BebasBanjir2015

Butuh 2 Juta Sumur Resapan

Jakarta Bebas Banjir Butuh 2 Juta Sumur Resapan

Sumber: http://www.beritasatu.com/ 23 Desember 2011

Seharusnya di setiap gedung perkantoran yang mengokupasi lahan dan dengan tutupan lahan yang menghalangi meresapnya air ke dalam tanah diwajibkan membuat sumur resapan.

 Memanen air hujan dengan smur resapan dapat menanggulangi banjir cukup signifikan, kata Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Arie Herlambang.

“Memanen air di tangki penampungan seukuran 10 meter kubik selama 2-3 jam hujan pertama yang biasanya lebat, telah diuji, mampu mengurangi genangan cukup signifikan,” kata Arie dalam diskusi Pengelolaan Sumber Daya Air bertema “Kelola Air Selamatkan Bumi” di Jakarta, hari ini.

Prinsip dasar Pemanenan Air Hujan adalah mengalirkan air hujan yang jatuh di permukaan atap melalui talang air untuk ditampung ke dalam tangki penampung yang digali di bawah tanah. Kemudian limpasan air yang keluar dari tangki penampung yang telah penuh, disalurkan ke dalam sumur resapan yang meresapkan air hujan ke tanah.

“Maraknya pembangunan di kota besar membuat luasan tanah yang bertugas menyerap air hujan tertutup bangunan. Sumur resapan berfungsi menampung air hujan akibat adanya penutupan tanah oleh bangunan beratap dan plester jalanan tersebut,” katanya.

Dikatakan Arie, pihaknya telah membuktikan pemanenan air hujan di halaman sekolah di Bantarjati, Bogor, SMAN 4 Depok dan SMA Al Azhar, Jaksel, membuat halaman sekolah dan sekitarnya menjadi tidak tergenang air ketika hujan deras.

“Pengalaman di negara yang sudah memanfaatkan air hujan untuk keperluan gedung, kebutuhan airnya dapat dipenuhi dari air hujan sampai 35-45 persen,” katanya.

Menurut dia, untuk Jakarta dan sekitarnya dibutuhkan kurang lebih dua juta sumur resapan dimana dari hasil pengujiannya, satu Sumur Resapan mampu meresapkan air secara kumulatif 450-1.000 liter dalam waktu 140 – 160 menit.

“Seharusnya di setiap gedung perkantoran yang mengokupasi lahan dan dengan tutupan lahan yang menghalangi meresapnya air ke dalam tanah diwajibkan membuat sumur resapan yang dilengkapi dengan pemanenan air hujan,” katanya.

5 Komentar »

  1. Saya sependapat dengan penulis di atas. Banjir biasanya terjadi akibat koefisien limpasan yang bertambah besar akibat perubahan penutup tanah (misalnya yang tadinya sawah/ladang menjadi bangunan). Akibatnya hampir seluruh air hujan dibuang ke drainase jalan/lingkungan, yang kapasitasnya tidak ditingkatkan, maka jadilah banjir. Dengan adanya “pemanen hujan” tersebut maka debit limpasan yang ditampung drainase jalan/lingkungan menjadi sedikit dan pasti bisa mencegah banjir. Sudah sejak beberapa tahun lalu saya ingin mengusulkan ke Pemkot saya agar dibuat Raperda yang mewajibkan setiap bangunan memiliki penampungan sementara air hujan/ dan peresapan. Penampungan tersebut bisa di atas/sekaligus atap bangunan atau di bawah tanah, dimana ukuran/kapasitasnya disesuaikan dengan luas lahan yang dibangun.

    Komentar oleh Anonim — April 25, 2013 @ 2:54 pm

  2. Ini konsep yang sangat baik. Kalau setiap rumah membuat sumur resapan sehingga seluruh air hujan bisa diresapkan maka impian untuk Bebas Banjir bisa diwuudkan. Pemda DKI sudah membuat Perda tentang pembuatan sumur resapan. Bahkan IMB baru dilengkapi dengan gambar sumur resapan. Sayangnya kebijakan ini tidak ada tindakan pengawasan pelaksanaannya.

    Bagaimana dengan rumah lama ? Bagaimana Pemda bisa mengajak masyarakat untuk membangun sumur resapan di halaman rumahnya ?

    Komentar oleh Adi Patria — Desember 30, 2013 @ 9:39 am

  3. saya setuju bebas banjir di DKI dengan pembuatan sumur resapan, Anda bisa buka link kami https://www.facebook.com/SumuresapanInjeksiAirHujan

    Komentar oleh djoko gunawan — Agustus 27, 2014 @ 1:53 pm

  4. Pemikiran dari Bpk. Dr. Arie Herlambang, Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), adalah sangat tepat dan perlu dukungan dari semua stake holder kota Jakarta yg kita cintai ini. Jakarta tahun 2005 menurut informasi, mengalami defisit air tanah 6,6jtM3/tahun. Lalu bagaimana mgkn hal ini bisa diatasi apabila pemikirannya adalah “membuang air” saat musim penghujan dgn konsep Banjir Kanal? Apalagi ada pejabat yg mengatakan bhw “Jangan bermimpi” bhw Jakarta akan bebas banjir. Pemikiran pesimistis ini jangan menjadikan kita surut dalam langkah nyata mengatasi masalah banjir. Dengan konsep/pemikiran dari Dr. Arie Herlambang, saya optimis bhw kita bukan saja mampu mengatasi banjir,…namun sekaligus mampu menyediakan air tanah yg cukup bagi warga DKI. Apabila setiap bangunan,…apapun fungsinya, menyediakan kantong2 air di dalam tanah,..maka selesai sdh masalah banjir dan kekeringan di DKI dan daerah manapun yg mengalami hal yg sama. Saya telah membuktikan dengan membuat sumur2 resapan (tanpa batu kali dan ijuk) di rumah saya dan meresapkan setiap tetes air hujan ke dalam tanah dihalaman rumah saya. Hasilnya adalah bhw sumur bersih saya tidak mengalami kekeringan disaat musim kemarau panjang ini. Ayo kita buktikan bhw kita adalah bangsa besar dan selalu optimis mampu mengatasi permasalahan yg ada dgn cara yg baik. Alam dan lingkungan hidup kita membutuhkan “PIONIR2” UNTUK BERANI MEMULAI….DAN PEMIMPIN2 YG MENDUKUNG DGN PIKIRAN YG OPTIMIS.
    Salam Inovasi,
    Zantar (Boy) H. Ambadar

    Komentar oleh Zantar H. Ambadar — September 18, 2015 @ 8:10 am

  5. Tepat sekali pendapat tersebut. Banyak tempat/kota yg selalu mengalami banjir disaat musim penghujan. Komentar2 yg muncul adalah sangat klasik,…..”Sistim drainase kurang baik”. Banyak ahli Geologi Indonesia yg pola berfikirnya adalah sama,…yaitu bagaimana caranya memperbaiki sistim drainase. Bagaimana caranya meluruskan sungai2 yg oleh alam dibuat berkelok-kelok. Setahu saya, hanya satu Hydro Geologist yg berfikir bahwa jalan keluar dari persoalan ini adalah dengan “Menyimpan air hujan di dalam tanah”. Dia adalah Ir. Fatchy Muhammad,..Geolog jebolan ITB 1973. Mungkin beliau adalah satu2nya Geolog yg tidak sependapat dgn Mahaguru Geolog Prof Belanda…..yg menjadi panutan kebanyakan “murid” jurusan Geologi. Prof Belanda ini punya konsep “Buang”,…bukan “Simpan”.

    Ingat,..disaat musim kemarau, banyak tempat yg mengalami kekeringan,…walau menjadi langganan banjir saat musim penghujan. Apakah konsep “Membuang” tersebut masih relevan?
    Mengingat kebutuhan akan air tanah adalah merupakan kebutuhan vital masyarakat,…maka konsep “Menyimpan air hujan” di dalam tanah dalam bentuk kantong2 air atau sumur resapan adalah cara terbaik. Tinggal sistim sumur resapan apa yg murah, cepat pembuatannya, effisien dan aman.

    Langkah individu2 yg mulai membuat langkah “Menyimpan” harus dihargai,…sekecil biopori pun pasti bermanfaat.

    Saya sendiri membuat beberapa sumur resapan di rumah saya di kota Bogor,…menampung seluruh air hujan yg jatuh dihalaman dan mendapat manfaat langsung, yaitu sumur bersih saya tidak berkurang saat kemarau panjang ini. Saya mendisain rumah TANPA DRAINASE,…tapi kantong2 air,…..dan ini berhasil. Tidak satu tetespun air hujan yg mengalir keluar halaman,…tapi seluruhnya masuk kedalam kantong air/ sumur resapan tsb. Lebih murah,…lebih bermanfaat.

    Saya himbau kepada seluruh masyarakat untuk mulai membuat,…bukan krn peraturan,..namun karena kesadaran dan karena kebutuhan kita semua. Ayo kita mulai CINTA AIR.

    Salam inovasi

    Komentar oleh Zantar H. Ambadar — September 20, 2015 @ 8:16 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: