BebasBanjir2015

2011

Bandung Selatan Bebas Banjir Akhir 2011

Sumber: http://regional.kompas.com/ 6 Februari 2009

BANDUNG, JUMAT — Wilayah selatan Bandung diyakini bisa bebas banjir mulai akhir 2011. Syaratnya, perlu dimulai perencanaan matang dan tindakan nyata yang komprehensif. Jika seluruh sinergi ini dilakukan, bukan tidak mungkin waktu dua tahun cukup mengatasi banjir.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan Daerah Jawa Barat Deny Juanda dalam sebuah rapat pertemuan membahas rencana Diskusi Panel Ahli Kompas-Institut Teknologi Bandung, Jumat (6/2) di Gedung Rektorat ITB. Turut hadir pula Kepala Dinas Kehutanan Jabar Anang Sudarna, Kepala Dinas Pemanfaatan Sumber Daya Air Jabar Iding Srihadi Adiwindata, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan ITB Indratmo Soekarno, Kepala Biro Kompas Jabar Dedi Muhtadi, dan Gusti Ngurah Wisnu dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

“Perlu ada action plan segera, dan ini harus ditargetkan. Jangan lagi sekadar para ahli teriak-teriak, tetapi tidak ada dampak nyata. Masyarakat tetap saja tidak mau berubah dan lain-lain. Bisa-bisa PSDA malah frustasi,” ujarnya. Dengan memberi tenggat waktu, misalnya akhir 2011, mau tidak mau ini bakal memacu berbagai pihak terkait untuk dapat menuntaskan persoalan yang terus menerus terjadi ini.

Menurutnya, target 2011 bebas banjir bukan sebuah utopi. “Taruhlah gubernur itu menganggarkan Rp 500 miliar, lalu dari pusat Rp 1 triliun, dan kabupaten/kota masing-masing Rp 100 miliar, ini (banjir) bisa selesai. Namun, sambil solusi jangka pendek itu dilakukan, gerakan rehabilitasi di hulu tidak boleh berhenti,” ucapnya.

Untuk rehabilitasi, pihaknya baru-baru ini mendapat tawaran dari PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk bantu menyebarkan benih rumput di daerah hulu. Diharapkan, ini bisa membantu proses rehabilitasi dan memperbaiki kemampuan tangkap air di wilayah hulu. Ia percaya, jika kombinasi penanganan dilakukan, termasuk misalnya membuat situ kecil di wilayah aliran sungai, wacana pemapasan Curug Jompong tidak lagi jadi pilihan dominan.

Curug Jompong

Namun, di dalam kesempatan ini, pihak PSDA dan BBWS percaya, solusi paling mendesak untuk mengatasi banjir adalah dengan memapas Curug Jompong. Wacana ini, menurut Iding dan Gusti, sudah dibicarakan dengan Kementerian Bappenas RI. Proyek ini diperkirakan menelan dana Rp 500 miliar dengan jangka waktu pengerjaan satu hingga dua tahun. Pemapasan dilakukan maksimal setinggi enam meter. Dengan berbagai proses dan tahapan, ia memperkirakan, Bandung baru bebas banjir di 2014.

Indratmo berharap, selain pemapasan Curug Jompong, perlu dibuat situ-situ kecil di sekitar daerah aliran anak sungai untuk menampung air. “Kita sebut situ. Kalau waduk kan terdengarnya besar. Padahal kan tidak,” ucapnya. Selain itu, tetaplah perlu dilakukan penanganan banjir dengan pendekatan di Jakarta, yaitu membuat folder-folder buatan lain yang menampung air dengan bantuan pompa. Pendekatan ini tidak berimplikasi pada opsi pembebasan lahan yang besar.

Anang Sudarna mengingatkan, persoalan sosiologis, yaitu perilaku masyarakat petani di wilayah hulu DAS Citarum tidak bisa dilupakan. Pihaknya kini telah menyusun suatu skema untuk mengatasi kendala sosiologis ini melalui tiga opsi, yaitu alih profesi, alih komoditi, dan alih lokasi. Kedua opsi awal adalah yang terbaik dan memungkinkan. Petani yang bisa menggarap sayur-sayuran diarahkan untuk alih menanam tanaman keras atau ke profesi lainnya.

Berbagai solusi komprehensif dan konsep tindakan nyata penanganan banjir di Bandung ini akan dibahas lebih lanjut di dalam Diskusi Panel Ahli Kompas-ITB yang sedianya diadakan Kamis (19/2) di Graha Kompas Gramedia. Hasil diskusi ini rencananya juga akan dijadikan naskah akademik konsultasi penanganan banjir Citarum dengan Bappenas RI.

Depok Akan Bebas Banjir Tahun 2011

Sumber:  http://www.suarapembaruan.com/

DEPOK – Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok, Yayan Arianto mengatakan, Kota Depok akan bebas banjir kira-kira enam tahun lagi, atau sekitar tahun 2011. Selain itu, diakui juga bahwa dari 50 persen kerusakan jalan-jalan di Kota Depok baru setengahnya bisa diperbaiki, dan setengahnya lagi masih rusak.

Hal ini dikatakan Yayan Arianto kepada Pembaruan, Senin (3/10) di kantornya. Masalah banjir, jalan, serta lingkungan, kata mantan Kepala Bagian Tata Usaha PU itu, sangat terkait erat dengan pembagian anggaran APBD Depok untuk PU yang akan digunakan untuk seluruh kebutuhan ke-PU-an. Untuk seluruh biaya PU per tahun, baik untuk kepegawaian, penanggulangan banjir, perbaikan jalan maupun lingkungan, Plt Dinas PU itu mengatakan kantornya membutuhkan dana Rp 512 miliar. Sekitar 62 persen untuk kebutuhan fisik setelah dipotong hasil lelang.

“Setiap tahun, hanya 13,3 persen dari jumlah anggaran itu yang dipenuhi APBD untuk PU. Dari APBD 2005 yang sedang berjalan ini, hanya Rp 17 miliar untuk anggaran banjir. Sedangkan untuk penanggulangan banjir secara komprehensif dibutuhkan dana Rp 110 miliar. Jadi, atas dasar perhitungan itu, kira-kira enam kali anggaran lagi barulah masalah banjir di Depok bisa teratasi. Kalau anggaran untuk banjir ditingkatkan dan diprioritaskan, penanggulangannya pun akan semakin cepat,” katanya. Untuk penanganan banjir, tambahnya, harus juga ada kerja sama yang baik dengan warga, terutama untuk tidak membuang sampah pada kali dan situ. Lalu, juga bergotong royong membersihkan saluran air.

“Kalau hanya satu-dua orang yang membuang sampah ke kali, tidak apa-apa. Tapi kalau 10 persen saja dari 1,4 juta penduduk Depok buang sampah ke kali, kan parah jadinya,” katanya lagi.

Dia menjelaskan, di Kota Depok terdapat 57 titik banjir, namun kini tinggal sekitar 30 titik, termasuk antara lain Jl Margonda Raya, Perumahan Taman Duta, dan Bukit Cengkeh, serta daerah-daerah lainnya.

Kota Depok dilintasi lima daerah aliran sungai (DAS), yaitu Cisadane, Pesanggrahan, Cipinang, Cikeas, dan Cipinang, termasuk anak-anak sungainya. Bila tidak dikelola dengan baik melalui penampungan di situ-situ serta saluran air yang baik, akibatnya sangat fatal untuk terjadinya banjir.

Dia mengakui, Jl Raya Margonda saat ini memang juga sebagai daerah banjir. “Genangan air di Jl Margonda Raya itu antara lain tanggung jawabnya mal-mal yang berdiri di sana, seperti Depok Town Square, Margo City, dan ITC Depok. Saat ini mereka masih membangun, kita lihat tanggung jawab para developer itu,” katanya.

Harapan Yayan, sebagai pejabat Kepala Dinas PU, jalan-jalan di Kota Depok nantinya menjadi aspal hitam semua, alias tidak ada lagi jalan-jalan yang tidak diaspal atau rusak.

Selama menjabat sebagai pelaksana tugas sejak tahun 2002 akhir menggantikan Rudiyanto, Yayan telah menyelesaikan berbagai pembangunan jalan seperti di Jl Ir H Juanda sepanjang 4 km, Jl Sentosa, jalan beton di Pekapuran, Jl Bahagia Raya, Jl Timah jadi aspal beton, Gas Alam, dan berbagai ruas jalan lainnya.

“Beberapa ruas jalan lainnya yang belum selesai, seperti Sawangan, akan selesai setelah dua kali anggaran APBD,” tandasnya.

Saat ini, Dinas PU Depok mulai menggarap penanggulangan banjir di wilayah Taman Duta dan sekitarnya, dengan pembuatan turap setinggi satu meter pada Situ Pengarengan yang letaknya di Perumahan Taman Duta. Situ itu luasnya sekitar 7 hektare dibelah oleh jalan Ir H Juanda..

Proyek turap Situ Pengarengan itu menggunakan APBD 2005 sebesar Rp 918,371 juta, yang sudah dimulai dua minggu lalu (akhir September) dan diperkirakan selesai dalam waktu tiga bulan. “Supaya air tidak berbalik lagi ke hulu, akan digelontorkan ke Kali Baru. Mudah-mudahan dengan cara ini sedikit membantu mengatasi banjir yang ada di wilayah ini dan Bukit Cengkeh,” katanya. (R-8)

Last modified: 4/10/05

Jakarta Targetkan Bebas Genangan 2011

Sumber: http://berita.liputan6.com/ 3 Desember 2010

Liputan6.com, Jakarta: Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta mempercepat pengerjaan drainase Ibu Kota untuk mengejar target Jakarta bebas genangan di akhir 2011. “Kami melakukan percepatan sesuai permintaan DPRD DKI dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang menginginkan 106 titik tersebut selesai pada akhir 2011. Sehingga, pada tahun 2012, Jakarta sudah bebas dari genangan,” kata Kepala Dinas PU Ery Basworo di Jakarta, Jumat (3/12).

Untuk tahun 2010, Dinas PU menambah pengerjaan pelebaran dan normalisasi drainase drainase untuk menampung genangan di 43 titik, naik dari target sebelumnya 33 titik. Dengan demikian, beban untuk tahun 2011 akan lebih mudah yaitu pengerjaan drainase di sisa 63 titik genangan.

Saat ini, pengerjaan pelebaran dan normalisasi drainase disebut Ery sudah mencapai 49 persen dan ditargetkan akan selesai pada akhir Desember 2010. “Dengan adanya pelebaran dan pembersihan drainase di 43 titik genangan tersebut, kami mengharapkan daya tampung drainase bisa lebih besar lagi, dan air bisa mengalir bebas tanpa hambatan karena sudah bersih dari sampah,” katanya.(ADO/Ant)

Pemprov Janji DKI Bebas Banjir Mulai Akhir 2011

Fitriyah Tri Cahyani – Okezone

Sumber: http://news.okezone.com/ 13 Mei 2011  

JAKARTA – Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta menargetkan mampu menyelesaikan genangan jalan arteri dan kolektor di 84 lokasi, tahun ini.

Kepala Dinas PU DKI Jakarta Ery Basworo, menyatakan terdapat 123 lokasi genangan di lima wilayah DKI Jakarta. Dari jumlah itu, 39 lokasi diselesaikan pada tahun anggaran 2010.

Adapun rincian 84 lokasi itu, antara lain Jakarta Pusat sembilan lokasi, Jakarta Utara 15 lokasi, Jakarta Timur 18 lokasi, Jakarta Selatan 24 lokasi, dan Jakarta Barat 10 lokasi.

Penyelesaian genangan air itu, kata Ery, terbagi dalam tiga paket. Paket pertama senilai Rp55 miliar, paket kedua sebesar Rp50 miliar, dan paket ketiga anggarannya masih direncanakan.

“Terdapat delapan lokasi yang diprioritaskan sebab berada di lokasi banyak penduduk,” kata Ery.

Dijelaskan Ery, titik di Jakarta Pusat, bertempat di Jalan Jenderal Sudirman sisi timur (Senopati-Polda), Jalan Jenderal Sudirman sisi timur (Atma Jaya), Jalan Jenderal Sudirman sisi barat (Ratu Plaza), Jalan Jenderal Sudirman (Semanggi), Jalan Bendungan Hilir, Jalan Letjen Suprapto (Wisma Askes), Jalan Letjen Suprapto (Mis Cicih), Jalan Pangeran Jaya Karta (SPBU), dan Jalan Karet Pasar Baru Timur (terowongan Dukuh Atas).

Di Jakarta Utara; Jalan Bandengan Selatan, Jalan Sunter Permai (pengadilan), Jalan Yos Sudarso (Sunter Kirana), Jalan Hidup Baru, Jalan Kramat Raya (Islamic Center), Jalan Peganggsaan Dua (Onyar), Jalan Perintis Kemerdekaan, dan Jalan Yos Sudarso (Ajinomoto). Selanjutnya, Jalan Jembatan Tiga Sisi Barat, Jalan Raya Teluk Gong, Jalan Yos Sudarso (Wali Kota), Jalan Yos Sudarso (SPBU), Jalan Martadinata (Terminal), Jalan Gaya Motor I, dan Jalan Gaya Motor II.

Di Jakarta Timur; Jalan Perintis Kemerdekaan (Pulogadung), Jalan Perintis Kemerdekaan (Mediros), Jalan Perintis Kemerdekaan (SPBU), Jalan DI Panjaitan, Jalan DI Panjaitan-Kali Malang, Jalan I Gusti Ngurah Rai (Pulogadung), Jalan I Gusti Ngurah Rai (Jogya Plaza), Jalan Raden Inten, dan Jalan Raya Penggilingan. Kemudian, Jalan Penggilingan (pertigaan Kantor Wali Kota), Jalan Pramuka (sisi selatan), Jalan Dewi Sartika (SPBU), Jalan Bekasi Raya KM 18, Jalan Otista Raya (Wisma Rini), Jalan Bukti Duri, Jalan Mabes Hankam, Jalan Bekasi Timur IV, dan Jalan Mayjen Sutoyo.

Di Jakarta Selatan, Jalan Gatot Subroto (Jamsostek), Jalan Gatot Subroto (Ujung Muaria), Jalan Rasuna Said (Great River), Jalan Rasuan Said (Kedutaan Turki), Jalan MT Haryono (Pancoran), Jalan Kemang Raya, Jalan Mampang Prapatan-Duren Tiga, Jalan Tendean, Jalan Duren Tiga Heksa Ekalife, Jalan Mampng Prapatan VII, Jalan Tanjung Barat. Selanjutnya, Jalan Panglima Polim, Jalan Hang Jebat dan Hang Lekiu, Jalan Adityawarman, Jalan Mataraman dan Sriwijaya, Jalan Pejaten Barat, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Asem Baris.

Kemudian, Jalan Gudang Peluru, Jalan Iskandarsyah Raya, Jalan Simatupang, Jalan M Kafi, Jalan Iskandar Muda, dan Jalan Veteran. Adapun, di Jakarta Barat, Jalan Peta Barat, Jalan Rawa Buaya-Duri Kosambi, Jalan Ring Road Sisi Timur, Jalan Ring Road Sisi Barat, Jalan Kedoya Raya, Jalan Palmerah Raya Utara, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Mangga Besar Raya, Jalan Daan Mogod, dan Jalan Satu Maret.

Delapan lokasi unggulan, lanjut Ery, bertempat di Jalan DI Panjaitan-Cipinang Cempedak, Jalan DI Panjaitan-Cawang, Jalan Letjen Suprapto-Senen, Jalan Gunung Sahari-Industri, Jalan Gunung Sahari-Viaduk, Jalan Yos Sudarso-Sunter Kirana, Jalan MH Thamrin, dan Jalan Suropati.

Dikatakan Ery, pengerjaan proyek dimulai Juli dan diperkirakan selesai empat sampai lima bulan mendatang. “Kami berjanji November atau akhir tahun tak ada genangan lagi di Ibu Kota,” ujar Ery. (lam)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: