BebasBanjir2015

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Puisi SBY : “Banjir Tengah Malam”

Banjir datang tengah malam
Menyapu, menerjang, menggilas perdesaan
Tenggelam
Kelam

Adakah ini kutukan Tuhan?
Karena Tuhanku telah begitu bosan?
Bukan
Tak perlu buat seribu alasan

Kawan, jika boleh kubisikkan pesan
Jangan kau rendahkan asma Tuhan
Tengoklah negeri punya hutan
Kau dengar dalam jiwamu, di alam kenyataan
Deru mesin menebas pepohonan
Di tangan-tangan serakah penggundul hutan

Jika nanti malam berganti siang
Dan lereng gersang kembali rindang
Di kejauhan kepodang bernyanyi riang
Dan pucuk-pucuk pinus menari dalam dendang
Bencana tak lagi menerjang
Karena hati telah bertabur kasih sayang
Banjir tengah malam tak lagi datang
Menghilang

Jakarta, 07 Januari 2004
(Dari kumpulan puisi Susilo Bambang Yudhoyono: Taman Kehidupan; 2004)
Sumber: http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2006/06/25/700.html

TRANSKRIPSI KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SEUSAI RAPAT KOORDINASI TERBATAS MENGENAI PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR

RUANG RAPAT TERBATAS, KANTOR PRESIDEN
9 FEBRUARI 2007

Tinjau banjir pada tanggal 2 Februari 2007

Tinjau banjir pada tanggal 2 Februari 2007

Para wartawan yang saya cintai,
Saya akan menjelaskan hasil Rapat Koordinasi Terbatas yang saya pimpin hari ini, yang mengagendakan langkah-langkah penanggulangan bencana banjir, utamanya di tiga Provinsi, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Tiga hal yang kami bahas.

Pertama adalah kegiatan tanggap darurat yang akan dilanjutkan dengan kegiatan rehabilitasi yang sedang dan akan kita lakukan untuk memastikan bahwa, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah telah menjalankan tugas dan kewajibannya dengan tepat.

Yang kedua, kita juga membahas perkiraan iklim dan cuaca seluruh wilayah Indonesia yang harus kita distribusikan kepada para Pimpinan Pemerintah Daerah maupun masyarakat luas, agar apabila menurut prakiraan cuaca kemungkinan bencana banjir itu datang, semua pihak telah siap untuk menanggulanginya.

Dan yang ketiga, bagaimana penanggulangan banjir, khususnya di DKI Jakarta dan sekitarnya pasca bencana banjir pada tahun 2007 ini. Dari itu semua, saya sampaikan kepada saudara-saudara beberapa hal, yang setelah saya mendapatkan laporan dari para Menteri dan pejabat terkait, maka saya tetapkan dan saya instruksikan untuk dijalankan secara seksama ke depan ini.

Pertama, kegiatan tanggap darurat dan rehabilitasi akan terus kita lanjutkan sampai keadaannya benar-benar kembali pulih. Pemerintah Daerah berada di depan dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki dan kemudian Pemerintah Pusat memberikan bantuan kepada daerah yang mengatasi masalah banjir ini. Kita utamakan agar saudara-saudara kita yang berada di tempat pengungsian ataupun tidak mengungsi, tetapi rumah tangganya, lingkungannya belum pulih, itu mendapatkan bantuan makanan, bantuan atau pelayanan kesehatan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan sehari-harinya. Ini prioritas yang kita berikan dalam bentuk bantuan kemanusiaannya untuk mereka. Berlanjut kegiatan ini sampai benar-benar keadaan di masing-masing komunitas di daerah banjir itu pulih sebagaimana semula.

Yang kedua, kita melaksanakan semua upaya untuk memelihara dan memulihkan kehidupan ekonomi dan dunia usaha, utamanya di Jakarta. Mengapa Jakarta? Saudara tahu bahwa skala dan besaran kegiatan ekonomi dan usaha sangat besar dan sangat menunjang kegiatan ekonomi secara nasional. Oleh karena itu, kita harus atasi betul setiap hambatan yang menganggu kehidupan ekonomi dan dunia usaha pasca banjir ini. Kita utamakan adalah untuk memulihkan kembali sektor transportasi, termasuk operasionalisasi dari pelabuhan dan jalan-jalan untuk mendistribusikan logistik, kemudian energi, utamanya adalah listrik dan bahan bakar minyak, perdagangan, utamanya adalah menunjang kebutuhan 9 bahan pokok, termasuk perdistribusiannya, termasuk pembekalan kembali dari tempat-tempat lain ke Jakarta ini.

Sektor industri juga akan kita giatkan, kalau ada masalah-masalah kita atasi, termasuk jasa yang tidak boleh terhenti, apakah jasa perbankan, jasa telekomunikasi, agar sekali lagi transaksi dan kegiatan perdagangan masyarakat bisa segera pulih kembali.

Yang ketiga, kita akan lakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya inflasi. Meskipun dimana pun, di daerah bencana, apalagi terjadi kesulitan di dalam pendistribusian dan pengadaan logistik selalu ada kenaikan harga-harga. Kita bertekad untuk mencegah inflasi yang berlebihan, terutama kita utamakan komoditas yang sangat diperlukan oleh rakyat, beras dan sembako yang lain.

Yang keempat, kita sadar bahwa beberapa gedung sekolah terganggu. Oleh karena itu, kita mengalihkan tempat belajar-mengajar anak-anak kita di tempat-tempat yang lain, tetapi Pemerintah akan terus mengusahakan agar tidak terhenti sama sekali, agar ada keberlanjutan. Sebab kalau kegiatan belajar-mengajar terhenti terlalu lama, itu menimbulkan keengganan bagi anak-anak kita untuk memulai belajar pada saatnya nanti. Oleh karena itu, meskipun tentu tidak sama kegiatan belajar-mengajar dengan kondisi yang normal, tetapi kita upayakan untuk ini bisa terus berlanjut.

Yang kelima saudara-saudara, TNI, Polri, satuan-satuan yang bisa digerakan akan terus membantu upaya tanggap darurat ini sebagai bagian dari bakti TNI atau kegiatan Polri untuk kemanusiaan.

Yang keenam, kita prihatin sebenarnya, karena ternyata ada informasi-informasi yang menyesatkan, bahkan provokatif, ajakan untuk menjarah atau berita dimana-mana terjadi penjarahan yang tidak benar. Saya mendukung pihak Kepolisian untuk menegakan hukum seperti ini, jangan sampailah dalam keadaan seperti ini, masyarakat kita dibikin panik, dibikin resah, bahkan muncul kejahatan-kejahatan yang sebenarnya dapat kita cegah. Informasi harus dikelola dengan baik. Dan saya mengajak sekali lagi saudara-saudara kita untuk janganlah pada keadaan seperti ini menambah beban kita sendiri, yang akhirnya yang mengalami kerugian adalah saudara-saudara kita.

Yang ketujuh, saya seraya menyampaikan terima kasih sebenarnya kepada semua pihak, Lembaga-lembaga Non Pemerintah, para dermawan, para pengusaha yang bersama-sama dengan Pemerintah melakukan berbagai kegiatan, kegiatan kemanusiaan, bakti sosial untuk meringankan saudara-saudara kita yang menderita karena banjir ini. Bantuan dapur umum, makanan, obat-obatan dan lain-lain. Saya mengajak, saya menyeru kepada kaum dermawan, mereka-mereka yang memiliki kemampuan itu untuk terus melanjutkan bantuannya kepada saudara-saudara kita yang memerlukan. Kita hidup bersama-sama, misalnya di DKI Jakarta ini, alangkah tidak baiknya kalau masih di antara penghuni di Jakarta ini yang mengalami kesulitan hidup. Oleh karena itu, saya mengajak, saya menganjurkan, teruslah dengan kesetiakawanan yang tinggi membantu mereka, ringankan beban mereka. Dengan demikian, akan terwujud hubungan kekeluargaan yang baik di antara sesama warga kota.

Saudara-saudara,
Saya ikuti tayangan televisi, bahwa sudah terjadi penyusutan genangan air. Hari-hari sekarang ini, memang hujan lebat tidak datang lagi, tetapi masih banyak tempat-tempat yang harus dibersihkan. Membersihkan tempat itu tentu memerlukan peralatan, memerlukan tenaga. Oleh karena itu, TNI bersama BUMN, saya tugasi untuk membantu pelaksanaan pembersihan tempat-tempat yang terkena banjir kemarin, agar lebih cepat, agar lebih efektif lagi. Saya berharap TNI dan BUMN mengerahkan sumber daya yang ada, yang memang dapat digunakan untuk membantu rakyat untuk misi kemanusian, agar percepatan pembersihan kota, pembersihan tempat-tempat banjir ini bisa dilaksanakan lebih cepat lagi, lebih efektif lagi.

Saya juga memerintahkan untuk melakukan percepatan operasi beras untuk rakyat miskin, karena sangat diperlukan dan saya minta diatur yang baik mekanismenya, tepat sasaran, tepat jumlah dan tentu lebih cepat, lebih baik, karena mereka memang benar-benar memerlukan untuk itu.

Itu adalah langkah-langkah tanggap darurat, langkah-langkah rehabilitasi yang sedang dan akan terus kita lakukan. Dan sekali lagi, saya ingin para Pemimpin Pemerintah Daerah benar-benar berdiri di depan memimpin upaya ini, sehingga posisi Bakornas, posisi Pemerintah Pusat membantu mereka semua dalam mengemban tugasnya.

Yang kedua, sebagaimana saya katakan tadi, Pimpinan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan juga Menteri Perhubungan telah menyampaikan secara gamblang tadi, prakiraan cuaca, prakiraan iklim pada bulan Februari, Maret, April, prakiraan cuaca pada minggu-minggu bulan Februari ini yang dengan gamblang dijelaskan, ada sejumlah daerah yang rawan banjir, karena curah hujan yang tinggi pada bulan-bulan itu. Antara lain memang DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat untuk bulan Februari ini juga Lampung dan Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan juga Sulawesi Utara. Pada bulan Maret, ada pergeseran, tetapi daerah-daerah yang tadi masih cukup tinggi, termasuk Jakarta dan sekitarnya. Kemudian bulan April, ada pergeseran, ada berapa tempat lagi yang nanti akan dikomunikasikan oleh Pimpinan BMG, Departemen Perhubungan kepada jajaran Pemerintah Daerah di seluruh tanah air, kepada masyarakat luas, agar betul-betul waspada.

Dan dengan prakiraan ini, saya menginstruksikan kepada para Gubernur, Bupati dan Walikota, agar benar-benar dipedomani prakiraan cuaca itu, lakukanlah langkah-langkah penanggulangan, langkah-langkah untuk mengantisipasi, apabila banjir itu datang. Dengan demikian, semuanya bisa dilaksanakan secara efektif, secara cepat dan tepat. Demikian juga kepada masyarakat luas, dengan ramalan cuaca, dengan gambaran iklim yang terjadi pada tiga, empat bulan mendatang ini juga bisa menata, mengatur kegiatannya. Dengan demikian, tidak ada satu pun yang terdadak, tidak ada satu pun yang merasa tidak tahu, bahwa akan terjadi curah hujan yang begitu tinggi, termasuk kemungkinan bahaya banjir.

Itu adalah yang kita simpulkan dari prakiraan untuk cuaca dan iklim pada minggu-minggu ini dan bulan-bulan mendatang.

Saudara-saudara,
Yang ketiga adalah bagaimana kita melakukan pembenahan atau penanggulangan secara lebih menyeluruh terhadap kemungkinan bencana banjir di negeri kita, terutama di DKI Jakarta. Kalau saya menggarisbawahi DKI Jakarta atau Jabodetabek, itu bukan apa-apa, karena penduduknya yang begini besar, 10 juta lebih katakanlah, dengan segala macam aktivitas yang terjadi di DKI Jakarta ini, maka tentu disamping Pemerintah Daerah mestinya, Pemerintah Pusat juga memberikan atensi yang sungguh-sungguh. Sama sebetulnya dengan atensi kita menghadapi tempat yang lain, tetapi konsentrasi manusia, kegiatan ekonomi, pemerintahan, bisnis dan lain-lain begitu besar di DKI Jakarta ini. Maka kita sudah saatnya untuk benar-benar melaksanakan langkah-langkah yang sangat serius dan terpadu, dan menyeluruh untuk menanggulangi banjir di DKI Jakarta ini.

Semua orang tahu sebenarnya, mengapa tiap tahun Jakarta langganan banjir? Ada teori siklus 5 tahunan. Kita tahu mengapanya. Kita pun juga tahu solusinya. Bahkan tahun 2002 dulu, ketika banjir juga datang, meskipun skalanya dari segi curah hujan tidak setinggi sekarang ini, 5 tahun yang lalu itu sudah dilakukan satu pembicaraan yang mendalam waktu itu, meskipun belum berbentuk masterplan, tetapi sudah ada ancang-ancang bagaimana menanggulangi bahaya banjir secara menyeluruh, termasuk alokasi anggaran yang diperlukan. Karena 10 tahun gambarannya seperti ini, sejak 5 tahun terakhir, 2002 itu sampai sekarang juga seperti ini, maka Pemerintah berketetapan dan kemarin juga sudah saya komunikasikan secara informal dengan Pimpinan DPR RI, dengan Pimpinan DPD RI untuk betul-betul mengimplementasikan apa yang sudah lama dipikirkan oleh kita semua. Sebuah upaya penanggulangan banjir secara struktural, terpadu, hulu-hilir, kemudian dilaksanakan, tentu secara intensif berdimensi jangka menengah, karena memerlukan waktu untuk melakukan konstruksi dan langkah-langkah yang fundamental dan tentunya dengan anggaran yang cukup.

Anggarannya barangkali cukup besar, meskipun harus kita hitung kembali sekian trilyun mestinya, tetapi ini sudah kita pertimbangkan. Banjir yang terjadi di ibukota minggu lalu, yang sekarang masih kita rasakan pengaruhnya, ada yang disebut dengan opportunity lost yang besar, yang nilainya juga trilyunan. Kalau itu terjadi tiap tahun, bisa dibayangkan 10 tahun berapa besar secara agregat, secara akumulatif opportunity lost ini. Berapa belas trilyun, berapa puluh trilyun yang hilang? Oleh karena itulah, kita akan hitung secara cermat nanti, anggaran pusat, anggaran daerah, Pemerintah dengan DPR RI, dengan DPRD untuk memastikan bahwa masterplan ini mendapatkan anggaran yang cukup dan dengan demikian bisa kita jalankan. Masih ada satu faktor lagi, dukungan masyarakat, dukungan publik. Kalau semua sepakat untuk mencegah tergenangnya Jakarta harus kita alirkan, kita kanalisasikan dengan membangun, misalkan Banjir Kanal Timur misalnya, maka kita sepakat mari kita jalankan. Biayanya ada, rencananya ada, pembebasan tanahnya harus berjalan.

Saya mengetuk hati semua pihak, agar marilah kita bersatu untuk menyelamatkan semuanya, menyelamatkan kita semua dengan cara janganlah menambah persoalan dengan menciptakan kondisi, sehingga pembebasan tanah itu tidak dapat dijalankan. Saya minta memang, sebagai koreksi atas apa yang terjadi di waktu yang lalu, pembebasan tanah itu tidak terbuka, tidak transparan, ada korupsinya, ada penyimpangannya, ada yang mungut sana, munggut sini, jangan terjadi lagi. Betul-betul rakyat diberikan ganti rugi yang tepat, yang wajar, bebaskan dari spekulan. Dengan demikian, penggal-penggal yang belum bisa dibebaskan bisa kita bebaskan, Banjir Kanal Timur dapat kita bangun, selamatlah Kota Jakarta. Demikian juga yang lain-lain, yang tentunya akan dimatangkan semua nanti untuk mengimplementasikan rencana ini.

Akhir minggu ini, Wakil Presiden dengan Gubernur-gubernur terkait dan pihak terkait akan sudah mulia membahas langkah-langkah ini. Dan pada saatnya nanti, setelah tanggap darurat ini selesai, kita utamakan ini dulu, kita atasi dulu, maka kita akan segera membahas secara serius apa yang akan kita lakukan dalam jangka pendek dan jangka menengah untuk menyelamatkan DKI Jakarta dengan sekitarnya yang terus terang menjadi langganan banjir tiap tahunnya, tiap 5 tahunnya.

Itulah saudara-saudara, yang dapat saya sampaikan dan barangkali ada satu, dua pertanyaan yang mengait kepada lingkup dan level saya. Saya persilakan.

Sdri. Nova LN, Investor Daily
Terima kasih, saya Novi dari Investor Daily. Terkait dengan bencana banjir yang terjadi di Jakarta, apakah Pemerintah menyatakan bencana ini sebagai bencana nasional atau tidak? Terus pertanyaan kedua, saat ini banyak industri yang tutup karena banjir. Apakah Pemerintah memberikan keringanan bunga dan cicilan kepada para pengusaha yang mengalami musibah itu atau bagaimana Pak?
Terima kasih

Presiden Republik Indonesia
Pemerintah DKI Jakarta masih dapat berfungsi dengan baik, masih bisa mengemban tugas-tugasnya. Dengan demikian, kita tidak mengangkatnya menjadi masalah bencana nasional dalam arti diambil oper oleh Bakornas, tidak. Meskipun status ini, mesti pastikan nanti dalam rencana Undang-Undang tentang bencana alam yang sedang kita godog bersama DPR, karena akhirnya setiap bencana, isunya itu, nasional atau bukan. Kita memilih, kita lihat apakah pemerintah daerah masih efektif atau tidak, dapat berfungsi atau tidak, lumpuh atau tidak. Kalau iya, resources-nya masih ada jalankan itu semua. Kecuali kalau skalanya besar sekali, seperti di Aceh dulu lumpuh, tidak ada apa-apanya, Pemerintah Pusat mengambil alih.
Dalam konteks ini, sekali lagi Pemerintah DKI dan Pemerintah Jabar, Pemerintah Daerah Banten bisa menjalankan tugasnya, Bakornas membantu, merapat untuk memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan. Perkara apakah ada policy khusus, insentif khusus, keringan khusus, pada prinsipnya kalau itu namanya bencana, musibah, first major, itu selalu ada solusi. Saya tugaskan tentu kepada Menteri-menteri terkait untuk membicarakannya dengan pihak dunia usaha secara wajar, secara pantas. Dengan demikian, diharapkan tidak mematikan usahanya di waktu yang akan datang, karena cukup banyak, ada sektor perhubungan, industri, jasa dan lain-lain.

Termasuk, waktu saya jalan kemarin, ada beberapa hektar sawah yang terendam air, tentunya harus kita hitung. Yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, saya mungkin hanya sekian puluh hektar, tapi seluruh Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta berapa hektar, seluruh Indonesia berapa hektar banjir ini, tentu akan menganggu jumlah produksi yang dihasilkan oleh sawah kita, padi kita pada bulan-bulan mendatang. Ini menjadikan kalkulasi berapa stok yang perlu kita pertahankan, agar tidak kekurangan besar. Kalau berasnya pun ada, tetapi jumlahnya sedikit tentu harganya sangat mahal. Saya tidak ingin, rakyat jadi korban karena tidak bisa membeli beras atau kalau membeli beras harganya terlalu mahal. Semua upaya kita lakukan untuk memastikan stoknya cukup dan kemudian dapat didistribusikan dengan baik, dengan harga yang terjangkau. Itu termasuk juga bagaimana kebijakan yang kita olah ke depan ini dalam rangka mengatasi hambatan ekonomi yang tadi sudah diangkat.

Sdr. Wisnu Nugroho, Kompas
Saya Wisnu Pak dari Kompas. Pertanyaan saya, untuk masyarakat kebanyakan, masalah banjir ini kan sebenarnya sederhana, soal air yang tidak tersalurkan sampai ke hilir, sekarang kita punya aturan yang membuat harus tidak ada bangunan atau tidak ada hal yang menghambat air itu sampai meluber. Pertanyaan saya, apakah direncanakan juga oleh Pemerintah selain membuat Banjir Kanal Timur, membersihkan atau paling tidak memperlebarkan sungai-sungai yang sebenarnya secara alam sudah memberikan solusi bagi kita untuk mengatasi banjir itu?

Presiden Republik Indonesia
Baik, itu faktor yang penting, tapi bukan satu-satunya faktor. Khusus banjir yang terjadi di DKI Jakarta pada bulan ini, terus terang curah hujan yang begitu besar, lebat pada minggu-minggu ini. Yang kedua, pasang naik dari permukaan air laut, karena pasang menolaklah aliran yang datang dari darat, kemudian curah hujan di hulunya, di wilayah Bogor juga tinggi. Mengapa air naik? Nanti akan ada ceritanya sendiri dengan climate change, akan bicara di waktu yang akan datang, fenomena alam sedunia karena climate change yang terjadi dimana-mana, termasuk yang akan memberikan dampak yang luar biasa untuk negeri kita, tapi ada faktor itu.

Ada faktor-faktor yang lain, sebagaimana yang saudara sebutkan pendangkalan sungai-sungai yang saya lihat sendiri di Ciliwung, di Cisadane yang mestinya tidak boleh sungai membelah kota begitu dangkal, sehingga sedikit dapat tumpahan air, bludak, jadi banjir. Sistem drainase, semua selokan yang tersumbat, mungkin karena beban sampah atau ketidakdisiplinan apapun itu juga faktor. Kemudian resapan air yang kurang, karena KDB yang barangkali yang tidak dipenuhi dengan baik, tentunya solusinya harus ada rumah-rumah yang vertikal dan bukan horizontal. Lantas, banjir kanal itu sendiri yang mesti kita bangun, lantas bagaimana penghijauan terjadi di sisi hulu. Tetapi kalau penghijauan mesti ada biaya, apakah biaya itu sepenuhnya dari Kabupaten Bogor atau kita share, Pemerintah DKI Jakarta sebagai hilir, Pemerintah Pusat. Ini persoalan-persoalan teknis yang nanti akan masuk dalam masterplan yang kalau kita jalankan tentu, harapan kita sudah mengatasi semua masalah-masalah yang ikut menyumbang terjadinya banjir atau besarnya banjir dengan kerusakannya yang ada di tempat kita ini. Jawabannya iya, itu termasuk apa yang akan kita perbaiki dan kita tanggulangi.

Sdr. Tomy, Jawa Pos
Saya Tomy dari Jawa Pos. Ada usulan untuk memindahkan ibukota negara atau pemerintahan keluar Jakarta, apa tanggapan Bapak Presiden?

Presiden Republik Indonesia
Saya tidak boleh memberikan komentar terlalu dini. Memindahkan ibukota dari Jakarta itu barangkali di satu sisi mungkin bisa menghindarkan diri dari masalah-masalah struktural, masalah fundamental yang ada di Jakarta. Tapi bisa dibayangkan juga masalah-masalah lain dari segi sumber daya, pendanaan dan lain-lain. Oleh karena itu, silakan ada yang punya pendapat A, B, C, ini demokrasi, ini tempat untuk kita menyatukan pemikiran, gagasan yang intelektualitas kita. Tapi sebagai Kepala Negara, saya tidak akan terlalu cepat memberikan statement apakah itu feasible atau tidak, tepat atau tidak tepat, tetapi bayangan saya tentu ada kompleksitas tersendiri untuk memindahkan ibukota kita ini ke tempat yang lain.

Dulu pernah ada gagasan, memindahkan ke Jonggol, sebagaimana Malaysia memindahkan dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Tapi apakah Jonggol sekarang masih feasible , ini juga perlu kajian lebih lanjut lagi. Ide itu kita dengar, tetapi mari kita pusatkan dulu untuk mengatasi ini dan tentu dalam proses demokrasi kita bisa berkomunikasi lebih lanjut lagi.

Terima kasih para wartawan.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.

Sumber: http://www.presidensby.info/index.php/pers/presiden/2007/02/09/228.html

Presiden ke Kantor Pemda DKI Jakarta; Perlu Respon Cepat untuk Atasi Banjir Jakarta

Presiden SBY didampingi Gubernur DKI Fauzi Bowo melihat situasi Jakarta di Ruang Pola, Kantor Pemda DKI, Selasa (5/2) siang. (foto: abror/presidensby.info)

Jakarta: Perlu mekanisme penanganan cepat atau quick response bila terjadi banjir besar di Jakarta, seperti yang baru saja terjadi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan hal itu usai mendengar paparan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, di Balai Kota Pemda DKI, Selasa (5/2) siang.

“Pendekatan Bapak Presiden, pertama, adalah quick response. Kalau sampai terjadi (banjir), supaya segera ada upaya penanggulangan yang konkret. Jangan sampai terjadi lagi akses ke bandara terputus,” Fauzi Bowo menjelaskan, usai acara pemaparan.

Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, menambahkan, Departemen Pekerjaan Umum, Pemda DKI), dan Jasa Marga telah melakukan koordinasi jika terjadi curah hujan luar biasa. Ketika instansi ini menjamin dalam waktu lima jam akses ke bandara akan kering kembali sehingga tidak terputus lama seperti pengalaman kemarin. “Bagaimana caranya? Jasa Marga sudah mengadakan pengadaan pompa emergency dalam jumlah yang besar dan kapasitas yang tinggi, sehingga air tidak akan tergenang terlalu lama,” kata Foke.

Untuk solusi jangka menengah, lanjut Foke, Jasa Marga akan membangun jalan layang sepanjang 7 kilometer di jalan tol Soediatmo. Jalan layang ini dibangun di kawasan yang dianggap relatif rendah.

Kepada Presiden SBY, Foke juga melaporkan rencana jangka menengah untuk menyelesaikan Banjir Kanal secepatnya. “Itu direstui oleh Bapak Presiden, bahkan Bapak Presiden juga sudah memerintahkan supaya mengerjakan bagian-bagian Banjir Kanal yang bisa didahulukan. Kemudian Banjir Kanal Barat akan kita revitalisasi, termasuk muara-muara sungai. Tadi Bapak Presiden juga menekankan perlunya menindaklanjuti komitmen revitalisasi situ-situ dan embung yang ada di selatan Jakarta,” lanjutnya.

Kajian-kajian yang berlangsung, kata Foke, juga perlu ditindak lanjuti, antara lain kemungkinan menghubungkan Sungai Ciliwung dengan Banjir Kanal Timur. “Sekarang sungai Ciliwung itu mengalir ke Banjir Kanal Barat. Kajian ini harus kita teruskan, dalam waktu singkat akan ada opsi mana yang kita pilih,” Foke menambahkan. Dengan juga mengalirkan sungai Ciliwung ke Banjir Kanal Barat, beban akan terbagi.

Selama 18 tahun terakhir, permukaan tanah di Jakarta turun sekitar 40 cm. “Bahkan ada bukti di tempat-tempat tertentu di Jakarta terjadi penurunan permukaan tanah dalam skala yang sangat signifikan, sampai 1,2 meter untuk kurun waktu 20 tahun. Ini sangat memprihatinkan, antara lain disebabkan oleh penyedotan air dalam secara besar-besaran,” Foke menjelaskan..

Presiden SBY minta Pemda DKI menyesuaikan peraturan daerah yang ada, kemudian juga menjamin subtitusi pasokan air bersih, supaya penduduk tidak perlu lagi memompa air tanah. Untuk itu perlu pengamanan supply air baku melalui Banjir Kanal Barat dari bendungan Jatiluhur ke Jakarta. “Presiden meminta koordinasi ditingkatkan dan supaya air bersih ini juga diamankan untuk seluruh kota Jakarta,” kata Foke. Setiap bangunan di Jakarta wajib membangun sumur resapan.

Hadir mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja ke Pemda DKI ini, antara lain, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Menkominfo M.Nuh, Menkes Siti Fadillah Soepari, Mendag Mari Elka Pangestu, dan Kepala BMG Sri Woro, serta Jubir Presiden Andi A.Mallarangeng. (nnf)

Sumber: http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/02/05/2728.html

Presiden Soal Banjir: Harus Ada Solusi, Walau Anggaran Besar

mukhlis/presidensby.info)

Presiden SBY berdialog dengan pengungsi korban banjir di Kelurahan Baru, Bekasi, Minggu (4/2) siang. (foto: mukhlis/presidensby.info)

Bekasi: Sudah saatnya harus ada solusi terpadu untuk mengatasi banjir yang tiap tahun terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Walaupun anggarannya besar, tapi ini untuk keselamatan rakyat kita. Hal itu ditegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu (4/2) siang, saat melakukan peninjauan lokasi banjir di Kelurahan Kota Baru, Bekasi, Jawa Barat.

Dalam pengarahannya, Presiden SBY meminta agar Muspika Kota Bekasi dalam memberikan informasi dan imbauan tidak membuat panik masyarakat, “Masyarakat jangan dibuat panik, tapi waspada, dan jelaskan bahwa hujan masih ada. Di daerah hulu masih deras hujannya, mungkin belum surut airnya. Terus dihimbau tempat-tempat yang dirasa tidak aman, lebih baik di tempat pengungsian. Kalau terpaksa tidak mau pindah karena menganggap biasa-biasa saja, yakinkan betul bahwa itu dipantau siang dan malam. Jadi kalau ada apa-apa, ada kenaikan air, bisa diselamatkan,” ujar Presiden SBY.

Selain itu, Presiden SBY juga meminta masalah bantuan makanan dan obat-obatan bagi korban banjir diperhatikan. “Saya tidak ingin mendengar ada yang kelaparan,” katanya. Bantuan kepada korban banjir dan pengungsi ada yang dari pemerintah daerah maupun provinsi. Pemerintah pusat juga memberikan bantuan. “Nanti dilihat seperti apa yang kita bisa bantu sesuai dengan yang dibutuhkan,” Presiden menambahkan.

Presiden meminta aparat keamanan untuk terus memantau rumah dan harta benda pengungsi korban banjir. “Selamatkan, amankan, harta benda masyarakat yang meninggalkan rumahnya karena mengungsi. Kemudian terus pantau ramalan cuaca siang dan malam,” kata Presiden.

Presiden SBY sangat senang karena banyak warga –-bahkan juga pengusaha– yang spontan dan ikhlas membuka dapur umum, membantu melakukan evakuasi. ”Ini adalah hal yang baik, yang penting kita utamakan dulu keselamatan jiwa, bantu makanannya, bantu obat-obatan, ganti pakaiannya yang hilang. Nanti kalau sudah surut airnya, sudah saatnya kita lakukan sesuatu, karena tiap tahun banjir, tiap lima tahun banjir besar. Harus ada solusi terpadu antara Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Dengan demikian kita bisa cegah banjir lebih baik lagi, walaupun anggarannya besar, tetapi ini untuk keselamatan rakyat kita,” kata Presiden.

Presiden menjelaskan, akibat pemanasan global, terjadi perubahan iklim, termasuk di Indonesia. “Bangsa Indonesia harus tahu dan menyelamatkan diri dengan cara memperbaiki lingkungan, memperbaiki kanal-kanal, saluran-saluran air, supaya tidak banjir lagi,” Presiden menuturkan.

Dalam peninjauan kali ketiga ini (sejak Jumat), Presiden SBY didampingi Mensos Banchtiar Chamsyah, Menhub Hatta Radjasa, Menteri PU Joko Kirmanto, dan Seskab Sudi Silalahi. Presiden dan rombongan langsung meninjau dapur umum untuk melihat langsung proses bantuan makanan bagi pengungsi.

Kemudian Presiden SBY didampingi Ibu Negara memberikan bantuan dua truk berisi mie instan, minyak goreng, obat-obatan, serta pasta gigi. Jumlah pengungsi korban banjir di Kelurahan Kota Baru, Kota Bekasi, ini 11.800 orang, yang tersebar di 20 kelurahan, dan belum ada korban jiwa. (win)

Sumber: http://www.presidensby.info/index.php/km0/2007/02/05/37.html

SBY pun Terjebak Banjir

Ganti kendaraan

Ganti kendaraan. Sumber: http://sanyasyari.com

Presiden SBY terpaksa pindah ke mobil Paspampres karena dihadang banjir setinggi lutut di kawasan Sarinah, Jakarta, sepulang dari sidak di Karawang, Jumat (1/2) siang. (foto: abror/presidensby.info)

Jakarta: Dalam perjalanan pulang setelah melakukan sidak di Pasar Baru Karawang, Jawa Barat, menuju Istana Kepresidenan, Jumat (1/2) siang, rombongan Presiden Susilo Bambang terjebak kemacetan akibat hujan deras, dan banjir, yang mengguyur Jakarta sejak malam sebelumnya. Bahkan ketika rombongan Presiden SBY berada di depan Sarinah di jalan MH Thamrin, mobil Presiden SBY terhenti karena tidak dapat melewati genangan air setinggi lutuk orang dewasa.

Setelah berhenti beberapa saat, akhirnya Presiden SBY memutuskan untuk turun dari mobil sedan berpelat RI-1 dan pindah ke mobil Jeep milik Paspampres yang lebih tinggi. ”Presiden SBY juga manusia biasa, sama dengan orang-orang yang lain. Kalau banjir, Presiden juga ikut kena,” kata Jubir Presiden, Andi Mallarangeng. ”Kebetulan mobil yang ditumpangi Presiden tidak memungkinkan untuk melewati genangan air yang cukup tinggi, sehingga SBY harus turun dan pindak ke mobil yang lebih tinggi. Bila Presiden tetap memaksakan mobilnya menerjang banjir, maka nantinya akan mogok di tengah jalan,” Andi menjelaskan.

Saat ini, rombongan Presiden SBY telah tiba di Istana Kepresidenan. Hujan yang mengguyur Jakarta sejak Kamis (31/1) malam mengakibatkan beberapa ruas jalan di Jakarta mengalami kemacetan luar biasa akibat banjir dimana-mana. Bahkan di beberapa tempat, pohon-pohon tumbang akibat hujan disertai angin yang cukup kencang. Pohon di depan Gedung Sekretariat Negara, di jalan Majapahit, juga pohon di halaman samping kiri-depan Istana Negara juga tumbang. (win/osa)

Sumber: http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/02/01/2719.html

Ketua DPR bertemu Presiden, Tiga RUU Untuk Antisipasi Bahaya Banjir

Jakarta: Tiga Rancangan Undang – Undang (RUU) yaitu RUU Pemerintahan Ibukota, RUU Bencana Alam, dan RUU Tata Ruang, menjadi salah satu syarat yang harus diupayakan sebagai landasan hukum untuk mengantisipasi bahaya banjir di masa mendatang. Demikian dikatakan Agung Laksono, Ketua DPR-RI kepada wartawan di ruang pers, usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Rabu (3/02) pagi.

abror/presidensby.info

Presiden SBY hari Rabu (7/2) siang menerima Agung Laksono, Ketua DPR-RI, di kantor Kepresidenan. (foto: abror/presidensby.info

“Saya sebagai Ketua DPR-RI bersama Presiden membicarakan untuk bagaimana mempercepat selesainya beberapa RUU yang bisa dijadikan landasan dalam rangka mengantisipasi bahaya banjir di masa – masa mendatang. Upaya untuk mencegah atau mengurangi, mengendalikan kemungkinan banjir yang setiap tahun datang akibat curah hujan. Biasanya, ada tiga faktor pada saat yang bersamaan, curah hujan di Jakarta tinggi, banjir kiriman dari Puncak, Cianjur, debitnya luar biasa. Akibat resapan air terganggu, kemudian air pasang. Bagaimana cara mengantisipasinya, ada beberapa hal yang perlu kita buka. Antara lain resapan air di hulu ditingkatkan, debitnya diatur di pintu air keluar di laut. Kesemuanya ini memerlukan koordinasi. Koordinasi ini sebetulnya ada dalam pasal – pasal RUU Pemerintahan Ibukota, “ kata Agung.

Langkah yang diperlukan juga, menurut Agung, misalnya saja perlu ada koordinasi bagi pemerintah provinsi di tingkat Gubernur DKI – Jawa Barat – Banten. Pembangunan banjir kanal timur diselesaikan lebih cepat, pengaturan tentang pintu air dari hulu dan sebagainya dimana kesemuanya itu tertuang di dalam RUU Pemerintah Ibukota.

Agung juga menjelaskan bahwa langkah – langkah untuk tanggap darurat pasca bencana alam itu juga diatur dalam RUU lainnya, yaitu RUU Bencana Alam yang masih ada di DPR, serta RUU Tata Ruang. “Jadi ada 3 RUU yang terkait langsung dengan upaya – upaya kedepan dalam rangka menangani secara serius, secara hati – hati tetapi cepat dan ada landasan hukumnya. Maka sebaiknya ada upaya – upaya untuk mengakselerasi selesainya RUU tersebut. Karena itu perlu ada koordinasi yang baik antara pemerintah dalam hal ini Presiden dan DPR, dari berbagai pansus yang ada, sehingga 3 RUU tadi yaitu RUU Bencana Alam, RUU Tata Ruang dan RUU Pemerintahan Ibukota, “ jelas Agung.

Menurut Agung, RUU Pemerintahan Ibukota ini tidak hanya untuk kepentingan dalam rangka mencegah bahaya banjir di ibukota, tapi juga dibicarakan masalah mengatasi kemacetan, dan juga untuk daerah – daerah lain dan pengendalian konversi lahan dari lahan hijau ke lahan industrial estate. “Akibat dari otonomi daerah ini terjadi perubahan – perubahan yang begitu cepat, tanpa mempertimbangkan dampaknya secara regional maupun secara nasional. Di sini pentingnya undang – undang tersebut. Jadi akselerasi adalah salah satu upaya yang menunjukkan keseriusan ke depan dalam upaya mengatasi berbagai bencana yang mungkin terjadi lepas dari ulah manusia, “ kata Agung. ( nnf )

Sumber: http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2007/02/07/1553.html

Pengarahan Penanganan Bencana Banjir di Jember

TRANSKRIPSI PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DI KANTOR KECAMATAN RAMBI JAMBI POSKO BANTUAN PENGUNGSI BENCANA BANJIR JEMBER, JAWA TIMUR, 5 JANUARI 2006

Bismillahirahmanirahim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Saudara Wakil Ketua DPD Republik Indonesia,
Saudara Gubernur Jawa Timur dan para Pejabat dan Pimpinan Daerah Jawa Timur, Saudara Bupati Jember, para Pejabat Pemerintah,
Hadirin sekalian yang saya hormati,

Meskipun bangsa dan negara kita masih menghadapi berbagai musibah dan cobaan, marilah kita tidak lupa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kita masih diberikan kekuatan dan kesehatan, baik lahir maupun batin untuk terus mengemban tugas dan pengabdian kita pada masyarakat, bangsa dan negara.

Hari ini saya berkunjung ke Jember untuk melihat dari dekat musibah yang terjadi di wilayah ini, dan tentunya untuk memastikan bahwa jajaran pemerintah baik pusat, maupun propinsi dan kabupaten telah menjalankan tugas dan kewajibannya sebagaimana mestinya, sekaligus saya akan melihat apakah masih ada yang harus kita bantu dari pusat, agar daerah dapat melakukan langkah-langkah tanggap darurat yang tentu dilanjutkan dengan langkah-langkah rehabilitasi dan rekonstruksi dengan baik.

Minggu ini, kita mengalami dua musibah, yang pertama di Jember dan yang kedua di Banjarnegara. Seperempat jam yang lalu saya masih berkomunikasi dengan Menko Kesra, Menteri Sosial dan di sana juga ada Ketua DPR RI yang juga melihat bencana alam yang terjadi di Banjarnegara. Nampaknya desa itu betul-betul tertutup oleh longsoran tanah, sehingga hanya kelihatan atap-atapnya. Perkiraan korban hampir mencapai 100 jiwa, dan langkah-langkah sebagaimana yang dilakukan di Jember dua hari, yang sekarang juga terus dilakukan di Banjarnegara. Sementera itu di Jakarta, Wakil Presiden sore ini memimpin rapat Bakornas untuk melakukan langkah-langkah, mengkoordinasikan secara nasional apa yang perlu kita lakukan. Dan melalui forum ini di sini ada para wartawan, meskipun nanti resmi, saya akan keluarkan instruksi kepada seluruh gubernur, bupati, walikota di seluruh tanah air.

Saya meminta, karena menurut ramalan dari Badan Metereologi dan Geofisika bahwa bulan Desember, Januari dan Februari tahun ini curah hujan cukup tinggi, kemudian nampaknya karena faktor cuaca, sejumlah bencana alam bisa saja terjadi. Oleh karena itu, para pimpinan daerah agar segera malakukan langkah-langkah antisipasi, langkah-langkah pencegahan, dan apabila tidak bisa dielakkan terjadi bencana itu, langkah-langkah penanggulangan yang tepat. Para pimpinan daerah bersama-sama masyarakat harus mengetahui daerah-daerah yang labil atau tidak stabil, daerah-daerah yang tanahnya mudah bergerak, daerah-daerah dari tahun ke tahun selalu ada bencana, apakah tanah longsor, apakah banjir maupun bentuk-bentuk bencana yang lain. Dengan pertimbangan itu, harapan saya lebih banyak yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi dan mencegahnya.

Saya minta pula kesadaran dan dukungan dari masyarakat luas untuk bersama-sama melakukan langkah-langkah antisipasi dan pencegahan. Apabila pemerintah daerah bersama-sama dengan tenaga ahli atau pakar mengatakan daerah ini sementara tidak aman, saya minta kesadaran masyarakat untuk juga memenuhi apa yang diarahkan oleh pimpinan daerah untuk sementara melakukan, barangkali pemindahan tempat, dan setelah aman kembali lagi. Pendek kata, saya persilahkan kepada para gubernur, bupati dan walikota, utamanya pada tingkat kabupaten dan kota untuk melakukan semua hal. Apa yang bisa kita lakukan, agar yang bisa kita antisipasi, antisipasi, yang bisa kita cegah, kita cegah, untuk mencegah jatuhnya korban yang tidak perlu. Kejadian di Jember dan Banjarnegara memang yang khas dan di luar dugaan seperti ini besaran dari bencana itu.

Oleh karena itu, sebagaimana yang saya sampaikan dua hari yang lalu, dan sebagaimana yang dilaporkan oleh Saudara Gubernur kepada saya, yang penting dan alhamdulillah, laporan saya dan Saudara Bupati sudah dikerjakan. Dan sekali lagi, yang penting, lakukan langkah-langkah cepat, langkah-langkah tanggap darurat. Yang meninggal segera kita makamkan dengan baik, yang sakit dan luka-luka, jumlahnya limapuluh orang, dirawat dengan benar, tenaga medis yang benar, dengan obat-obatan yang memadai. Kemudian yang ada di daerah pengungsian, lakukan langkah-langkah dengan tepat, terutama bahan makanan, air bersih, selimut maupun obat-obatan yang diperlukan. Ini perlu terus dilakukan, sebab ini saat-saat yang kritis. Kalau tidak tepat mengelolanya bisa menimbulkan, katakanlah penyakit yang tidak kita kehendaki.

Sementara dengan cepat pula, sebagaimana yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah, tinjau daerah itu untuk kemungkinan atau untuk selanjutnya kita lakukan rehabilitasi dan rekonstruksi. Kita mengajak Menteri PU, kita mengajak Meneg BUMN, untuk melihat apa yang bisa dikontribusikan untuk percepatan, pembangunan kembali daerah bencana ini, atau yang kita sebut dengan rehabilitasi dan rekonstruksi. Langkah-langkah ini penting untuk kita lakukan dan insya Allah saya akan melihat langsung nanti, bertemu dengan para pengungsi dan kemudian melihat langsung daerah bencana itu, untuk melihat apa rehabilitasi dan langkah pemerintah jangka menengah dan jangka panjang.

Apakah ada faktor lingkungan yang mengakibatkan bencana ini secara langsung, apakah ada faktor-faktor lain, tdak bisa kita katakan sekarang ini apa saja yang menyebabkan bencana ini, apakah di Jember, di Banjarnegara. Dan harapan kita, tidak terjadi lagi di tempat-tempat yang lain. Tapi yang penting, kita tahu akar penyebabnya. Dengan demikian, cara mengatasinya menjadi lebih tepat.

Saya kira itu yang dapat saya sampaikan. Dan yang penting Saudara Bupati, lanjutkan terus langkah-langkah tanggap darurat ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada para petugas, petugas medis, sukarelawan, saya lihat banyak posko, mulia, menolong saudara-saudaranya yang mengalami musibah. Dan mudah-mudahan semuanya bisa dikoordinasikan dengan baik, disinergikan dengan baik. Dengan demikian, bantuan yang mengalir bisa dialirkan dengan tepat, tepat sasaran, tepat waktu. Dengan demikian betul-betul menolong mereka yang memerlukan bantuan itu.

Pengalaman kita mengelola bantuan di Aceh, di Nias, karena kurangnya koordinasi, sinergi dan sinkronisasi, seringkali tidak cepat dan tidak tepat dalam menyalurkan bantuan-bantuan itu. Oleh karena itu, perlu pengelolaan dengan baik. Dan teruslah lakukan ini, sampai kita melihat sudah bisa meninggalkan daerah pengungsian dan menuju ke tempat-tempat penampungan sementara, sambil menunggu direhabilitasinya tempat-tempat semula. Ini yang perlu saya sampaikan, dan besok saya kira, besok pagi Bapak ya, kita sama-sama melihat ke depan.

Dan terakhir, melalui Bapak Bupati, sampaikan ucapan belasungkawa saya yang sedalam-dalamnya kepada saudara-saudara yang kehilangan mereka-mereka yang dicintainya dalam musibah ini. Semoga saudara-saudara kita yang mati syahid itu, diterima di sisi Allah SWT. Dan kepada yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketegaran agar bisa membangun hari esok yang lebih baik setelah kita semua melakukan langkah-langkah tanggap darurat, rehabilitasi dan rekontruksi daerah bencana ini.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Dan pada forum ini Pak Bupati, saya dan teman-teman akan memberikan tambahan bantuan, bantuan uang tunai maupun bantuan logistik lain, mudah-mudahan bisa digunakan dengan sebaik-baiknya. Saya kira dari bantuan Presiden dan bantuan BUMN ada sekitar, bukan sekitar, ada sejumlah 500 juta rupiah. Dan kemudian ada logistik untuk kita tambahkan, tolong digunakan sebaik-baiknya.

Sekian Saudara-saudara, terima kasih. Selamat berjuang, mari kita laksanakan tugas kemanusiaan ini dengan sebaik-baiknya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sumber: http://www.presidensby.info/index.php/pidato/2006/01/05/120.html

1 Komentar »

  1. Menurut saya,bukan hanya karena pohon-pohon gundul.tapi juga karena menumpuknya sampah di sungai dalam jumlah yang sangat banyak,hingga menutupi saluran aliran air sungai,dan membuat sungai menjadi meluap
    Dengan ini saya sampaikan agar kita jangan membuang sampah sembarangan,ayo kita bergotong-royong untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di sungai.
    Ayo semangat…go,go,go brantas sampah…

    Komentar oleh nurul ainah — Desember 3, 2014 @ 3:44 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: