BebasBanjir2015

Adeline Narwastu dan Eri Prasetyo W

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAERAH BANJIR DI DKI JAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN ARC VIEW

Adeline Narwastu dan Eri Prasetyo W

ABSTRAK

Sistem Informasi Geografis adalah sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisa, dan menghasilkan data bereferensi geografis atau geospatial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu perencanaan. Dengan menggunakan SIG maka akan lebih mudah bagi para pengambil keputusan untuk menganalisa data yang ada. Karena dengan adanya SIG maka akan digambarkan juga posisi penyebaran data pada kondisi sesungguhnya. Pada penulisan tugas akhir ini, penulis membuat suatu Perancangan Sistem Informasi Geografis untuk mengetahui daerah-daerah yang dilanda banjir di DKI Jakarta pada awal tahun 2007 menggunakan Arc View SIG. Dari sistem aplikasi ini diharapkan terwujudnya SIG dalam pemahaman pada kondisi banjir yaitu memberikan pengetahuan tambahan bagaimana kita sebagai masyarakat DKI Jakarta agar dapat mengatasi masalah banjir.

Kata Kunci : SIG, Perancangan Sistem Informasi Geografis, Banjir, Arc View

PENDAHULUAN

Pada Ilmu Komputer, Sistem Informasi merupakan hal yang sangat mendasar keterkaitannya dengan sistem secara global. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah salah satu sistem informasi yang dibahas dalam ilmu komputer, yang dalam pengintegrasiannya SIG merangkul dan merepresentasikan sistem informasi lainnya. SIG menggunakan teknologi komputer untuk mengintegrasikan, memanipulasi dan menampilkan informasi yang ada di suatu area geografi, lingkungan, dan karakteristik yang mengikuti suatu daerah geografi. SIG dapat digunakan oleh berbagai bidang ilmu, pekerjaan, atau peristiwa seperti arkeologi, agrikultur, keamanan dan pertahanan, kesehatan, pemerintahan, kehutanan, pendidikan, kelautan, hasil alam, bencana, tempat wisata dan masih banyak lagi. SIG dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan umum dan kompleks yang terjadi dalam suatu instansi, SIG juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. Sebagai contoh, yang dapat dibuat dengan dasar SIG adalah daerahdaerah yang dilanda banjir pada awal tahun 2007 ini di DKI Jakarta. Bencana banjir yang melanda Provinsi DKI Jakarta pada awal tahun 2007 merupakan bencana banjir terbesar dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir.

Untuk mengantisipasi ancaman banjir dan menekan akibatnya, diperlukan pemahaman masyarakat atas kejadian banjir yang lalu serta pengelolaan yang diperlukan untuk menghadapinya. Agar seluruh upaya itu berjalan lancar, maka sosialisasi peningkatan pemahaman atas pengelolaan banjir yang dibahas dalam penulisan ini yang diberi judul Perancangan Sistem Informasi Geografis Daerah Banjir di DKI Jakarta Dengan Menggunakan ArcView disajikan untuk pembaca sebagai informasi yang sekiranya dapat membantu.

Sistem Informasi Geografis

Pada dasarnya, istilah sistem informasi geografis merupakan gabungan dari tiga unsur pokok: sistem, informasi, dan geografis. Dengan melihat unsur-unsur pokoknya, maka jelas SIG merupakan salah satu sistem informasi dan SIG merupakan suatu sistem yang menekankan pada unsur “Informasi Geografis”. Penggunaan kata ”Geografis” mengandung pengertian suatu persoalan mengenai bumi: permukaan dua atau tiga dimensi. Istilah “Informasi Geografis” mengandung pengertian informasi mengenai keterangan-keterangan (atribut) yang terdapat di permukaan bumi yang posisinya diberikan atau diketahui. Dengan memperhatikan pengertian Sistem Informasi, maka SIG merupakan suatu kesatuan formal yang terdiri dari berbagai sumber daya fisik dan logika yang berkenaan dengan objek-objek yang terdapat di permukaan bumi. Dan, SIG merupakan sejenis perangkat lunak yang dapat digunakan untuk pemasukkan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan, dan keluaran informasi geografis berikut atributatributnya.

Berikut subsistem dalam SIG :

  1. Data Input: subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan, mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber, dan bertanggung jawab dalam mengkonversi format data-data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
  2. Data Output: subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy seperti: tabel, grafik, peta dan lain-lain.
  3. Data Management: subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basidata sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, diupdate, dan diedit.
  4. Data Manipulasi dan Analisis: subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG. Selain itu, subsistem ini juga melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

SIG terdiri dari beberapa komponen :

  1. Perangkat Keras: perangkat keras yang sering digunakan untuk SIG adalah komputer (PC), mouse, digitizer, printer, plotter, dan scanner.
  2. Perangkat Lunak: SIG juga merupakan sistem perangkat lunak yang tersusun secara modular dimana basis data memegang peranan kunci. Setiap subsistem diimplementasikan dengan menggunakan
    perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul.
  3. Data dan Informasi Geografi: SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara mengimpornya dari perangkat-perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara mendijitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data atributnya dari tabel-tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard.
  4. Manajemen: suatu proyek SIG akan berhasil jika dimanage dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang memiliki keahlian yang tepat pada semua tingkatan.

Model dunia nyata dapat memudahkan manusia di dalam studi area aplikasi yang dipilih dengan cara mereduksi sejumlah kompleksitas yang ada. Untuk merepresentasikan objek-objek seperti bentuk bangunan, batas-batas wilayah, garis-garis jalan raya, sungai, posisi pilar, dan sebagainya, yang dapat dilakukan oleh komputer adalah memanipulasi objek dasar atau entity yang memiliki atribut geometri. Hingga saat ini, secara umum, persepsi manusia mengenai bentuk representasi entity spasial adalah konsep raster dan vektor, sehingga untuk menyajikan entity spasial digunakan dua model data yakni :

  1. Model Data Raster: Model data raster menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan struktur matriks atau piksel-piksel yang membentuk grid. Akurasi model data ini sangat bergantung pada resolusi atau ukuran pikselnya (sel grid) di permukaan bumi. Entity
    spasial raster disimpan di dalam layer yang secara fungsionalitas direlasikan dengan unsur-unsur petanya. Model data raster memberikan informasi spasial apa  yang terjadi dimana saja dalam bentuk gambaran yang digeneralisir.
  2. Model Data Vektor: Model data vektor menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik-titik, garis-garis atau kurva, atau poligon beserta atribut-atributnya. Bentuk-bentuk dasar representasi data spasial ini, di dalam sistem model data vektor, didefinisikan oleh sistem koodinat kartesian dua dimensi (x,y). Pada model data vektor terdapat tiga entity
    yaitu :
    • Entity Titik
    • Entity Garis
    • Entity Poligon

ArcView GIS

Gambar 1. Contoh Data Geospasial

ArcView merupakan salah satu perangkat lunak desktop Sistem Informasi Geografis dan pemetaan yang telah dikembangkan oleh ESRI.

Kemampuan-kemampuan perangkat SIG
Arc View ini secara umum dapat dijabarkan
sebagai berikut :

  1. Pertukaran data: membaca dan menúliskan data dari dan ke dalam format perangkat
    lunak SIG lainnya.
  2. Melakukan analisis statistik dan operasioperasi matematis.
  3. Menampilkan Informasi (basisdata) spasial maupun atribut.
  4. Menjawab query spasial maupun atribut.
  5. Melakukan fungsi-fungsi dasar SIG.
  6. Membuat peta tematik.
  7. Mengcustomize aplikasi dengan menggunakan bahasa skrip.
  8. Melakukan fungsi-fungsi SIG khusus lainnya (dengan menggunakan extension yang ditujukan untuk mendukung penggunaan perangkat lunak SIG Arc View).

Komponen-komponen pada ArcView :

  1. Project, merupakan suatu unit organisasi tertinggi di dalam ArcView yang dapat digunakan untuk menyimpan, mengelompokkan, dan mengorganisasikan semua komponen-komponen program : view, theme, tabel, chart, layout, dan script dalam satu kesatuan yang utuh. Sebuah project merupakan kumpulan windows dan dokumen yang dapat diaktifkan dan ditampilkan selama bekerja dengan ArcView. Project Arc View dimplementasikan ke dalam sebuah file teks (ASCII) dengan nama belakang (extension) “.APR”.
  2. Gambar 2. Tampilan Project ArcView

    Gambar 2. Tampilan Project ArcView

    Theme, merupakan suatu bangunan dasar sistem ArcView. Themes merupakan kumpulandari beberapa layer ArcView yang membentuk suatu ‘tematik’ tertentu. Sumber data yang dapat direpresentasikan sebagai theme adalah shapefile, coverage (ArcInfo), dan citra raster.

  3. View, mengorganisasikan theme. Sebuah view merupakan representasi grafis informasi spasial dan dapat menampung beberapa “layer” atau “theme” informasi spasial (titik, garis, poligon, dan citra raster).
  4. Tabel, merupakan representasi data. Sebuah tabel akan berisi informasi deskriptif mengenai layer tertentu. Setiap baris data (record) mendefinisikan sebuah entry (misalnya informasi mengenai salah satu poligon batas propinsi) di dalam basisdata spasialnya, setiap kolom (field) mendefinisikan
    atribut atau karakteristik dari entry (misalnya nama, luas, keliling, atau populasi suatu propinsi) yang bersangkutan.
  5. Chart, merupakan representasi grafis dari resume tabel data. Chart juga bisa mendukung hasil suatu query terhadap suatu tabel data. Bentuk chart yang didukung oleh Arc View adalah line, bar, column, xy scatter, area, dan pie.
  6. Layout, digunakan untuk menggabungkan semua dokumen (view, tabel, dan chart) ke dalam suatu dokumen yang siap cetak
  7. Script, merupakan bahasa (semi) pemrograman sederhana (makro) yang digunakan untuk mengotomasikan kerja Arc View. Arc View menyediakan bahasa sederhana ini dengan sebutan Avenue.

PEMBAHASAN

Perancangan

Aplikasi Perancangan SIG Daerah Banjir di DKI Jakarta menyajikan informasi data spasial dan non spasial tentang daerah banjir DKI Jakarta kepada penggunanya. Informasi data spasial direpresentasikan dalam bentuk grafis, sedangkan informasi atribut dari spasial direpresentasikan dalam bentuk tabel. Berikut merupakan tahapan dalam pembuatan sistem aplikasi Perancangan SIG Daerah Banjir di DKI Jakarta :

  1. Studi pustaka tentang Sistem Informasi Geografis dan Arc View GIS.
  2. Mengumpulkan data tentang banjir DKI Jakarta yang terjadi sekitar awal tahun 2007 ini dari internet dan DPU (Dinas Pekerjaan Umum), Jakarta.
  3. Menganalisa data dan merancang aplikasi.
  4. Mendigitasi data-data spasial yang didapat, dan memasukkan data-data non spasial ke dalam tabel-tabel.
  5. Memodifikasi tampilan antar muka menggunakan script avenue.
Gambar 3. Diagram Sistem Perencanaan Pembuatan Aplikasi
Gambar 3. Diagram Sistem Perencanaan Pembuatan Aplikasi

Diagram berikut (Gambar 3) menjelaskan tentang alur dari pembuatan sistem aplikasi ini dengan tahapan: Peta yang dibutuhkan diinput ke komputer, lalu didigitasi dan disimpan dengan ekstension .shp. Bila peta sudah didigitasi, secara otomatis Arc View akan menampilkan atribut dasar peta dalam bentuk tabel berisi shape dan id peta. Selain peta dapat juga ditambahkan data-data nonspasial lain berupa teks / angka yang juga akan dimasukkan ke dalam tabel. Data-data spasial dan nonspasial yang  sudah diolah di dalam area Arc View menghasilkan tampilan SIG yang dapat dikomunikasikan kepada pengguna.

Use Case merepresentasikan sebuah interaksi antara aktor dengan sistem dan menggambarkan fungsionalitas yang diharapkan dari sebuah sistem. Diagram di atas terdiri dari 4 Aktor dan 9 Use Case. Di dalam diagram ini terdapat beberapa extend yang digunakan untuk menunjukkan bahwa satu Use Case merupakan tambahan fungsional dari Use Case lain jika kondisi tertentu terpenuhi. Alur ini dimulai dari penyampaian informasi ketinggian air serta cuaca oleh Petugas Jaga Pintu Air (Petugas PA) dan Petugas Badan Meteorologi dan Geofisika (Petugas BMG). Kemudian informasi tersebut di sebarkan oleh Petugas Pekerjaan Umum (Petugas PU) kepada masyarakat guna bersiaga terhadap banjir. Dari masyarakat Petugas PU pun mendapatkan berita pasca banjir yang dapat dianalisa dan diolah menghasilkan sebentuk Informasi yang lebih berguna.

Gambar 4. Use Case Diagram Sistem Peringatan Dini Banjir
Gambar 4. Use Case Diagram Sistem Peringatan Dini Banjir

Aktivity Diagram

Activity Diagram menggambarkan berbagai alur aktivitas secara umum dalam sistem yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alur berawal, decision yang mungkin terjadi, dan bagaimana mereka berakhir. Activity Diagram tidak menggambarkan behaviour internal sebuah sistem.

Gambar. 5. Activity Diagram Peringatan Dini Banjir
Gambar. 5. Activity Diagram Peringatan Dini Banjir

Activity Diagram di atas menjelaskan tentang alur dari penyampaian informasi banjir (Peringatan Dini). Activity Diagram tersebut terbagi atas tiga partision yang menunjukkan Siapa Melakukan Apa yaitu Petugas PA, Petugas PU, dan Masyarakat. Alir ini dimulai Petugas PA yang mengukur ketinggian air pada pintu air tempatnya berjaga, setelah diukur apabila ketinggian masih dibawah batas normal, maka alur berakhir. Tetapi apabila ketinggian air sudah melewati batas ketinggian air normal, maka Petugas PA mengirimkan informasi kepada Petugas PU. Petugas PU menerima informasi tersebut dan menyebarkan info siaga banjir kepada masyarakat. Masyarakat bersiaga dan mengevakuasikan diri ke tempat yang lebih aman. Setelah itu Petugas PU menerima berita atau informasi pasca banjir dari masyarakat.  Berita tersebut dianalisa dan diolah menjadi informasi yang lebih berguna baik data-data spasial maupun data-data nonspasial. Dari datadata tersebut akhirnya dapat ditarik kesimpulan  dan dibuat laporan, dan itu menjadi akhir dari alur activity diagram.

Class Diagram

Class dalam notasi UML digambarkan dengan kotak, yang pada dasarnya terbagi atas tiga bagian yaitu Nama Class, Atribut, dan Operation. Pada diagram diatas terdapat tiga kotak class (project, view, dan tabel) yang merupakan menumenu utama pada aplikasi ini. Pada Class Diagram di atas terdapat simbol belah ketupat (Agregasi) di bawah class project, Agregasi disini merupakan hubungan “bagian-dari” atau “bagianke keseluruhan”.

Gambar 6. Class Diagram Aplikasi SIG Banjir
Gambar 6. Class Diagram Aplikasi SIG Banjir

Agregasi menyatakan bahwa suatu Project bisa terbagi (teragregasi) atas bagianbagiannya (yaitu: view dan tabel). Hubungan Project dengan View adalah “satu-kebanyak” dengan notasi 1+ (yang juga disimbolkan dengan lingkaran berisi). Ini berarti setiap Project bisa memiliki view lebih dari satu namun harus memiliki minimal satu view. Begitu juga hubungan Project dengan Tabel adalah “satu-ke banyak”.

Gambar 7. Class Diagram Aplikasi SIG Banjir Menu View
Gambar 7. Class Diagram Aplikasi SIG Banjir Menu View

Class Diagram di atas merupakan model dari generalisasi atau pewarisan yang berarti relasi ke atas beberapa subclass (Peta Banjir 2007, Peta Banjir 2002, dan Sistem Peringatan Dini) kepada super-class (View) yang ditunjukkan dengan simbol segitiga. Generalisasi berarti menyimpan atribut atau data yang sama untuk keempat subclass view. Atribut-atribut yang dimiliki secara bersamaan oleh keempat subclass view adalah theme dan legend. Pada pewarisan ini memungkinkan atribut-atribut yang sama cukup dituliskan sekali saja pada superclass dan tidak perlu ditulis ulang pada subclass yang mewarisi
atribut-atribut yang sama itu.

Gambar 8. Class Diagram Aplikasi SIG Banjir Menu Tabel

Class Diagram di atas juga merupakan model dari generalisasi atau pewarisan yang berarti relasi ke atas beberapa subclass (5 Wilayah, 13 Sungai, 78 Genangan, Banjir/wil, Daerah Berpotensi Genangan, dan Sistem Peringatan Dini) kepada superclass (Tabel) yang ditunjukkan dengan simbol segitiga. Atributatribut yang dimiliki secara bersamaan oleh keempat subclass view adalah theme dan legend.

Sequence Diagram

Sequence Diagram menggambarkan interaksi antar objek di dalam dan disekitar sistem (termasuk pengguna, display, dan sebagainya) berupa message yang digambarkan terhadap waktu.

Gambar 9. Sequence Diagram Menu View
Gambar 9. Sequence Diagram Menu View

Sequence Diagram di atas menggambarkan skenario atau rangkaian langkah-langkah yang dilakukan dalam sistem yang berhubungan dengan view, yang terdiri dari 1 aktor, 5 participant dengan garis lifelinenya, dan 9 message. Alur ini dimulai saat pengguna membuka aplikasi SIG Banjir dan dihadapkan
pada tampilan menu Project. Selanjutnya pengguna dapat membuka menu view dan dapat melakukan beberapa proses di dalamnya seperti menambah theme baru, membuat theme baru, atau mengedit theme yang sudah ada, dengan terlebih dahulu mengisi password untuk keamanan datanya dan pengguna dapat mengedit theme tersebut.

Gambar 10. Sequence Diagram Menu Tabel

Sequence Diagram Menu Tabel terdiri dari 1 aktor, 6 participant dengan garis lifelinenya, dan 8 message. Alur ini dimulai saat pengguna membuka aplikasi SIG Banjir. Ia akan  dihadapkan pada tampilan menu Project. Selanjutnya pengguna dapat membuka menu tabel dan dapat melakukan beberapa proses di dalamnya seperti menambah kolom baru, menambah baris baru, menjoinkan tabel, atau mengedit tabel yang sudah ada. Khusus proses mengedit tabel pengguna terlebih dahulu diharapkan mengisi password, untuk keamanan data yang ada.

Perancangan Antar Muka

Gambar 11. Rancangan Antar Muka Window
Gambar 11. Rancangan Antar Muka Window

Arc View mengorganisasikan lingkungan pengembangan dan tampilan antar muka di dalam window utama. Dengan menggunakan script avenue, tampilan antar muka, isi Baris  Menu dan Baris Tombol pada window utama dapat dimodifikasi tergantung pada tipe dokumen (project/ view/ tabel) yang dibuka. Saat aplikasi SIG Daerah Banjir di DKI Jakarta dibuka, tampilan awal yang muncul adalah Banner, kemudian dokumen. Dokumen akan mengubah tampilan pada window utama dan window dokumen. Untuk lebih memperjelas modifikasi, gambar 11 menyajikan rancang bangun tampilan window utama.

Berikut tampilan Struktur Navigasi pada Perancangan Sistem Informasi Geografis Daerah Banjir di DKI Jakarta. (Gambar 12)

Gambar 12. Struktur Navigasi Aplikasi Arc View SIG Banjir
Gambar 12. Struktur Navigasi Aplikasi Arc View SIG Banjir

Pengujian Sistem

Pada sesi pengujian, penulis menguji sistem aplikasi ini dengan metode Pengujian Blackbox.
Metode Pengujian Blackbox tidak secara langsung memeriksa sintaks dan struktur logis
internal dari suatu perangkat lunak (seperti pada Pengujian Whitebox), tetapi untuk mengetahui fungsi-fungsi yang diharapkan seperti output dihasilkan secara benar dari input, dan data-base diakses serta diupdate secara benar dan mengujinya apakah akan menjalankan fungsi-fungsi tersebut secara tepat. Pengujian Blackbox cenderung dilakukan
pada tahap-tahap akhir pengujian.

Pengujian Menu Pada Project

Tampilan antar muka “Project” merupakan modifikasi dari tampilan antar muka Project yang sebenarnya di Arc View dengan mengaktifkan menu pulldown Project Customize. Menu-menu yang dibuat, diimplementasikan pada baris menu di jendela Project. Project ini mempunyai dua menu utama yaitu Arsip dan Aplikasi.

Menu Arsip

Submenu Tutup Project pada menu Arsip berfungsi untuk menutup aplikasi SIG ini. Proses ini memanggil script P.cek Edit untuk memeriksa apakah terjadi perubahan pada data-data baik spasial maupun nonspasial pada aplikasi ini dan meminta konfirmasi pengguna untuk menyimpan perubahan.

Submenu Simpan Project berfungsi untuk menyimpan perubahan pada aplikasi ini. Script yang dijalankan yaitu script P.SimpanProject. Script ini akan mengeksekusi script P.cekEdit yang berfungsi untuk mengecek apakah terjadi perubahan pada tabel dan view serta konfirmasi penyimpananya. Saat proses penyimpanan dilakukan baris status pada window akan menampilkan pesan.

Submenu Keluar berfungsi untuk keluar dari perangkat Arc View. Sebelum keluar Arc View akan mengecek apakah ada perubahan pada aplikasi. Jika ada maka akan muncul kotak dialog yang menanyakan apakah perubahan akan disimpan atau tidak.

Menu Aplikasi

Submenu Properti Project berguna untuk menampilkan nama script apa yang akan dieksekusi untuk pemunculan banner awal dan banner akhir. Submenu Ganti Nama pada menu aplikasi, berfungsi untuk mengganti nama dokumen yang terblok atau yang sedang aktif, dengan sebelumnya pengguna dihadapkan dengan sebuah pesan untuk mengisi password demi keamanan data.

Submenu Hapus berfungsi untuk menghapus nama dokumen yang terblok atau yang sedang aktif, dengan sebelumnya pengguna dihadapkan juga dengan sebuah pesan untuk mengisi password demi keamanan data.

Pengujian Menu View

Submenu Tampilkan View pada Window View berfungsi untuk mencari view pada ComboBox. Terdapat empat pilihan view yaitu “Peta Banjir 2 Februari 2002″, “Peta Banjir Awal Tahun 2007 DKI Jakarta”, dan “Sistem Peringatan Dini”.

Seperti pada contoh gambar diatas, Pertama-tama pengguna akan diminta untuk memilih salah satu view yang tersedia (pengguna memilih view “Peta Banjir Awal Tahun 2007 DKI Jakarta”). Kemudian akan muncul pesan bahwa pengguna telah memilih salah satu view tersebut. Dan view yang dipilih akan diaktifkan.

Gambar 13. Tampilan Kotak Dialog Tampilkan View
Gambar 13. Tampilan Kotak Dialog Tampilkan View

Submenu Beri Label pada Window View berfungsi untuk memberi keterangan atau label pada theme tertentu yang sedang aktif secara otomatis.

Gambar 14. Tampilan View "13 Sungai" Saat Menggunakan Submenu Beri Label
Gambar 14. Tampilan View

Pada submenu Tampilkan Tabel di window view, Arc View mengeksekusi script DB.ShowTable, dimana sistem akan menampilkan hanya tabel dari theme yang aktif saja. Dengan begitu tidak ada kerancuan seperti bila pengguna mencari sendiri tabel dari suatu theme pada window tabel. Dan secara otomatis menu view berubah menjadi menu tabel untuk menyesuaikan diri dengan tampilan yang aktif.

Gambar 15. Tampilan "View" Saat Menggunakan Submenu Tampilkan Tabel
Gambar 15. Tampilan

Pada submenu Tampilkan Layout di window view, Arc View mengeksekusi script V.Layout. Pengguna diminta untuk memilih layout yang akan ditampilkan, yang tersedia pada combo box. Kemudian Arc View akan menampilkan layout pada window layout beserta menunya yang sudah terintegrasi langsung pada Arc View.

Pada submenu Info Extra Banjir, tampilan dibuat pada windows view. Submenu ini menggunakan fasilitas hotlink untuk menghubungkan Arc View pada editor Notepad. Saat Pengguna memilih submenu Info Extra Banjir, Arc View akan menampilkan view “INFO EXTRA” dengan menu delapan Pilihan Extra bersimbol bintang berwarna yang dapat dipilih.

Gambar . 16. Tampilan "View" Saat Menggunakan Submenu Tampilkan Layout
Gambar . 16. Tampilan

Tetapi sebelumnya pengguna harus mengaktifkan hotlink dengan cara mengklik buttons “Hotlink” bersimbol petir. Buttons hotlink akan mengeksekusi script Link.TextFile. Setelah hotlink aktif, pengguna dapat mengklik salah satu simbol bintang berwarna seperti contoh gambar di bawah ini (pengguna mengklik bintang berwarna hijau pastel, yang berarti pengguna ingin menampilkan info “Penyebab Banjir”, keterangan dapat dilihat pada legend view), maka Arc View akan langsung menampilkan _le text info extra dengan judul “Penyebab Banjir”.

Gambar 17. Tampilan "View" Saat Menggunakan Submenu Info Extra Banjir
Gambar 17. Tampilan

Pada window view juga terdapat button Identifier, yang fungsinya adalah menampilkan informasi yang terkait apabila pengguna mengklik salah satu feature atau objek pada suatu theme dalam bentuk kotak dialog Identify Results seperti gambar berikut.

Gambar 18. Tampilan "View" Dengan Menggunakan Button Identifier
Gambar 18. Tampilan

Pengujian Menu Pada Window Tabel

Pada menu Table saat Window Tabel dibuka, terdapat dua submenu yang berhubungan dengan grafik yakni “Buat Grafik Baru” dan “Tampilkan Grafik”. Walaupun keduanya samasama menampilkan grafik tetapi fungsi khusus diantara kedua submenu, berbeda. Submenu Buat Grafik Baru berfungsi untuk membuat grafik baru sesuai dengan field-field yang diinginkan yang bertipe number, sedangkan submenu Tampilkan Grafik berfungsi untuk menampilkan grafik yang ada yang sudah dibuat oleh penulis. Untuk submenu Tampilkan Grafik, pengguna dapat memilih dari ke-empat pilihan grafik yang sudah tersedia untuk ditampilkan. Pada contoh di bawah pengguna memilih grafik “Grafik Titik Rawan dan Genangan” dan Grafik tersebut akan langsung ditampilkan.

Gambar 19 . Tampilan Kotak Pesan dan "Grafik" Saat Pengguna Menggunakan submenu Tampilkan Grafik
Gambar 19 . Tampilan Kotak Pesan dan

Submenu Tambah Kolom berfungsi untuk menambah kolom pada tabel yang aktif dan sedang dalam proses pengeditan. Jika ingin menggunakan submenu ini terlebih dahulu pengguna harus mengklik submenu Mulai Edit dan mengisi kotak dialog isi Password. Kemudian script akan menampilkan kotak dialog untuk membuat kolom baru.

Submenu Join Tabel berfungsi untuk menggabungkan tabel-tabel berdasarkan kolom yang bertipe sama. Jika kondisi ini terpenuhi maka menu akan aktif. Script akan menggabungkan kolom dari tabel lain ke dalam tabel yang aktif. Submenu Buat Laporan berfungsi untuk membuat laporan berdasarkan tabel yang aktif. Pembuatan laporan ini menggunakan tipe Quick Report yang memudahkan pengguna dalam membuat laporan dengan field atau kolom tertentu yang diinginkan.

Gambar 20. Tampilan Salah Satu Pembuatan Laporan dari Tabel Aktif
Gambar 20. Tampilan Salah Satu Pembuatan Laporan dari Tabel Aktif

Submenu Cari pada menu table berfungsi untuk mencari data yang sesuai dengan masukkan pengguna. Jika data yang dicari ada, maka script akan menghapus semua seleksi yang ada dan hanya akan mengaktifkan baris yang mengandung data tersebut. Submenu Buat Query berfungsi untuk menampilkan kotak dialog Query-Builder. Kotak dialog ini digunakan untuk membuat query yang dapat memudahkan pemakai untuk mencari basis data. Untuk menggunakan  submenu ini, pengguna harus terlebih dahulu mengaktifkan tabel mana yang akan dibuat querynya. Seperti contoh pada gambar 21. Pengguna mengaktifkan tabel Attributes of 78 Genangan, kemudian mengklik submenu Buat Query, dan mengetikkan sintaks query ( [Nama Wilayah] = “Jak-Sel”) di dalam text box untuk ekspresi query kemudian tekan tombol “New Set”, hingga menghasilkan tampilan pada gambar 21. Baris-baris yang terpilih terblok (berwarna kuning) pada tabel. Submenu Analisa SPD, berfungsi untuk memanggil view Sistem Peringatan Dini. Pada view ini pengguna dapat memanfaatkan fasilitas hotlink untuk menampilkan jendela notepad analisa SPD (Sistem Peringatan Dini).

Gambar 21. Tampilan Kotak Dialog Query Builder Beserta Tabel Hasil Query
Gambar 21. Tampilan Kotak Dialog Query Builder Beserta Tabel Hasil Query

Langkah awal pengguna harus mengaktifkan hotlink (bersimbol petir), kemudian pengguna dapat mengklik Point Peringatan Dini 1-7. Bila point ini diklik maka Arc View akan terrelasi dengan editor notepad yang berisi hasil analisa peringatan dini dari point yang dipilih.

Gambar 22. Tampilan Analisa Sistem Peringatan Dini
Gambar 22. Tampilan Analisa Sistem Peringatan Dini

PENUTUP

Aplikasi Perancangan SIG Daerah Banjir di DKI Jakarta ini menyajikan informasi yang berkaitan dengan data spasial Daerah Banjir Jakarta pada awal tahun 2007. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengembangkan informasi yang ada, yaitu dengan menambah, mengubah atau menghapus informasi tertentu yang ada.

Pada penulisan ini, penulis hanya mempresentasikan bentuk sederhana dari informasi daerah banjir DKI Jakarta pada awal tahun 2007. Kiranya pembaca dapat mengembangkan aplikasi ini menjadi lebih baik
dan lebih berguna.

DAFTAR PUSTAKA

E. Budiyanto, Sistem Informasi Geografis Menggunakan Arc View GIS. Yogyakarta: Andi Yogyakarta,
September 2003.

R. Julitasari, Peta Rawan Banjir Jakarta 2007 (I). Home page : http://www.vhrmedia.net/home, Februari 2007.

Munawar, Pemodelan Visual dengan UML. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005.

E. Prahasta, Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung: Informatika, September 2002.

__, Sistem Informasi Geografis : Tutorial ArcView. Bandung: Informatika, Oktober 2002.

__, Sistem Informasi Geografis : ArcView Lanjut, Pemrograman Bahasa Script Avenue, Edisi Revisi. Bandung: Informatika, Desember 2004.

__, Sistem Informasi Geografis Tools dan Plug- Ins. Bandung: Informatika, Juni 2004.

R. O. Wulandari, ”Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Analisa Penyebaran Tempat Pembuangan Sampah Kota Surabaya dengan GIS-GRASS”, Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Informasi, Politeknik Elektronika Negeri, Surabaya, 2006.

Adeline Narwastu dan Eri Prasetyo W; Sistem Informasi, Ilmu Komputer, Universitas Gunadarma 1ad3l_luthu@yahoo.co.id

5 Komentar »

  1. kerennnn,,,”,,
    ak m liat contoh” UML yang lain donk,, klw bisa sistem akademik siswa atau yang lainnya tapi yang ful 9 diagram,, ak m pelajarin itu,,,
    thanks before,,

    Komentar oleh la — September 7, 2009 @ 9:46 pm

  2. Keren

    Komentar oleh yapensa — April 2, 2010 @ 5:09 pm

  3. bagus banget thx bs bwt gambaran bwt skripsi saya.
    klu bs dikasih study literature ato penilitian sebelumnya jd bs ad gambaran gt mengenai GIS yg dbahas..klu punya lg yg lain dkirim sitenya ke email saya yah admin thx
    saya punya skripsi tentang “perancagan sistem informasi penyebaran penyakit malaria berbasis GIS”

    Komentar oleh Melvin — Oktober 16, 2010 @ 7:13 pm

  4. bagus klu bs dkasih study litelature

    Komentar oleh Melvin — Oktober 16, 2010 @ 7:17 pm

  5. thank bro i like this

    Komentar oleh assa — Juni 7, 2012 @ 5:21 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: