BebasBanjir2015

Ekohidrologi

Konsep ekohidrologi sebagai paradigm baru pengelolaan sumber daya air berkelanjutan

Oleh: Hidayat Pawitan
Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA – IPB, Bogor 16680
hpawitan@ipb.ac.id

Makalah disajikan dalam KIPNAS X Tema:“Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan Dalam Membangun Kemandirian Serta Kedaulatanbangsa Dan Negara Di Tengah Perubahan Global”, Jakarta, 8-10 November 2011   

Download: 13086710321319780299.makalah

ABSTRAK

Permasalahan sumber daya air Indonesia yang dicirikan oleh pencemaran dan penurunan kapasitas sumber daya alam dalam menyediakan jasa lingkungan memerlukan solusi cerdas dengan pendekatan yang tepat untuk mengatasinya. Konsep ekohidrologi menawarkan suatu pendekatan terpadu dalam pengelolaan sumber daya air pada tingkat daerah aliran sungai, dengan sasaran meningkatkan kapasitas ekosistem dalam menerima intervensi pemanfaatan sumber daya dan juga menjamin keberlanjutan jasa lingkungan, atas dasar prinsip-prinsip ilmiah yang memadukan metoda kuantifikasi hidrologi dan keterkaitan ekologi dengan proses dan fungsi biota ke dalam suatu teori dual-regulatory antara sistem hidrologi dan biota serta harmonisasi rekayasa. Pengamatan lapang yang dilakukan atas implementasi konsep ekohidrologi di Polandia berupa introduksi biofilter, tembok denitrifikasi, sampai pada konsep blue-green network diperbandingan dengan penelitian ekohidrolgi yang telah dilakukan di Indonesia, dengan tantangan dalam menghasilkan pengetahuan dan sains yang berkembang dari Indonesia. Sebagai kesimpulan dapat dinyatakan bahwa konsep ekohidrologi menawarkan solusi cerdas dan juga paradigm baru yang diperlukan untuk menjamin pengelolaan sumber daya air berkelanjutan berbasis daerah ailran sungai, khususnya dalam menjawab tantangan masa depan atas sumber daya air yang terus meningkat di tengah degradasi sumber daya alam dan lingkungan akibat tekanan penduduk. Tantangan yang dihadapi Indonesia terutama dalam dukungan infrastruktur pendidikan dan riset ekohidrologi yang berbasis pada kondisi Indonesia dan tepat guna.

Kata kunci: paradigm baru, ekohidrologi, pengelolaan DAS terpadu, pembangunan berkelanjutan.

PENDAHULUAN

Indonesia dengan iklim muson basah memiliki curah hujan tahunan sebesar 2800 mm dan dengan jumlah ini setara dengan sekitar 10% dari potensi sumber daya air tawar dunia. Artinya Indonesia menerima lebih dari tujuh kali rerata curah hujan dunia, dan ternyata tidak terbebas dari banyak keterbatasan dan krisis terkait sumber daya air.

Tantangan permasalahan sumber daya air di Indonesia dirasakan semakin meningkat, tidak hanya sebagai akibat pencemaran dan degradasi sumber daya, namun juga dengan penurunan kapasitas sumber daya alam, yang memerlukan solusi cerdas dengan pendidikan dan riset terkait penyiapan tenaga (capacity building) yang memiliki pengetahuan dan kompetensi pengelolaan sumber daya air yang diperlukan, serta penatalaksanaan dan kelembagaan yang diperlukan. Akar permasalahan berupa ledakan penduduk Indonesia telah disadari sejak sensus pertama yang dilakukan tahun 1930 dan akibat langsungnya juga diketahui, yaitu berupa perubahan penggunaan lahan, degradasi sumber daya alam dan lingkungan, serta ancaman ketahanan pangan dan kelaparan. Oleh karena itu, pengembangan infrastruktur irigasi telah dilakukan oleh pemerintahan kolonial sejak awal abad XX di sekitar kawasan padat penduduk di pulau Jawa dan Sumatera, dan berlanjut sampai pada era orde baru tahun 1970an. Pengembangan lahan sawah di Jawa sebenarnya telah mencapai puncaknya  sejak sebelum kemerdekaan tahun 1945, yaitu seluas empat juta hektar (Soekarno 1952). Tekanan penduduk telah merambah sumber daya lahan hutan ke arah hulu daerah aliran sungai. Permasalahan sumber daya air demikian yang dicirikan oleh penurunan kapasitas sumber daya alam, terutama akibat terjadinya degradasi lahan dan hutan, serta pencemaran lingkungan yang terkait dengan kegiatan manusia, dapat dikenali sebagai permasalahan ekohidrologi yang menjadi tantangan keilmuan hidrologi, ekologi dan biologi. Zalewski et al. (2002) yang telah merumuskan cabang keilmuan baru yang dikenal dengan ekohidrologi, dan salah satu pusat penelitian dan pengembangan ekohidrologi yang diakui dan didukung oleh UNESCO adalah the European Regional Certer for Ecohydrology (ERCE-UNESCO), Akademi Ilmu Pengetahuan Poland dan University of Lodz, Poland. Dalam tulisan ini akan dikaji perkembangan konsep ekohidrologi dari prinsip dan teori yang berkembang sampai pada pengamatan lapang implementasinya dalam praktek di Polandia. Perbandingan dengan perkembangan kegiatan penelitian ekohidrologi di Indonesia akan dilakukan dengan rumusan saran dan kesimpulan, termasuk rintisan kegiatan untuk Asia Pacific Center for Ecohydrology (APCE/LIPI). Tantangan keilmuan ini menuntut pengembangan konsep pendidikan dan riset ekohidrologi di Indonesia dengan basis konsep ilmiah yang kuat, dengan menyediakan dukungan infrastruktur pendidikan dan
riset, bahan ajar, pertemuan ilmiah/knowledge transfer, dan publikasi dan diseminasi hasil riset ekohidrologi, khususnya di tingkat pendidikan tinggi dan pasca sarjana di Indonesia.

TUJUAN

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk tujuan mengenalkan paradigm baru pengelolaan sumber daya air terpadu yang dikenal dengan konsep ekohidrologi, menyajikan hasil pengamatan penelitian dan implementasi ekohidrologi di Polandia, sekaligus menunjukkan kemajuan penelitian ekohidrologi yang telah dicapai Indonesia dibandingkan dengan perkembangan penelitian dan implementasi konsep ekohidrologi di Negara di mana konsep ini pertama dicetuskan, dan merumuskan tantangan yang harus dihadai.

METODOLOGI KAJIAN

  1. Kajian pustaka dilakukan untuk menelusuri perkembangan konsep ekohidrologi menurut berbagai aliran maupun konsep serupa untuk dapat merumuskan konsep ekohidrologi yang sesuai dengan kondisi permasalahan sumber daya air di Indonesia, namun juga ada dasar kaidah-kaidah ilmiah yang kuat. Salah satu sasaran perumusan konsep ekohidrologi yang benar adalah menghindari kesimpang-siuran istilah seperti yang dikemukakan oleh Rodriguez-Iturbe (2000) dan Naiman et al. (2007).
  2. Pengamatan lapang dilakukan atas implementasi konsep ekohidrologi, khususnya Proyek Blue-green Network untuk kota Lodz-Polandia, yang menyelaraskan pengembangan kota dengan keberadaan sungai dan danau/kolam, serta taman kota dengan hutan kotanya, dan kawasan pemukiman dan kawasan rekreasi alam dengan jasa lingkungan yang meningkat dengan pendekatan ‘menciptakan masa depan’ dengan foresight methodology (Zalewski, 2007).
  3. Analisis dan telaah banding dilakukan terhadap penelitian-penelitian ekohidrologi yang dilakukan di Indonesia (Haryani 2011) dengan mengidentifikasi prinsipprinsip ekohidrologi yang berlaku dan merumuskan saran-saran tindak lanjut yang dikaitkan dengan konsep pendidikan dan penelitian ekohidrologi di Indonesia (Pawitan dan Haryani 2011).

HASIL DAN BAHASAN

Konsep ekohidrologi dan ekohidrologi sebagai alat pengelolaan DAS terpadu: Ekohidrologi (EH) adalah suatu paradigma baru dalam sains hidrologi yang mengintegrasikan konsep-konsep ekologi dengan hidrologi sebagai upaya pemecahan masalah secara holistik di suatu lingkungan sumber daya air, seperti pada suatu lingkungan perairan darat, danau, lahan basah dan rawa, estuari, dsbnya. Konsep EH telah dikembangkan oleh Zalewski di Polandia sejak tahun 1980an untuk kawasan pertanian, yang kemudian berkembang untuk rancangan kota masa depan (Zalewski, 2007), dan dengan pendekatan berbeda juga sejak tahun 1980an oleh Peter Eagleson (2004) dan diikuti oleh Rodrigues-Iturbe (2000, 2004) di Amerika serikat. Wood et al. (2007) Hasil kajian EH berupa model-model interaksi antara ekosistem dan sistem hidrologi tersebut merupakan suatu dasar pengelolaan lingkungan, baik pada aspek hidrologi, sebagai model konservasi sumber daya air, pengelolaan banjir dan sebagainya, dan juga pada tingkatan biota, sehingga dapat diperoleh produktivitas dan jasa lingkungan yang berkelanjutan. Telah banyak ilmuwan dan peneliti yang mengembangkan konsep untuk menjawab tantangan permasalahan hidrologi sumber daya air, semua sebagai hasil riset, sehingga dikenal sejumlah istilah dan konsep terkait pengelolaan sumber daya air yang perlu klarifikasi, sebagaimana dibahas oleh Naiman et al. (2007) yang mengidentifikasi lima konsep saling berhubungan:  Integrated Water Resources Management (IWRM), Hydroecology, Ecohydrology, Ecohydraulics and Environmental Flows.

Nampaknya banyak definisi EH yang telah muncul dalam kepustakaan hidrologi dan ekologi, karena pada prinsipnya setiap definisi EH yang menggabungkan aspek hidrologi dan ekologi atau lingkungan layak disebut ekohidrologi. Kerancuan pemahaman juga tidak jarang terjadi, seperti yang disajikan oleh Apip (2006), yang mencampur adukkan dua pendekatan ekohidrologi yang berbeda, yaitu dari Zalewski yang lebih menekankan pola dan proses hubungan hidrologi-biota, dan yang digunakan dan dilaporkan oleh Krysanova dari Postdam Institute yang lebih mengenalkan pengembangan model matematika SWIM (Soil-Water Integrated Model). Namun dalam tulisan ini, definisi EH lebih didasarkan pada konsep EH di European Regional Center for Ecohydrology (ERCE) di Lodz, Polandia, yang diadop oleh UNESCO sebagai berikut:

“Study of the functional inter-relationships between hydrology and biota, …ecohydrology provides a single, overarching paradigm for water management based on a holistic vision of water’s role in the environment.” Zalewski (2000)

Sedang Eagleson dan Rodriguez-Iturbe memandang EH lebih sebagai hubungan airtanah-tanaman dalam hubungannya dengan iklim, dan mendefinisikan EH:

“Science which seeks to describe the hydrological mechanisms that underlie ecological patterns and processes.” Rodriguez-Iturbe (2000)

Dalam definisi pertama EH mencakup aspek terrestrial dan juga aquatic, sedang
definisi kedua lebih membatasi pada aspek terrestrial. Dinyatakan bahwa ekohidrologi menyediakan tidak hanya pemahaman ilmiah dari interaksi hidrologibiota, tetapi juga suatu suatu kerangka sistematik strategic mengenai bagaimana menggunakan proses-proses ekosistem sebagai alat baru dalam pengelolaan sumber daya air terpadu, melengkapi terapan solusi hidroteknik yang telah dilakukan, sebagai problems solving science. Perkembangan konsep EH dapat dilihat dari informasi dan pengetahuan, dan sampai pada kearifan (wisdom) dalam menyelesaikan masalah (Zalewski 2010).

Konsep EH dengan pendekatan ilmiah yang yang mempertimbangkan interaksi aspek a-biotik dan biotic ini dirumuskan ke dalam tiga azas dan satu teori berikut:

Azas 1: aspek hidrologi, menyangkut struktur abiotik dari system sungai, dinamika proses-proses hidrologi, serta dampak spesifik spatial-temporal akibat intervensi manusia;

Azas 2: keterpaduan ekologi, menyangkut antar-hubungan komponen ekosistem yang menunjukkan potensi dan kapasitas ekosistem dalam menghasilkan produk dan jasa lingkungan; dan

Azas 3: ekoteknologi, menyangkut penggunaan informasi dan pengetahuan mengenai  aspek abiotik dan biotik (dari azas 1 dan azas 2) untuk pengembangan  bioteknologi ekologi baru dan solusi system hidrologi yang mampu  meningkatkan kapasitas ekosistem dalam menghasilkan produk dan jasa lingkungan.

Teori dual-regulasi EH dapat digambarkan dalam skema pada Gambar 1 menyatakan bahwa interaksi hidrologi dan biota dalam suatu harmonisasi rekayasa untuk meningkatkan kapasitas ekosistem. Pendekatan EH demikian telah melahirkan paradigm baru yang dikenalkan sebagai ‘enginering harmony’.

Gambar 1. Skema teori dual-regulasi EH

Sasaran yang ingin dicapai dengan implementasi konsep EH adalah:

  • Mengembalikan dan menjaga fungsi dan proses daur dan aliran energi, air dan hara dari ekosistem pada skala DAS
  • Meningkatkan daya dukung ekosistem terhadap dampak intervensi  manusia atas dasar daya serap dan daya lentur ekosistem; dan
  • Menggunakan sifat ekosistem sebagai alat pengelolaan sumber daya air terpadu.

Implementasi konsep EH sebagai alat pengelolaan DAS terpadu dapat dilakukan dengan empat langkah berikut (Zalewski 2010):

(a) memantau ancaman dengan metoda kuantifikasi hidrologi;
(b) menilai hubungan sebab-akibat dengan analisis pola dan proses ekologi;
(c) pengembangkan metoda EH dengan ekoteknologi menggunakan butir (a) dan (b) untuk meningkatkan kapasitas produksi dan jasa lingkungan ekosistem; dan
(d) mengembangkan solusi sistem secara terpadu dengan mengintegrasikan aspek abiotik, biotic, dan social ekonomi kelembagaan.

Penelitian dan implementasi EH di Polandia: pengalaman para peneliti Polandia dalam mengembangkan konsep EH tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi mulai dari penelitian doktor dari Zalewski dan Naiman muda tahun 1980an di waduk Sulejowski yang membendung anak sungai terbesar Polandia Vistula, yaitu Pilica. Penelitian berkesinambungan, sekarang di lokasi penelitian awal ini berdiri Stasiun Lapang Tresta sebagai aset University of Lodz, di mana berbagai penelitian EH secara intensif dilakukan. Saat ini semua penelitian ini dikoordinasikan oleh ERCE UNESCO, Lodz yangdidirikan tahun 2006, dengan keterlibatan sekitar 30 peneliti. Beberapa tema penelitian yang berlangsung, tidak termasuk penelitian mahasiswa yang jumlahnya beberapa masing-masing untuk S2 dan S3, sebagai berikut:

Riset Aquakultur & keanekaragaman-hayati: barangkali riset dalam bidang ini  menjadi tulang punggung kegiatan yang dilakukan ERCE Lodz, dalam upaya  menyehatkan lingkungan perairan dari limbah pertanian, domestic dan industry, dengan mengembangkan teknik biofilter, denitrifikasi, dan bioteknologi, dengan sasaran pengembangan aquakultur dan meningkatkan daya dukung ekosistem untuk menghasilkan mutu perairan, keanekaragaman hayati, dan produksi perikanan yang baik.

Penelitian ekoton (EKOROB): riset ini dimaksudkan untuk mengurangi cemaran
nitrogen dan fosforus dari lahan pertanian yang menjadi permasalahan umum di eropa, karean 70% lahan di eropa merupakan lahan pertanian. Riset ini didanai melalui EU Project, LIFE + Environment Policy and Governance.

Penelitian EH untuk masa depan kota (SWITCH Project): ERCE aktif dalam Proyek  SWITCH  yang melibatkan 32 institusi dengan Sekretariat di UNESCO IHE, Belanda. Sasarannya adalah perubahan paradigm pengelolaan air untuk  mencapai keberlanjutan system air urban yang sehat dan aman. Terlepas dari ini, ERCE juga menjadi think tank untuk konsep ilmiah dalam system blue-green concept untuk perencanaan kota Lodz dengan jaringan taman dan perairan (sungai dan kolam), yang dijadikan ikon sebagai konsep kota masa depan.

Penelitian Bioenergi: riset konversi biomassa tercemar menjadi bioenergi dan pupuk, yang berimplikasi pada pengurangan emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar, dan selanjutnya memicu pertumbuhan ekonomi daerah.

Implementasi kebijakan sumber daya air Uni Eropa (EU Water Framework  Directive): konsep ekohidrologi telah masuk dalam implementasi kebijakan sumber daya air Uni Eropa untuk program restorasi lingkungan dan pembangunan infrastruktur hidroteknik.

Selain riset, ERCE juga aktif melakukan berbagai pendidikan dan pelatihan ekohidrologi, seperti UNESCO/POLAND Co-Sponsored Fellowships Programme untuk pelatihan enam bulan; The International Advance Study Course: “Ecohydrology & Biotechnology for Sustainable Integrated Water Resources Management in HELP Basins” untuk perwakilan dari the HELP Basins, termasuk
suatu team yang terdiri dari ilmuwan muda dan seorang pengambil kebijakan/praktisi untuk setiap HELP basin, untuk dua tahun Master degree program; Erasmus Mundus Master Science (EMMS) in Ecohydrology dua tahun, dan informasi bisa ditelusuri di web erce.unesco.lodz.pl.

Proyek EH di Ethiopia dengan dukungan dana dari pemerintah Polandia, bekerja sama dengan Departement of Water Resources-Government of Ethiopia. Dalam persiapan kegiata ada sejumlah peralatan dan bahan yang ‘harus’ dikirim dari  Poland. Seperti geotextile sheets dan semacam plastic kemasan, yang seharusnya dapat dicarikan bahan dengan fungsi serupa di Negara asal. Ini menunjukkan bahwa implementasi konsep EH belum tepat-guna.

Disadari bahwa konsep EH yang telah dikembangkan dan diimplementasikan oleh ERCE UNESCO Poland memiliki basis ilmiah yang kuat dan mendapat dukungan UNESCO untuk dipromosikan ke berbagai penjuru dunia, diantaranya dengan membentuk pusat-pusat regional seperti APCE (Asia-Pacific Center for Ecohydrology) di Indonesia, namun kelemahan yang perlu dicermati adalah masih lemahnya pendekatan modeling seperti yang dikembangkan oleh Postdam Institute-Germany, maupun pendekatan tepat guna yang menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia setempat.

Analisis dan telaah banding terhadap penelitian-penelitian ekohidrologi di Indonesia: pengalaman Indonesia dalam mengimplementasikan penelitian EH diawali tahun 1990 oleh Puslit Limnologi LIPI, dan sejak itu secara bersinambung jumlah dan mutu penelitian EH di Puslit Limno diakui semakin meningkat (Haryani 2011). Beberapa penelitian dan implementasi konsep EH, baik skala laboratorium maupun skala DAS di lapang, sebagai berikut:

  • Treatment of Laboratory waste water using Surface and Subsurface flow of Tropical Constructed Wetland
  • Stormwater Treatment: Using constructed wetland at Lake Cibuntu
  • Microphytobenthic Approach In Reducing N & P In Lotic Ecosystems
  • Constructed Wetland: Wastewater From Islamic Boarding School (Pondok Pesantren) Arrafah, Cililin, Bandung. West Java
  • Constructed Wetland for Treatment of Public Sanitation Facilities (MCK++) North Petojo, Jakarta
  • Passive Treatment Using Constructed Wetland In Small Field Scale for Kolong (Mine Pit), Bangka Island
  • Ecohydrological concept on several lakes: Maninjau Lake in West Sumatra, Semayang-Melintang Lakes in East Kalimantan, and Limboto Lake in Gorontalo Province.

Penelitian yang disebutkan terakhir, baik yang dilakukan di Semayan-Malintang, Kalimantan Timur, maupun penelitian terapan rekayasa EH di Limboto, Gorontalo dengan luas 562 Ha dan perlakuan pada bagian hulu danau, menunjukkan efektivitas pendekatan EH dalam mengatasi masalah sedimentasi, banjir dan produktivitas perikanan.

Pertanyaannya – apa kelebihan dan kekurangan penelitian dan implementasi konsep EH di Indonesia, dibandingkan dengan di Negara konsep ini pertama dikembangkan? Sangat nyata bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam sumber daya air yang luar biasa, dan saat ini banyak di antaranya yang memiliki nilai strategis namun berada dalam kondisi kritis, terganggu ataupun terancam. Untuk menyebut beberapa, danau Toba dengen penurunan permukaan air dan pencemaran; danau Matano-Mahalona-Towuti yang terancam cemaran eksploitasi pertambangan skala besar; Semayang-Melintang dengan sedimentasi dan pendangkalan; Limboto yang menjadi dangkal setiap musim kemarau; dan umumnya danau dan waduk mengalami sedimentasi, pencemaran, dan perubahan regime aliran. Tantangan riset EH sangat nyata, dan dapat diharapkan konsep EH menawarkan solusi cerdas yang dibutuhkan.

Kelemahannya terletak pada kurangnya daya dukung infrastruktur pendidikan dan riset yang diperlukan untuk para peneliti dapat bekerja dengan tekun dan produktif. Dari banyak penelitian EH yang telah dilakukan di Indonesia, apakah telah dihasilkan pengetahuan ilmiah yang dapat ditransfer ke tempat lain, termasuk merumuskan kearifan seperti yang diharapkan oleh pendekatan EH sebagai problem solving science? Jawabannya mungkin masih perlu kajian tersendiri, dengan ketenangan yang diperlukan untuk mengendapkan informasi empiric yang dihasilkan dari setiap kegiatan penelitian EH yang telah dilakukan.

Tantangan ke depan bagi Indonesia: riset EH merupakan kegiatan yang  multidisiplin dan trans-disiplin, dari tingkat dasar hingga terapan, dari yang bersifat analisis dan sintesis hingga implementasi nyata di lapang. Hal ini mengingat kompleksnya permasalahan sumber daya alam dan lingkungan, khususnya yang berhubungan dengan sumber daya air dan ekosistem terkait. Kebutuhan riset EH berhubungan dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia dengan kompetensi menyelesaikan permasalahan EH di Indonesia, yang perlu diterapkan dalam suatu sistem pendidikan bidang EH di perguruan tinggi, dengan ruang lingkup yang sangat luas, mulai dari tingkat biota mono sel, bakteri sampai tingkat daerah aliran sungai (DAS). Riset EH juga berasosiasi dengan keilmuan lainnya seperti ekonomi lingkungan, sosial kemasyarakatan, kebudayaan, gender, kesehatan, pangan, energi, iklim, karena air sebagai dasar dari kehidupan sehingga melingkupi semua aspek kehidupan. Di luar negeri riset terpadu demikian telah lazim dilakukan, seperti yang dilakukan di ERCE UNESCO-Poland, namun di Indonesia masih jarang dilakukan dan perlu segera dirintis. Kebutuhan riset EH di Indonesia sangat nyata, diantaranya (Pawitan dan Haryani 2011):

  • Riset pada tingkatan trofik (trophic level) yaitu keseimbangan antara produsen dan konsumer di suatu danau atau waduk, dan keterkaitannnya dengan tinggi muka air
  • Riset di daerah ekoton antara biota dan fluktuasi air
  • Riset dan pengembangan zonasi perairan
  • Riset pengembangan daerah riparian
  • Riset peningkatan kemampuan retensi air terkait lingkungannya
  • Riset fito teknologi untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan
  • Riset ekohidrologi perkotaan (rural ecohydrology)
  • Riset ekohidrologi di delta
  • Riset terkait bencana banjir dan kekeringan
  • dll.

Seluruh riset ini perlu diselaraskan dengan konsep pengelolaan sumber daya air terpadu (IWRM) yang telah diadop sejak tahun 1990an di Indonesia, agar dapat  berlangsung dan memberi hasil secara optimal. Apabila riset EH dapat dijadikan  sebagai bagian pendidikan ekohidrologi di perguruan tinggi yang ada di Indonesia pada tingkat S2 atau S3 secara lebih luas, maka dapat diharapkan bahwa upaya  pengelolaan lingkungan sumber daya air nasional secara berkelanjutan akan lebih cepat tercapai.

Pengembangan infrastruktur pendidikan pasca sarjana ekohidrologi dapat dimulai  dengan serangkaian training workshop dan dukungan publikasi hasil riset dengan muatan konsep dan azas ekohidrologi. Infrastruktur penelitian dan pendidikan  merupakan kebutuhan dasar dalam kegiatan riset di tingkat pasca sarjana untuk  memudahkan penyediakan data dan informasi, pengamatan/pengukuran/pemantauan,  pengolahan data, analisis dan sintesis data, sampai pada publikasi dan diseminasi dan pertukaran informasi hasil riset melalui forum ilmiah. Sharing ‘sumber daya’  penelitian antar lembaga penelitian dan universitas di Indonesia perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas riset yang ada. Kerjasama internasional akan sangat  membantu dalam pengembangan kapasitas riset ini dengan interaksi yang saling  menguatkan dan menguntungkan demi pengembangan keilmuan dan teknologi di  Indonesia, dan hal ini sangat dimungkinkan dengan keberadaan APCE (Hehanussa dan Haryani 2011).

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Konsep EH telah dikembangkan di Polandia menjadi alat pengelolaan sumber daya air atas dasar prinsip-prinsip ilmiah yang menawarkan tidak hanya berkelanjutan sumber daya alam dengan jasa lingkungannya, namun juga peningkatan kapasitas sumber daya alam tersebut dalam menerima intervensi pengguna sumber daya dan pemanfaat jasa lingkungan, dan saat ini aktif diimplementasikan untuk perencanaan kota untuk masa depan dengan konsep blue-green network.
  2. Indonesia telah merintis riset EH, baik pada tingkat laboratorium maupun pada skala wilayah sungai, dengan potensi rehabilitasi, restorasi, dan peningkatan produktivitas maupun jasa lingkungan. Namun, prinsip-prinsip ilmiah yang berlaku masih perlu dikembangkan dengan peningkat kapasitas sumber daya peneliti maupun infrastruktur pendidikan dan penelitian yang diperlukan. Adopsi konsep EH inipun masih perlu dilengkapi dengan pendekatan modeling matematik dan lebih tepat-guna.
  3. Upaya sistematis pengembangan infrastruktur penelitian dan sumber daya peneliti  ekohidrologi harus segera dirintis dengan melibatkan seluruh komponen yang ada,  baik di lembaga-lembaga penelitian maupun di universitas, dan APCE/LIPI dapat  memulai dengan research training workshop bagi peneliti dan dosen, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional.

UCAPAN TERIMA KASIH:

Makalah ini disusun selama kunjungan di ERCE-UNESCO, Lodz-Poland, yang  dimungkinkan berkat dukungan dana penuh dari Ditjen DIKTI melalui Program PARB tahun 2011, 12 September s/d 04 November.

KEPUSTAKAAN:

Apip (2006) Ekohidrologi sebuah konsep dan kajian dalam modeling limnology. Warta Limnologi, No.40, tahun XX, hal.8-14.

Eagleson, Peter S. (2004) Ecohdyrology: Darwinian expression of vegetation form and function. Cambridge University Press. 484pp.

Falkenmark Malin and J. Rockstrom (2004) Balancing Water for Humans and
Nature: a new approach in ecohydrology. Earthscan Publishers.
http://www.earthscan.co.uk. 268pp

Haryani, GS (2011) Concept & application of ecohydrology in indonesian inland waters, presented at Inrt’l Workshop on UNESCO New Ecohydrology Demosite Projects, Jakarta, 21-23 March, 2011.

Hehanussa P dan GS Haryani (2011) Asia Pacific Center for Ecohydrology
Cibinong, Indonesia, presented at Inrt’l Workshop on UNESCO New
Ecohydrology Demo-site Projects, Jakarta, 21-23 March, 2011.

Naiman, RJ, SE Bunn, L Hiwasaki, ME McClain, CJ Vorosmarty, and M Zalewski
(2007). The science of flow ecology relationships: clarifying key terms and concepts. University of Washington, Seattle-USA.

Pawitan, H dan GS Haryani (2011) Konsep Pendidikan Pasca Sarjana dan Kebutuhan Riset Ekohidrologi di Indonesia’ disajikan dalam Seminar Nasional “Integrating Ecohydrological Principles For Good Water Governance”, diselenggarakan oleh Asia-Pacific Center for Ecohydrology (APCE)/Lembaga Ilmu Pengetahuan  Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Komite Nasional Indonesia untuk Unesco (KNIU), Jakarta, 24 March 2011.

Rodriguez-Iturbe, I (2000). Ecohydrology: a hydrologic perspective of climate-soilvegetation dynamics. WRR 36(1): 3–9

_______________ and A. Porporato (2004) Ecohydrology of Water-Controlled Ecosystems: Soil Moisture and Plant Dynamics. Cambridge University Press. 478pp.

 Soekarno (1953) Soal hidup atau mati. Pidato Presiden Republik Indonesia pada  peletakkan batu-pertama dari pada Gedung Fakultet Pertanian di Bogor pada tanggal 27 April 1952 (dicopy dari Almanak Pertanian 1953).

Wood, P J, D M Hannah And JP Sadler (2007) Hydroecology and Ecohydrology: Past, Present and Future. John Wiley & Sons, Ltd. 466pp.

 Zalewski, M (2000) Ecohydrology – the scientific background to use ecosystems  properties as management tool toward sustainability of freshwater resources. Guest editorial Ecological Engineering 16:1-8.

__________ (2002) Guidelines for Integrated Management of the Watershed:
Phytotechnology and Ecohydrology. UNEP Freshwater Management Series No.5.

__________ (2005) Engineering Harmony: a new environmental discipline. Focus  on ecohydrology, No.1(5):4-7.

_________ (2010) ecohydrology for implementation of the EU water framework directive, ICE Proceedings, paper 10000030.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: