juni tahun 2006 ini, jauh lebih besar. Banjir terjadi hampir di seluruh wilayah Kabupaten di Kalimantan Selatan secara bersamaan. Dampaknya terhadap lingkungan dan kerusakan yang ditimbulkannnya juga dinilai sangat merugikan. Lahan yang tergenang tidak kurang dari 28.000 hektar, sedang sawah yang menjadi puso ditaksir berjumlah 15.000 ha. Kerugian dari sawah ini saja diperhitungkan tidak kurang dari 50 milyar rupiah. Selain merusak persawahan, banjir juga merusak infrastruktur jalan dan jembatan yang vital. Hal ini terdapat di beberapa desa di Kecamatan-Kecamatan Kusan Hilir dan Satui. Setelah banjir bulan Juni tersebut reda, kekeringanpun berlangsung dari bulan Juli hingga minggu pertama bulan November yang diikuti oleh kebakaran lahan baik hutan maupun gambut

Kejadian banjir, kekeringan dan kebakaran lahan seperti tersebut di atas mengundang banyak pertanyaan. Apakah fenomena banjir dan kekeringan yang diikuti oleh kebakaran lahan seperti yang terjadi pada pada tahun ini (2006) akan terulang kembali secara periodik setiap tahunnya? Pertanyaan tersebut dikemukakan mengingat dampak dari banjir, kekeringan dan kebakaran juga berupa kesulitan penduduk untuk memperoleh air bersih, dan polusi udara oleh asap hasil kebakaran lahan yang sangat mengganggu
kesehatan dan kenyamanan hidup masyarakat.

Banyak pendapat yang dikemukan mengenai terjadinya banjir, kekeringan dan kebakaran ini antara lain karena rusaknya hutan akibat penebangan liar, penambangan batubara, pembukaan lahan untuk perkebunan dan perladangan berpindah yang marak terjadi di wilayah Pegunungan Meratus (PM), dan terbakarnya lapisan gambut pada lahan lebak dan pasang surut.

Sampai berapa jauh kerawanan terhadap bahaya banjir, kekeringan dan kebakaran di Kalimantan Selatan sekarang ini belum banyak diungkapkan secara ilmiah dan komprehensif tertutama yang berkaitan dengan kondisi biofisik lahan dan konservasi lahannya. Tulisan ini akan mencoba mengkaji kerawanan terjadinya banjir, kekeringan dan kebakaran di sebagian wilayah KalSel, khususnya yang berada dalam DAS Barito, ditinjau dari biofisik dan konservasi lahannya. Isi tulisan dibagi dalam enam bagian yaitu: (i) Pendahuluan, (ii) Metoda Penulisan dan Penilaian, (iii) Karakteristik Biofisik Lahan dan Konservasi Lahannya dalam Kaitannnya dengan Terjadinya Banjir, Kekeringan dan Kebakaran, (iv) Karakteristik Biofisik, Konservasi Lahan dan Banjir di Kalimantan Selatan, (v) Kerawanan Bencana Banjir, Kekeringan dan Kebakaran Di Kalimantan Selatan Ditinjau dari Biofisik Lahan dan Konservasi Lahannya, (vi) Kesimpulan dan Saran

Metode Penulisan dan Penilaian

Tulisan ini dibuat berdasarkan data dan telaah pustaka yang ada dan ditambah dengan informasi yang dikumpulkan berdasarkan komunikasi personal dengan nara sumber yang dinilai cukup mengetahui’ dan mengalaminya. Analisa kerawanan bencana banjir, kekeringan dan kebakaran dibuat secara kualitatif berdasar hasil penilaian dari (i) intensitas kejadiannya, (ii) lama/periode kejadian, (iii) sifat-sifat bencana, (iv) luas cakupan terjadinya dan (v) dampak yang ditimbulkannnya. Penilaian rawan tidaknya dibuat berdasarkan atas hasil penilaian pada kelima unsur tersebut di atas. Pembagian penilaian kerawanan ke dalam kategori tidak bahaya, agak bahaya, berbahaya dan sangat berbahaya (Tabel 1) diusahakan dibuat secara kuantitatif berdasar kriteria penilaian yang masih bersifat tentatif dan dapat disempurnakan.

Karakteristik Biofisik Lahan dan Konservasi Lahan dalam Kaitannya dengan Terjadinya Banjir, Kekeringan dan Kebakaran

Banjir dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Banjir adalah suatu peristiwa alami yang akan terjadi bila air yang datang (hujan) tidak dapat lagi diakomodasi oleh lahan (tanah) dalam wilayah daerah aliran sungai (DAS) dan sarana drainase alami yang ada di DAS tersebut, sehingga kelebihan air yang jatuh ke permukaan tanah berupa air limpasan (runoff) tidak dapat lagi dialirkan ke tempat-tempat penampungan/pengeluaran di luar DAS oleh sarana drainase yang ada (sungai-sungai, kanal) secara normal. Akibatnya, kelebihan air tersebut akan menggenangi wilayah di sekitarnya dan terjadilah banjir. Kondisi dan sifat banjir sangat tergantung dari faktor-faktor yang berkaitan dengan banjir yaitu: (i) karakteristik hujan, (ii) karakteristik lahan DAS, dan (iii) konservasi lahan dan usaha pencegahan banjir.

Karakteristik hujan

Banyaknya air hujan yang jatuh di suatu wilayah umumnya dinayatakan dengan suatu besaran yaitu milimeter (mm). Satu mm curah hujan dapat diartikan sama dengan 10 m3 air yang tercurah pada luasan satu hektar lahan. Selain banyaknya curah hujan, distribusi hujan sepanjang tahun juga sangat berpengaruh pada kondisi air yang terdapat di wilayah DAS. Curah hujan yang tinggi dan terdistribusi merata sepanjang tahun akan menjadi sumber air yang cukup dan merata bagi DAS. Sebaliknya, curah hujan yang rendah dan tidak terdistribusi baik sepanjang tahun akan menyebabkan suplai air yang berfluktuasi. Demikian pula air hujan yang akan jatuh di DAS sangat dipengaruhi oleh karaktristik unsur-unsur iklim antara lain kecepatan angin, temperatur udara, dan kelembaban udara. Fluktuasi air di DAS selain disebabkan oleh sifat-sifat hujan (iklim) juga sangat dipengaruhi oleh kondisi DAS sebagai reservoir air dan kondisi sarana drainase alami yang ada di wilayah DAS tersebut.

Karakteristik dan kesehatan lahan DAS

Wilayah DAS berfungsi sebagai reservoir air. Fungsinya sangat tergantung dari karakteristiknya yang meliputi kondisi lahan dan kesehatannya, dan bentuk DAS. Yang dimaksud dengan kesehatan DAS disini adalah gambaran kondisi lahan untuk dapat berperan dan berfungsi yang meliputi: fungsi produksi, fungsi hidrologis dan fungsi ekologis dengan baik. Ketiga fungsi tersebut saling berkaitan satu sama lain. Lahan yang sehat fungsi produksinya tentu akan memiliki fungsi hidrologis maupun fungsi ekologis yang sehat. Demikian pula lahan yang sehat fungsi hidrologisnya akan memiliki kesehatan fungsi produksi dan juga fungsi ekologis.

Kesehatan lahan dapat dinilai dari kemampuannya berperan dan berfungsi seperti disebutkan di atas. Secara spesifik kesehatan lahan dapat dinilai dari salah satu fungsi dari ketiga fungsi di atas atau secara luas kesehatan lahan dapat dinilai dari ketiga fungsi di atas secara keseluruhan.

Dari fungsi produksi, lahan dikatakan sehat apabila peran dan fungsinya dalam menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman secara berkelanjutan dapat terpenuhi. Hal ini akan terwujud bila kesuburan tanahnya baik, sehingga mampu mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman dengan baik, serta mampu menyediakan air yang diperlukan tanaman dan kerusakan lahan akibat erosi cukup rendah.

Dari fungsi hidrologis, lahan yang sehat adalah lahan yang mampu menyerap air (hujan) dengan baik, menyimpannya dan mengalirkannya sehingga mampu memelihara debit air sungai dengan baik, memperkecil fluktuasinya sepanjang tahun, mengurangi runoff dan mengurangi sedimen terlarut dan memelihara kualitas air terhadap pencemaran.

Dari fungsi ekologis lahan dikatakan sehat bila mampu memberikan kondisi lingkungan dan kehidupan beragam makhluk (flora dan fauna termasuk manusia) dengan baik. Hal ini menyangkut keragaman flora dan fauna, menciptakan kondisi temperatur, tata air dan makanan yang menunjang kehidupan makhluk tersebut serta memberikan perlindungan yang aman buat kehidupan makhluk yang ada di lahan dan di sekitarnya.

Air hujan yang jatuh sebagian akan tersimpan/tertinggal di permukaan daun, atau batang tanaman dan sebagian lagi akan sampai di permukaan tanah. Air yang sampai di permukaan tanah akan (i) terinfiltrasi memasuki permukaan tanah, (ii) tertinggal di permukaan tanah mengisi cekungan-cekungan yang ada di permukaan tanah yang kedap air, (iii) menguap kembali ke udara dan (iv) akan mengalir menjadi air aliran permukaan (surface runoff). Air yang potensial sebagai sumber banjir adalah air aliran permukaan. Besarnya air aliran permukaan sangat tergantung dari banyaknya air hujan yang jatuh (curah hujan) dan banyaknya air yang terserap oleh tanah (terinfiltrasi) dan yang tertinggal di permukaan tanah (cekungan) serta di permukaan daun dan batang tanaman (intersepsi).

Banyaknya air yang terserap oleh tanah sangat ditentukan oleh kecepatan infiltrasi, intensitas dan lamanya hujan serta kedalaman lapisan tanah yang mampu meluluskan dan menyimpan air. Kecepatan infiltasi sangat dipengaruhi oleh kondisi kejenuhan air tanah yang ada sebelum terjadi hujan dan permeabilitas profil tanah di atas lapisan kedap air atau di atas permukaan air tanah (ground water level). Bila tanah sudah jenuh air sebelum terjadinya hujan maka kecepatan infiltrasi sangat lambat dan mendekati nol sehingga sebagian besar air hujan akan,mengalir menjadi air limpasan (surface runoff). Hal ini akan dipercepat bila topografi lahan cukup miring dan tanah jenuh air. Sebaliknya, air akan menjadi tergenang bila topografi lahan datar dan kondisi sarana drianase lahan cukup buruk. Kecepatan infiltrasi tanah, kelembaban tanah, intensitas curah hujan, banyaknya curah hujan dan lamanya hujan biasanya menjadi faktor penentu yang sangat penting dalam menentukan terjadinya air limpasan.

Air yang tersimpan di permukaan tanah dan tanaman hanya bersifat sementara dan besarnya tergantung dari kondisi cekungan tanah yang mampu menahan air dan luas tajuk tanaman yang menutupi lahan. Pada intensitas dan curah hujan rendah sebagian besar air akan tertinggal di permukaan daun, tetapi sebaliknya bila intensitas dan curah hujan hujan tinggi sebagian besar air akan sampai ke permukaan tanah.

Proporsi banyaknya air hujan yang berubah menjadi air limpasan dinamakan dengan istilah koefisien runoff (KR). Semakin besar KR berarti semakin banyak air hujan yang mengalir di permukaan tanah sebagai air limpasan yang berpotensi sebagai sumber banjir. Sebaliknya semakin kecil KR semakin sedikit air hujan yang berubah menjadi air limpasan dan semakin kecil akan terjadi banjir.

Secara umum karakteristik DAS yang mempengaruhi terjadinya banjir dan sifat-sifat banjir adalah (i) kondisi fungsi hidrologis lahan, (ii) sistem drainase lahan dan (iii) tingkat bahaya erosi dan sedimentasi. dan (iv) sarana dan usaha pencegahan banjir yang ada.

1. Fungsi hidrologis lahan

Fungsi hidrologis lahan adalah fungsi lahan dalam mengatur tata air (menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari hujan yang jatuh di lahan). Fungsi hidrologis lahan ini ditentukan oleh faktor: (i) topografi, (ii) sifat-sifat tanah, dan (iii) vegetasi.

a. Topografi

Topografi atau kemiringan permukaan tanah/lahan berpengaruh pada infiltrasi air yang jatuh di permukaan tanah. Semakin miring lahan semakin kecil kesempatan infiltrasi karena pengaruh gravitasi. Sebaliknya semakin kecil kemiringan lahan peluang terjadinya infiltrasi semakin besar sehingga memperkecil terjadinya air limpasan.

b. Sifat-sifat tanah dan kondisi profil tanah

Sifat-sifat tanah yang paling dominan berpengaruh pada terjadinya air limpasan/banjir adalah sifat fisik tanah berupa kemampuan infiltrasi yang sangat ditentukan oleh porositas dan permeabilitas tanah di sepanjang profil. Ketebalan profil tanah yang mampu mengalirkan air hingga ke batas yang kedap air atau ke permukaan air tanah (ground water level) sangat menentukan besar kecilnya air limpasan. Semakin tebal solum tanah yang mampu dilewati air dengan baik akan memperbesar volume air hujan yang dapat diserap dan disimpan di dalam tanah sehingga mengurangi volume air yang akan berubah menjadi air limpasan.

c. Vegetasi

Jenis dan macam vegetasi dan kondisi pertumbuhannya berpengaruh pada banyaknya air intersepsi dan banyaknya air yang sampai ke permukaan tanah. Selain itu vegetasi juga berpengaruh pada porositas tanah dan hambatan terhadap kecepatan alir air permukaan, baik oleh serasah dan akar-akar tanaman yang muncul di permukaan tanah. Vegetasi juga berperan pada pengurangan kandungan air tanah melalui proses transpirasi sehingga memperbesar kapasitas tanah menyerap air sebelum terjadinya hujan. Pengaruh topografi, sifat-sifat tanah dan vegetasi terhadap besarnya KR sering digunakan untuk mengestimasi banyaknya air limpasan yang bakal terjadi di suatu kawasan. Contoh penggunaan hubungan antara topografi, sifat-sifat tanah dan vegetasi untuk memperkirakan besarnya air limpasan terlihat pada Tabel 2

2. Sistem drainase lahan

Yang dimaksud dengan sistem drainase lahan disini adalah gambaran kondisi dari sarana drainase alami yang ada di lahan. Sistem drainase lahan ditentukan oleh faktor: (i) bentuk DAS dan (ii) konfigurasi sungai, kemiringan dasar sungai dengan ujung pengeluaran airnya (out-let).

Bentuk DAS akan berpengaruh pada banyaknya dan kecepatan aliran air berkaitan dengan kemungkinan terjadinya variabilitas pada sifat-sifat tanah, kemiringan, topografi, vegetasi serta sistem drainase yang ada. Secara umum bentuk DAS dapat di golongkan ke dalam tiga bentuk (Sudarsono dan Takeda, 1980) yaitu: (i) sempit memanjang dengan sistem percabangan sungai tersusun seperti bulu burung, (ii) melebar (membulat atau persegi empat) dengan sistem percabangan akan terpusat pada tempat-tempat tertentu, dan (iii) segi tiga dengan sistem percabangan sungai yang juga akan terpusat di dekat out-let. Pada DAS yang berbentuk sempit memanjang, sedimen yang tinggi juga akan merusak sarana dan fasilitas irigasi dan instalasi air minum yang ada. Sedimentasi juga akan mendangkalkan sungai dan waduk. Kapasitas tampung sungai dan waduk akan berkurang dan kemampuan transportasi sungai juga terhambat.

3. Sarana dan usaha pencegahan banjir

Sarana dan usaha pencegahan banjir secara garis besar untuk mengurangi besarnya banjir melalui peningkatan fungsi hidrologis lahan dan mengurangi besarnya erosi dan runoff. Usaha penanggulangan banjir yang ada pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam empat bagian yaitu: (i) rehabilitasi dan peningkatan fungsi hidrologis lahan melalui penghijauan dan reboisasi, (ii) pengaturan pola penggunaan lahan menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), (iii) perbaikan sistem drainase lahan yang ada, (iv) pembuatan dam/bendungan.

Konservasi Lahan dan Usaha Pencegahan Banjir

Pada sub-sub-Bab 3.1.2.4 dikemukakan secara garis besar sarana dan usaha pencegahan banjir yang termasuk ke dalam karakteristik DAS yang mempengaruhi terjadinya banjir dan sifat-sifat banjir. Pada sub-Bab 3.1.3 ini dikemukakan lebih mendalam usaha konservasi lahan yang diperlukan untuk mencegah banjir sekaligus mengurangi kekeringan dan kebakaran sebagai berikut:

1. Rehabilitasi lahan melalui reboisasi dan penghijauan

Rehabilitasi lahan melalui reboisasi dan penghijauan dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan fungsi hidrologis lahan, mengurangi erosi dan runoff, memulihkan produktivitas lahan, dan meningkatkan fungsi ekologis lahan. Pelaksanaan reboisasi dan penghijauan dilaksanakan terutama di lahan-lahan yang dinilai tergolong kritis dengan menggunakan jenis pohon yang cepat tumbuh, tahan kebakaran, serta toleran terhadap kesuburan tanah yang rendah dan kekeringan.

2. Penggunaan lahan sesuai RTRW

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang menjadi pedoman peruntukan dan penggunaan lahan di suatu daerah dibuat dengan tujuan agar penggunaan lahan memperoleh manfaat optimal, berkesinambungan dan bersifat lestari atau ramah lingkungan. Pembuatan RTRW umumnya berpedoman pada kondisi dan potensi SDA yang ada dan dibuat berdasar kapabilitas dan kesesuaian lahan serta dikelola sedemikian rupa agar memenuhi tujuan pembangunan jangka panjang berkesinambungan dan bersifat lestari. RTRW daerah kabupaten yang mewilayahi DAS yang ada di kabupaten dibuat oleh masing-masing Bappeda Kabupaten bersangkutan dengan bantuan / koordinasi dari Bappeda Propinsi yang menjembatani kepentingan yang bersifat antarwilayah kabupaten karena tidak jarang suatu sub-DAS yang sama akan mencakup beberapa wilayah kabupaten.

3. Perbaikan sistem drainase

Usaha untuk mengurangi bahaya banjir melalui perbaikan sistem drainase, baik yang sudah ada (alami) maupun buatan dimaksudkan agar air limpasan dapat keluar dengan lancar menuju out-let. Sebagai contoh di Kabupaten HST; sejak tahun 2002 yang lalu sudah dimulai pembuatan sodetan untuk mengurangi volume air yang melewati S. Barabai ketika banjir. Hasilnya sudah mulai terlihat. Pengurangan dampak banjir terjadi pada tahun 2004 ini. Pada skala yang lebih besar (Propinsi) dilakukan pengerukan ambang S. Barito untuk memperlancar arus lalu lintas di sungai tersebut.

4. Pembuatan bendungan

Salah satu usaha untuk mengurangi banjir adalah pembuatan bendungan. Misalnya, bendungan P.M. Noor di Desa Aranio, Kabupaten Banjar terbukti berhasil mengurangi banjir di daerah Martapura yang disebabkan oleh meluapnya S. Riam Kanan. Gagasan pembuatan bendungan seperti di Riam Kanan untuk menanggulangi banjir dan penggunaan lainnya di beberapa sub-DAS yang ada di Kalimantan Selatan sudah pernah dikemukakan oleh Ir. Pangeran Muhammad Noor.

Kekeringan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Kekeringan umumnya dicerminkan oleh kondisi tanah, tanaman dan air permukaan. Dari segi kondisi, gejala terlihat dari tanahnya yang menjadi sangat kering dan keras tergantung dari tekstur tanahnya. Pada tanah liat yang banyak mengandung mineral liat montmorillonit dan illit, tanah yang kering ditunjukkan oleh adanya lapisan permukaan tanah yang pecah-pecah dan tanaman yang umumnya layu dan kering. Air tanah yang berada di lapisan tanah permukaan sudah tidak mampu lagi diambil oleh tanaman karena sudah berada pada kandungan jauh di bawah dari titik layu permanen. Kandungan air pada titik layu permanen tergantung pada jenis tanahnya dan kandungan liat dan kandungan bahan organik tanahnya. Semakin besar kandungan liat dan semakin banyak bahan organik tanah semakin besar air yang mampu ditahan atau disimpan oleh tanah. Banyaknya air yang tersimpan di dalam tanah juga dipengaruhi oleh kondisi profil tanah dan permeabilitas tanahnya. Profil tanah yang dalam dan permebilitas tanah yang baik (sedang-cepat) memungkinkan air permukaan dapat masuk lebih dalam ke dalam tanah dan mengisi pori-pori dan rongga-rongga yang ada jauh di dalam tanah.

Dalam skala yang lebih luas (DAS) gejala kekeringan ditunjukkan oleh besar kecilnya debit air yang ada si sungai-sungai di dalam wilayah DAS tersebut. Semakin kering kondisi air tanah semakin kecil debit air yang mengalir di saluran-saluran drainase dan sungai. Konservasi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air di dalam tanah agar air tanah tidak banyak berfluktuasi baik pada musim penghujan maupun pada musim kemarau.

Konservasi juga dimaksudkan untuk melindungi tanah dari erosi dan runoff yang akan berakibat pada menurunnya kesehatan lahan akibat menurunnya fungsi hidrologi, produksi dan ekologi lahan. Dari segi konservasi semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, semakin dalam profil tanah, dan semakin baik permeabilitas tanahnya maka semakin besar kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air sehingga akan mengurangi bahaya kekeringan.

Selain dipengaruhi oleh kondisi tanah, kekeringan dipengaruhi oleh pola penggunan lahan dan jatuhnya hujan. Pola penggunaan lahan akan berkaitan dengan vegetasi penutup tanahnya dan penguapan air oleh tanaman. Semakin besar kemampuan vegetasi penutup tanah untuk menguapkan air (transpirasi) semakin besar kemungkinan terjadinya kekeringan pada lahan, tetapi sebaliknya akan memelihara tanah dari degradasi akibat erosi.

Kebakaran dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Tingkat kekeringan lahan akan sangat berpengaruh pada kerawanan untuk terjadinya kebakaran. Tingkat kekeringan lahan pada umumnya dipengaruhi oleh kadar air yang ada di dalam tanah dan dan kandungan air di dalam biomassa tanaman. Keduanya erat kaitannya dengan kemampuan tanah menyediakan air yang diperlukan tanaman, musim kemarau dan jenis tanamannya. Semakin mudah tanaman terbakar, semakin panjang musim kemarau, dan semakin kering kondisi lahannya, semakin mudah terjadinya kebakaran.

Di lahan gambut, kebakaran lahan erat kaitannya dengan kandungan bahan organik yang tinggi dan berpeluang memudahkan terjadinya kebakaran lahan di musim kemarau.

Karakteristik Biofisik, Konservasi Lahan dan Banjir Di Kalimantan Selatan

Karakteristik Biofisik DAS

Pada tulisan ini karena terbatasnya data maka gambaran mengenai karakteristik biofisik DAS di Kalsel yang berkaitan dengan banjir, kekeringan dan kebakaran dibatasi hanya pada DAS Barito, yang mencakup wilayah tangkapan di sebelah barat dan selatan Pegunungan Meratus (PM). DAS-DAS yang ada di sebelah timur PM yang meliputi DAS Batulicin, Sampanahan, Kusan, Satui, Kintap, Asam-Asam tidak akan dikemukakan pada tulisan ini.

Luas dan Pembagian Wilayah DAS

Luas lahan wilayah Propinsi Kalimantan Selatan lebih kurang 37.000 km2. yang terbagi ke dalam beberapa kelompok wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Barito (18.633,62 km2), dan DAS Asam-asam, Kintap, Satui, Batulicin, Kusan dan Sampanahan diperhitungkan mencapai luasan 18.366,38 km2 (Balitbangda, Kalsel, 2003).

Wilayah DAS Barito secara keseluruhan mencakup wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Wilayah DAS Barito di Kalsel secara administratif pemerintahan melingkupi 10 Kabupaten/Kota yaitu: Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Barito Kuala, Pemkot Banjarbaru dan Pemkot Banjarmasin. Sedangkan DAS Asam-asam, Kintab, Satui, Batilicin, Kusan dan Sampanahan melingkupi tiga Kabupaten yang berada di bagin Timur yaitu: Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Selanjutnya DAS Barito di wilayah Kalimantan Selatan, terbagi dalam empat sub-DAS yaitu: (i) sub-DAS Barito Tengah: luas 110.265 ha (5,92%), (ii) sub-DAS Barito Hilir: luas 189.186 ha (10,15%), (iii) Sub-DAS Negara, luas 1.097.754 ha (58,91%), dan sub-DAS Martapura, luas 466.158 ha, (25,02%). Selanjutnya sub-DAS Negara dan sub-DAS Martapura masih terbagi lagi.

1. Sub-DAS Negara terbagi dalam delapan sub-sub-DAS (SSDAS):

  • SSSDAS Tabalong Kiwa: luas 164.432 ha (8,82%)
  • SSDAS Tabalong Kanan: luas 173.970 ha (9,34%)
  • SSDAS Balangan: luas 202.661 ha (10,88 %)
  • SSDAS Danau Panggang : luas 94.155 ha (2,67 %)
  • SSDAS Bahalayung: luas 49.763 ha (2,67 %)
  • SSDAS Batang Alai: luas 136.082 ha (7,30 %)
  • SSDAS Amandit: luas 117.921 ha (6,33 %)
  • SSDAS Tapin: luas 158.790 ha (8,52 %)

2. Sub-DAS Martapura terbagi atas tiga Sub-sub DAS:

  • SSDAS Riam Kiwa: Was 213.097 ha (11,44 %)
  • SSDAS Riam Kanan: luas 164.768 ha (8,84 %)
  • SSDAS Alalak: luas 88.293 ha (5,92 %).

Karakteristik Sub-Sub DAS

1. Bentuk SSDAS dan pola drainase lahan

Bentuk SSDAS akan berpengaruh pada banyaknya air hujan yang jatuh di wilayah SSDAS dan kecepatan aliran air berkaitan dengan kemungkinan terjadinya variabilitas pada sifat-sifat tanah, kemiringan, topografi, vegetasi serta sistem drainase. Secara umum bentuk SSDAS dari DAS Barito dapat di golongkan ke dalam bentuk daerah pengaliran yang sejajar (Sosrodarsono dan Takeda, 1980) dengan sistem percabangan sungai tersusun dendritik pada bagian hulu dan bagian tengah dan berkelok-kelok pada bagian hilir SSDAS. Outlet dari sistem drainase ini berada di sungai Barito. Konsekwensi dari pola drainase ini pada bagian hulu SSDAS adalah aliran air relatif cepat, sedangkan di bagian hilir pengaliran air relatif lambat.

2. Topografi dan jenis tanah

Topografi lahan di bagian tengah dan hulu SSDAS berombak hingga bergunung dan relatif datar atau cekung pada bagian hilir SSDAS. Jenis tanah umumnya Podsolik (Ultisols), Latosol (Oxisols), Komplek Podsolik Lateritik di bagian hulu dan tengah DAS. Sedang di bagian hilir SSDAS jenis tanahnya umumnya Aluvial (Entisols), Gleihumus (Gleisols) dan Organosols (Histosols). Tanah di bagian hulu dan tengah SSDAS umumnya peka terhadap erosi dengan koefisien erodibilitas tanah (K) yang sedang–tinggi. Sedang tanah di bagian hilir SSDAS umumnya jenuh air dan kadang-kadang tergenang.

3. Vegetasi dan penggunaan lahan

Lahan SSDAS di bagian hulu umumnya masih tertutup hutan, sedangkan di bagian tengah wilayah SSDAS sudah banyak yang digunakan untuk perkebunan, pertanian, kehutanan, petemakan dan pertambangan. Di bagian hilir wilayah SSDAS sebagian untuk pertanian dan sebagian lagi berupa rawa monoton atau rawa pasang surut dengan vegetasi hutan dan semak belukar atau kebun. Luas araeal DAS Barito yang masih tertutupi oleh hutan rata-rata mencapai 33,41% dengan distribusi seperti terlihat pada Tabel 3.

Karakteristik Iklim

Jumlah curah hujan tahunan di wilayah DAS Barito umumnya cukup tinggi yaitu antara 2500 – 3000 mm/th. Jumlah curah hujan tersebut umumnya terbagi merata sepanjang tahun dengan hanya 2-3 bulan kering yang curah hujan bulananya <60 mm/bln, selebihnya 9 -10 bulan curah hujan bulanan >100 mm/bln. Pola iklim tersebut menyebabkan tanah-tanah di wilayah SSDAS berada dalam keadaan selalu lembab dan basah, bahkan kadang-kadang jenuh air. Pada curah hujan yang tinggi (>100 mm/hari) kondisi tanah yang basah ini akan menyebabkan terjadinya air limpasan (runoff) yang cukup besar dan berpeluang untuk terjadinya banjir bila hujan yang tinggi tersebut terjadi berturutan selama beberapa hari. Selain menimbulkan banjir curah hujan yang tinggi ini merupakan penyebab utama terjadinya erosi tanah pada daerah hulu SSDAS yang umumnya berlereng cukup besar.

Distribusi curah hujan bulanan dan neraca air secara umum untuk wilayah Kalimantan Selatan bagian barat, menunjukkan bahwa neraca air surplus pada bulan–bulan Desember hingga April dan defisit pada bulan-bulan Juni hingga Agustus. Kondisi kelebihan dan kekurangan ini erat kaitannya dengan kemungkinan terjadinya banjir dan kekeringan serta kebakaran lahan.

Kesehatan Lahan

Kesehatan DAS Barito dapat dinilai dari peran dan fungsi hidrologisnya. Fungsi hidrologisnya dapat dinilai dari parameter: (i) daya serap air lahan dan pengalirannya yang dapat diduga dari: koefisien runoff (KR), perubahan debit air sungai dan tingkat kekeruhan air sungai, (ii) Indeks Bahaya Erosi (IBE), (iii) pengurangan volume/ kapasitas tampung dan pengaliran sarana drainase akibat sedimentasi.

Daya Serap Air dan Koefisien Runoff (KR)

Daya serap air dari lahan, terutama di bagian hulu dan tengah SSDAS Barito umumnya sudah sangat berkurang. Hal ini antara lain dapat dilihat dari parameter KR, perubahan debit air sungai, dan tingkat kekeruhan air sungai. Fluktuasi debit air di sungai utama SSDAS antara musim penghujan dan musim kemarau dalam lima tahun terakhir ini sudah semakin besar. Tingkat kekeruhan air sungai akibat meningkatnya sedimen terlarut juga semakin meningkat. Koefisien runoff juga semakin meningkat. Meningkatnya KR ini terlihat dari perubahan tinggi muka air sungai yang cepat naik bila
terjadi hujan yang cukup tinggi (>75 mm/hari) tetapi juga cepat turun bila beberapa hari tidak terjadi hujan. Perkiraan besarnya pengurangan daya serap air dari SSDAS dapat dilihat pada Tabel 3.

Berkurangnya daya serap air lahan SSDAS ini antara lain diakibatkan oleh berkurangnya luas vegetasi penutup tanah (hutan) akibat penebangan liar, penambangan batubara, perladangan berpindah, pertanian dan pemukiman. Walaupun rata-rata 33,41% DAS Barito yang termasuk wilayah Kalimantan Selatan masih tertutupi oleh hutan, tetapi banyak dari SSDAS dari DAS Barito pada saat ini memiliki Was hutan <30% yaitu suatu nilai patokan sebagai batas minimal yang diperlukan untuk mampu mempertahankan fungsi hidrologis DAS secara baik (Balitbangda, 2003). Gambaran penutupan lahan oleh hutan dari masing SSSDAS Barito dapat dilihat pada Tabel 3

Indeks Bahaya Erosi (IBE)

Erosi yang terjadi pada lahan di masing-masing SSDAS cukup tinggi sebagaimana dilaporkan oleh Balitbangda (2003) seperti Tabel 3 Dengan asumsi nilai erosi yang dapat ditoleransi (EDD) sebesar 15 ton/ha/th untuk lahan-lahan di bagian hulu SSDAS maka IBE dari masing-masing SSDAS dapat digolongkan cukup tinggi (Tabel 2). Dapat diartikan bahwa lahan di bagian hulu SSDAS akan sangat tererosi bila vegetasi penutup tanahnya dibuka tanpa adanya tindakan / usaha konservasi tanah. Demikian pula kapasitas tampung dan pengaliran sarana drainase alami yang ada akan sangat berkurang akibat sedimentasi yang cukup tinggi di sepanjang sungai. Implikasi lain dari erosi ini adalah menipisnya lapisan tanah yang mampu menyerap dan menyimpan air. Akibatnya runoff akan meningkat dan banjir akan mudah terjadi.

Pengurangan Volume Sarana Drainase Akibat Sedimentasi

Sedimen terangkut bersama runoff pada sungai utama dari SSDAS umumnya cukup tinggi akibat besarnya erosi dan runoff. Banyaknya sedimen yang terangkut oleh sungai utama dari SSDAS disajikan pada Tabel 2. Kondisi besarnya sedimen terlarut akibat erosi dan terbawa bersama runoff ini secara kualitatif dapat dilihat dari warna air sungai yang cukup keruh dan semakin keruh apabila terjadi hujan. Secara umum sedimentasi akan mengurangi kapasitas tampung dan fungsi sarana drainase yang ada. Pengurangan kapasitas tampung sarana drainase ini akan berdampak pada terjadinya banjir bila air yang melewati sarana drainase tersebut jauh melebihi kapasitas tampung dan pengalirannya. Perkiraan besarnya pengurangan kapasitas tampung dan pengaliran air dari sarana drainase yang ada di SSDAS dapat dilihat pada Tabel 4.

Usaha Konservasi Lahan yang Dilakukan

Konservasi tanah diperlukan untuk memperbaiki dan mempertahankan kesehatan lahan yang sudah terdegradasi sehingga fungsi dari lahan yang meliputi fungsi produksi, hidrologi dan ekologi dapat dipulihkan dan lahan dapat berfungsi kembali dengan baik. Untuk Kalimantan Selatan konservasi tanah yang dilakukan hingga sekarang ini meliputi : (i) reboisasi dan penghijauan, (ii) pembuatan bendungan, (iii) perbaikan saluran drainase lahan (pengerukan sungai) dan pembuatan sodetan

Reboisasi dan Penghijaun

Luas lahan yang direboisasi dan dihajaukan di Kalimantan Selatan jauh di bawah luas lahan yang terdegradasi. Reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk memulihkan fungsi hidrologi, fungsi ekologi dan fungsi produksi, dan di Kalimantan Selatan umumnya dilakukan pada lahan-lahan terdegradasi atau lahan kritis. .Penulis belum mempunyai data yang akurat tentang reboisasi dan penghijauan di Kalimantan Selatan hingga saat ini. Namun, diperkirakan luas lahan kritis yang berada pada bekas tebangan hutan dan lahan alang-alang yang memerlukan reboisasi dan penghijauan tidak kurang dari 0,8 juta hektar, sedangkan. reboisasi dan penghijauan yang telah dilaksanakan selama periode 20 tahun terakhir tidak lebih dari 0,2 juta hektar. Dibanding kecepatan degradasi lahan yang diperkirakan mencapai 0,1 juta ha/tahun, laju reboisasi dan penghijauan jauh ketinggalan. Akibatnya luas hutan semakin menurun dan luas lahan-lahan kritis semakin bertambah. Selama ini konservasi lahan di Kalsel boleh dikatakan gagal, karena dari luas areal reboisasi dan penghijauan yang pernah dilakukan dari tahun 1978-1993 yang jumlahnya lebih kurang 20.000 ha, 50% habis terbakar Kegagalan ini antara lain bersumber dari pendekatan konservasi yang kurang efektif. Konservasi tanah dan air harus dilaksanakan melalui pendekatan holistik yang meliputi seluruh stakehoder yang terkait yaitu: petani, masyarakat, pemerintah termasuk Perguruan Tinggi dan pengusaha.

Banjir

Di bagian terdahulu dari tulisan ini secara kualitatif telah dikemukakan tentang banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan dalam periode lima tahun terakhir yang sudah semakin meningkat. Dampaknya, bukan hanya dari segi fisik bangunan dan infrastruktur, tetapi juga produktivitas lahan-lahan pertanian yang berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakat. Pada tahun 2003/2004 banjir melanda KabupatenKabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin serta Batola dan Tanah Laut. Pada tahun 2004/2005 juga terjadi banjir tetapi dalam skala yang sedikit lebih kecil dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2006 banjir terjadi dua kali yaitu pada awal tahun dan pertengahan tahun (Juni 2006). Kondisinya jauh lebih besar dan kerugian yang ditimbulkannya juga sangat besar. Secara material kerugian yang ditimbulkannya mencapai ratusan milyar rupiah. Dapat disimpulkan bahwa intensitas banjir, skala dan kerugian yang ditimbulkannya dari tahun ke tahun sudah semakin bertambah dan sangat merugikan.

Kerawanan Banjir, Kekeringan dan Kebakaran Di Kalimantan Selatan Ditinjau dari Karakteristik Biofisik dan Konservasi Lahannya

Secara umum dari karakteristik DAS Barito yang meliputi bentuk, topografi, jenis tanah, vegetasi dan penggunaan lahan sekarang ini memungkinkan terjadinya runoff dan erosi pada kondisi iklim dengan curah hujan tinggi. Setiap tahun banjir akan terjadi pada akhir dan awal tahun. Hal ini erat kaitannya dengan jatuhnya hujan yang cukup tinggi pada bulan Oktober dan November. Waktu hujan selama dua bulan tersebut sudah cukup untuk mengisi pori-pori dari profil tanah yang kosong selama bulan-bulan kering (Juli-September) dan mendekati jenuh pada bulan Desember. Adanya curah hujan yang tinggi di bulan Januari – Februari mendorong terjadinya runoff dan sekaligus banjir. Pada kondisi lahan yang tertutupi sempurna oleh hutan pengurangan runoff dapat terjadi akibat infiltrasi tanah yang tinggi dan penguapan yang besar melalui vegetasi. Penguapan oleh vegetasi ini akan mengurangi kelembaban tanah sehingga memperbesar daya serap air hujan oleh tanah dan akan mengurangi runoff. Sebaliknya bila kondisi tanah dalam keadaan terbuka tanpa tertutupi baik oleh vegetasi runoff, erosi dan banjir akan mudah terjadi pada bulan-bulan Desember-Februari tersebut. Kondisi yang tidak jauh berbeda untuk kejadian banjir di bulan Juni, karena pada bulan Mei kejenuhan tanah cukup tinggi karena curah hujan yang meningkat.

Pengaliran air di bagian hulu SSDAS umumnya berlangsung cepat akibat topografi yang miring dan pola drainase yang dendritik. Sebaliknya, lambat di bagian hilir akibat topografi yang datar, pengaruh dari permukaan air rawa di bagian outlet sungai dan menurunnnya kapasitas pengaliran akibat sedimentasi. Kedua hal ini akan mendorong terjadinya banjir di bagian hilir bila curah hujan cukup tinggi dan berlangsung dalam periode waktu hujan yang cukup lama di bagian hulu SSDAS.

Terjadinya banjir di Kalimantan Selatan sangat erat kaitannya dengan karakteristik SSDAS dan tingkat kesehatannya. Kebanyakan jenis tanah di bagian hulu SSDAS terdiri dari jenis tanah Podsolik, Latosol dan komplek Podsolik-Lateritik yang mempunyai koefisien erodibilitas sedang-tinggi. Umumnya tanahnya bertekstur halus, mempunyai permeabilitas lambat, mempunyai kandungan bahan organik tanah yang rendah dan struktur tanahnya yang agak pejal dan berblok. Kemiringan tanah di bagian hulu SSDAS juga cukup besar. Pada kondisi kemiringan yang besar dengan sifat-sifat tanah seperti diatas, curah hujan yang jatuh sebagian akan cepat berubah menjadi runoff apabila tanah jenuh air. Pada kondisi runoff yang tinggi dan sifat-sifat tanah yang rentan erosi maka bahaya erosi tanah merupakan permasalahan utama yang mengancam kelestarian lingkungan. Bahaya erosi akan dipercepat apabila perusakan terhadap vegetasi penutup tanah berlangsung secara intensif, misalnya melalui penebangan liar tak terkendali dan pertambangan batubara atau kegiatan pertanian yang tidak diikuti dengan usaha konservasi tanahnya. Sebagai gambaran besarnya erosi pada perubahan penggunaan lahan dibanding hutan dapat dilihat pada Tabel 5.

Pola drainase lahan dari DAS Barito yang berada di wilayah Kalimantan Selatan bermuara (outlet) di Sungai Barito bagian tengah dan di bagian hilir. Pada SSDAS yang bermuara di bagian tengah sungai Barito misalnya SSDAS Barito tengah hingga SSDAS Amandit, umumnya outlet sungai dikelilingi oleh rawa monoton. Laju pengeluaran airnya dari outlet akan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya muka air di rawa tersebut, sedangkan SSDAS yang sungainya bermuara di bagian hilir sungai Barito, misalnya SSDAS Tapin hingga Alalak, outlet sungainya dikelilingi dan dipengaruhi oleh rawa pasang surut. yang tinggi permukaan airnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Laju pengeluaran airnya sangat dipengaruhi oleh tinggi muka air rawa pasang surut. Perbedaan pola pengeluaran ini akan berpengaruh pada kemungkinan terjadinya banjir, luas luapan dan lamanya genangan. Lamanya genangan banjir di Kabupaten Banjar, dan Batola pada banjir yang terjadi tahun 2003/2004 dan 2006 yang lalu erat kaitannya dengan pengaruh tingginya permukaan air di out-let akibat pengaruh pasang air laut. Sedangkan banjir di Kabupaten HSU, HST dan Tabalong banyak dipengaruhi oleh tingginya muka air rawa monoton yang menghalangi pengeluaran air sungai secara cepat ke Sungai Barito.

Iklim di wilayah DAS Barito cukup kondusif untuk terjadinya erosi dan runoff yang akhirnya mendorong terjadinya banjir. Karakteristik iklim ini tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Kegiatan yang dapat dilakukan terbatas pada mengurangi pengaruhnya secara langsung terhadap tanah dengan mengusahakan penutupan tanah yang intensif dengan vegetasi dan penerapan usaha konservasi tanah untuk mengurangi bahaya erosi yang sekaligus akan mengurangi runoff dan banjir. Meskipun terjadi runoff, penerapan usaha konservasi akan dapat mengurangi tingkat sedimantasi yang sangat berdampak pada sistem drainase dan lingkungan.

Selain karakteristik SSDAS yang memungkinkan terjadinya banjir, kondisi kesehatan DAS yang ada sekarang ini umumnya cukup rendah sehingga memungkinkan terjadinya banjir karena daya serap air SSDAS sudah banyak berkurang akibat menurunnya luas hutan sebagai penutup tanah yang paling efektif, IBE yang tinggi dan berkurangnya kapasitas tampung dan pengaliran air dari sarana drainase yang ada akibat sedimentasi yang cukup tinggi dan meningkatnya runoff. Peningkatan runoff ini akan mengurangi jumlah air yang tersimpan di profil tanah yang nantinya akan berubah menjadi subsurface runoff yang sangat berperan dalam mempertahankan debit air sungai di musim kemarau dan mengurangi banjir di musim hujan. Akibat berkurangnya air yang tersimpan di profil tanah kekeringan akan cepat terjadi dan peluang terjadinya kebakaran juga semakin besar. Berkurangnya penutupan lahan oleh vegetasi juga menimbulkan perubahan iklim mikro dan selanjutnya mempengaruhi iklim global. Vegetasi dapat memperbesar kemungkinan terjadinya hujan melalui sumbangan uap air hasil transpirasi yang terjadi pada siang hari. Berkurangnya luas hutan akan menimbulkan berkurangnya terjadinya hujan dan memperbesar terjadinya musim kemarau dan panjangnya periode kekeringan. Dapat diramalkan semakin berkurang luas hutan dan semakin tidak sehat lahan maka kemungkinan terjadinya banjir yang tidak menentu juga akan semakin besar. Demikian pula peluang terjadinya musim kemarau yang panjang juga semakin besar. Akibatnya kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan juga semakin meningkat.

Hasil penilaian kerawanan bahaya banjir, kekeringan dan kebakaran dari beberapa sub-DAS Barito dari data banjir selama lima tahun terakhir dikaitkan dengan kondisi biofisik lahan dan konservasi yang dilaksanakan dapat dilihat pada Tabel 6. Dari hasil tersebut wilayah Kalimantan Selatan dapat dikategorikan rawan banjir, kekeringan dan kebakaran. Suatu hal yang tidak mustahil nantinya bila banjir, kekeringan dan kebakaran akan terjadi secara rutin setiap tahunnya. Bahkan kemungkinan banjir dapat terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Desember-Februari dan pada bulan Mei-Juni, diikuti oleh kemarau dan kekeringan yang lebih panjang. Terjadinya banjir sampai dua kali setahun tersebut berkaitan dengan pola iklim yang ada di wilayah Kalsel sekarang ini pada umumnya terdapat dua puncak hujan yaitu Desember -Januari dan Mei. Pada saat puncak hujan tersebut kondisi tanah umumnya cukup jenuh sehingga peluang terjadinya banjir juga akan besar.

Kesimpulan dan Saran

Dari data kejadian banjir dan kekeringan yang terjadi dalam lima tahun terakhir dapat disimpulkan bahwa Kalimantan Selatan sekarang ini tergolong sebagai wilayah yang rawah-sangat rawan bencana banjir, kekeringan dan kebakaran. Dampak banjir, kekeringan dan kebakaran akan bersifat luas dan merugikan Terjadinya banjir di Kalimantan Selatan erat kaitannya dengan besarnya runoff yang berkaitan dengan karakteristik SSDAS Barito yang karakteristik iklimnya yang kondusif untuk mendorong terjadinya runoff, karakteristik tanahnya yang mudah tererosi dan kelerengannya di bagian hulu SSDAS cukup besar serta sistem drainase alami yang memungkinkan penumpukan air di bagian hilir SSDAS.

Peningkatan frekwensi banjir dan kondisi genangan yang terjadi erat kaitannya dengan kesehatan fungsi hidrologis dari masing-masing SSDAS yang umumnya sudah sangat menurun akibat menurunnya daya serap air, menurunnya kapasitas tampung dan pengaliran air dari sarana drainase alami yang ada akibat tingginya tingkat sedimentasi dari hasil erosi. Selain itu, rusaknya kesehatan lahan akan berdampak pada perubahan iklim mikro yang memicu terjadinya kemarau yang lebih panjang dan memudahkan untuk terjadinya kebakaran.

Disarankan pengurangan intensitas banjir dan dampaknya hanya akan dapat dikurangi bila kondisi kesehatan hidrologis lahan dapat dipulihkan melalui: (i) rehabilitasi kondisi lahan SSDAS yang rusak melalui reboisasi dan penghijauan yang intensif, (ii) penerapan penggunaan lahan yang sesuai dengan kelas kesesuainnya dan penerapan teknologi konservasi tanah dan air, (iii) rehabilitasi, pemeliharaan dan peningkatan fungsi saluran drainase alami yang ada, (iv) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemeliharaan lingkungan dan perlunya memelihara hutan, tanah dan air serta meminimalkan pembakaran dalam penyaiapan lahan untuk kegiatan pertanian/perkebunan.

Daftar Pustaka

Anonim. 2000. Rehabiltasi lahan kritis. Bahan Expose PT. Indonihon Seima dilaksanakan di Bappeda Kalsel.

Balibangda Provinsi Kalsel. 2003. Identifikasi kesehatan DAS Barito dan kemungkinan pengelolaannya.

Sivanavan, R.K. 1992. Soil and water conservation and water harvesting. Tamil Nadu Social Forestry Project Indo-Swedish Forest Coordination Programme, Madras.

Sosrodarsona, S. dan Kenaku Takeda. 1980. Hidrologi Untuk Pengairan. PT. Pradnya Paramita. Jakarta

1 Komentar »

  1. YANG MEMBEDAKAN TIPE LUAPAN PASANG SURUT

    Komentar oleh FREDY — Mei 19, 2009 @ 10:58 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: