BebasBanjir2015

Adi Yusuf Muttaqin

Pengelolaan Banjir

Oleh Adi Yusuf Muttaqin

Sumber: http://suaramerdeka.com/ 16 Februari 2009

SETIAP Desember dan Januari, sebagian masyarakat Solo kembali dibayang-bayangi banjr. Banjir akhir Desember 2006 dan awal Januari 2007 disebut-sebut sebagai yang terbesar setelah tahun 1966 di kawasan Solo bagian timur dan selatan sepanjang Sungai Bengawan Solo.

Awal 2009 banjir lagi sampai merambah kawasan Solo barat daya dan Solo bagian utara. Masyarakat di kawasan tersebut menyebutnya sebagai banjir terbesar selama 30 tahun terakhir. Artinya hampir setiap tahun di kawasan tersebut mengalami banjir.

Kenapa demikian? Pertanyaan tersebut akan terjawab dengan tesis “Manajemen (pengelolaan) banjir diperlukan analisis yang komprehensif dan berkelanjutan (berwawasan lingkungan)”.

Penulis cenderung menggunakan kata pengelolaan, karena banjir dan genangan adalah bagian sisi yang lain dari sumber air, selain berdaya guna juga berdaya rusak (UU No 7/2004 tentang SDA). Selanjutnya marilah kita tinjau dari sisi kondisi geografis dan sistem drainase Kota Solo.

Kondisi Geografis

Berdasarkan geomorfologi, Kota Solo adalah kawasan yang dilintasi sungai-sungai yang berhulu di Gunung Lawu, Kendeng, Merapi, dan Merbabu. Sungai-sungai tersebut akhirnya bermuara di Bengawan Solo.

Sementara Kota Solo posisinya berada persis di tepian Bengawan Solo yang terdekat dengan hulunya di Pegunungan Selatan. Bisa kita teliti sungai-sungai yang mengalir di Kota Solo, seperti Kali Premulung berhulu di kaki Gunung Merapi melintas di Kabupaten Sukoharjo, Kali Pepe berhulu di Gunung Merapi melintas di Kabupaten Klaten dan Boyolali.

Kemudian kalau kita telusuri ke arah hulu dari Jurug sepanjang Bengawan Solo sampai Waduk Wonogiri mempunyai anak-anak sungai yang memberi kontribusi cukup besar dan cepat dalam meningkatkan debit saat hujan deras dengan durasi yang lama, antara lain: Kali Wingko, Kali Samin, Kali Kembangan, Kali Brambang, Kali Buntungan, dan Kali Jlantah (Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, 2008).

Berdasarkan kondisi geografis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa banjir yang terjadi di sepanjang sungai yang melintas di Kota Solo disebabkan oleh ketidakmampuan palung sungai menerima beban curah hujan, sehingga meluap dan membanjiri sepanjang alirannya, terutama di bagian hilir.

Kalau kita runut lebih ke hulu maka tidak bisa mengesampingkan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) pada masing-masing sungai di atas. Diperkirakan kondisi DAS Kali Premulung, misalnya, sudah terjadi perubahan tata guna lahan yang sedemikian luas di Kabupaten Sukoharjo sehingga mengurangi resapan dan menambah limpasan yang harus ditampung palung sungai.

Demikian juga dengan Kali Pepe dan Kali Gajah Putih, perubahan tata guna lahan di Kabupaten Klaten dan Boyolalai akan menambah beban debit yang harus ditampung, kemudian tidak mampu dan meluap di bagian hilirnya, yaitu di Kota Solo.

Sungai Bengawan Solo dari Bendungan Wonogiri ke hilir sampai Jurug yang menampung 11 anak sungai akan menaikkan tinggi muka airnya dengan sedemikian cepat, sehingga menyumbat aliran Kali Jenes – Pepe Hilir, Kali Tanggul, Kali Boro, dan Kali Anyar. Akibatnya sungai-sungai tersebut sebagai reciving water meluap dan membanjiri daerah aliran sungainya.

Sistem Drainase

Pengertian sistem di sini adalah sistem jaringan drainase di suatu kawasan. Adapun sistem drainase secara umum dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air (banjir) dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Jadi sistem drainase adalah rekayasa infrastruktur di suatu kawasan untuk menanggulangi adanya genangan banjir (Suripin, 2004).

Satu dekade terakhir, dari sisi konsep Pemerintah Kota Solo perlu diberi apresiasi yang baik dalam penyusunan sistem pengelolaan drainase. Telah dilakukan Review Masterplan Drainase Solo Bagian Utara (Bappeda, 2003), Review Masterplan Drainase Solo Bagian Selatan (Bappeda, 2006), Penyusunan Database Sistem Drainase Makro Berbasis Geografi Information System (DPU, 2007), dan Penyusunan Database Sistem Drainase Mikro Berbasis Geografi Information System (DPU, 2008).

Dari sini jelas terlihat komitmen Pemerintah Kota Solo cukup peka dalam mempersiapkan sistem pengelolaan drainase yang terarah dan berkelanjutan (Sustainable Drainage System).

Pada tataran konsep ini dapat diperiksa: pemetaan kawasan banjir/ genangan, kondisi eksiting saluran drainase (dalam visual foto, tabel dan grafis yang dapat diedit dari waktu ke waktu).

Kelemahan penyusunan konsep ini terletak pada ketidaksingkronan persepsi, basis data, dan penggunaan peta dasar, serta penyiapan SDM antara lembaga di atas. Belum lagi kalau kita periksa lembaga/dinas yang lain, misalnya Dinas Tata Kota, BPN, DLLAJ, PDAM, PLN adalah lembaga-lembaga pengelola infrastruktur perkotaan.

Berkelanjutan

Dalam menerjemahkan konsep di atas perlu dilakukan tindakan secara struktural dan non struktural. Tindakan struktural adalah berujud perencaaan, misalnya evaluasi perhitungan debit puncak pada masing-masing DAS, evaluasi kapasitas saluran dan rehabilitasi serta pembangunan fisik, misalnya perbaikan pintu-pintu air, perbaikan tanggul dan parapet, pengerukan sedimen, sampai dengan mewacanakan sumur resapan air hujan dan polder.

Tindakan non struktural antara lain penyiapan SDM pada dinas terkait karena penggunaan perangkat yang berbasis ICT (Information and Comunication Technology), pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam hal pemeliharaan saluran dan fasilitasnya, kesadaran tidak menjadikan saluran dan sungai sebagai tempat buang sampah, serta relokasi rumah di bantaran sungai.

Bagaimana implementasi dari konsep tersebut di atas, paling tidak berdasarkan pengamatan penulis, DPU selaku dinas teknis sejak tahun 2005 telah melakukan perencanaan dan perbaikan fisik pada ruas-ruas tertentu secara bertahap. Namun anggaran pengelolaan sistem drainase masih dianggap sebelah mata oleh pemerintah, DPRD, investor, dan developer di kota dan kabupaten di Indonesia.

Sementara peran serta masyarakat mulai kelihatan dengan ikut memelihara komponen fasilitas drainase seperti pintu air Plalan oleh masyarakat Joyontakan, pintu air Demangan dan Putat oleh masyarakat Gandekan dan Kelurahan Sewu, serta masyarakat di bantaran sungai yang dengan sukarela direlokasi.

Kesimpulan

Banjir sebagai sisi lain dari sumber daya air memang harus dikelola secara komprehensif dan berkelanjutan dengan tindakan struktural dan non struktural oleh seluruh stakeholder dari hulu sampai hilir, lintas kota dan kabupaten.

Seharusnyalah pemerintah dan masyarakat di bagian hulu dengan sadar melakukan revitalisasi DAS dengan memelihara daerah resapan supaya hujan di hulu tidak melimpas begitu saja ke hilir dengan tidak melupakan aturan hukum yang berlaku.

Pemerintah dan masyarakat di bagian hilir secara berkelanjutan mengelola sistem drainase dengan baik sesuai konsep yang telah dirancang dan secara sadar melaksanakannya, karena ada aturan hukum (reward and punishment) yang harus bisa ditegakkan. Banjir tidak bisa dituntaskan, tapi bisa dikelola dengan baik agar tidak menjadi bencana.(62)

— Penulis adalah dosen Jurusan Teknik Sipil FTUNS dan pemerhati infrastruktur perkotaan

5 Komentar »

  1. Pada tulisan tesis pak Adi, berjudul KINERJA SISTEM DRAINASE YANG BERKELANJUTAN BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT, saya tertarik mengenai pemakaian AHP-nya. kira-kira saya bisa membeli buku yang dikarang oleh Sobriyah yang jadi refrensi akan AHP itu apa tidak?
    Mohon bantuannya.
    terima kasih sebelumnya

    Komentar oleh Rif'at — April 29, 2011 @ 10:54 pm

  2. Untuk referensi AHP anda bisa membaca di Pengambilan Keputusan Dengan Kriteria Majemuk oleh Marimin

    Komentar oleh Yusuf Muttaqin — Mei 18, 2011 @ 8:20 pm

  3. saya masih mencari tambahan referensi di sana sini pak,.he2..

    Komentar oleh habib ismail — Juni 6, 2011 @ 7:24 pm

  4. tulisan nya sangat bagus pak,.

    Komentar oleh kandangpitik — Juni 6, 2011 @ 7:52 pm

  5. wahh…mantap..alhamdulilliah solo..masih belum banjir,,,

    Komentar oleh john — Februari 18, 2012 @ 7:10 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: