BebasBanjir2015

Civic Entrepreneur

PENDEKATAN CIVIC ENTREPRENEUR DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI

Agus Pakpahan

Ketua Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) dan Ahli Peneliti Utama bidang Ekonomi Pertanian dan Ketua Max Havelaar Indonesia Foundation. Pernah menjabat Dirjen Perkebunan 1998-2002, Kepala Biro Kelautan, Kedirgantaraan, Lingkungan Hidup dan Iptek; dan Kepala Biro Regional I Bappenas.

Makalah disampaikan pada Seminar “Krisis Air di Jakarta: Tinjauan Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Ciliwung-Cisadane”, diselenggarakan di Bappenas, Jakarta, 29 Juni 2004.

He is certainly not a good citizen who does not wish to promote, by every means in his power, the welfare of the whole society of his fellow-citizens.
–Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments–

I. PENDAHULUAN

Air adalah sumber kehidupan, tak ada air maka tak ada kehidupan. Karena itu persoalan air adalah persoalan “Hidup-atau-Mati”. Tetapi, apakah perlakuan manusia terhadap air ini telah memperlihatkan bahwa kita menanganinya seperti menangani sumber “Hidup-atau- Matinya” manusia? Kelihatannya tidak. Bahkan kita sering lupa kalau air itu sumber “Hidup-atau-Matinya”-nya kita, kecuali pada saat kekeringan atau kebanjiran. Hal tersebut bukan karena kita tidak memiliki pengetahuan atau pengalaman, tetapi lebih disebabkan oleh berkembangnya social traps dalam diri kita semua.

Social traps ini mencakup hal berikut. Pertama, kita sering lalai dalam melihat air sebagai kepentingan individu semata. Kita lalai bahwa air itu menyangkut kepentingan publik juga. Baik untuk individu, belum  tentu baik untuk publik. Karena itu, kita tidak hemat atau bahkan merusak sumber air atau kualitas air sehingga pihak lain tak dapat memanfaatkannya.

Kedua, kita juga sering keliru dalam menangani air ini dalam konteks kepentingan jangka pendek yang tidak menghiraukan kepentingan jangka panjang. Apakah sumber airnya yang kita hancurkan seperti yang telah terjadi pada daerah aliran sungai bagian hulu, merusak badan sungai atau memanfaatkan air itu sendiri secara salah atau boros.

Ke dua jenis social traps di atas sudah cukup menunjukkan bahwa pengelolaan daerah aliran sungai dan penggunaan air yang terdapat dalam suatu daerah aliran sungai tidak dapat ditangani secara sendiri-sendiri dan tidak dapat ditangani dengan dasar nilai yang sifatnya individualistik. Sebaliknya, pengelolaan sumber air dan air ini memerlukan penanganan yang komprehensif, meyeluruh, dan terpadu dalam kerangka perencanaan untuk waktu yang tak berhingga (infinite planning horizon). Aspek ini sebenarnya pernah menjadi topik bahasan utama selama tiga tahun, yaitu dalam periode 1990-1992, dimana Bappenas mengambil peran utama. Puncaknya adalah diselenggarakannya Seminar Internasional “Integrated Development and Management of Water Resources for Sustainable Use in Indonesia”, di Cisarua, Bogor, 29 Oktober-1 November 1992. Karena itu sangat baik apabila kita melihat kembali hasil Seminar tersebut sebagai referensi pengelolaan sumber daya air di Indonesia.

Saya sudah lama tidak melakukan kajian mengenai sumber daya air ini. Tetapi saya sebagai Ketua Panitia Pelaksana Seminar di atas masih ingat bahwa salah satu kesimpulan dari Seminar di Cisarua itu adalah bagaimana memanfaatkan sumber air, sumber daya air dan air itu sendiri secara berkelanjutan. Pada Seminar itu pun muncul dan berkembang pembahasan mengenai bagaimana kita dapat memanfaatkan sistem insentif sebagai dasar mengelola sumber, sumber daya dan air ini secara arif dan bijaksana. Saya tidak mengetahui secara pasti pemanfaatan pengetahuan yang diperoleh melalui Seminar tersebut. Namun, saya sempat mengembangkan proyek River Watch untuk sungai Brantas dalam mencoba membangun sistem monitoring “Warungjamu” (waktu, ruang, jumlah dan mutu) (istilah Pak Sunarno waktu itu), secara real time, dimana LIPI sebagai pelaksananya. Hal tersebut dirancang sewaktu saya menjabat Kepala Biro Kelautan,  Kedirgantaraan, Lingkungan Hidup dan Iptek di Bappenas (1996-1997). Saya berusaha mengingat-ingat pengalaman waktu itu dan menggunakannya untuk kepentingan sekarang.

Saya akan memulai tulisan ini dengan pembahasan bahwa setiap usaha pengembangan sumberdaya air harus berdasarkan pada inovasi yang mampu melahirkan pola “win-win” dan hal tersebut hanya bisa dicapai apabila kita semua dapat menjadi civic entrepreneurs, sebagaimana yang dimaksud oleh Adam Smith, “Bapak Ilmu Ekonomi” seperti yang saya kutip pada awal tulisan ini.

II. Win-Win Solution

Kita mencoba membayangkan bahwa Win-Win Solution (WWS) merupakan kerangka saling hubungan antarpihak terhadap sumberdaya air. Mengingat WWS adalah pola hubungan antarmanusia atau antarinstitusi hasil ciptaan manusia, maka hubungan ini sangatlah kompleks. Setiap manusia termasuk institusi ciptaannya memiliki masing-masing kepentingan. Ini adalah realitas yang tidak dapat kita asumsikan begitu saja.

Dalam saling hubungan tersebut terdapat tiga kemungkinan: win, draw, lose. Kalau kita asumsikan terdapat dua pihak dan kemungkinannya ada tiga solusi tersebut, maka kita akan mendapatkan gambaran kemungkinan sebagai berikut.

01

Dari diagram sederhana tersebut kita menyaksikan bahwa kemungkinan WW atau hasil (+,+) untuk pihak I dan pihak II, hanya terdapat dalam satu sel dari sembilan alternatif kemungkinan solusi. Nilai selebihnya dalam diagram tersebut adalah (+,0), (+,-) atau (-,-). Hal ini menunjukkan bahwa memang akan sangat sulit untuk mendapatkan posisi WW apabila antarpihak yang akan melakukan kerjasama penanganan sumberdaya air ini tidak memiliki nilai, semangat, keinginan, dan pengetahuan yang didukung oleh teknologi yang tersedia serta keterampilan dan pengalaman mengelola pertentangan kepentingan antarpihak untuk mendapatkan solusi WW ini.

III. Civic Entrepreneurs

Entrepreneurship merupakan karakter yang dimiliki oleh seseorang yang dapat menghasilkan sesuatu yang sumber asalnya berada atau tersebar di berbagai pihak, menjadi suatu hal baru yang bermanfaat melalui suatu proses inovasi dimana hal tersebut dapat diterima oleh masyarakat, dan menjadi bagian praktek atau perilaku baru dalam masyarakat yang dibicarakan. Individu yang melakukan hal tersebut dinamakan entrepreneurs.

Jadi kata kuncinya adalah inovasi dan inovasi tersebut hasilnya diterima oleh masyarakat. Kata masyarakat inilah yang berkaitan dengan istilah civic. Karena itu, inovasi tersebut harus memberikan keuntungan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya memberikan keuntungan bagi sang inovator atau seorang entrepreneur saja. Karena itu pula seorang civic entrepreneur sejak awal harus memiliki jiwa atau semangat civic.

Seorang civic entrepreneur dapat berasal dari LSM, dunia usaha, pemerintah atau kalangan lainnya yang memiliki motivasi untuk mengembangkan inovasi demi kepentingan umum. Metoda atau teknik untuk mencapai hal tersebut serta skalanya bermacam-macam tergantung dari masalah yang dihadapi dan tujuan yang ingin dicapai. Karena dasarnya adalah inovasi, artinya memperbesar ruang alternatif, maka hal tersebut akan menuntut ditemukannya hal-hal baru, misalnya, cara baru bagaimana membangkitkan kesadaran dan kepentingan bersama, cara baru bagaimana memobilisir sumber daya yang tersedia pada seluruh partisipan, bagaimana membangun institusi (property rights, rules of representation atau jourisdictional boundaries) yang baru, bagaimana menghasilkan teknologi baru, bagaimana membangun sistem insentif yang baru dan lain-lain.

IV. Energi Baru

Semua hal baru di atas pada dasarnya adalah untuk menghasilkan “energi” baru. Istilah “energi” dalam hal ini menyangkut segala hal baik yang sifatnya abstrak seperti spirit, jiwa atau impian hingga hal yang nyata seperti energi sebagaimana biasa kita maksudkan. Hal ini diperlukan untuk mencapai sel WW dan menjaga agar jangan kemudian terjatuh kembali kepada sel-sel lainnya yang tidak menguntungkan bagi masyarakat secara keseluruhan.

“Energi” pertama yang harus dibangun adalah kesadaran itu sendiri. Kesadaran ini akan lahir kalau ada “impian” yang ingin diwujudkan. “Impian” akan lahir kalau kita bisa belajar dari pengalaman pahit di masa lalu dan terbuka untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Inilah tahap awal dari proses pembaruan. Selama ini kita sudah mencoba melakukan hal ini, tetapi berdasarkan kondisi yang masih kita alami hingga sekarang, hal tersebut menunjukkan bahwa “energi” ini belum cukup kuat untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang  positif.

Karena itu, persoalan pertama kita adalah bagaimana membangkitkan energi tersebut?

V. Pelajaran dari AS

Untuk mendapatkan gambaran riil, berikut ini saya sampaikan pengalaman di Amerika Serikat (AS), yang telah dinilai berhasil menyelesaikan masalah publik melalui pendekatan civic entrepreneurship (Henton et. al., 1997).

Team Austin

Pada tahun 1980-an Tim Civic Entrepreneurs yakin bahwa Austin akan menjadi kota pemerintahan dan universitas yang tertinggal. Sebagai kota yang melahirkan Texas Instruments, Lee Cooke melihat bahwa hal tersebut sebagai kesempatan untuk memanfaatkan era abad informasi. Akan tetapi, sebagai direktur baru Austin Chamber, Cooke melihat berbagai kendala. Pertumbuhan kota Austin melambat. Universitas Austin dengan mahasiswanya sekitar 50 ribu orang tidak cukup untuk menjadi penggerak utama ekonomi. Keberadaan perusahaan yang berbasis teknologi jumlahnya sedikit. Minyak dan gas bumi menjadi mindset orang Texas. Dengan menggerakkan kebersamaan masyarakat dunia usaha, Cooke memilih strategi yang mempersatukan dunia usaha, pemerintah kota dan negara bagian, dan universitas dengan visi Austin sebagai pusat teknologi informasi yang berkualitas.

Tahap pertama, Cooke merangkul Pike Powers, jaksa Austin, yang kemudian menjadi pembantu gubernur Texas, Mark White. Pada tahun 1983 Cooke dan Powers menggerakkan masyarakat dengan target awal: bagaimana mendapat penghargaan yang paling prestisius pada awal tahun 1980-an dari–The Microelectronics Computer Technology Consortium (MCC)—konsorsium nasional untuk mengembangkan kompetisi dalam teknologi komputer. Dalam beberapa bulan makin banyak individu yang tertarik dan mereka bertemu setiap jam 7:30 pagi untuk mengembangkan proposal, menilai proses kompetisi dan berlatih menyampaikan proposal serta menjawab pertanyaan-pertanyaan.  Powers menjelaskan bahwa proses tersebut merupakan proses pertama sebagai masyarakat dalam usahanya membangun konsensus bersama. Usaha ini dinilai berhasil.

Keberhasilan selalu melahirkan keberhasilan yang lain. Team civic entrepreneurs berkembang dan berlipat ganda. Masyarakat Austin berhasil memenangkan perlombaan di atas pada tahun 1988, karenanya menjadi “rumah” dari 14 konsortium industri semikonduktor di AS dengan mengembangkan teknik baru dalam menghasilkan produk dari industri tersebut. Dipimpin oleh William Cunningham, dekan business school yang kemudian menjadi rektor University of Texas, universitas ini mengembangkan “Advanced Research Park”. Ketika Pike berhenti menjadi gubernur, ia menjadi “broker” sukarela dalam berbagai perundingan yang menghasilkan Apple, Applied Materials dan 3M berada dalam peta Austin.

Hal diatas telah membangkitkan ribuan orang bekerja dalam berbagai bidang keahlian yang menjadikan Austin baru dengan situasi, wajah dan semangat kehidupan baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Para pemimpin di Austin-lah yang telah melahirkan hal baru tersebut melalui semangat civic entrepreneuships. Pada tahun 1995, Austin dapat berbangga diri menjadi kota dengan tingkat pengangguran hanya 3 %, terendah di seluruh negara bagian Texas, dan salah satu yang terendah tingkat penganggurannya di seluruh AS. Ternyata, rahasianya adalah Team Work.

Team Cleveland

Pada tahun 1978 Cleveland mengalami depresi yang berat. Tingkat pengangguran sangat tinggi (11.3 %) karena sekitar 75 ribu industrinya hancur.

E. Mandell de Windt, CEO Eaton Corporation, mengundang pertemuan pertama. Richard Pogue, seorang jaksa ternama, mengambil bagian. Kemudian bergabung nama-nama lainnya sebagai aktivist dari gerakan penyelamatan Cleveland. Walikota Cleveland, George Voinovich mendapatkan dukungan dari sekitar 100 bisnismen yang berkumpul bersama sekitar 12 minggu membahas bagaimana mengelola kota Cleveland. Dari proses tersebut terkumpul lebih dari 600 rekomendasi bagaimana menghemat anggaran, dan sebagian besar dari rekomendasi tersebut diterapkan. Kebersamaan ini melahirkan semangat baru dan cara baru untuk tidak menyerah pada keadaaan tetapi sebaliknya bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut bersama-sama.

Pada tahun 1982, dimulai proses membentuk “Cleveland Tomorrow”, dipimpin oleh sekelompok CEO. Dengan cara ini maka terbentuk CEO dengan “public interestnya”. Mereka membentuk “Cleveland Roundtable”, organisasi pemimpin multi-etnis. Melalui “Cleveland Tomorrow” dan “Cleveland Roundtable” lahirlah beragam organisasi yang menjembatani kepentingan antara masyarakat dan dunia usaha. Hasilnya menakjubkan: transformasi dalam hubungan ketenagakerjaan, reorientasi pendidikan, perbaikan infrastruktur fisik, peremajaan dan pembaruan sumber-sumber ekonomi, perbaikan hubungan antarras atau kelompok etnik, dan revitalisasi kota.

Masih banyak contoh lainnya yang berkembang di AS, misalnya kasus: Sillicon Valley, Arizona, Florida, Wichita, dan lain-lain. Kuncinya sama: civic entrepreneurs.

American Crystal Sugar Company

American Crystal Sugar Company (ACSC) merupakan perusahaan pergulaan besar di AS yang didirikan pada tahun 1899 oleh Henry Oxnard. Pada tahun 1920 para petani di Red River Valley, Minnesota, menjadi pemasok bahan baku gula bit.

Pada tahun 1972, perusahaan yang terdaftar di New York Stock Exchange ini menunju kebangkrutan. Bangkrutnya perusahaan ini jelas mengancam kehidupan para petani gula bit di Red River Valley. Di luar kebiasaan, dengan munculnya Aldrich Bloomquist sebagai pimpinan, Asosiasi Petani Bit Red River Valley mengambil keputusan untuk membeli perusahaan ACSC. Jumlah petani yang bergabung dalam proses dan mengambil keputusan tersebut sekitar 1300 orang. Semua pihak pertama skeptis dengan usulan petani gula bit ini. Petani meminta dilakukannya due dilligence. Akhirnya, dengan dukungan lembaga keuangan petani melalui koperasinya membeli perusahaan gula tersebut pada 1973 dengan nilai US$ 86 juta. Dana tersebut didukung oleh lembaga keuangan yang bersahabat dengan petani.

Segera setelah itu perubahan dahsyat terjadi. Dalam empat tahun areal kerja ACSC meningkat hingga dua kali dari sebelumnya, rendemen naik, produksi naik, efisiensi naik, dan kesejahteraan masyarakat naik. Sekarang sudah menjadi salah satu perusahaan terbesar gula dan produk lainnya. Pangsa pasar gula ACSC mencapai 25 % dari total produksi gula di AS.

VI. Pengalaman Pribadi

Marine Fisheries Stock Assessment

Pada saat saya menjabat Kepala Biro Kelautan, Kedirgantaraan, Lingkungan Hidup dan Iptek Bappenas, saya mengevaluasi data tentang potensi kelautan kita. Dari berbagai diskusi dengan para pihak, maka dapat diketahui kita belum memiliki data yang cukup lengkap dan up to date.

Siapa yang bertanggung jawab terhadap masalah-masalah kelautan? Pada saat itu belum ada satu institusi yang menangani masalah laut ini secara terpadu. Ada TNI AL, Direktorat Jenderal Perikanan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, dan lain-lain. Khusus mengenai perikanan laut, kemampuan institusi yang ada juga terbatas dan terpecah-pecah. Kita ambil satu kasus: data potensi perikanan laut.

Kelihatannya sederhana, tetapi menjawab pertanyaan berapa jumlah ikan kita di laut, jenis apa saja, dimana adanya, kapan dan sebagainya, bukanlah merupakan hal yang mudah dan murah. Karena itu, kami mengambil inisiatif untuk mengundang semua pihak terkait dan memiliki potensi bergabung kedalam satu tim untuk melakukan kegiatan inventarisasi tersebut.

Atas dasar prakarsa ini maka bergabunglah: BPPT, LIPI, Ditjen Perikanan, IPB, Litbang Pertanian—Pultibang Perikanan, Bappenas, Undip, dan lain-lain. “Untung ada kegiatan inventarisasi potensi perikanan semasa pak Agus di Bappenas”, kata Dr. Fatuchri, salah seorang Dirjen di Departemen Kelautan dan Perikanan mengatakan kepada saya belum lama ini. Rupanya, kegiatan tersebut, hasil rame-rame terasa manfaatnya hingga sekarang.

Pabrik Crumb Rubber Mesuji

Mengapa petani selalu susah? Salah satu penyebabnya adalah harga hasil petani terus menurun dan karenya makin rendah; tidak demikian dengan produk olahannya. Hal ini sudah menjadi “dalil”. Tetapi bagaimana menyelesaikan masalah ini, masih belum banyak dilakukan. Bagaimana meredistribusi nilai tambah ini belum banyak dikembangkan.

Sewaktu saya menjabat Dirjen Perkebunan, saya melakukan upaya mengembangkan model kebersamaan ekonomi atau mungkin dapat juga dinamakan “joint venture” antara petani dengan pengusaha (industriawan). Mengapa tidak? Petani punya getah, pabrik punya mesin. Pabrik petani adalah pabrik biologis, pabrik pengusaha adalah pabrik buatan manusia. Kalau petani entitle terhadap produk dari kebun, maka harganya akan rendah. Tetapi kalau petani mendapatkan harga produk dari hasil olahan, petani dapat share yang lebih baik. Pengusaha akan mendapatkan pasokan bahan baku yang lebih baik dan lebih banyak. Semua win-win.

Pak Akib, Presdir Lonsum pada waktu itu mengambil ide ini. Dibantu dengan berbagai pihak kita mengadakan berbagai pembicaraan. MOU dengan Gubernur dibuat. Bank kita cari. Petani dilatih. Proses keseluruhan lebih dari 3 tahun. Akhirnya, beridirilah perusahaan PT MKAP dengan 20 % saham dimiliki oleh petani dan direktur operasionalnya dijabat oleh pak Murlim, orang desa setempat, di Mesuji.

Hasil penelitian Puslit Karet menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat 400 %, pendapatan perusahaan juga meningkat. Hal yang paling penting adalah bahwa kita punya satu bukti, pengusaha dan petani bisa sukses dalam satu “perahu”. Rencananya, tahun ini sekitar 60 % saham akan dibeli petani; dan untuk selanjutnya perusahaan akan invest di tempat lain atau di bagian yang lebih hilir.

Penanganan Gula

Kita lebih sering melihat dengan cara subyektif. Misalnya, para pengamat menyatakan pulau Jawa sudah tidak memiliki prospek lagi untuk mengusahakan tebu. Padahal, potensi tebu itu sangat besar, baru gulanya saja yang selama ini diutamakan. Lebih dari 67 produk dapat dihasilkan dari tebu dan semuanya akan menjadi kebutuhan utama dalam masa mendatang. Kurang lebih 60 % produksi gula dihasilkan oleh Pulau Jawa dengan Jawa Timur sebagai produsen gula terbesar. Dalam 4 tahun terakhir ini produksi gula nasional meningkat lebih dari 400 ribu ton, walaupun pasar gula sedang dalam kondisi di bawah. Peningkatan produksi gula tersebut ternyata terjadi di Jawa, dan sebaliknya yang terjadi di luar Jawa. Padahal produksi gula di Luar Jawa hampir seluruhnya bersumber dari lahan yang secara langsung dikontrol oleh perusahaan gula. Sebaliknya di Jawa, produksi bahan baku tebu hampir seluruhnya bersumber dari hasil tebu petani.

IMF dalam Letter of Intent mencatat perlunya liberalisasi dalam penanganan gula ini. PG gula yang tidak efisien diminta ditutup; relokasi PG dari Jawa ke Luar Jawa dan liberalisasi perdagangan internasional. Pelaksanaan kebijaksanaan ini mendapat tentangan dari para petani tebu dan produsen gula di Jawa. Tetapi yang sangat signifikan adalah berdirinya Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI)) yang menjadi institusi sumber perubahan dalam bidang pergulaan ini.

Salah satu energi utamanya adalah kebersamaan antara para petani tebu dalam memperjuangkan nasibnya dan hal ini membangkitkan spill over bagi para pelaku ekonomi lainnya. Inovasi utama saat ini yang paling penting untuk dicatat adalah lahirnya mekanismen perdagangan gula dimana harga pada tingkat petani dijamin oleh investor yang dipilih oleh para petani sendiri dan kemudian petani mendapatkan bagian dari secara proporsianal (60%) dari selisih antara harga lelang akhir dengan dana talangan ini (sekarang Rp 3410/kg gula). Bandingkan dengan harga gula yang diterima petani pada tahun 2002 hanya mencapai Rp 2500/kg. Pemerintah tidak mengeluarkan dana APBN atau dana lainnya untuk mendukung kenaikan harga ini. Kenaikan harga gula tersebut murni hasil inovasi antara petani dan dunia usaha, yang lahir secara partial (hanya berkembang di wilayah APTR PTPN XI) pada tahun 2001 dan menjadi skala nasional pada tahun 2003.

Prose di atas dimulai dengan lahirnya APTRI pada tahun 2000. Diperkirakan, apabila pemerintah memberikan dukungan evolusi semacam yang terjadi pada ACSC akan lahir juga di Indonesia.

Hambatan utama dari model ini adalah tenakan dari para penyelundup sebagaimana yang terjadi saat ini.

VII. Peluang Penerapan dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan DAS Cisadane merupakan dua DAS yang menerima curah hujan yang kemudian dialirkan ke kota Jakarta. DAS ini cukup luas melingkupi beberapa kabupaten dan kota. Penduduk di sekitar DAS ini sangat padat dengan keragaman lapangan pekerjaan yang dicirikan oleh lapangan pekerjaan di negara berkembang. Di DAS bagian hulu sebagian besar penduduknya masih tergantung pada pertanian.

Sempitnya lapangan pekerjaan di DAS bagian hulu dan juga besarnya proporsi penduduk yang hidup di kota-kota besar yang masih berada dalam perangkap kemiskinan di dalam lingkup DAS di atas memerlukan konsentrasi penanganan yang khusus. Karena itu, penanganan DAS Ciliwung dan Cisadane tidak akan cukup didekati dari satu sisi saja, misalnya hanya menangani satu masalah yaitu masalah pengairan. Menangani masalah pengairan memerlukan penanganan yang sifatnya holistik, yang difokuskan pada penciptaan sumber-sumber ekonomi baru, yang dapat mengurangi tekanan penduduk pada pemanfaatan sumber daya air di satu pihak dan perbaikan tata ruang yang menciptakan ruang atau land use yang lebih memberikan peluang bagi terjadinya peningkatan fungsi hidroorologis dari DAS yang dibicarakan.

Belajar dari pengalaman di AS sebagaimana telah dikemukakan, maka kuncinya adalah membangun kebersamaan dan menyuburkan proses inovasi dalam mencari jalan baru untuk mengatasi masalah tersebut. Pengalaman di AS menunjukkan adanya pola penanganan seperti berikut:

02

Proses untuk melaksanakan tahapan-tahapan di atas serta peran dari civic entrepreneurs baik yang berasal dari pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat perlu dibangun melalui mekanisme yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Namun demikian, inovasi perlu diarahkan pada pembangkitan energi yang dapat menjamin keberlanjutan dari proses ini. Kelemahan utama yang selama ini terjadi adalah usaha pengelolaan DAS sering hanya diartikan sebagai tugas pemerintah dan pola penangannannya merupakan penanganan yang sifatnya keproyekan. Akibatnya, proyek selesai maka proses juga selesai. Oleh karena itu, perlu dibuka berbagai peluang agar partisipasi dari dunia usaha dan masyarakat, sebagaimana yang tergambar dalam contoh-contoh di atas, dapat dikembangkan.

Kasus Austin yang berbasis pada penyiapan kominitas untuk bersaing dalam menarik “investor” yang sesuai dengan kemampuan masyarakat masuk atau kasus Cleveland yang membangkitkan “energi dari dalam” pada intinya adalah usaha menyiapkan “the best community” yang mampu berinteraksi dengan “new economy”, sehingga melahirkan “the best products”, merupakan rujukan yang sifatnya universal. Membangun proses inilah memerlukan cukupnya civic leaders yang memiliki kapasitas civic entrepreneur.

VIII. Penutup

Bagaimana mengatasi persoalan krisis air di Jakarta, pada akhirnya bersumber pada bagaimana kita merevitalisasi masyarakat agar sesuai dengan perkembangan ekonomi yang terjadi. Masalah lingkungan hidup yang dihadapi dan masalah ekonomi yang melilit kesulitan penduduk hanya dapat diselesaikan melalui kesadaran dan gerakan bersama. Untuk itu diperlukan nilai baru dan cara baru bagaimana kita melihat persoalan dan inovasi apa yang harus dilakukan.

Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa selain diperlukan cukup tersedianya kelompok civic entrepreneurs dan proses yang memakan waktu, pada dasarnya diperlukan membangun budaya baru: the new ways of thinking, feeling and believing. Negara maju seperti AS saja melakukan hal tersebut, bergotong royong menyelesaikan permasalahan. Apalagi kita, mestinya mau dan mampu melakukan kerjasama dan bergotong royong menyelesaikan masalah publik yang kita hadapi. Persoalan yang ada perlu dilihat sebagai tantangan sebagai tantangan kita bersama. Rahasianya adalah bagaimana kita berhasil membangun Tim yang memiki karakter sebagai civic entrepreneurs. Untuk dapat menuju ke arah tersebut, nilai-nilai dan cara-cara lama yang sudah terbukti membawa kita dalam kegagalan, perlu segera kita tinggalkan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: