BebasBanjir2015

Dwiatmo Siswomartono

Mengelola Daerah Aliran Sungai

Oleh Dwiatmo Siswomartono

emua aktivitas manusia di darat berlangsung di dalam suatu wilayah yang disebut Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu wilayah daratan yang dibatasi oleh pemisah topografis berupa punggung bukit yang menerima air hujan dan mengalirkannya ke hilir dan bermuara ke laut. DAS terdiri dari beberapa sub-DAS yang merupakan suatu anak sungai yang bermuara ke waduk, dam, danau atau sungai. Sub DAS ini sering juga disebut sebagai Daerah Tangkapan Air atau Catchment Area. Peristiwa banjir dan tanah longsor yang diberitakan media masa, terjadi pada suatu kawasan yang disebut DAS tersebut.

Banyak orang menghubungkan peristiwa banjir dan tanah longsor dengan illegal logging. Ada juga yang menyebut akibat saluran dan sungai tidak normal, sungai tidak mampu menampung aliran permukaan karena penuh sampah, daerah bantaran sungai dan daerah resapan dipakai sebagai permukiman. Banjir dan tanah longsor selalu menjadi berita besar karena merugikan dan menyengsarakan penduduk yang tinggal atau menghuni di daerah rendah atau bantaran sungai suatu Sub DAS. Fakta menunjukkan tahun 1955 sungai Batanghari banjir menggenangi daerah Jambi, padahal saat itu hutan di sana masih utuh. Tetapi, karena penduduk waktu itu masih jarang, banjir tidak menjadi masalah serius. Kini penduduk makin padat dan menghuni daerah bantaran, daerah rendah dan daerah curam. Sedikit saja banjir timbullah masalah sosial serius; tanah longsor yang menelan korban.

Tata Guna Lahan

Mengapa banjir dan tanah longsor terjadi? Di dalam DAS penggunaan lahan dibedakan atas: a) Hutan, biasanya berada di hulu, b) Kawasan budidaya, perkebunan, petanian, c) Pemukiman, d) Rawa, waduk atau danau, bantaran sungai, e) Lahan industri, danlain lain. Air hujan yang turun dalam kawasan DAS akan mengalami beberapa kejadian yang berbeda.

Pertama, air hujan yang jatuh di kawasan hutan akan menjadi uap kembali (eveporasi), mengalir urut batang (stemflow) turun ke tanah atau jatuh langsung dari dahan, ranting dan daun langsung ke tanah. Karena pada umumnya lapisan permukaan tanah hutan terdiri dari bahan organik (horizon O) yang berasal dari dekomposisi bahan tanaman, maka air yang sampai ke tanah akan mudah diresapkan ke dalam tanah. Air yang jatuh ke tanah akan ditahan oleh lapisan tumbuhan bawah, berupa semak dan perdu, serta lapisan humus sehingga sedikit merusak partikel tanah.

Kedua, lahan pertanian biasanya intensip digarap, disiangi, dipupuk sehingga tanaman bawah bersih. Akibatnya air hujan yang jatuh ke tanah dapat langsung mencerai-beraikan partikel tanah di permukaan lahan dan terjadi erosi. Hujan yang jatuh langsung dari langit ke permukaan lahan akan mencerai-beraikan partikel tanah dengan energi yang lebih besar sehingga erosinya akan makin besar.

Apalagi saat menjelang musim tanam, lahan biasanya dibersihkan sehingga saat hujan datang tetapi tanaman belum mampu melindungi tanah maka erosi akan terjadi. Air yang meresap ke dalam tanah lebih sedikit dari pada yang mengalir sebagai aliran permukaan tanah (run-off) yang mampu menyebabkan erosi dan mengalir ke sungai bersama sedimen yang terangkut.

Tanaman keras perkebunan berfungsi sama atau hampir sama dengan tanaman hutan. Karena di bawah tegakan terdapat tanaman penutup tanah yang mampu menahan pukulan air hujan. Air yang jatuh ke tanah akan meresap ke dalam tanah. Demikian pula aliran permukaan dihambat oleh tanaman penutup, sisanya masuk ke sungai. Volume run-off dihambat oleh tegakan tanaman erkebunan, demikian pula sedimennya.

Ketiga, pemukiman terutama di pekotaan sebagian besar terdiri dari bangunan kedap air; atap, halaman beton, jalanan aspal, saluran beton, sehingga air tidak diberi kesempatan meresap ke dalam tanah. Akibatnya hampir semua air hujan mengalir ke sungai utama dan berakhir ke laut, waduk, dan atau danau, termasuk semua bentuk limbah yang diangkut. Makin luas atau makin besar persentasi kawasan pemukiman dari suatu DAS maka makin besar air yang masuk ke sungai dan berpotensi menambah volume air sungai dan menimbulkan banjir di musim penghujan. Meskipun demikian erosi di kawasan pemukiman di perkotaan relatif lebih kecil dibanding dengan pedesaan atau kawasan budidaya.

Keempat, air hujan yang jatuh ke permukaan air di waduk, danau, dam, atau sungai akan menambah langsung volume air yang tercermin dengan naiknya permukaan air. Secara langsung tidak menyebabkan erosi, tetapi kalau air tersebut mengalir maka kecepatan aliran akan dapat mengikis dinding/tebing saluran/badan air dan mengangkutnya ke hilir.

Bantaran sungai (flood plain) merupakan kawasan cadangan aliran sungai. Dalam keadaan aliran air melebihi normal, maka aliran air akan memenuhi bantaran sungai. Dalam keadaan curah hujan yang luar biasa besar (siklus 50 tahunan atau lebih), air akan melimpah ke daerah rendah di sekitar bantaran sungai, padahal bantaran sungai tidak diperuntukkan bagi pemukiman. Ingat tahun 1955, daerah Jambi mengalami banjir besar meskipun penduduk belum banyak dan hutan masih utuh. Demikian pula Bengawan Solo meluap tahun 1966 mengakibatkan banyak kota, termasuk Solo, tergenang.

Banjir, erosi, tanah longsor dan kekeringan menjadi masalah serius yang dihadapi oleh masyarakat dan Pemerintah. Beberapa daerah tergenang air, tanah longsor, banjir lumpur, jalur jalan putus, dan rakyat perkampungan terisolasi pada musim penghujan terberitakan di berbagai media masa. Pada musim kemarau, media masa memuat berita rakyat kekurangan air bersih, beribu-ribu hektar tanaman padi puso kekurangan air, pembangkit listrik tenaga air menurun kapasitasnya, waduk dan saluran pengairan kering. Jika suatu daerah terancam gagal panen, kekurangan pangan mengancam wilayah lainnya, dan stock pangan Bulog terancam tak terpenuhi karena gagal panen, sehingga harus impor. Kejadian ekstrim yang silih berganti antara musim kemarau dan penghujan .

Meskipun merupakan fenomena biasa, sebenarnya kedua kejadian itu adalah akibat kegiatan manusia yang meningkat dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Eksploitasi tanpa memperhatikan kelestarian akan mengganggu keseimbangan alam, menyebabkan bencana bagi manusia. Kerusakan tersebut semestinya dapat dicegah. Bagi yang belum terlanjur rusak harus kita cegah terjadinya kerusakan. Bagi yang sudah terlanjur rusak harus kita perbaiki atau kita rehabilitasi agar pulih atau mendekati seperti sebelum rusak.

Penulis adalah nature conservationist

Last modified: 16/3/08

Konservasi Tanah dan Air Cegah Banjir

Oleh Dwiatmo Siswomartono

una mengurangi dan mencegah kerusakan alam, berupa erosi dan banjir, diperlukan konservasi tanah dan air. Mengingat penyebab erosi adalah berlangsungnya pengangkutan oleh aliran air maka konservasi tanah dan air dilakukan dengan mengendalikan aliran permukaan (run-off) dan meresapkannya ke dalam tanah sebesar-besarnya.

Kita lihat rumus: E = f (CTSVH). Dalam hal ini, E = erosi, C= climate (iklim), T = topografi (derajad kecuraman dan panjang lereng), S = soil (tanah), V = vegetasi (tanaman penutup tanah), H = human (manusia). Artinya, besar kecilnya erosi dipengaruhi oleh lima faktor yaitu, iklim dalam hal ini curah hujan, topografi, tanah, vegetasi, dan manusia.

Makin besar curah hujan, makin curam dan atau makin panjang lereng, makin mudah tereroni (erosip) jenis tanah, makin jarang tanaman penutup tanah, serta makin intens manusia menggarap lahan tanpa tindakan konservasi tanah, akan makin besar erosi dan run-off. Apabila lapisan tanah mencapai titik jenuh air apalagi di lapisan bawah terdapat lapisan kedap air maka massa tanah di atas lapisan tersebut akan mengambang di atas air, sehingga akan mudah tergelincir sebagai tanah longsor. Sebaliknya, bila curah hujan kecil, topografi tidak curam, tanah tidak mudah bercerai-berai, vegetasi penutup tanah rapat, serta manusia pengguna tanah sadar dan tahu pentingnya konservasi, maka erosi dan run-off akan lebih kecil mencapai pada tingkat erosi yang diperkenankan.

Teknik konservasi Tanah dan Air dilaksanakan dengan mengupayakan air hujan dapat meresap ke dalam tanah dan tidak mengalir di permukaan tanah. Teknik pengendalian run-off dan erosi dapat dibedakan menjadi konservasi tanah vegetatip, konservasi tanah teknik sipil, dan konservasi tanah kimiawi.

Konservasi Tanah Vegetatip dilaksanakan dengan pembuatan penutup tanah dengan penanaman vegetasi di atas permukaan tanah. Pada dasarnya semua tanaman atau vegetasi berperan memberikan penutupan lahan yang baik. Berdasar laporan penelitian di Amerika, rumput pada padang golf dapat berfungsi sebagai pengendali erosi dan run-off sama baiknya dengan penutupan hutan. Selama tanah belum jenuh air maka konservasi tanah vegetatip sangat nyata mengendalikan run-off, erosi, dan tanah longsor. Tetapi bila tanah sudah jenuh air, pengaruhnya menjadi tidak signifikan. Ingat banjir bandang di Jambi pada 1955 di mana hutan masih utuh.

Konservasi tanah teknik sipil dilaksanakan dengan pembuatan bangunan teknik sepil berupa teras (teras gulud, teras saluran, teras kredit, dan teras bangku) untuk memperpendek panjang lereng dan memperkecil derajad kemiringan. Pada saluran pembuangan dibangun bangunan terjunan (drop-structure dari batu, kayu, atau bambu). Untuk menampung sedimen dan run-off yang telanjur hanyut atau tidak tertahan dibangun dam pengendali dan dam penahan, sehingga sedimen tidak masuk ke sungai utama.

Konservasi tanah kimiawi dilaksanakan dengan mempergunakan bahan kimia, antara lain, untuk pengikatan partikel tanah agar tahan kikisan, sekaligus memberikan kesuburan kepada tanaman, sehingga cepat besar dan dapat lebih cepat sebagai tanam pelindung permukaan tanah. Cara ini lebih mahal biayanya, sehingga jarang diaplikasikan.

Daya Dukung Lahan

Kepadatan penduduk yang melampaui batas akan menyebabkan eksploitasi sumber daya secara berlebihan dan akan mengganggu kestabilan lingkungan dan merusak ketersediaan sumber daya. Untuk itu, daya dukung lahan harus distabilkan dengan mengurangi tekanan penduduk melalui transmigrasi.

Seperti diketahui,banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Solo melahirkan kebijakan pemerintah untuk merehabilitasi DAS Solo Hulu secara komprehensif dan terintegrasi antarsemua stakeholder melalui Proyek Terpadu.

Kegiatannya meliputi pembuatan Waduk Gajah Mungkur oleh Departemen PU, konservasi tanah vegetatip dan teknik sipil di bagian hulu yang menjadi daerah tangkapan air Waduk Gajah Mungkur oleh Dephut dan Departemen Pertanian, transmigrasi penduduk ke luar DAS bahkan ke luar provinsi oleh Departemen Transmigrasi dan pemda, sertifikasi lahan pertanian oleh Badan Pertanahan, serta penyediaan kredit lunak bahkan tanpa bunga kepada petani peserta konservasi tanah.

Pengelolaan DAS dimaksudkan agar pemanfaatan sumber daya alam tidak melampau batas, sehingga daya dukung lahan di DAS tetap terpelihara dan tidak terlampaui. Karena penyebab kerusakan alam adalah manusia maka penanggung jawab terjaminnya pengelolaan DAS yang baik adalah masyarakat yang mengelola lahan DAS beserta pemerintah. Pencegahan erosi, banjir, dan tanah longsor di suatu DAS menjadi kewajiban dari semua stakeholder.

Sektor kehutanan harus mengelola hutan dengan baik, sehingga hutan selalu tertutup vegetasi, dan tidak menjadi penyebab bencana. Sektor pertanian membina para pemakai lahan di daerah pertanian dan perkebunan agar memperhatikan kaidah konservasi tanah terutama pada pertanian lahan kering. Kemudian, sektor pekerjaan umum membina agar aliran air tidak meluap sepanjang tahun, menghindari bantaran sungai untuk pemukiman, memetakan daerah rawan banjir, dan lain-lain.

Sumur Resapan

Di kawasan pemukiman hendaknya dibuat banyak sumur resapan agar air run-off meresap ke dalam tanah untuk menghindari erosi dan memperbesar sediaan air tanah. Lahan terbuka seyogyanya tidak dibeton, tetapi dengan konstruksi grass-block atau konstruksi porus. Izin mendirikan bangunan (IMB) harus mensyaratkan pembangunan sumur resapan setiap unit luas tanah tertentu. Untuk pembukaan tanah yang luas oleh pengembang disyaratkan pembuatan bangunan konservasi tanah.

Badan Pertanahan Nasional hendaknya mencantumkan kewajiban melestarikan tanah bagi pemegang hak pada tiap sertifikat yang diterbitkan. Lalu sektor perbankan membuka akses kredit bagi petani di hulu DAS dengan mempermudah pesyaratan dalam mengusahakan usaha tani konservasi, sehingga ada keadilan antara petani hilir dan hulu. Selama ini banjir dan kekeringan di hilir selalu dialamatkan kesalahannya kepada petani hulu.

Pemerintah daerah harus membina dan mengingatkan penduduknya akan potensi bahaya banjir, erosi, tanah longsor dan kekeringan. Sektor industri dan pertambangan mengusahakan agar pemakaian kayu bakar untuk pembakaran kapur dan industri lain diganti dengan non-kayu, misalnya, minyak, residu, atau sumber energi lainnya.

Dengan mengusahakan agar air permukaan dapat meresap ke dalam tanah sebanyak-banyaknya akan memperbesar cadangan air tanah yang akan muncul ke permukaan sebagai mata air, sehingga banjir bisa ditekan, erosi mengecil, dan tanah longsor tak terjadi.

Penulis adalah pengamat masalah konservasi alam

Last modified: 24/3/08

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: