BebasBanjir2015

Appreciative Inquiry

“Semua impian kita bisa jadi kenyataan kalau kita berani mengejarnya.” Louis Pasteur (1822- 1895) ilmuwan

I Have A Dream

ABBA

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I’ll cross the stream – I have a dream

I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makes it worth the while
Pushing through the darkness still another mile

I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I’ll cross the stream – I have a dream
I’ll cross the stream – I have a dream

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I’ll cross the stream – I have a dream
I’ll cross the stream – I have a dream

Imagine

John Lennon

Imagine there’s no heaven,
it’s easy if you try,
no hell below us,
above us only sky.

Imagine all the people,
living for today yu-huh.

Imagine there’s no countries,
it isn’t hard to do,
nothing to kill or die for,
and no religion too.

Imagine all the people,
living life in peace yu-huh.

You may say I’m a dreamer
but I’m not the only one
I hope some day you’ll join us,
and the world will be as one.

Imagine no possesions,
I wonder if you can,
no need for greed or hunger,
a brotherhood of man.

Imagine all the people,
sharing all the world yu-huh.
You may say I’m a dreamer …

Laskar Pelangi

Cipt: Nidji
mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

————

Appreciattive Inquiry (1)

Pengertian Appreciattive Inquiry

Appreciative Inquiry (AI) adalah sebuah pendekatan baru yang dikembangkan oleh David Cooperrider untuk membantu individu atau komunitas meraih dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Karena itu, jika kita bermimpi untuk mewujudkan sebuah DAS yang bebas banjir, maka Appreciative Inquiry dapat menjadi salah satu instrumen utama untuk itu.

Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai bakat, keahlian, cerita sukses, dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Pendekatan ini memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang dapat mewujudkan banyak hal.  Bahkan dapat mewujudkan hal-hal yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang mustahil, atau hal-hal yang selama ini dianggap hanya sebuah mimpi. Jadi, menurut pendekatan ini, komunitas sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menciptakan kondisi bebas banjir (yang menyengsarakan).

Pendekatan kita selama dalam menangani sesuatu yang kita anggap sebagai sebuah masalah adalah melalui pendekatan hadap-masalah (problem posing approach) atau pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach). Pendekatan ini dimulai dengan mengidentifikasi masalah, mencari akar masalahnya, dan berupaya menemukan solusi-solusi untuk menangani akar masalahnya.

Jadi, jika ita ingin menangani persoalan banjir, misalnya, kita akan memulai dengan mengidentifikasi semua faktor yang menyebabkan terjadinya banjir, mulai dari faktor-faktor yang berkaitan dengan aspek manusia seperti tingkat kesadaran masyarakat yang rendah atau penegakan hukum yang lemah, dan sebagainya sampai ke faktor-faktor yang bersifat biofisik baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan (seperti faktor iklim).  Semakin komprehensif kita mengidentifikasikan dan mendeskripsikannya, menurut pendekatan ini, itu akan semakin bagus.

Kita kemudian akan berupaya  menemukan akar masalahnya, karena jika kita menemukan akar masalahnya maka, menurut pendekatan ini,  penanganan terhadap akar masalah itu akan memberikan hasil  yang terbaik. Kita lalu akan mencari dan merumuskan solusi-solusi terbaik untuk mengatasi akar masalah tersebut.

Pendekatan pemecahan masalah ini juga yang kerap digunakan dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat seperti pada program-program pengentasan kemiskinan. Intervensi dari pihak luar, baik itu pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat adalah dengan mengasumsikan bahwa persoalan komunitas miskin merupakan sebuah persoalan yang harus diselesaikan. Langkah pengembangan komunitas miskin ini selalu diawali dengan identifikasi persoalan dan kebutuhan (need assesment), analisis penyebab masalah, analisis solusi dan implementasinya.

Efek psikologis yang ditimbulkan dari pendekatan ini adalah kita akan merasa bahwa ternyata masalahnya banyak sekali dan untuk memecahkannya akan sulit sekali. Di tingkat masyarakat akan muncul sebuah perspektif ketergantungan bahwa hanya pihak luarlah (baca: pemerintah) yang akan dapat memecahkan masalah mereka.

Berapa banyak pihak yang menganggap bahwa kondisi bebas banjir di Indonesia akan bisa dicapai? Sangat sedikit! Umumnya berpendapat kondisi bebas banjir sulit dilakukan, mustahil, tidak mungkin, hanya angan-angan (yang tidak mungkin dicapai), dan sejenisinya. “Pemerintah saja tidak mampu..”

Karena masalahnya sulit dipecahkan, maka  kecenderungan umum pemerintah kita adalah bahwa mungkin pihak luar yang lebih ahli,  yang mampu memecahkan masalahnya. Buktinya: berapa banyak studi yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak luar (JICA dari Jepang, CIDA dari Kanada, Nedeco dari Belanda, serta dari Perancis) dengan tema flood control (pengendalian banjir?).

Rekomendasi yang diberikan dari studi-studi ini adalah pendekatan struktur yang membutuhkan biaya besar. Sumber dananya? Apalagi kalau bukan dari pinjaman negera-negara itu. Dan karena itu merupakan pinjaman, tentu saja tidak ada yang gratis. Studi-studi itu pun, meski dalam kontraknya merupakan hibah, misalnya, pada hakekatnya tidak gratis.

Namun yang terpenting adalah adakah contoh kota yang dulunya banjir dan setelah melalui studi-studi dari para ekspert negara-negara maju itu kemudian menjadi bebas banjir? Banjir Jakarta adalah contoh bagaimana studi dengan berbagai judul telah dilakukan oleh para ekspert luar negeri dan hasilnya? Yang pasti adalah tahun 2007 terjadi banjir terbesar yang pernah ada di Jakarta.

Karena impelementasi dari studi-studi itu berbiaya mahal dan kemampuan dana pemerintah kita terbatas, banyak hasil studi itu tidak dapat diimplementasikan. Dan karena sejalan dengan waktu terjadi perubahan penggunaan lahan, dan karakteristik hidrologi dari sebuah DAS , dan magnitud banjir semakin bertambah, maka yang dilakukan adalah melakukan studi ulang.

Yang muncul kemudian adalah tuntutan yang semakin keras dari masyarakat kepada pemerintah untuk segera mengatasi masalah banjir ini. Bahkan yang muncul adalah tuntutan class action ke pengadilan.

Deskripsi di atas adalah contoh dari akibat yang ditimbulkan oleh pendekatan ini. Menurut Cooperrider dan Whitney, 2001, dampak negatif dari pendekatan ini adalah lahirnya sikap defensif,  timbulnya rasa sakit, kehilangan visi ke depan, penurunan semangat, dan melahirkan persoalan-persoalan baru .

Lalu, bagaimana dengan pendekatan Appreciative Inquiry?

Pendekatan ini berfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif dari komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas, penciptaan impian komunitas, perancangan tindakan, dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif.

Jika diilustrasikan dalam penanganan banjir, pendekatan appreciative inquiry akan diawali dengan mendatangi komunitas dan mengidentifikan prestasi-prestasi komunitas di masa lalu dan mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh komuinitas. Tahapan ini akan membangun energi positif di tingkat komunitas bahwa mereka sesungguhnya memiliki banyak potensi,  yang jika terus digalang maka potensi-potensi itu akan dapat digunakan untuk meraih apa yang menjadi impian kolektif mereka.

Tahap berikutnya adalah merumuskan dan menyepakati apa yang menjadi impian kolektif dari komunitas tersebut. Dalam hal ini tentu saja impian kolektif untuk meraih kondisi lingkungan yang bebas banjir.  Jika impian itu yang disepakati, maka fasilitasi dilanjutkan untuk mengidentifikasi gagasan-gagasan komunitas tentang cara untuk mencapainya.

Berkaitan dengan banjir, maka fasilitasi terhadap komunitas itu tidak semata-mata dilakukan pada komunitas yang terkena banjir saja.  Tapi juga terhadap seluruh komunitas di satu wilayah DAS, tentu aja dengan dengan mimpi kolektif yang berbeda, tapi dapat berkontribusi terhadap ikhtiar untuk menciptakan kondisi DAS yang bebeas banjir.

Efek dari appreciative inquiry adalah masyarakat yang percaya diri, antusias dan semangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. Efek inilah yang muncul ketika Appreciative Inquiry diterapkan di Srilanka, Nepal, Cina dan Afrika (Mc Oddel, 2002; Charles Elliott, 2001).  Berbagai pengalaman dalam penerapan appreciative inquiry ini menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif untuk melakukan langkah-langkah kecil yang bermakna dalam mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan.

Langkah Dasar  Appreciative Inquiry

Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition, Discovery, Dream, Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney, 2001 & der Haar dan Hosking, 2004).

  1. Definition. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud.
  2. Discovery. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan komunitasnya. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak baik pada level individu maupun level masyarakat.
  3. Dream. Tujuannya adalah berimajinasi (envision) tentang masyarakat yang ideal di masa depan. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan masyarakat.
  4. Design. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain struktur masyarakat, proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang ada. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif.
  5. Destiny. Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan masyarakat untuk membangun harapan, dan menciptakan proses belajar, menyesuaikan dan berimprovisasi. Tahapan ini memberdayakan setiap anggota untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan masyarakat.

Mengapa Appreciative Inquiry Berhasil?

Appreciative Inquiry dapat berjalan karena pendekatan ini memperlakukan manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai kumpulan angka (misalnya sebagai persentasi jumlah orang miskin) dan bukan pula sebagai kumpulan pembuat masalah.

Manusia menjalin hubungan dengan orang lain dan menciptakan identitas dan pengetahuannya dalam kesalinghubungan dengan orang lain. Manusia memiliki rasa ingin tahu, suka menceritakan dan mendengarkan berbagai kisah. Manusia menyampaikan berbagai nilai, kepercayaan, dan kearifannya lewat kisah-kisah yang dituturkan. Manusia suka belajar dan menggunakan apa yang dipelajari untuk meraih yang terbaik. Dan manusia merasa senang ketika melakukan sesuatu dengan baik di hadapan orang-orang yang disayangi dan dihormati.

Appreciative Inquiry memungkinkan para pemimpin untuk menciptakan berbagai organisasi manusia yang alami— yakni sarat-pengetahuan, berbasis-kelebihan, serta mampu melakukan pembelajaran organisasi secara adaptif (Whitney, D & Trosten-Bloom, A. 2003). Hasil wawancara yang dilakukan oleh Whitney dan Tristen-Bloom (2003) menunjukkan bahwa Appreciative Inquiry dapat berhasil karena:

  1. Appreciative Inquiry membangun hubungan yang memungkinkan orang untuk dikenal karena hubungannya dengan orang lain, daripada karena peran yang dibawakannya.
  2. Appreciative Inquiry menciptakan kesempatan bagi setiap orang untuk didengarkan.
  3. Appreciative Inquiry memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bermimpi dan berbagi impian.
  4. Appreciative Inquiry menciptakan lingkungan tempat setiap orang dapat memilih cara dalam memberikan kontribusi.
  5. Appreciative Inquiry memberikan keleluasaan dan dukungan untuk bertindak.
  6. Appreciative Inquiry mendorong dan memungkinkan orang bersikap positif.

Sumber: Budi Setiawan M., M.Psi dan Rakhman Ardi, S.Psi,  “MENUJU INDONESIA IMPIAN: PENCIPTAAN KOMUNITAS SEJAHTERA DAN MANUSIAWI DENGAN PENDEKATAN APPRECIATIVE INQUIRY (SEBUAH PROPOSAL RISET AKSI)” ,  Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Appreciattive Inquiry (2)

OLEH: DIMAS ARYO WICAKSONO

Pengertian Appreciative Inquiry

Appreciative (Ap-pre’ci-ate,v), kata appreciative sendiri adalah kata yang memiliki dua makna sekaligus, bisa berarti sebuah tindakan untuk menghargai, atau bisa juga berarti tindakan untuk meningkatkan nilai. Mengacu pada pengertian yang diajukan diatas maka apresiatif adalah :

  1. Untuk mengakui atau menghargai apa yang terbaik dari orang lain, dan dunia di sekitar kita.
  2. Untuk merasakan apa saja faktor-faktor yang menghidupkan, memberikan kesehatan, vitalitas dan keunggulan dalam sistem manusia.
  3. Untuk menegaskan apa yang menjadi kekuatan masa kini dan lampau, kesuksesan dan potensial.
  4. Untuk meningkatkan nilai.

Apresiasi adalah tindakan dengan memberikan penghormatan, dengan memberikan penilaian dan dengan rasa terima kasih.

Inquiry (kwir), v. sama dengan tindakan untuk mengeksplorasi atau tindakan untuk menemukan sesuatu. Semangat yang diusung oleh proses inquiry ini adalah semangat untuk belajar. Hal ini termasuk di dalamnya tindakan untuk mengajukan sebuah pertanyaan; menjadi terbuka untuk melihat potensi kemungkinan yang baru. Inquiry adalah proses belajar tidak hanya baik untuk organisasi saja, akan tetapi baik juga untuk individu.

Kekuatan yang dihasilkan dengan menggabungkan dua kata diatas appreciative dan inquiry menurut Diana Whitney (whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.4)digambarkan seperti perpaduan antara elemen oksigen dan hidrogen yang mampu menghasilkan air yang sangat berguna bagi kehidupan manusia, sama halnya dengan perpaduan antara kata appreciative dan inquiry yang akan menghasilkan kekuatan, ataupun efek percepatan dari perubahan sebuah organisasi ataupun individu kearah perubahan yang positif.

Beberapa ahli mencoba untuk memberikan pengertiannya tentang apa yang mereka pahami tentang appreciative inquiry.

Mengacu pada pengertian penjelasan diatas, Cooprider dan Srivastva (1994. p. 207 dalam Dorieke Van Der Haar, 2002), mengemukakan bahwa ”Appreciative inquiry mencari tahu hal yang terbaik dari “apa” yang dapat membantu menyalakan imajinasi dari ‘apa yang mungkin’. Tujuan adalah untuk menyalurkan pengetahuan yang mana memperluas ‘realitas dari kemungkinan’ dan membantu rekan dari sebuah organisasi melihat sebuah masa depan yang diinginkan bersama dan kemudian untuk membawa visi tersebut kedepan dengan cara dimana dengan baik menterjemahkan niatan kedalam realitas dan keyakinan kedalam prakteknya”

Lebih lanjut Cooprider menyatakan bahwa appreciative inquiry adalah ” tentang pencarian ko-evolusioner yang terbaik dalam diri seseorang, organisasi mereka, dan dunia yang relevan disekitar mereka, meliputi didalamnya menggali apa yang ”menghidupkan” dalam sebuah sistem kehidupan yang itu berjalan paling efektif, hidup, AI juga mengenai seni dan praktek mengajukan pertanyaan yang memperkuat kapasitas dari sistem untuk melihat, mengantisipasi dan meningkatkan potensi positif, inquiry sendiri adalah memobilisasi keahlian dari ”pertanyaan positif yang tidak terkondisikan”, seringkali meliputi ratusan ataupun ribuan orang. Intervensi dalam AI terfokus pada kecepatan akan imajinasi dan inovasi dibandingkan negatif, kritik. Model Discovery, dream, design dan destiny menghubungkan energi dari inti positif kepada perubahan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya” (Cooperrider dkk, 2005)..

Pengertian yang hampir sama, diberikan oleh Johnson dan Leavitt, (2001, p. 129, 131 dalam Dorieke Van Der Haar, 2002) “Appreciative inquiry adalah sebuah alat transformasi organisasional yang berfokus pada belajar dari keberhasilan. Daripada berfokus pada defisit dan permasalahan-permasalahan, appreciative inquiry berfokus pada menemukan apa yang bekerja dengan baik, kenapa bisa bekerja dengan baik, dan bagaimana sukses bisa diperluas keseluruh organisasi. Appreciative inquiry adalah sebuah proses yang mengambil bentuk berbeda di organisasi yang berbeda. Prosesnya bisa menghabiskan paling sedikit satu minggu atau dua untuk menyempurnakan, atau paling lama beberapa bulan.”

Murrel (2001) mengemukakan pengertiannya tentang appreciative inquiry dengan menekankan pada prinsip konstruksi sosial (social constructsionist), menurut Muller ‘Appreciative inquiry adalah sebuah cara berpikir tentang perubahan yang dibangun pada premis kemungkinan dari sebuah ‘konstruksi sosial’ realitas organisasi’. (Murrell, 2001; 92 dalam Dorieke Van Der Haar, 2002)

Appreciative inquiry adalah sebuah pendekatan untuk perkembangan dan perubahan organisasional yang tumbuh dari pemikiran kontruksionis sosial. Pendekatan Appreciative inquiry menawarkan keseluruhan proses dan potensial untuk secara positif menjelajahi, membayangkan secara kolektif, merancang secara kolaboratif dan berkomitmen bersama-sama untuk selangkah lebih maju.  (http://www.mellish.com.au/Resource/lizarticle.htm)

Berdasarkan pada beberapa pengertian yang dikemukakan diatas dapat ditarik beberapa pemahaman tentang appreciative inquiry oleh peneliti.

  1. Appreciative inquiry adalah sebuah proses pencarian pengalaman-pengalaman terbaik, dimana pengalaman itu adalah hal yang menghidupkan, yang mengarah pada keberhasilan.
  2. Proses appreciative inquiry adalah proses belajar, proses menggali hal-hal yang terbaik, faktor-faktor penyebab keberhasilan dari diri kita, organisasi atau masyarakat.
  3. Appreciative inquiry adalah sebuah pendekatan yang dapat digunakan dalam proses transformasi baik itu pada organisasi, komunitas bahkan pada level individu sekalipun.
  4. Semua proses, aktivitas dan praktek dari appreciative inquiry terfokus pada apa yang terbaik dalam individu, organisasi, masyarakat baik itu di masa lampau, sekarang dan masa yang akan datang.
  5. Prinsip dasar yang digunakan dalam appreciative inquiry salah satunya adalah konstruksi sosial (social constructionist), bahwa realitas merupakan hasil konstruksi dari organisasi.

Dalam pelaksanaannya, pendekatan appreciative inquiry memiliki empat tahap yang harus dilalui untuk mencapai ke arah perubahan yang positif, empat tahap tersebut seringkali dikenal dengan siklus 4-D yaitu discovery, dream, design dan destiny. Selain keempat tahap tersebut, terdapat pula satu tahap awal, yang harus dilalui dan tahap ini merupakan tahap kunci yaitu tahap pemilihan topik yang afirmatif, sebagaimana semangat yang diusung oleh appreciative inquiry yaitu semangat afirmatif dan mencari pengalaman yang terbaik yang terdapat di masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang.

Melihat besarnya dampak yang diberikan oleh appreciative inquiry membuat pendekatan ini dapat digunakan pada berbagai bidang, tidak hanya terbatas pada perubahan organisasi saja, berikut ini berbagai penerapan-penerapan appreciative inquiry sebagai agenda perubahan di beberapa bidang menurut Diana Whitney (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.26).

Penerapan appreciative inquiry dapat dilakukan pada level apapun, mulai dari level individu, masyarakat, organisasi bahkan hingga secara global.

Dalam penelitian ini, pendekatan appreciative inquiry akan diterapkan pada kegiatan pengembangan masyarakat. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam tabel, pendekatan appreciative inquiry dalam kegiatan pengembangan masyarakat contohnya untuk pemetaan inti positif masyarakat (pemetaan aset), perencanaan partisipatif, pengembangan ekonomi dan masih banyak contoh yang lainnya. Bahkan pendekatan ini dalam penerapannya pada kegiatan pengembangan masyarakat telah dilakukan oleh berbagai organisasi global, seperti yang disebutkan Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003) salah satunya adalah kegiatan imagined chicago, serta program pengembangan masyarakat di Nepal yang dilakukan oleh Chandi Prasad Chapagain pada tahun 2004 (Chapagain, 2004). Keberhasilan Chapagain di Nepal, berdampak luar biasa pada masyarakat, disamping masyarakat secara komunitas dapat berkembang akan tetapi tiap-tiap individu juga menunjukkan perkembangannya, perubahan sikap dan perilaku ke arah yang positif, bahkan menjadi appreciative inquiry sebagai way of life bagi mereka (Chapagain, 2004).

Tahapan-Tahapan Appreciative Inquiry

Sebagaimana yang disebutkan diatas, bahwa penerapan AI terdapat tahapan yang disebut dengan siklus 4-D. Tahapan-tahapan ini didasarkan pada ide tentang sistem manusia, sebagai individu, tim, organisasi ataupun anggota masyarakat selalu tumbuh dan berubah sesuai dengan apa yang mereka pelajari (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003). appreciative inquiry bekerja dengan berfokus pada yang menjadi potensi positif dari sebuah organisasi, atau yang disebut dengan positive core (inti positif), dan dari energi-energi positif tersebut dilepaskan untuk menjadi penggerak perubahan dalam upaya mencapai kesuksesan (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.6). Hal ini adalah sifat dasar yang penting dari sebuah organisasi saat menjadi yang terbaik, orang dalam organisasi tersebut mengumpulkan harapan tentang kekuatan yang nampak maupun tidak nampak dari organisasi, kemampuan, sumber daya dan aset-aset.

Siklus 4-D digunakan untuk memfasilitasi penemuan-penemuan pengalaman atau hal-hal yang terbaik ataupun kekuatan, impian serta bagaimana kita dapat mewujudkan impian tersebut. Berikut ini adalah diagram dari proses 4-D dalam pendekatan apprecciative inquiry

Gambar 1. Siklus Appreciative Inquiry

A. Pemilihan Topik Affirmatif

Pemilihan topik yang affirmatif, digunakan agar tetap fokus dalam proses-proses siklus 4-D yang selanjutnya. Pemilihan topik yang teliti, mendalam, dan menginspirasi adaah sangat penting perannya, untuk mendefinisikan arah dari proses perubahan.

Kehidupan manusia berkembang seiring dengan apa yang mereka pelajari, menentukan topik yang dapat merangkai tujuan mau menjadi apa organisasi pada saat yang akan datang. ”Pemilihan topik yang afirmatif hendaknya fokus pada budaya organisasi yang meningkat, atau strategi dalam berhubungan” (whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.132), tujuan dari pemilihan topik yang afirmatif adalah agar proses transformasi organisasi, baik itu meliputi budaya organisasi, maupun hubungan interpersonal dalam organisasi dapat fokus, topik afirmatif yang dimaksud adalah akan menjadi seperti apa budaya organisasi, hubungan interpersonal dalam sebuah organisasi pada saat yang akan datang. Topik affirmatif memang menjadi fokus perubahan dalam sebuah organisasi, akan tetapi terdapat dua hal yang perlu diperhatikan sebelum menentukan topik yang affirmatif, yaitu :

  1. Siapa yang akan menentukan atau memilih topiknya ? eksekutifkah ? kelompok inti saja ? atau bahkan seluruh organisasi ?
  2. Topik apa yang akan kita pelajari ? apa yang ingin kita lihat lebih pada organisasi kita ? (whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.134, 135)

Siapa yang akan menentukan atau memilih topiknya, akan sangat menentukan langkah-langkah appreciative inquiry berikutnya. Tentunya akan berbeda siapa yang akan menentukannya antara organisasi yang anggotanya hanya dua puluh orang saja dibandingkan dengan organisasi yang memiliki anggota lebih dari dua ribu orang. Idealnya pemilihan topik dilakukan oleh seluruh organisasi, bagian terkecil dari sistem organisasi, mulai dari level yang paling rendah sampai level yang tertinggi sekalipun, bahkan meliputi berbagai fungsi dalam organisasi. Pemilihan topik juga harus bermacam, hal ini harus mencakupi berbagai aspirasi yang luas dari setiap bagian dalam organisasi, karena keragaman tersebut akan membawa hubungan interpersonal menjadi lebih kaya, dialog, dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terfikirkan sebelumnya. Keragaman topik ini dinilai sangat penting, tidak hanya dilihat dari satu organisasi secara keseluruhan saja, akan tetapi setiap bagian-bagian dalam organisasi. Setiap tingkatan ataupun fungsi dalam organisasi memiliki keunikan perspektif, dan idealismenya masing-masing, semakin fokus topiknya pada tiap level dan fungsi maka akan semakin mudah untuk diimplementasikan.

Topik yang akan dipilih hendaknya terfokus pada apa yang anggota organisasi ingin lihat tumbuh dan berkembang dari organisasinya (whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.136). Ketika kita berbicara mengenai apa yang ingin kita lihat pada masa yang akan datang, apalagi yang terkait dengan organisasinya, para anggota selalu memunculkan pernyataan-pernyataan yang bersifat provokatif, yang menggugah semangat. Melihat betapa pentingnya penentuan topik afirmatif ini, menurut Whitney (whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.137)terdapat empat karakteristik dalam sebuah topik, agar menjadi topik yang hebat.

  1. Topik adalah positif. Dinyatakan dalam bentuk yang afirmatif.
  2. Topik sangat diinginkan. Organisasi ingin tumbuh, berkembang dan meningkat.
  3. Topik merangsang belajar. Organisasi sesungguhnya sangat tertarik tentang dirinya sendiri, dan selalu ingin menjadi lebih berilmu pengetahuan dan cakap dalam bidangnya.
  4. Topik harus merangsang percakapan tentang keinginan-keinginan atau hasrat pada masa yang akan datang. Topik akan membawa kemana organisasi ingin pergi, dan menghubungkan dengan agenda perubahan organisasi.

Setelah menentukan topik atau fokus dari agenda perubahan sebuah organisasi atau komunitas, maka langkah selanjutnya adalah memasuki siklus 4-D dari appreciative inquiry, D yang pertama adalah discovery.

B. Discovery.

Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk menemukan dan menghargai hal-hal apa yang menghidupkan, menggairahkan individu pada pekerjaan dan organisasinya. Tahapan ini berfokus pada cerita atau narasi positif yang merefleksikan suatu moment pengalaman menarik terbaik pada level individu maupun organisasi (Dorieke Van Der Haar, 2002, p.53). Dalam tahap ini adalah menggali lebih dalam mengenai pengalaman – pengalaman yang terbaik yang telah dialami, pengalaman-pengalaman yang ”menghidupkan”, atau menggairahkan, serta menggali lagi lebih dalam faktor – faktor apa saja yang menyebabkan pengalaman tersebut terjadi, atau faktor – faktor yang menyebabkan keberhasilan.

Pada fase ini, sebagaimana yang disebutkan diatas, terkait dengan proses penggalian informasi mengenai pengalaman-pengalaman yang terbaik, faktor-faktor yang menghidupkan, maka menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003) fase ini selalu berputar sekitar wawancara yang apresiatif. Dalam fase ini, membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa jadi berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Beberapa hal yang menjadikan fase ini membutuhkan waktu yang cukup lama antara lain, terlebih dahulu menyusun pertanyaan dan panduan wawancara yang didasarkan pada topik afirmatif yang sebelumnya, mengadakan wawancara, menyebarkan cerita dan pengalaman terbaik, dan menemukan pemaknaan apa yang telah kita pelajari. (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p. 148).

Beberapa kunci penentu dari fase discovery ini, adalah :

  1. Siapa yang akan menyusun pertanyaan? Dan panduan wawancara?
    Apakah yang menyusunnya seluruh bagian dari kelompok yang sudah menentukan topik, para pengambil keputusan, atau konsultan dari luar.
  2. Siapa yang akan diwawancarai ?
    Apakah itu stakeholder, siapa yang menjadi stakeholder, warga, aparat desa, siapa yang akan kita dengar ceritanya.
  3. Siapa yang akan mengadakan wawancara? Berapa banyak?
  4. Apakah dibutuhkan pelatihan untuk wawancara?
  5. Siapa yang akan melakukan pemaknaan (intepretasi) data? Dan bagaimana?
    Sebisa mungkin, untuk tetap menjaga konsistensi dari data yang telah didapatkan.
  6. Bagaimana caranya kita mengkomunikasikan hasil cerita dan pengalaman terbaik?
    Apakah melalui penulisan buletin, video, atau presentasi secara formal. (whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003).

Lebih lanjut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), menyebutkan terdapat beberapa tahapan dalam melakukan proses discovery, yaitu:

  1. Menyusun pertanyaan wawancara apresiatif.
  2. Mengembangkan panduan wawancara
  3. Menyusun rencana wawancara
  4. Mengkomunikasikan strategi inquiry.
  5. Melatih pewawancara.
  6. Melakukan wawancara apresiatif
  7. Menyebarkan cerita dan pengalaman terbaik.
  8. Memberi makna dan membuat peta inti kekuatan (positive core).

Appreciative inquiry berdasarkan pada premis bahwa seni bertanya mengarahkan pada image positif yang akan mengarahkan pada tindakan yang positif (David Cooperrider, 2005, p. 88). Kemudian menurut Diana Whitney dan Amanda Tootrsten Bloom (2003), pertanyaan dalam wawancara apresiatif yang dituliskan untuk menggali dan mampu mengungkap tentang siapa dan yang seperti apa dikatakan sebagai masyarakat yang terbaik. Wawancara apresiatif yang baik, tidak hanya tertarik dengan data, akan tetapi tertarik dengan pengalaman dan hubungan. Mungkin karakateristik yang paling bisa dilihat dari pertanyaan wawancara appresiatif adalah mampu mengajak masyarakat untuk bercerita dan berpartisipasi langsung. (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003).

C. Dream

Setelah melakukan eksplorasi tentang kekuatan, pengalaman-pengalaman terbaik maka tahap D yang selanjutnya adalah membayangkan masa yang akan datang atau biasa disebut dengan Dream. Tahapan dream adalah mengajak organisasi atau masyarakat untuk memperkuat apa yang menjadi inti kekuatan (positive core) dengan membayangkan kemungkinan yang terjadi pada masa yang akan datang yang telah dibangkitkan pada tahapan discovery (Cooperrider, dkk. 2005, p. 112).

Sebagaimana dalam prinsip antisipatory, bahwa sistem manusia bisa digambarkan seperti tumbuhan. Secara instingtif mereka akan tumbuh menuju apa yang disebut dengan ”cahaya”, dimana hal tersebut merupakan gambaran kolektif mereka tentang masa depan. (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003).

D. Design

Dalam fase Design pada appreciative inquiry merupakan kunci untuk meneruskan proses perubahan yang positif dan merupakan respon terhadap apa yang menjadi hal yang paling positif dari organisasi pada masa sebelumnya dan potensi tertingginya. (Cooperrider, dkk, 2005).

Tujuan dari disain organisasi adalah untuk memberikan bentuk ekspresi dari kreativitas manusia dan nilai, dan untuk merealisasikan aspirasi manusia. Disain organisasi merupakan ekspresi dari nilai yang diwujudkan melalui struktur, sistem, strategi, hubungan, aturan, kebijakan, prosedur, produk, dan pelayanan. (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom , 2003).

Fase design diawali dengan menyusun pernyataan profokativ (provocative proposition), seringkali disebut juga sebagai pernyataan kemungkinan (possibility proposition), yang menjembatani antara fase discovery dan fase dream. (Cooperrider dkk, 2005). Setelah menyusun pernyataan yang bersifat profokativ, untuk mewujudkannya dibentuklah social architecture bagi organisasi yang ideal, hal ini ditujukan pada elemen-elemen disain yang penting bagi organisasi (seperti sistem, struktur, strategi dan masih banyak lagi) untuk mendukung inti kekuatan. (Cooperrider dkk, 2005). Beberapa yang menjadi kunci penting dan perlu diperhatikan dalam fase ini menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, adalah :

  1. 1. Apa yang akan kita disain ?
  2. Siapa saja yang terkait di dalamnya ?
  3. Bagaimana kita menjelaskan organisasi yang ideal bagi kita ?

Ketiga konsep yang patut diperhatikan dalam fase ini, memang terkesan sederhana yaitu hanya meliputi apa, siapa dan bagaimana kita mendesain, akan tetapi menentukan ketiganya menjadi keputusan yang penting dalam fase design tersebut. (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003).

E. Destiny

Fase ini merupakan fase terakhir dalam fase 4-D pada appreciative inquiry, yang biasa disebut dengan fase destiny (seringkali disebut dengan delivery). Tujuan dari fase destiny ini adalah untuk memastikan bahwa dream atau apa yang menjadi impian bersama dapat direalisasikan. Fase destiny adalah representasi dari kesimpulan fase-fase sebelumnya yaitu discovery, dream dan design dan merupakan awal dari terciptanya budaya belajar yang apresiatif yang terus menerus. (Cooperrider dkk, 2005). Yang menjadi peran penting dalam fase ini adalah kemampuan akan mengorganisir diri sendiri (self organize), dimana self organize sendiri merupakan implementasi dari pernyataan yang disusun dalam fase design yaitu pernyataan profokativ. (Cooperrider dkk, 2005).

Prinsip Dasar Appreciative Inquiry

Pendekatan Appreciative inquiry didasarkan pada beberapa prinsip dasar yang sudah berkembang sebelumnya. Prinsip-prinsip ini terdiri delapan prinsip dasar yang sesuai dengan semangat yang diusung oleh appreciative inquiry yaitu semangat menggali pengalaman-pengalaman yang terbaik, yang ”menghidupkan”, yang menggairahkan individu, organisasi dan komunitas. Prinsip-prinsip tersebut adalah social constructionist, poetic principle, anticipatory principle, positive principle, simultaneity principle

A. Prinsip Social Constructionist

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, social constructionist merupakan salah satu prinsip yang dipegang dalam menggunakan pendekatan appreciative inquiry. Menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), mengacu pada prinsip social constructionist kekuatan sebuah bahasa bukan sebagai alat individu, akan tetapi lebih sebagai kendaraan bagi sebuah masyarakat untuk menciptakan pengetahunannya dan membuat pemaknaan atau nilai. Sesuai dengan pernyataan dari seorang psikolog social, Kenneth J. Gergen (dalam Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003) “apa yang menjadi pengetahuan di dunia tumbuh dari hubungan dan tertanam tidak hanya berasal dari pemikiran individu akan tetapi juga dengan penafsiran atau tradisi bersama”.

Penerapan social constructionist dalam appreciative inquiry menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), terdapat pada beberapa kegiatan appreciative inquiry yang memang lebih mengedepankan dialog dalam setiap tahapan-tahapannya, seperti menentukan topik afirmatif, wawancara appresiatif, sesi membentuk pemaknaan, dialog impian, membuat pernyataan provokativ, dan menentukan tindakan yang menginspirasi, intinya setiap tahapan dalam appreciative inquiry memberikan kesempatan pada masyarakat yang dapat dilakukan bersama-sama.

B. Prinsip Simultaneity

Mengacu pada pernyataan seorang terapis, Marilee Goldberg (dalam Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003) “ momen untuk bertanya adalah juga momen untuk memilih, dan biasanya juga sangat berpengaruh pada tindakan yang efektif dan perubahan yang positif’. Lebih lanjut menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), pertanyaan dapat menstimulasi ide, inovasi, dan penciptaan. Pengetahuan baru, teori dan penciptaan seringkali berasal dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa. Masih menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), bahwa sistem manusia –organisasi dan masyarakat- bergerak menuju pada apa yang mereka pelajari, bertanya tentang, menggali pada, dan mengeksplorasi dengan ketertarikan.

Penerapan prinsip simultan pada appreciative inquiry terletak pada seni mengajukan pertanyaan, termasuk di dalamnya menentukan kemungkinan yang afirmatif, dalam proses discovery juga lebih ditekankan pada menyusun pertanyaan yang dapat menceritakan tentang pengalaman-pengalaman terbaik, dan mengajukan pertanyaan merupakan jantung dari pendekatan appreciative inquiry (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003, p.60).

C. Prinsip Poetic.

Untuk memahami tentang prinsip poetic, David Cooperrider (2005) menggambarkan bahwa organisasi manusia adalah sebuah buku yang terbuka, cerita tentang sebuah organisasi secara terus menerus akan dituliskan. Lebih lanjut, David Cooperrider (2005) menyatakan bahwa masa lalu, sekarang dan yang akan datang adalah sumber yang tak akan pernah habis untuk belajar, insprasi ataupun intepretasi (David Cooperrider, dkk, 2005 p. 8).

Penerapan psinsip ini dalam appreciative inquiry terletak pada bahwa organisasi sebagai buku yang terbuka, yang dapat ditulis secara terus menerus dengan cerita-cerita yang menarik, karena kehidupan dalam masyarakat atau organisasi dapat diekspresikan melalui cerita-cerita menarik, yang dituliskan oleh berbagai stakeholders. Setiap individu akan membawa cerita yang berbeda, intepretasi yang berbeda pula (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003).

D. Prinsip Anticipatory

Teorema yang mendasar tentang prinsip anticipatory memandang bahwa kehidupan organisasi adalah gambaran tentang panduan masa depan, yang mungkin bisa disebut dengan perilaku tertentu dari organisme ataupun organisasi (David Cooperrider, 2005). Hal yang serupa dikemukakan oleh Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), prinsip anticipatory berpendapat bahwa gambaran tentang masa depan akan memandu dan menginspirasi tindakan kita hari ini dan penghargaan. Seorang sosiolog German Frederick Polak (dalam Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003). berpendapat bahwa gambaran tentang masa depan akan dapat mempengaruhi tindakan dari berbagai level dalam kehidupan sosial.

At every level of awareness, from the individual to the macrosocietal, imagery is continously generated about the ‘not-yet.’ Such imagery inspires our intentions, which then move us purposefully forward. Through their daily choices of action, individuals, families, enterprises, communities, and nations move toward what they imagine to be a desirabke tommorow.Bahwa setiap level kesadaran, mulai dari individu hingga makro sosial, imajinasi adalah secara terus menerus berbicara tentang “yang belum”. Seperti imajinasi yang menginspirasikan intensi kita, dimana kemudian mendorong kita untuk tujuan kedepan. Karena pilihan atas tindakan kita sehari-hari, individu, keluarga, perusahaan, masyarakat, dan bangsa bergerak ke arah apa yang mereka imajinasikan yang menggairahkan pada masa yang akan datang.

E. Prinsip Positif

Organisasi, sebagai kontruksi manusia, adalah sistem afirmatif yang besar dan kemudian akan merespon kepada pikiran yang positif dan pengetahuan yang positif (David Cooperrider, dkk, 2005). Menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), pernyataan yang sederhana tentang prinsip positif ini adalah bahwa pertanyaan positih akan mengarahkan ke arah perubahan yang positif. Pernyataan yang positif mengeluarkan apa yang terbaik dalam masyarakat, menginspirasikan tindakan positif, dan menciptakan kemungkinan akan masa depan yang positif.

Menurut Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom (2003), appreciative inquiry bukan berarti mencari apa yang positif sebagai lawan dari yang negatif, atau yang baik sebagai lawan dari yang buruk. Akan tetapi mencari tentang apa yang tekandung dalam masyarakat yang menciptakan penampilan yang terbaik dan organisasi yang luar biasa, apa yang menarik, dan berenergi, dan menginspirasi pekerja, pelanggan, suppliers, dan masyarakat dalam organisasi (Whitney, Diana dan Amanda Toorsten Bloom, 2003. p 68).

Sumber: Dimas Aryo Wicaksono (2007). “Peta Inti Positif Masyarakat Sebagai Dasar Kegiatan Community Development dengan Menggunakan Pendekatan Appreciative Inquiry”. Skripsi. Surabaya: Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga .

4 Komentar »

  1. Yuk bangun komunitas AI di Indonesia.

    Komentar oleh Marwah daud Ibrahim — Februari 17, 2009 @ 7:55 pm

  2. setuju!pendekatan AI sangat diperlukan di Indonesia. Sudah saatnya setiap individu indonesia utk bangkit & ikut bertanggungjawab pada masalah di sekitar,jgn hanya mengandalkan pemerintah.

    Komentar oleh khusnul amaliah — Mei 5, 2009 @ 3:18 pm

  3. Ayooooo
    Komunitas ai indonesia
    menawarkan pendekatan yang lebih segar
    Bu marwah, kapan bisa direalisasikan?

    http://bukik.org

    Komentar oleh appreciativeorganization — April 25, 2010 @ 11:22 pm

  4. kenapa dunia sebentar lg kiamat

    Komentar oleh vitha — November 10, 2010 @ 2:55 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: