BebasBanjir2015

Nyoto Santoso

MENCARI SOLUSI BANJIR DI JAKARTA

Oleh: Nyoto Santoso

Sumber: http://www.ahmadheryawan.com/Harian Seputar Indonesia, 22 Januari 2009,

Ternyata Gubernur Fauzi Bowo, yang waktu kampanye mengaku sebagai ahlinya Jakarta, tak mampu mengantisipasi banjir di Jakarta.Tiap tahun, di bulan Januari dan Februari, ritual banjir di Jakarta nyaris tak berubah.

Daerah-daerah yang tenggelam pun nyaris tak berubah. Penyataan pejabat DKI juga nyaris tak berubah: “akan berusaha keras mengantisipasi datangnya banjir agar Jakarta tidak tenggelam.” Hasilnya juga tak berubah: Jakarta tetap tenggelam seperti tahun-tahun sebelumnya.

Melihat ritual banjir di Jakarta yang nyaris tak berubah dari tahun ke tahun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampaknya kesal. Presiden mempertanyakan kenapa ruang terbuka hijau (RTH) yang berfungsi sebagai resapan air di Jakarta terus menyusut. SBY tersadar bahwa rupanya apa yang dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI untuk mengantisipasi banjir hanya berjalan di tempat.

Ini bukan berarti Pemda DKI tidak bekerja serius untuk mengatasi banjir. Kerjanya serius sekali, tapi sayang geraknya kalah cepat dengan gerak para pendatang yang merusak program-program antisipasi banjir. Kasusnya hampir sama dengan problem jumlah penduduk DKI Jakarta. Yang datang ke Jakarta jauh lebih banyak ketimbang yang keluar dari Jakarta sehingga hasilnya penduduk Jakarta bertambah terus. ***

Berdasarkan hasil sejumlah penelitian, penyebab banjir di Jakarta adalah sebagai berikut. Pertama, perubahan peruntukan lahan yang semula untuk RTH kini menjadi ruang yang tertutup bangunan (RTB).Dampaknya, alih-alih tumbuh hutan kota untuk resapan air,yang muncul hutan beton yang menahan air.

Sejak 2000, misalnya, RTH Jakarta sudah di bawah 10%. Idealnya, minimum 27,5%. Di pihak lain, daerah-daerah hulu sungai yang mengalir di Jakarta,yaitu daerah sekitar Bopunjur (Bogor, Puncak, Cianjur) juga mengalami konversi lahan dari kawasan RTH menjadi kawasan RTB yang sangat mengkhawatirkan. Akibatnya, air hujan yang jatuh di Bopunjur tak bisa terserap dan membanjiri Jakarta.

Kedua,sempadan tiga belas sungai yang ada di Jakarta makin menyempit. Sempadan sungai yang seharusnya steril dari bangunan, banyak yang berubah jadi perumahan. Sampai 2005 saja, misalnya, 60% sempadan sungai-sungai di Jakarta telah berubah menjadi bangunan perumahan dan pertokoan penduduk. Kondisinya sekarang pasti lebih parah. Banjir di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung adalah akibat menyempitnya lahan sempadan tersebut.

Ketiga, berkurangnya situ atau rawa di Jabodetabek. Di kawasan Depok saja, dari 60 situ yang ada kini tinggal enam buah. Menurut Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, di Jabodetabek dulu, tahun 1960-an, ada 218 situ. Kini tinggal 50-an saja.Kawasan situ yang sangat penting fungsinya untuk menampung limpahan air hujan, baik di daerah hilir maupun hulu Jakarta, kini telah berubah menjadi perumahan, pertokoan, dan lain-lain.

Keempat, morfologi tanah wilayah Jakarta relatif rendah, rata-rata, hanya 10 meter di atas permukaan air laut. Bahkan belakangan kondisinya lebih rendah lagi karena penyedotan air tanah yang berlebihan. Di sebagian wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, contohnya, permukaan tanahnya sudah lebih rendah dari permukaan laut.

Kondisi ini diperparah dengan posisi Jakarta yang berada di depan kaki morfologi pegunungan yang terletak di Bopunjur. Ini yang mengakibatkan Jakarta mau tak mau harus menerima limpahan air dari wilayah pegunungan.

Kelima,sampah rumah tangga yang tidak terurus. Setiap hari, di Jakarta ada tambahan 10.000-an ton sampah, yang ironisnya 30% di antaranya dibuang ke sungai dan got-got yang ada di Jakarta.Tumpukan sampah inilah yang sering memacetkan aliran air drainase di perkotaan yang mengakibatkan banjir.

Keenam, hilangnya lahan basah seperti hutan kota dan hutan mangrove yang berfungsi sebagai resapan dan reservoir air.Lahan hutan kota dan hutan mangrove telah banyak berubah menjadi lahan real estat dan pertokoan.

Ketujuh, curah hujan Jakarta dan sekitarnya terkadang sangat tinggi. Wilayah Bogor yang merupakan wilayah dengan curah hujan yang amat tinggi dan berada di “atas Jakarta” menjadikan Jakarta sebagai tempat penampungan limpahan air hujan dari Bogor.

Kedelapan,kenaikan suhu bumi (global warming) yang mengakibatkan pencairan es abadi di kutub. Ini pun menimbulkan peningkatan permukaan air laut.Wilayah Jakarta yang berada di dataran rendah mudah sekali terpengaruh oleh naiknya permukaan air laut. Dalam kasus banjir belakangan ini Jakarta dihantam air bah, baik yang berasal dari pegunungan di Bopunjur maupun yang berasal dari pantai utara (rob). ***

Melihat kondisi banjir dan penyebabnya di atas yang sebenarnya tanggulangi, maka solusi mengatasi banjir di Jakarta harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu.Pembuatan banjir kanal timur (BKT), misalnya, hanya bisa mengatasi sedikit masalah banjir di Jakarta.Harus ada program yang menunjang pembangunan megaproyek itu secara paralel.

Pemda DKI Jakarta perlu juga memikirkan bagaimana menghidupkan kembali situ-stu yang rusak atau mati.Bila perlu,Pemda DKI membuat situ-situ baru di wilayah tertentu seperti dilakukan Pemda Kota Metropolitan Bangkok,Thailand, yang telah berhasil menghidupkan kembali situsitu di sana.

Pemda DKI Jakarta juga bisa mengubah secara radikal RTH yang ada untuk mengatasi banjir.Misalnya dengan membuat hutan mangrove di sepanjang pantai utara.Hutan mangrove yang ada di Jakarta sekarang ini jumlahnya masih terlalu sedikit dibanding problem daerah serapan air hujan, penampungan air, dan penangkalan ombak atau rob air laut.

Jangan sampai hutan mangrove yang ada tersebut malah diserobot peruntukannya menjadi perumahan. Selain itu, sebetulnya Pemda DKI Jakarta juga sudah memiliki peraturan daerah yang amat bagus untuk mengatasi banjir, yaitu peraturan daerah tentang keharusan membuat sumur resapan untuk satu satuan luas tertentu bangunan gedung atau rumah.

Sayangnya peraturan tersebut tidak dilaksanakan secara serius dan banyak pihak yang melanggarnya. Padahal, sumur resapan ini sangat besar manfaatnya untuk resapan air dan menjaga stabilitas volume air tanah Jakarta yang terus berkurang. Jika masalah sumur resapan diprioritaskan dan ditegakkan hukumnya, niscaya banjir besar di wilayah-wilayah seperti Cawang, Gatot Soebroto, dan Kota, bisa dikurangi.

Apalagi jika hutan kota, situ, RTH, dan hutan mangrove dibenahi, diperbaiki, diperluas, dan diperhatikan secara serius, niscaya DKI Jakarta akan terbebas dari banjir.(*)

Penulis: Dosen Fakultas Kehutanan IPB, BogorKetua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Jakarta

Kapan Jakarta Bebas Banjir?

Oleh Nyoto Santoso

Sumber: http://www.pelita.or.id/, 9 Oktober 2010

Sampai minggu ketiga April 2009, sebagian wilayah Jakarta masih terus direndam banjir. Sedikit saja hujan lebat, banjirlah sejumlah kawasan. Bahkan daerah Petogogan, Jaksel yang dulu tak pernah banjir, 5 tahun terakhir terkena banjir terus menerus. Melihat mudahnya Jakarta diterjang banjir, masyarakat pun makin ragu, apakah Pemda DKI mampu mengatasi banjir. Padahal janjinya, waktu kampanye Pilgub DKI, dua tahun lalu, Gubernur Fauzi Bowo bisa mengatasi banjir

Namun belakangan, dalam pelbagai kesempatan Fauzi menyatakan Jakarta tak akan bebas banjir kecuali anggarannya mencukupi, Rp 20 triliun. Luar biasa! Fauzi juga ragu, kalau proyek BKT (Banjir Kanal Timur) bisa mengatasi banjir. Kalau gubernurnya sendiri ragu, lalu bagaimana rakyatnya?

Jakarta Tenggelam?

Berbagai media ibukota, awal Maret 2009 lalu memberitakan: “Jakarta Diramalkan Tenggelam pada 2012”. Berita tersebut merupakan rangkuman dari pernyataan Dr. Firdaus Ali, peneliti seniot Teknik Lingkungan Universitas Indonesia yang mengungkapkan betapa berbahayanya penyedotan air tanah secara semena-mena di Jakarta. Akibat penyedotan air tanah yang berlebihan itu, permukaan tanah di ibu kota turun, sehingga lama kelamaan berada di bawah permukaan laut. Bayangkan, setiap tahun 320 juta meter kubik air tanah disedot dari perut bumi Jakarta. Padahal, berdasarkan sebuah studi lingkungan yang luas, maksimal air yang bisa disedot dari wilayah DKJ Jaya hanya 38 juta meter kubik. Ini berarti tingkat penyedotan airnya hampir sepuluh kali lipat dari yang seharusnya.

Dengan terus berkembangnya kota dan makin banyaknya bangunan yang berdiri, serta makin sedikitnya lahan terbuka hijau yang berfungsi sebagai daerah resapan air, kondisinya lebih parah lagi di masa depan. Sebab bukan hanya jumlah air yang disedot dari perut Jakarta makin besar, tapi juga air yang bias masuk ke dalam perut makin sedikit. Itulah sebabnya, makin lama permukaan tanah Jakarta makin cepat turun.

Berdasarkan data yang dikemukakan Dr. Ali Firdaus, rata-rata penurunan permukaan tanah di Jakarta 10 sentimeter atau sepersepuluh meter tiap tahun. Di Jakarta Barat, misalnya, selama 11 tahun terakhir, permukaan tanah turun 1,2 meter. Di wilayah Kemayoran dan Thamrin, Jakpus, penurunannya 80 sentimeter dalam delapan tahun terakhir. Jika hal ini dibiarkan, ungkap Dr. Ali Firdaus, Jakarta akan tenggelam. Tahun 2012, yang tinggal 3 tahun lagi dari sekarang, adalah masa-masa amat kritis, di mana permukaan tanah di Jakarta sebagian besar sudah berada di bawah permukaan laut. Jika ini terjadi, kedatangan hujan dan rob (air pasang) laut yang biasanya muncul antara bulan Januari sampai Februari, bisa menenggelamkan sebagian besar wilayah Jakarta.

Ramalan tenggelamnya kota Jakarta sebetulnya sudah lama menjadi perbincangan luas dan keprihatinan bersama di kalangan pemerhati lingkungan. Namun demikian, perbincangan dan keprihatinan itu timbul tenggelam karena desakan dan daya tarik pertumbuhan ekonomi di Jakarta. Pengungkapan kecemasan tentang nasib Jakarta di tahun 2012 oleh Dr Ali Firdaus di atas seperti menghentak kesadaran kita kembali, betapa semua pihak harus berupaya keras untuk menyelamatkan ibu kota Jakarta.

Sebetulnya hampir tiap tahun, kita dingatkan oleh “banjir” tentang perlunya segera membenahi lingkungan Jakarta. Banjir besar tahun 2002 dan 2007 lalu, misalnya, yang nyaris menenggelamkan seluruh kota Jakarta, misalnya, diperkirakan menyebabkan kerugian sebesar delapan triliun rupiah. Ini baru kerugian materi akibat mandegnya denyut ekonomi Jakarta. Kerugian nonmaterinya pasti lebih besar lagi. Dalam istilah ekonomi lingkungan, total economic value (TEV) dari kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian alam, bisa jauh lebih besar dari nilai uang yang diperoleh dari pembangunan fisik dan ekonomi tersebut. Melihat kondisi inilah, semua stakeholder Jakarta harus berpikir jauh ke depan: bagaimana menyelamatkan Jakarta yang menjadi simbol eksistensi negara tersebut.

Yang pertama-tama perlu mendapat perhatian adalah, Jakarta sebetulnya merupakann kota air. Hal ini bisa dilihat dari aspek eco-geografisnya. Jakarta terletak di bawah Bopunjur (Bogor Puncak dan Cianjur) – sebuah kawasan yang mempunyai curah hujan tinggi dan menjadi asal muasal berbagai sungai yang mengalir ke wilayah Jakarta. Karena itu, secara alami, di zaman dulu, Jakarta terkenal sebagai wilayah yang mempunyai banyak situ atau rawa. Sampai kini pun, daerah yang menggunakan nama “rawa” masih banyak sekali di Jakarta. Misalnya, rawajati, rawabokor, rawasari, rawa mangun, rawa buaya, dan lain-lain. Semua itu menunjukkan bahwa daerah bersangkutan memang dulunya adalah rawa. Di tahun 1960-an, di Jakarta masih ada ratusan rawa yang berfungi untuk menampung air hujan dan limpahan air dari Bopunjur. Rawa-rawa ini telah menyelamatkan Jakarta dari banjir besar, sekaligus penyuplai air tanah di sekitarnya.

Kini rawa-rawa tersebut nyaris hilang. Untuk itu, Pemda DKI, at all cost, seharusnya kembali menghidupan rawa-rawa tersebut. Bila perlu, membangun rawa yang baru karena di lokasi rawa yang lama sulit dibersihkan karena terlalu banyak penduduk dan pemukiman. Rawa umumnya berada di dataran rendah, karena itu pembangunan kembali rawa harus di lokasi yang rendah. Bukan sebaliknya. Saat ini, ada keanehan. Hampir semua daerah resapan hijau berada di permukaan tanah yang tinggi. Mestinya, hal itu dibalik. Wilayah yang rendah untuk lahan terbuka hijau, sedangkan yang tinggi untuk pemukiman. Bila perlu di lahan terbuka hijau itu dibangun rawa-rawa baru, sehingga bisa menjadi penampung limpahan air, baik dari hujan maupun dari limpahan Bopunjur. Karakter geografis Jakarta yang seperti itu, sulit dirubah, kecuali Jakarta pindah lokasinya.

Bung Karno dulu pernah berpikir akan memindah lokasi ibu kota Jakarta ke wilayah yang aman dari banjir. Sayang ide besar Bung Karno itu tak bias diwujudkan oleh para pemimpin sesudahnya. Jakarta kembali menjadi ibu kota negara satu-satunya, sekaligus menjadi kota dagang terbesar di Indonesia. Dua status kota Jakarta inilah yang menjadikan pembangunan dan pembenahan Jakarta sulit berjalan bersama. Di AS, misalnya, ibu kota negara adalah Washington. Kota dagang terbesarnya adalah New York. Sebagai ibu kota, Washington bias dirapikan dan dibuat menjadi kota yang berkarakter sebagai ibu kota Negara. Banyak tanah lapang, banyak taman, banyak lahan terbuka hijau, dan nyaman. Sedangkan New York sebagai kota dagang dibangun sesuai karakter bisnis. Banyak gedung bertingkat dengan lahan yang sangat efisien dari aspek bisnis.

Sekarang bagaimana Jakarta? Inilah sulitnya. Kedua ciri, baik sebagai ibu kota dan kota dagang, sudah terlanjur besar sehingga sulut dipisahkan. Dengan letak geografis Jakarta yang mau tak mau harus menerima banjir kiriman dari Bopunjur dan rob dari pantai utara, mestinya sejak dini, hal itu harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pusat.

Untuk sementara, yang perlu dipikirkan serius, bagaimana menyelamatkan Jakarta dari limpahan air Bopunjur. Jawabnya, itu tadi, harus menghidupkan kembali rawa-rawa yang mati dan membuat rawa baru di daerah yang permukaan tanahnya rendah. Kedua, membuat sejuta sumur resapan untuk menyerap air hujan yang melimpah di Jakarta. Jika membuat sumur resapan yang besar sulit, bisa diatasi dengan membuat biopori yang garis tengahnya 30 cm dengan kedalaman satu meter, asal jumlahnya banyak. Biopori terbukti bisa menjadi sumur resapan mini yang cukup efektif menyerap air hujan. Setiap rumah tangga di Jakarta bisa membuat beberapa biopori di sekitar tempat tinggalnya. Ketiga, untuk mengatasi rob dan intrusi air laut, perlu digalakkan penanaman pohon mangrove di pantai utara Jakarta. Pohon mangrove disamping bisa mengatasi abrasi dan menahan gempuran ombak saat terjadi rob, juga bisa membuat Jakarta makin sejuk. Ini karena daya serap karbon dioksida pohon mangrove dua kali lipat dibanding pohon biasa.

Untuk sementara, ketiga upaya tersebut, sebetulnya bisa dilakukan untuk menyelamatkan Jakarta dari banjir dan amblesnya tanah yang lebih parah. Upaya-upaya lain yang lebih komprehensif dan terintegrasi yang terkait dengan dunia bisnis dan pusat pemerintaha, perlu dipikirkan matang untuk mengatasi problem tenggelamnya Jakarta tersebut. Kita bisa membuat Jakarta asri dan indah, asal kita mau melakukannya dengan serius. Jadi Pak Fauzi tak perlu ragu. Asal mau dan kerja keras, Insya Allah Jakarta akan bebas banjir.

Penulis, staf pengajar IPB, Bogor

1 Komentar »

  1. bagus ya, artikelnya!! smg ide2nya dpt b’guna untuk jkt yg bebas banjr..

    Komentar oleh Anonim — November 27, 2011 @ 9:46 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: