BebasBanjir2015

2012

2012 Lhokseumawe Bebas Banjir 

Sumber:http://www.acehtraffic.com/   19 Desember 2011

Lhokseumawe | Acehtraffic.com – Kota Lhokseumawe pada tahun 2012 akan menjadi kota yang bebas banjir dan masyarakat pun akan merasakan nyaman tanpa adanya air yang mengenangi di kota Lhokseumawe. Minggu [18/12].

Hal tersebut dikatakan oleh Kabid Kebersihan dan Sanitasi BLHK Kota Lhokseumawe kepada reporter http://www.acehtraffic.com, beliau mengatakan “Insyaallah di tahun 2012 kita usahakan Kota Lhokseumawe akan terbebas dari banjir’. Ujar Marsidan.

Beliau juga menambahkan “Banjir yang terjadi saat ini di Kota Lhokseumawe hanya untuk sementara saja, karena juga sudah ada saluran induk untuk mengaliri air sehingga nantinya air tersebut dapat mengalir dengan cepat dan tidak akan tergenang lagi”. Tambahnya.

Marsidan juga mengatakan, faktor utama terjadinya banjir karena lautan lebih tinggi daripada daratan dan kita membutuhkan saluruan induk yang langsung tembus ke Blang rayek, sehingga dapat menghidari banjir di Kota Lhokseumawe.

Beliau juga berpesan kepada masyarakat agar berperan untuk bekerjasama dengan BLHK untuk mengatasi masalah ini dan masyarakat juga jangan membuang sampah sembarangan karena sampah itu juga dapat menyebabkan banjir.

“Pesan kami dari BLHK agar masyarakat sama-sama membersihkan Kota Lhokseumawe agar kota ini menjadi Indah dan masyarakat pun sehat”. Ujarnya. AT | AG |

2012, Rahudman janji Medan bebas banjir 

Sumber:  http://www.waspada.co.id/ 5 November 2011

MEDAN – Walikota Medan, Rahudman Harahap mengatakan, Piala Adipura bagi pemerintah Kota Medan bukanlah menjadi target tetapi bagaimana kebersihan itu betul-betul dinikmati oleh masyarakat. ia juga mengharapkan kebersihan harus menjadi kebutuhan hidup, karena dengan lingkungan yang bersih akan lahir anak yang sehat dan anak yang sehat akan tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Menurut Rahudman, salah satu cara untuk menata Medan adalah dengan membangun keharmonisan antara pemerintah dengan warga Medan untuk membangun Kota Medan yang beranekaragam suku dan agama. Rahudman mencontohkan, areal pekuburan seperti di Kelurahan Tanjung Rejo yang berdampingaan antara pekuburan Islam dengan Kristen, hal ini menunjukkan adanya keharmonisasian umat beragama. Inilah yang perlu kita bangun dan kembangkan di Kota Medan dengan beragam suku dan agama yang menjadi modal pembangunan, bila sudah terwujudkan keharmonisasian ini apapun bisa kita lakukan.

 “Kita lihat areal pekuburan Muslim dan Kristen berdampingan, ini menunjukkan keharmonisasian kota Medan yang beragam etnis dan agama menjadi modal pembangunan, bila keharmonisasian ini terwujud apapun bisa kita lakukan,” ujar Rahudman.

Menurutnya, pemerintah Kota Medan sudah memprogamkan areal pekuburan akan dijadikan ruang terbuka hijau, areal pekuburan akan ditata menjadi indah dan nyaman tidak lagi berkesan angker, karena areal pekuburan ini akan mendukung keindahan Kota Medan. Pemerintah Kota Medan akan terus memantau areal pekuburan, karena pekuburan harus ada penerangan.

“Saya perintahkan Kepada Dinas Pertamanan harus memantau setiap areal pekuburan di kota Medan, pekuburan harus ada penerangan,” tegas Rahudman.

Selain masalah kebersihan, sampah di sungai juga masalah DBD menjadi perhatian. Untuk DBD ini dimintakan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan bila ada yang terkena DBD segera dilakukan fogging dimana lokasi pasien terkena DBD,.

“2012 kita prioritaskan bagaimana membebaskan Kota Medan dari banjir, untuk itulah mari kita bangun komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat, jangan komunikasi ini terputus, mari kita bangun kebersamaan, karena kebersamaan ini adalah modal kita untuk membangun Kota Medan ini ke arah yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Jakarta Ditargetkan Bebas Genangan Air 2012

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/13 Agustus 2010

Genangan air di Jalan MH Thamrin, Jakarta.[TEMPO/Imam Sukamto]

TEMPO Interaktif, Jakarta – Dinas Pekerjaan Umum berencana membebaskan seluruh wilayah DKI Jakarta terhadap genangan air pada 2012. Setidaknya sudah ada 106 lokasi genangan air di jalan arteri yang diidentifikasi oleh Dinas Pekerjaan Umum dan akan segera dimusnahkan. Mengenai dana proyek ini, akan disisipkan dan diusulkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI 2011 dan 2012.

“Untuk 106 titik lokasi genangan air yang dimaksud itu adalah Jakarta Pusat ada 27 titik lokasi genangan air, Jakarta Utara ada 12 titik lokasi genangan air, Jakarta Timur ada 13 titik lokasi, Jakarta Selatan terdapat 22 titik lokasi, dan Jakarta Barat terdapat 32 titik lokasi,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ery Basworo kepada wartawan, Jumat (13/8).

Ery menambahkan pemusnahan genangan ini dilakukan secara bertahap per tahunnya dimulai pada 2010 sebanyak 33 titik, tahun 2011 sebanyak 56 titik, dan 2012 sebanyak 17 titik. Untuk jangka pendeknya yaitu tahun 2010, Dinas Pekerjaan Umum akan mengerjakan 33 titik lokasi genangan air yang berada Jakarta Pusat sebanyak delapan titik, Jakarta Utara sebanyak enam titik, Jakarta Timur sebanyak enam titik, Jakarta Selatan sebanyak enam titik, dan Jakarta Barat sebanyak tujuh titik.

Pada program pemusnahan genangan air tahun 2010, Dinas Pekerjaan Umum akan menghilangkanya dengan pengerjaan pembangunan saluran, pump gate (pompa dorong), dan normalisasi saluran dari sampah-sampah kemudian dialirkan ke kali terdekat. Untuk pengerjaan 33 lokasi genangan air, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menganggarkan Rp 27 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja dan Daerah DKI Jakarta 2010.

Saat ini, proyek penanggulangan 33 genangan air di ibukota sudah dalam proses lelang pengerjaan fisik. Ditargetkan pada akhir Agustus 2010, proyek tersebut sudah bisa mulai dikerjakan secara serentak. “Masih ada waktu lima bulan untuk menyelesaikan 33 genangan tersebut. Saya optimis bisa selesai sebelum akhir tahun anggaran pada Desember mendatang,” ujarnya.

RENNY FITRIA SARI

2012, Semarang Bebas Banjir dan Rob

Sumber: http://ciptakarya.pu.go.id/ 16 / 10 / 2009

Banjir dan pasang air laut (rob) yang sering terjadi di Kota Semarang akan semakin berkurang. Pasalnya, Kota Semarang akan memiliki stasiun pompa drainase dan kolam retensi yang dapat mengendalikan banjir yang akan selesai dibangun 2012 nanti. Pencanangan pembangunan stasiun pompa tersebut dilakukan oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Muara Kali Semarang, Kamis (15/10). Hadir juga dalam upacara pencanangan tersebut Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Walikota Semarang Sukawi Sutarip dan Dirjen Cipta Karya Budi Yuwono.

Pembangunan Stasiun Pompa Semarang terdiri dari pompa drainase berkapasitas 30 m3/detik, lima pintu air, kolam retensi seluas 6,8 ha dengan kapasitas tampungan 170.000 m3, tanggul darurat sepanjang 26 meter dan saringan sampah. Selain itu juga akan dilakukan perbaikan sistem drainase Kali Semarang, Kali Asin dan Kali Baru mencakup pengerukan dasar sungai, masing-masing sepanjang 6.550 meter untuk Kali Semarang, Kali Asin 1.200 meter dan Kali Baru 950 meter. Sedangkan

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meminta semua pihak untuk mendukung pembangunan ini. “Mari kita berdoa bersama agar pembangunan stasiun pompa semarang ini cepat selesai,” katanya usai mencangkan pembangunan yang ditandai secara simbolik dengan pengerukan tanah dengan eskavator.

Sementara itu, Dirjen Cipta Karya Budi Yuwono mengatakan, selain untuk mangatasi rob dan banjir, pembangunan pompa ini bertujuan untuk mewujudkan lingkungan perumahan dan permukiman yang lebih sehat, layak dan bersih bagi warga kotaSemarang.”Pembangunan fasilitas ini merupakan solusi yang lebih baik dalam mengatasi banjir di Semarang, karena dapat menghemat biaya daripada untuk melakukan peninggian terhadap fasilitas-fasilitas umum dan transportasi ,” katanya.

Investasi pembangunan ini berasal dari pinjaman Pemerintah Jepang, melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), sebesar Rp 277 miliar, serta APBD Propinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang sebesar Rp 20 miliar.

Seperti kita ketahui, terdapat 12.000 ha lebih kawasan roba dan banjir di Kota Semarang, dengan penduduk yang rawan tergenang sebanyak 120.000 jiwa. Banjir dan rob ini disebabkan pertumbuhan pesat Semarang sebagai Kota Industri dan perdagangan dalam sepuluh tahun terakhir dimana memberikan ekses negatif terhadap sistem drainase Kota Semarang.

Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan kawasan industri dan perumahan yang menyebabkan berkurangnya permukaan tanah yang dapat menyerap air.Selain itu, di Pantai Kota Semarang berlangsung amblesan (land subsidience) yang dipercepat oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, bertambahnya volume air limbah dan besarnya erosi permukaan tanah. Pembanguna stasiun pompa ini sebagai salah satu solusi untuk mengurangi banjir dan rob tersebut.

Subardi Janjikan Cirebon Bebas Banjir 2012

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ Jum’at, 18 Desember 2009

CIREBON, (PRLM).- Wali Kota Cirebon Subardi, S.Pd. menjanjikan Kota Cirebon bebas banjir pada 2012 mendatang. Saat ini, sejumlah upaya dalam penanganan banjir sudah dilakukan dengan melibatkan semua potensi. Saat ini bahkan sudah mulai menyusun master plan drainase.

“Usaha melakukan identifikasi sungai dan drainase di seluruh Kota Cirebon dalam upaya penanggulangan saat ini telah menghasilkan pengumpulan data-data permasalahan dan solusi penanggulangan banjir dan rob,” kata Subardi saat rapat paripurna peringatan HUT Kota Cirebon ke-640 yang bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharam, di gedung dewan Jumat (18/12).

Diakui Subardi, selama masa pemerintahannya masih banyak pekerjaan berat yang belum bisa diselesaikan. Diantaranya penanganan banjir dan rob, penataan dan penertiban pedagang kali lima (PKL), soal lingkungan, kebersihan, penertiban parkir, kurangnya ruang publik dan tempat wisata yang menarik serta pengangguran.

“Dari semua persoalan yang masih belum selesai tersebut, penanganan banjir dan rob menjadi salah satu prioritas,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon Drs. H. Hasanudin Manap, M.M. menegaskan, untuk mewujudkan Kota Cirebon bebas banjir tahun 2012, hampir setiap tahun Pemkot Cirebon menggangarkan dana untuk itu. “Tahun ini untuk permulaan Pemkot Cirebon menganggarkan Rp 4 miliar. Setiap tahun nantinya akan dianggarkan,” katanya.

Anggaran tersebut diantaranya digunakan untuk pembebasan lahan di sepanjang sempadan sungai yang saat ini menjadi pemukiman padat. Selain itu untuk pengerukan sungai, penataan gorong-gorong dan drainase serta kegiatan pendukung lainnya.

Diakui Hasanudin Manap, untuk bisa mewujudkan Cirebon bebas banjir memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit. “Makanya program kerja yang terkait dengan penanganan banjir kami sinergikan dengan dengan program pemerintah pusat dan provinsi. Seperti misalnya dengan program Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung,” kata Sekda seusai rapat paripurna. (A-92/kur)***

2012 Cekungan Bandung Bebas Banjir

Iwan Kurniawan – detikBandung

Sumber: http://bandung.detik.com/

Bandung – Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Jawa Barat mencanangkan Cekungan Bandung Bebas Banjir pada Tahun 2012. Bapeda pun telah merencanakan berbagai cara baik jangka pendek maupun jangka panjang yang terdiri dari pembangunan situ-situ buatan hingga manajemen hulu dan hilir.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bapeda Deny Juanda Puradimaja saat diskusi dengan tema Konsep Penanganan Banjir Cekungan Bandung Terpadi di Graha Kompas-Gramedia, Jalan Riau, Kamis (19/2/2009). Ia mengatakan untuk rencana jangka pendek tahun 2009-2014 akan diupayakan pengendalian banjir di anak-anak sungai dengan cara menormalisasikan anak-anak sungai.

Deny mencanangkan Cekungan Bandung sudah terbebas dari banjir lebih cepat, yaitu pada 2012 “Kami mencanangkan sebelum program berakhir, Cekungan Bandung sudah terbebas dari banjir secara permanen,” ujar Deny.

Sedangkan untuk rencana jangka panjang, Deny berencana untuk menerapkan manajemen hulu daerah aliran sungai dan manajemen hilir daerah rawan banjir. “Dengan cara budidaya pertanian berazas konservasi dan pengelolaan kawasan lindung berbasis masyarakat,” ujar Deny.

Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat, Anang Sudarna, mengatakan untuk penanganan sungai Citarum dari hulu hingga hilir diperlukan pendekatan sosial terhadap masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai. “Masalah teknis sebenarnya bukan masalah utama, tapi persoalan sosial yang penting,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Widyo Nugroho, yang menjadi moderator diskusi ini sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh Anang Sudarna. Menurutnya harus ada pendekatan antara teknologi dengan ilmu sosial untuk menyelesaikan permasalahan banjir cekungan Bandung. “Tekno Sosial Antropologi harus diterapkan untuk menyelesaikan masalah banjir,” ujarnya.

2 Komentar »

  1. Apakah di kpang jga akan trjdi bnjir.?

    Komentar oleh Dechan — September 3, 2010 @ 5:14 pm

  2. Ha ha ha………… 2015 madeka banjir…………… Utan di babat teruuuuuusssss.

    Komentar oleh john — Januari 2, 2012 @ 8:20 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: