BebasBanjir2015

Modal Sosial (1)

AKSI BEBENAH KOTA

Modal sosial bukanlah  dagangan politik. Nilai-nilai kebersamaan mesti dikembalikan kepada bagaimana kebudayaan rakyat mempertahankan dirinya tanpa komando politik. Salah satu modal sosial itu adalah tradisi “bersih desa”. Modal sosial seperti ini justru muncul bersama dengan datangnya banjir yang melanda banyak daerah di negeri kita. Sekaligus menjelaskan bagaimana macet dan korupnya birokrasi pemerintahan kota dan pusat.

Acara BEBENAH KOTA ini kira-kira datang lewat konteks dan referensi di atas, salah satu langkah yang dilakukan dalam menghadapi pasca banjir. Acara berlangsung pada: Hari Rabu, 6 Maret 2002.

Rangkaian acara sebagai berikut:

Pukul 9.00 WIB: Seluruh kampung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota, Pangkalan becak dan murid-murid dari 8 Sekolah Dasar di Kecamatan Menteng (SD Menteng 1, 2 dan 3, SD Argentina, SD Gondangdia 2, SD St. Belarminus dan SD Besuki) melakukan bersih-bersih di lingkungan masing-masing. Termasuk penyemprotan Demam berdarah di kampung-kampung.

Pukul 10.00 WIB: Seluruh perkwakilan aksi Bebenah Kota berkumpul di SD Besuki (Menteng, dekat Taman Suropati), termasuk Jaringan LSM dalam koalisi banjir, serta seniman-seniman (Tuty Heraty, Ramadhan KH, Sitor Situmorang, Marusya Nainggolan, Tony Prabowo, Hanafi, Yasin Burhan, Jajang C. Noor, Dindon WS dan Yudha Bantono). Acara: Tanjidor, Orasi murid sekolah tentang sampah dan banjir,

Pukul 10.30 WIB: Prosesi sampah bergerak dari SD Besuki menuju Taman Kartini di depan Bappenas bersama dengan instalasi sampah, Tanjidor, Wayang Kardus Yudha Bantono dan Teater Kubur. Seruan rakyat untuk memakai kelambu, dan kebersihan sebagai bagian dari nilai kebersamaan.

Pukul 11.00 WIB: Wakil peserta aksi Bebenah Kota menuntut Bappenas sebagai Badan Perancang Nasional untuk memiliki komitmen kepada rakyat, melibatkan partisipasi rakyat dan terbuka untuk dikontrol dalam mengatasi masalah pasca banjir.

Pukul 19.30 WIB: Malam refleksi Bebenah Kota di Galeri Mitra Budaya, Jl. Tanjung No. 34,    Menteng, Jakarta Pusat. Acara:

1. Musik Air Marusya Nainggolan
2. Baca puisi: Tuty Heraty, Ramadhan KH, Sitor Situmorang, Jeffry Alkatiri.
3. Instalasi Kasur Yang Tenggelam
4. Video Banjir
5. Refleksi Banjir dan Doa Bersama

Salam kami,
Bakti Pertiwi, Berantas, Elsam, FAKTA, FNPBI, GAMM, ICEL, ICW, INFID, ISJ, JARI Indonesia, Kembang Pala, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi, KM IAIN Jakarta, KPP PRD, LBH Apik, LBH Jakarta, LBH Rakyat, LMND, LPSM Kenikir, LS-ADI, Pelangi Indonesia, PIJAR, Serikat Becak Jakarta (Sebaja), Serikat Buruh Jabotabek (SBJ), Tri Giri Asih, UPC, Walhi Jakarta, WALHI Eksekutif Nasional, YLKI, Para seniman dan individu warga Jakarta yang peduli

Sumber: http://upc.uplink.or.id/banjir/bebenah1.htm

Memupuk Institusi Lokal dan Modal Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat

Oleh: Pupu Saeful Rahmat, Drs., M.Pd.

Abstrak

Ketika bangsa kita mengalami berbagai perubahan sosial sebagai akibat dari aneka krisis yang menimpa (krisis moneter, krisis politik, krisis kepercayaan, dan lain-lain) tampaknya semua karakter sosial yang melekat dalam diri kita dan pernah diagung-agungkan itu, mulai berangsur-angsur hilang dan bahkan kita mulai menampakkan karakter sosial yang bengis dan menakutkan. Hal itu nampak paling transparan dalam bentuk tindakan-tindakan yang destruktif yang dilakukan kita manusia terhadap sesama yang ada di sekitar kita seperti, benturan, konflik, kekerasan, pembunuhan, pembakaran, penjarahan, pemerkosaan, penculikan, terorisme, dan lain-lain.

Tindakan-tindakan destruktif seperti itu tentu akan mengacak-ngacak modal sosial (social capital) yang telah kita miliki. Modal sosial yang di dalamnya terdiri atas norma-norma sosial yang seharusnya terpelihara dan terjaga kelanggengannya sekarang telah teracak-acak oleh aktivitas-aktivitas manusia yang lebih tidak beradab. Otonomi Daerah yang kehadirannya dimungkinkan untuk dapat memupuk modal sosial, belum berperan banyak untuk menumbuhkan rasa solidaritas, kejujuran, keadilan, kerjasama, dan sebagainya. Karena itu, sekarang harus ada upaya untuk menumbuhkembangkan lagi modal sosial yang semakin menipis ini dalam institusi lokal yang merupakan cikal bakal terbentuknya insitusi global.

Kata kunci: Institusi lokal, perubahan sosial, dan modal sosial.

1. Latar Belakang

Diberlakukannya Undang-Undang NO. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah telah memberikan peluang bagi daerah (kabupaten dan kota) untuk menciptakan kemandirian dalam rangka membangun daerahnya dengan berpijak pada prinsip-prinsip demokrasi, partisipasi dan peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal.

Namun kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini masih banyaknya terjadi benturan-benturan sosial, baik dalam bentuk konflik, kekerasan, bahkan terorisme yang mengacak-acak modal sosial (social capital) sehingga kita sudah banyak kehilangan nilai-nilai kejujuran, solidaritas, keadilan, persatuan, dan nilai-nilai lainnya yang dapat meningkatkan kemantapan persatuan dan kesatuan.

Upaya yang harus dilakukan adalah bagaimana kita sebagai bangsa menata kembali modal sosial yang telah kita miliki sesuai dengan peran kita masing-masing dalam institusi lokal yang lambat laun diharapkan dapat menyebar ke institusi yang lebih luas dan lebar yaitu institusi global.

2. Institusi Lokal

Di dalam perkembangan pembangunan lembaga istilah lokal sulit didifinisikan. Pada tataran makro lokal adalah lawannya dari global. Sehingga istilah lokal dapat digunakan untuk menyebut peradaban suatu negara sedang global untuk menyebut peradaban pada tataran antarnegara (regional dan internasional). Lokal menurut pemahaman UU No. 22 Tahun 1999 adalah pada tataran mikro artinya istilah lokal untuk menyebut kawasan daerah tingkat satu/propinsi, daerah tingkat dua/ kabupaten atau kota, dan dimungkinkan lokal untuk menyebut yang lebih spesifik yaitu kecamatan dan desa. Jadi institusi lokal merupakan asosiasi komunitas setempat yang bertanggung jawab atas proses kegiatan pembangunan setempat (Esman dan Uphoff, 1982:9), seperti rukun tetangga, arisan trah, kelompok pengajian, kelompok ronda dan sejenisnya. Yang jelas institusi ini memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah setempat.

Institusi lokal dalam komunitas harus dilihat sebagai suatu sistem yang saling silang menyilang (cross-cutting affiliation) dan institusi lokal telah menyediakan jaring pengaman sosial (sosial safety net) ketika komunitas lokal berada dalam situasi krisis. Kehadiran institusi lokal bukan atas kepentingan pribadi/individu tetapi atas kepentingan bersama, sehingga institusi lokal lama kelamaan menduduki pada posisi penting dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal. Rasa saling percaya warga komunitas lokal yang digalang dan diasah melalui institusi ini semakin hari semakin didambakan sebagai modal sosial (sosial capital).

Institusi lokal ternyata mampu menjadi bingkai etika komunitas lokal (Purwo Santoso, 2002: 6). Institusi lokal pada dasarnya adalah regulasi perilaku kolektif, di mana sandarannya adalah etika sosial, sehingga institusi lokal mampu menghasilkan kemampuan mengatur diri sendiri dari kacamata normatif.

3. Modal Sosial (Social Capital)

Modal sosial merupakan kekuatan yang mampu membangun civil community yang dapat meningkatkan pembangunan partisipatif, dengan demikian basis modal sosial adalah trust, idiologi dan religi. Modal sosial dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk mengutamakan keputusan komunitas, Dampak dari kerelaan ini akan menumbuhkan interaksi kumulatif yang menghasilkan kinerja yang mengandung nilai sosial.

Francis Fukuyama (1995) mengilustrasikan modal sosial dalam trust, believe and vertrauen artinya bahwa pentingnya kepercayaan yang mengakar dalam faktor kultural seperti etika dan moral. Trust muncul maka komunitas membagikan sekumpulan nilai-nilai moral, sebagai jalan untuk menciptakan pengharapan umum dan kejujuran. Ia juga menyatakan bahwa asosiasi dan jaringan lokal sungguh mempunyai dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi dan pembangunan lokal serta memainkan peran penting dalam manajemen lingkungan. James S, Colement (1998) menegaskan bahwa, modal sosial sebagai alat untuk memahami aksi sosial secara teoritis yang mengkombinasikan perspektif sosiologi dan ekonomi. Pengertian ini dipertegas oleh Ismail Serageldin (1998) bahwa modal sosial selalu melibatkan masyarakat dan menjadikan masyarakat muncul bukan semata dari interaksi pasar dan memiliki nilai ekonomis.

Ismail Serageldin memberikan klasifikasi modal sosial antara lain:
Modal sosial dalam bentuk interaksi sosial yang tahan lama tetapi hubungan searah, seperti pengajaran dan perdagangan sedang interaksi sosial yang hubungannya resiprokal (timbal balik) seperti jaringan sosial dan asosiasi.

Modal sosial dalam bentuk efek interaksi sosial lebih tahan lama dalam hubungan searah seperti kepercayaan, rasa hormat dan imitasi sedang dalam bentuk hubungan timbal balik seperti gosip, reputasi, pooling, peranan sosial dan koordinasi, semua ini mengandung nilai ekonomi yang tinggi.

Berkaitan dengan menumbuhkan sikap demokratis, pada bagian lain Douglass North (1990) menyebutkan relasi modal sosial diformulasikan dalam berbagai struktur, misalnya pemerintah, rejim politik, aturan hukum dan sistem peradilan. Berangkat dari jalannya pemerintahan, rejim politik, aturan hukum, dan sistem peradilan akan berdampak pada munculnya sikap-sikap demokratis dari bawah/masyarakat lokal.

4. Modal Sosial Sebagai Perekat Kehidupan Bermasyarakat

Dalam pandangan ilmu ekonomi, modal adalah segala sesuatu yang dapat menguntungkan atau menghasilkan, modal itu sendiri dapat dibedakan atas (1) modal yang berbetuk material seperti uang, gedung atau barang; (2) modal budaya dalam bentuk kualitas pendidikan; kearifan budaya lokal; dan (3) modal sosial dalam bentuk kebersamaan, kewajiban sosial yang diinstitusionalisasikan dalam bentuk kehidupan bersama, peran, wewenang, tanggungjawab, sistem penghargaan dan keterikatan lainnya yang menghasilkan tindakan kolektif.

Menurut James Colement (1990) modal sosial merupakan inheren dalam struktur relasi antarindividu. Struktur relasi membentuk jaringan sosial yang menciptakan berbagai ragam kualitas sosial berupa saling percaya, terbuka, kesatuan norma, dan menetapkan berbagai jenis sangsi bagi anggotanya.

Putnam (1995) mengartikan modal sosial sebagai “features of social organization such as networks, norms, and social trust that facilitate coordination and cooperation for mutual benefit”. Modal sosial menjadi perekat bagi setiap individu, dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaringkerja, sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Modal sosial juga dipahami sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki bersama oleh komunitas, serta pola hubungan yang memungkinkan sekelompok individu melakukan satu kegiatan yang produktif. Hal ini sajalah pula dengan apa yang dikemukakan Bank Dunia (1999) modal sosial lebih diartikan kepada dimensi institusional, hubungan yang tercipta, norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat. Modal sosial pun tidak diartikan hanya sejumlah institusi dan kelompok sosial yang mendukungnya, tapi juga perekat (social glue) yang menjaga kesatuan anggota kelompok sebagai suatu kesatuan.

Menurut Lesser (2000), modal sosial ini sangat penting bagi komunitas karena (1) memberikan kemudahan dalam mengakses informasi bagi angota komunitas; (2) menjadi media power sharing atau pembagian kekuasaan dalam komunitas; (3) mengembangkan solidaritas; (4) memungkinkan mobilisasi sumber daya komunitas; (5) memungkinkan pencapaian bersama; dan (6) membentuk perilaku kebersamaam dan berorganisasi komunitas. Modal sosial merupakan suatu komitmen dari setiap individu untuk saling terbuka, saling percaya, memberikan kewenangan bagi setiap orang yang dipilihnya untuk berperan sesuai dengan tanggungjawabnya. Sarana ini menghasilkan rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan sekaligus tanggungjawab akan kemajuan bersama.

Manusia belum disebut manusia yang sebenarnya, bila ia tidak ada dalam suatu masyarakat, karena itu pula maka manusia disebut sebagai makhluk sosial. Manusia pada dasarnya tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya dengan baik tanpa hidup bermasyarakat. Sejak lahir, manusia membutuhkan pertolongan manusia lain, sampai dewasa dan meninggal (dan dikubur), ia pun tetap membutuhkan manusia lain. Kemandirian manusia tidak diartikan sebagai hidup sendiri secara tunggal, tapi hidup harmonis dan adaptif dalam tatanan kehidupan bersama. Seperti yang dikemukakan oleh Fairchild (1980) masyarakat merujuk pada kelompok manusia yang memadukan diri, berlandaskan pada kepentingan bersama, ketahanan dan kekekalan/kesinambungan.

Kebersamaan, solidaritas, toleransi, semangat bekerjasama, kemampuan berempati, merupakan modal sosial yang melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Hilangnya modal sosial tersebut dapat dipastikan kesatuan masyarakat, bangsa dan negara akan terancam, atau paling tidak masalah-masalah kolektif akan sulit untuk diselesaikan. Kebersamaan dapat meringankan beban, berbagi pemikiran, sehingga dapat dipastikan semakin kuat modal sosial, semakin tinggi daya tahan, daya juang, dan kualitas kehidupan suatu masyarakat. Tanpa adanya modal sosial, masyarakat sangat mudah diintervensi bahkan dihancurkan oleh pihak luar.

5.Titik Temu Institusi Lokal dan Modal Sosial

Di atas telah dibahas pengertian institusi lokal dan modal sosial maka berikut akan kita telusuri dimana titik temu antara institusi lokal dengan modal sosial. Kita pahami bahwa institusi lokal merupakan salah satu modal sosial sehingga institusi lokal di mana saja keberadaannya tetap mempunyai nilai positif bagi komunitas yang bersangkutan. Ternyata institusi lokal dijadikan dasar berpijak masyarakat lokal oleh karenanya modal sosial dapat berkembang dan mengalami erosi dan melemah serta menguatnya modal sosial pada masyarakat dapat dipotret melalui institusi lokal.

Potret Positif modal sosial dapat digambarkan dalam formulasi kepercayaan (trust) yang meliputi kohesi sosial, empati, transparansi, militan (inklosif) yang kesemuanya itu akan berdampak pada memunculkan kontrol sosial baru, revitalisasi modal sosial baru, perlu membangun kerjasama dengan pihak luar, demokrasi dan desentralisasi. Norma harus diwujudkan dalam bentuk kesetaraan dan kemitraan sehingga tidak muncul perbedaan perlakuan antarwarga, dalam alokasi ini akan muncul kendala kebudayaan luar, anomalis primordialisme dan vested interest sehingga perlu dipersiapkan jawaban kedepan guna membenteng tantangan yang akan muncul.

Potret Negatif modal sosial dapat digambarkan dalam formulasi melemahnya modal sosial sehingga modal sosial mengalami erosi dalam bentuk: interaksi sosial, ditandai dengan pelanggaran norma, krisis kepemimpinan, kerenggangan hubungan sosial dan dehumanisasi. Kondisi ini disebabkan oleh lemahnya kontrol sosial, sentimen kelompok, meningkatnya semangat individualisme dan merebahnya nilai budaya material. Bila kondisi ini dibiarkan maka akan berakibat pada anomalis, pembangkangan, konflik dan perilaku menyimpang. Komunitas, muncul sikap baru dari komunitas dalam bentuk apatis, pragmatis, pengingkaran dan budaya potong kompas (menerobos). Sikap ini muncul karena disebabkan oleh tidak ada kepercayaan, rendahnya rasa handarbeni, egoisme, menghalalkan segala cara dan pelayanan birokrasi yang rendah. Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi, maka yang muncul adalah stagnan (kemandegan), menurunkan partisipasi, pelanggaran nilai sosial dan dimungkinkan terjadi KKN.

Apabila erosi modal sosial dalam interaksi sosial dan komunitas benar-benar terjadi, maka institusi lokal akan kehilangan social trust yang ditandai dengan rasa kecurigaan, rasa tidak aman, menurunnya rasa kebersamaan, pembangkangan, dan akan menyebabkan rendahnya keterbukaan sehingga intensitas komunikasi rendah, tingginya manipulasi publik dan dampak yang paling parah adalah disintegrasi sosial.

Institusi lokal dan modal sosial ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap komunitas lokal oleh karena itu perlu ada penguatan terhadap institusi lokal.

6. Kesimpulan

Pemupukan institusi lokal dan modal sosial dapat dilakukan melalui beberapa alternatif berikut:
Pengorganisasian institusi diarahkan dalam rangka memfasilitasi komunitas lokal.
Mengembangkan kerangka fikir re-lingking (menyambung kembali) tindakan ini diarahkan untuk menyambung kembali titik temu dimensi formal dengan dimensi nonformal yang ada di dalam masyarakat.
Perbaikan infrastruktur dalam suasana religius dan cultural.

7. Referensi

Eaton, Joseph W. 1986. Institution Building and Development: From Concept to Application. Jakarta: IKIP.

Harton, Paul B. & Chester Hunt. 1991. Sociology. Western Michigan University

Lesser, E., 2000, Knowledge and Social Capital: Foundation and Application, Boston : Butterworth-Heinemann,

Prijono, Onny S. 1966. Pemberdayaan Konsep, Kebjakan dan Implementasi. Jakarta: Centre for Strategic and International Studies.

Soekamto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV. Rajawali.

Sugiyanto. 2002. Lembaga Sosial. Jogyakarta: Global Pustaka Utama.

Tri Poetranto, 2002/2003, Pengembangan Strategi Pertahanan Untuk Penanggulangan Kemungkinan Disintegrasi Bangsa dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional, http://buletinlitbang.dephan.go.id, didownload Tanggal 28 Mei 2006.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional.

Pupu Saeful Rahmat, Drs., M.Pd,  Prodi Pendidikan Ekonomi-AP FKIP Universitas Kuningan

Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/29/memupuk-institusi-lokal-dan-modal-sosial-dalam-kehidupan-bermasyarakat/

TRUST dan MODAL SOSIAL

Oleh: Rahardi Ramelan
Guru Besar Fakultas Teknologi Industri – ITS, Surabaya

Baru-baru ini kita dikejutkan lagi dengan munculnya lagi konflik antar mahasiswa di Makasar. Penutupan beberapa tempat ibadah secara paksa oleh sekelompok anggota masyarakat. Demonstrasi mengepung istana. Ditambah lagi dengan berita jaksa “narkoba”, rekening “mega” perwira polisi, penyelundupan bbm melalui pipa bawah laut. Dan masih banyak lagi kejadian yang membuat kita bertanya-tanya kepada diri kita sendiri, apa yang terjadi dengan masyarakat kita ini?

Sejak bergulirnya proses reformasi pada tahun 1998, kita telah melangkah dengan pasti menuju masyarakat yang lebih demokratis dan terbuka. Lahirnya puluhan partai politik dan lembaga swadaya masyarakat menunjukan besarnya keinginan masyarakat kita untuk bebas berpikir dan menyatakan pendapat. Masyarakat merasa mendapatkan hak politiknya, dan mendapatkan kedaulatannya. Itulah esensi dari demokrasi. Pemilu legeslatif dan pemilihan presiden/wakil presiden secara langsung, telah memantapkan langkah kita menuju kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Pemilihan kepala daerah yang sedang berjalan diharapkan akan melengkapi arti demokrasi yang kita cita-citakan. Demokrasi yang berarti kedaulatan rakyat. Demokrasi yang berarti masyarakat ikut menentukan. Tetapi kenyataannya apakah masyarakat mendapatkan yang mereka harapkan? Apa mereka puas?

Maraknya berbagai jenis tuntutan masyarakat melalui beragam unjuk rasa dan demontrasi, menunjukkan kepada kita bahwa apa yang telah dicapai sampai sekarang belum dapat memenuhi “harapan dan keinginan” masyarakat. Berarti adanya kesenjangan antara kebijakan publik dengan harapan masyarakat.

Hampir semua kebijakan publik yang baru selalu menimbulkan gejolak dalam masyarakat yang mempengaruhi proses menuju keseimbangan dalam masyarakat. Mengganggu proses menuju kemapanan kehidupan masyarakat. Lahirnya berbagai ragam partai politik, lembaga swadaya masyarakat dan kelompok-kelompok masyarakat walaupun positif untuk kehidupan demokrasi, tapi dapat ditengarai juga sebagai hilangnya kepercayaan (trust) antara kelompok-kelompok dalam masyarakat secara horizontal.

Hilangnya trust telah terjadi juga secara vertikal, berbagai jenis keputusan “pimpinan” telah diterima dengan skeptis ataupun ditolak. Masyarakat mulai kehilangan kepercayaan (trust) kepada institusi publik. Demonstrasi dan penolakkan masyarakat atas berbagai kasus beberapa waktu yang lalu, seperti kasus Buyat di Sulawesi Utara, Pasar Tanah Abang di DKI Jakarta dan TPST Bojong di Bogor, memperkuat adanya ketidak percayaan masyarakat atas kebijakan publik. Kesemua menunjukan bahwa masyarakat dilingkungannya tidak diikutkan dalam proses pengambilan keputusan. Lalu apa arti demokrasi bagi mereka?

Seharusnya demokratisasi justru akan meningkatkan trust. Ternyata apa yang terjadi tidaklah demikian. Berbagai konflik telah terjadi, baik secara horizontal maupun vertikal. Konflik telah terjadi dalam berbagai ragam dan besaran. Konflik telah terjadi juga dalam berbagai lingkungan kehidupan masyarakat.

Bentrokan antara kelompok masyarakat, tawuran antara siswa dan antara mahasiswa, serang menyerang antara desa, dan lain sebagainya. Baku hantam di DPR/DPRD-pun telah terjadi. Berbagai jenis demonstrasi kadang-kadang dilakukan secara anarkis. Proses demokrasi baru menyentuh kehidupan berpolitik melalui partai politik atau hanya menjadi program para politisi. Walaupun pemilu legislatif berjalan baik, tetapi dapat dikatakan bahwa mekanisme perwakilan sekarang ini tidak berjalan. Kita kehilangan norma-norma kehidupan kita. Kita kehilangan nilai-nilai budaya kita. Kita telah kehilangan milik kita yang paling berharga sebagai bangsa, kita kehilangan modal sosial (social capital). Akhir-akhir ini beberapa isyu seperti kenaikan harga BBM, menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, reshuffle kabinet, kasus KPU, MOU Helsinki, rekening perwira polisi, jaksa “narkoba”, kasus bank BNI dan bank Mandiri, simpang siurnya pernyataan para pimpinan negara, makin memperparah ketidak percayaan masyarakat.

Kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat yang disebabkan oleh hilangnya trust, perlu diantisipasi dengan cepat dan tepat. Trust merupakan unsur penting dalam pembentukan modal sosial (social capital), yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas nasional. Dibentuknya berbagai lembaga pengawasan makin menunjukan bahwa adanya ketidak percayaan dilingkungan pemerintah sendiri. Hilangnya trust ini mengakibatkan banyak energi dan waktu terbuang untuk mengatasi berbagai konflik yang terjadi.

Pembentukan modal sosial dan trust tidak terlepas dari permasalahan budaya. Berbagai seminar, diskusi, analisa, tulisan dan dialog diantara pakar, telah menyimpulkan bahwa budaya – lah yang harus menjadi fokus utama dalam upaya perbaikan kwalitas kehidupan bangsa. Penggabungan portofolio kebudayaan dengan parawisata dalam kabinet sekarang ini, jauh dari harapan para budayawan, sosiolog dan pakar budaya. Kekhawatiran timbul akan terjadi pengkerdilan arti budaya dalam kebijakan publik seperti pada waktu yang lalu.

Penyelesaian konflik didalam masyarakat yang kita hadapi, seyogyanya dibawa kembali kejalur budaya dan kearifan yang kita miliki. Sebagai contoh mengatasi peristiwa di Ambon telah dikembalikan kejalur budaya pela gandong, yang merupakan kearifan lokal (local genius) yang dimiliki oleh masyarakat Ambon.

Demikian juga masyarakat Bali telah menghidupkan kembali budaya dan kearifan ajeg bali. Sudah waktunya kita melakukan penggalian dan pencerahan berbagai ragam kearifan lokal dan tradisional (local and traditional genius) yang dimiliki bangsa ini. Termasuk dalam peranannya memperkuat dan mempercepat proses demokrasi yang sebenarnya. Demokrasi yang bagi masyarakat berarti keikut sertaannya dalam proses pengambil keputusan dalam hal-hal yang mempengaruhi langsung kehidupannya. Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana masyarakat betul-betul dilibatkan dalam mengambil keputusan, melalui RT, RW, kelurahan dan kecamatan? Atau hanya sekedar formalitas saja? Turut serta dalam mengambil keputusan inilah sebenarnya demokrasi yang didambakan oleh masyarakat.

Bukan hanya menentukan wakil dilegeslatif atau menentukan pimpinan, tetapi juga dilibatkan dalam pengambilan kebijakan dalam lingkungannya. Kita harus menemukan lagi unsur-unsur budaya kita, yang dapat mewadahi proses pengambilan keputusan yang melibatkan masyarakat. Masihkah kita memiliki kata “musyawarah”? Masihkah masyarakat mempercayai wakil-wakilnya?

Apakah betul bahwa seluruh masyarakat kita sudah kehilangan trust-nya? Hilangannya trust dalam masyarakat, menurut pendapat saya, lebih didominasi oleh pertentangan elit politik dan public figure saja.

Selain hilangnya trust, kita juga disodori setiap hari dalam tayangan tv makin meningkatnya kejahatan yang sudah tidak masuk akal lagi. Sedangkan infotaintment menyuguhi berita mengenai perselingkuhan dan perceraian dilingkungan “selebritis”. Kesemua ini menambah kekhawatiran bahwa modal sosial kita sudah makin menghilang. Saya sependapat dengan para budayawan dan pakar sosial bahwa keadaan kita sudah sangat menghawatirkan. Janganlah apa yang digambarkan oleh Francis Fukuyama, mengenai “keruntuhan masyarakat” dalam bukunya The Great Disruption akan terjadi di tanah air kita. Kita harus segera berbuat sesuatu!

LP Cipinang, pertengahan September 2005. Dimuat Koran Tempo tgl 1 Des. 2005

Sumber: http://www.leapidea.com/presentation?id=71

CAPITAL SOCIAL

1.Latar Belakang

MasalahPenganggguran terus bertambah. Kemiskinan semakin sulit dikendalikan. Kriminalitas semakin meningkat dimana-mana. Francis Fukuyuma (1999) dengan meyakinkan beragumentasi bahwa Modal Sosial memegang peranan yang sangat penting dalam memfungsikan dan memperkuat kehidupan masyarakat modern. Modal sosial sebagai sine qua non bagi pembangunan manusia, pembangunan ekonomi, sosial, politik dan stabilitas demokrasi. Unsur penting dari “social contract” ini antara lain apa yang mereka sebut sebagai karakteristik jaringan sosial, pola-pola imbal balik, dan kewajiban-kewajiban bersama. Seperti apa yang dilakukan oleh Marx dan Engles dengan konsep keterikatan yang memiliki solidaritas (bounded solidarity) yang menggambarkan tentang kemungkinan munculnya pola hubungan dan kerjasama yang kuat, ketika suatu kelompok berada dalam tekanan negara atau kelompok lainnya.

2. Konsep Modern Tentang Modal Sosial

Modal Sosial menjadi fokus diskusi dan penelitian serta pengembangannya dalam berbagai kebijakan pembangunan terutama sekali banyak diilhami oleh karya-karya Robert D Putnam seperti; Making Democracy Work: Civic Transition in Modern Italy, 1993, dan Bowling Alone: America’s Declining Social Capital,1995. Begitu juga dengan Francis Fukuyama dengan karyanya The End of History and The Last Man, 1992; Trust, The Social Virtues and The Creation of Prosperity, 1995; The Great Disruption, Human Nature and The Reconciliation of Human Order, 1999; Social Capital and Civil Society, 1999; Social Capital and Development: The Coming .- 2002, dan beberapa karyanya yang lain. Pierre Bordieu (1983, 1986) dengan sosial teorinya. James Coleman yang mengkhususkan bahasannya pada dimensi Modal Sosial dan pendidikan (1998), dan masih banyak lagi para pemikir Modal Sosial yang lainnya.

3. Definisi Capital Social

Modal Sosial adalah sumber daya yang dapat dipandang sebagai investasi untuk mendapatkan sumber daya baru. Seperti diketahui bahwa sesuatu yang disebut sumber daya (resources) adalah sesuatu yang dapat dipergunakan untuk dikonsumsi, disimpan dan di investasikan. Sumberdaya yang digunakan untuk investasi disebut sebagai modal. Modal sosial berbeda dengan istilah populer lainnya yaitu Modal Manusia (human capital). Pada modal manusia segala sesuatunya lebih merujuk ke dimensi individual yaitu daya dan keahlian yang dimiliki oleh seorang individu. Modal sosial juga sangat dekat dengan terminologi sosial lainnya seperti yang dikenal sebagai kebajikan sosial (social virtue). Perbedaan keduanya terletak pada dimensi jaringan. Kebajikan sosial akan sangat kuat dan berpengaruh jika di dalamnya melekat perasaan keterikatan untuk saling berhubungan yang besifat imbal balik dalam suatu bentuk hubungan sosial. Robert D Putnam (2000) memberikan proposisi bahwa suatu entitas masyarakat yang memiliki kebajikan sosial yang tinggi, tetapi hidup secara sosial terisolasi akan dipandang sebagai masyarakat yang memiliki tingkat Modal Sosial yang rendah.

Randall Collin (1981) melakukan kajian tentang apa yang dia sebut sebagai phenomena mikro dan interaksi sosial yaitu norma dan jaringan (the norms and networks) yang sangat berpengaruh pada kehidupan organisasi sosial. Norma yang terbentuk dan berulangnya pola pergaulan keseharian akan menciptakan aturan aturan tersendiri dalam suatu masyarakat.

Aturan yang terbentuk tersebut kemudian akan menjadi dasar yang kuat dalam setiap proses transaksi sosial, dan akan sangat membantu menjadikan berbagai urusan sosial lebih efisien. Ketika norma ini kemudian menjadi norma asosiasi atau norma kelompok, akan sangat banyak manfaatnya dan menguntungkan kehidupan institusi sosial tersebut. Kekuatan-kekuatan sosial dalam melakukan interaksi antar kelompok akan terbentuk. Pada akhirnya mempermudah upaya mencapai kemajuan bersama.

Bank Dunia (1999) mendefinisikan Modal Sosial sebagai sesuatu yang merujuk ke dimensi institusional, hubungan- hubungan yang tercipta, dan norma norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat.Cohen dan Prusak (2001) memberikan pengertian bahwa Modal Sosial sebagai stok dan hubungan yang aktif antar masyarakat. Setiap pola hubungan yang terjadi diikat oleb kepercayaan (trust) kesaling pengertian (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama dapat dilakukan secara efisien dan efektif

4. Unsur Pokok Modal Sosial

1. Partisipasi Dalam Suatu Jaringan

Salah satu kunci keberhasilan membangun Modal Sosial terletak pula pada kemampuan sekelompok orang dalam suatu asosiasi atau perkumpulan dalam melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan sosial.Masyarakat selalu berhubungan sosial dengan masyarakat yang lain melalui berbagai variasi hubungan yang saling berdampingan dan dilakukan atas prinsip kesukarelaan (voluntary), kesamaan (equality), kebebasan (freedom) dan keadaban (civility). Kemampuan anggota anggota kelompok/masyarakat untuk selalu menyatukan diri dalam suatu pola hubungan yang sinergetis akan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kuat tidaknya modal sosial suatu kelompok.

2. Resiprocity

Modal sosial senantiasa diwarnai oleh kecenderungan saling tukar kebaikan antar individu dalam suatu kelompok atau antar kelompok itu sendiri. Pola pertukaran ini bukanlah sesuatu yang dilakukan secara resiprokal seketika seperti dalam proses jual beli, melainkan suatu kombinasi jangka pendek dan jangka panjang dalam nuansa altruism (semangat untuk membantu dan mementingkan kepentingan orang lain). Dalam konsep Islam, semangat semacam ini disebut sebagai keikhlasan. Semangat untuk membantu bagi keuntungan orang lain. Imbalannya tidak diharapkan seketika dan tanpa batas waktu tertentu. Pada masyarakat, dan pada kelompok-kelompok sosial yang terbentuk, yang di dalamnya memiliki bobot resiprositas kuat akan melahirkan suatu masyarakat yang memiliki tingkat Keuntungan lain, masyarakat tersebut akan lebih mudah membangun diri, kelompok dan lingkungan sosial dan fisik mereka secara rnengagumkan.

3. Trust

Trust atau rasa percaya (mempercayai) adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, paling tidak. yang lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya (Robert D Putnam, 1993, 1995, dan 2002). Dalam pandangan Fukuyama (1995, 2002), trust adalah sikap saling mempercayai di masyarakat yang memungkinkan masyarakat tersebut saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan Modal Sosial.

4. Norma Sosial

Norma-norma sosial akan sangat berperan dalam mengontrol bentuk-bentuk perilaku yang tumbuh dalam masyarakat. Pengertian norma itu sendiri adalah sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh anggota masyarakat pada suatu entitas sosial tertentu. Norma-norma ini biasanya terinstusionalisasi dan mengandung sangsi sosial yang dapat mencegah individu berbuat sesuatu yang menyimpang dan kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya. Aturan-aturan kolektif tersebut biasanya tidak tertulis tapi dipahami oleh setiap anggota rnasyarakatnya dan menentukan pola tingkah laku yang diharapkan dalam konteks hubungan sosial.

5. Nilai-Nilai

Nilai adalah sesuatu ide yang telah turun temurun dianggap benar dan penting oleh anggota kelompok masyarakat.

6. Tindakan Proaktif

Salah satu unsur penting Modal Sosial adalah keinginan yang kuat dan anggota kelompok untuk tidak saja berpartisipasi tetapi senantiasa mencari jalan bagi keterlibatan mereka dalam suatu kegiatan masyarakat. Ide dasar dan premise ini, bahwa seseorang atau kelompok senantiasa kreatif dan aktif. Mereka melibatkan diri dan mencari kesempatan kesempatan yang dapat memperkaya, tidak saja dan sisi material tapi juga kekayaan hubungan hubungan sosial, dan menguntungkan kelompok, tanpa merugikan orang lain, secara bersama-sama. Mereka cenderung tidak menyukai bantuan bantuan yang sifatnya dilayani, melainkan lebih memberi pilihan untuk lebih banyak melayani secara proaktif.

Sumber:  http://fisip.untirta.ac.id/teguh/?p=40

Modal Sosial dalam Perencanaan

Apr 21st 2008

Perencanaan sebagai sebuah disiplin ilmu berkembang di Inggris pasca perang dunia kedua. Pada awalnya perencanaan berfokus pada aspek desain saja (perencanaan fisik) namun dalam perkembangannya perencanaan menjadi ilmu yang interdisiplin, bidang kajiannya menjadi sangat luas yaitu memasukkan aspek sosial-ekonomi-budaya. Cakupan kajian yang luas—pensinergian dari berbagai macam ilmu (terutama ilmu tata guna lahan dan ilmu-ilmu sosial)—tidak jarang membuat orang bingung mengenai basis ilmu perencanaan atau specialized knowledge yang membedakan disiplin perencanaan dengan disiplin lainnya.

Di negara berkembang seperti Indonesia, umumnya para perencana masih canggung untuk membahas aspek yang luas dan membatasi diri pada perencanaan fisik. Padahal dengan penguasaan disiplin perencanaan sebagai sebuah ilmu interdisiplin (tidak hanya sekadar aspek fisik lingkungan, namun juga aspek-aspek sosial) tujuan-tujuan perencanaan itu akan lebih mudah tercapai. Karena masyarakat bukan sesuatu yang homogen, dan perencana harus menentukan apa yang terbaik bagi masyarakat, maka belakangan dicetuskan mengenai penerapan suatu produk interaksi sosial dalam perencanaan, yang disebut sebagai modal sosial.

Modal sosial (social capital) adalah kemampuan masyarakat untuk bekerjasama demi mencapai tujuan bersama di dalam berbagai komunitas. Konsep modal sosial diperkenalkan Robert D. Putnam (1993) sewaktu meneliti Italia pada 1985. Masyarakatnya, terutama di Italia Utara, memiliki kesadaran politik yang sangat tinggi karena tiap indvidu punya minat besar untuk terlibat dalam masalah publik. Dalam rumusan Robert D. Putnam, modal sosial menunjuk pada ciri-ciri organisasi sosial yang berbentuk jaringan-jaringan horizontal yang di dalamnya berisi norma-norma yang memfasilitasi koordinasi, kerja sama, dan saling mengendalikan yang manfaatnya bisa dirasakan sesama anggota organisasi. Dalam konteks ekonomi, jaringan horizontal yang terkoordinasi dan kooperatif itu akan menyumbang kemakmuran dan pada gilirannya diperkuat oleh kemakmuran tersebut.

Modal sosial dipandang sebagai sebuah model keterhubungan konsep-konsep seperti pelibatan masyarakat, kepercayaan interpersonal, dan tindakan bersama yang efektif. Pilar modal sosial adalah kepercayaan (trust), eksistensi jaringan (network), dan kemudahan bekerja sama (ease
of
cooperation). Dalam kenyataannya, modal sosial seperti mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Sisi positifnya seperti gotong royong, arisan, jaringan internet, kepramukaan. Sedangkan sisi negatifnya seperti praktek korupsi atau mafia.

Modal sosial dalam perencanaan bersifat timbal balik (resiprocal). Untuk membantu pengambilan keputusan agar lebih baik dan rasional, interaksi antara perencana dengan masyarakat sangat diperlukan, apalagi dalam perencanaan rasionalitas komunikatif (transaktif/pembelajaran sosial). Dari interaksi antar steakholders itu kemudian akan melahirkan modal sosial.

Modal sosial yang memuat kepercayaaan, eksistensi jaringan, dan kemudahan bekerja sama tersebut dapat dimanfaatkan oleh perencana untuk membuat suatu perencanaan pembangunan menjadi lebih efektif, efisien dan berkelanjutan (sustainable). Modal sosial juga memudahkan perencana dalam memfasilitasi, melakukan negosiasi atau advokasi kepada masyarakat.

Sebagai ilustrasi, ketika permukiman masyarakat miskin di pinggir Kali Code Yogyakarta hendak digusur, Romo Mangunwijaya (alm) yang seorang arsitek sekaligus perencana, melakukan advokasi dan bersama-sama dengan masyarakat setempat merencanakan dan mendesain permukiman yang asri serta berwawasan lingkungan. Dengan modal sosial yang terbangun, terjadi kemudahan bekerja sama, rasa tanggung jawab dan kepercayaan yang tinggi sehingga sampai saat ini pun permukiman miskin itu terjaga dari kekumuhan.

Debat publik yang merupakan bentuk dari peran serta masyarakat, adalah salah satu wujud dari perencanaan transaktif (model Hudson) atau pembelajaran sosial (model Friedman). Wacana tentang debat publik awalnya digulirkan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas waktu itu, Ginandjar Kartasasmita pada pertengahan tahun 1995. Menurutnya debat publik akan meningkatkan kualitas kebijaksanaan dan menjamin diperolehnya dukungan masyarakat. Hal ini bertolak dari keyakinan bahwa jika publik dilibatkan dalam pengambilan keputusan, mereka cenderung bisa memahami perencanaan pembangunan baik dalam bentuk kebijaksanaan, program, atau proyek.

Dalam era reformasi sekarang ini, debat publik merupakan cerminan transparansi dan demokratisasi serta merupakan media learning process menuju masyarakat madani. Debat publik tersebut akan berjalan dengan baik seandainya antara pengambil keputusan dengan masyarakat sudah tidak ada gap. Dan tentu saja modal sosial sangat diperlukan untuk mengeliminasi kesenjangan tersebut.

Dalam kaitannya sebagai ilmu multidisiplin, perencanaan membutuhkan modal sosial untuk menjembatani dialog antar disiplin, karena kemampuan melihat permasalahan dari berbagai perspektif sangat dibutuhkan seorang perencana. Dengan modal sosial yang dimiliki, para ahli akan lebih mudah mencapai konsensus, sehingga akan memudahkan perencana membuat perencanaan yang efektif.

Di dalam konteks perencanaan wilayah dan kota, modal sosial juga telah menjadi bahan kajian, sama halnya dengan masalah ruang terbuka, situs-situs bersejarah, slums, squatters, yang seringkali diributkan oleh pemerhati masalah tata ruang dan sosio-perkotaan. Dewasa ini banyak kampung-kampung di perkotaan yang modal sosialnya mulai tererosi karena adanya privatisasi dan komersialisasi ruang publik. Dan ini adalah tugas perencana dan arsitek untuk memfasilitasi warga kampung dalam upaya membangun kembali modal sosialnya dan melakukan pendampingan untuk mendapatkan kembali ruang-ruang publik mereka.

Modal sosial sangat membantu kelancaran pembangunan (dengan perencanaan sebagai salah satu bagiannya). Maka kepemilikannya sudah semestinya menjadi keharusan. Modal sosial dapat dilembagakan (menjadi kebiasaan) dalam kelompok yang paling kecil ataupun kelompok masyarakat yang besar seperti negara. Dan tugas kita sekarang adalah bagaimana menumbuhkan dan melembagakan modal sosial itu, karena akhir-akhir ini terjadi kemerosotan kepercayaan masyarakat kita kepada insitusi publik (dimana biasanya perencana bekerja di dalamnya). Tanpa kepercayaan akan sulit diperoleh eksistensi jaringan dan kemudahan bekerjasama yang menjadi pilar utama modal sosial. [PS]

Sumber:  http://kotakita.wordpress.com/2008/04/21/modal-sosial-dalam-perencanaan-2/

Membangun Modal Sosial Setelah Musibah Banjir

Ninuk Mardiana Pambudy

Banjir yang merendam Jakarta sepanjang akhir dua pekan lalu hingga tengah pekan lalu sudah surut. Meski demikian, masalah lain menghadang keluarga yang kembali ke rumahnya.

Membersihkan kembali rumah dari lumpur yang tertinggal dan mencegah terkena penyakit akibat banjir adalah tantangan di depan mata. Penderitaan lebih berat lagi dirasakan mereka yang rumahnya rusak atau bahkan hanyut diterjang air banjir yang mengalir deras seraya membawa sampah.

Di kawasan RT 005 RW 014 Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, yang berada di bibir Sungai Pesanggrahan, Senin siang pekan lalu, rumah-rumah yang berjarak sekitar 50 meter dari bibir sungai masih terendam.

“Hari Minggu rumah kami mulai kering karena banjir mulai surut. Pagi tadi kami masih repot membersihkan rumah,” tutur Siti Nurhayati (31). Dia bahu-membahu bersama suaminya, Asman (40), putrinya Fitria (16) yang hari itu tidak berangkat sekolah sebab sekolahnya di SMEA masih terendam banjir. Dua putrinya yang lain, Dwi Lestari (13) dan Indri (8), sudah kembali bersekolah.

Di dapur umum, dekat rumah Siti, masih ada kesibukan memasak oleh ibu-ibu. “Saya tidak ikut masak di dapur umum soalnya saya lemah. Saya punya diabetes,” tutur Siti.

Meskipun dia tidak menemani para ibu yang spontan membuat dapur umum, tetapi dia tidak dikucilkan. “Mereka mengerti. Kegiatan yang saya ikuti pengajian tiap malam Jumat dan arisan ibu-ibu se-RT,” jelas Siti.

Di RT 06 dan 05, RW 02, 03, 08, dan 12 di Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis lalu, air juga mulai surut.

“Air memang mulai surut, tetapi sekarang yang datang penyakit. Batuk, pilek, demam, gatal-gatal,” kata Ny Jumenti Komalasari.

Ketika hujan lebat akhir dua pekan lalu mengguyur Jakarta, air Kali Krukut dengan cepat naik dan menggenangi rumah-rumah milik 700 keluarga di sekitar kali.

Dengan sigap para ibu yang tergabung di dalam organisasi Program Kesejahteraan Keluarga dan Suara Ibu Peduli (SIP) bahu- membahu membangun dapur umum.

“Kami memang agak terlambat mengusahakan bantuan, maklum sekarang yang menjadi pengurus dan di sekretariat semuanya ibu rumah tangga, jadi mesti bagi-bagi waktu antara SIP dan mengurus rumah,” jelas Ny Jumenti yang menjabat Ketua Presidium Administrasi dan Keuangan SIP.

Dapur umum dan posko

Pembagian kerja yang disosialisasikan sejak kecil itu segera tampak dalam kerja di tingkat komunitas saat mengatasi banjir. Para ibu dengan segera membangun dapur umum, memasak.

“Bapak-bapak ngurus posko banjir, ngurus sembako,” kata Ny Siti.

“Bapak-bapaknya kan sebagian juga mesti berangkat kerja,” kata Ny Juminten.

Ketika banjir surut, pembagian kerja yang jelas juga terjadi. Para ibu tetap terlibat dalam dapur umum karena meskipun air surut, tetapi banyak rumah kehilangan barang, termasuk kompor. Kalaupun tidak hanyut, kompor tersebut tidak dapat dipergunakan karena basah dan kotor terkena lumpur. Para ibu juga bertanggung jawab untuk urusan mencuci baju-baju yang kotor terkena lumpur.

Sementara para bapak, di luar tetap bekerja mencari nafkah, mereka ikut membersihkan lumpur di dalam rumah dan mengerjakan pekerjaan bertukang dengan kayu untuk memperbaiki rumah yang rusak atau peralatan di dalam rumah.

Di Kelurahan Cilandak, meskipun ibu-ibu anggota SIP berjumlah 300 keluarga dari 700 keluarga yang kebanjiran, tetapi bantuan yang datang untuk mereka dibagi bersama dengan keluarga yang tidak menjadi anggota SIP dan koperasi simpan-pinjamnya.

Di lingkungan RT tempat Siti tinggal, saling bantu juga tidak terbatas hanya di antara warga asli, tetapi juga meliputi separuh dari 150 keluarga yang merupakan pendatang dan tinggal di rumah kos. “Kalau yang ada tetangga yang lagi kerja waktu banjir datang, biasanya tetangga yang di rumah menelepon ke tempat kerja, kasih tahu ada banjir,” jelas Ny Siti.

Ny Siti yang orang Betawi asli beruntung bisa mengungsi ke rumah kakaknya di bagian yang lebih tinggi. Tetapi, buat mereka yang tidak punya saudara, rumah tetangga yang tidak kebanjiran selalu terbuka untuk menampung tetangga yang kebanjiran. “Bapak-bapaknya sih banyak yang tidur di jalan yang enggak kena banjir, pakai tikar apa adanya,” kata Asman.

Perekat sosial

Orang Jakarta sering dikatakan mulai meluntur ikatan sosialnya dan menjadi lebih individual. Banjir membuktikan, ikatan sosial itu tidak meluntur, walaupun bentuk ikatan sosial itu berubah dibandingkan dengan masa lalu.

Ikatan sosial tersebut tidak lagi muncul dalam bentuk kesertaan di dalam organisasi kemasyarakatan yang massal atau bahkan kesertaan di dalam partai politik.

Ikatan sosial itu tetap bertahan, tetapi dalam bentuk yang lebih informal dan longgar. Arisan dan komunitas dengan minat sejenis, misalnya, menjadi tempat di mana anggota masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan sosial dengan anggota masyarakat lainnya.

Modal sosial, yang menurut definisi Robert Putnam adalah keterhubungan di antara individu melalui jaring sosial dan norma- norma saling memberi serta saling percaya di antara mereka, adalah yang mengikat dan dapat membuat suatu masyarakat bahkan bangsa mampu menghadapi tantangan dari luar dan melangkah maju.

Di dalam modal sosial ini, melalui bentuk jejaring sosialnya yang informal, perempuan juga ikut menyumbang pada ikatan sosial di masyarakat.

Di dalam pertemuan SIP misalnya, penyadaran akan hak-hak warga disampaikan, seperti hak atas kebersihan lingkungan. Di dalam pertemuan arisan, Ny Siti dan teman-temannya membicarakan kenaikan harga-harga sembako yang langsung memengaruhi mereka dan kekecewaan mereka kepada pemimpin negeri ini.

“Saya sering minta kepada ibu- ibu yang tinggal di pinggir kali supaya tidak buang sampah ke kali. Mereka kalau ada saya nurut, tetapi lalu sampah dibuangnya pada malam hari atau sebelum subuh. Segala macam, kotak kayu, kasur bekas. Itu yang bikin mampet pintu air dan akhirnya banjir,” kata Ny Jumenti.

Membangun modal sosial adalah proses tarik-ulur yang harus ada saling percaya dan saling memberi di antara mereka. Dalam hal ini, perempuan dengan pengalamannya mengasuh, dapat diandalkan kesabaran dan kegigihannya.

Sumber: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0702/12/swara/3307365.htm

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: