BebasBanjir2015

Strip Rumput

Strip Rumput

F. Agus.

Gambar 9.7. Strip rumput gajah (Penisetum purpureum) sebagai tanaman penguat teras. Foto: F. Agus.

Sistem ini hampir sama dengan sistem pertanaman lorong, namun tanaman pagarnya adalah tanaman rumput pakan ternak. Strip dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 m atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif menanggulangi erosi dan semakin tinggi jaminan ketersediaan pakan ternak (Gambar 1). Strip rumput pakan ternak penting bagi petani yang memelihara ternak ruminansia sebagai penyangga kekurangan hijauan pakan pada musim kemarau. Pada keadaan tertentu, apabila ternak semakin penting, petani bisa saja memilih untuk mengganti tanaman pangan dengan rumput pakan ternak sehingga tegalan berubah menjadi padang rumput.

Penanaman:

  • Bibit rumput ditanam sejajar kontur dan sebaiknya terdiri atas 2 barisan rumput atau lebih tergantung kepada berapa persen lahan akan ditanami rumput. Jarak antar barisan 30 cm dan jarak dalam baris 20-30 cm.
  • Jarak antara strip rumput disesuaikan dengan Tabel 9.1.
  • Jika biji rumput tersedia, penanaman dengan biji memerlukan lebih sedikit tenaga kerja dibandingkan dengan penanaman dengan stek.

Sumber: Fahmudin Agus dan  Widianto (2004). “Petunjuk Praktik Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering “. Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia

Larikan Rumput

Penanaman larikan (strip) rumputan di sepanjang kontur berfungsi untuk mengurangi panjang lereng, memperlambat laju aliran permukaan dan menahan tanah yang tererosi dari bidang olah. Larikan rumput dapat menjadi awal pembentukan teras secara alamiah di lereng  karena terkumpulnya tanah di belakang larikan rumput. Proses ini bahkan sudah terjadi semenjak tahun pertama.

Rumput dapat ditanam di sepanjang dasar dan pinggiran parit untuk menguatkan parit dan mencegah tererosinya lereng di atasnya. Rumput dapat juga ditanam pada tampingan teras bangku untuk mencegah erosi dan memperkuat terasnya. Jarak antara larikan rumput ditentukan oleh kemiringan lereng  dan perbedaan ketinggian (interval tegak. Perbedaan ketinggian antara larikan sebesar 1,25 meter cukup memadai, namun apabila diinginkan jumlah yang lebih tinggi, maka perbedaan ketinggian harus diperpendek. Larikan rumput harus ditata mengikuti kontur. Lebar lahan untuk tiap larikan kira-kira 0,5 meter. Untuk menghindari bibit rumput  yang baru ditanam hanyut terbawa aliran permukaan, maka di sebelah atas larikan perlu dibuat sebuah parit kecil yang dalamnya sekitar 15 cm.

Pada lereng, benih atau anakan rumput ditanam  dalam barisan berganda (dengan jarak 50 cm) di sepanjang kontur dengan jarak antar larikan disesuaikan dengan keadaan lahan. Dalam parit, anakan ditanam dengan  rapat dalam satu barisan. Pada tampingan teras bangku, anakan ditanam dalam polla segitiga dengan jarak 30 x 20 cm.

Untuk mencegah rumput berbunga, menaungi dan menyebar ke bidang tanam di antara teras, rumput perlu dipangkas secara teratur ( setiap 2 – 4 bulan).  Dengan demikian larikan bisa sangat cocok untuk para petani yang memelihara ternak di dalam kandang. Rumput juga dapat digunakan sebagai mulsa di antara tanaman.

Jenis rumput yang  umum digunakan antara lain:  bahia (Paspalum notatum), bede (Brachiaria decumbens), rumput palisade (Brachiaria brizantha), rumput ruzi (Brachiaria ruziiensis), rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput raja (Pennisetum sp), serai (Cymbopogon citratus), setaria (Setaria sphacelata, Setaria anceps dan vetiver (Viteveria zizanioides)

Beberapa tahun terakhir ini  di tingkat internasional rumput vetiver sangat populer  sebagai jenis rumput yang unggul untuk tujuan konservasi tanah dan penguatan tebing. Pemangkasan pertama biasanya dapat dilakukan ketika rumput vetiver telah berumur sekitar 4 bulan terhitung sejak waktu penanamannya. Pemangkasan-pemangkasan berikutnya dapat dilakukan setiap 40 hari pada musim hujan atau setiap 40 – 60 hari pada musim kemarau. Untuk lahan yang akan digunakan untuk budidaya tanaman pangan semusim, sebaiknya larikan rumput hanya digunakan sampai kemiringan lereng 15%.

Keuntungan

  • Tergolong teknik konservasi tanah yang memerlukan jumlah tenaga kerja dan biaya yang rendah.
  • Efektif dalam mengendalikan erosi dan aliran permukaan tanah
  • Menghasilkan rumput untuk pakan ternak atau untuk mulsa
  • Secara berangsur dapat membentuk teras bangku jika dikehendaki.

Kelemahan

  • Pengelolaan larikan rumput memerlukan waktu tenaga kerja
  • Penggunaan potongan rumput sebagai mulsa dapat menjadi  masalah tanaman pengganggu
  • Larikan rumput menggunakan luasan lahan yang juga bisa digunakan untuk tanaman pangan.
  • Tanaman rumput, kecuali vetiver, akan menyaingi barisan utama tanaman yang berjarak sekitar 50 cm dari larikan dalam penyerapan unsur hara, sehingga terjadi penurunan produksi  tanaman utama pada baris   tersebut. Dalam hal rumput yang pertumbuhannya tinggi seperti rumput raja (rumput hasil persilangan antara Pennisetum purpureum dengan Pennisetum americanum), persaingan tersebut itu bukan saja meliputi unsur hara tetapi juga persaingan untuk mendapatkan sinar matahari.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi

Faktor biofisik

  • Tidak sesuai untuk lahan-lahan pada lereng yang sangat miring atau di daerah-daerah yang hujannya lama.
  • Di daerah-daerah yang kering, banyak  rumput yang tidak tahan kekeringan
  • Iklim kering akan membatasi pilihan jenis rumput yang sesuai.

Faktor sosial ekonomi

  • Para petani mungkin tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mengelola rumput dengan baik sehingga rumput menjadi tanaman pengganggu
  • Dalam sistem-sistem pertanian tradisional dengan ternak bebas berkeliaran, para petani mungkin tidak ingin menerapkan teknik pemeliharaan ternak dalam kandang
  • Para petani merasa bahwa rumput menjadi tempat persembunyian tikus yang mengancam tanaman pangan
  • Di banyak lokasi bahan tanaman tidak tersedia
  • Petani yang tidak memiliki ternak mungkin tidak tertarik dengan teknik ini
  • Kerugian produksi tanaman utama karena persaingan dengan rumput.

Sumber: Riri Fithriadi dkk (Penyunting) (1997). Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia; Kumpulan Informasi. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kehutanan.

2 Komentar »

  1. saya tertarik, tapi bagaimana mendapatkannya, di mana, harganya berapa ya?
    saya tinggal di daerah Tangerang.Terima kasih

    Komentar oleh NATAN — Juli 20, 2010 @ 1:16 pm

  2. Saya tertarik ingin membeli setaria…harga? Tempat?
    Saya di surabaya

    Komentar oleh tito — November 3, 2011 @ 7:59 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: