BebasBanjir2015

07 Perlu Contoh dari Istana

Pengendalian Banjir, Perlu Contoh dari Istana

Ganti kendaraan

Ganti kendaraan. Sumber: http://sanyasyari.com

Banjir pada hari Jumat, 1 Pebruari 2008, membuat berbagai fasilitas vital di Jakarta lumpuh. Presiden Bambang Susilo Yudhoyono harus berganti kendaraan, karena sedan yang ditumpangi tak dapat menembus genangan banjir di depan Sarinah. Bandara Soekarno – Hatta lumpuh total. Kerugian mencapai miliaran rupiah.

Menurut BMG, curah hujan yang berlangsung sejak pukul 07.00 – 13.00 pada hari itu adalah 171 mm. (Kompas, 2 Pebruari 2008). Apa artinya? Itu berarti curah hujan yang jatuh di lahan seluas 1 m2 adalah setebal 171 mm atau 17,1 cm. Jadi pada lahan 100 m2, misalnya, volume curah hujan yang jatuh di atasnya adalah sebanyak 100 x 0,171 m3 = 17,1 m3.

Ketika itu, Istana Negara ikut kebanjiran. Dengan curah hujan seperti di atas, maka pada persil lahan istana seluas 6,8 ha (68.000 m2), jumlah air yang jatuh di persil lahan Istana Negara adalah sebanyak 68.000 x 0,171 m3 = 11.628 m3. Pertanyaannya adalah berapa banyak bagian air hujan yang jatuh di persil lahan istana itu yang tertahan (terinfiltrasi atau tergenang pada cekungan-cekungan) di persil tersebut? Dan berapa banyak bagian air hujan yang menjadi aliran permukaan (run off) yang keluar dari persil lahan istana?

Dalam kajian ilmu lingkungan, bagian air hujan yang keluar dari persil lahan istana itu adalah eksternalitas hidrologi yang negatif dari persil lahan itu. Yang menanggung biaya eksternalitas itu adalah para pengguna jalan yang tergenang di sekitar istana, yang airnya antara lain berasal dari persil lahan istana. Ironi, memang, jika persil lahan istana justru menghasilkan eksternalitas yang memudharatkan seperti itu.

wikimapia

Istana Negara. Sumber: wikimapia

Untuk mengatasinya, pihak yang menguasai persil lahan istana itu harus melakukan internalisasi. Itu artinya, perlu dibangun sistem genangan (untuk memperbesar kapasitas genangan) dan atau sistem resapan (memperbesar kapasitas resapan) di persil itu untuk meminimalisir eksternalitas negatif tersebut.

Pertanyaannya adalah apakah mungkin tidak ada bagian air hujan yang jatuh di persil lahan istana yang keluar dari persil tersebut? Dengan asumsi bahwa terdapat ketersediaan dana yang cukup di lingkungan istana, maka sangat mungkin untuk pembangunan sistem genangan dan atau sistem resapan di istana, sehingga tidak menghasilkan eksternalitas hidrologi yang negatif dari persil itu.

Beberapa teknologi sederhana yang dapat diterapkan sebagai bagian dari sistem genangan dan atau sistem resapan di persil istana untuk volume sebanyak 11.628 m3 tersebut, antara lain: kolam-kolam infiltrasi, fasilitas-fasilitas penampungan air hujan (rain water harvesing), yang airnya dapat digunakan untuk menyiramtaman-tamandi istana, parit resapan / parit buntu yang dikombinasi dengan mulsa vertikal, penghijauan, penggunaan pupuk organik untuk menggemburkan lahan, lubang resapan biopori, sumur resapan biasa, serta sumur resapan yang menembus lapisan akuifer.

Penerapan berbagai teknologi itu, disamping meminimalisir eksternalitas hidrologi yang negatif, juga akan berkontribusi positif terhadap cadangan air tanah Jakarta yang makin kritis. Itu artinya, mengatasi banjir dan kekeringan tidak cukup dengan memperluas kawasan ruang terbuka hijau (RTH) belaka. Perluasan kawasan RTH harus dikombinasikan dengan upaya memperbesar kapasitas genangan dan kapasitas resapan dari tiap persil lahan, baik persil lahan RTH maupun non-RTH.

Setelah ada contoh dari istana, berbagai teknologi itu harus juga diterapkan di persil lahan di seberang istana, yaitu kawasan Monas, sehingga masyarakat dapat melihat dan mencontohnya.

Jika ada contoh dari Istana Presiden, maka akan sangat mungkin untuk dapat diterapkan juga pada persil-persil di kantor Istana Wakil Presiden, lahan-lahan kantor pemerintah di pusat, propinsi, dan kota/kabupaten, kemudian di persil-persil lahan kantor swasta.

Jika ada contoh di Monas, maka penerapannya sangat mungkin dilakukan di taman-taman lain, baik yang dikelola oleh pemerintah daerah atau taman-taman swasta / pribadi.

Presiden juga dapat berinisiatif membuat sistem genangan dan atau sistem resapan di rumah pribadinya Puri Cikeas, bahkan kalau mungkin, untuk curah hujan sebesar yang turun pada hari Jumat itu, tidak ada bagian dari air hujan yang jatuh di persil lahan itu yang mengalir keluar dari persil lahan Puri Cikeas. Asumsinya, Presiden memiliki dana dan kemauan untuk itu.

Jika ada contoh dari persil lahan Puri Cikeas, maka hal itu mungkin dapat dicontoh oleh wakil presiden, para menteri dan para pejabat di negeri ini untuk menerapkan di rumahnya masing-masing. Lalu dapat dicontoh di rumah-rumah para pegawai negeri sipil (PNS), di rumah-rumah karyawan BUMN, dan di rumah-rumah karyawan swasta.

Tanpa contoh dari istana, dan tanpa contoh dari Presiden serta dari para pejabat di negeri ini, mungkin tidak terlalu arif untuk mengajak masyarakat menerapkannya.

depok, sahroel polontalo

1 Komentar »

  1. info yang penting bagi seluruh warga , khususnya warga DKI yang berlahan sempit, semuanya untuk direnungkan demi lestarinya air tanah, thanks berat

    Komentar oleh kresno — September 22, 2010 @ 5:09 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: