BebasBanjir2015

Bukan Mustahil, bukan mimpi

Dicari, Pemimpin yang Bisa Atasi Banjir

editorial Media Indonesia ~ {February 5th, 2007 – 9:26 am}

BANJIR kali ini sungguh amat mengerikan. Mengerikan karena Jakarta benar-benar tak berdaya melawan banjir yang amat perkasa. Jakarta sebagai ibu kota negara hanya bisa pasrah menghadapi bencana yang sudah rutin datang setiap tahun itu.

Bayangkan, banjir pada 2002 yang disebut paling parah ternyata masih kalah destruktif jika dibandingkan dengan tahun ini. Banjir kali ini tidak saja memakan korban jiwa lebih banyak, tetapi juga benar-benar melumpuhkan wilayah yang berpredikat ibu kota negara itu.

Banjir yang rutin dan tak tertangani benar-benar membuat Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis kehilangan citra dan wibawa. Pertanyaannya siapakah yang harus bertanggung jawab menjaga wibawa Jakarta dari banjir yang bertubi-tubi? Siapakah yang bisa menjamin Jakarta bebas dari Banjir?

Jakarta bebas banjir bukanlah sesuatu yang mustahil. Bukan mimpi, sejauh ada kesungguhan dari para pengelola negara. Kesungguhan itu berarti seluruh kebijakan dari perencanaan hingga pelaksanaan berjalan konsisten. Tidak boleh menganggap banjir sebagai masalah klasik, sebagai perkara rutin yang biasa-biasa saja.

Mereka yang berpandangan banjir soal klasik akan mengatakan siapa pun pemimpinnya, banjir Jakarta tak akan bisa diatasi. Itulah sekarang yang harus kita lawan. Terlebih, problem besar yang dihadapi Jakarta bukan hanya banjir, melainkan juga kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Karena itu, siapa pun pemimpin yang tidak bisa mengatasi tiga perkara besar itu tidak layak memimpin Ibu Kota.

Pilkada Gubernur DKI Jakarta tahun ini mestinya harus mampu menghasilkan pemimpin yang bisa mengatasi tiga perkara itu. Kalau kita hanya terpesona oleh figur yang hanya pandai omong dan tebar pesona, tanpa kecakapan dan keberanian mengatasi masalah yang amat serius itu, Jakarta akan kian amburadul.

Publik mengapresiasi tinggi Gubernur Sutiyoso yang amat cepat membuat perda mengatasi flu burung. Tetapi banjir? Ia menjadi perkara yang makin hari makin mengancam.

Memang, tak adil menyerahkan urusan banjir sepenuhnya kepada sang Gubernur Jakarta. Pemilik kepentingan Jakarta sebagai Ibu Kota adalah seluruh masyarakat Indonesia. Karena itu, selain Pemprov DKI dan pemerintah pusat, beberapa pemerintah daerah penyangga harus ikut bertanggung jawab. Banjir dan kemacetan lalu lintas, misalnya, jelas penyebabnya bukan semata-mata dari Jakarta. Banjir kiriman dari Bogor dan kemacetan lalu lintas juga andil orang-orang luar Jakarta yang bekerja di Ibu Kota. Jadi, alangkah beratnya beban Jakarta.

Karena itu, selain perlu kepemimpinan yang punya kecakapan mengatasi banjir, juga betapa mendesaknya konsep megapolitan direalisasikan. Ini agar daerah-daerah penyangga tidak egois dan pusat tidak menutup mata. Bekasi, Bogor, dan Tangerang yang amat banyak mengambil keuntungan dari Jakarta, harus ikut bertanggung jawab.

Menurut pakar Planologi ITB Denny Zulkaidi, ada dua perkara utama yang harus dibenahi untuk mengatasi banjir. Pertama, Bogor sebagai wilayah hulu harus dikembalikan fungsinya sebagai reservoir, daerah resapan air. Kedua, 13 sungai yang mengalir di Jakarta harus lancar dan cepat mengalirkan airnya ke laut. Kalau tidak, sampai kapan pun banjir Jakarta akan terjadi.

Publik sungguh menunggu pemimpin yang mampu melakukan dua tindakan berani dalam dua perkara itu. Yang artinya berani pula membongkar vila-vila dan aneka bangunan di Puncak, yang notabene milik orang-orang penting Jakarta. Siapakah sosok pemberani itu?

Sumber: http://www.andiestuff.com/v2/2007/02/05/dicari-pemimpin-yang-bisa-atasi-banjir/

4 Komentar »

  1. saya tergelitik dengan pernyataan bahwa untuk mengurangi banjir, maka air yang mengalir melalui sungai-sungai yang ada dibuat cepat sampai ke laut, alias dibuang ke laut.

    Menengok pengalaman tata kelola perairan darat di negeri jiran, singapura dan malaysia, sungai justru dibuat berbelok-belok sebelum airnya bermuara ke laut. Hal ini dimaksud agar air bisa punya cukup waktu untuk meresap ke dalam tanah dan tidak terbuang percuma ke dalam perairan laut. Dengan air meresap ke dalam tanah, maka konservasi air tanah terus terjadi.

    Jadi menurut saya, permasalahan mengatasi banjir di wilayah Jakarta, bukan dengan membuat sungai-sungai laksana saluran got raksasa yang lurus ditarik sampai ke laut. Pernahkah terpikir, mengapa Tuhan mencipta hujan di alam ini? Itu bermakna Tuhan ingin mengajar manusia bahwa cara kita melakukan tata kelola air darat bukan dengan jalan pintas, yang penting air cepat terbuang; tapi tata kelola harus dilakukan dengan memahami proses alamiahnya.

    Yang perlu dilakukan menurut saya, justru memperbaiki tata kelola sarana dan prasarana resapan air; bagaimana caranya air yang melimpah dari hujan yang turun bisa diresapkan ke dalam tanah, sehingga bisa memberi manfaat bagi kehidupan.

    Cobalah perhatikan, kondisi lingkungan sekitar. Banjir itu terjadi karena :
    – sistem drainase yang buruk, saluran pada mampet sehingga air hujan airnya menggenang
    – pertumbuhan bangunan di wilayah DKI Jakarta yang cepat tidak diimbangi dengan perilaku membangun yang berwawasan lingkungan; buat bangunan tanpa mempertimbangkan luasan resapan air. Semua permukaa di sekitar bangunan di beton/diaspal, lalu gimana tidak banjir karena air hujan yang turun tidak punya jalur untuk masuk ke dalam tanah

    Jadi, solusi yang bisa saya urun saran adalah

    – perbaiki saluran dranaise yang ada, dibuat pipa saluran pembuangan yang terintegrasi satu sama lain sehingga hujan di wilayah mana pun di Jakarta dan sekitarnya, masuk dalam saluran limbah air hujan dan bisa dimuarakan ke beberapa embung/situ atau danau buatan,

    – dibangun sistem terowongan raksasa di dalam tanah, bisa mencontoh model yang ada di malaysia, dimana terowongan tersebut dikala tidak terjadi banjir, dijadikan jalur jalan bebas hambatan (sampai 2 tingkat kalau tidak salah; jalur ini bilamana terjadi hujan sangat lebat, maka setelah kendaraan terakhir keluar dari terowongan kemudian ditutup dan diaktifkan sistem limpasan air, sehingga air hujan yang mulai melimpah di permukaan jalan raya, bisa segera digelontorkan melalui saluran drainase lalu diarahkan masuk ke dalam terowongan air raksasa tersebut. Bisa sistem ini terintegrasi dengan sistem saluran buang air yang ada di setiap titik daerah rawan banjir, semestinya tidak lagi banjir terjadi karena seketika air masuk ke dalam saluran dan ditampung di dalam terowongan air. Air yang ada di dalam terowongan bisa menjadi air baku PAM dan atau bisa juga diarahkan ke situ/embung/ danau buatan sehingga air hujan bisa diresapkan ke dalam tanah.

    Komentar oleh F Yudhi Lesmana — November 3, 2010 @ 12:28 pm

  2. SEPAKAT DENGAN KOMENTAR YUDHILESMANA

    Komentar oleh Anonim — September 23, 2011 @ 2:19 pm

  3. Terima kasih atas pemikiran yg diberikan.
    semakin banyak yg memikirkannya, semakin besar concern yg diberikan, semakin cepat persoalan bisa dipecahkan.

    Prinsip dasarnya sebetulnya relatif sama: memperlambat aliran di hulu, dan mempercepat aliran di hilir.
    Kalau membuat aliran air (sungai) berkelok-kelok di hulu (bopunjur) memang tepat karena untuk memperlambat aliran air ke jakarta; tapi kalau membuat aliran berkelok-kelok di hilir (jakarta), maka pasti akan menyebabkan banjir di jakarta bertambah parah.
    Malaysia membangun terowongan raksasa untuk menampung dan mempercepat aliran air. Jakarta tidak punya uang untuk proyek sebesar itu, jadi kalau bisa memperlancar aliran air di 13 sungai yg ada, itu sudah bagus sekali…

    Untuk di dalam kota jakarta, sebenarnya bisa diusahakan elevasi halaman sekitar sejengkal di bawah muka jalan, supaya air hujan tertampung dulu di halaman sebelum mengalir ke drainase (yg harusnya ditata dg sistem yg terintegrasi). BAyangkan kalau KDH minimum 10% x luas halaman seluruh wilayah terbangun jakarta X 20cm, berapa m3 yg bisa ditampung sebelum disalurkan ke drainase, Pembuatan embung, sumur resapan, dan biopori juga membantu resapan air hujan tsb.

    Satu hal lagi persoalan yg tidak disebutkan yg menyebabkan banjir di jakarta makin parah adanya intrusi air laut dan penurunan muka tanah sehingga hampir 60% wilayah DKI sebetulnya di bawah muka air laut… Ini membuat penanganan banjir makin sulit karena harus menambah tanggul agar air laut tidak masuk ke daratan DKI jakarta…

    Komentar oleh denny zulkaidi — November 2, 2011 @ 7:05 pm

  4. memang wajib itu keberanian yang memang benar,😀

    Komentar oleh Istanamurah — Maret 7, 2014 @ 10:18 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: