BebasBanjir2015

Muh. Nur Sangadji

BENCANA BANJIR, PENEBANGAN HUTAN DAN RESPON KITA

(Sebuah Renungan Diakhir Tahun 2003)

Oleh : Ir. Muh. Nur Sangadji, DEA

Sumber: http://www.radarsulteng.com/; Rabu, 24 Desember 2003

Tiba tiba kita tersentak, jalan yang menghubungkan Lembah Napu dan Palolo dengan Kota Palu terputus, sekian jembatan roboh dan banyak kebun rusak. Kerugian ditaksir puluhan milyar. Itupun baru diukur dari nilai jembatan, jalan dan kebun secara fisik. Belum termasuk kerugian akibat terganggu dan terhentinya aktifitas ekonomi masyarakat dan hilangnya sumber nafkah warga. Lalu, tiba-tiba lagi seorang kawan memberi berita via SMS, jalur kebun Kopi terputus. Dan, baru saja beberapa waktu berselang ada lagi berita di Radar Sulteng dan Pro3FM yang lebih dekat, jalur Palu – Tawaili putus Total. Ternyata, jalan Palu Donggala juga putus. Saya merenung, subhanallah, kita sedang di kurung bencana. Hati saya menjadi kian risau, karena itu artikel ini saya tulis.

Membaca Fenomena.

Bebarapa minggu terakhir ini, atmosfir lembah Palu selalu di isi awan hitam pekat berselang selisih dengan turunnya hujan. Padahal, lembah Palu termasuk kawasan terkering di Indonesia dengan curah hujan yang kurang dari 1000 mm per tahun. Selama ini, diyakini bahwa lembah ini hanya mendapat bayang bayang hujan.

Maksudnya, bila ada awan hitam dan proses kondensasi berlangsung, angin membuyarkannya dan atau hujannya akan jatuh di luar lembah. Beberapa decade terakhir ini nampaknya mulai ada anomali (Lihat fenomena awan comololimbus, Radar Sulteng 20 Desember 003). Ingat pada saat pelaksanaan MTQ dahulu, sebagian besar utusan dari luar Sulawesi akan berkesimpulan keliru bahwa kota Palu adalah kota hujan seperti Bogor lantaran selama pelaksaan MTQ, lembah ini tak pernah berhenti diguyur hujan. Minggu-minggu terakhir inipun fenomena itu berulang.

Kalau lembah Palu saja mengalami curahan hujan berlimpah, maka secara awam, dapat disimpulkan, kawasan lain di luar Palu pasti lebih banyak lagi mendapat curahan hujan. Masalahnya kemudian, dari foto satelit dapat diprediksi lebih kurang 10.000 km2 areal pedalaman, diidentifikasi sebagai daerah tangkapan hujan (Cathcmen Area) yang muaranya adalah lembah Palu kita ini. Dengan kata lain, bila hujan jatuh di arel ini maka lembah Palu akan menerima dua akibat.

Pertama, bersifat positif dimana air tanah akan terisi dengan ketentuan element perantaranya (pohon) masih utuh. Kedua, air permukaan akan berlimpah (run off = erosi = banjir = luapan), ketika pohon hilang. Artinya, meskipun tak ada hujan di kota Palu, fenomena ini bisa terjadi. Jadi bisa dibayangkan, kota ini akan mengalami dua ancaman sekaligus, yaitu dari hujan kawasan hulu dan hujan di lembah Palu sendiri. Dampaknya itulah yang kita rasakan saat ini.Analisis Perisitiwa Ikutan.

Seperti biasa, demikian ulasan Dr Basir Cyo di Fokus TVRI Palu, kita lalu akan sibuk mencari kambing hitam dalam setiap peristiwa lingkungan. Saling tuduh salah siapa, lebih mengemuka dari strategis mengambil prakarsa dan mencari jalan keluar yang sustain. Tentu, tidak bisa di hindari ketika kita menyoal penyebab, pasti akan ada indifidu atau kelompok yang tertuduh.

Tapi menurut hemat saya, semuanya harus tunduk pada logika dan hati nurani. Sesungguhnya untuk mengukur sebab-akibat, penyebab banjir dan dampak ikutannya tidaklah sulit. Secara apriori, bisa dilihat dari apakah lokus kejadian bencana berada satu kawasan (Bassin Versint) atau lebih khusus lagi, dalam satu daerah tangkapan hujan (catchment Area) dengan wilayah yang terganggu atau di ganggu. Kalau jawabannya ya, maka tak ada alasan untuk menolak hubungan sebab akibat ini dalam konteks wilayah.

Bahwa seberapa besar kontribusi kawasan terganggu terhadap bencana ikutan (banjir, putus jalan, Jembatan dan hancurnya kebun), secara sederhana bisa dianalisis dari berapa luasan yang tengganggu, kondisi tanah, curah hujan dan lain lain (Lihat formula prediksi erosi USLE). Mungkin tawaran ini bisa memberi solusi yang lebih obyektif dan seimbang untuk menakar misalnya, kasus Dongi Dongi yang banyak dipolemikkan dan atau “illegal loging” lainnya bahkan “legal loging” sekalipun. Sebab, walaupun secara normative berbeda, namun dalam realita lapangan, “illegal dan legal loging” relaitif punya dampak yang tak berbeda. Tapi, analisis tidak boleh berhenti disini, tapi tangkah kongkrit yang sisitematis berkesinambungan dan konsisten perlu di letakan. Menyoal Penyebab Bencana.

Dari pendekatan ilmu lingkungan, diketahui bahwa kejadian berupa anomali alam (bencana) biasanya terjadi secara periodik. Kejadian seperti letusan gunung api, gempa dan termasuk banjir memiliki periode balik tertentu (periode de retour) semisal satu, puluhan, ratusan bahkan ribuan tahunan. Sedangkan kerugian yang ditimbulkannya akan sangat bergantung pada rona ekosistem kawasan, respek, sensitifitas serta kesigapan masyarakat dalam kawasan dan kurun bersangkutan.Bila dimasa lalu, bencana banjir pernah terjadi dan korbannya tidak separah sekarang maka secara hipotetik dapat diduga, kemampuan kawasan penyanggah (carryng Capacity) masih belum terganggu. Untuk Nias misalnya, lebih tiga puluh tahun, hutannya diexploitasi oleh para cukong dengan memanfaatkan penduduk lokal sebagai penunjuk jalan dan pekerja kasar. Suatu kelaziman yang terjadi juga di seluruh negeri kita yang masih banyak hutannya. Maka, secara apriori dapat dipastikan, banjir dan tanah longsor berkorelasi positif dengan penebangan hutan. Hutan yang hilang menyebabkan tingginya limpasan permukaan (run off) yang langsung masuk kesungai bersama butiran tanah yang dapat mendangkalkan sungai dan mendorong luapan air. Jadi, penebangan hutan menjadi kunci tak terbantah penyebab primer terjadinya banjir.

Masalahnya, kita tak berdaya menghadapi aksi pengrusakan lingkungan di depan mata kita sendiri. Seorang anggota LPM dari Poboya mengabarkan bagaimana illegal loging terjadi di pelupuk mata dan tak ada upaya kongkrit yang bisa dilakukan untuk mencegah. Bersamaan dengan kerisauan kita pada bencana banjir, ternyata di hulu sungai Poboya terjadi ekploitasi hutan. Bayangkan, yang dekat dengan kota saja tak tercegah, bagaiamana bila terjadi di tengah hutan belantara yang jauh dari pemukiman.

Penebangan Hutan, Untung Buat Siapa. Memang, patut dimaklumi bahwa kehidupan sering menyodorkan buah simalakama. Di satu sisi, hutan harus di konservasi (fungsi ekologis), namun di sisi lain perlu dieksploitasi untuk kebutuhan ekonomi. Banyak kasus emperik menunjukan betapa kepentingan ekonomi selalu lebih perkasa. Meskipun bila ditelusuri secara jujur, kepentingan ekonomi hutan itupun, keuntungannya buat siapa, masih bisa diperdebatkan. Silahkan periksa semua file proyek SDA di negeri kita, berapa proporsi manfaatnya buat negara, masyarakat dan atau individu. Eksploitasi hutan Kaltim sebagai contoh, pemda Berau hanya memperoleh dana dalam bentuk sumbangan pihak ketiga sebesar Rp 2500/kubik kayu tebangan (Lihat Kompas edisi 4 Agustus 2001). Bandingkan dengan tarulah harga satu kubik yang mencapai satu juta rupiah. Kaltim dengan 14 juta ha luas hutannya memiliki nilai ekonomi kayu sebesar Rp 69 trilyun. Nilai ini sangat kontradiktif dengan nilai ekologis hutan yang hilang akibat eksploitasi sebesar Rp 2.340 trilyun (lihat Kompas 10 Agustus 2001).

Kerugian-kerugian ini bahkan tidak bisa dibandingkan bila diukur dari jejeran mayat dan korban harta di berbagai lokasi bencana. Jadi, secara ekonomi, penebangan pohon hutan tidak menguntungkan baik jangka pendek apalagi jangka panjang dan korbannya selalu adalah masyarakat umum. Maka, sekaranglah saatnya kita perlu berpikir waras. Masyarakat sejak dini perlu mengetahui seberapa besar keuntungan yang didapat dari eksploitasi hutan di wilayahnya. Bagaimana distribusinya untuk pusat, daerah dan atau masyarakat local, individu atau kelompok. Atas dasar itu, mereka mengetahui seberapa manfaat atau kerugian serta konpensasinya. Dan, lebih jauh lagi, mereka berhak ikut dalam proses pengambilan keputusan tentang layak tidaknya sebuah proyak SDA di wilayahnya, tentunya dengan mekanisme yang demokratis dan beradab.

Refleksi Buat Kita

Sinyal alam berupa banjir dan longsor, sesungguhnya telah berlangsung barkali-kali di tempat yang berbeda-beda dengan dampak luar biasa. Tapi sekali lagi, kita belum pernah serius mengurus penyebabnya. Ada baiknya diperiksa kembali secara jujur kawasan hutan kita yang masih tersisa. Berapa luas yang masih ada, bagaimana kondisinya, di mana posisinya dan apakah peruntukannya masih sesuai dengan aktivitas terakhir di kawasan bersangkutan. Mungkin perlu perubahan paradigma, apakah produksi kayu tetap dijadikan primadona ekonomi dan sumber devisa ? Rasa-rasanya klasifikasi hutan menurut teori kehutanan yang selama ini begitu diagungkan perlu ditangguhkan hingga hutan kita pulih. Artinya, kalau mungkin seluruh hutan saat ini dikategorikan sebagai hutan proteksi (moratorium).

Andaikan saja kita semua berpikir waras, holistik dan futuristik dengan pendekatan ekosistem, kita pasti biarkan hutan menjadi sumber kekayaan secara lestari. Caranya sangat sederhana, cukup dengan tidak menebang kayu dalam skala besar oleh HPH dan atau skala kecil tapi terus menerus oleh masyarakat (Legal atau Illegal Logging, sama saja ). Sebagai ganti, kita rangsang pengembangan hutan tanaman. Orang kehutanan perlu malu kepada petani, yang untuk dapat hasil mereka harus menanam, merawat dan menunggu panen. Hutan yang di panenpun harus bisa ditanam dan dirawat, jangan harap gampang dari alam saja. Biarlah hutan alam menjadi penyanggah kehidupan.

Sebab, dengan menjaga hutan, maka keuntungan yang kita peroleh akan sangat luar biasa antara lain : 1). Terjaganya regulasi tata air (hidrologi) dimana sumber air minum akan tersedia dan produksi beras dapat dipertahankan karena sawah selalu mendapat pasokan air dari hulu.2). Tetap tersedianya hasil hutan non kayu seperti rotan, damar, madu, hewan dan bahan makanan lain yang dapat diambil secara lestari.3). Terjaganya flora dan fauna endemik yang nilai ekonomi dan ekologisnya sangat tinggi dan kepunahannya tak tergantikan dengan uang berapun besarnya.4). Sebagai sumber kekayaan ilmiah berupa laboratorium hidup bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang nilainya juga tak terhingga.5). Sumber oksigen yang tak ternilai untuk kehidupan.6). Sumber rosot karbon (CO2) yang nilainya bisa jadi lebih tinggi dari harga kayu bila protokol Kyoto berlaku efektif. Jadi, hanya dengan membiarkan hutan tanpa gangguan, devisa akan mengalir kenegeri kita dimana kompensasi saat ini berkisar 1-30 dollar/1 ton Carbon/ha/tahun.

Bisa dibayangkan, keuntungan yang begitu besar akan hilang sekejab hanya dengan satu tindakan menebang kayu yang keuntungan ekonominya amat sedikit, sesaat dan jelas tidak sebanding. Dan yang lebih parah lagi, penebangan hutan itu tidak cuma menghapus keuntungan lestari tapi sekaligus menyimpan bom waktu bagi bencana yang lebih dahsyat dari yang telah terjadi di Bohorok, Palolo dan Tavaeli dan Donggala saat ini.Rekomendasi. Mungkin sulit menyetop serta merta seluruh aktivitas penebangan hutan, namun langkah taktis secara bertahap dapat segera ditentukan. Langkah itu dapat berupa pertama, mencabut izin HPH bagi melanggar ketentuan yang ada, kedua, tidak memberikan izin konsesi baru bagi HPH lama atau baru. Ketiga, melarang secara tegas pembukaan hutan di kawasan hulu tertentu yang menjadi “Catchment area” bagi daerah persawahan dan perkebunan. Keempat, Mendorong berkembangnya usaha pemanfaatan hasil hutan non kayu. Kelima, mengembangkan dan memanfaatkan hutan tanaman dan bukan hutan alam. Keenam, mendorong pengembangan pertanian konservasi. Ketujuh, menjaga kawasan resapan (Espace libre) di areal perkotaan, DAS dan atau bantaran sungai. Kedelapan, saatnya pemda Donggala dan Kota Palu atas prakarsa Propinsi, duduk bersama, menggali akar masalah buat ditangani bersama. Sembilan, kepada semua saja, mari berhentilah bertindak aniaya terhadap lingkungan. Sepuluh, teruskanlah semua usaha yang dapat menunjang upaya pelestarian alam negeri ini.

Akhirnya kita tinggal memilih, merawat Sumber daya (baca = hutan dan lingkungan) agar regulasi sumber kehidupan tetap terjaga dan atau abaikan saja, untuk menuai mayat dikemudian hari. Maka, Banjir, Palolo, Tavaili dan Donggala telah menjadi musibah “catastrope humain” sekaligus signal alam, pelajaran berharga yang terus berulang buat direnungkan, diinsafi dan diambil langkah bersama. Sebab kita, kata penulis buku Getting to the 21 st Century, David C. Kortem., “hidup dalam sebuah wahana angkasa yang tak punya sekoci penolong. Kita bisa makmur semua atau musnah bersama” (Penulis adalah Pemerhati Lingkungan, Dosen Universitas Tadulako).

Copy Right © 2003 Radarsulteng.Com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: