BebasBanjir2015

06 Teknologi Pengendalian Banjir

Teknologi Pengendalian Banjir

Rangkaian halaman yang berinduk pada halaman “Teknologi Pengendalian Banjir” ini adalah kumpulan teknologi / metode / teknik yang dapat diterapkan baik pada skala persil lahan maupun pada skala kawasan. Kumpulan teknologi yang oleh WordPress diurut secara alfabetis ini dikutip dari berbagai sumber (yang disebutkan pada tiap akhir tulisan). Kumpulan teknologi yang sempat kami kumpulkan adalah:

  1. Agroforestry
  2. Areal Peresapan Air Hujan
  3. Bendungan Bawah Tanah
  4. Budidaya Lorong
  5. Daerah Konservasi Air Tanah
  6. Dam Parit
  7. Dam Pengendali (Check Dam)
  8. Deep Tunnel Reservoir System
  9. Embung
  10. Guludan
  11. Kolam / Balong
  12. Kolam Konservasi Air Hujan.
  13. Kolam Retensi
  14. Lubang Galian Tanah
  15. Lubang Resapan Biopori
  16. Modifikasi Lansekap
  17. Mulsa
  18. Mulsa Vertikal (Slot Mulch)
  19. Penampungan Air Hujan
  20. Penanaman Dalam Strip
  21. Pengolahan Tanah Minimum
  22. Pengolahan Tanah/Penanaman Menurut Kontur
  23. Polder
  24. Rain Gardens
  25. Retarding Basin
  26. Revitalisasi Danau, Telaga, atau Situ
  27. Rorak / Parit Buntu
  28. Sabuk Resapan
  29. Saluran / Parit Resapan
  30. Sawah
  31. Stormwater Detention Pond
  32. Strip Penyangga Riparian
  33. Strip Rumput
  34. Sumur Injeksi
  35. Sumur Resapan
  36. Tanaman Penutup Tanah
  37. Tanggul / Pagar Pekarangan
  38. Teknologi Modifikasi Cuaca
  39. Teras
  40. Tirta Sangga Jaya (TSJ)
  41. Waduk Pengendali Banjir
  42. Waduk Resapan

13 Komentar »

  1. Maaf,mau tanya..Kalau saya baca di koran selama ini,di Surabaya digunakan rumah pompa di beberapa kawasan untuk mengatasi banjir. Ada juga penggunaan bozeem mini. Apakah untuk rumah pompa dan bozeem merupakan bagian dari teknologi pengendalian banjir? Apakah ada artikel yang terkait tentang itu?

    Makasih banyak😀

    -astrid-

    Komentar oleh astrid — Februari 13, 2009 @ 2:02 pm

  2. thats right astrid, rumah pompa dan boozem mini merupakan salahsatu prasarana pengendalian banjir, kmu tinggal dimana?…:))

    Komentar oleh adhi — Oktober 3, 2009 @ 3:58 am

  3. Ijin baca-baca aja, smakin menarik artikel-artikelnya. Makasih buat semua penulisnya.

    Komentar oleh pasarjogja.com — Maret 31, 2010 @ 12:40 am

  4. Maaf saya kurang setuju dengan istilah “bebas banjir”, karena dengan upaya apapun baik fisik dan nonfisik kita tidak mungkin membuat dataran banjir (flood plain)yang telah dibudidayakan a.l menjadi kawasan perkotaan, permukiman, perindustrian, pertanian, dsb. menjadi kebal thd luapan banjir secara mutlak. Dataran banjir secara alamiah terbentuk oleh endapan sedimen yang terbawa oleh luapan sungai pada saat banjir. DKI Jakarta, Semarang, Surabaya dan hampir seluruh kota besar di Indonesia berada di dataran banjir. Integrated flood management (IFM) is a process promoting an integrated-rather than a fragmented approach to flood management within the context of IWRM, and aims at maximising the net benefits from flood plains and minimising loss of life.

    Komentar oleh Siswoko — November 15, 2010 @ 1:47 pm

  5. DTRS (Deep Tunnel Reservoir System) merupakan alternatif solusi yang sangat2 mahal dibanding solusi lainnya, dan masalah banjir/genangan di Jakarta bukan hanya karena luapan Ciliwung. Konon DTRS direncanakan dapat memotong puncak banjir Ciliwung sebesar 100 m3/dt. Bila itu benar, sesungguhnya dengan meninggikan tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) sebesar 30-40 cm saja, kapasitas BKB sudah naik sebesar 100 m3/dt, dengan gravity flow tanpa pompa.

    Komentar oleh Siswoko — November 15, 2010 @ 2:14 pm

  6. Saya setuju dengan pak Siswoko..jangan gunakan istilah bebas banjir..karena setiap upaya pengendalian banjir hanya berguna untuk mengurangi resiko kerugian banjir..banjir sifatnya uncertanty..pada saat kita merencanakan pasti dengan mempertimbangkan probabilitas..jd tidak ada yang pasti kayaknya..

    Komentar oleh Anik — November 16, 2010 @ 4:28 pm

  7. Makasih Pak Siswoko telah mengunjungi blog kumpulan tulisan ini.

    Tulisan Pak Sis: BANJIR, MASALAH BANJIR DAN UPAYA MENGATASINYA, https://bebasbanjir2025.wordpress.com/10-makalah-tentang-banjir-2/siswoko/ menjadi salah satu tulisan yang paling banyak dikunjungi.

    Soal istilah bebas banjir yang bapak kurang setuju, bagi kami nggak apa-apa bapak kurang setuju.

    Istilah itu muncul dari kerangka berpikir kami yang sederhana, yang tergambar dari mimpi kami tentang sebuah DAS (catcment): https://bebasbanjir2025.wordpress.com/mimpi-tentang-das-ciliwung-2/.

    Jika tiap pemilik persil lahan (persil kehutanan, persil pertanian, persil permukiman, persil kawasan komersil) melakukan sesuatu – dengan teknologi konservasi tanah dan air serta teknologi pemanenan air hujan – di persil lahannya masing-masing, sehingga debit run off yang keluar dari persil lahan masing-masing menjadi seminim mungkin yang bisa dicapai, kami berharap, mungkin saja kondisi bebas banjir itu dicapai.

    Jadi, semangatnya adalah bagaimana menurunkan koefisien run off DAS dengan mengurangi koefisien run off masing-masing persil lahan di DAS yang bersangkutan. Siapa yang melakukannya? Tentu si pemilik persil lahan. Bagaimana agar tiap pemilik persil mau melakukannya? Itu tantangannya. Syukurlah di UU SDA, ada pilar pemberdayaan masyarakat. Kami berharap model pelibatan tiap pemilik persil lahan di DAS ini bisa ikut mewarnai implementasi pemberdayaan masyarakat dalam UU itu.

    Komentar oleh Sahroel Polontalo — November 17, 2010 @ 9:44 am

  8. tulisan bapak saya kopi yah..untuk dibaca🙂

    Komentar oleh desmanora — Februari 3, 2011 @ 2:34 pm

  9. IKUT nge-link dong…..
    tengkiyu,,,,,,,

    Komentar oleh Alif Wangsa — Desember 2, 2012 @ 12:50 pm

  10. […] paling tidak terdapat 42 teknologi konservasi air, sebagai jebakan-jebakan air sebelum ia teralirkan bebas ke laut. Salah satunya yang terkenal […]

    Ping balik oleh Sumur Resapan | venus architecture — Maret 20, 2013 @ 1:09 am

  11. […] Kami menawarkan pendekatan persil lahan untuk mekanisme adaptasi dikaitkan dengan perubahan iklim global. Intinya adalah setiap pemilik persil lahan harus melakukan “sesuatu” yaitu membangun sistem resapan dan atau sistem genangan di persil lahannya masing-masing. Dan itu tidak hanya dilakukan di kawasan rawan banjir saja, tapi di seluruh wilayah DAS bersangkutan. Karena itu diperlukan aksi kolektif skala lokal di seluruh wilayah DAS. Teknologi sederhana untuk itu bisa dilihat di halaman: https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/ […]

    Ping balik oleh dwi paradise 12 — Desember 3, 2013 @ 4:50 pm

  12. Jakarta tdk pernah lepas dari banjir.

    Komentar oleh Sewa Mobil Jakarta — Januari 8, 2014 @ 2:21 pm

  13. Apa saja penerapan teknogi pengendalian banjir yang dilakukan di jakarta? saya pernah membaca satu sumber dikatakan bahwa ditahun 1915an telah diterapkan teknogi untuk mencegah banjir. Saya sangat buth jawabannya, thank you!

    Komentar oleh Harianto Nainggolan — Maret 6, 2014 @ 1:36 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: