BebasBanjir2015

Low Impact Development

SISTEM PENGELOLAAN AIR HUJAN LOKAL YANG RAMAH
LINGKUNGAN

Suseno Darsono,  Jurusan Teknik Sipil FT. UNDIP Jl. Prof. Soedarto SH, Tembalang Semarang

Berkala Ilimiah Teknik Keairan Vol. 13, No.4– Desember 2007, ISSN 0854-4549 Akreditasi No. 23a/DIKTI/KEP/2004

ABSTRACT

Low Impact Development (LID) is a technique for managing local strorm water that can  be utilized as a regional flood control system. As a storm management technique, LID  technique is used to maintain the existing hydrology condition of the development area  by maintaining infiltration rate, filtering, detaining storm water and also increasing  surface roughness. Negatif impact of regional development can be minimized by  utilizing natural drainage system, maximizing storm water detention and maintaining or  increasing time of concentration. LID is a tool for managing negative impact of storm  water on a regional development, therfore the regional of economic growth can be increased.

Keywords: Storm water management, Urban Drainage, Low Impact Development .

PENDAHULUAN

Pengelolaan air hujan secara lokal yang  ramah lingkungan dikenal dengan teknik  “Low Impact Development” (LID).  Konsep pengelolaan air hujan dengan  teknik ini adalah pengelolaan air hujan  dengan skala mikro yang dilakukan  dilokasi atau di sekitar daerah  tangkapan air hujan. Pengembangan  prinsip LID dimulai dengan  pengembangan teknik bioretensi di  Prince Gorge’s County, Maryland pada  pertengahan tahun 1980. LID dikembangkan untuk mempertahankan  kondisi lingkungan dari dampak negatip  yang terjadi akibat perkembangan  ekonomi dan keterbatasan praktek  pengelolaan air hujan konvensional.  Sistim drainasi konvensional direncanakan dengan konsep  mengumpulkan, mengalirkan dan  membuang air limpasan permukaan  secepat dan efisien mungkin. Sistim  drainasi konvensional yang efisien  kinerjanya akan menurunkan  penambahan air tanah, meningkatkan  volume limpasan permukaan,  mempersingkat waktu pengaliran,  meningkatkan frekuensi dan menambah  besarnya banjir. Hal ini akan menambah  tingkat kemungkinan terjadi  banjir/genangan di daerah hilir daerah  tangkapan air, penurunan kualitas  badan air, dan erosi. LID dikembangkan  dengan memanfaatkan teknologi yang   telah ada dan murah tetapi dapat mempertahankan kelestarian lingkungan.

Teknologi LID diharapkan mampu untuk  mengurangi dampak negatip terhadap  lingkungan akibat pengembangan suatu  daerah dengan mencapai keseimbangan antara konservasi,  perkembangan, proteksi ekosistim dan kualitas hidup. Saat ini teknologi LID  dimanfaatkan untuk mengontrol polusi air limpasan permukaan, mengurangi  volumenya, memperpanjang waktu pengaliran, dan menyelesaikan  masalah-masalah yang berkaitan dengan ekologi. Konservasi dan peran  serta masyarakat untuk menenggulangi  daya rusak air (yang termasuk pilar-pilar  UU No.7 Tahun 2004) merupakan elemen kunci dari LID seperti di ilustrasikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Elemen kunci pada teknologi “Low Impact Development”

Teknologi LID di dalam mengelola air  hujan ialah mempertahankan kondisi hidrologi suatu daerah yang  dikembangkan sama dengan kondisi  hidrologi awal daerah tersebut pada  saat sebelum dikembangkan. Usaha  yang perlu dilakukan adalah  mempertahankan dan meningkatkan  intensitas infiltrasi, penyaringan,  penampungan, penguapan dan tahanan  limpasan permukaan. Saat ini  pengelolaan air hujan dengan teknologi  LID sudah banyak di aplikasikan di  negara-negara maju seperti USA,  Australia dan Eropa, meskipun demikian  penelitian pengembangan tentang LID  masih terus berlangsung. Di Indonesia  penelitian pemanfaatan teknologi LID  juga sedang dilakukan di Balai Sungai  BALITBANG PU untuk mengkaji  efektifitas aplikasi LID di suatu  pembangunan komplek perumahan.  Konsep hidrologi yang diterapkan dalam  teknologi LID adalah penggunaan  retensi dan detensi air hujan,  mengurangi luas daerah kedap, dan  memperpanjang alur pengaliran dan waktu pengaliran (Coffman, 2000).

PRINSIP SISTIM DRAINASI LOKAL ATAU LID

LID memanfaatkan praktek pengelolaan  air hujan yang terintegrasi antara sistim  drainasi lokal, skala kecil, dan  pengendalian sumber daya air regional.   Praktek pengelolaan air hujan yang  terintegrasi ini tidak hanya tergantung  pada jaringan saluran drainasi dan  bangunan pengontrolnya, tetapi juga  memanfaatkan gedung-gedung,  infrastructure drainasi dan penataan  lahannya dalam usaha menahan aliran  air hujan ke daerah hilir. Untuk  mempertahankan kodisi hidrologi dari  wilayah yang dikembangkan seperti  kondisi awal, teknologi pengelolaan air  hujan dengan LID memfokuskan pada beberapa elemen utama hidrologi.

Elemen utama yang harus diperhatikan  adalah meminimumkan limpasan  permukaan dengan mengurangi  perubahan lahan menjadi lahan kedap  air. Selain itu perlu pula memperbanyak  tumbuh-tumbuhan penutup tanah  seperti lahan yang tertutup rumput dan  tanam-tanaman. Memperlama waktu  konsentrasi (Tc) dengan  memperpanjang jalur aliran,  meningkatkan kekasaran dengan  mengurangi penggunaan saluran  pasangan atau pipa, melakukan  konservasi dari sistrim drainasi alam  sehingga dapat menurunkan puncak  banjir. Tampungan air yang permanent  atau sementara sangat diperlukan untuk  mengontrol volume dan puncak banjir, serta kualitas air limpasan.

Cara berikut adalah teknik tradisional  yang sering di pakai untuk menampung  air agar volume dan puncak banjir menurun:

  1. Menggunakan saluran dengan  bangunan check yang menahan   aliran.
  2. Saluran lebar dengan kemiringan kecil (Long Storage).
  3. Penampungan air hujan dengan tangki air penampung.
  4. Penampungan air hujan di atap rumah.
  5. Penampungan dangkal dilapangan parkir.
  6. Lahan basah dan kolam-kolam tampungan

Gambar 2. Perbedaan aliran banjir akibat pengembangan wilayah

MACAM DARI TEKNOLOGI LOW IMPACT DEVELOPMENT (LID)

Ada berbagai macam usaha  pengelolaan air hujan yang dapat  dikatagorikan kedalam teknik LID,  karena teknik tersebut meminimumkan  peningkatan aliran air limpasan,  meningkatkan infiltrasi, filtrasi dan  evaporasi serta menampung sementara  air hujan. Untuk memanfaatkan teknik  LID pada sistim drainasi kota,  peningkatan partisipasi masyarakat  pada peran serta untuk membangun  dan memelihara sarana dan prasarana  sistim drainasi sangat diperlukan.  Peningkatan peranserta masyarakat ini  diusahakan dengan sosialisasi atau  pendidikan pada masyarakat. Teknik  Bioretensi, saluran rumput serta  perkerasan yang lulus air akan diuraikan  dibawah merupakan usaha untuk  melakukan penampungan air hujan,  menambah kekasaran agar aliran  melambat dan memperbesar infiltrasi.  Teknik tersebut diatas merupakan  teknologi LID yang sangat sering  dimanfaatkan untuk mengelola air hujan  wilayah yang dikembangkan untuk  mempertahankan daya dukung, daya  tampung lingkungan hidup dan  merupakan usaha untuk  mempertahankan ruang terbuka yang sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007.

Bioretention (Rain Garden)

Sistim “Bioretention” yang dibangun  dapat menjadi bagian ruang terbuka  hijau dan dirancang berdasarkan jenis  tanahnya, kondisi lokasi dan tata ruang  rencana wilayah pengembangan.  Penggunaan Bioretention sebagai ruang  terbuka hijau di daerah real estate dapat  meningkatkan nilai estitika daerah yang  dikembangkan (Cofman, 2000;  Winogradoff, 2001). Bioretention  mengintegrasikan fungsi pengurangan  polusi dan tampungan aliran permukaan  akibat dari penyaringan/pembersihan  sampah dan sedimentasi. Pemberian  compost dan pemeliharaaan serta  penggantian tanaman merupakan usaha  pemeliharaan dan pengoperasian Bioretention yang perlu dilaksanakan.  Untuk memelihara tanaman di  Bioretention sebaiknya tidak perlu atau  tidak boleh menggunakan pupuk  buatan. Tumbuhan yang ditanam pada  Bioretention seyogyanya menggunakan tanaman asli daerah, agar mudah  tumbuh karena cocok dengan kondisi  iklim daerahnya. Pengurangan polutan  dari air limpasan permukaan yang  berupa sediment, metal serta  kandungan lain merupakan efek  sedimentasi, proses penyaringan dari  media yang digunakan serta proses  microbiologi dari material organic (Cofman, 2000; Winogradoff, 2001).

Agar pengelolaan air hujan di  Bioretention dapat di optimalkan, maka proses yang terjadi perlu dipahami.  Berikut ini adalah beberapa proses  utama yang ada pada Bioretension  untuk air hujan local (Winogradoff, 2001);

  • Intersepsi merupakan proses  tertangkapnya air hujan oleh daun tanaman serta lapisan penutup  (mulch), sehingga memperlambat  atau mengurangi terjadinya aliran permukaan.
  • Infiltrasi adalah proses utama yang  ada di Bioretention, baik yang mempunyai saluran underdrain maupun yang tidak.
  • Pengendapan akan terjadi akibat  aliran lambat yang ada di Bioretention, akibatnya partikel yang  ada di air akan tertinggal di permukaan Bioretention.
  • Absorsi adalah proses penahanan  air di ruang antara partikel tanah yang kemudian akan diserap oleh akar tanaman.
  • Evapotranspirasi akan terjadi di  Bioretention akan berubah sebagian air limpasan menjadi uap air.
  • Absorsi yang terjadi adalah proses  penyerapan kandungan kimia seperti metal dan nitrat yang terlarut di air oleh humus dan tanah.

Gambar 3. Potongan memanjang “Bioretention”

Potongan memanjang Bioretention pada   Gambar 3. menunjukan bahwa aliran   limpasan permukaan dari jalan akan   masuk ke Bioretensi. Hujan awal yang turun di jalan akan mencuci jalan   sehingga aliran permukaannya akan membawa partikel sedimen, kandungan   kimia dan oli yang tertetes di muka jalan, dan mengalir masuk kedalam.   Bioretention. Aliran permukaan dari hujan awal ini akan menjalani proses   permunian yang ada di Bioretention. Jika hujan masih turun terus sehingga   kapasitas tampungan Bioretention sudah terlampaui air kan mengalir   langsung ke sistim saluran drainasi melalui pelimpah yang telah disediakan.   Hujan awal sudah mencuci permukaan   jalan sehingga kualitas air limpasan   permukaan dari hujan berikutnya   diharapkan sudah baik dan boleh mengalir langsung ke badan air.

Saluran Rumput

Saluran rumput dapat dimanfaatkan   sebagai saluran pembawa air hujan pada berbagai lokasi dan kondisi,   fleksibel dan relative murah (USDOT, 1996). Umumnya saluran terbuka   rumput sangat cocok sebagai saluran pematusan daerah tangkapan air yang   kecil dengan kemiringan yang landai (Center for Watershed Protection,   1998). Penggunaan saluran ini   biasanya sebagai saluran sepanjang   jalan lingkungan dan “Highway”,   fungsinya untuk mengurangi kecepatan   aliran permukaan dan sebagai filter dan   tempat infiltrasi. Selain fungsi tersebut   diatas pengendapan sediment   merupakan mekanisme utama dari   upaya pengurangan polutan. Saluran   rumput sangat efektif kerjanya jika   kedalaman aliran minimum dan waktu   tinggalnya maksimum. Stabilitas   saluran rumput dan kemampuan   pengurangan polutan sangat   dipengaruhi oleh erodibilitas tanahnya,   kemiringan saluran dan kerapatan tanaman.

Gambar 4. Denah Saluran Rumput

Gambar 5. Potongan Melintang Saluran Rumput

Perkerasan yang Lulus Air

Perkerasan permukaan jalan adalah  penyebab meningkatnya volume  limpasan permukaan dari suatu wilayah   yang dikembangkan. Selain volume air  hujan yang menjadi limpasan  permukaan, jalan dan lapangan parker yang dibangun akan menyebabkan  peningkatan polusi. Penggunaan perkerasan yang lulus air adalah salah  satu teknik LID yang efektif untuk mengurangi persentase daerah yang  kedap air. Berbagai studi menyimpulkan bahwa kualitas air  sungai, danau dan rawa menurun  drastis akibat daerah kedap air dari  daerah tangkapan airnya lebih dari 10%.  Perkerasan yang lulus air sangat cocok  sebagai perkerasan jalan yang  lalulintasnya rendah seperti lapangan  parkir atau jalan setapak. Penggunaan  perkerasan lulus air yang paling berhasil  adalah perkerasan lulus air di daerah  pesisir yang mempunyai tanah pasiran  dengan kemiringan yang landai (EPA, 2000).

Gambar 6. Perkerasan yang lulus air

SIMPULAN

Pengelolaan air hujan ditempatnya  dapat mempertahankan ukuran saluran pengendali banjir regional. Sistim  pengelolaan air hujan lokal yang memanfaatkan teknologi LID  dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi yang telah ada merupakan  sistim pengelolaan air hujan yang murah  tetapi dapat mempertahankan  kelestarian lingkungan. Teknologi LID  diharapkan mampu untuk mengurangi  dampak negatip terhadap lingkungan  akibat pengembangan suatu daerah  dengan mencapai keseimbangan antara konservasi, perkembangan, proteksi ekosistim dan kualitas hidup.

Mempertahankan kondisi hidrologi dari  wilayah atau daerah yang dikembangkan dengan  mempertahankan dan meningkatkan  intensitas infiltrasi, penyaringan,  penampungan, penguapan dan  peningkatan kekasaran permukaan  adalah usaha yang digunakan teknologi  LID dalam sistim pengelolaan air hujan  lokal. Meskipun sudah banyak  penggunaan teknologi di berbagai  wilayah dunia, tetapi teknologi tersebut  perlu dan harus dikaji efektifitasnya  serta disesuaikan teknologinya dalam penggunaannya di Indonesia.  Pemanfaatan teknologi LID ini akan membantu meningkatkan usaha  pengembangan wilayah dan perkembangan ekonomi.

Meminimumkan dampak  pengembangkan wilayah dengan  mengurangi daerah kedap air,  mengkonservasi sumber daya alam dan  ekosistim, mempertahankan sistim  drainasi alam, dan meminimalkan  penggunaan saluran pasangan,  memaksimalkan usaha penampungan  air, mempertahankan atau memperlama  waktu konsentrasi, serta melaksanakan pendidikan pada masyarakat  merupakan usaha teknologi LID untuk meminimumkan dampak negatif dari pengembangan suatu wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim, 2004, Undang-undang  Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya air
  2. Anonim, 2007, Undang-undang  Republik Indonesia Nomor 26  Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
  3. Anonim, 1995, Stormwater  Management for Maine: Best  management practices, www.  State.me.us/dep/blwq/training/npspu bl.htm
  4. Coffman, Larry. 2000. Low-Impact  Development Design Strategies, An  Integrated Design Approach. EPA  841-B-00-003. Prince George’s County, Maryland. Department of  Environmental Resources, Programs and Planning Division.
  5. EPA, 2000, Low Impact  Development (LID) A Literature  Review, EPA-841-B-00-005,  Washington, DC 20460 October 2000
  6. Winogradoff, A. Derek, 2001, The  Bioretention ManuaL, Programs & Planning Division Department of  Environmental Resources Prince George’s County, Maryland.

4 Komentar »

  1. Untuk Pengelolaan banjir di suatu WS / DAS, System Pengelolaan Air Hujan Lokal tersebut selain sangat cocok untuk Daerah Perkotaan, juga prinsip yang sama untuk daerah Rural DAS, dengan Pembuatan teracering di daerah up stream dlm bentuk Got buntu yg selain berfungsi sebagai silt trap mengendalikan sediment, juga mrpkn tampungan2 yang bisa meredam ruoff / limpasan permukaan, bila dalam jumlah besar dpt menunda dan mengurangi debit puncak banjir, perlu dicoba utk diaplikasikan pada pengelolaan hutan kita, tidak hanya kegiatan reboisasi vegetative saja.

    Komentar oleh Agung Suseno — Oktober 14, 2011 @ 2:10 am

  2. Konsep2 Low Impact Development tsb membuat celah baru untuk merevisi Tata Ruang Berbasis DAS menjadi lebih flexible ; misalnya dengan menambahkan ketentuan perizinan hrs melengkapi fasilitas retensi dan atau infiltrasi utk bangunan baru di daerah resapan, sebagaimana diberlakukan pada perizinan industri yg hrs dilengkapi instalasi pengolah limbah

    Komentar oleh Agung Suseno — Oktober 14, 2011 @ 2:21 am

  3. Banyak konsep tapi mati di aplikasi, sulit sekali mengubah mindframe/paradigma teman-teman pemerintahan/birokrasi yang berkecimpung di sektor pengelolaan sumberdaya air…

    Komentar oleh Bambang Pramusinto — Januari 3, 2013 @ 11:25 am

  4. Rata-rata berorientasi proyek semata…

    Komentar oleh Bambang Pramusinto — Januari 3, 2013 @ 11:26 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: