BebasBanjir2015

Pengolahan Tanah/Penanaman Menurut Kontur

Pengolahan Tanah/Penanaman Menurut Kontur

Pengolahan tanah / penanaman mengikuti garis kontur dilakukan pada lahan miring untuk mengurangi erosi dan aliran permukaan. Garis kontur adalah suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang tingginya sama dan berpotongan tegak lurus dengan arah kemiringan lahan. Bangunan dan tanaman dibuat sepanang garis kontur dan disesuaikan dengan keadaan permukaan lahan.

Penanaman pada garis kontur dapat mencakup pula pembuatan perangkap tanah, teras bangku atau teras guludan, atau penanaman larikan.  Pengolahan tanah dan penanaman mengikuti kontur banyak dipromosikan di berbagai daerah di Indonesia dalam mengembangkan pertanian yang berkelanjutan.

Keuntungan

  • Mengurangi aliran permukaan dan erosi
  • Mengurangi kehilangan unsur hara
  • Mempercepat pengolahan tanah apabila menggunakan tenaga ternak atau traktor karena luku atau alat pengolah tanah yang lain.

Kelemahan

  • Penentuan garis kontur yang kurang tepat dapat memperbesar resiko terjadinya erosi
  • Karena itu diperlukan ketrampilan khusus yang memadai untuk menentukan garis kontur
  • Membutuhkan pengerahan tenaga kerja yang cukup intensif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adposi

Fajktor biofisik

  • Perbaikan kondisi tanah dan peningkatan produktivitas cukup menarik bagi petani
  • Air yang terperangkap dalam parit meningkatkan penyerapan (infiltrasi) air ke dalam tanah dan produksi

Faktor sosial ekonomi

  • Di daerah-daerah marginal yang tidak memperbolehkan adanya bangunan pengelolaan tanah dan penanaman mengikuti kontur merupakan alternatif yang tepat guna
  • Di banyak daerah para petani sudah biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan budidaya menurut arah lereng (dari atas ke bawah) menggunakan peralatan tangan.

Sumber: Riri Fithriadi dkk / Peny. (1997). Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia; Kumpulan Informasi. Hal 83 – 84. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kehutanan.

Pengolahan Tanah Menurut kontur

Jika mengolah tanah, dengan bajak atau cangkul, terbentuk jalur-jalur tumpukan tanah yang dibalik memanjang ke bawah searah lereng, akan terjadi konsentrasi aliran permukaan pada  alur-alur tersebut yang mengakibatkan erosi. Ini disebut pengolahan tanah menurut lereng.

Pada pengolahan tanah menurut kontur, pembajakan dilakukan menurut kontur atau memotong lereng, sehingga terbentuk jalur tumpukan tanah dan alur di antara tumpukan tanah yemng terbentang menurut kontur, seperti tertera pada Gambar. Pengolahan tanah menurut kontur  lebih efektif jika diikuti dengan penanaman menurut kontur, yaitu barisan tanaman diatur sejalan dengan garis kiontur. Dalam bahasa Inggris cara ini dinamai contour cultivation atau contour farming atau contouring.

Gambar 1. Skema Pengolahan Tanah dan Penanaman Menurut Kontur

Gambar 1. Skema Pengolahan Tanah dan Penanaman Menurut Kontur

Keuntungan utama pengolahan menurut kontur adalah terbentuknya penghambat aliran permukaan yang meningkatkan penyerapan air oleh tanah dan menghindari pengangkutan tanah. Oleh karena itu di daerah  beriklim kering, pengolahan menurut kontur juga sangat efektif untuk konservasi air.

Pengolahan menurut kontur efektif dalam pencegahan erosi  pada tanah yang diklasifikasikan menurut kemampuan tanah dalam kelas II dan III dengan tanah yang permeabilitasnya sedang sampai cepat. Pada tanah dengan kemampuan II dan III ini manfaat pengelolaan tanah menurut kontur tergantung pada tipe tanah, bentuk lereng dan iklim.

Sumber: Sitanala Arsyad (2006). Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.

Penanaman Searah Kontur  (Contour Cropping)

Pengertian

Cara penanaman tanaman yang searah garis  kontur yaitu garis yang menghubungkan ttik-titik yang mempunyai ketinggian yangh sama pada tanah-tanah yang berlereng atau mempunyai kemiringan.

Tujuan

  • Menghambat kecepatan aliran permukaan
  • Memperbesar peresapan air permukaan ke dalam tanah
  • Menghemat biay, tenaga dan waktu.

Gambar Teknis

Persyaratan Teknis

  1. Pada tanah yang mempunyai kemiringan 3 – 6% penanaman secara ontur yang dianjurkan sebaiknuya tidka melebihi panjang 100 m, saluran pembuangan penting diperhatikan
  2. Pada tanah yang mempunyai kemiringan lebih dari 8 % dianjurkan agar panjangnya tidak melebihi 65 m, saluran pembuangan penting untuk diperhatikan
  3. Penanaman secara kontur tidak efektif dilaksanakan pada tanah yang mempunyai kemiringan kurang dari 3% dan lebih dari  8% sampai 25%.

Hasil Penelitian

Penanaman searah kontur pada kelerengan 4 – 6% dapat mengurani erosi dan run-off 50% (FAO, 1976).

Sumber:  Tim Peneliti BP2TPDAS IBB (2002). Pedoman Praktik Konservasi Tanah dan Air. Hal. 85 – 86. Surakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indonesia Bagian Barat.

PEMBUATAN GARIS KONTUR DALAM TEKNIK KONSERVASI

Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama. Pembuatan garis kontur (garis sabuk gunung) mutlak diperlukan untuk mengefektifkan fungsi dari teknik konservasi tanah yang diterapkan. Teknik konservasi yang memerlukan garis kontur antara lain adalah sistem pertanaman lorong, teras bangku, teras gulud, dan teras kredit. Ada beberapa metode dalam menentukan garis kontur antara lain dengan menggunakan theodolit, abney level, waterpas selang plastik, dan ondolondol (A-frame).

Abney Level (Penyipat datar)

Tahapan pembuatan garis kontur dengan menggunakan abney level (Gambar 1) adalah:

  1. Tentukan salah satu titik pada lahan yang akan dibuat garis konturnya, misalnya titik A
    pada Gambar 2.

    Gambar 1. Abney level (Penyipat datar)

    Gambar 1. Abney level (Penyipat datar)

  2. Buat tiga buah patok yang panjangnya sesuai dengan interval vertikal (IV; lihat Bab 09 untuk penjelasan tentang interval vertikal) antara garis kontur yang diinginkan. Misalnya bila IV yang diinginkan adalah 1 m, maka perlu disiapkan dua patok dengan panjang 1 m (patok 1) dan satu patok 2 m (patok 2). Dua patok yang panjangnya sama (1 m) digunakan untuk menarik garis kontur, sedangkan patok 1 dan patok 2 digunakan untuk menentukan titik dari satu garis kontur ke garis kontur berikutnya.
  3. Dengan memancang patok yang panjangnya 1 m pada titik A, stel abney level dengan bacaan 0 pada
    puncak patok. Tentukan titik A1, A2, dan seterusnya dengan membidik puncak patok lain yang panjangnya 1 m. Semakin dekat jarak antara A – Al – A2- dan seterusnya, akan semakin halus garis kontur yang didapat.
  4. Agus et al. (1999a).

    Gambar 7.2. Pembuatan garis kontur dengan abney level. Sumber: Agus et al. (1999a).

    Sesudah garis kontur A-Al-A2- dan seterusnya selesai dibuat, pancangkan kembali patok 1 pada titik A dan tentukan titik B yang berada pada ketinggian 1 m lebih rendah dari titik A.Titik B didapat dengan mengarahkan abney level ke puncak patok B. Dengan abney level tetap menunjukkan angka 0 geser patok 2 sepanjang garis AB. Apabila abney level yang dipancang di puncak patok 1 telah dapat membidik puncak patok 2 pada posisi bacaan 0, maka berarti sudah ditemukan titik B yang posisinya 1 m lebih rendah.

  5. Dengan cara (3) tentukan titik-titik B-B-B2 dan seterusnya sehingga ditemukan garis kontur berikutnya.
  6. Berilah tanda berupa patok kayu atau bambu pada masing-masing titik yang telah diperoleh.

Waterpas Selang Plastik

Agus et al. (1999a).

Gambar 3.Alat waterpas selang plastik. Sumber:Agus et al. (1999a).

Pembuatan garis kontur dengan waterpas selang plastik (WSP) pada dasarnya sama dengan cara abney level. Alat ini terdiri atas dua bagian utama yaitu: (1) dua lembar papan berskala yang berukuran panjangnya 150 cm dan lebar 8 cm, dan (2) selang plastik tembus pandang berdiameter 1-2 cm dan panjang 15-20 m.

Kedua ujung selang plastik ini, sepanjang 160 cm, dijepitkan pada papan dengan posisi selurus
mungkin (Gambar 3).

Tahapan pembuatan garis kontur dengan waterpas selang plastik:

  1. Isi selang plastik dengan air sampai penuh.
  2. Tentukan titik awal pembuatan garis kontur, misalnya titik A pada Gambar 4.
  3. Agus et al. (1999)

    Gambar 4. Pengukuran kontur dengan waterpas selang plastik. Sumber:Agus et al. (1999)

    Dari titik A tentukan titik yang sama tinggi dengan cara meletakkan ujung selang plastik yang satu pada titik A, sedangkan ujung selang lainnya pada titik A1 yang sama tinggi dengan titik A yang ditandai dengan bacaan permukaan air yang sama pada kedua papan berskala.

  4. Dari titik A tentukan titik B pada lereng bawah sehingga selisih permukaan air pada kedua papan berskala sesuai dengan IV yang diinginkan, misalnya 1 m.
  5. Titik B1 ditentukan dari titik B dengan cara yang sama dengan penentuan titik Al,A2, dan seterusnya.
  6. Berilah tanda berupa patok kayu atau bambu pada masing-masing titik yang telah diperoleh.

Ondol-ondol

Tropsoils Project.

Gambar 5. Gawang segitiga (A-frame) digunakan untuk pembuatan kontur. Foto:Tropsoils Project.

Ondol-ondol atau gawang segitiga (A-frame) (Gambar 5) terbuat dari kayu atau bambu, terdiri atas dua buah kaki yang sama panjang, sebuah palang penyangga, benang, dan pemberat. Panjang kedua kaki masing-masing 2 m dan panjang palang 1 m.

Persis pada bagian tengah palang diberi tanda untuk menentukan bahwa kedua ujung kaki ondol-ondol terletak pada posisi yang sama tinggi. Ujung benang dikaitkan pada puncak ondol-ondol, sedangkan pemberatnya dapat bergerak bebas ke kiri dan ke kanan sejajar palang (Gambar 6).

Tahapan pembuatan garis kontur dengan ondol-ondol:

  1. Siapkan ondol-ondol yang sudah dilengkapi dengan bandul (pemberat).
  2. Tentukan titik acuan yang akan dilintasi garis kontur tertinggi, misal titik A (Gambar 6).

    Agus et al. (1999a).

    Gambar 6. Penentuan garis kontur dengan ondol-ondol. Sumber:Agus et al. (1999a).

  3. Tentukan titik B pada bagian lereng yang lebih rendah  sesuai dengan interval vertikal (IV) yang diinginkan. Dengan menggunakan ondol-ondol, IV hanya bisa diperkirakan tetapi tidak dapat ditentukan secara tepat.
  4. Letakkan kaki ondol-ondol pada titik B sedangkan kaki lainnya digerakkan ke atas atau ke bawah sedemikan rupa sehingga tali bandul persis pada titik tengah palang yang sudah ditandai. Titik yang baru ini, misalnya titik B1, adalah titik yang sama tinggi dengan titik B.
  5. Dari titik B1 tentukan titik B2 dengan cara yang sama dengan tahap 4.
  6. Tandai titik tersebut dengan patok kayu atau bambu pada masing-masing titik yang telah diperoleh.

Sumber: Fahmuddin Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. Bogor: WORLD AGROFORESTRY CENTRE ICRAF Southeast Asia. Hal 42 – 44

9 Komentar »

  1. trim’s atas informasinya, jenis tanaman apa yang sebaiknya ditanam pada kondisi dataran tergenang dengan level kemiringan 0-7 %?

    Komentar oleh remy — Mei 17, 2009 @ 11:41 pm

  2. tnq atas bahannya…

    sangad tertolong…

    Komentar oleh fani — Maret 8, 2010 @ 6:27 pm

  3. kunjungi balik yah… terima kasih gan🙂
    http://www.dimasmichael.com/pengenalan-alat-pengolah-tanah/

    Komentar oleh Michael Dimas — Mei 18, 2013 @ 1:28 pm

  4. Apa perbedan pengolahan tanah di daerah datar dan daerah miring ?

    Komentar oleh Anonim — November 7, 2013 @ 9:17 pm

  5. izin copy materi ya, makasih

    Komentar oleh Raden Muhammad Hilman — April 30, 2014 @ 5:42 am

  6. terimakasih sekali atas infonya
    yang sangat membantu dalam pengerjaan tugas saya

    jangan lupa untuk berkunjung balik kesini

    Komentar oleh raymon — Juni 18, 2014 @ 3:42 pm

  7. terimakasih sekali atas infonya
    yang sangat membantu dalam pengerjaan tugas saya

    jangan lupa untuk berkunjung balik kesini

    http://www.sumberajaran.com/

    Komentar oleh raymon — Juni 18, 2014 @ 3:43 pm

  8. terima kasih atas infonya

    Komentar oleh zaky — Desember 12, 2014 @ 2:35 pm

  9. boleh juga nich artikelnya pak ….. mantap
    https://www.youtube.com/results?search_query=ngebon+ach

    Komentar oleh hadi — Maret 29, 2015 @ 5:08 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: