BebasBanjir2015

Ekodrainase

Konsep Ekodrainase sebagai Pengganti Drainase Konvensional

Oleh: Agus Maryono

SUNGGUH sangat merisaukan jika kita mengevaluasi konsep drainase yang diterapkan di seluruh pelosok Tanah Air saat ini. Konsep yang dipakai adalah konsep drainase konvensional, yaitu drainase “pengatusan kawasan”. Drainase konvensional adalah upaya membuang atau mengalirkan air kelebihan secepat-cepatnya ke sungai terdekat. Konsep ini sejak tahun 1970-an sampai sekarang hampir tidak berubah dan terus diajarkan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia dan sebagai konsep dasar yang digunakan para praktisi dalam pembuatan Masterplan Drainase di seluruh kota besar dan kecil di Indonesia.

DALAM konsep drainase konvensional, seluruh air hujan yang jatuh ke di suatu wilayah harus secepat-cepatnya dibuang ke sungai dan seterusnya mengalir ke laut. Jika hal ini dilakukan pada semua kawasan, akan memunculkan berbagai masalah, baik di daerah hulu, tengah, maupun hilir.

Dan ternyata, bahwa konsep drainase konvensional ini di Indonesia tidak hanya dipakai untuk men-drain areal permukiman, namun digunakan secara menyeluruh termasuk untuk men-drain kawasan pedesaan, lahan pertanian dan perkebunan, kawasan olahraga, wisata, dan lain sebagainya.

Drainase konvensional untuk permukiman atau perkotaan dibuat dengan cara membuat saluran-saluran lurus terpendek menuju sungai guna mengatuskan kawasan tersebut secepatnya.

Seluruh air hujan diupayakan sesegera mungkin mengalir langsung ke sungai terdekat. Pada areal pertanian dan perkebunan biasanya dibangun saluran drainase air hujan menyusuri lembah memotong garis kontur dengan kemiringan terjal. Pada saat hujan, saluran drainase ini berfungsi mengatuskan kawasan pertanian dan perkebunan dan langsung dialirkan ke sungai.

Demikian juga di areal wisata dan olahraga, semua saluran drainase didesain sedemikian rupa sehingga air mengalir secepatnya ke sungai terdekat. Orang sama sekali tidak berpikir apa yang akan terjadi di bagian hilir, jika semua air hujan dialirkan secepat-cepatnya ke sungai tanpa diupayakan agar air mempunyai waktu cukup untuk meresap ke dalam tanah (lihat Gambar A, kesalahan drainase konvensional).

Dampak dari pemakaian konsep drainase konvensional tersebut dapat kita lihat sekarang ini, yaitu kekeringan yang terjadi di mana-mana, juga banjir, longsor, dan pelumpuran.

Termasuk juga surutnya sungai-sungai di luar Jawa saat ini, hingga menyebabkan transportasi sungai sangat selalu terganggu. Tentu saja ada sebab-sebab selain drainase, misalnya, penggundulan hutan, namun kesalahan konsep drainase yang kita pakai sekarang ini merupakan penyumbang bencana kekeringan, banjir, dan longsor yang cukup signifikan.

Kesalahan konsep drainase konvensional yang paling pokok adalah filosofi membuang air genangan secepat-cepatnya ke sungai. Dengan demikian, sungai-sungai akan menerima beban yang melampaui kapasitasnya, sehingga meluap atau terjadi banjir, contoh, banjir-banjir di Jakarta, Semarang, Bandung, Riau, Samarinda, dan lain-lain. Demikian juga mengalirkan air secepatnya berarti pengatusan kawasan atau menurunkan kesempatan bagi air untuk meresap ke dalam tanah.

Dengan demikian, cadangan air tanah akan berkurang, kekeringan di musim kemarau akan terjadi. Dalam konteks inilah pemahaman bahwa banjir dan kekeringan merupakan dua fenomena yang saling memperparah secara susul-menyusul dapat dengan mudah dimengerti.

Sangat ironis bahwa semakin baik drainase konvensional di suatu kawasan aliran sungai, maka kejadian banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau akan semakin intensif silih berganti.

Dampak selanjutnya adalah kerusakan ekosistem, perubahan iklim mikro dan makro disertai tanah longsor di berbagai tempat yang disebabkan oleh fluktuasi kandungan air tanah musim kering dan musim basah yang sangat tinggi.

JIKA kesalahan konsep dan implementasi drainase yang selama ini kita lakukan ini tidak diadakan revisi, usaha apa pun yang kita lakukan untuk menanggulangi banjir, kekeringan lahan, dan longsor, akan sia-sia.

Dalam tulisan ini akan diketengahkan konsep drainase baru yang biasa disebut drainase ramah lingkungan atau ekodrainase yang sekarang ini sedang menjadi konsep utama di dunia internasional dan merupakan implementasi pemahaman baru konsep ekohidraulik dalam bidang drainase.

Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air kelebihan dengan cara sebesar-besarnya diresapkan ke dalam tanah secara alamiah atau mengalirkan ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas sungai sebelumnya.

Dalam drainase ramah lingkungan, justru air kelebihan pada musim hujan harus dikelola sedemikian sehingga tidak mengalir secepatnya ke sungai. Namun diusahakan meresap ke dalam tanah, guna meningkatkan kandungan air tanah untuk cadangan pada musim kemarau. Konsep ini sifatnya mutlak di daerah beriklim tropis dengan perbedaan musim hujan dan kemarau yang ekstrem seperti di Indonesia.

Berikut ini diketengahkan beberapa metode drainase ramah lingkungan yang dapat dipakai di Indonesia, di antaranya adalah metode kolam konservasi, metode sumur resapan, metode river side polder, dan metode pengembangan ereal perlindungan air tanah (ground water protection area).

Metode kolam konservasi (lihat Gambar B) dilakukan dengan membuat kolam-kolam air, baik di perkotaan, permukiman, pertanian, atau perkebunan. Kolam konservasi ini dibuat untuk menampung air hujan terlebih dahulu, diresapkan dan sisanya dapat dialirkan ke sungai secara perlahan-lahan.

Kolam konservasi dapat dibuat dengan memanfaatkan daerah-daerah dengan topografi rendah, daerah-daerah bekas galian pasir atau galian material lainnya, atau secara ekstra dibuat dengan menggali suatu areal atau bagian tertentu.

Kolam konservasi juga sangat menguntungkan jika dikaitkan dengan kebutuhan rekreasi masyarakat. Misalnya pada pembangunan real estat, pemerintah dapat mewajibkan pengelola real estat untuk membangun kolam konservasi air hujan di lokasi perumahan, sekaligus ditata sebagai areal rekreasi bagi masyarakat perumahan.

Di samping itu, kolam konservasi dapat dikembangkan menjadi bak-bak permanen air hujan, khususnya di daerah-daerah dengan intensitas hujan yang rendah. Kota-kota dan kawasan luar kota di Indonesia perlu segera membangun kolam-kolam konservasi air hujan ini. Sangat disayangkan, bahwa perkembangan yang ada di Indonesia sekarang ini justru masyarakat dan pemerintah berlomba mempersempit atau bahkan menutup kolam konservasi alamiah yang ada (rawa, situ, danau kecil, telaga, dan lain-lain). Banyak kolam-kolam konservasi alamiah dalam sepuluh tahun terakhir ini hilang dan berubah fungsi menjadi areal permukiman, contohnya di Jakarta, Bandung, dan lain-lain.

Untuk areal pertanian dan perkebunan sudah mendesak, untuk segera direncanakan dan dibuat parit-parit (kolam) konservasi air hujan. Parit ini sangat penting untuk cadangan air musim kemarau sekaligus meningkatkan konservasi air hujan di daerah hulu, serta meningkatkan daya dukung ekologi daerah setempat. Konstruksi parit cukup sederhana, berupa galian tanah memanjang atau membujur di beberapa tempat tanpa pasangan. Pada parit tersebut sekaligus bisa dijadikan tempat budidaya ikan dan lain-lain.

Metode sumur resapan merupakan metode praktis dengan cara membuat sumur-sumur untuk mengalirkan air hujan yang jatuh pada atap perumahan atau kawasan tertentu (Dr Sunjoto, UGM). Sumur resapan ini juga dapat dikembangkan pada areal olahraga dan wisata. Konstruksi dan kedalaman sumur resapan disesuaikan dengan kondisi lapisan tanah setempat. Perlu dicatat bahwa sumur resapan ini hanya dikhususkan untuk air hujan, sehingga masyarakat harus mendapatkan pemahaman mendetail untuk tidak memasukkan air limbah rumah tangganya ke sumur resapan tersebut.

METODE river side polder (lihat Gambar C) adalah metode menahan aliran air dengan mengelola/menahan air kelebihan (hujan) di sepanjang bantaran sungai. Pembuatan polder pinggir sungai ini dilakukan dengan memperlebar bantaran sungai di berbagai tempat secara selektif di sepanjang sungai.

Lokasi polder perlu dicari, sejauh mungkin polder yang dikembangkan mendekati kondisi alamiah, dalam arti bukan polder dengan pintu-pintu hidraulik teknis dan tanggul-tanggul lingkar hidraulis yang mahal. Pada saat muka air naik (banjir), sebagian air akan mengalir ke polder dan akan keluar jika banjir reda, sehingga banjir di bagian hilir dapat dikurangi dan konservasi air terjaga.

Upaya ini sedang dilakukan di Jepang dan Jerman secara besar-besaran, sebagai upaya menahan air untuk konservasi sungai musim kemarau dan menghindari banjir serta meningkatkan daya dukung ekologi wilayah keairan. Metode ini dapat diusulkan untuk mengurangi banjir di kota-kota besar yang terletak di hilir sungai seperti Kota Jakarta, Surabaya, Medan Samarinda, dan lain-lain. Demikian juga dapat meningkatkan pasokan air sungai musim kemarau untuk mendukung transportasi sungai atau pertanian.

Metode areal perlindungan air tanah dilakukan dengan cara menetapkan kawasan lindung untuk air tanah, di mana di kawasan tersebut tidak boleh dibangun bangunan apa pun. Areal tersebut dikhususkan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah.

Di berbagai kawasan perlu sesegara mungkin dicari tempat-tempat yang cocok secara geologi dan ekologi sebagai areal untuk recharge dan perlindungan air tanah sekaligus sebagai bagian penting dari komponen drainase kawasan.

Konsep drainase ramah lingkungan atau ekodrainase ini perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Kesalahan pemahaman masyarakat, dinas terkait, dan perguruan tinggi tentang filosofi konsep drainase, yaitu membuang air secepat-cepatnya ke sungai, perlu segera direvisi dan diluruskan secara serius. Perlu pembenahan dan revisi bangunan drainase permukiman, tempat olahraga dan rekreasi, pertanian dan perkebunan dengan konsep drainase ramah lingkungan. Tampaknya perlu studi khusus untuk menemukan kembali konsep drainase ramah lingkungan.

Dr Ing Ir Agus Maryono, Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/26/opini/584210.htm

Ekodrainase untuk Mengurangi Banjir

22 Februari 2008
Oleh Agung Widiyoutomo

Hujan lebat di kota-kota besar, termasuk Jakarta, Semarang, dan Surabaya, selama beberapa jam saja sering mengakibatkan banjir. Ini karena kekeliruan konsep drainase sejak awal. Ekodrainase diyakini sebagai konsep terkini yang mampu mengurangi banjir.

BANJIR di kawasan perkotaan umumnya terjadi akibat sebagian besar bangunan di wilayah itu terbuat dari bahan-bahan yang menghalangi peresapan air ke dalam tanah.
Akibatnya sebagian besar air hujan tidak bisa meresap ke dalam tanah, namun mengalir di permukaan sebagai air larian. Jika saluran drainasenya tidak mampu menampung air, pastilah menggenangi wilayah kota tersebut.
Namun, ada juga wilayah kota yang dilanda banjir meski hujan turun dalam waktu singkat serta tidak lebat. Hal ini terjadi karena sungai-sungai yang melewati kota itu meluap, akibat limpahan air hujan dari daerah di atasnya. Sebagian banjir di Semarang dan Jakarta termasuk dalam kategori ini.

Bagaimana mengatasinya, sehingga risiko banjir bisa dikurangi? Konsep usang mesti ditinggalkan (lihat Konsep Masih Konvensional), diganti dengan konsep baru yang lebih ramah lingkungan. Misalnya konsep ekodrainase.
Ekodrainase kini menjadi konsep utama di dunia internasional. Ia dikembangkan dari konsep ekohidrolik , yaitu bagaimana mengelola kelebihan air atau mengalirkannya ke sungai, tanpa melebihi kapasitas sungai itu sendiri.
Melalui konsep ini, air yang berlebihan di musim hujan dapat dikelola sebanyak mungkin agar meresap ke dalam tanah sebesar-besamya secara alami, untuk meningkatkan kandungan air tanah. Sehingga pada musim kemarau, air masih bisa diharapkan tersimpan di dalam tanah.

Menurut Dr Ing lr Agus Maryono, staf pengajar Fakultas Teknik UGM, konsep ekodrainase dapat dilakukan dengan beberapa metode. Misalnya metode kolam konservasi, parit konservasi, sumur resapan, river side polder, pengembangan perlindungan air tanah, dan metode modifikasi lansekap.

Kolam Konservasi

Metode kolam konservasi dilakukan dengan membuat kolam air di perkotaan, permukiman, lahan pertanian, dan lahan perkebunan. Kolam ini untuk menampung air hujan yang kemudian akan diresapkan, dan sisanya dialirkan ke sungai secara pelan-pelan.

Kolam konservasi dibuat dengan memanfaatkan daerah-daerah bertopografi rendah, daerah bekas galian pasir atau mineral lainnya, atau secara khusus dibuat dengan menggali area tertentu.

Pembuatan kolam konservasi akan menguntungkan, jika dikaitkan dengan kebutuhan rekreasi masyarakat. Misalnya dibangun di kawasan permukiman yang diserasikan dengan perumahan di kawasan sekitar, sehingga bisa menjadi tempat tujuan rekreasi masyarakat sekitar.

Metode ini berbeda dari parit konservasi, yang digunakan di lahan pertanian dan perkebunan, dengan membuat galian tanah memanjang/membujur di beberapa tempat tanpa pasangan. Parit ini sekaligus dapat digunakan sebagai tempat budi daya ikan.

Sedangkan metode sumur resapan dilakukan dengan membuat sumur resapan untuk menampung dan meresapkan air hujan yang jatuh dari atap rumah.
Metode ini sangat dianjurkan untuk permukiman di daerah lembah dan dataran, tetapi tidak dianjurkan untuk permukiman di daerah lereng (terutama lereng agak terjal), karena dapat mendorong terjadinya tanah longsor.

Polder

Metode river side polder dilakukan dengan membuat polder di sisi sungai dengan melebarkan bantaran sungai di beberapa tempat secara selektif. Prinsip kerjanya adalah menahan aliran air, dengan mengelola atau menahan kelebihan air di sepanjang bantaran sungai. Lokasi polder perlu dicari dan di-kembangkan sejauh mungkin mendekati kondisi alami. Artinya bukan polder dengan pintu-pintu hidrolik teknis dan tanggul lingkar hidrolik yang mahal.

Polder ini berfungsi saat muka air naik. Sebagian air mengalir ke dalam polder dan keluar jika banjir reda. Sehingga banjir di bagian hilir dapat dikurangi, serta konservasi air tetap dapat terjaga.

Metode lainnya adalah areal perlindungan air tanah. Ini dapat dilakukan dengan menetapkan kawasan lindung untuk air tanah. Pada kawasan ini tidak boleh dididirikan bangunan apapun, dikhususkan untuk meresapkan air hujan ke dalam ranah.

Agus Maryono menyarankan agar mencari tempat-tempat yang cocok (secara ekologi dan geologi) di berbagai kawasan, untuk dijadikan areal recharge serta perlindungan air tanah, sekaligus sebagai bagian penting dari komponen drainase kawasan.

Bagaimana dengan metode modifikasi lansekap? Pada prinsipnya, metode ini dilakukan dengan merekayasa lansekap yang ada, baik secara makro maupun mikro, sehingga makin banyak air hujan yang tertampung dan bisa diresapkan di areal tersebut .

Metode ini dapat dilakukan secara sederhana, dengan menggunakan konstruksi mulde atau menggunakan cekungan-cekungan horizontal yang didesain artistik, sehingga masih dapat dipakai untuk keperluan tertentu di musim kering.
Modifikasi lansekap juga dapat dilakukan dengan menginterupsi air larian pada jarak-jarak tertentu, sehingga air hujan memiliki tenggang waktu untuk meresap ke dalam tanah.

Hal seperti ini sudah banyak dilakukan di lahan-lahan pertanian dan perkebunan dengan membuat terasering. Dengan adanya terasering, air larian diinterupsi agar punya kesempatan untuk meresap, setidaknya kecepatan aliran dikurangi agar tidak menilnbulkan erosi.

Jika konsep ekodrainase dengan berbagai kombinasinya ini bisa memasyarakat dan dilaksanakan, insya Allah bencana banjir pada musim hujan maupun kekeringan di musim kemarau dapat dikurangi. (32)

—Agung Widiyoutomo, alumni Bagian Mekanisasi Pertanian, FTP-UGM Yogyakarta.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=1974

3 Komentar »

  1. Sangat setuju dg tulisan diatas, utk mengatasi banjir dan kekeringan memang diperlukan perubahan paradigma berpikir.
    Konsep drainase horizonatal yg selama ini dilakukan dan dipraktekan utk mengatasi banjir sudah perlu diubah dg konsep yg baru yaitu drainase vertikal ( dg cara biopori, sumur resapan, sumur injeksi, sumur resapan dalam, waduk resapan dst. )
    Banjir disemua daerah banjir di Indonesia ; harus bersam-sama Pemerintah dan rakyat mempunyai arah pemikiran yg sama….. ” Drainase Vertikal “

    Komentar oleh fatchymuhamad — Oktober 20, 2011 @ 11:10 am

  2. saya sagat setuju

    Komentar oleh Anonim — November 15, 2011 @ 9:33 am

  3. Saya lebih setuju bila drainase horizontal yang ada dikombinasikan dengan drainase vertikal (kami sudah melakukan kombinasi tersebut dengan sumur resapan KONATA). Dan terbukti efektif. Bila tertarik bisa mampir di situs saya : DrainaseVertikal.com

    Komentar oleh konata — Oktober 18, 2013 @ 9:03 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: