BebasBanjir2015

Fatchy Muhammad

PROGRAM “ZERO RUN OFF” UNTUK MENGATASI BANJIR & KEKERINGAN DKI JAKARTA

Oleh: Ir. Fatchy Muhammad (Anggota DSDAP DKI Jakarta dari Masyarakat Air Indonesia)

Sumber: http://dsdapjakarta.com/  

Seperti kita semua ketahui bahwa permasalahan air di Jakarta sudah sejak lama tidak tertangani dengan maksimal. Air hujan bagi masyarakat Jakarta lebih indentik dengan banjir. Air tanah, bagi masyarakat DKI di belahan utara, pusat, timur dan barat menjadi sesuatu yang didambakan. Kondisi tersebut merupakan sebuah situasi yang ganjil karena satu sisi air hujan menjadi penyebab banjir dan satu sisi lagi masyarakat di 4 wilayah DKI kekurangan air. Berbagai macam upaya sudah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan itu dan pada tahun 2010 terbentuklah DSDA yang bertugas membantu Pemda DKI untuk mencarikan solusi dan memberikan masukan tentang Air di Jakarta.

Jakarta dengan segala daya tariknya telah mengundang masyarakat luar daerahnya sehingga jumlah penduduk Jakarta bertambah pesat secara dramatis.  Pada tahun 2005 jumlah penduduk Jakarta 8.842.346 jiwa meningkat menjadi 9.146.181 jiwa di tahun 2008 dan pada tahun 2010 sudah mencapai 9.500.000 jiwa.

Pada saat musim hujan, tahun 1994 di Jakarta terdapat 40 titik banjir.  Tahun 1996 meningkat menjadi 80 titik daerah Banjir. Tahun 2002 air telah menenggelamkan hampir 1/3 luas Jakarta dan pada tTahun 2007 banjir lokal juga menengelamkan Jakarta. Pada saat musim kemarau masyarakat di 4 wilayah Dki mengalami kekurangan air sehingga air masuk dalam kategori barang langka.

Luas Provinsi DKI Jakarta adalah 661,52 km2 dengan komposisi 40 % Pemerintah milik DKI dan 60 % nya adalah milik Masyarakat. Curah hujan DKI yang merupakan karunia dari Tuhan adalah sebanyak 2.000 mm s/d 3.000 mm per tahun. Catchment Area ( sarana penampung air alamiah) pun dikaruniakan Tuhan kepada DKI berupa DAS 8 sungai yang terdiri dari Sungai Angke, Grogol, Krukut, Mampang, Ciliwung, Cipinang, Sunter dan Cakung yang mengalirkan membelah Jakarta selatan ke utara. Kawasan Ruang Terbuka Hijau DKI (2010) ialah seluas 9.8 %.

Sumber air tanah Jakarta secara umum bersumber di 2 sumber lapisan yang dinamakan lapisan air tanah bebas yang berada di kedalamam 1m~ 30 m dan lapisan air tanah tertekan yang berada di kedalaman 40m~300 m. Pemerintah DKI telah mengeluarkan segala bentuk peraturan yang berkaitan dengan air yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas management air bagi masyarakatnya.

Melalui fakta data dan dampak masalah yang ada maka air yang seharusnya merupakan karunia yang dahsyat , tapi saat ini ironisnya fungsi air bagi masyarakat DKI sudah berubah manjadi masalah. Bagi kita masalah air dengan segala dampaknya bila kita cermat maka terlihat bahwa masalah air sudah menjadi masalah yang sangat kompleks yang dapat diuraikan sbb ;

  • Pembangunan yg sangat pesat sebagai akibat dari pertambahan penduduk baik karena kenaikan angka kelahiran melebihi angka kematian, urbanisasi dari desa ke kota serta meningkatnya kegiatan ekonomi selama tiga dasawarsa terakhir mengakibatkan peningkatan alih fungsi lahan di daerah Jakarta. Alih fungsi lahan terjadi dalam bentuk kawasan hutan , lahan kebun , lahan pertanian dan kawasan rawa berubah bentuk menjadi peruntukan lain seperti jalan, perumahan, perkantoran dan peruntukan lainnya.
  • Dampak dari peningkatan alih fungsi lahan dari kawasan hutan atau kebun menjadi fungsi lain mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Hal-hal tersebut mengakibatkan kenaikan atau perubahan suhu, kenaikan permukaan air laut , jumlah curah hujan yg semakin lebat serta durasi ( waktu turun ) hujan menjadi lebih pendek, frekuensi hujan makin sering.
  • Dampak dari peningkatan alih fungsi lahan dari kawasan kebun atau ladang, kawasan rawa berubah bentuk menjadi jalan dan perumahan mengakibatkan kerusakan daerah aliran sungai. Hal-hal tersebut berdampak pada berkurangnya kapasitas resapan air hujan kedalam tanah atau koefisien run off (aliran permukaan bertambah besar). Dengan bertambahnya aliran permukaan pada saat musim hujan, akan berdampak meningkatnya debit maksimum di sungai. Meningkatnya perbedaan debit minimum – maksimum sungai akan meningkatkan erosi atau kerusakan badan sungai yg pada gilirannya akan menambah sedimentasi di hilir.
  • Dampak dari peningkatan alih fungsi lahan mengakibatkan kerusakan daerah aliran sungai. Sungai semakin dangkal karena pengendapan sedimentasi dan menyempit di beberapa tempat sehingga kapasitas sungai semakin kecil. Dengan berjalannya waktu peralihan fungsi lahan tidak bisa di cegah. Dampaknya adalah aliran permukaan yang masuk ke selokan dan seterusnya ke badan sungai akan semakin besar, akan terjadi “genangan “ jika kapasitas aliran permukaan melebihi kapasitas selokan, begitu juga akan terjadi “banjir“ jika kapasitas aliran permukaan melebihi kapasitas sungai.
  • Dampak dari peningkatan alih fungsi lahan mengakibatkan berkurang nya air hujan yg meresap ke lapisan air tanah. Pada kondisi kapasitas pengambilan air tanah melebihi kapasitas air hujan yg meresap maka akan berdampak terjadinya penurunan permukaan air tanah atau penurunan kuantitas air tanah.

Agar dapat mempermudah maka perlulah kita menstrukturkan masalah yang ada agar mudah dipahami bibit masalah sampai dengan buah masalah. Penulis mencoba menstrukturkan permasalahan yang ada dengan metode uraian pohon masalah berikut ini ;

Akar masalah:

  • Urbanisasi menyebabkan perubahan tata guna lahan sehingga merubah fungsi lahan resapan tidak dapat meresap air lagi sehingga curah air hujan yang diserap tidak sebanyak yang seharusnya sehingga kuantitas air tanah menurun

Batang Masalah:

  • Pemahaman: membuang air hujan menjadi kebijakan umum sehingga air hujan yg seharusnya dikembalikan lagi ketanah dikategorikan sebagai limbah air hujan.

Cabang Masalah:

  • Kebijakan berupa perda konservasi belum berjalan maksimal tapi fokus sudah berubah menjadi kegiatan mengembangkan ‘proyek’ pembuangan air (drainage, banjir kanal, dll).

Ranting Masalah:

  • Air hujan yang ‘dikategorikan’ sebagai limbah terbuang percuma kedalam sungai, sehingga debit air sungai akan mengerosi badan sungai.

Daun Masalah:

  • Limbah erosi badan sungai menjadi sedimen andapan di hilir sungai sehingga daya tampung sungai berkurang.

Buah Masalah-bagi Masyarakat DKI : 

  • Buah – M1, Masalah banjir menjadi masalah fenomenal DKI yang sudah menimbulkan kurban jiwa dan merugikan ekonomi masyarakat.
  • Buah – M2, Air tanah berkurang sehingga sumber air tanah masyarakat tidak maksimal.
  • Buah-M3 ; Dana yang diberikan ke Pemda DKI yang seharusnnya dapat dimanfaatkan untuk penyediaan air bersih gratis (seperti di ibu kota dunia lainnya) bagi masyarakatnya tidak tersedia karena terpakai untuk menangani banjir.

Buah Masalah – bagi Pemda DKI :

  • Buah-P1; RAPBD meningkat karena harus dicadangkan untuk membiayai meningkatnya biaya perawatan sarana dan prasarana umum yg rusak ( Pendalaman sungai, Jalan Rusak, Tanggul jebol,dll).
  • Buah-P2, Hutang Pemda DKI kepada lembaga keuangan lokal dan asing meningkat karena diperlukan untuk membiayai Program pembesaran saluran (BKT, dll).
  • Buah-P3, Terjadinya Pelanggaran UUD 45 pasal 33 & 34 yang diwujudkan melalui komersialisasi penyediaan air bersih bagi masyarakat

Buah Masalah – bagi Dunia Usaha DKI : 

  • Buah-DU1 ; Pembebanan pajak air tanah akan memberatkan dunia usaha dalam struktur biayanya,
  • Buah-DU2 ; Masyarakat usaha akan memindahkan beban biaya air tanah itu kedalam produknya sehingga akan berpulang kembali menjadi peningkatan biaya produk bagi masyarakat umum.

Buah Masalah – bagi Kondisi Sosial politik :

  • Buah masalah-KS1; Permasalahan banjir dipolitisasi untuk kepentingan politik praktis dalam memperebutkan jabatan strategis di DKI.
  • Buah masalah-KS2 ; Kelompok korporasi besar akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk merebut potensi usaha ‘pendayagunaan air’ yang dapat menciptakan instabilitas kondisi kerja petinggi pemda DKI.

Menurut penulis, akar / bibit “masalah banjir dan kelangkaan air Jakarta” adalah perubahan tata guna lahan. Karena dg perubahan tata guna lahan tersebut akan berdampak pada berkurangnya penyerapan air hujan secara natural sehingga mengakibatkan bertambahnya aliran permukaan. Semakin besar perubahan tata guna lahan akan berakibat semakin bertambahnya aliran permukaan (semakin besar coef run off nya).

Sehingga solusi utama penanganan banjir; bila terjadi perubahan tata guna lahan maka harus disertai dg penyerapan air hujan secara buatan / artificial recharge ( biopori, sumur resapan dan metoda lainnya) yg pada intinya memperkecil aliran permukaan, jika perlu C = 0 (semakin besar C, semakin banyak air yang dilimpaskan dan tidak diserap).

Agar genangan dijalan raya segera surut juga, maka perlu dibuat sumur resapan sehingga air lebih dahulu mengalir ke sumur resapan dan bukan ke saluran drainase. Baru kemudian diselesaikan penanganan saluran drainase pinggir jalan utama /protokol sampai ke sungai terdekat.

Kemudian menormalisasi sungai (pelebaran sungai), jika aliran bertambah besar, dan jika bertambah besar lagi alirannya, dibuat kanal untuk secepat nya air hujan dibuang ke laut. Pola ini yg menurut saya perlu dilakukan dimana semua jalan yg di buat DKI dibuat sumur resapan-sumur resapan. Dengan contoh tersebut diharapkan masyarakat dapat mencontoh DKI untuk mencintai air, dengan membuat sumur resapan dan biopori di halamannya masing-masing.

Selain itu perlu digalakkan metoda konservasi yang lain seperti waduk retensi, situ-situ, polder dan waduk resapan yang pada intinya menahan air selama mungkin di darat sebagai usaha mengatasi kelangkaan air.

 Sumber foto: http://www.trubus-online.co.id/

Mengapa Jakarta Perlu Sumur Resapan?

2 Komentar »

  1. Terima kasih telah memuat tulisan dalam blog anda, namun setelah membaca ada sedikit koreksi dari tulisan yg dimuat sbb :

    Yg perlu dikoreksi : ……Agar genangan dijalan raya segera surut juga, maka perlu dibuat sumur resapan sehingga air lebih dahulu mengalir ke sumur resapan dan bukan ke saluran drainase. Baru kemudian diselesaikan penanganan saluran drainase pinggir jalan utama /protokol sampai ke sungai terdekat.

    Kemudian menormalisasi sungai (pelebaran sungai), jika aliran bertambah besar, dan jika bertambah besar lagi alirannya, dibuat kanal untuk secepat nya air hujan dibuang ke laut. Pola ini yg menurut saya perlu dilakukan dimana semua jalan yg di buat DKI dibuat sumur resapan-sumur resapan. Dengan contoh tersebut diharapkan masyarakat dapat mencontoh DKI untuk mencintai air, dengan membuat sumur resapan dan biopori di halamannya masing-masing…

    Koreksi :
    Agar genangan dijalan raya segera surut juga, maka perlu dibuat sumur resapan sehingga air lebih dahulu mengalir ke sumur resapan dan bukan ke saluran drainase.Dengan kata lain drainase yg dilakukan drainase vertikal bukan drainase horizonal seperti yg selama ini dilakukan .
    Pola ini yg menurut saya perlu dilakukan dimana semua jalan yg di buat DKI dibuat sumur resapan-sumur resapan. Dengan contoh tersebut diharapkan masyarakat dapat mencontoh DKI untuk mencintai air, dengan membuat sumur resapan dan biopori di halamannya masing-masing…

    Komentar oleh fatchymuhamad — Oktober 20, 2011 @ 9:43 am

  2. Terima kasih Pak Fatchy

    Komentar oleh prapedas — Mei 15, 2016 @ 10:38 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: