BebasBanjir2015

Pendekatan Persil Lahan

Pendekatan Persil Lahan

Jumat sore lalu hujan cukup deras di Perumahan Bogor Baru, Bogor. Air hujan yang jatuh ke atap rumah Prof. Dr. Ir. Naik Sinukaban MSc, salah satu rumah di sana, tidak mengalir ke selokan. Air itu menggenang setinggi rumput manila yang menutup permukaan halaman. Raut guru besar itu sama sekali tidak khawatir dengan kondisi tersebut.

“Halaman belakang juga terendam. Air hujan dari atap rumah memang tidak kami buang ke selokan. Dalam satu jam air itu menyerap ke tanah. Ini salah satu bentuk  konservasi tanah yang bisa kita lakukan untuk mengisi dan menjaga air tanah,” tutur ilmuwan tanah dan pakar manajemen daerah aliran sungai (DAS) tersebut. (Kompas, 1 Mei 2003)

Apa yang bisa dipelajari?

Dari pengamatan wartawan Kompas di rumah Prof Naik Sinukaban di atas apa yang bisa dipelajari?

Pertama, di persil lahan itu terdapat  praktek konservasi  tanah dan air, yaitu pengaliran air hujan ke halaman (bukan ke selokan), kemudian penanaman tanaman penutup tanah (rumput manila),  dan modifikasi lanskap sehingga memungkinkan terjadinya genangan (berfungsi sebagai depression storage). Yang mungkin juga tak nampak adalah adanya sumur resapan

Kedua, praktek konservasi tanah dan air di atas dilakukan di satu persil lahan. Persil lahan itu memiliki setidaknya tiga karakteristik: (1) di persil lahan itu melekat hak kepemilikan (property right); dimana bentuk hak kepemilikan dari persil lahan itu adalah hak milik pribadi (private property), (2) persil itu memiliki luas tertentu, (3) di persil lahan itu terdapat jenis penggunaan lahan tertentu, yaitu rumah dan halaman yang ditanami rumput.

Ketiga, terdapat aktor pelaku, yakni pemilik persil lahan, yang mempraktekan teknik konservasi tanah dan air di persil lahan yang  dikuasai.

Pertanyannnya adalah berapa banyak persil lahan di Perumahan Bogor Baru, tetangga Pak Naik, yang menerapkan praktek konservasi tanah dan air?. Berapa banyak persil lahan di permukiman lainnya di Kota Bogor, atau di wilayah DAS Ciliwung yang menerapkannya? Berapa banyak persil lahan hutan, persil lahan pertanian, persil lahan industri / pabrik, persil lahan kawasan kopmersial, yang menerapkan praktek konservasi tanah dan air?

Dari perspektif pengendalian banjir, maka setiap persil lahan berpotensi menjadi produsen eksternalitas hidologi yang negatif. Artinya, debit limpasan yang keluar dari persil lahan itu berpotensi untuk menimbulkan banjir yang akibatnya ditanggung oleh warga di hilir. Karena itu, cara pengendalian banjir yang paling efektif adalah setiap pemilik persil lahan di satu DAS melakukan internalisasi, antara lain dengan menerapkan satu atau lebih teknik / metode konservasi tanah dan air di persil lahannya masing-masing.

Pertanyaannya adalah siapa yang akan melakukan internalisasi itu? Tentu saja yang paling punya otoritas dan wewenang  untuk melakukan internalisasi di persil lahan itu adalah si pemilik persil yang  dapat juga disebut sebagai “aktor pelaku”

Dalam banyak studi dan kajian, justru faktor “aktor pelaku” ini kerapkali diabaikan, atau bahkan seolah-olah menjadi non-faktor. Padahal aktor inilah yang akan menentukan apakah di persil lahannya akan diterapkan metode konservasi tanah dan air atau tidak.

Disamping itu, dari fakta di atas, maka aksi individu, betapa pun optimalnya, tidak akan banyak mempengaruhi karkateristik hidrologi sebuah DAS. Yang diperlukan adalah aksi kolektif. Itu artinya, setiap pemilik persil lahan di DAS yang bersangkutan, harus melakukan menerapkan  teknik konservasi tanah dan air di persil lahannya masing-masing.

Persoalannya adalah bagaimana mengkoordinasikan para aktor pelaku pemilik persil lahan itu di tiap RT? Di  tiap RW? Di tiap kelurahan? Di tiap DAS?. Instrumen apa yang dapat digunakan untuk mengkoordinir para aktor pelaku ini di tiap level komunitas?

Dari perspektif tersebut di atas, maka segera nampak bahwa aspek “mengkoordinasikan para aktor pelaku” ini tidak banyak tersentuh. sementara itu, dari sisi ketersediaan teknologi, sesungguhnya tersedia banyak pilihan teknik konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan.

Untuk persil-persil kawasan permukiman / industri / jasa komersial, misalnya, maka teknik-teknik konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan antara lain: penanaman tanaman penutup tanah, penananaman pohon, pembuatan sumur resapan dan atau lubang resapan biopori, parit resapan, serta pembuatan bak / kolam / tong penampungan air hujan.

Di  persil pertanian / perkebunan, teknik-teknik konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan antara lain: penanaman dalam strip, penggunaan sisa-sisa tanaman / tumbuhan, strip penyangga riparian, tanaman penutup tanah, agroforestri, pengolahan tanah konservasi, pengolahan tanah menurut kontur, guludan, parit pengelak, teras, kolam, dam penghambat, rorak, tanggul (Arsyad, 2006).

Di persil lahan hutan, teknik konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan adalah penanaman vegetasi permanen.

Jika dari sisi teknologi telah tersedia berbagai teknik yang diterapkan di berbagai persil lahan, pertanyannya adalah bagaimana agar setiap pemilik persil lahan di satu wilayah DAS dapat bertindak sebagai aktor pelaku yang menerapkan teknik-teknik itu.

Dari pelajaran di atas, maka ikhtiar pengendalian banjir di satu DAS akan berlangsung secara optimal bila setiap warga DAS (warga yang memiliki atau menguasai persil lahan di DAS tersebut), tanpa kecuali, menerapkan teknik konservasi tanah dan air di persil lahannya masing-masing. Dan aksi individu di persil lahan masing-masing tampaknya tidak dapat diserahkan pada inisiatif individual. Yang dibutuhkan adalah aksi kolektif di tingkat lokal komunitas.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar aksi kolektif lokal itu bisa terlaksana?

2 Komentar »

  1. artikel yg menarik..

    Komentar oleh yy — November 25, 2009 @ 1:56 pm

  2. Saya fikir sekarang bagaima semua orang bisa mengetahui yg anda tulis. , melakukannya, karena saya bangga telah melakukannya lebih dari 3tahun lalu

    Komentar oleh swiderli sargih — Agustus 4, 2014 @ 3:58 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: