BebasBanjir2015

Sawah

Fungsi Mitigasi Banjir dan Multifungsi Lahan Sawah

Oleh Irawan

Sumber: Wetlands Indonesia - Indonesia Programme

Banjir di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) sudah lewat. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian banjir adalah pengakuan banyak pihak tentang perlunya revitalisasi situ, pembuatan saluran drainase (banjir kanal) dan pembuatan bendungan.

Walau terlambat masih bermanfaat untuk disadari dan diakui bersama bahwa selama ini pembangunan yang mengkonversi lahan pertanian di wilayah Jabodetabek tanpa memperhitungkan hilangnya fungsi-fungsi lingkungan lahan pertanian.

Salah satu fungsi lingkungan lahan pertanian adalah menahan air hujan sementara, meresapkan dan mengalirkannya secara alami dari hulu ke hilir DAS (daya sangga air).

Konversi lahan pertanian tanpa memperhitungkan hilangnya daya sangga air akan mengakibatkan banjir karena kemampuan wilayah untuk menahan dan meresapkan air hujan berkurang, sementara jumlah curah hujan relatif tetap, apalagi kalau bertambah.

Kejadian banjir di Jakarta dan kota-kota lainnya, seperti banjir rutin di Bale Endah dan Dayeuh Kolot dan sekitarnya di Kabupaten Bandung pernah terjadi di Kota Tokyo, Jepang tahun 1990-an yang disebabkan oleh pembangunan industri yang mengorbankan lahan sawah sekitar tahun 1980-an (Nishio 1999). Sejak saat itu Pemerintah Jepang melindungi lahan pertanian, khususnya sawah dengan berbagai cara.

Jepang adalah negara industri yang maju dan kaya raya. Tapi dalam soal pertanian, khususnya padi sawah Pemerintah dan masyarakat Jepang tergolong sangat konservatif. Jepang menolak perdagangan bebas bagi komoditas beras. Di Jepang petani padi sawah menjual gabah 285 yen per kg (Rp 22.800/kg) dan berasnya sekitar 350-400 yen per kg (Rp 30.000/kg).

Jika dibandingkan dengan harga di pasar internasional (FOB Bangkok) harga beras di Jepang lebih mahal 10 kali. Pemerintah dan masyarakat Jepang melindungi petani padi dan lahan sawahnya dari “gempuran” pasar beras internasional dengan berbagai cara, seperti pajak impor beras yang tinggi, bantuan atau pembayaran langsung kepada petani, dan lainnya.

Kebanyakan ahli ekonomi, termasuk ekonom Indonesia akan berpendapat Jepang boros alias tidak efisien. Mengapa harus repot menanam padi sendiri padahal Jepang bisa memborong beras yang ada di pasar internasional, bukankah itu lebih murah? Sejatinya Jepang berfilsafat seperti penyair Khairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, berbeda dengan falsafah ekonom seperti yang dikatakan Keynes bahwa “in the long run we are all died“. Jepang tidak tergiur keuntungan jangka pendek, tetapi lebih mengutamakan kepentingan nasional jangka panjang.

Kepedulian Jepang terhadap perlindungan lahan sawah memang luar biasa. Walaupun hanya berada di urutan 10 besar penghasil padi, sementara Indonesia di urutan 3 setelah China dan India, Jepang menjadi pelopor bersama-sama Korea Selatan dan China menolak gerakan global yang diusung oleh negara-negara maju (OECD) untuk mengurangi areal lahan sawah di kawasan Asia karena alasan emisi gas methane.

AS, salah satu negara maju tersebut mempunyai sikap mendua, bahkan mencurigakan mengenai padi sawah. Vokal dalam menilai lahan sawah sebagai sumber emisi gas methane, tetapi AS juga melindungi petani padinya dengan subsidi sekitar Rp 5.000/kg.

Mengapa AS repot-repot menanam padi padahal padi bukan bahan makanan utama rakyatnya? Di sisi lain Paman Sam itu berkenan menjual berasnya dengan harga murah di pasar internasional. Boleh jadi, Jepang jeli melihat politik pangan AS. Sesungguhnya negara maju seperti AS sangat konsen terhadap ketahanan pangan untuk rakyatnya, tetapi juga berusaha merebut pasar pangan dunia.

Multifungsi Pertanian

Paradigma yang diusung Jepang dalam mempertahankan lahan sawah adalah multifung- si pertanian. Lahan pertanian, khususnya sawah diyakini mempunyai berbagai fungsi yang menghasilkan manfaat, baik bagi lingkungan biofisik, ekonomi, sosial, budaya, maupun ketahanan nasional.

Secara konvensional lahan sawah dipandang hanya sebagai tempat budidaya padi, palawija, dan ternak (terutama ikan).

Gabah, jagung atau ikan yang dihasilkan dari lahan sawah (marketable goods) dinilai berdasarkan mekanisme pasar, tetapi pasar tersebut tidak mampu menilai manfaat fungsi lingkungannya, berupa jasa atau barang tidak bisa dipasarkan(non-marketable goods).

Misalnya, selama sekitar 100 hari budidaya padi selain menghasilkan gabah 4-5 ton/ha lahan sawah juga menghasilkan oksigen 17,8 ton/ha dan menyerap karbon dioksida 24,4 ton/ha (SEO dan Ho-Seong, 2004).

Mekanisme pasar hanya bisa menangkap nilai gabah, tetapi nilai oksigen yang dihasilkan dan karbondioksida yang diserap luput dari penilaian. Jelaslah selama ini kita memberikan harga yang rendah terhadap hasil-hasil pertanian, khususnya gabah.

Akibat penilaian yang rendah terhadap pertanian tersebut maka profesi petani menjadi tidak menarik, tidak membanggakan dan alihfungsi (konversi) lahan pertanian. Misalnya, selama tahun 1999-2002 telah terjadi konversi lahan sawah lebih dari 0,56 juta ha dan akibatnya ada beberapa manfaat yang hilang.

Manfaat yang hilang antara lain produksi beras 2,7 juta ton dan potensi sumberdaya air 526 juta M3 yang sekaligus menjadi penyebab banjir di wilayah hilir karena air sejumlah tersebut tidak bisa ditahan lagi oleh lahan pertanian (wilayah).

Kerugian yang timbul berupa pendangkalan badan air (terutama sungai) yang memerlukan pengerukan, pengangguran khususnya di pedesaan sekitar 600 -700 ribu orang.

Kehilangan atau kekurangan produksi beras di satu wilayah masih dapat diatasi dengan mendatangkan beras dari luar wilayah atau impor, tetapi kehilangan atau kerusakan fungsi lingkungan akibat konversi lahan sawah di suatu wilayah tidak bisa digantikan dengan cara mencetak sawah baru di wilayah lain. Demikian juga masalah pengangguran masyarakat pedesaan di Jawa akibat konversi sawah besar-besaran tidak mudah diatasi dengan mencetak sawah baru di Papua.

Besaran manfaat yang hilang dan/atau kerugian yang diderita tersebut akan semakin besar dari tahun ke tahun seiring dengan laju konversi lahan sawah yang terjadi pada tahun-tahun selanjutnya. Itulah sifat kumulatif dampak konversi lahan sawah terhadap pengurangan produksi beras, pengangguran dan kerusakan lingkungan.

Usulan pembuatan bendungan di Bogor untuk penanggulangan banjir di Jakarta dan sekitarnya pada dasarnya merupakan pengakuan yang terlambat atas fungsi lingkungan lahan pertanian, khususnya sawah dalam mitigasi banjir.

Lahan sawah yang dikelilingi pematang dapat dipandang sebagai kumpulan dam-dam kecil atau kolam-kolam penahan air (water retention ponds) yang berguna untuk mitigasi banjir. Air hujan yang ditampung pada petakan-petakan sawah tersebut dialirkan atau dirembeskan secara perlahan ke badan-badan sungai dan daerah hilir sehingga bahaya banjir dapat dikurangi.

Fungsi mitigasi banjir lahan sawah tersebut memperoleh apresiasi tinggi dari Pemerintah dan masyarakat Jepang. Hal itu bisa dilihat dari nilai bantuan pemerintah setempat kepada petani lahan sawah berupa pembayaran langsung (direct payment) sebesar US$ 3.300/ha/tahun atau kepada petani lahan kering sebesar US$ 500 – 1.500 /ha/tahun tergantung pada kemiringan lahannya (MAFF 2001).

Selain itu masyarakat kota atau penduduk wilayah hilir DAS di Jepang bersedia membayar jasa lingkungan pertanian. Hasil penelitian Yoshida dan Goda (2001) dengan metode CVM (contingent valuation method) menunjukkan masyarakat Jepang bersedia membayar jasa lingkungan lahan pertanian sebesar 72.623 yen/keluarga/tahun (lebih dari Rp 5 juta) agar lahan pertanian tersebut, khususnya sawah tetap dipertahankan.

Dampak Penting

Memperhatikan sifat dampak lingkungan konversi lahan pertanian, khususnya sawah dapat dinyatakan bahwa kegiatan konversi lahan sawah berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.

Sifat-sifat dampak lingkungan yang diakibatkan oleh konversi lahan sawah dapat memenuhi kriteria dampak penting Keputusan Kepala Bapedal No 56 tahun 1994. Sebagaimana penjelasan di atas dampak lingkungan konversi lahan sawah bersifat kumulatif, tidak balik (irreversible), berlangsung secara terus menerus, dan multikom-ponen atau multiaspek lingkungan.

Atas dasar pertimbangan tersebut maka rencana kegiatan konversi lahan pertanian, khususnya sawah seharusnya termasuk rencana kegiatan yang wajib AMDAL.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang menggantikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 17 tahun 2001 tentang hal yang sama perlu direvisi untuk menampung hal tersebut.

Mengingat konversi lahan sawah dimulai dari perubahan rencana tata ruang wilayah (RTRW) maka pihak pemerintahlah yang terlebih dahulu mengantisipasi pengendalian dampak lingkungan yang akan timbul akibat konversi lahan sawah tersebut.

Dampak lingkungan yang perlu mendapat perhatian utama adalah terkait dengan aspek ketahanan pangan, perubahan sumber mata pencaharian petani dan penduduk pedesaan, perubahan wilayah resapan air, dan lainnya.

Sebagaimana kaidah kelayakan lingkungan dalam penyusunan AMDAL maka kegiatan konversi lahan sawah hanya dapat dilakukan apabila dampak lingkungan terhadap komponen-komponen lingkungan tersebut dapat ditanggulangi, diminimalisir, atau ditiadakan sama sekali. Hal sebaliknya lahan sawah mungkin perlu dijadikan kawasan lindung.

Hal ini perlu menjadi bahan pelajaran bagi kota-kota yang berada di dalam satu atau beberapa DAS, seperti Bandung, Semarang, Serang, dan lainnya.

Penulis adalah kandidat doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB, Bogor

Suara Pembaruan:  Last modified: 23/2/07
Sumber: http://danielpinem.wordpress.com/pemikiran-indonesia-februari-2007-2/

Fungsi Mitigasi Banjir dari Lahan sawah di DAS Citarum

Flood Mitigation Function of Paddy Field in Citarum River Basin

S.H. Tala’ohu, S. Sutono, dan F. Agus, Balai Penelitian Tanah, Bogor

ABSTRAK

Tipe penggunaan lahan dan vegetasi berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi tanah, kapasitas intersepsi tajuk tanaman, dan daya tampung (daya sangga) air di permukaan tanah. Penelitian daya sangga air lahan pertanian terhadap banjir dan nilai biaya pengganti (replacement cost) dilaksanakan di daerah aliran sungai Citarum dari Maret sampai Juli 2002. Tujuan penelitian adalah memprediksi daya sangga air pada lahan sawah dan nonsawah. Perhitungan daya sangga air di daerah aliran sungai Citarum menggunakan data penggunaan lahan tahun 2002. Prediksi daya sangga air didasarkan kepada daya absorpsi pori tanah terhadap air hujan, kapasitas permukaan tanah menampung air, dan kapasitas intersepsi tajuk tanaman. Perhitungan nilai biaya pengganti didasarkan pada kapasitas retensi air pada lahan sawah dan rata-rata tertimbang kapasitas retensi air pada lahan nonsawah (perkebunan teh, perkebunan karet, semak belukar, kebun campuran, tegalan). Pengambilan contoh tanah tidak terganggu dilakukan pada berbagai tipe penggunaan lahan untuk keperluan analisis sifat fisik tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata daya sangga air potensial lahan sawah adalah 0,094 m, rata-rata tertimbang untuk lahan nonsawah adalah 0,078 m sedangkan nilai biaya pengganti untuk fungsi pengendali banjir antara lahan sawah versus nonsawah adalah US$ 4.970 juta per tahun, yang berarti apabila lahan sawah yang ada di daerah aliran sungai Citarum sekarang hilang, berarti diperlukan alokasi biaya untuk membangun dan memelihara dam sebesar US$ 4.970 juta setiap tahunnya.

ABSTRACT

Land use type and vegetation influence on soil infiltration capacity, plant interception capacity, and water buffering capacity of soil surface. A prediction of water buffering capacity and its replacement cost was conducted for Citarum river basin from March to July 2002. The aim of the study was to predict water buffering capacity of paddy and non paddy field in the watershed. The calculation of water buffering capacity was based on 2002 land use data. The prediction of water buffering capacity was based on soil pore absorption capacity of rainfall, soil surface capacity to hold water and interception capacity of plant. The prediction of replacement cost value was based on water retention capacity of paddy field and weighted average of water retention capacity of non paddy field (tea estate, rubber estate, shrub, mixed garden, and upland) multiplied by construction and maintenance cost of dam. Undisturbed soil samples were taken from several land use type for some soil physical chacacteristies. The result showed that paddy field water buffering capacity was about 0.094 m, and weighted avegare of non paddy field was 0.078 m. Annual replacement cost value if paddy field is converted to non paddy field, was US$ 4.970 million. The value of US$ 4.970 million is an estimated cost to construct and maintain a dam to hold excess water if paddy fields have been converted to other land use systems.

PENDAHULUAN

Komponen penyusun suatu daerah aliran sungai (DAS) terdiri atas lahan sawah dan lahan kering (nonsawah). Luas lahan sawah yang merupakan ekosistem lahan basah menempati proporsi yang sangat penting dalam suatu DAS (Irianto et al., 1999a; 1999b). Kondisi lahan sawah dengan sistem teras, berfungsi sebagai: 1) pengendali banjir, 2) pengendali erosi dan longsor, 3) memelihara sumber daya air tanah, dan 4) menjaga kestabilan temperatur udara agar tetap rendah (Nishio, 1999). Selain itu, lahan sawah juga berfungsi untuk penyedia pangan nasional, pemelihara keseimbangan hidro-orologis, konservasi tanah dan air serta sebagai obyek pariwisata. Tingkat produksi beras nasional merupakan salah satu tolok ukur penting dalam penetapan kebijakan nasional, karena beras memiliki fungsi sosial dan politik. Alih fungsi lahan sawah ke tipe penggunaan lain akan menurunkan fungsi lahan sawah untuk menahan dan mendistribusikan air aliran permukaan secara aman. Menurut Wu et al. (1997), karena datar dan mempunyai pematang, lahan sawah merupakan suatu reservoir sementara yang dapat menyimpan sebagian air hujan dan aliran permukaan sebelum dialirkan ke daerah hilirnya.

Apabila dilihat dari total curah hujan tahunan di DAS Citarum sebesar ± 2500 mm/tahun, maka jumlah tersebut semestinya cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk bagi keperluan rumah tangga, ternak, pertanian, perikanan darat dan lain sebagainya. Namun permasalahan yang sering terjadi adalah tidak meratanya distribusi curah hujan periode pendek, sehingga pada suatu ketika seperti di musim hujan terjadi kelebihan air, bahkan dapat mengakibatkan bencana banjir. Sebaliknya pada musim kemarau justru sering terjadi kekurangan air bahkan kekeringan yang merupakan salah satu faktor penghambat pengembangan pertanian lahan kering. Ketersediaan air dalam jumlah, mutu, dan waktu yang tepat sangat diperlukan dalam upaya optimasi pemanfaatan lahan kering untuk usaha pertanian. Upaya menampung dan menahan untuk sementara air aliran permukaan pada daerah di atasnya sebelum sampai ke sungai merupakan hal penting yang memerlukan penanganan dan perhatian serius serta membutuhkan koordinasi antar instansi terkait.

Umumnya, lahan sawah dan lahan kering beralih fungsi menjadi permukiman atau kawasan industri. Alih fungsi ini akan mengurangi fungsi lahan sawah sebagai reservoir sementara air aliran permukaan karena lahan sawah juga berfungsi untuk: a) menampung dan mendistribusikan air aliran permukaan, b) mengurangi laju aliran permukaan dan erosi. Secara umum, alih fungsi lahan akan mempengaruhi daya sangga air pada suatu DAS. Menurut Martin (1993), alih fungsi lahan adalah bergesernya/berubahnya manfaat atau penggunaan suatu lahan di suatu daerah pada kurun waktu yang berbeda.

Hasil penelitian di Sub DAS Citarik dan DAS Kaligarang (S. H. Tala’ohu et al., 2001) menunjukkan bahwa alih fungsi lahan terutama dari hutan dan kebun campuran menjadi tegalan, dan dari berbagai penggunaan pertanian ke permukiman/perkotaan menurunkan daya sangga air di Sub DAS Citarik, Jawa Barat dan DAS Kaligarang, Jawa Tengah. Hal ini berpotensi terhadap peningkatan intensitas dan frekuensi banjir di kedua DAS. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kuantifikasi daya sangga air dan nilai biaya penggantinya (replacement cost) di DAS Citarum perlu dilakukan agar kontribusinya terhadap waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, dan daerah sekitarnya dapat diperkirakan.

Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi daya sangga air DAS berdasarkan tipe penggunaan lahan yakni lahan sawah dan nonsawah (perkebunan teh, perkebunan karet, semak belukar, kebun campuran, tegalan, dan permukiman+industri) serta nilai biaya penggantinya di DAS Citarum.

BAHAN DAN METODE

Bahan

Penelitian dilakukan di DAS Citarum, Jawa Barat dari bulan Maret s/d Juli 2002, diawali dengan pra survei untuk mengumpulkan data sekunder dan data penunjang lainnya. Daya sangga air DAS Citarum dihitung dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 2002 (Wahyunto et al., 2003). Pengambilan contoh tanah tidak terganggu dilakukan pada berbagai tipe penggunaan lahan untuk keperluan analisis sifat fisik tanah.

Metode

Perhitungan daya sangga air DAS

Untuk menghitung daya sangga air DAS, terlebih dahulu diidentifikasi tentang tipe penggunaan lahan dan distribusinya. Penggunaan lahan terdiri atas sawah dan nonsawah berupa: perkebunan teh, perkebunan karet, tegalan, kebun campuran, permukiman + kawasan industri. Yang dimaksud dengan daya sangga air DAS adalah daya sangga air potensial, yakni kemampuan potensial dari tanah menahan air untuk sementara sebelum mengalir ke daerah di bawahnya.

Daya sangga air potensial untuk lahan sawah dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

WPi = {(TP – TG) + KI} x Ai

Dimana:

WPi = daya sangga air potensial lahan sawah (m3), TP = tinggi pematang yaitu tinggi bagian tanah dari permukaan tanah sampai permukaan pematang (m); TG = tinggi genangan adalah tinggi air mulai dari permukaan tanah sampai permukaan air genangan (m); KI = kapasitas intersepsi tajuk (m); Ai = luas sawah (m2).

Daya sangga air untuk tipe penggunaan lahan nonsawah dihitung berdasarkan: total ruang pori tanah, kandungan air tanah pada kapasitas lapang, zone perakaran, dan intersepsi oleh tajuk tanaman dengan menggunakan persamaan:

WPni = {(RPT-KA) x ZP + KG + KI} x Ai

Dimana:

WPni = daya sangga air potensial nonsawah (m3), RPT = ruang pori total; KA = kadar air tanah sebelum peristiwa hujan, diasumsikan sama dengan kapasitas lapang serta diasumsikan pula bahwa runoff tidak terjadi sebelum pori air tanah menjadi jenuh;

ZP = kedalaman zone perakaran atau lapisan tanah yang segera terisi air infiltrasi pada setiap peristiwa hujan (m); KG = kapasitas genangan yang berhubungan dengan kekasaran permukaan (m); KI = kapasitas intersepsi tajuk (m) adalah kemampuan tajuk tanaman untuk menahan sejumlah volume air hujan pada bagian tanaman; dan Ai = luas penggunaan lahan nonsawah (m2).

Selanjutnya total daya sangga air potensial DAS (WP) dihitung dengan rumus:

WP = Σ WPi + Σ WPni

Perhitungan biaya pengganti

Perhitungan nilai biaya pengganti (replacement cost) untuk fungsi pencegah banjir menggunakan persamaan Agus et al. (2001; 2002a) sebagai berikut:

RCF = ∑{(Pisawah – Pinonsawah)* A *(Dc + Mc)}
Dimana :

Pisawah = kapasitas retensi air lahan sawah

Pinonsawah = kapasitas retensi air lahan nonsawah

A = luas penggunaan lahan (m2)

Dc = biaya depresiasi dam per unit air yang disimpan ($/m3/tahun)

Mc = biaya pemeliharaan dam per unit air yang disimpan ($/m3/tahun)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Daya sangga air potensial DAS Citarum

Berdasarkan penggunaan lahannya, DAS Citarum dibagi menjadi 11 tipe penggunaan, yakni: hutan, perkebunan teh, perkebunan karet, semak belukar, kebun campuran, tegalan, sawah datar (kemiringan <8%), sawah berlereng (kemiringan >8%), permukiman dan industri, tambak dan mangrove serta waduk. Tabel 1 dan Gambar 1 memperlihatkan kapasitas absorpsi dan kapasitas intersepsi hutan, kebun teh, dan kebun campuran lebih tinggi diikuti oleh perkebunan karet, sawah, semak belukar, sedangkan pada permukiman dan industri lebih rendah.

Pada hutan, perkebunan teh, dan kebun campuran keadaan ini disebabkan oleh kondisi ruang pori total tanahnya yang lebih baik sebagai akibat pengaruh serasah di permukaan tanah, sistem perakaran, maupun perlindungan oleh adanya tajuk/strata pepohonan. Sedangkan permukiman dan industri mempunyai kapasitas absorpsi rendah, karena terjadinya pemadatan tanah dan banyaknya bagian tanah yang ditutup oleh bangunan dan jalan. Kapasitas genangan pada lahan sawah lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya sebagai akibat dari adanya pematang. Selisih tinggi genangan dan tinggi pematang pada sawah datar adalah 0,040 m sedangkan pada sawah berlereng adalah 0,038 m, merupakan ketinggian yang dapat diisi sementara oleh air aliran permukaan sebelum mengalir ke sungai.

Gambar 1. Daya sangga air potensial beberapa tipe penggunaan lahan di DAS Citarum

Gambar 1. Daya sangga air potensial beberapa tipe penggunaan lahan di DAS Citarum

Luas berbagai tipe penggunaan lahan di DAS Citarum merupakan penjumlahan dari luas masing-masing penggunaan yang ada di daerah tangkapan air (DTA) Jatiluhur dan Citarum hilir. Menurut Wahyunto et al. (2002) sebagai berikut: luas areal perkebunan teh 10.971 ha (1,47%) dari luas DAS dengan daya sangga air 13.763.120 m3; luas perkebunan karet 7.767 ha (1,04%) dengan daya sangga air 8.873.798 m3; luas semak belukar 52.571 ha (7,02%) dengan daya sangga air 33.277.443 m3; luas kebun campuran 201.897 ha (26,98%) dengan daya sangga air 232.990.292 m3; luas tegalan 116.753 ha (15,60%) dengan daya sangga air potensial 56.158.193 m3; sedangkan luas lahan sawah datar (kelerengan <8%) adalah 142.467 ha (19,03 ha) dengan daya sangga air potensial sebesar 135.343.650 m3 (Tabel 2).

Hasil prediksi menunjukkan bahwa rata-rata tertimbang daya sangga air potensial (DSP) untuk lahan nonsawah adalah 0,078 m sedangkan rata-rata daya sangga air potensial untuk lahan sawah adalah 0,094 m (Tabel 2 dan 3). Hal ini memberikan gambaran adanya multifungsi lahan sawah menyangga air, yakni sebagai fungsi pengendali banjir. Namun apabila terjadi perubahan tipe penggunaan lahan misalnya dari sawah menjadi permukiman atau kepenggunaan lainnya, maka akan berpengaruh terhadap daya sangga air potensial lahan sawah.

Pertumbuhan penduduk dan laju pembangunan di berbagai sektor telah mengakibatkan beralih fungsinya lahan pertanian menjadi nonpertanian (Soemarwoto, 1986). Perubahan tersebut akan mempengaruhi fungsi lahan sawah sebagai penyangga air hujan-aliran permukaan dan sedimen sebelum sampai ke sungai. Multifungsi lahan sawah ditinjau dari aspek daya sangga air dipengaruhi oleh:

  1. Keberadaan sawah dalam hamparan DAS Keberadaan lahan sawah dalam suatu DAS menentukan kemampuan DAS untuk menyangga air aliran permukaan. Dari hasil interpretasi peta penggunaan lahan dan pengamatan di lapangan, sawah di DAS Citarum nampak tersebar di bagian hulu, tengah, dan hilir. Dengan demikian lahan sawah dapat berfungsi sebagai penyangga air aliran permukaan maupun sedimentasi sebelum sampai ke sungai.
  2. Luas lahan sawah dalam suatu daerah aliran sungai Pada tahun 2002, lahan sawah datar di DAS Citarum (total dari waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, dan Citarum hilir) adalah 142.467 ha (19,03%) dengan daya sangga air sebesar 135.343.650 m3, sedangkan lahan sawah berlereng adalah 57.518 ha (7,68%) dengan daya sangga air sebesar 53.606.776 m3 (Tabel 3). Perubahan lahan sawah menjadi areal permukiman dan industri akan mengurangi daya sangga air DAS secara signifikan.
  3. Dimensi lahan sawah (luas, tinggi pematang, dan tinggi air dalam petakan) Di DAS Citarum terlihat bahwa tinggi pematang di sawah berlereng (kelerengan > 8%) berkisar antara 12,0-27,3 cm atau rata-rata 17,4 cm, sedangkan tinggi air dalam petakan adalah 1,9-7,4 cm atau rata-rata 3,8 cm. Tinggi pematang di sawah datar (kelerengan < 8%) adalah 12,1-23,9 cm atau rata-rata 17,0 cm dengan tinggi air dalam petakan 1,2-5,6 cm atau rata-rata 4,0 cm. Ini berarti bahwa selisih tinggi muka air pada petakan sawah berlereng dengan tinggi pematang adalah 13,6 cm, sedangkan pada sawah datar adalah 13,0 cm yang dapat diisi sementara oleh air hujan-aliran permukaan sebelum mengalir ke sungai atau daerah di bawahnya dan juga dapat menampung sedimen dari daerah di atasnya. Bila daya sangga air potensial lahan sawah dihitung berdasarkan dimensi teras tersebut seperti Tabel 3, maka terlihat bahwa konversi atau alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman dan industri mempengaruhi volume air yang dapat ditahan sementara.

Prediksi besarnya fungsi pencegah banjir didasarkan pada rata-rata tertimbang dari daya sangga air lahan sawah dan nonsawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan biaya konstruksi, kapasitas dan umur dam, diperoleh biaya depresiasi sebesar: 0,265; 0,145; 0,045; dan 0,152 US$/m3/tahun berturut-turut untuk dam Saguling, Cirata, Jatiluhur dan Citarum hilir, sedangkan biaya pemeliharaannya berturut-turut sebesar: 0,005; 0,008; 0,003; dan 0,005 US$/m3/tahun (Tabel 4).

Apabila lahan sawah yang ada diasumsikan hilang fungsinya sebagai penyangga air hujan-aliran permukaan, maka besarnya biaya pengganti (replacement cost) yang harus dikeluarkan untuk membangun dan memelihara dam guna menampung volume air yang semestinya dapat ditampung sementara di lahan sawah adalah US$ 4.970 juta/tahun (Tabel 5). Ini berarti bahwa apabila lahan sawah yang ada tidak mengalami perubahan atau alih fungsi, maka dapat menghemat biaya pembangunan fasilitas penampungan air sementara seperti: dam, situ, dan lain-lain sebesar ± US$ 4.970 juta setiap tahunnya. Oleh sebab itu eksistensi lahan sawah yang ada perlu dipertahankan, baik untuk fungsi reservoir air hujan dan aliran permukaan, maupun sebagai stabilisasi ketahanan pangan, dan berbagai fungsi sosial, ekonomi serta budaya lainnya.

tt51

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Keberadaan lahan sawah di DAS Citarum berpengaruh baik terhadap daya sangga air potensial dibandingkan dengan lahan nonsawah (berdasarkan rata-rata tertimbang dari: perkebunan teh, perkebunan karet, semak belukar, kebun campuran, tegalan, permukiman+industri).
  2. Rata-rata daya sangga air potensial di DAS Citarum untuk lahan sawah adalah 0,094 m sedangkan rata-rata tertimbang untuk lahan nonsawah adalah 0,078 m.
  3. Besarnya biaya pengganti (replacement cost) untuk fungsi pengendali banjir di DAS Citarum bila lahan sawah dialihkan menjadi nonsawah adalah US$ 4,970 juta per tahun. Biaya ini merupakan biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun fasilitas dam apabila lahan sawah yang ada beralih fungsi atau hilang.
  4. Eksistensi lahan sawah di DAS Citarum perlu dipertahankan sebagai fungsi reservoir dan sedimentasi, serta untuk upaya stabilisasi ketahanan pangan khususnya di Jawa Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Agus. F, Wahyunto, S. Sutono, S.H. Tala’ohu, dan R. Nurmanaf. 2001. Environmental and economic function of paddy field (sawah) in case watersheds in Java. Report of First Working Group Meeting of The ASEAN-JAPAN Project on Multifunctionality of Paddy Farming and Its Effects in ASEAN Member Countries. Bali-Indonesia, 14– 16 February 2001. Annex 7. (Unpublished)

Agus. F, Wahyunto, and Sidik H. Tala’ohu. 2002a. Multifunctional role of paddy fields in case watersheds in Java, Indonesia. Report the Second Working Group Meeting of the ASEAN-JAPAN Project on Multifunctionality of Paddy Farming and Its Effects in ASEAN Member Countries. Kualalumpur, 27 February – 1 March 2002. Annex 9. (Unpublished)

Agus. F, R.L. Watung, H. Suganda, S.H. Tala’ohu, S. Sutono, and R. Nurmanaf. 2002b. Multifunctionality and sustainability on agriculture in Citarum River Basin, West Java. Report of the Second Experts Meeting of the ASEAN-JAPAN Project on Multifunctionality of Paddy Farming and its Effects in ASEAN Member Countries. Ha Noi, Viet Nam, 7-9 August 2002. Annex 12 (Unpublished)

3 Komentar »

  1. thnk’s da dimuat artikel ne

    Komentar oleh fita — Desember 5, 2009 @ 8:49 pm

  2. pupuk organik, Kesuburan berkurang krn pemakaian pupuk kimia, beralihlah ke pupuk organik , dgn pemakaian yg bijaksana & sesuai kebutuhan, gunakan pupuk organik, selamatkan bumi tanah air.

    Komentar oleh pupuk organik — Juli 30, 2010 @ 12:57 pm

  3. sawah itu penting untuk menanam

    Komentar oleh nur rohmah wati — April 25, 2014 @ 1:02 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 171 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: