BebasBanjir2015

Subandono Diposaptono

Menghalau Banjir

Oleh: DR IR Subandono Diposaptono, MENG

Setelah bencana alam seperti gempa, tsunami, dan longsor datang silih berganti, kini banjir mengintai kehidupan kita.Bahkan,di beberapa daerah, banjir sudah menenggelamkan ribuan rumah, sawah, tambak, dan menewaskan puluhan nyawa manusia.

Begitulah fenomena yang terjadi setiap kita menyambut musim penghujan. Ironisnya, bencana alam tersebut bukannya malah berkurang baik frekuensi maupun intensitasnya. Daerah yang sebelumnya tidak pernah terkena banjir, kini harus pasrah diterjang luapan air. Begitu pula dengan daerah yang sudah terbiasa terkena banjir, dampaknya kian parah. Tak dapat disangkal, penyebab utama banjir masih didominasi ulah buruk manusia.Sebesar apa pun hujan yang jatuh di muka bumi,ia tidak akan berperilaku ganas kalau semua aspek ekologis terjaga dengan baik. Sayangnya, sadar atau tidak, kita kurang memahami kearifan alam.

Bayangkan, hutan yang berfungsi sebagai resapan air semakin gundul. Jadi, ketika air mengguyur kawasan itu, maka dengan leluasa air itu mengumpul di tempat yang lebih rendah.Hal itu diperparah dengan buruknya kondisi aliran sungai. Sungai-sungai dipenuhi sampah dan lumpur akibat erosi dari lahan yang dibabat hutannya. Bukan hanya itu.Masyarakat pun sudah terbiasa membuang sampah ke sungai. Pendangkalan terus terjadi. Air sungai pun meluap. Dalam skala lokal, buruknya drainase kota juga punya andil besar terjadinya banjir.Banyak saluran pembuangan air tak berfungsi sebagaimana mestinya. Saluran air yang ada di kota telah terisi oleh sampah-sampah plastik, kaleng, kertas, daun, dan lain-lain. Jangan kaget ketika hujan turun, kota yang telah dibalut oleh tembok-tembok beton, jalan aspal, rumah penduduk, dan industri itu semakin terendam air.

Ulah Buruk Manusia

Ulah buruk manusia bukan cuma di situ. Industrialisasi beserta kegiatan yang mengikutinya (seperti transportasi dan gedung-gedung ber-AC) berdampak pada efek rumah kaca (green house effect).

Pemanasan global pun tak dapat dihindari.Kekacauan iklim mulai terjadi. Suhu muka air luat naik. Ujungujungnya daratan beku di Benua Antartika pun meleleh.Akibatnya, terjadilah kenaikan permukaan air laut (sea level rise atau SLR). Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), suatu badan yang dibentuk oleh WMO (World Meteorological Organization) dan UNEP (The United Nation of Environment Program), laju SLR sekitar 3–10 cm per dasawarsa (10 tahun). Isu ini sangat dikhawatirkan umat manusia.

Bukan apa-apa,peristiwa itu mengakibatkan dataran pantai yang rendah bisa terendam air laut. Lalu, bagaimana nasib Indonesia? Menurut analisis Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), laju SLR di beberapa pulau kecil dan kota di pantai utara Jawa (seperti Jakarta, Semarang, dan Jepara) sekitar 8 mm/tahun. Efek ini menimbulkan pembendungan di muara-muara sungai dan mulut saluran drainase terhadap air tawar yang datang dari daratan. Jika hal ini disertai curah hujan yang tinggi, banjir kian hebat. Kondisi ini diperparah oleh muaramuara sungai di Indonesia yang umumnya landai. Jika diasumsikan, SLR satu meter saja membuat air laut itu merangsek ke sungai sejauh puluhan kilometer.

Akibatnya, lagi-lagi terjadi pembendungan. Pembendungan itu membuat kecepatan air sungai berkurang. Akibatnya, laju sedimentasi di muara akan bertambah sehingga mengurangi daya tampung sungai di muara.

Upaya Mitigasi

Lalu, tak adakah upaya untuk menghalau banjir? Tidaklah mudah menangani banjir yang begitu kompleks. Karena itu, perlu strategi yang komprehensif dengan melibatkan berbagai in instansi terkait dan masyarakat.

Secara filosofis, penanganan banjir dapat ditempuh dengan beberapa strategi. Pertama, menerapkan pola protektif. Pola ini dilakukan dengan membuat bangunan pengendali banjir, misalnya waduk, kolam-kolam penampungan, sumur resapan, saluran pengendali banjir, drainase, dan tanggul. Kedua, dengan pola adaptasi.Pola ini dilakukan dengan cara menyesuaikan kondisi yang terjadi misalnya dengan membuat rumah panggung.Walaupun terjadi banjir, rumah tersebut tetap aman karena air dapat mengalir lewat bawah rumah. Ketiga,dengan pola retreat (mundur), yakni dengan menyesuaikan peruntukan lahan dengan kondisi alamnya. Salah satunya,menjauhkan permukiman penduduk dari daerah rawan banjir.

Upaya lain adalah membangun sistem peringatan dini banjir.Daerah-daerah rawan banjir perlu memasang beragam teknologi yang mampu memprediksi curah hujan dan debit air. Gerakan nasional sebenarnya sudah banyak dicetuskan oleh pemerintah. Sebut saja GN-RHL (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) guna mengurangi laju erosi dan run-off (aliran permukaan). Lalu, ada juga Prokasih (Program Kali Bersih) yang dapat mengurangi gangguan terhadap aliran sungai sekaligus menambah daya tampung sungai. Program Langit Biru juga dibuat untuk mengurangi emisi gas buang ke udara sehingga dapat menurunkan laju pemanasan global.

Sayangnya, gerakan-gerakan nasional tersebut belum membumi. Banjir terus saja melanda di berbagai kawasan Indonesia. Bahkan, dampak yang ditimbulkannya semakin memprihatinkan. Masyarakat, baik di daerah rawan banjir maupun di hulu sungai,sangat besar perannya.Mereka dituntut untuk sadar, peduli, dan cinta terhadap lingkungan serta disiplin terhadap peraturan dan norma-norma yang ada. Tanpa hal itu, banjir terus meneror kita.(*)

DR IR SUBANDONO DIPOSAPTONO, MENG
Kepala Sub Direktorat Mitigasi Bencana dan Pencemaran Lingkungan, Departemen Kelautan dan Perikanan

Sumber: Koran Sindo, 16 Januari 2007

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: