BebasBanjir2015

Sutiyoso

Sutiyoso dan Solusi Banjir

Sumber: http://www.bangyos.com/

Upaya penanggulangan banjir sudah dilakukan sejak tahun 1920-an, Van Bren menyusun rencana tata air di Batavia. Menurut Van Bren, aliran-aliran sungai yang ada di Jakarta, harus digabung satu sama lain sebanyak mungkin. Untuk itu dilakukan berbagai langkah, seperti penggalian terusan banjir Krukut dari wilayah Karet ke laut.Terusan itulah yang kemudian disebut Banjir Kanal Barat (BKB). Banjir Kanal Barat menampung debit air dari Kali Krukut, Mampang, Ciliwung. Saluran yang berawal dari Manggarai tersebut jalurnya melalui pinggir/luar kota dan dibuat lebih besar dari ukuran Ciliwung yang asli. Dengan demikian, aliran banjir dapat mengalir ke laut tanpa menganggu Jakarta. Kondisi yang baik ini bertahan selama sekitar empat puluh tahun.

Tapi pertumbuhan Jakarta yang pesat serta banyaknya hunian baru di daerah aliran sungai Ciliwung, membuat banjir makin parah pada tahun 1960-an. Bukan hanya Ciliwung yang meluap tapi juga Kali Krukut, Grogol dan Cipinang. Bahkan banyaknya pemukiman di daerah-daerah tanpa dilengkapi sarana drainase yang cukup, menjadikan banjir yang terjadi lebih parah. Banjir Kanal Barat tidak bisa diandalkan lagi.

Untuk mengatasi hal itu, pada tahun 1965 dibentuk Komando Proyek pencegahan banjir Jakarta Raya, yang dikenal sebagai Kopro Banjir. Yang dilakukan adalah membangun waduk Pluit, Setia Budi, Melati, dan Tomang Barat. Keempat waduk tersebut merupakan tampungan banjir sementara yang dilengkapi dengan sistem pompa untuk pembuangan air ke sungai (khusus untuk Pluit langsung ke laut).

Selanjutnya pada tahun 1973 dibuat Rencana Induk Pengendalian Banjir oleh pemerintah RI dengan konsultan dari Nedeco Belanda. Prinsip dasarnya adalah :

  1. Kali-kali yang masuk wilayah DKI Jakarta ditangkap dan dirubah alirannya agar tidak melalui tengah kota, tapi mengelilingi Jakarta, baik ke bagian barat maupun ke timur dengan pembangunan Banjir Kanal.
  2. Untuk aliran kali-kali yang tidak tertangkap oleh banjir kanal, dibangun saluran pengendali banjir (flood way / main drain) baik di bagian barat maupun di timur Jakarta.
  3. Saluran drainase yang terletak di daerah-daerah dengan ketinggian yang cukup, pengalirannya menggunakan sistem gravitasi.
  4. Untuk daerah-daerah yang permukaannya rendah sistem drainasenya dengan waduk dan pompa.

Salah satu pekerjaan utama pembuatan Banjir Kanal Timur (BKT) yang memotong sungai Cipinang, Sunter, Buaran dan Cakung; untuk membuang banjirnya langsung ke laut melalui daerah Marunda.Sebenarnya proyek Banjir Kanal Timur direncanakan selesai pada tahun 1979, tetapi sering tertunda-tunda pelaksanaannya. Hal ini disebabkan sulitnya membebaskan lahan. Sampai awal 1990-an yang telah berjalan baru 20%.

Sementara itu perkembangan daerah urban meluas ke semua arah, bahkan seluruh wilayah Jabotabek arah timur dan barat, sehingga praktis Jakarta telah menyatu dengan Bekasi dan Tangerang. Demikian pula dengan perkembangan di wilayah selatan, dimana urbanisasi merayap ke Depok dan Bogor. Daerah tangkapan air dari sungai-sungai yang ada di Jabotabek (juga Bopunjur), telah jauh berkurang sehingga kemampuan resapan air juga menurun.Untuk mengatasi perkembangan, dibuat master plan baru untuk drainase dan pengendalian banjir. Untuk masalah drainase / genangan lokal, disusun The Study on Urban Drainage and Water Disposal Project in the City of Jakarta, pada tahun 1991. Sedangkan untuk pengendalian banjir, disusun The Study on the Comprehensive River Management Plan in Jabotabek, pada tahun 1997. dampaknya adalah pengendalian banjir tidak hanya terbatas di Jakarta, tetapi meliputi seluruh Jabotabek.Sampai tahun 2000, belum ada tanda-tanda proyek BKT akan dilanjutkan, hingga terjadi banjir bandang di Jakarta tahun 2001. Sejumlah daerah yang sebelumnya tidak terkena banjir, akhirnya terbanjiri juga. Bahkan kawasan elit Menteng dan kediaman Wapres serta jalan-jalan protokol di Jakarta juga tergenangi air, terutama ketika pintu air Manggarai harus dibuka, karena tidak sanggup lagi menampung luapan air. Presiden Megawati, waktu itu, juga merasakan banjir ketika kediamannya di bilangan Menteng terendam air dengan ketinggian sekitar 20 – 30 cm.

Proyek Banjir Kanal Timur

Pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) segera dilanjutkan sebagai satu-satunya cara untuk menampung seluruh air yang mengalir dari 13 sungai di Jakarta. Pada tahun 2004 presiden Megawati meresmikan kembali proyek Banjir Kanal Timur.Presiden Megawati waktu itu menyetujui untuk mengucurkan dana sebesar Rp. 17 hingga Rp. 20 triliun, guna mengantisipasi banjir besar di Ibukota. Salah satunya adalah pembangunan Banjir Kanal Timur, guna melengkapi Banjir Kanal Barat yang sudah ada. Pembangunan BKT ini melalui 13 kelurahan di Jakarta Timur dan Jakarta Utara sepanjang 23,6 km.Tujuan pembangunan Banjir Kanal Timur adalah sebagai berikut :

  • Melindungi kawasan industri, pergudangan dan pemukiman di wilayah timur bagian utara DKI Jakarta seluas 15.401 ha.
  • Meningkatkan keseimbangan ekosistem dan memperkuat infrastruktur pengendalian SDA di wilayah timur utara, yang diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan wilayah.
  • Mengurangi 13 kawasan rawan banjir meliputi lebih dari 50 lokasi, antara lain Kebun Nanas, Rawa Bunga, Cipinang Jaya, Cipinang Besar Utara, Cipinang Indah, Cipinang Muara, Cipinang Melayu, Pulo Mas Utara, Buluh Perindu, Malaka Sit, Pondok Kelapa, Pulo Gadung, Cakung Barat, Ujung Menteng, Komplek Kelapa Gading, Komplek Walikota Jakarta Utara, Yon Angmor Sukapura, dan Babek ABRI Rorotan.
  • Merupakan prasarana konservasi air untuk memperbaiki water ratio, menambah ruang terbuka, mengisi air tanah dan sumber air baku.

Setelah selesai dibangun (ditargetkan tahun 2010), air waduk tersebut akan dimanfaatkan sebagai sarana wisata air dan transportasi air untuk mendukung sistem transportasi makro di Jakarta.

Normalisasi saluran air dan waduk

Usaha yang dilakukan Sutiyoso tidak hanya membangun Banjir Kanal Timur. Upaya lain untuk meredam banjir adalah melakukan normalisasi di 13 sungai meliputi Kali Mookervat, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, Kali Krukut, Kali Baru Barat, Kali Ciliwung, Kali Baru Timur, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung.Sutiyoso juga melakukan penyempurnaan sistem aliran Kanal Barat dan Cengkareng Drain untuk bagian barat, penyempurnaan sistem aliran Cakung Drain dan sungai Sunter (bersama-sama dengan Banjir Kanal Timur) untuk wilayah timur, serta penyempurnaan dan penambahan sistem polder terutama pada kawasan utara.Selain itu dilakukan pembangunan, peningkatan, pengembangan dan fungsi berbagai situ sebagai lokasi tempat penampungan air terutama di bagian hulu dan daerah cekungan atau palung secara terbatas.

Daerah Bebas banjir

Sasaran yang ingin dicapai dari semua upaya yang dilakukan Sutiyoso dalam membangun Banjir Kanal Timur, normalisasi saluran air sungai dan pembangunan situ (waduk) adalah untuk mengendalikan banjir di DKI Jakarta. Melihat tingginya tingkat kerugian dari bencana banjir, maka sudah seharusnya bencana tersebut diminimalkan di Ibukota. Lebih baik lagi bila Jakarta bisa bebas dari banjir.

Memang terdapat beberapa hambatan yang dihadapi untuk mengatasi banjir ini, seperti kewenangan terhadap pengelolaan sarana prasarana pengendali banjir yang berada di pemerintah pusat belum dapat dilaksanakan secara optimal, koordinasi antar daerah dalam penataan ruang belum dapat diimplementasikan secara optimal, sulitnya mencari lahan yang dapat digunakan untuk pembangunan sarana banjir dan drainase, besarnya biaya yang dibutuhkan dalam rangka pemeliharaan dan pengembangan sarana prasarana pengendali banjir, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperan serta dalam memelihara sarana pengendali banjir dan drainase yang ada.

Cara Kuala Lumpur Atasi Banjir

Pembangunan yang pesat di Kuala Lumpur dan menurunnya kapasitas sungai yaitu Sungai Klang untuk menyerap air, kota besar seperti Kuala Lumpur, Malaysia, tak terlepas juga dari masalah banjir.

Untuk mengatasi banjir tersebut, maka Kuala Lumpur membuat proyek pengendalian banjir yang disebut Stormwater Management and Road Tunnel (SMART). Proyek ini dibiayai oleh Kerajaan Malaysia dan pengerjaan sepenuhnya dilaksanakan oleh pihak swasta.Proyek ini melibatkan berbagai instansi di Malaysia seperti Jabatan Pengairan dan Saliran Malaysia, serta Lembaga Lebuhraya Malaysia. Tujuan proyek ini bukan hanya untuk pengendalian banjir di Kuala Lumpur, tapi juga mengatasi kemacetan di pintu masuk Kuala Lumpur dari arah selatan Sg Besi.

Lingkup proyek SMART ini mencakup pembuatan terowongan (bypass tunnel) sepanjang kira-kira 9,7 km, pembuatan kolam-kolam penampung air, pembuatan twin box culvert outlet structure dan lain sebagainya. Dari kajian yang dilakukan, kolam-kolam penampung dan terowongan ini akan mampu menampung air banjir sebanyak 3 juta meter kubik. (bangyos.com)

Sumber: http://www.bangyos.com/id_tergagas-isi.php?cid=1&id=19&pageNum=1

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: