BebasBanjir2015

08 Bagaimana Memulai?

Perjalanan 1000 km selalu dimulai dari langkah pertama. Ya… ikhtiar menuju bebas banjir harus dimulai dari langkah pertama. Bagaimana sebaiknya kita memulai langkah pertama itu?

Sebelum memaparkan langkah praktis untuk memulai aksi menuju bebas banjir, kami ingin memaparkan posisi sikap kami bahwa pengendalian banjir terutama berkaitan dengan manusia. Lupakan dulu soal teknis membuat sumur resapan, lobang resapan biopori, penanaman pohon, embung, waduk, teknik pembuatan teras, dan berbagai teknologi untuk mengendalikan banjir. Mari kita mulai dari unsur manusia.

Manusia, disamping sebagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya banjir, juga – dan ini kerap kali dilupakan – merupakan faktor yang berpotensi untuk melakukan aksi-aksi  kolektif dalam ikhtiar menuju kondisi yang bebas banjir.

Setiap individu setidaknya memiliki empat kemampuan yang diberikan Tuhan, yaitu kemampuan untuk berpikir, merasakan, bersikap dan bertindak.

Apa yang saat ini kita definisikan sebagai banjir, apa pun definisi kita tentang banjir itu, adalah akibat dari kumpulan tindakan manusia, atau resultan dari berbagai tindakan manusia di satu DAS.

Manusia bertindak berdasarkan posisi sikapnya terhadap sesuatu. Jika seseorang tidak melakukan upaya apapun di persil lahannya yang berkontribusi untuk mengendalikan banjir, atau melakukan sesuatu yang berkontribusi terhadap pengendalian banjir, maka itu adalah produk dari posisi sikapnya terhadap banjir dan  terhadap peran individualnya / peran kolektif.

Posisi sikapnya itu tergantung pada apa yang ada dalam konstruksi pikirannya  dan apa yang dirasakannya. Karena itu, jika kita ingin membangun perilaku yang kontributif terhadap ikhtiar pengendalian banjir,  maka kita harus mulai dari konstruksi dunia pikiran (dunia makna) dan perasaan dari para warga DAS.

Yang menjadi soal adalah dunia pikiran dan  dunia perasaan itu sendiri, ibarat kulit bawang, berlapis-lapis. Apa yang diekspresikan atau dieksplisitkan sebagai pikiran dan perasaan oleh seseorang belum tentu merupakan pikiran dan perasaan yang sebenarnya dari yang bersangkutan.

Itu satu soal. Soal lainnya adalah kita tidak mungkin menangani aspek manusia ini secara individu. Untuk lebih memudahkan, dalam berbagai referensi,  kita harus menangani aspek ini dalam konteks kolektif (kumpulan manusia) yang disebut sebagai aksi kolektif (collective action) . Aksi kolektif adalah produk dari sikap kolektif.  Dan sikap kolektif adalah produk dari pikiran dan perasaan kolektif.

Dalam sosiologi terdapat  istilah komunitas yang makna dasarnya adalah kumpulan manusia.  Setidaknya terdapat empat kategori komunitas, yaitu komunitas primordial (kumpulan manusia yang berkumpul berdasarkan ikatan primordial: keagamaan, kedaerahan), komunitas okupasional (berdasarkan kesamaan pekerjaan), komunitas spasial (berdasarkan kesamaan tempat tinggal seperti komunitas RT, RW), dan komunitas interst (berdasarkan kepentingan / minat tertentu).

Nanti dilanjutkan ……

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: