BebasBanjir2015

Ligal Sebastian

PENDEKATAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BANJIR (Flood Prevention and Control Approach)

Ligal Sebastian
Mahasiswa S3, BKU-PLP, Konservasi Tanah dan Air, Program Pascasarjana Universitas Sriwidjaja Palembang.
Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Palembang. E-mail : Legal_msi@yahoo.co.id

Sumber: dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 8, Nomor 2, Juli 2008 http://docs.google.com/

ABSTRACT

Flood is natural process which can become catastrophic when the flood plain and catchment areas are occupied and constructed by the human being. Along with rapid population growth, natural source management has been changed and has led to flood risk. Forested upstream area which has been changed to farmland and housings diminishes the function of the catchment area in infiltrating and catching the water. The bare land with no vegetation leads to erosion risk and increases the potential risk of damages. In addition, this condition increases the water velocity and leads to land scour as well as landslide. Good coordination among stakeholders such as the related institutions, private sectors, and local community is strongly required in preventing the floods. Furthermore, flood control should be conducted comprehensively involving multidisciplinary approach, and taking into account of some aspects such as technical, social, law, economic, and environmental. Therefore, cooperation and coordination among stakeholders is definitely needed in order to achieve integrated and sustainable flood management.

Keywords : flood, population growth, prevention

PENDAHULUAN

Sungai/laut atau aliran air yang menyediakan  kemudahan hidup bagi masyarakat disekitarnya itu  juga bisa menjadikan masyarakat tadi menghadapi  risiko bencana tahunan akibat banjir. Banjir dapat  terjadi akibat naiknya permukaan air lantaran curah  hujan yang diatas normal, perubahan suhu,  tanggul/bendungan yang bobol, pencairan salju yang  cepat, terhambatnya aliran air di tempat lain.  Diperkotaan genangan lokal terjadi pada saat musim  hujan, skala banjir yang terjadi cukup besar dan  belum dapat dikendalikan secara dominan. Hal ini  membutuhkan strategi-strategi penanganan yang menyeluruh dan multistakeholders.

Banjir kilat/dadakan biasanya didefinisikan  sebagai banjir yang terjadi hanya dalam waktu  kurang dari 5 jam sesudah hujan lebat mulai turun.  Biasanya juga dihubungkan dengan banyaknya awan  kumulus yang menggumpal di angkasa, kilat atau  petir yang keras, badai tropis atau cuaca dingin (Seta,  1991). Karena banjir ini sangat cepat datangnya,  peringatan bahaya kepada penduduk sekitar tempat  itu harus dengan segera dimulai upaya penyelamatan  dan persiapan penanggulangan dampak-dampaknya.  Umumnya banjir dadakan akibat meluapnya air  hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah  bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan  cukup banyak air. Penyebab lain adalah kegagalan  bendungan/tanggul menahan volume air (debit) yang meningkat,  perubahan suhu menyebabkan  berubahnya elevasi air laut, dan atau berbagai  perubahan besar lainnya di hulu sungai termasuk  perubahan fungsi lahan (Arsyad, 1989). Saat ini yang  menjadi isu publik adalah pengubahan lahan,  kepadatan pemukiman penyebab tertutupnya lahan,  erosi dan sedimentasi yang terjadi diberbagai  kawasan perkotaan dan daerah. Kerawanan terhadap  banjir dadakan akan meningkat bila wilayah itu  merupakan lereng curam, sungai dangkal dan  pertambahan volume air jauh lebih besar daripada yang tertampung (Suripin, 2001).

Luapan sungai berbeda dari banjir dadakan  karena banjir ini terjadi setelah proses yang cukup   lama, meskipun proses itu bisa jadi lolos dari  pengamatan sehingga datangnya banjir terasa  mendadak dan mengejutkan. Selain itu banjir luapan  sungai kebanyakan bersifat musiman atau tahunan  dan bisa berlangsung selama berhari-hari atau  berminggu-minggu tanpa berhenti. Penyebabnya  adalah hutan gundul, kelongsoran daerah-daerah  yang biasanya mampu menahan kelebihan air,  ataupun perubahan suhu/musim, atau terkadang  akibat kedua hal itu sekaligus. Banjir terjadi  sepanjang sistem sungai dan anak-anak sungainya,  mampu membanjiri wilayah luas dan mendorong  peluapan air di dataran rendah, sehingga banjir yang  meluap dari sungai-sungai selain induk sungai biasa  disebut ‘banjir kiriman’. Besarnya banjir tergantung  kepada beberapa faktor, di antaranya kondisi-kondisi  tanah (kelembaban tanah, vegetasi, perubahan  suhu/musim, keadaan permukaan tanah yang tertutup  rapat oleh bangunan; batu bata, blok-blok semen,  beton, pemukiman/perumahan dan hilangnya  kawasan-kawasan tangkapan air / alih fungsi lahan (Asdak, 2004).

Data sejarah banjir luapan sungai yang  melanda kota-kota di lembah utama membuktikan  bahwa tindakan-tindakan perlindungan tidak bisa  diandalkan, akibat beraneka-ragamnya sumber  banjir, yang bukan hanya dari induk sungai  melainkan juga dari anak anak sungai (Mulyanto,  2007). Sebagai contoh banjir pantai. Banjir yang  membawa bencana dari luapan air hujan sering makin parah akibat badai yang dipicu oleh angin  kencang sepanjang pantai. Air payau membanjiri  daratan akibat satu atau perpaduan dampak  gelombang pasang, badai, atau tsunami (gelombang  pasang). Sama seperti banjir luapan sungai, hujan  lebat yang jatuh di kawasan geografis luas akan  menghasilkan banjir besar di lembah-lembah pesisir yang mendekati muara sungai.

Dalam bencana apapun, data sejarah suatu  kawasan rawan atau sumber bencana harus selalu  ada, dipelajari dan diperbaharui terus menerus tiap  kali ada kejadian baru. Untuk kajian perbandingan  dengan peristiwa-peristiwa banjir terdahulu dan  sebagai dasar informasi peringatan yang akan  disampaikan kepada masyarakat yang beresiko  dilanda banjir, harus diingat unsur-unsur sebagai  berikut : 1). Analisis kekerapan banjir, 2). Pemetaan  tinggi rendahnya permukaan tanah (topografi), 3).  Pemetaan bentangan daerah seputar sungai (kontur  sekitar sungai) lengkap dengan perkiraan  kemampuan sungai itu untuk menampung lebihan  air, 4). Kemampuan tanah untuk menyerap air, 5).  Catatan pasang surut gelombang laut (untuk kawasan  pantai/pesisir), 6). Kekerapan badai, 7). Geografi  pesisir/pantai, dan 8). Ciri-ciri banjir (Kodoati dan Sugiyanto, 2002).

Permasalahan pengelolaan sumberdaya air dan  lahan sangat terkait dengan tingkat pemenuhan  kebutuhan, keberadaan kualitas dan kuantitas
luasannya dan siklus penggunaannya serta  bagaimana pengelolaannya, termasuk dalam  pendekatan pencegahan dan penanggulangan banjir.  Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan beberapa  rumusan diantaranya yaitu : Diperlukan pemahaman  yang terkoordinasi dalam satu strategi untuk  mengelola sumberdaya lahan dan air terkait dengan  pemanfaatannya; Diperlukan strategi dan kebijakan  yang mempertimbangkan beberapa pendekatan dan  penanggulangan potensi banjir dalam konteks  pembangunan wilayah dan lingkungan yang berkelanjutan.

Maksud studi ini adalah mengkombinasikan  dan menganalisis beberapa pemahaman dan  kebijakan  /pendekatan-pendekatan  dalam  pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya lahan dan  air. Dengan tujuan studi untuk mendapatkan strategi  dan kebijakan dalam pengelolaan sumber daya lahan  dan air dalam kaitannya dengan terjadinya banjir.  Sehingga diperoleh beberapa pendekatan pencegahan  dan penanggulangan potensi banjir dalam  pembangunan wilayah dan lingkungan yang berkelanjutan.

METODOLOGI

Identifikasi strategi Pengelolaan Sumber Daya Air dan Lahan

Sesuai dengan tujuan dan batasan bahasan  dalam tulisan ini yaitu menekankan pada identifikasi  teknik  pengelolaan  dan  pengendalian/ penanggulangan banjir secara umum. Hal ini  dilakukan untuk mencapai sasaran yaitu informasi  mengenai beberapa hal yang dianggap penting dalam  pengelolaan dan Menjajaki sejauhmana peran serta  masyarakat dalam pengelolaan banjir. Tujuan  identifikasi ini untuk mendapatkan permasalahan dan  rencana/program pengelolaan dan penanggulangan banjir.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan Studi  Kepustakaan dan data sekunder, Studi lapangan  untuk mendapatkan data primer dan Wawancara mendalam dengan masyarakat terkait.

Pengolahan Data

Hasil studi ini disajikan secara deskriptif  kualitatif yaitu mengambarkan tentang berbagai  fenomena  pemahaman  dalam  pendekatan  penanggulangan banjir. Penyusunan kompilasi dan  studi pustaka menjadi sumber pengetahuan dan pembanding untuk mendukung studi ini.

Pendekatan Studi/Penelitian

Dilakukan melalui beberapa keterkaitan  diantaranya melalui prosedur institusional,  mekanisme penelitian Eksperimental, penelitian  Observasi/survey dan kuesioner. Beberapa objek  yang terkait dengan sistem institusi pengelola DAS  (Daerah Aliran Sungai) dan komponen sosial  masyarakat, juga menjadi bahan dan data pendukung dalam kajian ini.

PEMBAHASAN

Gambar 1. Rusaknya fondasi abutmen jembatan akibat gerusan oleh debit banjir.

Analisis dan pengukuran terhadap banjir dapat  dilakukan pada fenomena-fenomena antara lain:  kedalaman muka air maksimum; pondasi bangunan  memiliki derajat toleransi terhadap penggenangan air  yang berlainan dengan derajat toleransi akar tumbuh- tumbuhan; lamanya penggenangan air; kerusakan  atau derajat kerusakan bangunan, infrastruktur dan  tumbuh-tumbuhan sering berkaitan dengan jangka  waktu berlangsungnya penggenangan air. Arus air  yang besar akan berbahaya dan mengakibatkan daya  pengikisan sangat besar (erosi dan abrasi) serta  peningkatan tekanan dinamika air sehingga pondasi  bangunan dan infrastruktur menjadi lemah / rusak,  lihat Gambar 1. Hal ini bisa terjadi dilembah  bantaran sungai, pantai dan tepian sungai. Perkiraan  tentang tingkat kenaikan permukaan air sungai  (perubahan muka air sungai) sangat penting sebagai  dasar peringatan bahaya banjir, rencana pengungsian  dan pengaturan tata ruang daerah. Hal ini bisa  didapat dari data-data lapangan terdahulu baik lewat   survey maupun wawancara dengan masyarakat  setempat di daerah banjir atau melalui analisis banjir rencana dari data-data hidrologi yang ada.

Dampak-dampak kumulatif dan kekerapan  terjadinya banjir yang diukur dalam jangka waktu  cukup panjang akan  menentukan corak  pembangunan dan kegiatan pertanian yang boleh  berlangsung di bantaran/sempadan sungai atau  daerah-daerah rawan banjir lainnya. Peramalan banjir  yang berasal dari luapan air sungai berdasarkan  analisis Hidrologi dan Hidraulika melibatkan  perkiraan-perkiraan tentang: tinggi permukaan air  sungai, debit air sungai, waktu kejadian, lamanya  kejadian, debit air tertinggi di titik-titik tertentu  sepanjang jalur sungai/DAS (induk maupun anak  sungai). Ramalan yang dikeluarkan untuk  disebarluaskan kepada masyarakat dihasilkan dari  pemantauan rutin ketinggian permukaan air sungai  serta pemantauan curah hujan setempat. Peringatan  akan terjadinya banjir dadakan hanya bisa  bergantung pada prakiraan cuaca (meteorologi) serta  pengetahuan tentang kondisi tofografi dan geografis  setempat. Mengingat singkatnya waktu terjadinya  banjir dadakan, menyebabkan tidak memungkinkan  pemantuan terhadap tingkat ketinggian air sungai di lapangan.

Cara yang efektif untuk memantau jalur banjir  adalah lewat teknik-teknik penginderaan jauh,  misalnya Landsat. Citra-citra satelit ditafsirkan,  kemudian dipakai sebagai patokan pemetaan daerah- daerah rawan banjir dan daerah-daerah jalur banjir  (Kodoati dan Sugiyanto, 2002). Upaya-upaya  lain  untuk memperbaiki peramalan banjir telah  dilaksanakan oleh berbagai badan yang menginduk  ke PBB, antara lain; Organisasi Meteorologis Dunia,  dengan memakai Pemantauan Cuaca Dunia serta  Sistem pengolahan Data Global. Sistem-sistem ini  bersifat strategis manakala kondisi-kondisi banjir  bersifat lintas batas nasional atau melewati wilayah  kedaulatan lebih dari satu negara. Namun sebagian  besar ramalan banjir luapan sungai dan banjir  dadakan hanya bersandar pada pengamatan- pengamatan Badan Meteorologis dan Geofisika Nasional.

Penyebab Banjir

Berdasarkan pengamatan, bahwa banjir  disebabkan oleh dua katagori yaitu banjir akibat  alami dan banjir akibat aktivitas manusia. Banjir  akibat alami dipengaruhi oleh curah hujan, fisiografi,  erosi dan sedimentasi, kapasitas sungai, kapasitas  drainase dan pengaruh air pasang. Sedangkan banjir  akibat aktivitas manusia disebabkan karena ulah  manusia yang menyebabkan perubahan-perubahan  lingkungan seperti : perubahan kondisi Daerah  Aliran Sungai (DAS), kawasan pemukiman di sekitar  bantaran, rusaknya drainase lahan, kerusakan  bangunan pengendali banjir, rusaknya hutan  (vegetasi alami), dan perencanaan sistim pengendali banjir yang tidak tepat.

1. Penyebab Banjir Secara Alami

a. Curah Hujan

Oleh karena beriklim tropis, Indonesia  mempunyai dua musim sepanjang tahun,  yakni musim penghujan umumnya terjadi  antara bulan Oktober–Maret dan musim  kemarau terjadi antara bulan April-  September. Pada musim hujan, curah hujan  yang tinggi berakibat banjir di sungai dan  bila melebihi tebing sungai maka akan  timbul banjir atau genangan.

b. Pengaruh Fisiografi

Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti  bentuk, fungsi dan kemiringan daerah aliran  sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik  hidrolik (bentuk penampang seperti lebar,  kedalaman, potongan memanjang, material  dasar sungai), lokasi sungai dan lain-lain  merupakan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya banjir.

c. Erosi dan Sedimentasi

Erosi di DAS berpengaruh terhadap  pengurangan kapasitas penampang sungai.  Erosi menjadi problem klasik sungai-sungai  di Indonesia. Besarnya sedimentasi akan  mengurangi kapasitas saluran sehingga  timbul genangan dan banjir di sungai.  Sedimentasi juga merupakan masalah besar  pada sungai-sungai di Indonesia. Menurut  Rahim (2000), erosi tanah longsor (land-  slide) dan erosi pinggir sungai (stream bank  erosion) memberikan sumbangan sangat  besar terhadap sedimentasi di sungai-sungai, bendungan dan akhirnya ke laut.

d. Kapasitas Sungai

Gambar 2. Agradasi dasar sungai salah satu penyebab banjir

Pengurangan kapasitas aliran banjir pada  sungai dapat disebabkan oleh pengendapan  berasal dari erosi DAS dan erosi tanggul  sungai yang berlebihan. Sedimentasi sungai  terjadi karena tidak adanya vegetasi penutup  dan adanya penggunaan lahan yang tidak  tepat, sedimentasi ini menyebabkan  terjadinya agradasi dan pendangkalan pada  sungai, hal ini dapat menyebabkan  berkurangnya kapasitas tampungan sungai,  lihat Gambar 2. Efek langsung dari  fenomena ini menyebabkan meluapnya air  dari alur sungai keluar dan menyebabkan banjir.

e. Kapasitas Drainasi yang tidak memadai

Sebagian besar kota-kota di Indonesia  mempunyai drainasi daerah genanga yang  tidak memadai, sehingga kota-kota tersebut  sering menjadi langganan banjir di musim hujan.

f. Pengaruh air pasang

Air pasang laut memperlambat aliran sungai  ke laut. Pada waktu banjir bersamaan dengan  air pasang yang tinggi maka tinggi genangan  atau banjir menjadi besar karena terjadi  aliran balik (backwater). Fenomena  genangan air pasang (Rob) juga rentan  terjadi di daerah pesisir sepanjang tahun baik  di musim hujan dan maupun di musim kemarau.

2. Penyebab Banjir Akibat Aktifitas Manusia

a. Perubahan kondisi DAS

Perubahan  kondisi  DAS  seperti  penggundulan hutan, usaha pertanian yang  kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan  tataguna lainnya dapat memperburuk  masalah banjir karena meningkatnya aliran  banjir. Dari persamaan-persamaan yang ada,  perubahan tata guna lahan berkontribusi  besar terhadap naiknya kuantitas dan kualitas banjir.

b. Kawasan kumuh dan Sampah

Perumahan kumuh (slum) di sepanjang  bantaran sungai dapat menjadi penghambat  aliran. Masalah kawasan kumuh ini menjadi  faktor penting terjadinya banjir di daerah perkotaan. Disiplin masyarakat untuk membuang  sampah pada tempat yang ditentukan masih  kurang baik dan banyak melanggar dengan  membuang sampah langsung ke alur sungai,  hal ini biasa dijumpai di kota-kota besar.  Sehingga dapat meninggikan muka air banjir disebabkan karena aliran air terhalang.

c. Drainasi lahan

Drainasi perkotaan dan pengembangan  pertanian pada daerah bantaran banjir akan  mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yang tinggi.

d. Kerusakan bangunan pengendali air

Pemeliharaan yang kurang memadai dari  bangunan pengendali banjir sehingga  menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak  berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.

e. Perencanaan sistim pengendalian banjir tidak tepat

Beberapa sistim pengendalian banjir  memang dapat mengurangi kerusakan akibat  banjir kecil sampai sedang, tetapi mungkin  dapat menambah kerusakan selama banjir- banjir yang besar. Semisal, bangunan  tanggul sungai yang tinggi. Limpasan pada  tanggul ketika terjadi banjir yang melebihi  banjir rencana dapat menyebabkan  keruntuhan tanggul. Hal ini mengakibatkan  kecepatan aliran yang sangat besar melalui  tanggul yang bobol sehingga menibulkan banjir yang besar.

f. Rusaknya hutan (hilangnya vegetasi alami)

Penebangan pohon dan tanaman oleh  masyarakat secara liar (Illegal logging), tani  berpindah-pindah dan permainan rebiosasi  hutan untuk bisnis dan sebagainya menjadi  salah satu sumber penyebab terganggunya siklus hidrologi dan terjadinya banjir.

Kerawanan Terhadap Banjir.

Di daerah tanggul atau teras sungai, utamanya  bantaran sungai, jenis yang paling berisiko terhadap  terjangan banjir antara lain adalah: 1). Bangunan dari  bahan tanah atau bata yang mudah pecah/tergerus  bila kena air, 2). Bangunan dengan pondasi dangkal  dan pondasi yang tidak kedap air, 3). Sistem  pembuangan air (selokan pipa), drainase, saluran  pasokan air, saluran listrik, mesin-mesin dan semua  barang elektronik (terutama industri dan  telekomukasi), 4). Lumbung pangan, tanaman di  lahan, ternak dalam kandang, 5). Benda-benda  bersejarah/artefak budaya yang wajib dilindungi dari  kehancuran atau rusak berat, 6). Industri kelautan,  termasuk galangan kapal, kapal-kapal itu sendiri,  pelabuhan, gudang pelabuhan, dan sebagainya.  Faktor-faktor lain yang mempengaruhi  kerawanan terhadap bencana banjir dan banjir lokal  anatara lain adalah: 1). Kurang atau tidak tersedianya  tempat-tempat penampungan pengungsi yang  lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan, di tempat  ketinggian yang melebihi ketinggian luapan air, 2).  Kurang / tidak adanya informasi yang diterima  masyarakat tentang jalur-jalur pengungsian, 3).  Kurang / tidak efektifnya kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana.

Dampak yang Muncul

Gambar 3. Lubang jembatan tertutup sampah dan limbah kayu, kasus banjir bandang pada kali Sampean di Situbondo (Jaji dan Kirno, 2002)

Akibat bencana banjir, bangunan-bangunan  akan rusak atau hancur yang disebabkan oleh daya  terjang air banjir, terseret arus, daya kikis genangan  air, longsornya tanah di seputar/di bawah pondasi,  tertabrak/terkikis oleh benturan dengan benda-benda  berat yang terseret arus, lihat Gambar 3. Kerugian  fisik cenderung lebih besar bila letak bangunan di  lembah-lembah pegunungan dibanding di dataran  rendah terbuka. Banjir dadakan akan menghantam  apa saja yang dilaluinya.

Di wilayah pesisir, kerusakan besar terjadi  akibat badai yang mengangkat gelombang-  gelombang air laut dan kerusakan akan terjadi tatkala  gelombang datang dan pada saat gelombang itu pergi  atau kembali ke laut. Lumpur, minyak dan bahan-  bahan lain yang dapat mencemarkan tanah, udara dan  air bersih akan terbawa oleh banjir dan diendapkan di  lahan yang sudah rusak atau di dalam bangunan.  Tanah longsor kemungkinan terjadi bila tanah itu tak  kuat diterjang air dan terkikis/runtuh. Dalam kasus- kasus banjir selama ini, kebanyakan kerugian pangan  terjadi akibat stok pangan rusak, termasuk yang  masih di lahan. Kerusakan tanaman pangan di sawah  atau ladang tergantung pada jenis tanamannya dan  berapa lama penggenangan airnya. Ada tanaman  yang cepat mati hanya setelah digenangi air sebentar,  ada yang mampu menahan terjangan air tapi  akhirnya mati jika air itu tak terserap oleh tanah dan terus menggenang.

Hilang atau rusaknya benih dan ternak akan  menggagalkan pemulihan kegiatan pertanian/  peternakan sesudah banjir surut jika ada bantuan dari  luar. Untuk tanah pertanian, banjir memberi manfaat  sekaligus masalah. Bila terjadi pengikisan lapisan  bunga tanah (humus), atau lahan dilanda air garam,  selama bertahun-tahun petani tidak bisa lagi  mengolah tanah itu untuk budidaya pertanian.  Namun pengendapan lumpur banjir juga bisa sangat  meningkat kesuburan tanah. Di pesisir di antara para  nelayan, kerugian besar mungkin terjadi akibat  peralatan dan piranti nelayan hilang atau rusak. Maka  pasokkan pangan dari laut terhenti atau merosot.  Banjir juga dapat membawa keuntungan seperti bisa  menggelontor bahan-bahan pencemar air yang  mengendap dan menyumbat saluran air; bisa  menjaga kelembaban tanah dan mengembalikan  kelembaban tanah tandus / kering; bisa menambah  cadangan air tanah; Juga bisa menjaga lingkungan  hayati (ekosistem) sungai dengan cara menyediakan  tempat bersarang, tempat berbiak dan makanan bagi  ikan, burung dan binatang-binatang liar.

Strategi Dan Pendekatan Minimasi Dampak

1. Pemetaan Unsur-Unsur Rawan Atau Rentan.

Dengan memetakan daerah rawan serta  menggabungkan data itu dengan rancangan kegiatan  persiapan dan penanggulangan. Suatu strategi dapat  dirancang di daerah-daerah luapan air dengan  langkah-langkah pengendalian banjir. Para perencana  dapat meminta masukan dari berbagai bidang  keilmuan untuk menilai risiko-risiko, tingkat risiko  yang masih diterima/dianggap cukup wajar (ambang  risiko) dan kelayakan kegiatan-kegiatan lapangan  yang direncanakan. Informasi dan bantuan dapat  diperoleh dari berbagai sumber, dari badan-badan internasional hingga ke komunitas masyarakat.

2. Pemetaan Daerah-Daerah Luapan Air/Jalur Banjir.

Parameter kejadian banjir 100 tahun itu  memaparkan areal yang memiliki kemungkinan 1%  terlanda banjir dengan ukuran tertentu pada tahun  tertentu. Frekuensi-frekuensi lain mungkin bisa juga  dipakai, misalnya 5, 20, 50 atau 500 tahun,  tergantung kepada ambang risiko yang ditetapkan  untuk suatu evaluasi (Kodoati dan Sugiyanto, 2002).  Peta dasar dipadukan dengan peta-peta lain dan data- data lain, membentuk gambaran lengkap/utuh  tentang jalur banjir. Masukan-masukan lain yang  menjadi bahan pertimbangan diantaranya: Analisis  kekerapan banjir, Peta-peta pengendapan, Laporan  kejadian dan kerusakan, Peta-peta kemiringan/  lereng, Peta-peta vegetasi (lokasi tumbuh tanaman,  jenis dan kepadatannya), Peta-peta lokasi  pemukiman, industri dan kepadatan penduduk dan  Peta-peta infrastruktur. Untuk menanggulangi  masalah ini bisa digunakan teknik-teknik  penginderaan jauh. Sedangkan teknik-teknik  pemetaan tradisional jarang dilakukan, walaupun  biaya operasinya akan kira-kira sama efektif sebab  tidak menghemat tenaga dan waktu (metode-metode  pengumpulan data tradisional sangat padat karya dan  memakan waktu lama), misalnya dalam kajian daur-  hidrologi (penelitian hidrologis) pada daerah/DAS yang luas.

3. Pemetaan Daerah Bencana-bencana Lain

Banjir sering menyebabkan (terjadi bersamaan  dengan atau menjadi akibat dari) bencana-bencana  lain. Agar daerah-daerah yang rawan terhadap lebih  dari satu jenis bencana bisa diketahui, dilakukan  penyusunan peta silang, sintetis atau terpadu. Peta ini  merupakan alat yang sangat bagus untuk panduan  perancangan  program  pertolongan  dan  penanggulangan. Namun peta ini masih memiliki  kekurangan, yakni tidak memadai jika digunakan  sebagai  pedoman  kegiatan-kegiatan  yang  berhubungan dengan bencana yang hanya mencakup satu daerah tertentu saja atau bencana tertentu saja.

4. Pengaturan Tata Guna Lahan

Tujuan pengaturan tata guna lahan melalui  undang-undang agraria dan peraturan-peraturan  lainnya adalah untuk menekan risiko terhadap  nyawa, harta benda dan pembangunan di kawasan-  kawasan rawan bencana (Irianto, 2006). Dalam kasus  banjir, suatu daerah dianggap rawan bila daerah itu  biasanya dan diperkirakan akan terlanda luapan air  dengan dampak-dampak negatifnya; penilaian ini  didasarkan sejarah banjir dan kondisi daerah.  Bantaran sungai dan pantai seharusnya tidak boleh  dijadikan lokasi pembangunan fisik dan pemukiman.  Selain itu, Badan Pertahanan Nasional beserta  departemen-departemen terkait harus memperhatikan  pula kawasan perkotaan. Dengan pengaturan tata  guna tanah yang dilandasi data-data ilmiah dan  dengan mengacu kepada potensi bencana, setidaknya  bencana alam seperti banjir tidak akan diperparah  oleh pengizinan pemakaian tanah yang tak mengindahkan sisi kelayakan.

5. Kepadatan Penduduk dan Bangunan

Di daerah-daerah rawan banjir, jumlah korban  tewas maupun cedera akan langsung terkait dengan  kepadatan penduduk. Bila daerah itu masih dalam  tahap perencanaan pembangunan atau perluasan  kawasan, rencana itu harus mencakup pula kepadatan  penduduk. Bila daerah itu sudah terlanjur digunakan sebagai lokasi pemukiman liar oleh pendatang yang  tergolong miskin, pengaturan kepadatan penduduk  bisa menjadi isu yang rawan dan peka, penduduk  harus dimukimkan kembali di tempat lain yang lebih  aman dengan mempertimbangkan dampak-dampak  sosial dan ekonomis perpindahan itu. Sayangnya,  banyak lokasi pemukiman padat penduduk terletak di  jalur banjir. Bagaimanapun para perencana  pengembangan daerah dan penataan ruang harus  mengambil langkah-langkah  bijak  untuk  memperbaiki pemukiman itu dan menekan kerentanan terjadinya bencana/banjir.

6. Larangan Penggunaan Tanah Untuk Fungsi- Fungsi Tertentu.

Suatu daerah/kawasan yang menjadi ajang  banjir sedikitnya rata-rata 1-2 kali tiap 10 tahun  terjadi banjir bandang, diyakini dan disarankan tidak  boleh ada pembangunan skala besar di daerah itu  (Lutfi, 2007). Pabrik, perumahan dan sebagainya  sebaiknya tidak diizinkan di bangun di daerah ini  demi kepentingan ekonomis, sosial dan keselamatan  para penghuninya sendiri. Daerah tersebut bukan  berarti sama sekali tak bisa dimanfaatkan, namun  pemanfaatannya lebih disesuaikan untuk kegiatan- kegiatan dengan potensi risiko lebih kecil misalnya  arena olah raga atau taman. Prasarana yang bila  sampai rusak akan membawa akibat buruk yang  besar, misalnya rumah sakit, hanya boleh didirikan di  tanah yang aman. Pengaturan tata guna tanah akan  menjamin bahwa daerah-daerah rawan banjir tidak  akan menderita dua kali lipat akibat kebanjiran  sekaligus pemakaian tanah yang memperparah  dampak bencana itu dengan kerugian fisik, sosial,  ekonomis dan korban jiwa yang lebih besar lagi.  Pemerintah pusat dan pemerintah daerah disarankan  untuk lebih jelas dan tegas dalam membuat regulasi  dan mensosialisasikan, serta menerapkan dan  menindak tegas apabila regulasi dilanggar  /dibengkalaikan. Hal ini sangat membutuhkan komitmen dan tanggung jawab bersama.

Pengendalian Bahaya Banjir

1. Perbaikan Saluran dan Perlindungan Vegetasi

Dasar sungai yang sudah dangkal/  tersedimentasi akibat pengendapan harus dikeruk,  diperdalam sementara untuk batas tebing/tanggul  sungai di kanan–kirinya harus pula diperlebar.  Metode-metode ini meningkatkan kemampuan  penampungan lebihan air dan menurunkan peluang  meluapnya air ke sekitar sungai. Sementara untuk  kawasan/ daerah permukiman/ pusat perkotaan,  kolam-kolam retensi dan saluran buatan (drainase)  sepatutnya dipelihara dan dijaga kebersihannya.  Kerawanan sedimentasi dan sampah juga menjadi  faktor utama penyebab banjir perkotaan. Hilangnya  vegetasi seperti pepohonan dan kawasan hijau harus  segera disikapi dengan kegiatan perlindungan  vegetasi dan penghijauan. Hal ini bertujuan menjaga berlanjutnya siklus hidrologi.

2. Konstruksi Bendungan/Tanggul yang Aman

Bendungan adalah suatu konstruksi untuk  membuat waduk (storage) yang mampu menyimpan  cadangan air limpasan sekaligus melepasnya dengan  tingkat yang masih bisa dikelola. Pembangunannya  harus memperhatikan patokan tertinggi permukaan  air sewaktu banjir sehingga elevasi puncak / mercu  bendungan atau tanggul berada di atas angka  keamanan. Bila banjir ternyata lebih tinggi dan lebih  kuat ketimbang bendungan maka akan terjadi  limpasan over-toping yang bisa menyebabkan  jebolnya bendungan, bahayanya justru lebih besar  ketimbang kalau tak ada bendungan. Jadi bila  konstruksi bendungan tidak dirancang dengan  cermat, maka keamanannya takkan terjamin karena  dampak banjir justru akan makin parah sewaktu  bendungan jebol. Penguatan bangunan yang sudah  ada perlu dilakukan dengan melakukan servis dan  perawatan. Para pemilik bangunan bisa  mengusahakan menekan risiko kerusakan dengan  cara memperkuat bangunannya untuk menahan  hantaman atau terjangan air. Bangunan baru harus  mempunyai pondasi yang tak mudah keropos atau longsor dan mempunyai daya dukung yang kuat.

Perlindungan dari pengikisan tanah  merupakan unsur penting menghadapi bencana banjir  seperti dasar sungai sebaiknya distabilkan dengan  membangun ‘alas batu’ atau beton yang kuat, atau  menanami bantaran dengan pepohonan, khususnya  bila dekat jembatan. Sedangkan untuk lokasi rawan  banjir atau sekitar sungai bisa diperbaiki dengan cara  meninggikan tanggul. Ini akan efektif untuk lokasi  bangunan. Sedangkan untuk mencegah/mengurangi  sedimentasi pada waduk dan pendangkalan sungai  yaitu dengan dibuatnya beberapa cek-dam di hulu  sungai dan daerah-daerah rawan erosi, serta ditingkatkannya reboisasi dan perlindungan hutan.

3. Partisipasi Aktif Masyarakat.

Peranserta masyarakat diperlukan dalam  minimasi bencana banjir. Oleh karena itu diperlukan  beberapa pendekatan, antara lain: 1). Peringatan  bahaya banjir disebarkan di tingkat desa/kalurahan,  2). Kerja bakti untuk memperbaiki dasar dan tebing  sungai, membersihkan kotoran yang menyumbat  saluran air, membangun tanggul dengan karung- karung pasir atau bebatuan, menanami bantaran  sungai (penghijauan), 3). Rencana pemulihan  pertanian pasca-banjir, antar lain dengan menyimpan   benih dan persediaan lain di tempat yang paling  aman dan ini dijadikan tradisi, 4). Perencanaan  pasokan air bersih dan pangan seandainya bencana memaksa pengungsian.

Program-program untuk menggugah kesadaran  masyarakat tentang bahaya banjir, meliputi : 1).  Penjelasan tentang fungsi-fungsi bantaran sungai dan  jalur banjir, lokasinya serta pola-pola siklus  hidrologi, 2). Identifikasi bahaya rawan banjir, 3).  Mendorong perorangan untuk memperbaiki daya  tahan bangunan dan harta mereka agar potensi  kerusakan/kehancuran dapat ditekan, 4). Menggugah  kesadaraan masyarakat tentang arti penting rencana–  rencana dan latihan–latihan penanggulangan serta  pengungsian, 5). Mendorong tanggung jawab  perorangan atas pencegahan dan penanggulangan  banjir dalam kehidupan sehari–hari, 6). Pada praktik  bertani harus memperhatikan dampak lingkungan,  jangan menggunduli hutan dan hulu sungai saluran air harus dipelihara dan sebagainya.

4. Langkah-langkah dan Rencana

Rencana utama adalah pedoman dasar yang  menberi aparat setempat serta para pengembang dan  pemilik lahan berbagi informasi pokok menyangkut  jalur banjir dan apa yang harus dilakukan demi  mencegah dan menanggulangi dampak bencana  banjir. Selain pengaturan tata guna tanah, rencana  utama ini harus mencakup pula program informasi  masyarakat. Untuk mengembangkannya diambil  langkah–langkah sebagai berikut : 1). Peta akurat  daerah itu dipelajari, 2). Dikembangkan daur air  (hidrologi) bagi beberapa kekerapan banjir yang  sudah pernah terjadi sepanjang 100 tahun terakhir,  3). Penetapan jalur banjir berdasarkan kekerapan  yang pernah terjadi dan meneliti kondisi saluran air  yang sudah ada, 4). Perkiraan kerugian akibat banjir  dengan berbagai kekerapan dan mengembangkan  catatan kekerapan banjir dan kerusakan yang  ditimbulkan dengan basis tahunan. 5). Menelaah  semua kemungkinan minimalisasi dampak banjir,  misalnya membangun bendungan. 6). Persiapan  rancangan awal dan perkiraan biaya bagi alternatif –  alternatif lain, 7). Menentukan kerusakan akibat  banjir untuk tiap alternatif, 8). Melengkapi analisis  kelayakan bagi tiap alternatif, 9). Meninjau kembali  tiap alternatip dengan mempertimbangkan berbagai  faktor, misalnya politik, peluang dan lingkungan hayati.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Terdapat dua katagori penyebab banjir, yaitu  akibat alami dan akibat aktivitas manusia. Dalam  kaitannya terjadinya banjir, maka terdapat metode  pengendalian banjir, yaitu metode struktural dan  non-struktural. Metode struktural ada dua jenis yaitu  Perbaikan dan pengaturan sistem sungai yang  meliputi sistem jaringan sungai, normalisasi sungai,  perlindungan tanggul, tanggul banjir, sudetan (short  cut) dan floodway; dan Pembangunan pengendali  banjir yang meliputi bendungan (dam), kolam  retensi, pembuatan check dam (penangkap sedimen),  bangunan pengurang kemiringan sungai, groundsill,  retarding basin dan pembuatan polder.  Sedangkan metode non struktural adalah  pengelolaan DAS, yaitu pengaturan tata guna lahan,  pengendalian erosi, peramalan banjir, partisipasi  masyarakat, law enforcement, dsb. Pengelolan DAS  berhubungan erat dengan peraturan, pelaksanaan dan pelatihan. Kegiatan penggunaan lahan dimaksudkan untuk menghemat dan menyimpan air dan konservasi
tanah.

Saran

Diperlukan  sikap kebersamaan multi-  stakeholder dan keterlibatan masyarakat yang mendukung sepenuhnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bandung.

Asdak, 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah  Aliran Sungai. UGM Pres. Yogyakarta.

Irianto, 2006. Pengelolaan Sumber Daya Lahan dan Air, Agro Inovasi, Jakarta.

Jaji Abdurrosyid dan Kirno, 2002. Banjir Bandang,  Penyebab dan Solusinya di Situbondo Jawa  Timur. Jurnal Teknik Gelagar, Fakultas  Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Vol.13 No.03 Desember 2002, Surakarta.

Kodoatie, Robert J. dan Sugiyanto, 2002. Banjir,  Beberapa  penyebab  dan metode  pengendaliannya  dalam  perspektif Lingkungan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Luthfi, 2007. Metode Inventaris Sumber Daya Lahan, Andi OffSet. Yogyakarta.

Mulyanto, 2007. Sungai, Fungsi dan Sifat-Sifatnya. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan  Air. Penerbit Andi Offset.

Seta, AK. 1991. Konservasi Sumberdaya Tanah dan Air. Kalam Mulia, Jakarta.

2 Komentar »

  1. mantap pemaparannya dan ulasannya….. pastinya Doktoral.. bang Ligal… terimakasih. # R.Tarigan, SP., M.Sc., cand.DR. di jogja.

    Komentar oleh Anonim — Agustus 27, 2012 @ 8:12 pm

  2. tks igan salam, dan sukses selalau

    Komentar oleh Anonim — November 16, 2014 @ 8:00 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: