BebasBanjir2015

Eko Priyo Utomo

MODEL PARADIGMA BANJIR

Oleh: Eko Priyo Utomo,  28 November 2008

Sumber:  http://kehidupan-disamarinda.blogspot.com/

BANJIR yang terjadi sudah pasti PENYEBAB UTAMANYA ADALAH HUJAN. Namum bila ADA HUJAN di suatu daerah/kawasan BELUM TENTU TERJADI BANJIR. Boleh diambil kesimpulan HUJAN BUKAN MERUPAKAN SYARAT/KONDISI MUTLAK TERJADINYA BANJIR, MASIH ADA SYARAT TAMBAHAN UNTUK MENIMBULKAN BANJIR. Apa syarat tambahan tersebut?????

Jadi hubungan sebab-akibat variabel HUJAN dan BANJIR tidak berlaku mutlak, artinya bila hujan belum tentu terjadi banjir, masih ada variabel lain, sebut saja TANGKAPAN AIR. Variabel HUJAN dan TANGKAPAN AIR adalah variabel sebab dan variabel BANJIR adalah variabel akibat.

Nah, dengan ketiga variabel ini, kita dapat membuat model untuk meramalkan ataupun membuat simulasi banjir yang akan terjadi dengan nilai-nilai tertentu pada indikator dari masing-masing variabel HUJAN dan TANGKAPAN AIR.

Berbicara tentang variabel HUJAN, tentunya tidak terlepas dengan indikator INTENSITAS HUJAN, LAMA HUJAN, LUAS KAWASAN HUJAN, PERILAKU HUJAN ATAS PERIODE WAKTU. INTENSITAS HUJAN merupakan indikator yang digunakan untuk mencatat peristiwa tinggi curah hujan per satuan waktu (mm/menit, mm/jam, mm/hari, mm/minggu, mm/bulan, mm/tahun). LAMA HUJAN adalah indikator untuk mencatat lama terjadinya hujan. Indikator LUAS KAWASAN HUJAN untuk mencatat luas area hujan terjadi pada saat yang bersamaan. PERILAKU HUJAN untuk mencatat pola distribusi hujan berdasarkan waktu apakah konstan atau bervariasi mengikuti fungsi tertentu atau polanya acak.

Nah, untuk mencatat indikator INTENSITAS HUJAN, LAMA HUJAN dibutuhkan sebuah Stasiun pengukur curah hujan untuk mewakili peristiwa hujan pada daerah dimana lokasi stasiun pengukur berada. Untuk mencatat indikator LUAS KAWASAN HUJAN maka dibutuhkan beberapa atau banyak stasiun, untuk dapat menyatakan luas kawasan terjadinya hujan yang bersamaan waktunya. Dan PERILAKU HUJAN dapat dapat didekati dengan menggunakan hasil catatan curah hujan yang bersifat time-series dari stasiun pengukur curah hujan.

Keakuratan ramalan tentang peristiwa banjir ditentukan oleh KEAKURATAN (VALIDITAS dan RELIABILITAS) DATA HASIL PENCATATAN DENGAN INDIKATOR-INDIKATOR HUJAN tersebut diatas. Validitas menyangkut syarat-syarat teknis sebuah alat ukur curah hujan: ukuran gelas, tinggi dan posisi ruang bebas gangguan, waktu pencatatan, sinkronisasi waktu pencatatan, dan masih banyak yang lainnya. Reliabilitas pengukuran dikatakan tercapai, bila secara konsisten ada korelasi kuat hasil pencatatan peristiwa hujan yang terjadi bersamaan antar stasiun curah hujan yang berdekatan atau dengan membuat simulasi hujan tiruan dan mencatat hasil pengukuran dari waktu ke waktu apakah hasilnya konsisten dalam tinggi per satuan waktu dengan percobaan yang bervariasi.

Penting untuk diteliti apakah curah hujan, intensitas, perilaku dari tahun-ke tahun, dari puluhan tahun yang lalu ke puluhan tahun sekarang, atau berabad abad yang lalu dengan waktu sekarang?. (Nah, disinilah histori data hujan itu penting, kalau gak ada data historis hujan orang suka membuat asumsi saja, akhirnya solusi tidak pernah tepat).

Akhirnya yang paling hangat dan selalu diperdebatkan adalah variabel berhubungan dengan TANGKAPAN AIR. Variabel ini meliputi banyak hal atau Faktor : KARAKTERISTIK KONTUR DARATAN, SIFAT SERAPAN LAPIS TANAH, POROSITAS LAPIS TANAH, TUTUPAN LAHAN OLEH TANAMAN/TUMBUH-TUMBUHAN, PROFIL SUNGAI, PANJANG SUNGAI, KARAKTERISTIK SUNGAI, KEMIRINGAN DASAR SUNGAI, SALURAN DRAINASE KAWASAN, KEMIRINGAN SALURAN DRAINASE, KARAKTERISTIK SALURAN DRAINASE, TINGGI MUKA AIR TANAH KAWASAN, TINGGI KAWASAN DARI MUKA AIR LAUT, dan masih banyak hal yang lainnya.

Dari faktor-faktor tesebut ada yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan ada faktor yang terbentuk oleh proses alam (given) alias karakteristik apa adanya. Siklus mengalirnya air hujan dari mulai jatuh ke permukaan daratan sampai kembali ke lautan, akan membentuk sebuah kesetimbangan yang melalui proses berabad-abad, bahkan ribuan tahun, jutaan tahun. Pada proses tersebut ada air hujan yang menerobos lapisan tanah didaratan dan tertahan dalam lapisan tanah atau mengalir dalam lapisan tanah, ada yang tertahan di danau, ada yang tertahan di rawa-rawa, ada yang tertahan di akar tanaman hutan atau semak-semak, ada yang langsung mengalir ke anak sungai dan induk sungai, ada juga yang menguap. Yang perlu menjadi perhatian utama dari proses yang setimbang tersebut adalah faktor penentu kesetimbangan proses yang paling dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan faktor yang paling dominan mempengaruhi terjadinya Banjir.

Variabel BANJIR, meliputi sub variabel atau indikator yaitu LUAS KAWASAN BANJIR, TINGGI MUKA AIR BANJIR PER SATUAN WAKTU, SURUT MUKA AIR BANJIR PER WAKTU, TANGGAL DAN JAM TERJADINYA BANJIR, POLA ARAH ARUS AIR BANJIR.

Jelaslah, variabel CURAH HUJAN dan TANGKAPAN AIR berhubungan dengan variabel BANJIR. Dari hubungan ini dapat dibangun hipotesis-hipotesis mayor dan minor. Berangkat dari hipotesis (merupakan fokus masalah) tersebut maka fokus masalah banjir yang terkait dengan hujan dan tangkapan air akan bisa dipecahkan dengan tepat, karena untuk membuktikan kebenaran hipotesis dibutuhkan DATA (bukan asal menyimpulkan SEBUAH DUGAAN (HIPOTESIS) atas asumsi, tapi atas fakta). Data adalah merupakan nilai dari fakta atau peristiwa yang dilihat, diukur, dihitung dan dicatat berdasarkan indikator varibel-variabel yang bersangkutan.

Sebagai contoh hipotesis yang dapat dibangun adalah sebagai berikut:

  1. Jika terjadi Hujan pada seluruh kawasan DAS Karang Mumus akan menyebabkan Banjir di Kawasan kecamatan Sungai Pinang Dalam.
  2. Jika Rata-rata tinggi curah hujan melebihi 200 mm/jam di stasiun X, Y dan Z selang waktu 3 jam, akan menyebabkan banjir di kawasan Gunung Lingai.
  3. Ada hubungan linier antara curah hujan stasiun X dengan tinggi muka air banjir di kawasan Lembuswana.
  4. Ada penurunan kapasitas tangkapan air di SUB DAS X SUNGAI KARANG MUMUS. (hubungan antara hujan dikawasan sub das X tersebut dengan banjir dikawasan tertentu yang dipengaruhi oleh sub das X, dibuktikan dengan menggunakan data hujan dan data banjir kawasan tersebut, atau dengan melihat time series hubungan antara curah hujan di sub das x dan debit/tinggi muka air sungai di sub das x tersebut)

Dan masih banyak hipotesis yang dapat dimunculkan, tentunya tergantung pada masalah, identifikasi masalah dan rumusan masalah yang akan dipecahkan atau dicari jawabnya. Dan masalah yang dipecahkan, bersifat teoritis (pengembangan ilmu) atau praktis (terapan) serta merupakan prioritas yang akan ditangani.

Inti dari tulisan singkat ini, menunjukkan bahwa MODEL PARADIGMA HUJAN, TANGKAPAN AIR dan BANJIR serta PENANGANANNYA harus dirancang terlebih dahulu. Model ini merupakan dasar berpikir tentang fenomena banjir yang disepakati bersama antar pemangku kepentingan. Kemudian baru berbicara DATA, cara pengumpulan DATA, instrumen Pengumpul data, biaya serta hal-hal teknis dan non teknis. Tentunya jenis data dan jumlahnya tergantung pada fokus masalah atau rumusan masalah yang ingin dipecahkan.

Implikasi dari masing-masing hipotesis akan dibahas kemudian…..

DUGAAN MASYARAKAT SAMARINDA TENTANG “PENYEBAB BANJIR”

Oleh:  Eko Priyo Utomo,  09 Desember 2008

Sumber: http://kehidupan-disamarinda.blogspot.com/

Sering terjadi banjir atau genangan air akibat hujan di beberapa lokasi di Kota Samarinda pada akhir-akhir ini, khususnya pemukiman sepanjang sungai Karangmumus atau anak sungai Karangmumus, memunculkan tanda tanya pada para korban banjir. Apa penyebab terjadinya banjir di lokasi-lokasi tersebut???. Banyak sekali dugaan atau jawaban sementara (tuduhan) yang bermunculan dari benak masyarakat Samarinda yang mengalami banjir, diantaranya:

  1. Banjir yang sering terjadi di tempat saya disebabkan ada penambangan batu bara baru di hulu sungai karangmumus.
  2. Pembangunan mal-mal, ruko-ruko, perumahan dan fasilitas umum (stadion) yang semakin tak terkendali menyebabkan lokasi dan frekwensi banjir bertambah.
  3. Perambahan dan Perusakan hutan di hulu sungai karangmumus menyebabkan banjir semakin sering dan parah.
  4. Curah hujan yang semakin tinggi pada tahun penyebab utama sering dan parahnya banjir di beberapa tempat di Samarinda
  5. Pendangkalan yang berjalan di alur sungai karangmumus menyebabkan sering dan parahnya banjir di beberapa lokasi di Samarinda.
  6. Sering dan tingginya Banjir terjadi akhir-akhir ini disebabkan bertambah luasnya pembukaan lahan pertambangan baru, dan pengupasan lahan untuk lapangan terbang baru di sei-siring.
  7. Bertambah banyaknya sampah dibuang di sungai menyebabkan banjir sering terjadi dan lebih parah akhir-akhir ini.
  8. Curah hujan yang tinggi dan terjadinya pasang laut tinggi yang bersamaan menyebabkan banjir yang lebih sering dan parah.

Tentunya masih banyak dugaan (jawaban sementara) atas tanda tanya pada benak warga Samarinda yang kebanjiran, bahasa kasarnya “umpatan” atau “tuduhan” yang terucap oleh banyak warga Samarinda yang mengalami kerugian materiil dan psikologis akibat banjir.

Namun, umpatan, tuduhan, kalau dihaluskan “dugaan” atau “jawaban sementara” dari warga dapat dipandang sebagai “hipotesis” yang merupakan jawaban sementara masalah (pertanyaan dalam benak mereka) terkait dengan banjir. (dasar dosen metodologi penelitian, tuduhan dijadikan hipotesis) Agar dugaan ini dapat dibuktikan benar atau salah, maka perlu dilakukan survey/studi, alias penelitian.

Penelitian adalah merupakan akativitas ilmiah, yang menggunakan langkah sistematis, transparan, metodis, terukur dan analitis. Penggabungan berpikir deduktif dan induktif adalah inti dari penelitian.

Deduktif, berarti menurunkan rumusan masalah ditelusuri atas dasar “model paradigma Banjir Samarinda” bukan model paradigma banjir miliknya Belanda loh…. (nanti bisa salah sasaran apalagi kalau dilakukan studi banding ke Belanda tanpa pertimbangan matang, malah nambahin masalah bukan solusi… he.. he…).

Induktif berarti berangkat dari rumusan masalah dilakukan studi lapangan untuk mengumpulkan fakta-fakta atau data-data, kemudian diolah, dianalisa dan diuji kebenarannya. (ini aja dilakukan berkesinambungan tiap tahun, daripada bingung tiap tahun mencari aktivitas lain yang tak jelas untuk penyerapan APBD ho… ho… ho….) Hasil uji akan menunjukkan apakah benar atau salah jawaban sementara atau dugaan sementara yang mereka miliki.

Permasalahan utama, bagaimana masyarakat awam mengetahui dan memahami “model paradigma banjir”???. Inilah tugas dari pemerintah, para tokoh, para dosen untuk mensosialisasikan, agar mereka mengerti tentang Banjir dan penyebabnya. Dengan mengerti “model paradigma banjir” mungkin akan menggugah kesadaran untuk ikut berperan serta dalam menanggulangi banjir atau ikhlas dalam keadaan kebanjiran yang harus mereka hadapi (karena belum ada solusi atau memang tidak bisa diatasi seiring dengan perambahan kawasan terbuka oleh kegiatan warga Samarinda, rawa jadi perumahan, hutan jadi kebun, kebun jadi pabrik, semak jadi lapangan/stadion/gedung, semak jadi areal tambang, sungai semakin dangkal, sehingga tak ada ruang bagi air untuk meresap ketanah atau mengalir ke saluran sungai dengan lancar, berputar-putar di sekitar pemukiman warga, tidak tertampung oleh kapasitas penampang sungai , tidak ada lain kecuali ikhlas). (kata warga Samarinda, ikam gundul yang kami ikhlaskan… he… he…)

Tapi, masih ada juga yang usil berprasangka, jangan-jangan para pemangku kepentingan dari pihak pemerintah yang tidak memahami “paradigma banjir Samarinda”, atau mereka tidak mau tahu atau belum menemukan solusi atau memang tidak ada solusi sehingga tak berdaya mengendalikan banjir, kalau ini yang terjadi…. lebih baik kita melatih “KESABARAN” dan “IKHLAS”. (mimi, sabar dan ikhlaskan rumah mimi kebanjiran terus setiap tahun, mungkin belum ketemu solusinya atau bahkan memang tidak ada solusinya, yang penting bagaimana anak kita bisa tumbuh dan tetap bisa beraktivitas, selalu gembira dan sehat berdampingan dengan banjir tahunan….. he… he…. he…)

Namun, bila “paradigma banjir” sudah dipahami oleh semua masyarakat dan pemerintah, tidak secara otomatis banjir dapat ditangani, tapi masih membutuhkan rangkaian kegiatan lain yang penting yaitu “MELAKUKAN PENELITIAN YANG BERKESINAMBUNGAN” terkait dengan pengendalian banjir. Anggaran dan Pembangunan untuk kepentingan pengendalian Banjir tentunya atas dasar hasil penelitian yang ditarik dari “paradigma banjir Samarinda”. Hasil penelitian inilah yang menjadi dasar dalam melakukan tindakan nyata (pengambilan keputusan) dalam menangani masalah spesifik terkait dengan banjir di Samarinda. Satu penelitian hanya dapat memecahkan masalah spesifik yang menjadi titik awal sebuah penelitian. Oleh karena banyak masalah yang mungkin muncul dalam menangani masalah banjir atau masalah mungkin berjenjang ada masalah utama dan ada masalah anak (akar masalah), jadi membutuhkan banyak penelitian untuk banyak masalah dan penelitian yang berkesinambungan untuk memecahkan masalah yang berjenjang. Insya Allah, maka jawaban masalah akan ditemukan, dan tindakan tepat dapat dihasilkan.

SISTEM PENGENDALIAN BANJIR KOTA SAMARINDA

Oleh: Eko Priyo Utomo, 11 Desember 2008

Sumber: http://kehidupan-disamarinda.blogspot.com/

Samarinda ada banyak sungai, diantaranya S. Karang mumus, S. Sambutan, S. Ampera, S. Tempurung, S. Kerbau, S. Kapih, S. Lais, S. Karang Asam Kecil, S. Karang Asam Besar, S. Kujang, S. Loa bakung, S. Loa buah, S. Rapak dalam, S. Mangku jenang, S. Palaran, S. Keledang, S. Palaran, dan masih banyak sungai-sungai kecil lainnya, dan beberapa anak sungai yang memiliki nama sendiri-sendiri.

Sungai utama dan panjang yang melewati daerah perkotaan, yaitu S. Karang mumus, S. Karang Asam Kecil, S. Karang Asam Besar. Ketiga sungai inilah yang melalui daerah padat penduduk dan menjadi alur yang mengalirkan tangkapan air pada masing-masing DAS-nya menuju ke Mahakam.

Konsultan BUMN, telah membuat rencana Sistem Pengendalian Banjir Kota Samarinda, dibagi 3 (tiga) bagian : (1) . DAS sungai Karang Mumus, (2) DAS sungai Karang Asam Kecil, (3) DAS sungai Karang Asam Besar. Adapun rencana jenis bangunan dan kegiatan untuk pengendalian banjir berupa:

1. Pembangunan Bendungan Pengendali 2. Embung atau Polder 3. Normalisasi sungai 4. Pembuatan pintu pengatur pengaruh air pasang/surut di muara sungai

Untuk sub sistem DAS Karang mumus, diusulkan ada perencanaan

Berikut hasil perancangan konsultan BUMN, berupa Sistem Pengendalian Banjir Kota Samarinda.

Berikut rencana Embung Lempake di Hulu DAS Karang mumus. Pada bagian kanan sub DAS S. Karang mumus.

Berikut rencana Embung Pampang 1 dan Embung Pampang 2 di hulu Sub DAS Karang Mumus bagian Kiri

Berikut Rencana Embung Muang yang membuang air melalui sungai muang

Berikut Lokasi Bendungan Lempake (Sudah dibangun)

Rencana Embung Sempaja (masuk DAS Karang mumus). Rencana Bendali Suryanata (masuk DAS Karang Asam Kecil). Rencana Embung Gang Indra (masuk DAS Karang Asam Kecil). Kolam Retensi Air Hitam (masuk Das Karang Asam Kecil).

Rencana Bendali Damanhuri

Rencana Pengerukan (normalisasi) Sungai Karang mumus terutama bagian tengah sampai muara yang mengalami pendangkalan. Rencana Bendali Karang Asam Besar (DAS Karang Asam Besar). Normalisasi Sungai Karang Asam Besar. Rencana Pintu Sungai Karang Asam Besar. Rencana Bendali Loa Bakung (DAS Sungai Loa Bakung). Normalisasi Sungai Loa Bakung (DAS Sungai Loa Bakung)

Rencana Pembangunan Pintu Pengatur Air di Muara Sungai Karang mumus mengurangi pengaruh Pasang-Surut Air Laut

CURAH HUJAN SAMARINDA

Oleh: Eko Priyo Utomo, 13 Desember 2008

Sumber: http://kehidupan-disamarinda.blogspot.com/

Dari beberapa penelusuran berita tentang banjir di koran on-line, dokumen-dokumen yang mengacu pada BMG Samarinda diperoleh beberapa cuplikan data curah hujan kota Samarinda.

  1. Menurut BMG Samarinda, selama 28 tahun, curah hujan tertinggi hanya sehari dalam sebulan.
  2. Selama waktu 28 tahun tersebut, akumulasi rata-rata curah hujan tertinggi, diperoleh yang tertinggi pada bulan Desember, sebesar 214,9 mm; dan curah hujan tertinggi kedua bulan Nopember sebesar 189,9 mm
  3. Data 30 tahun, rata-rata curah hujan bulan januari 191 mm/bulan atau ada 18 hari hujan. Pebruari mencapai 175 mm/bulan, dengan hari hujan 17 hari. Stasiun pencatat hujan Temindung, pernah mencatat jam 04.30 s/d 14.00 (9,5 jam) tercatat 53,9 mm.
  4. Kejadian banjir di tahun 1998, adalah banjir terbesar terjadi di Samarinda, tercatat pada waktu itu curah hujan tertinggi pada 9 Juni 1998 sebesar 85,0 mm; 26 Desember 1998 sebesar 74,3 mm.
  5. Enam bulan terakhir tahun 2007, curah hujan tertinggi terjadi pada April 2007 (81,3 mm), namun banjir besar terjadi Februari, dengan curah hujan 50,1 mm. 1 November 2007 tercatat 70,5 mm/hari; 25 November 2007 tercatat 80 mm/hari (subuh sampai sore). Pada sekitar 1 dan 2 Januari 2007 terjadi banjir di beberapa tempat, pada saat itu tercatat tinggi curah hujan 50 mm. Pada juni 2007 (57,0 mm), minggu 17/6/2007 (57 mm), Sabtu 16/6/2007 (25,2 mm), Senin 18/6/2007 (23,3 mm), Rabu 20/6/2007 (9,5 mm).
  6. Awal November 2008, banjir terjadi dimana-mana di Samarinda, pada saat itu tercatat curah hujan 57,5 – 70 mm/hari, dan hujan terjadi berhari-hari. Pada pertengahan November curah hujan tercatat 70 mm/hari. Tanggal 14 November 2008, jam 14.30 tercatat intensitas hujan 52 mm.

Untuk mengecek kebenaran data tersebut, bandingkan sendiri dengan dokumen hasil pencatatan curah hujan dari BMG Samarinda.

Yang jelas dari beberapa peristiwa terjadinya hujan di Samarinda, nilai tinggi curah hujan tidak selalu memiliki korelasi kuat dengan kejadian banjir pada lokasi tertentu di Samarinda, mengapa hal ini terjadi????

Bisa jadi, karena luas kawasan hujan dan distribusinya selalu berubah setiap terjadi peristiwa hujan, dimana variabel luas kawasan dan distribusinya tidak dapat termonitoring oleh stasiun BMG Samarinda, yang jumlahnya terbatas. Sehingga variabel LUAS KAWASAN HUJAN dan DISTRIBUSINYA tidak terdatakan. Bila data untuk variabel CURAH HUJAN dan LUAS KAWASAN HUJAN dan DISTRIBUSINYA tersedia, maka korelasinya dengan BANJIR akan lebih bagus untuk dipahami hubungan sebab-akibatnya. Apalagi ditambah variabel sela, TANGKAPAN AIR, hubungan sebab-akibat antara CURAH HUJAN, LUAS KAWASAN HUJAN dan DISTRIBUSINYA, serta TANGKAPAN AIR terhadap BANJIR akan lebih dipahami dengan sempurna.

Namun bisa juga, CURAH HUJAN tidak berkorelasi kuat dengan BANJIR di suatu lokasi karena ada variabel lain SYSTEM SALURAN (DRAINASE) dan LUAS TANGKAPAN yang menjadi penentu kuat tidaknya korelasi CURAH HUJAN dengan BANJIR di lokasi tersebut.

ILUSTRASI UNTUK MEMBAYANGKAN VOLUME AIR HUJAN

Curah hujan atau tinggi adalah Volume air hujan dalam gelas ukur dibagi luas corong penangkap hujan.

Misal, bila tertampung air hujan pada gelas ukur sebesar 200 ml atau 200 cc atau 200 cm3, dan luas corong (penangkap) air alat ukur 100 cm2, per hari. Hitung berapa tinggi air hujan dan berapa total volume air hujan pada hari tersebut bila hujan terjadi merata di kecamatan Samarinda ulu (58,26 km2)?

Jawab:

maka tercurah hujan setinggi = 200/100 = 2 cm = 20 mm. (selama waktu dihari pencatatan)

Di kecamatan samarinda ulu tercurah hujan 0,02 m x 58.260.000 m2 = 1.165.200 m3. (Bayangkan akan dibutuhkan sebanyak 233.040 truck tangki air berkapasitas 5000 liter dikecamatan tersebut untuk menampung air hujan di hari tersebut!!!, kalau curah hujannya 50 mm, hitung sendiri…..).

Sebagai ilustrasi, di Jakarta pada 9 – 3 Pebruari 2007 (5 hari) , turun hujan berturut-turut, terjadi genangan pada daerah seluas 706,5 km2 pada waktu itu, dengan kedalaman rata-rata air banjir 1 m. (anggap saja tinggi hujan 1 m/5 hari = 20 cm/hari, akan dibutuhkan truck pengangkut air 5000 l sebanyak 28.260.000 truck, untuk menampung air hujan tersebut).

BERAPA AIR YANG DIGELONTORKAN OLEH KERUSAKAN DAS

Oleh: Eko Priyo Utomo, 14 Desember 2008

Sumber: http://kehidupan-disamarinda.blogspot.com/


Luas DAS sungai Karang mumus sekitar 36.527,73 Ha = 365.277.300 m2. Bila DAS Karang mumus rusak 20%, dan kerusakan tersebut menyebabkan air hujan tidak tidak terserap/tertahan oleh kerusakan tersebut (menjadi lahan kedap air), maka akan ada 73.055.460 m2, luas lahan yang tidak mampu meresapkan air hujan.

Daerah Aliran Sungai Karang Mumus

Bila turun hujan merata pada bagian yang rusak, misal curah hujan 20 mm, maka akan dibutuhkan truck tangki air berkapasitas 5000 liter sebanyak 292.221 truck disediakan untuk menampung air hujan dengan tinggi 20 mm. Kalau curah hujan terjadi 1 hari, dengan curah hujan 20 mm, bisa anda bayangkan berapa panjang barisan truck tangki yang terjadi…… bila panjang satu truck 3 m, akan ada barisan truck tangki berjajar 8 lapis , dengan panjang barisan dari Samarinda ke Balikpapan…. !!!! (bila Samarinda – Balikpapan 112 km)

Dengan adanya pembangunan, pastilah ada pemanfaatan lahan resapan (hutan, semak, embung, tegalan, rawa, saluran, anak sungai, halaman rumah) menjadi perumahan, mall, jalan, stadion, hotel, lapangan terbang, tempat parkir dan penambangan batu bara, sehingga kerusakan DAS Karang mumus akan semakin parah dan luasan kerusakan bertambah besar, dan ini berjalan terus karena aktivitas pembangunan masih berlangsung. Agar pembangunan tidak merusak lingkungan maka harus menerapkan konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan. (bagaimana?????)

Pengendalian banjir memang permasalahan kompleks, melibatkan banyak disiplin ilmu diantaranya hidrologi, lingkungan, hidrolika, ekonomi, hukum, sosial. Yang jelas luas daerah tangkapan air di Samarinda (DAS Sungai Karang mumus, DAS Sungai Karang Asam Kecil, DAS Sungai Karang Asam Besar, DAS Sungai Loabakung, dan DAS sungai lainnya), pelan tapi pasti luas resapan air semakin berkurang disebabkan aktivitas pembangunan oleh warga Samarinda (membangun perumahan, jalan, fasilitas umum, ruko, mall, stadion, lparkir, lapangan terbang, sawah, penambangan, dll). Sehingga air hujan yang tidak tertampung/teresap menjadi limpasan air permukaan dan menyebabkan banjir dengan debit yang lebih besar dan semakin cepat waktu puncak debit terjadi.

Sudah saatnya Pemerintah kota Samarinda mengambil tindakan tegas dalam rangka pengendalian banjir, yaitu membuat rancangan komprehensiv Tata Guna Lahan yang Berwawasan Lingkungan. Pemerintah harus membuat regulasinya dan syarat-syarat/peraturan dengan rinci dan dijalankan dengan konsisten. Setiap aktivitas yang merubah tata guna lahan baik kecil ataupun besar harus memenuhi syarat/peraturan yang berlaku di Samarinda, bahkan untuk proyek fisik khususnya skala menengah dan besar wajib sudah ada hasil Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dengan AMDAL yang serius (bukan formalitas), maka dampak positif dan negatif terhadap banyak aspek dari sebuah proyek dapat diperkirakan, bila berdampak negatif tentunya harus ada solusi penanggulangannya. Dengan demikian dampak negatif akibat pembangunan dapat ditekan sekecil mungkin.

Selama ini pengendalian banjir dominan dilakukan berorientasi teknis murni: pengaturan dan perbaikan sistem sungai (sistem jaringan sungai, normalisasi sungai, perlindungan tanggul, sudetan, dst); pembuatan Bangunan Pengendali Banjir (Bendungan/dam, kolam retensi, check dam/penangkap sedimen, polder, retarding basin, embung). Kegiatan pengendalian banjir dengan cara ini, berjalan dengan waktu akan muncul kembali karena akar masalahnya belum terselesaikan, yaitu masih berlangsung perambahan daerah resapan untuk kepentingan pemukiman, fasilitas umum, jalan, sawah, dst.

Jadi Syarat dan Regulasi Tata Guna Lahan adalah menjadi akar masalah, berapa persen untuk pemukiman, berapa persen untuk bangunan perdagangan, berapa persen untuk hutan kota, berapa persen untuk waduk, berapa persen untuk infrastruktur, berapa persen untuk sawah atau kebun, berapa persen untuk rawa asli, berapa persen untuk tegalan, berapa persen embung/kolam retensi, dst.

Selain Syarat dan Tata Guna Lahan, perlu ada pengelolaan DAS, konservasi DAS, pengendalian erosi, pengelolaan daerah banjir (rendah), peramalan banjir, peringatan bahaya banjir, penanganan korban banjir, asuransi, dsb.

Harus dipikirkan pula penyediaan pemukiman di daerah padat yang sudah tidak diperkenankan lagi untuk melakukan pembukaan lahan perumahan, dengan penyediaan rumah susun (apartemen) untuk memenuhi perumahan bagi warga Samarinda.

Setiap rumah wajib membuat sumur resapan yang ditetapkan oleh pemerintah kota, berdasarkan lokasi rumah, karakteristik tanah, tinggi muka air tanah, prosentase luas sumur resapan terhadap luas tanah. Dan aturan penutupan halaman rumah dengan paving, atau bahan penutup yang dapat meresapkan air hujan.

Penyediaan fasilitas gedung bertingkat untuk kepentingan bersama pihak swasta, seperti kantor, toko, rumah makan, super market, tempat hiburan, khusunya di pusat kota Samarinda.

Pembangunan jalan kampung dan perumahan harus menggunakan bahan penutup berupa paving stone, yang dapat meresapkan air.

Sosialisasi mengenai membuang sampah pada tempatnya, melakukan pembersihan saluran dan sungai dari sampah, pemindahan dan relokasi pemukiman secara bertahap bagi warga yang tinggal diatas sungai.

Yang terakhir harus melakukan kegiatan pengendalian jumlah penduduk Samarinda, melalui sosialisasi Keluarga Berencana (KB, 2 anak cukup), serta menekan urbanisasi penduduk. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali (tanpa direncanakan dengan ketersediaan sumberdaya alam dan perekonomian setempat) implikasinya sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkungan. Penyediaan sumber daya alam, penyediaan lahan, penyediaan energi, penyediaan lapangan kerja, masalah sosial. Semakin bertambah penduduk kota semakin bertambah kebutuhan luas lahan untuk pemukiman, fasilitas umum, ruas jalan, fasilitas perdagangan, akhirnya menggangu kesetimbangan lingkungan, salah satu akibatnya adalah BANJIR.

Sebagai ilustrasi, Jakarta yang sudah sedemikian pesat pembangunannya, dan telah digelontorkan uang ratusan trilyun rupiah untuk pengendalian banjir, kawasan yang puluhan tahun lalu banjir sampai saat ini masih tetap kebanjiran, bahkan ketinggian dan lama genangan banjir lebih besar, celakanya muncul kawasan banjir baru. (konskwensi menjadi kota metropolitan, dengan adanya jalan dan bangunan semua air hujan secepatnya mengalir ke saluran drainase, tidak dimungkinkan ada peristiwa peresapan air ke tanah)

 

2 Komentar »

  1. trims imformasi dan analisis kajiannya, perlu diinformasikan dan disosialisasikan dalam bentuk seminar yang dihadiri oleh para pengambil kebijakan di kota Samarinda, agar perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dapat terencana dan mampu meminimalisasi dampak luapan di kota samarinda.

    Komentar oleh Darnono — Oktober 30, 2015 @ 8:18 pm

  2. bisa minta peta sub das karang mumusnya kah buat penelitian

    Komentar oleh Hardy — November 5, 2015 @ 3:50 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: