BebasBanjir2015

A. Syarifuddin Karama

Mengurangi Banjir dan Mencegah kekeringan serta Mensejahterakan Rakyat

Oleh: A. Syarifuddin Karama*

RINGKASAN

Di musim hujan terjadi banjir, longsor dan erosi yang makin parah dari tahun ke tahun. Pada keadaan vegetasi hutan masih utuh banjir sudah terjadi. Sekarang, vegetasi hutan serta kapasitas serap dan tampung air daratan telah banyak berkurang, banjir makin intensif. Cadangan air untuk musim kemarau makin sedikit. Akibatnya di musim kemarau kita menderita kekeringan. Banjir dan kekeringan merugikan pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan serta berdampak buruk bagi permukiman, perdagangan, perindustrian, pelistrikan, pariwisata, kesehatan dan keamanan.

Untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan dibangun sebanyak mungkin embung, waduk kecil, situ, cek dam diperluas dan sumur / lubang resapan serta sumur Tirta Sakti, mulai dari bagian hulu (atas), bagian tengah sampai ke bagian hilir (bawah) daerah tangkapan hujan (watershed) di kawasan kehutanan, pertanian, perindustrian, permukiman dan lain-lain. Kegiatan ini dapat dilakukan warga masyarakat dengan sedikit bantuan pemerintah dan bimbingan tenaga teknis, sehingga relatif murah, mudah, cepat dan dapat merata di seluruh daerah.

Pencegahan banjir jelas mensejahterakan rakyat. Air yang ditampung dalam embung, waduk, dan cek-dam, atau disimpan di dalam  tanah melalui sumur / lubang resapan dan sumur Tirta Sakti dapat dipakai untuk meningkatkan produksi pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, serta untuk keperluan rumah tangga / permukiman, industri dan lain-lain di musim kemarau maupun musim hujan.

Berbagai hal tersebut akan membuka kesempatan kerja dan usaha seerta memperoleh penghasilan untuk kesejahteraan rakyat dan pendapatan negara.

PENDAHULUAN

Air adalah anugerah Tuhan. Jumlahnya sangat banyak, jauh melebihi semua keperluan (Meinzen Dick and Rosegrant, 2001).  Setiap mahluk hidup memerlukan air. Air memang bukan segalanya, tetapi tanpa air segalanya tiada berarti.

Karena tidak dikelola dengan baik, air nikmat Tuhan tersebut sering menimbulkan masalah. Di musim hujan banyak terjadi banjir, longsor, erosi. Nilai korban dan kerusakan yang diakibatkannya mencapai triliunan rupiah serta cenderung makin besar. Banyak penduduk bertambah miskin karenanya. Sulit menilai harga nyawa manusia yang hilang sebagai korban banjir dan longsor.

Sebaliknya, di musim kemarau kita menderita kekurangan air. Selain itu jumlahnya kurang seringkali kualitasnya buruk; antara lain tercemar polutan, salinitas tinggi, masam, berbau tidak sedap, mengandung banyak butir tanah, kuman, dan lain-l;ain (Van Damme, 2001). Sulit menghitung kerugian karena kekeringan dan terlebih lagi karena turunnya kualitas air. Kemiskinan pun meningkat karena kekeringan.

Tulisan ini membahas tentang sebab terjadinya banjir dan kekeringan. Kemudian dikemukakan cara mengurangi atau mencegahnya yang murah dan sederhana, berdasarkan pengalaman dan studi di bantul – DIY dan DAS Kaligarang – Semarang, serta pengalaman neara lain. Di makalah ini pengurangan banjir dan pencegahan kekeringan dikaitkan dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat terutama melalui sektor pertanian, tanpa mengabaikan manfaat yang sangat besar melalui sektor lain.

BANJIR, EROSI DAN LONGSOR

Tanah mempunyai kemampuan tertentu untuk menyerap dan menyimpan air. Kemampuan ini tergantung tekstur, struktur, kandungan bahan organik, ketebalan dan kepadatan solum tanah, serta keadaan vegetasi pada tanah tersebut. Bila jumlah air yang datang lebih besar dari kemampuan tanah menyerap air dan tidak ada jalur untuk air tersebut bergerak ke tempat lain, maka air yang tidak terserap akan menggenangi tanah tersebut. Bila jumlah air yang datang lebih besar dari kemampuan tanah menyerap air dan tidak ada jalur untuk air tersebut bergerak ke tempat lain, maka air yang tidak terserap akan menggenangi tanah tersebut. Kalau air yang tidak terserap tersebut mengalir ke tempat lain, disebut aliran permukaan (run off). Bila aliran permukaan ini jumlahnya besar dan bergerak cepat, daya rusaknya besar terhadap lahan yang dilaluinya. Air aliran permukaan secara alami akan berkumpul dan menggenangi tempat yang lebih rendah yaitu danau dan rawa atau masuk ke sungai dan terus mengalir ke laut. Selama kelebihan air tertampung oleh danau, rawa dan sungai, banjir tidak terjadi. Bila jumlah air yang masuk ke sungai lebih besar daripada air yang keluar ke laut, maka air akan meluap, menggenangi lahan di sekitar sungai, danau dan rawa tersebut. Genangan, luapan dan aliran permukaan yang cukup besar disebut banjir.

Aliran permukaan seringkali membawa butir tanah dan humus dari tanah yang dilaluinya disebut erosi. Bahan yang terbawa terebut diendapkan kembali antara lain di danau, rawa, sungai, serta di kawasan banjir dan di laut.

Air yang tergenang dan meresap ke dalam tanah meningkatkan bobot dan daya tekan terhadap tanah di bawahnya. Kalau daya tanah  lebih kecil dari bobot tanah serta air di atas dan di dalamnya, maka pada lokasi yang miring badan tanah tersebut akan bergerak ke bawah yang disebut longsor. Longsor juga tergantung adanya penahan / pengikat tanah, disamping kemiringan, serta faktor-faltor yang mempengaruhi daya serap air. Penahan dan pengikat tanah adalah perakaran pohon. Tanah yang mengalami kekeringan parah di musim kemarau sangat mudah longsor bila mendapat banyak air di musim hujan.

Di musim hujan, seringkali jumlah air hujan dalam waktu tertentu melebihi kemampuan lahan menyerap, menyiompan dan menampung air. Air kelebihan ini akan mengalir di permukaan tanah dan menyebabkan terjadinya banjuir, eropsi dan longsor. Pada keadaan begetasi hutan masih utuh, banir sudah teriong terjadim, tetapi longsor dan erosi jarang terjadi,. Sekarang, vegetasi hutan dan kemampuan lahan menyerap dan menyimpan air banyuak berkirang, maka banir, longsor dan eroi lebih sering tyerjkadi dal lebih parah akibatynya. Jika ada La-Nina, banjir, longsior dan segala akibatnya sangat parah. Aada atau tidak ada La-Nina, banjior selalu ada. Oleh karena itru upaya pengurangan dan pengendalian banjir haruis dilakukan seoptimal mungkin.

KEKERINGAN

Air keluar dari tanah berupa penguapan  ke udara langsung dari permukaan tanah (evaporasi), melalui tanaman (transpirasi), mengalir ke lapisan yang lebih dalam (perkolasi), dan bergerak ke samping (seepange). Sebagian air perkolasi dan seepage akan keluar kembali di tempat yang lebih rendah melalui mata air ke sumur, danau, sungai. Sebagian lainnya akan mengisi aquifer.

Perkolasi dan seepage terjadi bila tanah jenuh air, misalnya, setelah hujan lebat atau setelah diirigasi sampai jenuh air. Pada saat perkolasi dan seepage berhenti, kelembaban tanah berada pada kapasitas lapang. Evaporasi dan transpirasi mengurangi kelembaban tanah lebih lanjut. Kalau kelembaban tanah terus berkurang sampai mencapai titik laju permanen dan tidak ada pasokan air, tanaman mati kekeringan. Umumnya  tanaman terganggu kalau kelembaban tanah 75% kapasitas lapang atau lebih kering. Makin dekat kelembaban tanah ke layu permanen, makin kecil evaporasi dan transpirasi serta makin rendah produksi tanaman dan mutu hasilnya. Keadaan ini umumnya terjadi bila tidak ada hujan efektif atau pengairan selama 5 hari atau lebih berturut-turut.

Kalau lama tidak ada hujan (satu bulan atau lebih), maka pengisian air danau, rawa, waduk dan sungai makin berkurang bahkan berhenti. Bersamaan dengan ini, evaporasi, transpirasi, perkolasi, seepage dan aliran ke laut terus berlangsung.  Pada keadaan ini bukan hanya tanah dan tanaman yang mengalami kekeringan, tetapi juga lahan dan kawasan.

Kekeringan pada lahan dan kawasan selain mengurangi produktivitas  dan kualitas hasil tanaman, juga menganggu kehutanan, peternakan dan perikanan serta  sektor lain seperti permukiman, perlistrikan, perdagangan, perindustrian, pariwisata, lingkungan hidup, kesehatan, dan keamanan. Tidak tersedianya air di kawasan hutan di musim kemarau mempersulit upaya mengatasi kebakaran hutan, serta memelihara tanaman reboisasi dan penghijaun lahan yang terbuka.

Kekeringan makin intensif, karena jumlah air yang dapat disimpan di dataran selama musim hujan sebagai cadangan air bagi musim kemarau semakin berkurang. Selain itu, kualitas air juga makin rendah. Hasil pengamatan Fakultas Geografi Universitas Gajahmada di beberapa daerah, menemukan bahwa setelah pembukaan hutan primer, jumlah hujan berkurang cukup besar, namun pola distribusi tahunannya tetap sama. Kekeringan sangat parah jika terjadi El-Nino. Ada atau tidak ada El-Nino, akhir-akhir ini kekeringan selalu ada, dan semakin parah. Oleh karena itu kita harus berupaya semaksimal mungkn mencegah terjadinya kekeringan.

PENGAIRAN

Air tanah dapat mengisi kelembaban tanah diperakaran tanaman melalui kapilarisasi, tetapi jarang mencapai kapasitas lapangan. Oleh karena itu, untuk mencegah kekeringan dan memperoleh jumlah dan mutu produksi tanaman yang tinggi, diperlukan pengairan agar kelembaban tanah selalu optimal yaitu berada di sekitar kapasitas lapang.

Air  pengairan dapat berasal dari danau, waduk, sungai, air tanah (sumur), aquifer, embung, kolam, dan situ. Pada dasarnya waduk, embung, kolam, dan situ adalah danau buatan yang menampung air aliran perrmukaan.

Pengairan di Indonesia sangat fluktuatif, mengikuti pola hujan. Di musim hujan tersedia air pengairan bagi sekitar 4,6 juta ha dan di musim kemarau sekitar 1,7 juta ha (FAO, 2000). Sistem pengairan di Indonesia selama ini banyak mendukung usaha budidaya padi sawah. Untuk keperluan tanaman lain, ternak dan ikan sangat terbatas. Air dari waduk-waduk besar dipakai juga untuk keperluan pembangkit tenaga lisrik, air minum, industrri dan kebersihan kota. Jika terjadi kekurangan air, maka air untuk pertanian mendapat prioritas rendah (Rosegrant and Cai, 2001).

Pada lahan tadah hujan, meskipun di musim hujan, produktivitas tanaman tidak maksimal, seringkali hanya 50 – 60 persen dari produktivitas tanaman yang diirigasi. Misalnya, produktivitas jagung hibrida pada lahan tadah hujan di musim hujan hanya sekitar 5 ton/ha; jika diirigasi dapat mencapai 8 – 10 ton/ha. Di musim kemarau perbedaan produktivitas ini lebih besar (Karama dan Kaswanda, 2001a).

Dengan fluktuasi pengairan seperti di atas, sebagian besar tanaman ditanam di musim hujan (Oktober – Desember), sehingga panen menumpuk di pertengahan atau di akhir musim hujan yaitu bulan Januari sampai April (BPS 1999a, BPS 199b). Akibatnya, seringkali  produktifitas tidak maksimal dan mutu produksi tidak prima karena sarana prasarana pengeringan dan pengolahan terbatas. Selain itu sarana prasarana produksi dan pengolahan hasil serta alat mesin pertanian bekerja keras di musim hujan dan kurang terpakai di musim kemarau. Fluktuasi ini merendahkan efisiensi usaha subsistem agribisnis hulu dan hilir, disamping usaha subsistem budidaya, sehingga daya saing produk pertanian Indonesia relatif lemah.

MENGURANGI BANJIR DAN MENCEGAH KEKERINGAN

Kapasitas lahan menyerap air, kapasitas tampung danau dan rawa serta kapasitas sungai menampung dan menyalurkan air makin kecil, sehingga banjir makin parah. Jumlah air yang ditahan dan disimpan di daratan makin kecil, sehingga persediaan air untuk musim kemarau makin sedikit dan kekeringan makin parah pula.

Logisnya untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan adalah dengan memperbesar kapasitas daratan menahan dan menyimpan air, yaitu memperbesar kapasitas lahan menyerap air serta kapasitas tampung danau, rawa dan sungai. Pengerukan sungai dan danau untuk memperbesar kapasitasnya dapat dilakukan kalau tersedia dana yang cukup besar. Kenyataannya, kita selalu kekurangan dana untuk keperluan ini.

Memperbesar kapasitas lahan menyerap air antara lain dengan memperluas kembali lahan yang tertutup vegetasi dengan baik. Namun tidak semua lahan yang sudah terbuka dapat ditanami kembali. Selain itu untuk vegetasi baru berfungsi memperbaiki kapasitas lahan menyerap air dengan baik diperlukan waktu yang relatif lama. Seringkali kita gagal menanami kembali lahan terbuka karena kekeringan, kebakaran, diganggu aliran permukaan atau berbagai penyebab lain.

Membangun danau atau waduk raksasa seperti Jatiluhur sangat mahal, memerlukan teknologi tinggi /tenaga ahli khusus, lokasinya terbatas, hasilnya terkonsentrasi pada kawasan tertentu, serta mempunyai beberapa dampak negatif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan hidup.

Upaya yang relatif sederhana dan sangat mungkin dilakukan adalah membangun sebanyak mungkin kolam penampung air ukuran kecil yang biasa dikenal embung atau waduk kecil, situ, dan kolam. Penampungan air ini berkapasitas 4000 – 8000 meter kubik. Penampung air kecil dapat dibangun oleh masyarakat,  karena tidak memerlukan keahlian tinggi, hanya dengan konstruksi tanah, relatif murah dan mudah menempatkannya di lapang.

Meskipun demikian, di daerah berpenduduk padat seperti di Jawa, lokasi untuk membangun embung juga terbatas. Upaya lain untuk menampjung / menyimpan kelebihan air adalah dengan membuat sumur resapan sebanyak mungkin. Melalui sumur resapan, air diresapkan ke lapisan tanah yang lebih dalam dan lebih luas sehingga kapasitas resapnya menjadi lebih besar. Sumur resapan ini efektif pada lokasi yang tinggi seperti di puncak dan di lereng bukit atau gunung. Sumur resapan dapat dibuat di halaman rumah, kantor, sekolah, pasar, kebun, hutan, tegalan, di dalam embung dan sebagainya, tidak memerlukan lahan yang luas dan tidak banyak menggangu keperluan lain.

Bagi kebanyakan warga masyarakat, terutama di pedesaan dan kawasan urban, biaya pembuatan sumur resapan dirasakan mahal, yaitu di sekitar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah) per sumur.  Oleh karena itu masyarakat lebih menyukai lubang atau rorak resapan. Lubang resapan ini berukuran (1-3) x (1-3) x (2-3) meter kubik. Bentuk yang lebih sederhana adalah lubang berdiameter 10 – 15 cm dan 2 – 3 meter dalamnya. Lubang sederhana ini dapat dibuat berbaris sepanjang pagar atau berkumpul 10 – 20 lubang di satu tempat. Lubang resapan sebaiknya diisi sampah organik, yang berfungsi untuk menahan dinding lubang agar tidak runtuh, anak-anak dan hewan peliharaan tidak terperosok, menyuburkan tanah dan sebagai media hidup dan berkembangnya cacing tanah. Keberadaan cacing tanah sangat penting untuk melubangi dinding rorak, sehingga daya resap tanah makin besar.

Lubang resapan dapat dibuat di halaman, di kebun, tegalan, di pasar, di kiri kanan jalan raya, di taman dan lain-lain.

Di dataran rendah, dekat pantai (Jakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin dll) yang air tanahnya dangkal atau tanahnya terlalu jenuh air atau kedap air, sumur lubang resapan biasa tidak efektif. Kelebihan air di kawasan seperti ini harus dimaksukkan ke lapisan aquifer melalui sumur Tirta Sakti. Air yang dimasukkan ke “aquifer” harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Sumur Tirta Sakti dikembangkan oleh Universitas Trisakti, Jakarta, dan ada contohnya di sana. Sumur Tirta Sakti ini pun dapat dibuat di berbagai tempat dan tidak memerlukan lahan yang luas (Juawana dan Sabri, 2001).

Di kiri-kanan sungai besar  dan di sekeliling danau yang selalu diluapi banjir di musim hujan, sebaiknya dibangun embung sebanyak mungkin, untuk menampung dan menyimpan air luapan (Imam Utomo, Guibernur Propinsi Jawa Timur, 2001, komunikasi pribadi). Di sepanjang sungai kecil sering dibuat cek dam. Namun selama ini kapasitas tampung air cek dam relatif sangat kecil. Untuk menambah kapasitas cek dam, bagian sebelah hulu dam dapat diperdalam dan diperluas.

Air di dalam embung, waduk, situ, kolam, cek dam, yang diresap oleh sumur / lubang resapan  dan yang dimasukkan ke aquifer, memperbesar jumlah air yang tertahan / tersimpan di daratan. Air ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan di musim kemarau untuk mencegah kekeringan. Jika perlu dipergunakan pompa untuk memanfaatkan air ini.

Secara singkat disimpulkan untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan sebagai suatu kesatuan upaya adalah dengan membangun penampung air kecil, sek dam diperbesar, “sumur/lubang resapan” dan sumur Tirta Sakti sebanyak mungkin mulai dari bagi hulu (atas), bagian tengah sampai bagian hilir (bawah), kawasan luapan banjir (flood plain) di setiap daerah tangkapan hujan (watershed) di kawasan hutan, pertanian, permukiman, perindustrian, pertamanan dan lain-lain (Karama dan Kaswanda, 2001b) dan 2001c). Kegiatan ini dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan sedikit bantuan dari pemerintah dan bimbingan tenaga teknis. Bersamaan dengan kegiatan ini, agar dilakukan penanaman kembali lahan terbuka seluas mungkin. Pengalaman lapangan menunjukan bahwa penanaman kembali vegetasi di lahan terbuka akan berhasil bila ada air untuk menyiram tanaman serta memadam kebakaran, serta tidak ada aliran permukaan yang menerjang dan menghanyutkan tanaman. Keberadaan air embung dan sumur resapan dapat mengatasi masalah ini dan agar tetap dipertahankan meskipun vegetasi sudah pulih kembali.

Membangun embung, waduk kecil, situ, cek dam diperbesar, sumur / lubang resapan dan sumur Tirta Sakti jauh lebih murah, mudah, cepat, merata di seluruh daerah, lebih efektif dan efisien daripada membangun waduk atau bendungan raksasa pada kondisi negara Indonesia seperti sekarang. Negara-negara maju sepeti Australia, Perancis dan USA membangun embung dan sejenis serta sumur resapan.

MENSEJAHTERAKAN RAKYAT

Banjir, erosi, logsor dan kekeringan jelas menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu mencegah terjadinya bencana tersebut lebih baik dan lebih murah dari pada menanggulangi akibatnya. Pencegahan terjadinya bencana tersebut adalah salah satu bentuk mensejahterakan rakyat.

Akan lebih bermanfaat bila upaya pencegahan dilakukan dengan membuat embung, situ, waduk, kolam, serta cek dam diperluas dan diperdalam,  sumur/lubang resapan atau sumur Tirta Sakti daripada memperdalam sungai dan danau atau membuat saluran khusus untuk membuang air ke laut.

Di musim kemarau, air yang tersimpan, di permukaan atau di dalam tanah dapat dipakai untuk bertanam, sehingga fluktuasi produksi, fluktuasi aktifitas pertanian serta fluktuasi penggunaan sarana dan prasarana pertanian dapat diminimalkan. Selain itu mutu dan jumlah hasil pertanian akan meningkat. Sistem pertanian yang demikian akan efisien dan berkelanjutan, sehingga daya saing produk pertaniannya menjadi lebih kuat.

Air permukaan dan air tanah tesebut dapat juga dipakai untuk memelihara ternak dan ikan, memenuhi keperluan rumah tangga, industr, penghijauan, reboisasi, pariwisata, listrik dan lain-lain. Salah satu faktor yang menghambat perkembangan teknak di Indonesia adalah kekurangan air minum ternak dan air untuk tanaman pakan ternak di musim kemarau.

Hal-hal yang dikemukakan di atas akan membuka kesempatan berusaha serta memperoleh hasil dan pendapatan yang lebih besar, akan mengurangi pengangguran dan kerusuhan. Dengan membangun embung, situ, waduk, kolam, cek dam diperluas, sumur / lubang resapan atau Sumur Tirta Sakti kita merubah bencana, kesengsaraan dan kerusuhan menjadi kesejahteraan keamanan dan kedamaian.

PENGORGANISASIAN DAN PEMBIAYAAN

Berdasarkan ukuran, hubungan antara jenis metoda, manfaat dan kemampuan masyarakat, serta sistem pemerintahan otonomi daerah / desentralistis, disarankan organisasi dan pembiayaan seperti berikut:

  1. Embung, situ, waduk dan cek dam diprogramkan dibiayai oleh pemerintah propinsi atau kabupaten / kota. Pada keadaan tertentu dapat melibatkan masyarakat dengan sistem padat karya. Propinsi atau kabupaten yang wilayahnya luas dan tenaga kerja kurang, dapat menggunakan alat-alat berat dalam pembangunannya. Bangunan-bangunan kelompok ini yang agak besar ukurannya, perlu dirancang oleh tenaga ahli, untuk menghindari risiko bobol dan lain-lain.
  2. Sumur atau lubang resapan dapat dikerjakan oleh masing-masing warga masyarakat dengan bimbingan dari jajaran pemerintah daerah, desa, kecamatan, dan kabupaten / kota. Kalau warga mampu membangun sumur resapan sendiri, itu akan sangat baik. Hal ini mungkin dilakukan di kawasan permukiman mewah, kompleks pabrik / industri besar, perhotelan, perkebunan besar, dll. Kebanyakan warga masyarakat mungkin harus dimotivasi dengan insentif, kemudahan atau subsidi, misalnya di permukiman rakyat umum, di pasar, di sekolah, perkantoran, kebun rakyat, tegalan umum, di rumah ibadah, taman-taman umum dan lain-lain. Dana yang diperlukan untruk setiap lubang resapan sekitar Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah) sebagai insentif atau upah padat karya.

DAFTAR PUSTAKA

Karama, A.S. dan Kaswanda, 2001a. Air dan Ketahanan Panganserta Kesejahteraan Petani. Direktorat Jendeal Bina Produksi Tanaman Pangan, Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.

——————–, 2001b. Membangun Embung (Penampung Air). Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan,  Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.

——————–, 2001c. Mengisi Air Tanah dengan Sumur Resapan dan Memanfaatkannya Kembali.  Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan,  Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.

Meinzen-Dick, R.S. and M.W. Rosegrant, 2001. Overview. Overcoming Water Scarcity and Quality Constraints. IFPRI. Washington, DC, USA.

BPS 1999a, Survey Pertanian. Produksi Tanaman Padi di Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.

—, 1999b, Survey Pertanian.  Produksi Tanaman Palawija di Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.

Ban Damme, H. 2001. Domestic  Water Supply, Hygiene, and Santation. Overcoming Water Scarcity and Quality Constraints. IFPRI, Washington, DC, USA.

FAO, 2000. Selected Indicators of Food and agriculture Development in Asia-Pasific Region 1989 – 1999. FAO Regional Office for Asia and The Pasific, Bangkok, Thailand.

Juwana, J.S. dan A. Sabri, 2001. Sumur Resapan Tirta Sakti dalam Kaitannya dengan Potensi Persediaan Air Tanah. Seminar Antisipasi El-Nino, Implementasi Budaya Hemat Air di Indonesia, PERAGI bekerjasama dengan PERHIMPI, Bogor 21 – 22 Februari, 2001.

* A. Syarifuddin Karama, staf ahli Menteri Pertanian RI Bidang Teknologi / Ahli Peneliti Utama, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian / Ketua Umum PERAGI.

Sumber: A. Syarifuddin Karama (…..). Mengurangi Banjir dan Mencegah kekeringan serta Mensejahterakan Rakyat. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Gerakan Penyelamatan Air, Kerjasama Pemda Kota Depok dan Lembaga Peduli Kesejahteraan Rakyat.

10 Komentar »

  1. bagus juga pemikirannya

    Komentar oleh Anonim — November 7, 2009 @ 3:45 pm

  2. very good

    Komentar oleh FAQIH — Januari 16, 2011 @ 2:14 pm

  3. hempp…. maakasihh atas blog nya thank”s bwat yg bkin…. ^_^

    Komentar oleh ican — Januari 31, 2011 @ 1:31 pm

  4. sedikit membantu

    Komentar oleh Anonim — Desember 19, 2011 @ 7:27 am

  5. terima kasih

    Komentar oleh Anonim — Januari 12, 2012 @ 2:00 pm

  6. terima kasih

    Komentar oleh irfan — Januari 12, 2012 @ 2:01 pm

  7. sangat membantu

    Komentar oleh Anonim — April 4, 2012 @ 8:11 pm

  8. terima kasih..
    blog nya sangat membantu..

    Komentar oleh Anonim — April 27, 2012 @ 3:36 pm

  9. Izin share pak !

    Komentar oleh Corida Cosa Rinaldy Ardiananda — September 6, 2012 @ 9:55 pm

  10. Maaf bapak, saya ijin mengcopy tuisan bapak. Semoga bapak berkenan. Tks.

    Komentar oleh bangunbumiraya — April 16, 2014 @ 6:03 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: