BebasBanjir2015

Itu Bohong

Jakarta Bebas Banjir? Itu Bohong !

Didit Tri Kertapati – detikNews
Selasa, 28/10/2008 12:49 WIB

Jakarta – Wilayah DKI Jakarta akan selamanya terendam banjir pada saat musim hujan tiba. Jika dikatakan Jakarta bebas banjir, itu bohong!

“DKI tidak akan pernah bebas banjir, meski Banjir Kanal Timur (BKT) sudah selesai pun tetap akan ada banjir dari BKT itu. Kalau dikatakan Jakarta bebas banjir itu bohong,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Subandrio, di kantornya, Jl Inspeksi Saluran, Kalimalang, Jakarta Timur, Selasa (28/10/2008).

Menurut Subandrio, hampir 40 persen wilayah Jakarta lebih rendah dari permukaan air laut. Namun, dia mengatakan semua wilayah Jakarta rawan banjir.

“Saya tidak bisa prediksi, mana daerah yang rawan banjir. Saya katakan semua rawan banjir, Istana saja rawan banjir,” kata dia sambil mengajak masyarakat untuk membedakan antara penyebab dan masalah banjir di Ibukota.

Jakarta, jelas Subandrio, mempunyai kondisi alam tropis sehingga curah hujannya cukup tinggi. Banjir akan terjadi karena tak tertampungnya air hujan yang turun secara terus-menerus.

“Sungai-sungainya banyak yang meander (berkelok-kelok). Kemudian adanya penurunan tanah. Ditambah lagi sekarang ada fenomena pemanasan global, air menjadi naik,” kata dia.

Sedangkan permasalahan banjir, lanjut Subandrio, seperti tata ruang yang tidak mendukung. Penduduk Jakarta masih membuang sampah dengan sembarangan.

Danau-danau yang banyak dibangun di zaman Belanda kini telah berubah fungsi menjadi pemukiman. Tidak sedikit pula yang tinggal di bantaran sungai.

“Penanggulangannya dari hulu air sudah kita tahan, di tengah kita melestarikan situ-situ (danau). Di hilir air secepatnya kita alirkan ke laut, dengan pompa-pompa kemudian dengan BKT-BKB,” pungkasnya.(irw/nrl)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2008/10/28/124941/1027146/10/jakarta-bebas-banjir?-itu-bohong!

2 Komentar »

  1. kalau bebas banjir memang tidak mungkin. tetapi untuk mengurangi beban Jakarta idealnya ada waduk besar di daerah depok untuk meredam banjir dari Bogor, seperti dulu katanya pernah ada rencana seperti itu.

    Komentar oleh budi santosa — Maret 6, 2010 @ 8:21 am

  2. lagi-lagi saya tidak sependapat kalau sungai yang berkelok-kelok menjadi alasan Jakarta banjir. Kalau saya melihatnya bahwa banjir terjadi karena tidak ada manajemen tata kelola air yang terintegrasi/terpadu dan komitmen dari pemangku kepentingan sangat rendah. Mengapa buruk rupa, cermin dibelah?

    Tengoklah negeri Jiran Singapura. Di sana sempat terjadi banjir besar yang menggenangi orchard road tempo hari, sehingga heboh diberitakan. Tapi itu terjadi berapa kali dalam setahun, dalam 5 tahun, 10 tahun terakhir? Sungai di sana malah dibuatkan berkelok-kelok oleh pemerintahnya dengan maksud air hujan bisa diresapkan ke dalam tanah. Lahan sepanjang DAS dibebaskan dari penggunaan lahan yang tak semestinya, daerah tangkapan resapan air hujan dibuat sebanyak mungkin dengan membiarkan lahan terbuka hijau menjadi area tangkapan dan resapan air hujan, sistem drainase di seluruh kota terintegrasi dan dipelihara sehingga ketika hujan, air cepat dialirkan masuk ke dalam sistem drainase dan ditampung ke danau-danau (alam/buatan) sehingga selain bisa meresap ke dalam tanah, bisa dimanfaatkan untuk air baku PAM di sana.

    Karakteristik geografi Jakarta dan Singapura saya kira relatif sama, sama-sama di wilayah tropis, sama-sama di tepian laut. Bedanya cuma pada komitmen manusia yang tinggal di area saja.

    Kalau Bang Foke mau, mengapa tidak mulai komit dengan usaha

    – terus-menerus membudayakan sikap tertib buang sampah pada seluruh warga dan tamu yang ada di wilayah Jakarta; tidak cuma untuk 1-2 bulan program kerja tapi jadikan pola kebiasaan yang abadi

    – koordinasikan aktifitas gali menggali saluran di wilayah Jakarta; hari ini dinas PU selesai gali dan perbaiki saluran air, besok sudah dibongkar lagi oleh PAM karena alasan pemeliharaan jaringan pipa; setelah selesai proses bongkar, proses penutupan tidak rapi bahkan sering merusak saluran yang sudah selesai dikerjakan PU, lalu besok masuk aktivitas gali kabel oleh PLN dan INDOSAT/TELKOM,dll, Bagaimana tidak banjir kalau akhirnya ketika hujan terjadi, saluran air yang dibuat PU awalnya untuk limpasan air, jadi mubasir karena salurannya rusak.mampet karena aktivitas gali menggali yang tak karuan/tak terkoordinasi itu. Mengapa tidak membuat satu model saluran bawah tanah dalam bentuk terowongan, dimana bagian bawahnya berguna untuk saluran air, lalu bagian dinding-dindingnya dimanfaatkan jaringan kabel dan pipa air, pipa gas) sehingga kalau ada aktivitas perbaikan, tidak perlu gali lagi tapi petugas tinggal buka dan masuk ke dalam saluran melalu pintu-pintu akses dari permukaan jalan.

    – komitmen untuk jalankan dan awasi pelaksanaan perda perda yang sudah ada pada setiap bangunan yang dibangun; apakah sudah memenuhi aturan sumur resapan, lubang biopori,dll

    – buat kesepakatan dengan setiap pemilik bangunan, khususnya perkantor atau mall untuk membuat saluran limpasan air hujan yang turun dari setiap bangunan perkantoran/mall yang terintegrasi dengan saluran drainase kota yang dibangun pemda sehingga air hujan tidak mengalir ke jalan tapi langsung ke dalam saluran buang yang diarahkan ke penampungan seperti embung/danau buatan/situ yang bisa digunakan nantinya sebagai air baku PAM

    Banyak cara lagi yang bisa disarankan, cuma masalahnya kembali pada komitmen Bang Foke dan aparat pemda dan tentunya masyarakat yang bila digerakan tentu akan bergerak bahu-membahu.

    Komentar oleh F Yudhi Lesmana — November 3, 2010 @ 12:51 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: