BebasBanjir2015

Otto Soemarwoto

Banjir Jakarta

Otto Soemarwoto

DALAM dua bulan akhir ini Jakarta telah dilanda dua kali banjir besar. Berdasarkan berita surat kabar banjir yang pertama pada permulaan bulan Januari genangannya lebih dalam, tetapi luasnya lebih kecil, daripada banjir yang kedua pada bulan Februari ini. Keduanya menyebabkan kerugian dan penderitaan yang besar pada rakyat. Pada banjir yang kedua daerah elite pun, seperti Jl. Thamrin, tidak luput dari genangan.

Badan Meteorologi dan Geofisika memprakirakan masih akan ada hujan besar lagi dalam bulan Maret. Akankah Jakarta kena banjir lagi?
Penyebab banjir di Jakarta tidaklah sederhana, melainkan rumit. Sebagian penyebab itu bersifat alamiah dan sebagian lagi dampak perbuatan manusia. Keduanya saling berinteraksi.
Jakarta terletak di daerah dataran rendah dengan topografi yang landai. Letak Jakarta di tepi pantai laut dan hanya sedikit saja di ataspermukaan laut. Ini nampak dengan jelas di jalur jalan tol Prof. Sedyatmo. Pada waktu tidak banjir pun permukaan rawa bakau terletak di bibir jalan permukaan jalan. Beberapa sungai bermuara di dan di sekitar Jakarta. Sungai Ciliwung malahan mengalir di tengah kota. Karena topografi yang landai itu air sungai tidak dapat mengalir dengan cepat ke laut. Lagi pula kecepatan aliran air sungai itu terhambat pada waktu air laut pasang. Aliran air sungai yang lambat dan letak Jakarta yang rendah mempermudah terjadinya banjir.

Sungai di Jakarta, seperti Ciliwung, banyak berkelok. Suatu hal yang normal pada sungai di dataran rendah. Kelokan yang banyak menghambat aliran sungai, sehingga waktu debit air besar, air itu mudah meluap. Terjadilah banjir. Masalah ini dapat diatasi dengan normalisasi sungai, yaitu meluruskan alur sungai. Secara teknis ini tak sulit. Tetapi masalah sosial-ekonominya besar, yaitu memerlukan memindahkan banyak permukiman.

Laju erosi di DAS sungai-sungai yang mengalir di dan di sekitar Jakarta adalah tinggi. Ini nampak dari warna air sungai yang cokelat pekat yang menunjukkan kandungan lumpur yang tinggi. Dengan aliran sungai yang lambat banyak lumpur yang mengendap sehingga terjadi pendangkalan sungai-sungai. Pendangkalan oleh lumpur erosi diperparah lagi oleh sampah yang banyak dibuang ke sungai. Dengan adanya pendangkalan itu volume alur sungai berkurang. Masalah ini diperparah lagi dengan sampah yang banyak menyumbat sungai dan got.
Pendangkalan merupakan faktor penyebab banjir, karena volume air yang dapat tersalurkan melalui alur sungai berkurang sehingga lebih mudah meluap. Dengan lain perkataan makin mudah terjadi banjir. Masalah ini dapat dikurangi atau diatasi dengan mengeruk sungai dan membuat atau mempertinggi tanggul. Tetapi karena laju erosi tetap tinggi, pengerukan itu harus terus-menerus dilakukan. Jika laju pengerukan lebih rendah daripada laju pendangkalan, tanggul harus terus dipertinggi. Akhirnya, kota akan terletak di bawah sungai, seperti halnya banyak desa dan kota di sepanjang Cimanuk dan Bengawan Solo. Bahayanya ialah apabila terjadi banjir besar dan tanggul jebol. Malapetakalah yang menanti.
Cara lain ialah membuat saluran banjir (banjir kanal) baru di barat dan timur Jakarta untuk menyalurkan air sungai dengan cepat ke laut.

DENGAN makin banyaknya pembangunan, makin banyak permukaan tanah yang tertutup oleh jalan, beton dan perumahan. Menurut berita koran-koran luas taman di Jakarta telah berkurang. Karena itu laju peresapan air ke dalam tanah menurun. Daerah situ (danau) yang dulu banyak terdapat di daerah dan di sekitar Jakarta telah banyak yang digunakan untuk pembangunan. Ini pun mengurangi laju peresapan air. Karena air yang dapat meresap ke dalam tanah berkurang, makin banyaklah air yang tinggal di atas permukaan tanah pada waktu hujan. Bahaya banjir pun bertambah. Tidak mudahlah mengatasi masalah ini, karena jalan, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan dan pemukiman tidak dapat dibongkar lagi.

Sebagian rawa di daerah Jakarta, misalnya Pantai Indah Kapuk, telah dibangun untuk permukiman dengan segala fasilitasnya. Pembangunan rawa itu mengurangi daya retensi air, yaitu tempat penampungan air sebelum mengalir ke laut. Jadi rawa itu semacam tempat “parkir” air sebelum mengalir ke laut. Hilangnya situ-situ juga mengurangi daya tampung tempat “parkir” air. Karena tempat “parkir”-nya berkurang, air itu mencari tempat lain untuk “parkir”. Celakanya tempat “parkir” itu merupakan hunian, jalan dan tempat bisnis. Untuk mengurangi bahaya banjir di tempat permukiman baru di bekas rawa itu, air dipompa. Air yang dipompa itu mencari tempat untuk mengalir atau “parkir”. Dengan lain perkataan air pompaan itu menambah volume banjir di tempat lain.

Jakarta mengalami keamblesan, yaitu permukaan tanah ambles atau turun. Banyak orang berpendapat keamblesan itu disebabkan oleh terlalu banyaknya disedot air tanah. Sebagian lagi menyatakan bahwa keamblesan itu adalah suatu peristiwa alamiah. Mungkin juga ada interaksi antara keduanya, yaitu ada keamblesan alamiah yang dipercepat oleh adanya pembangunan. Apa pun sebabnya, keamblesan itu menyebabkan letak Jakarta makin rendah terhadap permukaan air sungai dan laut sehingga bahaya banjirnya bertambah. Untuk mengurangi bahaya itu jalan dipertinggi. Misalnya, Jl. Thamrin telah dipertinggi dan untuk beberapa tahun lamanya Jl. Thamrin bebas banjir sampai kemudian pada hari Sabtu, 10 Februari, Jl. Thamrin kebanjiran lagi. Untuk mengatasi ini Jl. Thamrin dapat dipertinggi lagi. Dengan tindakan ini Jl. Thamrin untuk beberapa tahun yang akan datang akan bebas banjir. Tetapi sementara itu air akan mencari jalan lain. Jadi dengan mempertinggi Jl. Thamrin itu bahaya banjir di daerah lain meningkat. Untuk mengurangi bahaya ini, dapat juga tanggul disepanjang sungai lebih dipertinggi lagi atau/dan membuat saluran banjir baru.

Daerah di bagian hulu DAS sungai yang mengalir di dan di sekitar Jakarta mengalami pembangunan yang pesat. Pembangunan terbesar kita dapatkan di DAS hulu Ciliwung yang nampak dengan jelas di daerah Puncak. Perumahan telah makin merayap ke atas bukit-bukit dan makin sedikit terdapat hutan dan belukar. Lereng yang curam pun tidak luput dari incaran pembangunan vila-vila. Demikian pula di DAS hulu Cisadane terdapat pembangunan yang pesat.

Pembangunan perumahan yang mengurangi hutan dan belukar menurunkan laju peresapan air ke dalam tanah sehingga air larian makin besar. Padahal DAS hulu itu mempunyai curah hujan yang tinggi sehingga volume banjir kiriman meningkat.
Kini makin banyak orang yang condong mempercayai bahwa pemanasan global mungkin sekali telah mulai terjadi. Analisis data statistik suhu permukaan bumi menunjukkan, dalam 100 tahun terakhir ini suhu permukaan bumi telah naik dengan 0.5 derajat Celsius. Seperti telah banyak diuraikan di surat kabar, pemanasan global itu disebabkan oleh naiknya kadar gas rumah kaca (GRK) di dalam atmosfer. GRK yang utama ialah CO2, CFC dan metan. Pemantauan menunjukkan bahwa kadar gas-gas ini di atmosfer memang menunjukkan gejala untuk terus meningkat. Dampak pemanasan global ialah berubahnya iklim dan naiknya permukaan laut. Perubahan iklim berupa, antara lain, musim hujan dan kemarau yang tidak menentu, perubahan curah hujan dan meningkatnya intensitas badai. Akhir-akhir ini iklim nampaknya menjadi kacau. Gelombang panas melanda Amerika Serikat disusul oleh badai salju yang abnormal. Banjir besar mengamuk di Amerika Serikat, Cina dan tempat lain. Salah satu prakiraan perubahan iklim ialah akan naiknya curah hujan di daerah Asia Tenggara. Jika ini benar terjadi, kemungkinan terjadinya curah hujan yang besar di Jakarta dan DAS hulu akan meningkat sehingga banjir yang lebih besar tak dapat dielakkan lagi.
Kenaikan permukaan laut berarti letak Jakarta relatif terhadap permukaan laut akan turun sehingga bahaya banjir juga meningkat.

Jika benar telah terjadi pemanasan global, tak banyaklah yang dapat kita perbuat untuk menghentikan proses itu. Usaha internasional seperti tertera dalam Konvensi Perubahan Iklim yang dihasilkan dalam KTT Bumi di Rio-lah yang diperlukan untuk mengurangi laju pemanasan global.

URAIAN di atas menunjukkan, banjir di Jakarta merupakan masalah yang kompleks. Dari segi geografis Jakarta adalah rentan banjir. Jika pada suatu ketika terjadi kombinasi faktor air laut pasang, curah hujan lokal tinggi dan dibarengi curah hujan di DAS hulu yang tinggi juga, akan terjadilah banjir besar. Semua faktor menunjukkan dipercepat sehingga tekanan pembangunan terhadap Jakarta berkurang dan dengan demikian laju pertumbuhannya menurun. Pembangunan kota perdagangan, industri dan pasar modal, termasuk sistem perizinan, di luar Jakarta, seperti Surabaya, Medan dan Ujungpandang, lebih digalakkan sehingga orang tidak perlu ke Jakarta untuk mengembangkan bisnisnya. Bahkan bisnis di luar Jakarta harus lebih besar daripada di Jakarta.

Bukalah kesempatan selebar-lebarnya agar modal mencari tempat yang lebih menguntungkan daripada di Jakarta. Dengan berkurangnya tekan pembangunan terhadap Jakarta, perambahan jalur hijau, rawa dan situ tempat “parkir” air dan pembangunan di DAS hulu sungai-sungai akan dapat terkendali.

Di Amerika Serikat, ibu kota negara bagian bukanlah kota besar. Ibu kota negara bagian California, misalnya, bukanlah San Francisco atau Los Angeles, melainkan Sacramento, sebuah kota kecil di sebelah utara San Francisco. Karena itu tak apalah jika Jakarta menjadi lebih kecil daripada kota lain.

Alternatif lain ialah memindahkan Ibu Kota. Dengan ini pertumbuhan Jakarta diharapkan dapat dikurangi. Tentu bukan maksudnya untuk membunuh Jakarta melainkan untuk membuat pembangunan di Jakarta menjadi terkendali. Tetapi pemindahan Ibu Kota tanpa desentralisasi akan memindahkan masalah saja dan bukannya memecahkan masalah.

Alternatif-alternatif di atas ataupun alternatif lain mana pun yang akan diambil, akan terasa sakit. Tetapi jika tidak diambil tindakan yang tegas, Jakarta akan makin menderita. Hukum ekologi menunjukkan bahwa tak ada pertumbuhan eksponesial yang berkelanjutan.***

Panen Banjir

Otto Soemarwoto

JAKARTA dilanda banjir besar lagi. Orang langsung bilang ini karena hujan luar biasa. Faktanya tidak demikian. Hujan yang jatuh di bumi sebagian menguap lagi, yang lain meresap ke dalam tanah, sebagian lagi mengalir di atas permukaan tanah (air larian). Jika pembuangan air larian tidak memadai, barulah terjadi banjir. Makin besar koefisien air larian (C), yaitu persentase air hujan yang menjadi air larian, makin besar risiko banjir.

Sumber air banjir di Jakarta ada dua. Pertama lokal. Nilai C di Jakarta terus meningkat karena makin banyak permukaan tanah yang tertutup bangunan dan beton, di samping makin menyusutnya luas taman. Jumlah air larian ini bisa diancer-ancer. Misalkan dari tahun 1970 sampai sekarang terjadi rata-rata kenaikan C sebesar 35 persen. Dengan curah hujan di Jakarta yang rata-rata 2.100 milimeter per tahun dan 120 hari hujan (HH = hari yang ada turun hujannya), dalam kurun waktu 30 tahun angka-angka itu tinggal dikalikan saja. Untuk tiap hektarenya dikalikan lagi dengan 10.000 meter kubik, didapat angka 61,25 meter kubik/HH/hektare, yang sama dengan 12 truk tangki berkapasitas 5.000 liter. Kalikan ini dengan luas Jakarta dan Anda mendapat gambaran berapa besarnya tambahan air larian.

Ada masalah tambahan. Sungai banyak yang berkelok-kelok, mendangkal karena erosi dan sampah, menyempit serta penuh sampah, sehingga pembuangan air terhambat. Banyak pula selokan yang kapasitasnya tidak lagi memadai untuk menyalurkan air larian, dan tersumbat sampah. Di pantai, air dihadang oleh pasang laut, dan permukaan laut mungkin telah mengalami kenaikan karena pemanasan global. Permukaan tanah pun telah amblas karena pengisian kembali (recharge) akifer (air tanah) berkurang oleh menurunnya laju resapan air hujan ke dalam tanah dan penyedotan air tanah yang berlebihan. Tempat parkir (retensi) air di situ-situ dan di rawa, misalnya Pantai Indah Kapuk, sangat berkurang karena dibangun menjadi permukiman dan daerah perdagangan.

Sumber banjir kedua adalah air kiriman dari Puncak, Bogor, dan daerah hulu lainnya. Karena pembangunan yang menggebu-gebu di kawasan ini, nilai C-nya telah meningkat sehingga air larian meningkat dan dikirim ke Jakarta sebagai banjir kiriman.

Banjir bersifat periodik berkaitan dengan La Nina, yang membawa curah hujan luar biasa, dengan daur sekitar lima tahun sekali. Banjir 5 tahun lebih kecil daripada banjir 10 tahun, sementara banjir 10 tahun ini lebih kecil daripada banjir 25 tahun, dan seterusnya. Sebab, pemanasan global, frekuensi, dan intensitas La Nina menunjukkan gejala makin naik. Sementara itu, air larian makin besar. Maka, banjir bersifat progresif. Banjir 5 tahun telah menjadi banjir 10 tahun, banjir 10 tahun menjadi banjir 25 tahun, dan seterusnya. Mungkin ini sebabnya banjir 1996 lebih kecil daripada banjir sekarang.

Tampaklah bahwa banjir sebagian besar terjadi karena ulah manusia, bukan bencana alam. Hujan memang faktor penting, tapi jangan salahkan hujan. Jangan salahkan Tuhan. Hujan adalah karunia Tuhan. Namun hujan telah berubah menjadi kutukan karena kita terdorong melakukan pembangunan dengan visi mendapatkan keuntungan besar dalam waktu sependek-pendeknya dengan pembangunan tak ramah lingkungan.

Apa yang harus kita lakukan? Jangan saling menyalahkan. Misalnya, yang memberi IMB di kawasan konservasi ialah Jawa Barat. Yang membangun orang Jakarta. Keduanya bersalah. Kita telah terjebak dalam pembangunan tak ramah lingkungan. Jangan pula membuat Panitia Nasional Penanggulangan Banjir. Nanti uangnya habis untuk rapat, perjalanan dinas, dan honor panitia. Kita semua sudah tahu apa yang harus kita kerjakan. Tinggal mau bekerja benar atau tidak.

Pertama, lakukan tindakan preventif dengan benar-benar melaksanakan kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan. Kita mulai dengan mematuhi aturan main. Misalnya, jika membangun, lakukanlah dengan IMB yang benar. Daerah yang diperuntukkan bagi konservasi air tidak diberi IMB. Perubahan lahan hijau, termasuk taman, untuk bangunan dan parkir haruslah dilarang. Pemompaan air tanah yang melebihi atau tanpa izin haruslah ditindak. DPR/DPRD pun harus tegas. Jangan hanya memikirkan politik. Lakukanlah pengawasan yang efektif. Ambillah inisiatif untuk memperbaiki/membuat undang-undang dan peraturan daerah untuk pencegahan dan penanggulangan banjir. Hal sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang ialah memelihara got dan tidak membuang sampah di dalamnya. Kita semua tahu ini. Tapi disiplin kita sangat rendah.

Kedua, tindakan korektif. Pengerukan sungai dan normalisasi sungai serta reboisasi diperlukan. Biayanya mahal dan sayangnya hasilnya tidak memuaskan.Yang murah ialah membuat sumur resapan. Semua orang dapat melakukannya. Air larian juga dapat dikurangi dengan memanen hujan, yaitu menampung air hujan untuk keperluan sehari-hari. Gedung pemerintah, bank, hotel, dan universitas dapat melakukannya dengan membuat bak beton di bawah tanah. Rumah tangga dapat menggunakan drum plastik. Dampak kumulatif memanen hujan akan besar karena luas atap di Jakata mencapai ratusan hektare. Dengan angka curah hujan dan HH di atas, panen per hektarenya mencapai 175 meter kubik/HH. Kalikan ini dengan sekian ratus hektare luas atap di Jakarta. Air ini mengurangi banjir. Lagi pula, air panenan akan mengurangi kekurangan air yang dapat dipasok oleh PDAM. Jadi, untung dua kali.

LSM perlu juga mengambil inisiatif melakukan tuntutan class action kepada para penyebab banjir. Misalnya, menuntut Pemda yang memberi IMB yang tak wajar dan yang membangun tanpa IMB. Baik kalah maupun menang di pengadilan, dampaknya akan positif. Orang jadi takut berbuat tak ramah lingkungan yang menyebabkan banjir.

Otto Soemarwoto Pakar lingkungan dari Universitas Padjadjaran
Sumber: Tempo, Arsip Edisi 50/XXX 11 Februari 2002

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: