BebasBanjir2015

Aspek Mitigasi

DAS Ciliwung dan Mitigasi Banjir di DKI

Oleh : Suwardi, St.

19-Feb-2008, 21:24:40 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia – Banjir di Jakarta yang terjadi pada awal 2008 ini ditaksir telah mengakibatkan kerugian ekonomi melebihi 7 triliun rupiah dan mengindikasikan banyaknya masalah terkait dengannya (Momberg F. & Kirana C.) seperti:

a). Hilangnya kelestarian wilayah kawasan penyimpan air di Jabodetabek. Situ, danau, rawa dan hutan bakau, berperan penting sebagai penyimpan air yang mengurangi volume banjir. Kelestarian kawasan ini merupakan keharusan. Jakarta terus kehilangan kawasan lahan basah demi kawasan real estate, perindustrian, lapangan golf dan sebagainya. Hutan bakau Angke Kapuk, pada 1980-an masih menutupi areal seluas 1.500-an hektare, merosot tajam menjadi 327 hektare saja pada tahun 1993.

b). Konversi besar-besaran ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air di jabodetabek dan bopunjur. Penghijauan Kota Jakarta adalah isu usang yang berulang diusung pemerintah DKI. Tak kurang dari delapan program penghijauan diluncurkan sejak 1970 hingga yang terkini Program Jakarta Hijau (2003). Anehnya, target luasan ruang terbuka hijau (RTH) yang ingin dicapai justru terus menurun tajam. Jika dalam Rencana Induk Djakarta 1965-1985 ditargetkan luas RTH sebesar 37,2 persen, maka dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta 1985-2005 target luas RTH dipangkas menjadi 25,85 persen. (Nirwono Jogo, Kompas, 19 Juni 2003). Selanjutnya, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2000-2010 dengan target hanya sebesar 13,94 persen (tidak ideal). Sementara itu, luas RTH di lapangan hanya berkisar 9% dari total luas Kota Jakarta.

c). Menurunnya kualitas lahan hijau di pekarangan bangunan.
Sebenarnya pemerintah telah memiliki peraturan yang jelas tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang mengatur perbandingan antara luas dasar bangunan dan tanah yang ditempatinya. KDB untuk masing masing wilayah, diatur bervariasi tergantung kepada peruntukkannya. Sebagai contoh, menurut RUTR DKI, di Jakarta Selatan wilayah pengembangan Selatan untuk pelestarian lingkungan dan resapan air KDB nya 20% saja – ini berarti jika luas tanah 100 meter persegi, maka bangunan diatasnya maksimun seluas 20 meter persegi.

d). Tidak optimalnya setiap bangunan memiliki sumur resapan
Sumur resapan, menampung air hujan di dalam tanah, membantu memperkecil volume air mengalir dan banjir. Potensi air hujan di wilayah DKI diperkirakan mencapai tiga milliar kubik per tahun (Dinas Pertambangan DKI). Menurut Neraca Keseimbangan Lingkungan Hidup Daerah (NKLHD) 2001, dari luas wilayah Jakarta sebesar 661 kilometer persegi, 92 persen diantaranya telah terbangun, akibatnya air hujan langsung mengalir di permukaan dan kurang meresap ketanah. Ini menyebabkan banjir di musim hujan dan kesulitan air bersih dimusim kering. Guna mengisi kembali air tanah sebagai cadangan air, dan mengurangi resiko banjir diperlukan gerakan pembangunan sumur resapan air hujan di seluruh Jakarta.

e). Rusak dan tersemarnya sempadan sungai
Tanaman di sepanjang sempadan sungai, berfungsi mencegah erosi dan longsor. Sempadan sungai yang banyak ditumbuhi pohon akan mengurangi kecepatan aliran air hingga kerusakan berkurang. Diperlukan upaya serius untuk mewujudkan kawasan selebar 25 meter dari bibir kanan dan kiri sungai sungai besar (5 meter pada sungai kecil) menjadi kawasan penyimpan air yang efektif. Penegakan hukum terhadap operasi pembuangan ilegal dengan menutup dan merehabilitasi gunung-gunung sampah di bantaran sungai, dan memberikan subsidi untuk sistem pengumpulan sampah di kelurahan-kelurahan miskin sepanjang sempadan sungai. Dalam jangka menengah, pengembangan sistem daur ulang sampah dan pengomposan sampah organik berbasis masyarakat dapat lebih jauh menjawab persoalan di akarnya.

Beberapa permasalahan di atas hanya dapat mungkin disolusikan jika didukung oleh proses perencanaan lingkungan yang baik. Pendekatan ekosistem yang telah berkembang sangat tepat dalam merumuskan strategi pengelolaan lingkungan DAS Ciliwung agar mempunyai manfaat ganda, yaitu sebagai alat mitigasi banjir DKI dengan mengurangi debit banjir (run off), menjadi sumber rersapan air tanah, dan sarana wisata.

Pendekatan pembangunan berazaskan ekologi, ekonomi dan sosial dalam perencanaan spasial lingkungan hidup pada daerah aliran sungai didukung oleh berbagai latar belakang olehanatraa lain: perkembangan IPTEK yang terus berkembang mengakibatkan kecenderungan eksploitasi SDA semakin intensif; Pertumbuhan populasi manusia yang terus meningkat, berarti tingkat konsumsi mereka juga semakin meningkat termasuk kebutuhan lahan dan air ataupun udara bersih. Pertumbuhan ini menyebabkan semakin meningkatnya pencemaran dan kerusakkan lingkungan; Timbulnya kekurangan air, banjir, erosi, pencemaran dsb; Program pembangunan yang tidak terintegrasi dan tidak terpadu menjadi penyebab bagi rusak dan tercemarnya lingkungan hidup; Penyebab rusak dan tercemarnya kualitas air sangat terekait dengan kegiatan seluruh pembangunan manusia di kawasan aliran sungai bersangkutan; Kawasan aliran sungai sebagi unit ekosistem sehingga sangatlah tepat jika implementasi pembangunan berwawasan lingkungan dilaksanakan atas pertimbangan pembangunan unit kawasan aliran sungai dalam suatu tatanan eco-region.

Dimensi Pendekatan

Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan, menyebutkan bahwa Kawasan aliran sungai (DAS) adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa, sehingga merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber-sumber air lainnya yang penyimpannya serta pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hukum-hukum alam sekelilingnya demi keseimbangan daerah tersebut.

Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air, menyebutkan Daerah Pengaliran Sungai adalah suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah dimana air meresap dan/atau mengalir melalui sungai dan anak-anak sungai yang bersangkutan; sedangkan Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah tata pengairan sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 ayat 7 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 sebagai hasil pengembangan satu atau lebih daerah pengaliran sungai. DAn pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan merupakan suatu proses untuk menentukan masa depan yang tepat, melalui suatu urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia.

Berdasarkan dimensi pendekatan, pengelolaan DAS dengan ekosistem terdiri dari:

a. Perencanaan Makro
Perencanaan makro adalah perencanaan DAS dalam skala makro atau menyeluruh. Dalam hal ini, dikaji tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan DAS yang akan direncanakan, besar investasi masyarakat dan pemerintah akan tumbuh, dan proyeksinya. Perencanaan ini dilakukan untuk menenutkan tujuan dan sasaran yang mungkin dicapai dalam jangka waktu rencana dengan memperhatikan berbagai variabel ekonomi mikro. Perencanaan makro dilakukan dengan melihat dan memperhitungkan secara cermat keterkaitannya dengan perencanaan sektoral dan regional.

b. Perencanaan Sektoral
Perencanaan sektoral adalah perencanaan yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan sektor. Pengertian sektor adalah kumpulan dari kegiatan atau program yang mempunyai persamaan ciri-ciri serta tujuannya. Hal dimaksudkan untuk memudahkan dalam perhitungan pencapaian sasaran makro. Sehingga dalam perncanaan DAS Ciliwung perlu diidentifikasi sektor apa saja yang berinteraksi, antara lain sektor parwiisata, pertanian, perikanan, penyedian air minum, transportasi, pemukiman dll.

c. Perencanaan Regional
Pendekatan dalam perencanaan regional menitikberatkan pada aspek lokasi tempat berlangsungnya kegiatan yang dilakukan. Pemerintah daerah berupaya untuk mendayagunakan aspek ruang di daerah. Sehingga memandang DAS Ciliwung tidak hanya wilayah Jakarta tapi juga kawasan Bogor, Puncak dan Cianjur Jawa Barat.

d. Perencanaan Mikro
Perencanaan mikro adalah perencanaan skala rinci dalam perencanaan tahunan yang merupakan penjabaran rencana-rencana sektoral, maupun regional ke dalam susunan proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan dengan berbagai dokumen perencanaan dan penganggarannya. Keseluruhan pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan diandalkan pada implementasi dari rencana-rencana tingkat mikro. Untuk itu diperlukan indikator yang jelas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, misalnya seberapa luas areal sawah yang bisa diirigasi, produksi air minum, kegiatan wisata apa, budidaya perikanan apa, keanekaragaman hayati apa yang harus dijaga, debit air seberapa, pemanfaatan pemukiman yang bagaimana dan seterusnya.

Penentuan Tujuan

Paradigma perencanaan DAS yang beorientasi pada pembangunan berkelanjutan daerah dalam kerangka desentralisasi harus melalui pendekatan dialektika dalam merumuskan tujuan bersama. Proses diallektika dibangun dengan mengenali keterkaitan 3 subsistem; ekosistem alami SA dan LH, sistim produksi-distribusi-konsumsi, dan sistim sosial-budaya.

Pengelolaan DAS adalah pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, yang dapat pulih (renewable), seperti air, tanah, dan vegetasi dalam sebuah kawasan sungai dengan tujuan untuk memperbaiki, memelihara dan melindungi keadaan kawasan sungai, agar dapat menghasilkan hasil air (water yield) untuk kepentingan pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan masyarakat yaitu air minum, industri, irigasi, tenaga listrik, rekreasi dan sebagainya. Namun dalam perkembangan permasalahan selanjutnya ternyata penyebab kerusakan sumberdaya air menyangkut berbagai tatananan kehidupan manusia dan pembangunan yang sangat kompleks. Sehingga semua aktor/stakeholders dan kegiatan pembangunan dalam satuan kawasan sungai bersangkutan, bahkan keterkaitannya antara kawasan sungai satu dengan lainnya, haruslah menjadi kesatuan dalam sistem pembangunan daerah bersangkutan. Pendekatan ini menjadi strategis dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan memperhatikan faktor ekonomi, ekologi dan kehidupan sosial sebagai pilar utamanya.

Pewilayahan

Pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun.

Dalam ekosistem DAS (Irwanto, 2006), dapat diklasifikasikan menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, DAS bagian hilir merupakan daerah pemanfaatan. DAS bagian hulu mempunyai arti penting terutama dari segi perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap terjadinya kegiatan di daerah hulu akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran airnya. Dengan perkataan lain ekosistem DAS, bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan DAS. Perlindungan ini antara lain dari segi fungsi tata air, dan oleh karenanya pengelolaan DAS hulu seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Bagian hulu DAS seringkali mengalami konflik kepentingan dalam penggunaan lahan, terutama untuk kegiatan pertanian, pariwisata, pertambangan, serta permukiman. Mengingat DAS bagian hulu mempunyai keterbatasan kemampuan, maka setiap kesalahan pemanfaatan akan berdampak negatif pada bagian hilirnya. Pada prinsipnya, DAS bagian hulu dapat dilakukan usaha konservasi dengan mencakup aspek aspek yang berhubungan dengan suplai air.

Secara ekologis, hal tersebut berkaitan dengan ekosistem tangkapan air (catchment ecosystem) yang merupakan rangkaian proses alami daur hidrologi. Permasalahan pengelolaan DAS dapat dilakukan melalui suatu pengkajian komponen komponen DAS dan penelusuran hubungan antar komponen yang saling berkaitan, sehingga tindakan pengelolaan dan pengendalian yang dilakukan tidak hanya bersifat parsial dan sektoral, tetapi sudah terarah pada penyebab utama kerusakan dan akibat yang ditimbulkan, serta dilakukan secara terpadu. Salah satu persoalan pengelolaan DAS dalam konteks wilayah adalah letak hulu sungai yang biasanya berada pada suatu kabupaten tertentu dan melewati beberapa kabupaten serta daerah hilirnya berada di kabupaten lainnya. Oleh karena itu, daerah daerah yang dilalui harus memandang DAS sebagai suatu sistem terintegrasi, serta menjadi tanggung jawab bersama. Dengan demikian bila ada bencana, apakah itu banjir maupun keker ingan, penanggulangannya dapat dilakukan secara menyeluruh yang meliputi DAS mulai dari daerah hulu sampai hilir.

Pengambilan Keputusan

Dasar dari perencanaan daerah aliran sungai yang dikembangkan sebagai pendekatan integral dari perencanaan pengelolaan lingkungan hidup wilayah adalah data dasar antar sektor yang dapat diandalkan, mencakup semua sub–sektor dan sub-institusi. Cara yang paling effisien untuk menyampaikan informasi dan data tersebut adalah dalam bentuk peta tematik yang komprehensif. Kompilasi, validasi dan analisis informasi dikerjakan bersama antlembaga administratif dan tim interdisipliner. Kompilasi, analisa, dan deskripsi kondisi aktual sekaligus kondisi kecenderungannya (trend) dipersiapkan dalam bentuk profile kawasan aliran sungai. Dokumen ini mencakup deskripsi dan evaluasi mengenai permasalahan umum, alternatif solusi, dan kegiatan yang relevan untuk meningkatkan situasi yang ada. Hasil-hasil tersebut didiskusikan dan dievaluasi bersama. Oleh karena itu keikutsertaan secara intensif dan langsung oleh semua stakeholders saat persiapan profile daerah aliran sungai merupakan faktor yang sangat penting, sehingga tim perencana dapat melakukan pengecekan silang, dan dijadikan suatu pelatihan sambil bekerja (training on the job). Profil ini mencakup juga analisis sensitivitas, resiko, hot spots dan target kualitas lingkungan hidup untuk kawasan.

Tim perencana mempersiapkan profile tersebut untuk digunakan bagi pemerintahan daerah dan lembaga perwakilan rakyat daerah. Seperti pada tahap awal, profil tersebut digunakan sebagai referensi dasar untuk pengambilan keputusan secara informatif dan kompeten dengan memperhatikan peningkatan pengelolaan terpadu lingkungan hidup wilayah dalam suatu perencanaan pengelolaan kawasan aliran sungai.

Izin perencanaan pengelolaan oleh pemerintah daerah dan perwakilan rakyat daerah adalah landasan untuk penerapan action plan antar badan administratip. Perencanaan ini dikembangkan dengan cara partisipatif bersama dengan multi stakeholder ( Proyek Kerja Sama Jerman-Indonesia).

Multistakeholder

Proses perencanaan dan pengambilan keputusan harus memberikan keleluasaan dan kesempatan yang begitu luas kepada masyarakat dan semua pelaku (stakeholders) di daerah untuk berpartisipasi dalam mengelola DAS dan sebagai pelaku utama pembangunan bukan hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga subyek, dengan maksud agar:

  1. Mengurangi disparitas atau ketimpangan pembangunan antar-daerah dan antar sub-daerah serta antar-warga masyarakat;
  2. Menanggulangi kemiskinan;
  3. Menciptakan atau menambah lapangan kerja;
  4. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat daerah;
  5. Mempertahankan atau menjaga kelestarian sumberdaya alam agar bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi masa datang (pembangunan berkesinambungan).

Kata Akhir

Perencanaan pengelolaan DAS dengan pendekatan spasial dan ekosistem dapat meminimalkan potensi konflik kepentingan dalam penggunaan lahan, karena mulai dari tahapo perencanaan sampai dengan implementasi telah melibatkan semua stakeholders. Disamping itu dalam pores pengawasan dan evaluasi, setiap kesalahan atau ketidakkonsistenan pemanfaatan DAS dapat dipantau oleh semua stakeholder.

Blog:http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:

Sumber: http://www.kabarindonesia.com

Petani Desak Pemerintah Lakukan Mitigasi Banjir

Selasa, 08 Januari 2008 15:49 WIB

Reporter : Asep Toha

JAKARTA–MEDIA: Petani mendesak pemerintah untuk melakukan mitigasi bencana banjir. Hal ini termasuk pemetaan wilayah-wilayah yang sawahnya terkena puso, agar penggunaan dana tanggap darurat Rp80 miliar bisa tepat sasaran.

“Menteri Pertanian harus segera melakukan perencanaan mitigasi dengan memetakan wilayah-wilayah puso. Sehingga, diketahui secara tepat kebutuhan bantuan untuk pemulihan usaha tani dan perbaikan pengelolaan SDA (sumber daya alam) untuk penanggulangannya dimasa-masa yang akan datang,” tutur Ketua Umum Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia (Wamti) Agusdin Pulungan melalui pesan singkatnya pada Media Indonesia, Selasa (8/1).

Agusdin mengatakan bencana banjir yang menimpa beberapa sentra produksi pertanian belum mengancam ketahanan pangan nasional. Pasalnya, dibanding produksi dan luas tanam nasional, lahan yang terkena banjir masih kecil. Kendati demikian, pemerintah harus memperbaiki distribusi beras yang mungkin terganggu akibat bencana.

Meski begitu, mitigasi dan penanggulangan dampak bencana tetap harus dilakukan pemerintah. Khususnya penanganan bantuan pada petani Departemen Pertanian harus melakukan pendataan yang akurat.

Pendataan harus bisa merefleksikan kondisi riil di lapangan. Dengan begitu, segala bentuk bantuan atau rehabilitasi bisa tepat sasaran. “Bukan dengan cara hanya mencari info melalui diskusi dengan pejabat-pejabat di daerah banjir,” katanya.

Agusdin mengingatkan dana tanggap darurat sebesar Rp80 miliar akan sangat rawan penyalahgunaan. Pemicunya bisa berupa salah arah penyaluran dana. Biasanya hal ini disebabkan ketidaktepatan data. Untuk itulah, mitigasi bencana dan pendataannya perlu dilakukan seakurat mungkin.

“Dana tanggap darurat Deptan sebesar akan rawan penyalahgunaan jika tidak memiliki perencanaan mitigasi,” tambahnya.

Selain pemberian bantuan tanggap darurat, pemerintah juga tidak menutup kemungkinan pemutuhan utang petani korban banjir. Misalnya untuk kredit ketahanan pangan (KKP) yang diambil oleh para petani di daerah bencana. Pasalnya, akibat meluapnya sungai Bengawan Solo puluhan ribu hektare sawah terendam banjir dan kemungkinan besar akan puso.(Toh/OL-03)

Sumber: http://www.media-indonesia.com/berita.asp?Id=154804

Mitigasi Bencana Banjir di Yogyakarta

Written by Ananta Purwoarminta – GEFIS’01

Bencana merupakan peristiwa yang sering terjadi di beberapa tahun terakhir dan bencana bukan lagi menjadi kata yang asing bagi kita. Hampir setiap musim, bahkan setiap bulan selalu saja terjadi bencana. Musim penghujan misalnya, bagi sebagian orang musim ini merupakan musim yang membawa berkah, tetapi sebagian orang lagi musim ini akan membawa musibah. Bagi petani misalnya, musim hujan merupakan awal tanam dimana air akan mudah diperoleh dan tanaman dapat tumbuh. Hujan yang terhenti beberapa waktu lalu dan dengan suhu yang cukup tinggi, membuat para petani dan pemerintah khawatir akan kekurangan persediaan pangan. Kekhawatiran ini tidak bertahan lama, setelah beberapa minggu hujan pun turun. Ketika hujan turun ternyata munculah berbagai bencana yang banyak menelan korban. Bencana tanah longsor di Jawa Barat dan bencana banjir di Jakarta merupakan sebagian bencana yang melanda negeri ini setelah hujan turun.

Berbagai kejadian bencana berupa banjir dan tanah longsor dipicu oleh berkurangnya luasan penutupan hutan akibat penebangan hutan terjadi dimana-mana. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berfungsi utama sebagai pengatur siklus air dan siklus hara mengalami penurunan fungsi dan kualitas yang sangat besar. Pada tahun 2005 pemerintah telah menetapkan 62 DAS dalam kondisi kritis dengan 17 DAS diantaranya berada di Pulau Jawa (Departemen Pekerjaan Umum, 2006). Kerusakan lingkungan dan kekritisan Daerah Aliran Sungai merupakan salah satu penyebab bencana yang melanda Ibukota Negara tersebut. Alih fungsi lahan kawasan hulu dan buruknya sistem drainase karena sampah serta semakin berkurangnya lokasi resapan air merupakan biang keladi banjir di Jakarta. Banjir ini bukan pertama kalinya melanda Ibukota Negara, bahkan hampir setiap musim penghujan Jakarta selalu dilanda banjir. Banjir yang selalu terjadi setiap tahun ini harusnya dapat diatasi oleh pemerintah dan tentunya bekerjasama dengan masyarakat.

Dalam suatu sistem DAS Jakarta termasuk dalam kawasan hilir, dengan kawasan hulunya adalah Bogor. Bogor sebagai kawasan hulu, kini telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman padat. Alih fungsi kawasan ini tentu saja akan berpengaruh terhadap resapan air. Air yang harusnya dapat meresap melalui tanaman, namun air tersebut langsung mengalir ke sungai, dan tentu saja dengan tingkat erosi yang cukup tinggi. Tingginya erosi yang ada dikawasan hulu, akan berpengaruh terhadap pendangkalan sungai. Dangkalnya sungai ini akan mengurangi kemampuan sungai untuk menampung air. Pendangkalan sungai terjadi di semua sungai yang melalui Kota Jakarta. Pendangkalan sungai tersebut di perparah dengan pembuangan sampah ke sungai. Sampah ini tentu akan menyumbat aliran air, akibatnya aliran air akan terhambat sehingga apabila volume air besar, maka bukan tidak mungkin air akan meluap.

Kepadatan penduduk Jakarta menyebabkan semua kawasan di kota tersebut di huni penduduk termasuk kawasan bantaran sungai dan rawa. Kawasan banataran sungai dan rawa tersebut adalah kawasan milik air, dimana setiap hujan turun air akan selalu menuju kawasan tersebut. Namun saat ini yang terjadi, pada kawasan-kawasan itu telah berubah menjadi permukiman padat penduduk, sehingga saat air datang, daerah itu akan terendam oleh air. Selain itu, berdirinya berbagai macam bangunan di Jakarta tanpa memperhatikan sistem drainase juga merupakan salah satu penyebab banjir tersebut. Hal ini menandakan bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap lingkungan, serta lemahnya penegakan hukum yang ada di negeri ini.

Bagaimana dengan Yogyakarta?

Yogyakarta yang kini berkembang menjadi kota besar, seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan bertambah banyaknya pendirian bangunan, seperti mall dan perumahan, maka bukan tidak mungkin kota ini akan terkena banjir seperti Jakarta. Hal ini dikarenakan dengan bertambahnya bangunan maka akan mengurangi zona resapan airdan akan mengganggu system drainase yang ada di kota ini. Selain itu, bertambah padatnya penduduk di kota ini tentu saja akan berpengaruh terhadap jumlah sampah. Sampah bukan hal yang sepele, dan masyarakat pasti sudah faham akan hal tersebut. Setiap masyarakat wajib bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan, dan sampah tidak boleh di buang di sungai. Berbagai macam hal tersebut harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah dan masyarakat kota Yogyakarta.

Dalam suatu sistem DAS kota Yogyakarta merupakan kawasan tengah, dengan Gunung Merapi dan beberapa daerah di Kabupaten Sleman sebagai kawasan hulu dan kawasan hilir berada di Kabupaten Bantul. Koordinasai dari ketiga kawasan ini yaitu antara hulu, tengah dan hilir harus selalu dilakukan. Laju alih fungsi lahan di kawasan hulu harus dikendalikan, jika alih fungsi lahan tersebut tidak terkendali maka bukan tidak mungkin kawasan hulu akan dipenuhi oleh bangunan-bangunan yang tentu saja akan mengurangi zona resapan air. Selain itu rusaknya kawasan hulu tentu saja akan meningkatkan erosi dan akibatnya akan terjadi pendangkalan sungai.

Sistem drainase, juga berpengaruh terhadap aliran air. Setiap bangunan atau masyarakat bertanggung jawab terhadap saluran drainase di sekitarnya. Buruknya atau rusaknya sistem drainase ini telah terjadi di Yogyakarta, hal ini terbukti saat terjadi hujan ada beberapa ruas jalan yang digenangi air. Tinggi genangan air tersebut sekitar 20-30 centimeter, dan genangan air tersebut sudah cukup mengganggu arus lalu lintas. Hal ini jika diabaikan atau tidak segera diperbaiki ,maka semakin lama genangan air di jalan akan semakin tinggi, dan bukan tidak mungkin akan terjadi banjir seperti Jakarta.

Yogyakarta yang dilalui oleh beberapa sungai besar seperti sungai code yang membelah jogja bukan tidak mungkin akan meluap dan menimbulkan banjir. Penduduk yang tinggal di bantaran sungai code cukup padat. Bantaran sungai seharusnya tidak digunakan untuk tempat tinggal, karena kawasan itu adalah tempat untuk luapan air jika sungai tidak mampu menampung aliran air. Namun kini sudah terlanjur, bantaran sungai di Yogyakarta telah dipadati oleh permukiman penduduk. Hal yang sekarang dilakukan adalah menjaga agar sungai dapat mampu menampung air dan mengalirkannya tanpa melimpahkan air ke bantaran sungai. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak membuang sampah di sungai. Yogyakarta merupakan kawasan percontohan dalam hal penataan pemukiman di bantaran sungai. Rumah penduduk tidak boleh membelakangi sungai, rumah penduduk harus menghadap ke sungai, hal ini menandakan bahwa sungai bukan merupakan tempat pembuangan.

Zona resapan air harus dipertahankan, karena zona ini berfungsi untuk menampung air saat musim hujan, sehingga ketika hujan turun air tidak langsung menuju ke sungai tetapi tertahan di zona ini. Contoh resapan air ini adalah lembah UGM dan kolam air di kompleks stadion Tridadi Kabupaten Sleman. Selain zona tersebut, sumur resapan harus dibuat atau dimaksimalkan fungsinya. Zona resapan ini selain berfungsi menampung air di musim hujan tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi air di musim kemarau, sehingga bencana kekeringan dapat di cegah.

Penambangan pasir di kawasan gunung merapi juga akan berpengaruh terhadap aliran air. Apabila pasir ditambang dengan besar-besaran dan tanpa dikendalikan, maka air yang harusnya terhambat oleh pasir di kawasan hulu dan dapat diserap oleh tanaman akan langsung di teruskan ke kawasan hilir dan tentunya dengan tingkat erosi yang tinggi. Akibatnya daerah hilir akan menerima limpasan air yang lebih besar dari pada sebelumnya. Tingginya tingkat erosi dapat menyebabkan pendangkalan sungai, sehingga sungainya menjadi dangkal dan limpasan air menjadi lebih besar, dan bukan tidak mungkin air akan meluap.

Pemerintah, masyarakat dan akademisi harus bekerja sama dalam melakukan upaya mitigasi bencana banjir. Ketiga unsur tersebut tidak boleh terpisah-pisah dalam melakukan mitigasi. Semua harus bekerja secara integral. Pemerintah mempunyai kewenangan dalam menata lingkungan atas bantuan penelitian dari akademisi dan masyarakat sebagai pelaksananya. Berbagai persoalan penyebab bencana banjir tersebut diatas, harus segera menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Kesadaran mengelola lingkungan sekitar sangat diperlukan jika tidak ingin terjadi bencana, dan itu menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan pemerintah saja Penegakan hukum dan peratuan yang berlaku, terkait dengan pendirian bangunan serta penebangan hutan juga harus dilakukan oleh pemerintah dan setiap pendiri bangunan mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya. Pemerintah juga harus mampu mengendalikan laju aluh fungsi lahan, dengan menysusun tata ruang kotanya. Bencana di daerah lain harusnya menjadi pelajaran juga bagi kota-kota lain, tidak hanya bagi daerah yang terkena bencana.

*) Penulis adalah Staf Divisi Pelatihan dan Pengembangan SDM, Pusat Studi Bencana – Universitas Gadjah Mada
Sumber: http://sutikno.org, Wednesday, 28 February 2007

Panduan Sederhana Menghadapi Banjir

Pengenalan Banjir

Banjir merupakan bencana alam yang perlu mendapat perhatian, karena mengancam jiwa dan ekonomi masyarakat. Banjir merupakan bencana alam yang ke tiga terbesar di dunia yang telah banyak menelan korban jiwa dan kerugian harta benda.

Sering kali banjir dianggap remeh, sebagai anggota masyarakat, kita wajib berperan serta untuk bersiap sedia menghadapi ancaman bahaya banjir dengan persiapan dini.

Sebelum Banjir

1. Dapatkan pengumuman resmi dari sumber yang dapat dipercaya tentang banjir di wilayah Anda.
2. Pastikan Anda memantau perkembangan banjir melalui radio FM/AM atau televisi Anda, juga via RT/RW lingkungan Anda.
3. Periksa lubang saluran pembuangan air, juga kloset Anda.
4. Bersihkan dari segala penghalang dan pastikan saluran tertutup rapat supaya air banjir tidak melimpah masuk melalui lubang saluran air tersebut.
5. Pastikan bahwa Anda tahu benar dimana POSKO banjir terdekat dari rumah Anda.
6. Buat perencanaan dengan keluarga, kalau perlu latihan evakuasi keluarga, sebagai persiapan jika banjir benar-benar datang.
7. Sediakan Perlengkapan P3K dan alat-alat standard penyelamatan.
8. Pastikan seluruh anggota keluarga Anda mengetahui langkah darurat jika banjir tiba.

Apa yang harus dilakukan untuk mewaspadai banjir

1. Dengar pengumuman dari radio.
2. Penuhi tong, bak mandi, ember dan segala wadah air lainnya dengan air bersih. Karena saat banjir, air mungkin menjadi kotor dan sulit mendapatkan air bersih.
3. Bawalah masuk perabot atau perkakas di luar rumah.
4. Letakkan dokumen penting di tempat yang aman atau masukkan pada wadah yang kedap/tahan air, agar tidak rusak.
5. Tutuplah dengan aman stop kontak listrik, jika perlu padamkan listrik dan saluran gas rumah Anda.
6. Beritahu anggota keluarga Anda dan bersiaplah untuk mengungsi.

Perlengkapan Standard Penyelamatan Banjir

1. Radio kecil dg baterei – utk mendapatkan informasi ttg banjir
2. Handphone dg baterei full – utk berkomunikasi
3. Pelampung renang – utk anak-anak & mereka yg tdk bisa berenang
4. Senter – alat penerang, tanda bahaya, dan minta pertolongan
5. Peluit – tanda bahaya, dan minta pertolongan
6. Obat-obatan sederhana (diare, masuk angin, flu, demam)
7. P3K – Pertolongan Pertama jika terjadi Kecelakaan
8. Air bersih dalam wadah yg mudah dibawa (bisa dg gula utk menambah energi)
9. Tali – menghidari dari tarikan arus

Saat Banjir Terjadi [ Posisi Sedang Di Dalam Rumah ]

1. Terus pantau pengumuman dan berita dari radio.
2. Siap sedialah dengan semua peralatan darurat standard.
3. Jika diarahkan oleh POSKO dan/atau RT/RW untuk keluar dan mengungsi, segera lakukan.

Saat Banjir Terjadi [ Posisi Sedang Di Luar Rumah ]

1. Pergilah ke tempat yang tinggi dan aman.
2. Hindari melalui kawasan banjir, arus yang deras dapat menghanyutkan Anda dan keluarga Anda.
3. Jangan berjalan-jalan/melihat-lihat/berenang-renang di kawasan banjir, baik dengan rakit maupun berjalan kaki, berbahaya!
4. Jangan sampai menyentuh kabel-kabel yang jatuh atau tiang listrik.
5. Awasi anak-anak, jangan biarkan mereka bermain-main di saluran air, sungai atau kawasan banjir dan arus deras lainnya.
6. Jangan minum dan memasak dengan air banjir.

Saat Banjir Terjadi [ Posisi Sedang Di Dalam Kendaraan ]

1. Jangan terus mengarungi/melalui kawasan banjir, segeralah berbalik arah.
2. Jika kendaraan Anda terhenti (mogok atau terjebak dalam kemacetan), segera kunci kendaraan Anda dan tinggalkanlah.
3. Segeralah pergi ke tempat yang aman. Nyawa Anda jauh lebih berharga.

Saat Banjir Terjadi [ Saat Evakuasi ]

1. Apabila menerima pengarahan untuk evakuasi/mengungsi, segeralah mengungsi.
2. Segeralah mengungsi lebih awal, jauh sebelum air banjir meningkat atau saat hari masih siang, karena lebih mudah dan aman bagi Anda dan keluarga Anda.
3. Ikuti pengarahan yang diberikan POSKO dan/atau RT/RW.

Setelah Banjir Reda

1. Dengar pengumuman radio atau tunggu pengarahan dari POSKO dan/atau RT/RW, jangan kembali ke rumah sebelum diperbolehkan atau sebelum keadaan benar-benar aman.
2. Beri bantuan kepada anggota keluarga Anda yang lemah (Orang tua, anak-anak, orang-orang sakit atau cacat).
3. Periksa rumah Anda, lihat jika ada tanda-tanda retakan di dinding atau kerusakan-kerusakan lainnya, mungkin berbahaya.
4. Jangan memasuki rumah yang masih dibanjiri air, berhati-hatilah dengan berbagai bahaya-bahaya yang tersembunyi.

Setelah Banjir Reda [ Saat Memasuki Ruangan ]

1. Pakai sepatu bot karet.
2. Periksa kerusakan dinding, lantai, pintu dan atap.
3. Periksa kemungkinan binatang atau serangga beracun dan berbahaya di dalam rumah (ular, kalajengking, kelabang dll).
4. Gunakan batang kayu (kering) untuk memindahkan berbagai kotoran/timbunan barang yang berserak dilantai rumah Anda, untuk menghindari segala resiko seperti tersengat listrik atau digigit binatang beracun.
5. Perhatian atap/enternit dan plaster dinding yang mungkin retak, rusak dan jatuh, agar tidak menimpa anggota keluarga.

Setelah Banjir Reda [ Periksa Ancaman Biaya ]

1. Periksa pipa saluran gas yang mungkin pecah atau bocor.
2. Periksa kabel-kabel listrik yang terendam dalam air.
3. Periksa peralatan listrik yang tenggelam/terendam air.
4. Periksa bahan-bahan yang mudah terbakar yang mungkin mengalir masuk saat banjir (Minyak tanah, bensin, solar dan sebagainya).
5. Buang bahan-bahan makanan yang terendam atau terkena air banjir, termasuk makanan dalam kaleng.
6. Periksa kerusakan tangki sepiteng/WC Anda, karena dapat mengakibatkan bahaya biologi/keracunan/diare.
7. Laporkan kerusakan-kerusakan pada POSKO dan/atau RT/RW terdekat.
Sumber : http://www.powerpr.co.id / Arsip.info

JENIS BANJIR DAN SEBAB-SEBAB TIMBULNYA BANJIR

PROLOOG

Sepanjang sejarah, manusia selalu tertarik untuk mendiami tanah-tanah subur di daerah luapan banjir atau dibantaran sungai, dimana kehidupan akan lebih nyaman berkat kedekatan dengan sumber pangan serta air. Ironisnya sungai atau aliran air yang menydiakan kemudahan hidup bagi masyarakat manusia disekitarnya itu juga menjadikan masyarakat tadi menghadapi risiko bencana tahunan akibat banjir. Banjir dapat terjadi akiabt naiknya permukaan air lantaran curah hujan yang distas normal, bendungan yang bobol, pencairan salju yang cepat, terhambatnya aliran air di tempat lain atau waduk yang jebol. Dalam masalah jumlah korbannya, banjir menduduki peringkat kedua, hanya dikalahkan oleh bencana kekeringan.

JENIS BANJIR DAN SEBAB-SEBAB TIMBULNYA BANJIR

Banjir kilat. Banjir ini biasanya didefinisikan sebagai banjir yang terjadi hanya dalam waktu 6 jam sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya juga dihubungkan dengan banyaknya awan kumulus yang menggumpal di angkasa, kilat atau petir yang keras, badai tropis atau cuaca dingin. Karena banjir ini sangat cepat datangnya, peringatan bahaya kepada penduduk sekitar tempat itu harus kilat pula, dan segera dimulai upaya penyelamatan dan persiapan penanggulangan dampak-dampaknya. Umumnya banjir kilat akibat meluapnya air hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan cukup banyak air. Penyebab lain adalah 1. kegagalan bendungan menahan volume air (debit) yang meningkat, 2) es yang tiba-tiba meleleh atau 3. berbagai perubahan besar lainnya di hulu sungai. Kerawanan terhadap banjir kilat akan meningkat bila wilayah itu merupakan lereng curam, sungai dangkal dan pertambahan volume air jauh lebih besar daripada yang tertampung, air mengalir melalui lembah-lembah sempit dan bila hujan guntur terjadi.

Banjir luapan sungai. Jenis banjir ini berbeda dari banjir kilat karena banjir ini terjadi setelah proses yang cukup lama, meskipun proses itu bisa jadi lolos dari pengamatan sehingga datangnya banjir terasa mendadak dan mengejutkan. Selain itu banjir luapan sungai kebanyakan bersifat musiman atau tahunan dan bisa berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa berhenti. Penyebabnya adalah kelongsoran daerah-daerah yang biasanya mampu menahan kelebihan iar, pencairan salju yang menumpuk semasa musim dingin, atau terkadang akibat kedua hal itu sekaligus. Banjir terjadi sepanjang sistem sungai dan anak-nak sungainya, mampu membanjiri wilayah luas dan mendorong peluapan air lembah-lembah sungai yang mandiri (yang bukan merupakan anak sungainya) banjir yang meluap dari sungai-sungai selain induk sungai biasa disebut ‘banjir kiriman’. Besarnya banjir tergantung kepada beberapa faktor. Di antaranya kondisi-kondisi tanah (kelembapan dalam tanah, tumbuh-tumbuhan di atas tanah, kedalaman salju, keadaan permukaan tanah seperti tanah ‘telanjang’, yang ditutupi batu bata, blok-blok semen, beton, dsb). Serta ukuran lembah penampungan air sungai itu. Di wilayah yang semi-tandus, misalnya yang membentang sepanjang benua Australia barangkali banyak sungai kering. Banjir terjadi dari sungai-sungai kering itu berminggu-minggu setelah terjadi angin topan dari lautan atau setelah terjadi hujan badai. Sungai bermuara ke laut, karenanya topan laut mampu mengarahkan air ke sungai kering itu hingga terjadi arus air sampai ratusan kilometer sampai ke arah darat. Semua itu berlangsung dalam waktu lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda gangguan cuaca pada waktu banjir melanda dataran – sebab peristiwa alam yang memicunya telah terjadi berminggu-minggu sebelumnya. Data sejarah banjir luapan sungai yang melanda kota-kota di lembah utama membuktikan bahwa tindakan-tindakan perlindungan tidak bisa diandalkan, akibat beraneka-ragamnya sumber banjir, yang bukan hanya dari induk sungai melainkan juga dari anak-anak sungai.

Banjir pantai. Sebagai banjir dikaitkan dengan terjadinya badai tropis (juga disebut angin puyuh laut atau taifun). Banjir yang membawa bencana dari luapan air hujan sering makin parah akibat badai yang dipicu oleh angin kencang sepanjang pantai. Air garam membanjiri daratan akibat satu atau perpaduan dampak gelombang pasang, badai, atau tsunami (gelombang pasang). Sama seperti banjir luapan sungai, hujan lebat yang jatuh di kawasan geografis luas akan menghasilkan banjir besar di lembah-lembah pesisir yang mendekati muara sungai.

ANDIL MANUSIA DALAM MEMICU BANJIR

Banjir sering dianggap termasuk bencana alam, artinya terjadi secara alamiah. Banjir dianggap sebagai bencana bila manusia mendiami daerah-daerah rawan banjir,yakni dekat sungai atau pantai. Pertumbuhan penduduk yang kian pesat telah menyebabkan daerah-daerah rawan bencana cukup padat penduduk dan risiko banjir terpaksa diterima lantaran sulit menemukan wilayah lain yang aman untuk hidup, mengingat daerah-daerah aman sudah penuh sesak. Negara-negara maju terpaksa menghadapi masalah yang dipicu oleh kepadatan penduduk ini. America Serikat ini misalnya, terpaksa merogoh kocek negara sampai miliyaran dolar sejak tahun 1936 untuk membiayai program perlindungan pendudukan dari bencana banjir yang kemungkinan tak terelakkan namun semua dampaknya harus ditanggulangi. Toh tetap saja risiko banjir tahunan menghadang penduduk daerah rawan. Bahkan ancaman banjir kian membesar karena penduduk membangun daerah-daerah rawan banjir kian membesar karena penduduk membangun daerah-daerah rawan banjir secara lebih cepat ketimbang kecepatan para insinyur dalam merancang perlindungan yang lebih baik bagi mereka. Pertumbuhan penduduk yang pesat berpadu dengan pengelolaan sumberdaya yang kurang efektif telah menyebabkan timbunya jenis-jenis banjir baru. Daerah hulu sungai yang berhutan untuk ‘menangkap’ lebihan air sudah diubah menjadi padang rumput pakan ternak atau menajdi lahan pertanian, sehingga lembah penampung itu menjadi jauh berkurang dayanya untuk menahan air yang datang. Tanah yang kini tak lagi terikat oleh akar-akar pepohonan jadi mudah longsor, menambah risiko bencana ganda dan tebing-tebing sungai yang dahulu dipenuhi tumbuhan sebagai ‘benteng’ pengaman daerah sekitarnya telah gundul, lalu runtuh, menyebabkan air sungai lebih mudah mengalir ke arah yang tingginya sama atau lebih rendah dari sungai. Banjirpun menjadi makin sering, makin mendadak dan makin parah dampaknya. Corak banjir baru lainnya adalah banjir kilat perkotaan. Tanah dikota sebagaian serta bangunan yang tak terhitung lagi. Karena bisa dikatakan hampir tak ada tanah ‘telanjang’ yang berfungsi alamiah sebagai penyerap air, hujan lebat langsung mengalir diatas permukaan baik di halaman-halaman gedung yang sudah disemen, di tepi-tepi jalan aspal dan sebagainya. Namun pemeliharaan saluran-saluran ini serngkali terbengkalai. Musim kemarau mengirimkan debu,kotoran, sampah dan tumbuhan liar yang akhirnya memblokir lubang pipa di permukaan. Air di jalan dari jalan raya hingga jalan perumahan yang terbuat dari beton dan aspal, tidak bisa ke mana-mana lagi kecuali mengalir terus membentuk jalur sendiri dipermukaan jalanan, membanjiri daerah itu. Banjir adalah peristiwa alamiah. Ia menjadi ‘bencana’ tatkala manusia mulai mendiami daerah-daerah luapan banjir yang semula mampu menahan air sehingga tak mengalir ke dataran-dataran lain.

CIRI CIRI UMUM BANJIR

Analisa terhadap banjir dan pengukuran banjir dapat dilakukan dengan : kedalaman air, pondasi bangunan memiliki derajat toleransi terhadap penggenangan air yang berlainan dengan derajat toleransi akar tumbuh-tumbuhan, lamanya penggenangan air, kerusakan atau derajat kerusakan bangunan, infrastruktur dan tumbuh-tumbuhan sering berkaitan dengan jangka waktu berlangsung-nya penggenangan air.

Arus air yang sangat kencang akan berbahaya, mengakibatkan daya pengikisnya sangat besar (menerjang apa saja yang menghadang) serta peningkatan tekanan dinamika air sehingga pondasi bangunan dan infrastruktur melemah. Ini bisa terjadi dilembah bantaran sungai, pantai yang rendah dan daerah jalur indik sungai. Perkiraan tentang tingkat kenaikan permukaan air sungai penting sebagai dasar peringatan bahaya banjir, rencana pengungsian dan pengaturan tata ruang daerah. Dampak-dampak komulatif dan kekerapan terjadi banjir yang diukur dalam jangka waktu cukup panjang akan menentukan corak pembangunan apa dan kegiatan pertanian apa yang boleh berlangsung di bantaran sungai atau daerah-daerah rawan banjir lainnya.

Peramalan banjir yang berasal dari luapan air sungai melibatkan perkiraan-perkiraan tentang: tinggi permukaan air sungai, debit air sungai, waktu kejadian, lamanya kejadian, debit air tertinggi di titik-titik tertentu sepanjang jalur sungai (induk maupun anak sungai). Ramalan yang dikeluarkan untuk disebarluaskan kepada masyarakat dihasilkan dari pemantauan rutin ketinggian permukaan air sungai serta pemantauan curah hujan setempat. Peringatan akan terjadi banjir kilat hanya bisa bergantung pada ramalan-ramalan cuaca (meteorologis) serta pengetahuan tentang kondisi-kondisi geografis setempat, tidak bisa disusun ramalan tersendiri berdasarkan data-data lapangan. Mengingat singkatnya waktu antara tahap pendahuluan dengan tahap kejadian, banjir kilat tak memungkinkan pemantuan tingkat ketinggian air sungai di lapangan.

Dalam bencana apapun, data sejarah suatu kawasan rawan atau sumber bencana harus selalu ada, dipelajari dan diperbaharui terus menerus tiap kali ada kejadian baru. Untuk kajian perbandingan dengan peristiwa-peristiwa banjir terdahulu dan sebagi dasar informasi peringatan yang akan disampaikan kepada masyarakat yang beresiko terlanda banjir harus diingat unsur-unsur sebagai berikut : 1. Analisis kekerapan banjir. 2. Pemetaan tinggi rendah permukaan tanah (topografi). 3. Pemetaan bentangan daerah seputar sungai (kontur sekitar sungai) lengkap dengan perkiraan kemampuan sungai itu untuk menampung lebihan air. 4.Catatan pemantauan lelehan salju / es dan kelongsoran tebing / daerah hulu. Kemampuan tanah untuk menyerap air. 5.Catatan pasang surut gelombang laut (untuk kawasan pantai / pesisir). Kekerapan badai. 6. Geografi pesisir / pantai. 7. Ciri-ciri banjir. Cara efektif untuk memantau jalur banjir adalah lewat teknik-teknik penginderaan jauh, misalnya Landsat. Citra-citra satelit ditafsirkan, kemudian dipakai sebagai patokan pemetaan daerah-daerah rawan banjir dan daerah-daerah jalur banjir. Upaya-upaya lain untuk memperbaiki peramalan banjir telah dilaksanakan oleh berbagai badan yang menginduk ke PBB, antara lain Organisasi Meteorologis Dunia, dengan memakai Pemantauan Cuaca Dunia serta Sistem pengolahan Data Global. Sistem-sistem ini bersifat strategis manakala kondisi-kondisi banjir bersifat lintas batas nasional atau melewati wilayah kedaulatan lebih dari satu negara. Namun sebagian besar ramalan banjir luapan sungai dan banjir kilat hanya bersandar pada pengamatan-pengamatan Badan Meteorologis dan Geofisika Nasional.
KERAWANAN TERHADAP BANJIR.
Di daerah dekat sungai, utamanya bantaran serta lembah-lembah yang paling berisiko terhadap terjangan banjir adalah : 1. Bangunan dari bahan tanah atau bata bisa pecah / meleleh bila kena air, 2. Bangunan dengan pondasi dangkal, 3. Bangunan dengan pondasi yang tidak kedap air, 4. Sistem – sistem pembuangan air (selokan pipa) saluran pasokan air, saluran listrik, mesin-mesin dan semua barang elektronik (terutama industri dan telekomukasi ), 5. Lumbung pangan, tanaman di lahan, ternak dalam kandang, 6. Benda-benda bersejarah / artefak budaya yang tak tergantikan seandainya hancur atau rusak berat, 7. Industri kelautan, termasuk galangan kapal, kapal-kapal itu sendiri, pelabuhan, gudang pelabuhan, dan sebagainnya. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kerawanan adalah 1. Kurang / tak tersedianya tempat-tempat penampungan pengungsi lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan, di ketinggian yang melebihi ketinggian luapan air, 2. Kurang / tidak adanya informasi yang diterima masyarakat tentang jalur-jalur pengungsian, 3. Kurang / tidak efektifnya kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana.

Banjir besar kemungkinan akan menyebabkan banyak korban tewas akibat tenggelam, khususnya anak-anak dan orang-orang berusia lanjut/ cacat/lemah. Namun sebagaian besar ‘hanya’ mengakibatkan cedera parah yang tidak sampai fatal, sehingga pertolongan medis harus selalu tersedia dan korban yang parah harus segera dilarikan ke rumah sakit, lebih-lebih jika membutuhkan operasi.

DAMPAK-DAMPAK

Bangunan-bangunan akan rusak atau hancur akibat : daya terjang air banjir, terseret arus, daya kikis genangan air, longsornya tanah di seputar / di bawah pondasi, tertabrak terkikis oleh benturan dengan benda-benda berat yang terseret arus. Kerugian fisik cenderung lebih besar bila letak bangunan di lembah-lembah pegunungan dibanding di dataran rendah terbuka. Banjir kilat akan menghantam apa saja yang dilaluinya. Di wilayah pesisir, kerusakan besar terjadi akibat badai yang mengangkat gelombang-gelombang air laut – kerusakan akan terjadi tatkala gelombang datang dan pada saat gelombang itu pergi atau kembali ke laut. Lumpur, minyak dan bahan-bahan lain yang dapat mencemarkan tanah, udara dan air bersih akan terbawa oleh banjir dan diendapkan di lahan yang sudah rusak atau di dalam bangunan. Tanah longsor kemungkinan terjadi bila tanah itu tak kuat diterjang air dan terkikis / runtuh. Air yang menerjang atau mengalir deras bisa merobohkan dan menenggelamkan manusia serta binatang meski bila air itu relatif tidak dalam.

Banjir besar pemberi bantuan mengangkut bantuan air dengan truk-truk tangki, masalah ini bisa diredam sampai keadaan normal kembali. Banyak yang lebih besar timbul jika sumber-sumber air itu tercemar oleh jasad manusia dan mayat binatang yang tewas saat banjir datang dan belum sempat disingkirkan dari sana akibat belum cukup amannya daerah banjir itu. Arus air mungkin juga akan menyebabkan saluran tersumbat oleh mayat-mayat. Bila ini terjadi, sumber air akan menjadi areal pembiakan penyakit atau menjadi bersifat patogenis dan barang siapa mengkonsumsi air itu akan jatuh sakit. Seluruh lahan bisa puso atau panen sepenuhnya gagal, sementara ternak banyak yang mati sehingga pasokan pangan pasca-banjir akan terganggu. Saat banjir datang, lumbung bisa ambruk, terbenam, tergenang atau hanyut terbawa air, semua isinya membusuk. Biji-bijian seperti gabah/padi/beras, gandum, jagung, dan lain-lain cepat busuk meski baru tergenang air sebentar saja. Maka terjadi krisis pangan. Dalam kasus-kasus banjir selama ini, kebanyakan kerugian pangan terjadi akibat stok pangan rusak, termasuk yang masih di lahan. Kerusakan tanaman pangan di sawah atau ladang tergantung pada jenis tanamannya dan berapa lama penggenangan airnya. Ada tanaman yang cepat mati hanya setelah digenangi air sebentar, ada yang mampu menahan terjangan air tapi akhirnya mati jika air itu tak terserap oleh tanah dan terus menggenang. Kasus semacam ini terjadi di Bangladesh saat banjir tahun 1988. Selain mengungsikan isi lumbung, ternak harus juga segera dibawa ke tempat yang aman. Kalau tidak, mereka bisa tenggelam, terseret arus atau tersangkut di tempat lain tempat. Sapi, kerbau, kambing dan lain-lain merupakan sumber pangan, karenanya perlu dijaga keselamatannya saat banjir. Hilang atau rusaknya benih dan ternak akan menggagalkan pemulihan kegiatan pertanian / peternakan sesudah banjir surut jika ada bantuan dari luar. Untuk tanah pertanian, banjir memberi manfaat sekaligus masalah. Bila terjadi pengikisan lapisan bunga tanah (humus), atau lahan dilanda air garam, selama bertahun-tahun petani tidak bisa lagi mengolah tanah itu untuk budidaya pertanian. Namun pengendapan lumpur banjir juga bisa sangat meningkat kesuburan tanah. Di pesisir di antara para nelayan, kerugian besar mungkin terjadi akibat peralatan dan piranti hilang atau rusak. Maka pasokkan pangan dari laut terhenti atau merosot.

Di sisi lain, banjir bisa menguntungkan karena: 1. Banjir bisa menggelontor bahan-bahan pencemar air yang mengendap menyumbat saluran air. 2. Banjir bisa menjaga kelembaban tanah dan mengembalikan kelembaban tanah tandus / kering. 3. Banjir bisa menambah cadangan air tanah. 4. Banjir bisa menjaga lingkungan hayati (ekosistem) sungai dengan cara menyediakan tempat bersarang, berbiak dan makan bagi ikan, burung dan binatang-binatang liar.

LANGKAH-LANGKAH PEMINIMALAN DAMPAK NEGATIF.

Pemetaan unsur-unsur rawan atau rentan. Dengan memetakan daerah rawan serta menggabungkan data itu dengan rancangan kegiatan persiapan dan penanggulangan. Suatu strategi dapat di daerah-daerah luapan air dengan langkah-langkah pengendalian banjir. Para perencana dapat meminta masukan dari berbagai bidang keilmuan untuk menilai risiko-risiko, tingkat risiko yang masih diterima/dianggap cukup wajar (ambang risiko) dan kelayakan kegiatan-kegiatan lapangan yang direncanakan. Informasi dan bantuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, dari badan-badan internasional hingga ke tiangakt masyarakat.

Pemetaan daerah-daerah luapan air/jalur banjir. Dalam memaparkan banjir, biasanya dipakai frekuensi statistik, menggunakan parameter kejadian dalam 100 tahun. Paparan ini menjadi pedoman pemrograman penanggulangan banjir. Parameter kejadian banjir 100 tahun itu memaparkan areal yang memiliki kemungkinan 1 % terlanda banjir dengan ukuran tertentu pada tahun tertentu. Frekuensi-frekuensi lain mungkin bisa juga dipakai, misalnya 5, 20,50 atau 500 tahun, tergantung kepada ambang risiko yang ditetapkan untuk suatu evaluasi.

Peta dasar dipadukan dengan peta-peta lain dan data-data lain, membentuk gambaran lengkap/utuh tentang jalur banjir. Masukan-masukan lain yang menjadi bahan pertimbangan diantaranya : Analisis kekerapan banjir. Peta-peta pengendapan. Laporan kejadian dan kerusakan. Peta-peta kemiringan / lereng. Peta-peta vegetasi (lokasi tumbuh tanaman, jenis dan kepadatannya). Peta-peta lokasi pemukiman, industri dan kepadatan penduduk. Peta-peta infrastruktur.

Di sebagian negara berkembang, pengumpulan informasi jangka panjang sering sulit dilaksanakan. Untuk menanggulangi masalah ini bisa digunakan teknik-teknik penginderaan jauh, yang menjadi pilihan lain bila tak dipakai teknik-teknik pemetaan tradisional dan biaya operasinya akan kira-kira sama efektif sebab menghemat tenaga dan waktu (metode-metode pengumpulan data tradisional sangat padat karya dan memakan waktu lama), misalnya dalam kajian daur air (penelitian hidrologis) daerah yang luas.

Pemetaan silang bencana-bencana. Banjir sering menyebabkan, terjadi bersamaan dengan atau menjadi akibat dari, bencana-bencana lain. Agar daerah-daerah yang rawan terhadap lebih dari satu jenis bencana bisa diketahui, dilakukan penyusunan peta silang, sintetis atau terpadu. Peta ini merupakan alat yang sangat bagus untuk panduan perancangan program pertolongan dan penanggulangan. Namun peta ini masih memiliki kekurangan,yakni tidak memadai jika digunakan sebagai pedoman kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bencana yang hanya mencakup satu daerah tertentu saja atau bencana tertentu saja.

Pengaturan tata guna tanah. Tujuan pengaturan tata guna tanah melalui undang-undang agraria dan peraturan-peraturan lainnya adalah untuk menekan risiko terhadap nyawa, harta benda dan pembangunan di kawasan-kawasan rawan bencana. Dalam kasus banjir, suatu daerah dianggap rawan bila daerah itu biasanya dan diperkiraakan akan terlanda luapan air dengan dampak-dampak negatifnya; penilaian ini didasarkan sejarah banjir dan kondisi daerah. Bantaran sungai dan pantai seharusnya tak boleh dijadikan lokasi pembangunan fisik dan jangan ditinggali. Selain itu, Badan Pertahanan Nasional beserta departemen-departemen terkait harus memperhatikan pula perlu kawasan perkotaan. Dengan pengaturan tata guna tanah yang dilandasi data-data ilmiah dan dengan mengacu kepada potensi bencana, setidaknya bencana alam seperti banjir tak akan diperparah oleh pengizinan pemakaian tanah yang tak mengindahkan kelayakan.

Pengurangan kepadatan penduduk dan bangunan. Di daerah-daerah rawan banjir, jumlah korban tewas maupun cedera akan langsung terkait dengan kepadatan penduduk. Bila daerah itu masih dalam tahap perencanaan pembangunan atau perluasan kawasan, rencana itu harus mencakup pula kepadatan. Bila daerah itu sudah terlanjur mapan,khususnya jika digunakan sebagai lokasi pemukiman liar oleh pendatang yang tergolong miskin, pengaturan kepadatan bisa menjadi isu yang rawan dan peka , penduduk harus dimukimkan kembali di tempat lain yang lebih aman dengan mempertimbangkan dampak-dampak sosial dan ekonomis perpindahan itu. Sayangnya, banyak lokasi pemukiman padat penduduk terletak di jalur banjir. Bagaimanapun para perencana pengembangan daerah dan penataan ruang harus mengambil langkah-langkah bijak untuk memperbaiki pemukiman itu dan menekan kerentananya.

Larangan penggunaan tanah untuk fungsi-fungsi tertentu. Jika suatu daerah menjadi ajang banjir sedikitnya rata-rata 1 kali tiap 10 tahun, tidak boleh ada pembangunan skala besar di daerah itu. Pabrik, perumahan dan sebagainya tidak diizinkan di bangun di sana demi kepentingan ekonomis, sosial dan keselamatan para penghuninya sendiri. Daerah itu bukan berarti sama sekali tak bisa dimanfaatkan; pemanfaatannya antara lain untuk kegiatan-kegiatan dengan potensi risiko lebih kecil misalnya arena olah raga atau taman. Prasarana yang bila sampai rusak akan membawa akibat buruk yang besar,misalnya rumah sakit,hanya boleh didirikan di tanah yang aman. Pengaturan tata guna tanah akan menjamin bahwa daerah-daerah rawan banjir tidak akan menderita dua kali lipat akibat kebanjiran sekaligus pemakaian tanah yang memperparah dampak-dampak bencana itu dengan kerugian fisik, sosial, ekonomis dan korban jiwa yang lebih besar lagi.

Pemindahan lokasi unsur-unsur yang menghalangi arus banjir. Bangunan-bnangunan yang menghadang di tengah jalur banjir selalu neresiko terhantam dan tenggelam atau hanyut akibat arus banjir. Selain itu, ada bahaya pemerangkapan dan pemblokiran jalannya banjir yang lants berbelok menggenangi daerah-saerah yang semestinya bebas banjir. Pengaturan tentang bahan-bahan bangunan yang boleh digunakan. Di zona-zona tertentu yang paling rawan, bangunan dari bahan kayu atau bahan-bahan lain yang ringan harus dilarang didirikan.Ada kalanya boleh dibangun rumah atau gedung dari tanah liat atau cetak, tetapi izin hanya diberikan bila telah diambil langkah-langkah perlindungan. Penepatan jalur pengungsian yang aman. Tiap lingkungan pemukiman yang rawan banjir harus punya rute penyelamatan yang aman, serta penampungan sementara dilokasi yang letaknya lebih tinggi dari permukaan air banjir. Strategi-strategi pencegahan lainnya adalah : Badan-badan pemerintah mengambil alih lahan-lahan di jalur banjir. Penghuninya diberi lahan lain yang lebih aman. Diberikan perangsang berupa pnjaman lunak, subsidi atau penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan bagi rakyat dan penanam modal yang bersedia mengalihkan rencana pembangunan lokasi rawan banjir ke tempat lain yang lebih tahan banjir. Dilaksanakan penganekaragaman produksi pertanian, misalnya menanam pangan yang ‘kedap – banjir’ atau menambahkan pepohonan di lahan atau menyesuaikan musim tanam dengan musim banjir. Juga dilaksanakan upaya membangun lumbung pangan cadangan dan penyimpanan yang aman untuk produk – produk pertanian. Penghijauan, pengelolaan ruang bududaya dan pengaturan areal merumput ternak untuk mencegah pengguguran dan penggundulan, agar tanah lebih mampu menyerap serta menahan air. Pembangunan gedung-gedung atau bukit-bukit buatan yang cukup tinggi yang akan dipakai sebagai tempat penampungan sementara para pengungsi seandainya penyelamatan ke lokasi lain tak mungkin dilaksanankan. Bagi negara-negara berkembang yang banyak menmanfaatkan tanah seputar jalur banjir, harus dilakukan kerjasama dengan rakyat setempat sekaligus penggunaan pengaruh politis yang cukup besar agar daerah – daerah rawan itu dikosongkan tanpa terjadi pergolakan PENGENDALIAN BANJIR

Sebagaimana telah disebutkan di muka, pengendalian pemakaian lahan akan dilakukan di daerah – daerah jalur banjir yang baur dalam tahap pengembangan maupun yang sudah terlanjur dibangun. Namun masih tetap harus dilaksanakan perubahan-perubahan untuk menekan kerentanan masyarakat terghadap dampak-dampak negatif bencana banjir. Di negara-negara berkembang, barangkali pengaruh politis yang cukup besar harus dikerahkan, sekaligus kerjasama dengan masyarakat yang bersangkutan. Pilihan –pilihan pengendalian banjir adalah :

Perbaikan saluran yang sudah ada. Dasar sungai yang sudah dangkal akibat pengendapan harus dikeruk, diperdalam sementara batas tebing sungai di kanan – kirinya harus pula diperlebar. Metode-metode ini meningkatkan kemampuan penampungan lebihan air dan menurunkan peluang ke sekitar sungai. Pengalihan arus dan pembangunan saluran pembantu. Bila dibandignkan dengan biaya memungkinkan kembali penduduk dan industri ke daerah yang lebih aman, mungkin biaya membangun saluran pembantu (membantu memecah aliran sungai) atau mengalihkan arus lebih murah. Ada bebarapa pilihan, diantaranya selokan-selokan besar dan dalam dengan kisi – kisi rerumputan atau padang terbuka atau saluran dengan dinding batu atau beton. Perancangan dan pembangunannya harus hati-hati karena kemungkinan ada dampak – dampak buruk pada lingkungan alamiah dan harus dipertimbangkan keamananya.

Pembangunan bendungan dan tanggul. Bendungan dan tanggul mampu menyimpan cadangan air sekaligus melepasnya dengan tingkat yang masih bisa dikelola. Pembanguannya harus hati-hati, memakai patokan tingkat tertinggi permukaan air sewaktu banjir. Bila banjir ternyata lebih tinggi dan lebih kuat ketimbang bendungan, bahayanya justru lebih besar ketimbang kalau tak ada bendungan. Jadi bila bangunan semacam itu tak dirancang cermat, keamanannya takkan terjamin dan penduduk hanya akan memperoleh rasa aman yang menyesatkan karena dampak banjir justru akan makin parah sewaktu bendungan jebol.

Penguatan bangunan yang sudah ada. Para pemilik bangunan bisa mengusahakan menekan risiko kerusakan dengan cara memperkuat bangunannya untuk : Menahan hantaman atau terjangan air. Bangunan baru harus diberi pondasi yang tak mudah keropos atau longsor. Perlindungan dari pengikisan tanah. Ini merupakan unsur penting perlindungan menghadapi bencana banjir. Dasar sungai sebaiknya distabilkan dengan membangun ‘alas batu’ atau beton yang kuat, atau menanami bantaran dengan pepohonan, khususnya bila dekat jembatan. Perbaikan lokas. Lokasi rawan banjir atau sekitar sungai bisa diperbaiki dengan cara meninggikannya. Ini akan efektif untuk lokasi bangunan.

LANGKAH – LANGKAH PERSIAPAN KHUSUS

Sistem – sistem peramalan dan peringatan bahaya banjir. Penelitian kasus di berbagai negara menunjukkan bahwa peramalan dan peringatan bahaya banjir bisa menurunkan potensi kerugian antara 6 hingga 40% (WMO). Sisitem – sistem pelacakan banjir yang menjadi dasar peramalan, peringatan dan persiapan penanggulangan nerentang dari yang paling sederhana dan tak memakan banyak biaya, yakni pembentukan jaringan relawan yang mengamati curah hujan dan tingkat arus, sehingga kepenerapan jaringan canggih dengan alat-alat pemantua mutahir dan model-model komputer. Suatu sistem yang dinamakan ALERT (Automated Local Evaluation in Real Time, Evaluasi Otomatis Setempat dalam Hitungan Waktu Nyata), telah memperagakan kemampuan yang menekan biaya operasi serta efektif melindungi kehidupan maupun benda-benda, dengan peran serta badan-badan di tingkat daerah.

Stasiun – stasiun lapangan yang di rancang sebagai modul-modul lengkap dikelola oleh daerah rawan itu sendiri. Apapun metode yang dipakai untuk memberi peringatan kepada penduduk, sistem-sistem komuikasi harus sudah direncanakan dengan baik sejak dini. Tata cara pengungsian harus siap dan dilakukan latihan secara teratur. Cara – cara penyebaran peringatan antara lain melalui radio, televisi, sirine peringatan, kentongan, corong pengeras suara di balai desa atau di rumah, ke rumah dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Bila dipakai sistem-sistem peringatan nasional, kerapkali sistem – sistem ini gagal, sebab sulit disebarkan peringatan yang diberikan dalam cara yang jelas dan tegas dan dipercaya oleh penduduk, lebih – lebih di daerah – daerah terpencil dan seringkali peringatan datang terlambat. Sistem – sistem peringatan nasional lebih efektif bila dilaksanakan di perkotaan. Di daerah pedesaan kentongan dan peringatan lisan adat atau tokoh masyarakat yang dihormati. Mereka harus dilibatkan dalam persiapan peringatan agar petunjuk-petunjuk penyelamatan dan pelaksanaannya di lapangan bisa benar – benar lancar.

Keikutsertaan masyarakat. Para penghuni kawasan rawan banjir biasanya sudah punya beberapa metode tradisional untuk menghadapi risiko banjir. Di Bangladesh misalnya, yang sangat rawan banjir, dana pemerintah sering tak cukup untuk membiayai upaya penuh penanggulangan paling sederhana sekalipun. Namun tak semua urusan penanggulangan dan persiapan harus dibebankan ke pundak pemerintah dan aparatnya. Sebagian aspek perencanaan dan penanggulangan banjir mungkin malah lebih baik jika dilakukan di tingkat desa dan bisa dikembangkan tanpa banyak memerlukan campur tangan dari luar. Antara lain : 1. Peringatan bahaya banjir disebarkan di tingkat desa / kalurahan. 2. Kerja bakti untuk memperbaiki dasar dan tebing sungai, membersihkan kotoran yang menyumbat saluran air, membangun tanggul dengan karung-karung pasir atau bebatuan, menanami bantaran sungai dan sebagainya. 3. Rencana pemulihan pertanian pasca-banjir, antar lain dengan menyimpan benih dan persediaan lain di tempat yang paling aman dan ini dijadikan tradisi. 4. Perencanaan pasokan air bersih dan pangan dengan cara serupa seandainya bencana memaksa pengungsian. 5. Mengenali cara-cara penggaulangan tradisional dan langkah-langkah persiapannya, sambil menilai kelayakannya.

Program-program untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang bahaya banjir bisa mencakup :1. Penjelasan tentang fungsi-fungsi bantaran sungai dan jalur banjir, lokasinya serta pola-pola penampungan / penyerapan airnya. Identifikasi bahaya peringatan. 2. Mendorong perorangan untuk memperbaiki daya tahan bangunan dan harta mereka agar potensi kerusakan / kehancuran dapat ditekan dan mengembangkan rencana pengungsian perorangan. 3. Menggugah kesadaraan masyarakat tentang arti penting rencana – rencana dan latihan – latihan penanggulangan serta pengungsian bagi kepentingan mereka sendiri. 4. Mendorong tanggung jawab perorangan atas pencegahan dan penanggulangan banjir dalam kehidupan sehari – hari. 5. Misalnya praktik bertani harus memperhatikan dampak lingkungan jangan menggunduli hutan dan hulu sungai saluran air harus dipelihara dan sebagainya.

Rencana utama . Rencana utama adalah pedoman dasar yang menberi aparat setempat serta para pengembang dan pemilik lahan berbagi informasi pokok menyangkut jalur banjir dan apa yang harus dilakukan demi mencegah dan menanggulangi dampak bencana banjir. Selain pengaturan tata guna tanah, rencana utama ini harus mencakup pula program informasi masyarakat. Untuk mengembang-kannya diambil langkah –langkah sebagai berikut :

1. Peta akurat daerah itu dipelajari. 2. Dikembangkan daur air (hidrologi) bagi beberapa kekerapan banjir yang sudah pernah terjadi sepanjang 100 tahun terakhir. 3. Penetapan jalur banjir berdasarkan kekerapan yang pernah terjadi dan meneliti kondisi saluran air yang sudah ada. 4. Perkiraan kerugian akibat banjir dengan berbagai kekerapan dan mengembangkan catatan kekerapan banjir dan kerusakan yang ditimbulkan dengan basis tahunan. 5. Menelaah semua kemungkinan peminimalan dampak banjir, misalnya membangun bendungan. 6. Persiapan rancangan awal dan perkiraan biaya bagi alternatif – alternatif lain. 7. Menentukan kerusakan akibat banjir untuk tiap alternatif. 8. Melengkapi analisis kelayakan bagi tiap alternatif. 9. Meninjau kembali tiap alternatip dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misalnya politik,peluang dan lingkungan hayati. 10. Memilih alternatif yang terbaik atau perpaduan beberapa alternatif yang bisa diterima dan dinilai layak oleh warga daerah itu. 11. Menerbitkan laporan perencanaan dengan dokumentasi proses di atas.

Kebutuhan – kebutuhan Pasca Banjir. Langkah – langkah awal yang harus diambil oleh pihak – pihak berwenang pada saat banjir surut adalah : 1. Pencarian dan penyelamatan korban. 2. Pemberian bantuan medis. 3. Penilaian situasi. 4. Penyediaan pangan dan air bersih sementara. 5. Penyulingan air. 6. Pemantauan endemi. 7. Penyediaan tempat tinggal / penampungan sementara bagi para korban

Langkah – langkah sekunder. 1. Perbaikan dan pembangunan kembali prasarana yang rusak atau hancur. 2. Memulihkan atau menciptakan lapangan pekerjaan. 3. Membantu pemulihan pertanian melalui penjaman usaha tadi, pembagian benih dan alat pertanian dan bibit ternak. 4. Membantu usaha kecil dan para nelayan.

(Materi ini merupakan bagian dari “Introduction of Hazard” yang diterbitkan oleh UNDP / UNDRO, Disaster Management Program 1992. Dialih bahasakan dan disunting untuk kebutuhan pelatihan manajemen bencana KAPPALA Indonesia dan OXFAM GB, serta perkuliahan Manajemen Bencana Geologi di Lingkungan UPN Veteran Yogyakarta. Semoga bermanfaat)
Sumber: geohazard.blog.com

1 Komentar »

  1. SANGAT BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT YG HABITATNYA LANGGANAN BANJIR, SEKALIGUS MASUKAN BAGI PEMDA YANG BELUM ADA MITIGASUI BANJIR

    Komentar oleh DOLFIE TINGGOGOY — Juni 1, 2012 @ 9:28 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: