BebasBanjir2015

Chay Asdak

Membangun Gerakan Massal Pemanenan Air Hujan

Chay Asdak

DARI segi klimatologis, sebagian besar wilayah Indonesia memiliki curah hujan cukup besar. Namun, tingginya laju pertambahan penduduk dan kurangnya kesadaran lingkungan, menyebabkan wilayah yang secara alamiah tidak kekurangan air ini mengalami persoalan sumber daya air. Terjadilah banjir di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau.

Persoalan sumber daya air tidak hanya menyulitkan penduduk di daerah yang memiliki curah hujan sedikit, tetapi juga di perkotaan dengan curah hujan cukup besar seperti Cekungan Bandung.

Oleh karena itu, selain penanggulangan makro dengan memperbaiki kembali lingkungan yang rusak secara menyeluruh, perlu upaya mikro jangka pendek yang bisa membantu masyarakat mengatasi kelangkaan sumber daya air ini.

Salah satu alternatif yang ditawarkan-terutama untuk masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap sarana air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)-adalah pemanenan air hujan. Selain membantu penyediaan air bagi kelompok masyarakat marjinal terutama pada musim kemarau, jalan keluar ini juga mengurangi risiko terjadinya banjir.

Pemanenan air hujan (rain water harvesting) yang disertai pembuatan sumur resapan (recharge well) adalah upaya pencagaran air yang sangat ampuh. Namun, agar pencagaran air dapat menjadi gerakan massal, perlu dilibatkan otoritas kekuasaan, keilmuan, dan keagamaan dengan dukungan informasi dari media massa.

Belajar dari pengalaman keterlibatan perguruan tinggi (PT) dalam proses pembangunan selama ini, untuk membantu masyarakat diperlukan pergeseran paradigma peran PT. Kalau dulu PT hanya bertindak sebagai konsultan yang menyumbangkan pikiran secara konseptual (think tank) kini harus bergeser ke keterlibatan langsung mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Perguruan tinggi diharapkan lebih mengedepankan fungsi pengabdian pada masyarakat yang selama ini kurang memperoleh perhatian. PT harus mampu memberi contoh dan terlibat langsung di lapangan bersama masyarakat. Semangat partisipatif inilah yang seharusnya dibangun bersama sehingga gerakan pencagaran air (mencakup pemanenan air dan sumur resapan) dapat lebih berhasil dan meluas di masa mendatang.

Lokasi pemanenan

Pemanenan air hujan lazim dilakukan di daerah dengan curah hujan kurang dari 700 milimeter (mm) per tahun, misalnya di Afrika atau Indonesia bagian timur. Di daerah-daerah tersebut, masyarakat perlu menyimpan air untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau. Cara yang biasa dilakukan adalah pemanenan dan penyimpanan air selama musim hujan. Metodenya bisa bervariasi tergantung kondisi ekonomi, fisik, dan budaya setempat.

Pertanyaannya kemudian, apakah daerah-daerah lain di Indonesia dengan curah hujan cukup tinggi, Cekungan Bandung misalnya, juga memerlukan pemanenan air?

Seperti diketahui, curah hujan di Cekungan Bandung di atas 2.000 mm per tahun. Dari segi curah hujan, memang daerah ini merupakan “surga” yang patut disyukuri. Namun, persoalannya, apakah air yang melimpah itu mendatangkan manfaat atau sebaliknya?

Sangat disayangkan bahwa potensi air yang besar ini masih belum didayagunakan optimal, bahkan cenderung menimbulkan musibah dalam bentuk banjir di musim hujan. Hal ini terjadi terutama karena air hujan lebih banyak menjadi air permukaan yang mengalir di selokan dan sungai. Air hujan yang meresap ke dalam tanah sangat sedikit karena daerah tangkapan air telah terganggu.

Secara mikro, berkurangnya daerah resapan inilah yang perlu intervensi dalam bentuk pemanenan air hujan dan sumur resapan. Dengan cara ini, jumlah air hujan yang masuk ke selokan dan sungai berkurang sehingga risiko banjir turun dan menambah pasokan air tanah.

Pemanenan air hujan juga dilakukan di negara maju seperti Jepang. Gedung olahraga Sumo Kokugikan di Tokyo dengan luas atap 8.400 meter persegi telah lama dimanfaatkan memanen air hujan guna mencukupi kebutuhan mandiri air di gedung olahraga megah tersebut.

Menyediakan air bersih

Selain ramah lingkungan pemanenan air hujan dapat menjadi jalan keluar atas permasalahan air bersih bagi masyarakat marjinal di perkotaan. Kantung-kantung padat penduduk miskin di kota-kota besar di Indonesia, dapat menjadi lokasi uji coba teknik pemanenan air hujan untuk menjawab permasalahan air bersih.

Mahasiswa pascasarjana dari berbagai PT bisa didorong mengambil tugas akhir yang berkaitan dengan aspek pemanenan air hujan sehingga mereka dapat mendiskusikan bersama masyarakat lokal bagaimana rancangan sistem pemanenan air hujan yang sesuai.

Hasil kajian akan menunjukkan bagaimana rancangan penampung (collector), penyalur (conveyor), dan penyimpan (storage) yang sesuai termasuk pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan pemanfaatan air yang dipanen.

Bagi warga kelas menengah ke atas yang peduli efisiensi dan lingkungan, sistem pemanenan air hujan dapat mengacu seperti pada Gambar 1. Di situ ditunjukkan bagaimana proses dan mekanisme pemanenan dan pemanfaatan air hujan.

Ide dasar sistem pemanenan air hujan sebenarnya sederhana yaitu menampung  air hujan melalui atap rumah, mengalirkan ke bak penampung, dan memanfaatkannya untuk berbagai keperluan rumah tangga. Adapun untuk konsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan.

Pertama, proses pemanenan air hujan tidak memungkinkan air hujan berinteraksi dengan tanah sehingga air yang dihasilkan umumnya miskin mineral tanah yang dibutuhkan manusia. Misalnya kalsium, magnesium, dan kalium.

Kedua, tingkat pencemaran udara dari industri dan transportasi semakin meningkat sehingga di kebanyakan kota besar telah terjadi hujan asam.

Agar air tidak tercemar, perlu pula diperhatikan kemungkinan pencemaran dari bahan atap rumah yang digunakan sebagai penampung air hujan. Bahan atap yang mengandung asbes dan logam berat (Hg, Cr, Pb, Cd, Cu) sebaiknya dihindari.

Berikut ini adalah besarnya potensi hasil panenan air hujan tahunan untuk rumah tipe 50 meter persegi di daerah dengan curah hujan 2.000 mm per tahun. Setelah mempertimbangkan faktor koreksi atap terhadap bangunan dan faktor koreksi untuk curah hujan efektif, potensi panenan air adalah sekitar 140.000 liter per tahun.

Dengan asumsi kebutuhan air bersih 100 liter tiap orang per hari, rumah tipe 50 dapat menyediakan air bersih untuk empat orang. Untuk keluarga dengan ukuran rumah lebih kecil, sistem pemanenan air hujan dapat dilakukan secara kolektif melibatkan beberapa keluarga.

Gerakan massal

Agar kegiatan pencagaran air dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan, harus ada upaya menjadikannya suatu gerakan massal. Untuk itu diperlukan peran nyata otoritas kekuasaan, otoritas keilmuan, dan otoritas keagamaan.

Peran otoritas kekuasaan, selain melalui instrumen regulasi (perda) adalah melalui contoh nyata. Oleh karena itu, gedunggedung perkantoran eksekutif dan legislatif bisa menjadi proyek percontohan sistem pemanenan air dan sumur resapan.

Dalam studi Kajian Lingkungan Strategik Kawasan Malioboro oleh PPSDAL-Lemlit Unpad (2002), salah satu rekomendasinya adalah memanfaatkan bangunan Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai percontohan sistem pemanenan air hujan.

Hasil perhitungan menunjukkan, dengan luas keraton 23.680 meter persegi dan curah hujan 2000 mm per tahun, potensi air hujan yang dapat dimanfaatkan adalah 63.950 meter kubik per tahun. Dengan asumsi kebutuhan air di atas, potensi air hujan yang dipanen akan mencukupi kebutuhan 1.750 orang. Dengan catatan, keseluruhan bangunan dimanfaatkan.

Alternatif lain bisa saja hanya sebagian bangunan keraton yang dimanfaatkan. Esensinya adalah memanfaatkan wibawa dan kekuasaan Sri Sultan untuk menggerakkan masyarakat mencagar air. Hal yang sama juga dapat dilakukan di kampus-kampus perguruan tinggi sebagai otoritas keilmuan.

Otoritas keagamaan melalui mesjid, gereja, kelenteng, dan tempat ibadah lainnya juga dapat memainkan peran nyata.

Pamor pesantren-pesantren kondang, misalnya Pesantren Daarut Tauhid yang dipimpin Aa Gym, akan semakin mencorong apabila mampu menunjukkan citra pesantren ramah lingkungan dengan membuat sistem pengadaan air bersih mandiri melalui teknik pemanenan air hujan. Dengan cara ini, air untuk keperluan ibadah bagi jemaah yang begitu banyak tidak lagi tergantung pada PDAM atau air tanah sehingga air tanah dapat dilestarikan.

Chay Asdak Peneliti PPSDAL dan Sekretaris Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran
Sumber: Kompas, 2 Maret 2003

2 Komentar »

  1. apakah dalam ijin membangun bangunan ada syarat untuk membuat sumur resapan air bagi bangunan di perkotaan. Dengan adanya sumur resapan air dapat mengurangi volume limpasan pada saat intensitas hujan tinggi dan juga akan menjadi pencegaran air.

    Komentar oleh Anonim — April 27, 2011 @ 1:06 pm

  2. Setuju, Pak. Jika semua orang sadar memanen air di saat hujan melalui sumur resapan, maka Sumber Daya Air dapat termanfaatkan dengan baik. Persoalan ini harus dilakukan oleh semua manusia, tanpa kecuali, dan pemerintah sebagai motornya. Air yang dibiarkan mengalir di atas permukaan justri menjadi bencana bagi kita. Di musim hujan air mengalir deras dan terbuang sia-sia, sementara di musim kemarau, manusia mengalami kekurangan air. Padahal Allah swt menurunkan hujan itu sudah dengan ukurannya.

    Komentar oleh Sukadi Negari — Maret 31, 2012 @ 10:41 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: