BebasBanjir2015

Aspek Psikologis

Bencana Banjir dan Dampak Psikologisnya

Oleh Andri Suryadi

Banjir kembali melanda Jakarta. Seperti yang telah diperki-rakan sebelumnya, bencana ini hampir menyapa setiap tahun ibu kota kita. Namun, tak disangka tahun ini banjir datang dengan kekuatan yang lebih dashyat bahkan diperkirakan melebihi banjir besar di sekitar tahun 2002.

Sedih rasanya melihat ibu kota negara tercinta terendam air. Beberapa tempat sampai mencapai atap rumah bahkan lebih. Ratusan ribu orang mengungsi ke tempat yang lebih aman, meninggalkan harta benda yang rusak terendam air. Yang sangat menyedihkan adalah jatuhnya korban jiwa akibat bencana besar ini.

Entah mengapa kita tidak pernah belajar dari bencana yang kerap menyapa kita. Kita mengetahui ketidakseimbangan lingkungan menjadi penyebab terjadinya bencana banjir. Berkurangnya serapan air di Jakarta membuat hanya dalam beberapa menit hujan besar mengguyur saja, air menggenanglah yang menjadi pemandangan sesudahnya.

Hal ini kemudian di tambah dengan sistem buangan dan saluran air yang tidak baik. Bahkan sebuah kebocoran pipa PAM saja bisa membuat banjir sebuah jalanan di Jakarta.

Kalau kita melihat pembangunan Jakarta yang sangat pesat, sebenarnya kita patut berbangga. Namun, hal ini tidak didukung oleh infrastruktur yang memikirkan tentang dampak lingkungan yang akan timbul akibat pembangunan itu.

Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan di berbagai sudut kota tidak dibarengi dengan penghijauan dan pembuatan taman atau hutan kota. Yang ada malah jalur hijau yang sudah ada ditebas untuk keperluan memperluas jalan.

Sebenarnya hal ini dapat kita cegah, bila saja kita cukup arif dan beritikad baik. Memang keadaan Jakarta secara geografis lebih rendah dari daerah sekitarnya yang menjadi kota satelit seperti Depok, Bogor dan kawasan Puncak.

Ini berarti jika terdapat kelebihan debit air akibat hujan yang lebat di daerah Bogor atau Depok maka Jakarta akan ketumpahan air yang sudah tidak mampu lagi di tampung oleh dua sungai yang melintasi Jakarta, Ciliwung dan Cisadane. Akibatnya air akan menggenangi perumahan di daerah bantaran sungai tersebut bahkan dapat meluas ke daerah yang sebenarnya cukup jauh dari bantaran sungai.

Masalah Besar

Banjir seperti bencana lain selalu membawa masalah yang sangat besar tidak hanya pada saat terjadi namun juga sesudah masa banjir itu lewat. Kerugian material tentunya sudah terbayang di depan mata.

Terendamnya rumah dan barang-barang di dalamnya oleh air yang terkadang bercampur lumpur dan pasir semakin menyulitkan saat upaya pembersihan. Belum lagi penyakit yang menyerang saat banjir seperti penyakit kulit, leptospirosis dan penyakit infeksi saluran napas.

Keadaan ini semakin diperparah dengan jumlah pengungsi yang tidak sesuai dengan tempat pengungsian. Mereka kebanyakan tidak mendapatkan tempat yang layak untuk tinggal bahkan hanya untuk beristirahat saja.

Kurangnya pasokan makanan yang bergizi juga menyebabkan para pengungsi mudah terserang penyakit infeksi pernapasan yang biasa menghinggapi saat musim hujan seperti ini. Hal ini belum ditambah dengan beban psikologis yang harus ditanggung oleh para pengungsi khususnya anak-anak.

Mereka tidak mampu bersekolah dan harus tidur di tempat yang seadanya. Makanan pun tersedia seadanya walau secara jujur memang sehari-hari pun mereka tidak pernah mendapatkan gizi yang cukup.

Hal ini karena sebagian pengungsi merupakan golongan ekonomi lemah.Tentunya lingkungan seperti ini sangat tidak kondusif dalam tumbuh kembangnya anak. Namun, apa mau dikata itulah yang harus dialami oleh mereka semua.

Lalu bagaimana sikap kita semua menghadapi hal ini? Tentunya adanya upaya dan niat baik dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pusat merupakan hal yang sangat kita harapkan.

Upaya-upaya penanganan banjir yang tepat saat ini harus segera dilaksanakan. Pemprov DKI Jakarta sebenarnya sudah memikirkan hal ini. Pembangunan Kanal Banjir yang akan membentengi Jakarta dari ancaman banjir akibat kiriman air sudah dimulai.

Namun, sampai sekarang tidak kunjung selesai. Pembangunan infrastruktur ini kalah sigap dengan pembangunan koridor-koridor busway.

Padahal kalau saja memikirkan kepentingan, maka pembangunan banjir kanal seharusnya mendapatkan prioritas yang utama dibandingkan pembangunan busway yang malah menimbulkan masalah baru yaitu kemacetan. Dan kalau mau jujur lihat saja ketika banjir melanda, maka koridor Busway tidak ada gunanya.

Banyak koridor tidak dapat beroperasi seperti di daerah Daan Mogot yang memang sudah menjadi seperti danau. Sampai hari ketiga sejak banjir, beberapa tempat masih tergenang air bahkan ada kemungkinan bertambah bila kiriman air akibat hujan lebat di Bogor dan sekitarnya memenuhi sungai Ciliwung.

Hal ini sebenarnya harus segera diatasi. Karena semakin lama genangan air tersebut ada maka semakin banyak kerugian yang akan dihadapi. Bukan hanya karena kerusakan fisik bangunan saja, namun juga karena daerah yang tergenang tersebut terutama jalan-jalannya merupakan penghubung ke berbagai tempat lain di Jakarta.

Hasilnya produktivitas kerja akan menurun akibat banyak orang tidak dapat bekerja seperti biasa. Transportasi yang terputus juga akan menyebabkan beberapa pasokan barang ke berbagai tempat terhambat.

Jika hal ini dibiarkan lama terutama untuk beberapa kebutuhan pokok, maka kenaikan harga akan menjadi suatu hal yang mungkin dapat terjadi. Lihat juga bandara udara Internasional Soekarno-Hatta yang lumpuh akibat jalan tol yang menuju ke sana terendam banjir. Ribuan penumpang terlantar tanpa ke-jelasan.

Penumpang, pihak maskapai dan otorita bandara mengalami kerugian yang besar karena bencana ini. Muka Indonesia pun ikut tercoreng, karena jalan masuk tamu internasional tersebut tidak mampu menempatkan diri sebagaimana mestinya, padahal Visit Indonesia Year 2008 baru saja dicanangkan.

Jangan Lupa

Untuk itu, setelah penanganan banjir dapat terlaksana maka ada baiknya di saat musim kemarau nanti tiba, Pemprov DKI Jakarta bersama Pemerintah Pusat sudah mampu menyiapkan siasat untuk menghadapi banjir yang kerap mengancam Ibukota. Kedua belah pihak harus serius untuk dapat membuat suatu perencanaan yang baik tentang upaya penanganan itu.

Prioritas masalah menjadi kunci pemecahan masalah, karena tidak dimungkiri banyak sekali masalah di Ibukota kita ini terutama sekali kemacetan lalu lintas di mana-mana. Namun, tentunya jangan sampai masalah banjir ini akan terlupakan ketika musim kemarau tiba dan kita kemudian masing-masing seperti lupa bahwa banjir selalu mengancam kita di musim penghujan tiba.

Penulis adalah Pengamat Kesehatan Jiwa andri_dr@rsgm.co.id
Sumber: Suara Pembaharuan, 8 Pebruari 2008

Penanganan Depresi Pasca Banjir

Goenardjoadi Goenawan

Saat ini pembersihan rumah-rumah dari banjir telah hampir selesai, lumpur tebal telah dibersihkan, pembersihannya memakan waktu 4 hari. Bagaimana kondisi para korban banjir? Apakah masalah utama yang timbul yang dialami pasca banjir ini? Mengapa para korban banjir mengalami depresi berat? Apakah penyebab deresi tersebut?

Jangankan para korban banjir, yang rumahnya tidak kebanjiran namun mati listrik, dan mati PAM saja sudah sangat tersiksa. Kondisi gelap, panas, pengap, tidak bisa mandi, tidak ada kipas angin, dan tidak bisa melakukan hal yang paling simple, seperti charge handphone. Contohnya ini sharing teman kita yang kena banjir.

Baru bisa gabung lagi setelah lebih dari 1 minggu “terkukung” dalam “kegelapan”. Maklum rumah kebanjiran dan harus jadi nomaden. Dan terus terang saya mengalami depresi yg cukup berat selama periode kebanjiran kemarin itu. Saya paksakan untuk menulis posting ini karena mengharapkan hal ini bisa mengurangi stress saya tsb.

Kejadian kebanjiran di rumah saya ini adalah ke 3 kalinya (yg terhitung ‘huebat’); dari 1996, 2002 dan 2007 ini. Seperti juga mungkin dialami teman2 lainnya, banjir di Jakarta 2007 ini memang lebih parah juga menimpa saya sekeluarga. Tapi saya ingin tetap bisa mengambil “pelajaran” dari musibah ini.

Dari segi ‘kebutuhan’ (yg lagi lumayan ramai didiskusikan juga di sini), saya tiba2 merasakan suatu kebutuhan yg tinggi sekali dan tak dapat terpenuhi saat kebanjiran itu; yaitu kebutuhan atas INFORMASI. Saya tidak peduli dgn gak bisa makan/minum ataupun rasa aman….boro2 aktualisasi diri (ini istilah2 dari Maslow yah hehe). Stress saya adalah karena saya benar2 kekurangan informasi. Area saya tiba2 kalau malam hari seperti lautan luas yang gelap gulita dan sunyi. Tidak ada TV, orang pada takut keluar, gak ada koran yg datang karena siapa yg mau mengantarkan koran ke daerah yg banjirnya sudah sedada? Paling2 mendapat ’sedikit’ berita dari radio saku dgn baterei saya….”sialnya” isinya nyaris seragam semua yaitu: pintu air A sudah sekian meter, banjir di daerah B masih tinggi, macet total di daerah C dan sejenisnya. Bukannya bikin gembira, eh ini informasi malah bikin aku makin stress. Pengen banget bisa akses internet…tapi pakai apa? HP saya batereinya sudah sangat tipis sehingga saya batasi hanya untuk SMS krn kalau habis, mau charge dimana? Saya belum baca bukunya mas Goen yg terakhir (BTW, saya beli 1 buku anda dan belum sempat saya baca, sekarang sudah jadi bubur kertas :-)….tapi moga2 mas Goen sudah memasukan adanya kebutuhan atas Informasi ini disana yah🙂 Yang pasti ketidak-mampuan saya memenuhi kebutuhan atas informasi itu rasanya benar2 membuat saya jadi org ‘bego’ selama seminggu itu.

Saat siang hari, saya mengalami situasi yang lain lagi. Bila saya keluar menembus banjir, maka saya bertemu dengan berbagai macam individu yg ’senasib’ dan tiba2 bisa dgn mudah berakrab-ria dengan mereka. Tolong-menolong jadi demikian mudah dan indahnya. Yg satu kasih segelas aqua, yg lain sebatang rokok dan yg lain lagi sekedar sharing informasi….wah lega dan rada terlepas sedikit stress-nya….padahal di sekitar kita air bercampur sampah campur aduk dgn baunya yg alamak banget….tp kita bisa tersenyum juga bersama disitu (walaupun ada juga bbrp org yg nimbrung ngobrol dgn umpatan2-nya hehe). Rasanya kalau dalam kondisi begini, gak perlu itu ada latihan kompati hehe….semua tiba2 jadi ahli berempati dgn org lain🙂 Hilang perbedaan apakah kita WNI asli atau bukan,
apakah dia Muslim atau bukan, apakah dia kaya atau miskin dlsb. Mungkin inilah kekuatan ‘alam’ yang bisa menyatukan empati antar manusia yah. Mungkin ini PR buat Vincent dkk agar bagaimana kekuatan alam seperti itu selalu ada dalam diri kita masing2.

Hal lain yang saya perhatikan adalah bahwa memang situasi kritis/darurat akan lebih memacu kreatifitas manusia. Beberapa warga di RW saya tiba2 berubah profesi menjadi ‘ojek rakit’. Bahan rakitnya bermacam-macam sekali, ada yang pakai botol aqua galon, ada yg tetap ‘tradisional’ pakai bambu, ada yg pakai tong sampah, ada yg pakai gerobak sampah RT yg disulap jadi rakit, ada yg pakai ban mobil bekas, ada yang pakai kasur basah, macam2 deh. Dan penghasilan mereka sangat menarik lho….per orang bisa kena biaya Rp. 10rb hanya unt. jarak sekitar 300-400 meter (ya cuma jalannya di air yah :-)). Apakah mungkin bencana alam yg akhir2 ini terjadi di Indonesia adalah salah satu ‘jalan Tuhan’ agar insan Indonesia bisa lebih kreatif? Moga2 demikian!

Di saat yang bersamaan, saya juga bisa ‘menikmati’ perilaku angkuh dari sebagian orang. Lah sudah lihat di depan banjir sedada, ada saja org dgn motor dan mobil yang mencoba ‘nekad’ melewatinya. Ada satu mobil toyota jeep dgn. stiker angkatan di kaca belakangnya ditambah stiker perkumpulan berburu, ditambah pengemudinya yang pakai topi koboi, nekad dan mogok dan jadi bahan tertawaan para ojek rakit🙂 Kacian deh loe!

Bagi sebagian orang lagi mungkin “cahaya” adalah kebutuhan pokok juga. Akibatnya setelah bbrp hari tidak ada listrik, tiba2 saya melihat cukup banyak ojek rakit membawa genset ke rumah2 yg masih dihuni. Saya dengar Carefour kena serbu org2 yg ingin beli genset sampai harganya melambung….dan org sudah tidak peduli lagi apakah itu genset buatan amerika, eropa, china or made in pulogadung🙂 Saya sih masih cukup puas dengan lilin dan senter baterei saya saja.

Perasaan terisolasi cukup kental saat itu. Walaupun saya akhirnya harus mengungsi juga ke rumah teman, tapi tidak bisa jauh-jauh karena area saya boleh dibilang ‘terkurung’ banjir. Rumah teman tempat saya mengungsi juga kebanjiran walaupun hanya sebatas halamannya saja. Tapi ya tetap saja di rumah itu tidak ada listrik (untung PAM masih menyala). Di rumah teman itulah saya jadi merasa mendapat ‘teman karib baru’…krn sebelumnya saya hanya bertemu dia belum tentu 1 bulan sekali…tiba harus bertemu tiap hari untuk beberapa malam. Guyonannya cukup membuat saya mampu berkomunikasi dgn baik lagi.

Hal lain yg harus saya terima dgn iklas adalah bahwa usia memang tidak bisa dibohongi. Saat banjir 1996 seingat saya, saya masih kuat mengangkat perabotan rumah saya agar selamat dari air. Tp saat banjir kemarin, tiba2 saya merasa tenaga saya sudah sangat berkurang dibandingkan 11 thn lalu sehingga akibatnya lebih banyak perabotan rumah saya yang hancur. Yang paling saya sayangkan adalah buku2 saya yg jadi bubur kertas! Padahal ada sebagian buku2 itu yg belum tuntas saya baca atau bahkan belum sempat saya sentuh (masih mulus terbungkus plastiknya!)

Saya yakin ada rekan lain yg mengalami hal yg lebih parah daripada saya. Yah…semoga seberapapun parahnya musibah yang menimpa anda, ada pelajaran yang bisa kita peroleh. Teman saya bilang “Tuhan tidak akan memberikan musibah yang tidak dapat ditanggung manusia”. Saya percaya itu juga, khususnya dalam pengertian, mungkin tubuh kita tidak dapat menanggungnya, tapi jiwa dan iman kita seharusnya jauh lebih kuat dari tubuh fana kita.

Salam damai selalu

Saya ikut prihatin anda mengalami horor berhari-hari tanpa kejelasan, terkucilkan, terisolir, dan itu membuat anda depresi berat. KEBUTUHAN Manusia itu bukan makan minum saja, manusia bisa tidak makan berhari-hari dan bisa survive, kebutuhan dasar Manusia adalah kebutuhan untuk Didengar / berkomunikasi. Bila jeritan hati ini tidak didengar (tidak bisa saling berbagi), maka depresi akan menjadi gejala sakit. Sakit apalagi, kalau bukan sakit jiwa.

Yang menyelamatkan anda adalah kebutuhan kedua, yaitu KEBUTUHAN untuk empati, anda masih menerima kebaikan orang lain, dan dengan demikian anda amsih bisa memiliki harapan. Oleh karena itu, janganlah segan-segan untuk mengungkapkan kondisi anda kepada teman terdekat, ungkapan perasaan anda yang didengar akan membuat anda kembali pulih, istilahnya “aligning your spirit”, mengembalikan jiwa anda. Ini membuktikan bahwa membaca berita, membaca koran, misalnya adalah bukan demi berita, namun lebih berfungsi dalam keadaan tak pasti, informasi ketakutan bersimpang siur, kita memiliki pedoman, memiliki Kompas.

Ada istilah Crach syndrome, apad sebuah kejadian kaget luar biasa, atau tabrakan, maka tubuh akan mengalami goncangan jiwa, dan oleh karena itu 5 menit pertama adalah menenangkan diri, dengan berdoa, dengan minum air, sebab bila tidak, besar kecenderungan terjadinya metabolism breakdown bukan karena organ terbentur, atau terhantam, namun karena jiwa yang terguncang, sehingga tidak mampu mengendalikan metabolisme fungsi hati, jantung, paru-paru, penglihatan mata.

Buku-buku anda sudah hanyut menjadi bubur, namun anda menemukan buku anda yng paling mahal, yaitu buku hati anda. Mohon anda dapat menuliskan apa yang
terbaca dari hati anda, untuk apa manusia hidup? mengapa beban kok terasa semakin berat? mengapa hidup ini penuh penderitaan?

Bacalah, maka anda akan menemukan surga di hati anda.

salam,
Goenardjoadi Goenawan

sumber: http://groups.google.com/group/milis-fpk/browse_thread/thread/1e50745c9d478d1b/3e901a05d439448e?lnk=st&q=banjir+jakarta&rnum=4#3e901a05d439448e

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: