BebasBanjir2015

A Syarifuddin Karama

Kekeringan dan Banjir, Bom Besar bagi Pertanian Indonesia

A Syafruddin Karama

MEMASUKI bulan ini, ada sesuatu yang lebih penting dan lebih besar daripada pemilihan presiden putaran II, 20 September nanti dan bom heboh yang meledak di depan Kedutaan Besar Australia.

Apakah gerangan? Tanda-tandanya sudah terlihat, yakni pusonya ribuan hektare lahan pertanian akibat musim kemarau. Paradoksnya, di atas lahan yang puso itu bulan Desember, Januari, Februari, Maret, akan terjadi limpahan air yang sulit dikendalikan.

Sesungguhnya, dua fenomena itu adalah gejala alam dalam tingkatan wajar yang datang setiap tahun. Jika kemudian muncul ketidakwajaran, semata-mata karena kesalahan dalam penanganan, kerakusan segelintir orang dalam memanfaatkan sumber daya alam, kekeliruan memanfaatkan teknologi pertanian, dan kurangnya pengetahuan.

Dari segi kerusakan tanaman padi, kekeringan tahun 2003 lalu jauh lebih luas dibandingkan tahun ini, dan rata-rata pada 10 tahun lalu. Bahkan, bencana kekeringan 2003 menyerupai El Nino 1997 dan 1994, di mana 544. 442 hektare kekeringan dan 161.144 hektare lahan puso. Tahun ini, sekitar 3.623 lahan dinyatakan puso. Angka itu masih berpotensi untuk terus bertambah.

Data dari Badan Meteorologi Pertanian menyatakan, kemarau tahun lalu dan tahun ini masih tergolong normal. Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa kekeringan dengan intensitas tinggi tetap terjadi walau tidak ada El Nino?

Ada tiga aspek untuk membantu mengungkap gejala kekeringan, yakni aspek klimatologi, hidrologi, dan agronomi.

Secara klimatologi adanya pergeseran datangnya musim penghujan antara satu hingga dua bulan yang membuat mundurnya musim tanam. Sedangkan musim kemarau datang tepat waktu. Di saat yang sama, selama lima tahun terakhir perambahan hutan cenderung meningkat yang mengakibatkan terganggunya sistem hidrologi lingkungan.

Kerusakan sistem hidrologi ini yang mengakibatkan menurunnya daya ikat tanah menahan air. Waduk-waduk besar seperti Jatiluhur, Gajah Mungkur, Kedung Ombo dan Sempor mengalami penurunan tinggi permukaan air yang cukup signifikan di musim kemarau.

Kemudian untuk mengantisipasi gagal panen, kepada petani-petani di wilayah rawan kekeringan diminta tidak menanam padi yang sangat rentan terhadap pasokan air. Mereka dianjurkan menanam palawija yang tahan kekeringan sehingga tidak membuat kesengsaraan petani bertambah. Namun, kenyataannya petani kita masih berpikir secara tradisional, yakni harus menanam padi. Padahal, dengan panen palawija mereka pun bisa membeli padi.

Intensitas Tinggi

Intensitas kekeringan saat ini sangat mengkhawatirkan. Di daerah tertentu, pada kedalaman 100 meter dari permukaan tanah belum ditemukan air. Di daerah perkebunan ada kecenderungan petani untuk menebang pohon kelapa sawit dan kakao setelah penurunan produksi yang signifikan yang diyakini akibat kurangnya daya resap tanah menahan air.

Yang menarik adalah temuan mahasiswa-mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang meneliti pola hujan dan volume air di kawasan hutan yang dibuka. Pola hujan yang terjadi cenderung tetap, yang membedakannya hanyalah resapan airnya yang berkurang dari 2.500 mm menjadi 2.000 mm.

Daya resap tanah berkurang lantaran kegemburannya menurun setelah dilakukan penebangan hutan. Jika sebelumnya tanah mampu menahan air 70 persen, kondisi setelah penebangan berbalik menjadi hanya 40 persen yang tertahan. Dengan cadangan 40 persen, air tanah tidak mampu menyuplai kebutuhan tanam selama kemarau hingga musim penghujan tiba. Inilah yang membuat kekeringan dengan intensitas tinggi terjadi.

Penderitaan itu bagi orang-orang besar memang tidak terasa. Tetapi bagi orang kebanyakan baik yang tinggal di desa maupun di kota, merosotnya air tanah menjadi malapetaka. Pelbagai kebutuhan dasar sulit untuk dipenuhi, tanaman pertanian tidak bisa tumbuh dengan baik; perikanan akan lumpuh, dan ternak-ternak terancam kehidupannya.

Ancaman kondisi alam seperti itu masih dapat diatasi dengan intensifikasi dan penggunaan varietas unggul. Hanya saja tetap perlu dipertanyakan sampai seberapa jauh teknologi pertanian itu mampu menjawab ancaman alam? Seberapa cepat terobosan-terobosan mampu dihasilkan ahli-ahli pertanian?

Kendatipun semua dapat dilakukan, penataan kembali lingkungan hidup adalah persoalan jalan keluar murah yang tidak dapat diabaikan.

Untuk mengatasi kekeringan, ada beberapa pokok persoalan yang harus segera diatasi, yakni mengumpulkan air sebanyak mungkin di daratan, memperbesar daya simpan air tanah di sungai, waduk dan danau yang berarti pula menjaga sumber-sumber air itu dari pendangkalan.

Dan satu hal yang jauh lebih penting adalah menjaga tanaman, baik yang tumbuh di kebun maupun di hutan.

Secara hipotetis ada rumusan makin banyak tanaman, makin baik kemampuan tanah mengikat air.

Lalu apa yang harus dilakukan terhadap lahan-lahan yang gundul, lahan yang masih punya sisa tanaman dan lahan yang hanya sedikit mengalami kerusakan?

Dibiarkan secara alami mereka tumbuh dan tidak lagi dilakukan penebangan? Memang ini bisa dijadikan salah satu jalan keluar. Tetapi, jika diserahkan sepenuhnya proses itu kepada alam akan memakan waktu yang sangat lama untuk sampai pada kondisi semula. Belum lagi ada ancaman kebakaran lahan/ hutan yang bisa menghambat proses tersebut. Karena itu, upaya manusia diperlukan untuk membantu alam mencapai tingkat kestabilan.

Yang perlu dilakukan adalah membantu kemampuan lahan menyimpan air di permukaan tanah, menambah daya resap dan daya tampung, membuat sumur-sumur untuk menyimpan air di dalam tanah.

Selama ini, tidak ada upaya dalam skala nasional untuk memanfaatkan limpahan air hujan yang kadang malah menjadi musuh ketika turun dan mengalir dengan tak terkendali. Barang kali langkah sederhana ini -tidak akan mengganggu budget pemerintah yang memang sering kekurangan dana-akan menjadi jalan keluar termurah, yakni dengan membuat sumur-sumur atau lubang resapan mulai dari gunung, hutan, hulu sungai, permukiman, hingga ke hilir dan ke tepi pantai.

Sumur resapan ini dibuat kecil-kecil saja dengan kedalaman dua atau tiga meter dan lebar yang bisa disesuaikan dengan besarnya lahan. Tetapi paling tidak untuk wilayah perkotaan pada ukuran lubang resapan 1 x 1 x 1 saja sudah cukup membantu.

Lubang itu diisi dengan sampah organik dan jangan dibakar untuk menghindari hancurnya hewan-hewan pengurai seperti cacing. Cacing inilah yang akan membantu melumatkan sampah dan melubangi tanah. Dengan demikian, akan terjadi dua manfaat, yakni mendapatkan pupuk alami dengan biaya murah dan memperbesar kemampuan daya resap air.

Pembuatan Akuifer

Pada tanah yang berat (banyak liat atau tanah liat) mudah jenuh atau sering banjir, di mana daya resapnya relatif kecil, air di permukaan yang berlebihan harus da- pat disalurkan ke aquifer (sumur resapan yang sangat dalam).

Air akan masuk ke dalam akuifer melalui pipa yang dipasang hingga ke dasar sumur. Sumur resapan seperti itu selain bisa mencegah banjir dapat pula menangkal intrusi air laut dan kekurangan air di musim kemarau yang menjadi langganan bagi masyarakat di pinggir-pinggir perkotaan, seperti hampir semua warga di Jakarta Barat bagian utara dan Jakarta Utara atau wilayah perkotaan pesisir lainnya seperti Surabaya, Semarang dll.

Air yang boleh masuk akuifer harus memenuhi syarat tertentu. Untuk itu sebelum masuk ke dalam sumur, air dilewatkan dalam bangunan seperti septic tank.

Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah sumur resapan ”Tirta Sakti” dengan patent No P-971680 yang ditanam di halaman Kampus Usakti, Jakarta Barat. Setelah terpasang dengan baik, kini kampus tersebut tidak lagi mengalami kebanjiran.

Kemudian, memanfaatkan sepanjang aliran sungai dengan membuat embung dan cekdam. Fungsi embung ini untuk menampung air permukaan yang memang pemanfaatannya lebih mudah dan murah ketimbang air dalam tanah. Ini juga bisa menjadi solusi ketimbang membuat danau-danau baru untuk wilayah pertanian padat seperti Pulau Jawa.

Embung ini atau embroidered river levee sudah populer di China. Padahal, konsep pembuatan embung mereka ambil ketika berkunjung ke Departemen Pertanian pada awal tahun 2000. Bahkan, buku yang saya susun ”Pengelolaan Air dan Kesejahteraan Petani” -di dalamnya memuat tulisan soal embung- sudah dialihbahasakan dan menjadi bacaan wajib petani dan mahasiswa pertanian di China.

Setelah air disimpan atau terhimpun di dalam embung, untuk mengalirkannya ke areal persawahan diperlukan teknologi murah ”kincir angin”. Salah satu contohnya dapat dilihat dalam proyek percontohan yang sedang dikerjakan di Pondok Pesantren Kidang Raga Kecamatan Pangkalan, Kerawang Jawa Barat.

Setelah persoalan air teratasi barulah dimulai program penghijauan. Selama ini, program reboisasi tidak berhasil karena tidak memperhatikan aspek air. Reboisasi yang berhasil -di Yogya dengan tingkat keberhasilan tanam 80 persen-adalah yang memperhatikan sumber air terlebih dahulu.

Kegiatan pembuatan embung dan cekdam merupakan proyek padat karya yang sangat banyak menyerap tenaga. Tunggu apalagi? Marilah mulai sekarang kita mengamankan pasokan air, membuat embung, cekdam, sumur-sumur resapan, untuk mencegah bahaya kekeringan dan bencana banjir. Mudah-mudahan usaha-usaha itu bisa membuat bangsa ini kuat dalam sektor pertanian.

Penulis adalah staf ahli Menteri Pertanian RI

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2004/09/16/Editor/edi01.htm – 11k. Last modified: 16/9/04

2 Komentar »

  1. oke bgt blo

    Komentar oleh Anonim — Oktober 31, 2013 @ 7:57 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: