BebasBanjir2015

Aspek Teologi

Banjir, Era Nuh hingga Bang Yos

Oleh: Endang Suryadinata

Melihat besarnya banjir di Jakarta dan sekitarnya yang menewaskan 36 orang hingga Selasa (6/2) dan ratusan ribu mengungsi, penulis teringat banjir besar dalam berbagai peradaban umat manusia.

Sejarah dunia, sejarah umat manusia dari zaman dulu hingga saat ini, salah satunya memang selalu ditandai dengan banjir besar. Kita tentu ingat, agama-agama samawi seperti Yahudi,Kristen,atau Islam punya kisah tentang Nabi Nuh yang amat fenomenal.Alkitab,khususnya Kitab Kejadian, menulis bahwa Allah melihat manusia makin lama makin jahat, lalu memutuskan untuk memusnahkannya kecuali Nuh dan keluarganya, serta binatang-binatang darat yang turut dalam bahtera Nuh yang telah dibuat Nuh sebelumnya. Dalam Alquran, juga ditampilkan dialog yang menarik antara Nabi Nuh dan anaknya:

”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat jauh terpencil: ”Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orangorang yang kafir.” Anaknya menjawab: ”Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: ”Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS Huud: 42-43).

Yang mengherankan, kisah air bah seperti itu juga ada dalam berbagai peradaban. Jauh sebelum kisah Nabi Nuh beredar,orang Yunani juga sudah punya mitologi bahwa Dewa Zeus memutuskan untuk memusnahkan manusia yang menjadi semakin sesat, dengan sebuah banjir besar. Hanya Deucalion dan istrinya, Pyrrha, yang selamat dari banjir, karena ayah Deucalion sebelumnya telah menyarankan anaknya untuk membuat sebuah kapal. Pasangan ini mendarat di Gunung Parnassis sembilan hari setelah menaiki kapal. Dalam sejarah Tiongkok kuno, juga dikisahkan tentang seseorang yang bernama Yao bersama tujuh orang lain, atau Fa Li bersama istri dan anakanaknya, yang selamat dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu layar.

Disebutkan,seluruh dunia hancur. Air menyembur dan menenggelamkan semua tempat. Akhirnya, air pun surut. Sebelum datangnya agama-agama samawi, orang Sumeria atau Babilonia (Irak kuno) juga sudah punya kisah senada dengan kisah Nabi Nuh yang disebut epik atau kisah Gilgamesh.Nabi Nuh dalam versi mereka bernama Utnaphishtim, yang juga mendapat perintah secara supernatural untuk membangun bahtera agar dapat menyelamatkan diri dari banjir raksasa.

Dalam cerita versi Sumeria ini, juga terdapat hal yang sama dengan Nuh, yakni Utnaphishtim melepas burung untuk mengetahui apakah banjir telah surut atau belum, persis seperti yang dilakukan Nabi Nuh. Hebatnya, kisah Gilgamesh dan Nabi Nuh disatukan dalam benang merah bahwa di kota Ur,Erech di Sumeria yang saat ini dikenal sebagai ”Tall Al Uhaimer” atau Kota Shuruppak di sebelah selatan Mesopotamia, yang saat ini bernama ”Tall Far’ah” menyimpan jejakjejak nyata bahwa dulu pernah terjadi banjir di kawasan tersebut, seperti disimpulkan arkeolog Erich Schmidt dari Universitas Pennsylvania antara tahun 1922–1930.

Jadi kota-kota di Irak kuno, yang dicatat sejarah sebagai kawasan berperadaban tinggi pertama di dunia, karena di sana dimulai keberadaan tulis menulis dan agama pertama, dalam satu kurun waktu tertentu ternyata pernah disapu banjir besar seperti tampak dari struktur tanah dan temuan hewanhewan laut. Quran atau Alkitab memang menyebutkan, gara-gara manusia mulai menyimpang jauh dari Sang Pencipta, maka banjir besar didatangkan sebagai hukuman atas kota-kota besar di Irak kuno tersebut. Bahkan, kepercayaan semacam ini juga masih kita dengarkan hingga sekarang di negeri kita. Banjir besar yang melanda Jakarta konon memang sebuah hukuman besar karena di ibu kota RI itu korupsi dan kemaksiatan sudah menjadi hal yang biasa.

Praksis politik dan bisnis yang menghalalkan semua cara sudah susah dikendalikan. Tentu kepercayaan semacam itu bisa dinilai simplistis, tapi kita tidak bisa menghakimi kepercayaan seperti itu. Tapi sudahlah.Yang lebih penting kita ketahui, sejak era kolonial Belanda, tepatnya di awal abad ke-20, sudah ada upaya melawan banjir secara terpadu di Jakarta yang ketika itu bernama Batavia. Dalam konteks ini, kita mengenal Prof Dr Herman van Breen, yang namanya tak bisa dipisahkan dari perjuangan awal di Jakarta untuk melawan. Dialah yang mengepalai dan menyusun rencana pencegahan banjir, yang dibentuk kantor dinas pengairan pemerintah kolonial Belanda pada 1918. Itu dilakukan setelah Batavia alias Betawi,sebutan Jakarta waktu itu, dilanda banjir besar yang merenggut banyak nyawa warganya.

Van Breen bersama timnya menyusun konsep yang sistematis untuk menanggulangi banjir di seluruh wilayah Batavia yang luasnya 2.500 hektare. Setelah melakukan mengkaji berbagai penyebabnya,Van Breen berhasil menyusun strategi pencegahan banjir yang dinilai cukup berhasil untuk ukuran masa itu.Van Breen mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air yang masuk kota.Karena itu, perlu dibangun saluran kolektor di pinggir selatan kota untuk menampung limpahan air, yang selanjutnya dialirkan ke laut lewat sisi barat kota.Saluran kolektor itulah yang kini dikenal sebagai Banjir Kanal Barat, yang membelah Jakarta mulai dari Pintu Air Manggarai sampai ke Muara Angke.

Namun sebagai ibu kota negeri ini sejak 1945, perluasan kota seperti menjadi keniscayaan.Bayangkan luas Jakarta sekarang mencapai 65 ribu hektare. Luas Jakarta sudah puluhan kali lipat dibandingkan luas di masa Van Breen. Luasnya kota tentu mengundang kompleksitas permasalahan sehingga berujung pada siklus banjir lima tahunan yang menenggelamkan dan melumpuhkan Jakarta. Yang menyedihkan seiring surutnya banjir, justru mulai marak banjir saling menyalahkan. Bang Yos menyalahkan besarnya banjir kiriman dari Bogor, sementara banyak pihak juga menyalahkan Bang Yos yang membiarkan reklamasi pantai utara Jakarta dan beberapa perumahan, seperti Perum Indah Kapuk dan Kelapa Gading.

Banyak mal, apartemen, dan berbagai gedung dengan pertimbangan bisnis membuat daerah resapan air hujan kian berkurang. Para pengelola kota, meminjam istilah pakar hukum lingkungan Unair Suparto Wijoyo, jika tidak punya kepekaan atas lingkungan memang bisa menjadi predator bagi segenap warga kota. Ini senada dengan pendapat Prof John Rennie Short dalam buku Urban Theory, A Critical Assessment (2006) bahwa kekurangpekaan para pengelola kota negara berkembang atas masalah lingkungan bisa memunculkan ”wounded cities” atau kota-kota yang terluka. Warga Ibu Kota hari-hari ini merasakan sendiri luka akibat banjir besar ini. Luka akibat banjir itu jelas tidak boleh dibiarkan menganga terus atau terulang lagi setiap lima tahun. Jadi, solusi harus tetap dicari.

Dalam hal ini,boleh jadi kita perlu belajar dari kota-kota di Belanda yang letaknya lebih rendah dari permukaan air laut, tapi di sana tidak pernah ada banjir besar, karena sistem drainase dan kanal sudah diatur sedemikian rupa sehingga datangnya air yang melimpah seperti di musim hujan tidak menyebabkan banjir. Jadi jangan sampai kita menyalahkan hujan,karena sejak zaman dahulu di negeri tropis seperti Indonesia, hujan memang selalu turun setiap tahun dalam kurun waktu tertentu. Kita ingat pada hari ulang tahun ke- 475 Jakarta, 22 Juni 2002 lalu, Bang Yos meresmikan dimulainya pembangunan saluran air sepanjang 23,6 km yang disebut Banjir Kanal Timur (BKT) untuk meniru Banjir Kanal Barat ala Van Breen.

Sayang, pembangunan BKT terkendala pembebasan tanah, padahal BKT merupakan salah satu solusi yang memungkinkan untuk mengatasi banjir di Jakarta.Jika BKT ini tidak terealisasi dalam waktu dekat,bisa dipastikan banjir akan selalu terulang sebagaimana sejarah selalu berulang. Maka pemindahan Jakarta ke tempat lain, rasanya menjadi wacana yang menarik.(*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/banjir-era-nuh-hingga-ban

ENDANG SURYADINATA Peminat politik dan sejarah, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam
Sumber: Koran Sindo,  06 FebRUARI 2007

Teologi Bebas Banjir

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Fenomena banjir telah menjadi ”ritual” tahunan di negeri ini. Ironisnya, kita semua, terutama para pemimpin bangsa yang memiliki kewenangan dalam proses pengambilan kebijakan publik dan politik terlihat kurang memiliki kesadaran untuk mengatasi masalah banjir yang sangat membahayakan ini.

Ketika hujan deras semalam suntuk pada Kamis (1/2), ibu kota Jakarta dan sekitarnya banjir dan menyebabkan terganggunya aktivitas perekonomian dan berbagai aktivitas lainnya. Tetapi, sekali lagi, mengapa tidak membuat para pemimpin bangsa ini sadar apa yang menjadi sebab utama terjadinya banjir itu dan berupaya untuk mengatasinya secara lebih efektif dan permanen.

Tulisan ini hendak memotret aspekaspek teologis (khususnya dalam perspektif Islam) yang memiliki keterkaitan baik secara langsung maupun secara tidak langsung dengan sebab utama terjadinya banjir itu. Saya berkeyakinan aspek teologis ini memiliki keterkaitan historis dan psikologis terhadap berbagai problematika kehidupan umat manusia termasuk fenomena banjir itu.

Oleh karena itu, kajian aspek teologis atas persoalan ini menjadi penting dan menemukan relevansinya seiring dengan fenomena banjir yang terus terjadi dan belum ada tawaran solusi yang memadai hingga saat ini. Pertanyaan yang layak dikemukakan di sini adalah, mengapa banjir itu terus terjadi tanpa ada tawaran solusi yang mampu mengatasi atau paling tidak meminimalisasinya?

Pertama, adalah tidak adanya kesadaran teologis umat manusia untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Padahal, aspek ini merupakan persoalan yang bersifat substansial dalam kajian teologi agama dan memiliki korelasi paralel dengan fenomena kerusakan alam semesta, termasuk masalah banjir ini tetapi sedikit sekali umat manusia yang menaruh perhatian terhadap masalah ini. Mungkin mereka abai sehingga tidak menyadari bahwa masalah keseimbangan alam semesta sangatlah penting bagi eksistensi masa depan kehidupan umat manusia.

Dapatlah kita bayangkan manakala siang tidak berganti malam dan malam pun tidak berganti siang. Begitu pula halnya dengan pergantian musim hujan dan kemarau dan seterusnya.Tidak adanya kesadaran terhadap fenomena demikian ini telah menyebabkan manusia lalai menjaga keseimbangan alam semesta sehingga kerusakan di muka bumi tidak terhindarkan.Aktor kerusakan itu adalah manusia sebagaimana ditegaskan Tuhan di dalam Alquran, ”Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia ‘’ (al-Ruum: 41).

Kedua, lemahnya pengetahuan geologi (ilmu bumi). Faktanya, akibat umat manusia tidak menjaga keseimbangan alam semesta itu, maka banjir menjadi tidak terhindarkan. Secara geologis, banjir terjadi karena bumi tidak lagi mampu menampung air dari curah hujan yang sangat tinggi. Penyebab utama adalah kian menipisnya daerahdaerah serapan air hujan.Banyak situ di berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya berubah fungsi, disulap menjadi real estate, perumahan-perumahan elite yang tidak ramah lingkungan.

Pohon-pohon ditebangi secara serampangan sehingga daerah persawahan, perbukitan, dan pegunungan menjadi gundul. Akibatnya, bumi dan pepohonan lainnya enggan menghisap air di musim penghujan dan menjadi sangat panas di musim kemarau.Lemahnya pengetahuan geologis ini akibat tidak adanya kesadaran secara teologis bahwa alam semesta ini mesti dijaga keseimbangannya.

Ketiga, lemahnya kesadaran teologis ini telah menggeser tingkat keberimanan seseorang kepada Tuhan yang dapat dilihat dari pola hidupnya yang kurang memperhatikan aspek-aspek kebersihan lingkungan. Padahal,menurut Hadis Nabi, kebersihan itu merupakan sebagian dari sikap keberimanan kepada Tuhan. Faktanya, masyarakat Indonesia pada umumnya tidak menempatkan kebersihan sebagai pola hidup yang utama. Masyarakat sudah terbiasa membuang sampah di sembarang tempat.

Mungkin hal ini terkait dengan lemahnya kebijakan pemerintah dalam manajemen pengelolaan sampah. Implikasinya, bukan saja bisa mendatangkan berbagai jenis penyakit, tetapi banjir menjadi tidak terhindarkan karena saluran air mampet dan seterusnya. Memang harus diakui, konsepsi pendidikan nasional kita terkait dengan pendidikan kesehatan dan lingkungan hidup masih sangat lemah. Lemahnya konsepsi pendidikan kesehatan dan lingkungan hidup ini memiliki korelasi paralel dengan lemahnya daya imajinasi, persepsi, dan kesadaran aspek teologis dalam agama.

Demikian pula halnya dengan pengetahuan ilmu bumi dan seterusnya. Kalau kita perhatikan, masyarakat dalam berbagai stratifikasi sosial di negeri ini memang sudah terbiasa membuang sampah di sembarang tempat. Dari mereka yang masih sekolah taman kanak-kanak hingga mahasiswa di perguruan tinggi bahkan tidak jarang pula kita lihat pejabat negara yang mestinya menjadi contoh ternyata juga membuang sampah sembarangan.Jadi,apresiasi kita terhadap masalah-masalah lingkungan hidup ini sebenarnya cukup kompleks. Belum lagi kalau kita lihat persoalan yang lebih luas seperti penebangan hutan secara ilegal sehingga hutan-hutan kita menjadi gundul dan seterusnya.

Tentu saja kita tidak habis pikir, mengapa para pemimpin bangsa kurang memperhatikan masalah kerusakan ekologis yang sejatinya sangat berbahaya ini. Berpijak pada kerangka pemikiran ini, mengingat persoalan banjir telah kronis, maka proses penanganannya harus dilakukan secara komprehensif. Mesti ada kerangka pemikiran yang sistematis, mudah dipahami dan diaplikasikan dalam pola kehidupan sosial sehari-hari. Akan menjadi lebih baik manakala konseptualisasi-konseptualisasi ini menjadi kerangka acuan kebijakan publik dan politik sehingga menjadi satu kewajiban untuk dipatuhi oleh setiap warga negara. Praksisnya, untuk membumikan gagasan ini, paling tidak ada tiga hal penting yang mendesak untuk segera dilakukan.

Pertama, kerangka pemikiran teologis terkait dengan masalah lingkungan hidup dan budaya hidup bersih korelasinya dengan kesehatan haruslah menjadi prioritas di berbagai jenjang pendidikan nasional.

Kedua, pendidikan ilmu bumi (geologi) harus pula diprioritaskan. Pola hidup yang ramah lingkungan dan budaya hidup bersih mesti menjadi way of life secara lebih ketat dan tegas dalam praktiknya.

Ketiga, mengingat banjir telah menjadi ritual tahunan dan sangat membahayakan, maka sebaiknya secara politik negeri ini segera ditetapkan dalam keadaan darurat banjir. Dengan keadaan darurat banjir ini, setiap kebijakan publik dan politik harus diarahkan untuk mendukung upaya mengatasi terjadinya banjir yang lebih parah dan bahkan menjadi bebas banjir di masa depan.

Persoalannya, adakah kita memiliki kemauan politik (political will) untuk melakukan semua ini. Ini pertanyaan mendasar yang harus dijawab segera guna membumikan optimisme membangun negeri ini dan teologi bebas banjir di masa depan.(*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/teologi-bebas-banjir.html

Prof Dr Nasaruddin Umar, MA,  Guru Besar Univ. Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Sumber: Koran Sindo, 08 FebRUARI 2007

Banjir, Alam, dan Tuhan

Oleh: M Bambang Pranowo

Tak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan di alam.Hukum sebab akibat merupakan sebuah sunnatullah yang tak bisa diganggu gugat. Dalam bahasa Albert Einstein, Tuhan menciptakan alam tidak dengan cara bermain dadu.

Semuanya dibuat dengan penuh perhitungan dan diletakkan dalam kerangka hukum-hukumnya yang adil (seimbang). Dari perspektif itulah kita seharusnya melihat peristiwa banjir di Jakarta, awal Februari ini.Kenapa banjir itu terjadi? Hukum alamkah itu? Apakah banjir Jakarta merupakan kutukan Tuhan?

Mampukah manusia mengendalikan alam? Berbagai pertanyaan di atas tampak menyeruak di masyarakat ketika melihat fenomena banjir yang luar biasa di Jakarta. Banyak orang menganggap banjir besar yang terjadi di Jakarta merupakan laknat Tuhan. Mereka umumnya merujuk banjir zaman Nabi Nuh, ketika Tuhan mengutuk umat Nabi Nuh yang banyak melakukan dosa besar.

Peristiwa banjir Nabi Nuh memang sangat fenomenal dan masih tetap menjadi perbincangan umat beragama sampai sekarang. Alquran dan Injil memang menceritakan banjir zaman Nabi Nuh ini. Alquran juga menceriterakan tentang umat Nabi Luth yang gemar melakukan homoseks dan akhirnya ditimpa gempa dahsyat yang diikuti dengan hujan batu. Namun, apakah banjir zaman Nabi Nuh terjadi semata-mata karena kutukan Tuhan?

Adakah hubungan sebab akibat banjir zaman Nabi Nuh dengan maraknya perbuatan dosa besar saat itu? Adakah hubungan langsung antara maraknya kasus sodomi dan gempa? Inilah yang belum banyak diperbincangkan kaum beragama. Sebab, bukan tidak mungkin, berbarengan dengan maraknya perbuatan dosa itu, marak pula dosa lingkungan yang diperbuat kaum Nuh dan Nabi Luth.

Bukankah memperlakukan alam secara sembarangan sehingga menimbulkan kerusakan di daratan dan di lautan juga merupakan dosa yang juga besar? Dalam konteks ini, penebangan hutan di kawasan Bogor, Puncak, dan Cianjur (Bopuncur) yang tanpa memperhitungkan dampaknya bagi kelestarian lingkungan, begitu pula membuang sampah seenaknya yang berakibat parit-parit tidak berfungsi, jelas merupakan dosa lingkungan.

Akibatnya, ketika terjadi guyuran hujan yang amat deras di kawasan itu, alam tak lagi bisa menampungnya dan banjir pun melanda Jakarta. Jika peristiwa banjir zaman Nuh dan gempa zaman Nabi Luth semata-mata berkaitan dengan maraknya perbuatan dosa, akankah Tuhan kembali mengutuk umat manusia saat ini? Jika ya, kenapa yang dikutuk dengan banjir adalah warga Jakarta––bukan New York atau London––karena di kota-kota itulah paling banyak kaum yang melakukan praktik sodomi dan musrik?

Bukankah gereja-gereja di kedua kota tersebut sudah sering meresmikan perkawinan antara dua pria––yang berarti pelanggaran larangan Tuhan terhadap sodomi? Peresmian perkawinan antarpria tersebut tentunya lebih besar dosanya ketimbang kasus sodomi zaman Nabi Luth yang masalahnya masih bersifat pribadi antarmanusia?

Alam dan Tuhan

Fauzi Bowo,wakil gubernur DKI Jaya menyatakan bahwa banjir besar di Jakarta adalah peristiwa alam yang tak mungkin bisa dikendalikan manusia. Tak ada negara yang bisa mengendalikan fenomena alam, kata Fauzi Bowo. ”Mungkin hanya Republik BBM-nya Efendi Ghazali yang bisa melakukannya,” seloroh Bowo.

Pernyataan Bowo, menarik karena dia menganggap peristiwa banjir Jakarta sebagai fenomena alam semata. Dalam hal ini, Bowo tidak mengaitkannya dengan kutukan Tuhan, tapi dia lebih membawa persoalan banjir pada ketentuan alam. Ini artinya banjir tersebut dipandang sebagai ketentuan (takdir) Tuhan yang tak bisa diganggu gugat manusia. Cara berpikir Bowo tersebut jelas merupakan pandangan kaum fatalis atau jabbariyah.

Cara pandang seperti ini membuat manusia tidak kreatif dan melupakan kemampuan daya pikirnya yang luar biasa. Padahal, kemampuan berpikir adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Kembali kepada pernyataan Bowo, benarkah banjir di Jakarta semata-mata merupakan fenomena alam? Kenapa banjir seperti itu tidak terjadi di Amsterdam, sebuah kota yang seluruhnya terletak di bawah permukaan laut?

Seandainya manusia tidak bisa mengendalikan alam, niscaya tidak ada kota seperti Amsterdam.Kota ini hanya berada di dasar laut.Tapi faktanya,kota Amsterdam ada di Negeri Belanda dan menjadi salah satu kota perdagangan terpenting di Eropa. Fenomena kota Amsterdam ini jelas merupakan salah satu hasil kreasi terbesar manusia dalam mengendalikan alam.

Dengan demikian, pernyataan bahwa banjir di Jakarta merupakan fenomena alam yang tak bisa diubah siapa pun, kurang tepat. Tapi berusaha untuk mengubah takdir itu.Tepat sekali Alquran menyatakan bahwa ”Allah tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sampai kaum tersebut melakukan perubahan atas diri mereka sendiri”. Pada akhirnya, seperti dikatakan Charles E Fritz, bencana alam (seperti halnya banjir) memang menimbulkan berbagai kesan mental.

Tidak heran jika setiap orang bisa mempunyai beragam respons, reaksi, dan pandangan terhadap bencana alam. Tapi jika diadakan survei, baik dari korban bencana maupun pemerhati, ternyata ada beberapa respons,reaksi,dan pandangan yang nyaris sama: mengaitkan bencana alam dengan Tuhan.

Pertama, Tuhan ditempatkan sebagai penyebab semua bencana alam itu. Ini terlihat dari pernyataan bahwa bencana adalah sebuah cobaan, hukuman, atau azab dari Tuhan atas berbagai kesalahan manusia.

Kedua, mempertanyakan kenapa Tuhan melakukan itu semua. Misalnya, mengapa Tuhan mendatangkan banjir, gempa, dan tsunami yang menimbulkan korban sangat banyak? Kenapa tsunami itu terjadi di Aceh––di negeri serambi Mekkah––bukan di Hong Kong yang sarat dengan perjudian dan prostitusi? Apa kesalahan orang Aceh?

Pertanyaan-pertanyaan itu ada yang mudah dijawab dengan landasan hukum sebab akibat. Tapi ada juga yang sulit dijawab dengan hukum kausalitas. Untuk yang terakhir inilah, Tuhan tampaknya punya wilayah. Sebuah wilayah misteri––yang memang hanya Tuhan yang tahu. Sebab, tanpa ada misteri––pinjam Erich Fromm––tak ada artinya keberadaan Tuhan. Seperti misteri kapan manusia dilahirkan dan dimatikan. Ada apa setelah kematian?

Namun, di antara misteri-misteri itu, tetap terbuka ruang yang lebar bagi manusia untuk mengembangkan kreasi dan ilmu pengetahuannya dalam rangka memperbaiki nasib manusia itu sendiri. Dan banjir di Jakarta bukanlah sebuah misteri––tapi sebuah fenomena alam di mana manusia punya potensi untuk mengendalikan dan mencegahnya. Potensi itulah yang belum didayagunakan dengan baik. Padahal, kenyataannya banyak negara-negara lain yang telah melakukan hal seperti itu dan berhasil!(*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/banjir-alam-dan-tuhan-3.h

M Bambang Pranowo, Guru Besar Sosiologi Agama UIN Ciputat
Sumber: Koran Sindo, 08 Februari  2007

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: