BebasBanjir2015

Revitalisasi Danau, Telaga, atau Situ

Revitalisasi Danau, Telaga, atau Situ

Revitalisasi danau, telaga, atau situ kaitannya dengan memanen air hujan sebaiknya dilakukan dengan konsep ekologi-hidraulik atau ekologi-hidrologi. Konsep ini diartikan sebagai upaya memperbaiki dan menyehatkan seluruh komponen ekologi (flora-fauna) dan hidraulik-hidrologi (sistem keairan) penyusun danau, telaga, atau situ yang bersangkutan, sehingga dapat berfungsi menampung air yang dapat digunakan untuk keperluan air bersih masyarakat, meresapkan air hujan untuk  pengisian air tanah, dan dapat berkembang menjadi wilayah ekosistem wilayah danau, situ dan telaga yang hidup dan lestari.

Dasar filosofi pengelolaan danau atau telaga termasuk juga situ secara ekologi-hidraulik adalah berorientasi pada danau alami yang ada. Artinya bahwa dalam pengelolaannya berangkat dari danau alami, bukan berangkat dari filosofi reservoir atau kolam tandon bangunan sipil-hidro. Segala kondisi yang ditemui pada danau, telaga ataui situ alami coba diadopsi dan diterapkan pada telaga, danau atau situ yang direvitalisasi. Intinya adalah mengembalikan kondisi alamiah danau, telaga atau situ yang bersangkutan.

Gambar 1. Ilustrasi telaga lestari dengan konsep ekologi-hidraulik dan telaga tidak lestari hidraulik murni

Danau atau telaga alami memenuhi kondisi ekologi hidraulik yaitu daerah tangkapan airnya bagus, komposisi dan heterogenitas tanamannya legkap, belum ada penggundulan hutan dan sistem tata air dan drainasenya masih alamiah; tumbuh vegetasi dan pohon-pohon besar yang melingkari danau atau telaga pada zona amphibi dan daratan (sempadan danau atau telaga) yang cukup rapat. Pohon dan vegetasi melingkar ini, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga ring. Ring pertama pada umumnya ditumbuhi pohon-pohon besar  yang biasa ada di daerah yang bersangkutan (misalnya pohon beringin di daerah Jawa). Ring kedua dipenuhi dengan pohon-pohon yang lebih kecil dan relatif kurang rapat dibanding dengan ring pertama. Ring ketiga atau ring luar berbatasan dengan daerah luar telaga, dengan tingkat kerapatan tanaman lebih jarang. Jika kondisi vegetasi di sekeliling danau atau telaga ini punah, maka dapat dipastikan bahwa umur telaga akan memendek, baik disebabkan oleh tingkat penguapan dan suhu yang tinggi maupun tingkat sedimentasi yang tinggi (Gambar 1 dan 2)

Gambar 2. Kiri: telaga Towet dan Tengah: Telaga Endog Gede; dua telaga lestari di Kabupaten Gunung Kidul. Kanan: Telaga Jrakah, contoh telaga dengan tidak lestari talud-reservoir di Gunung Kidul, Propinsi DIY

Pada pengembangan danau, telaga , atau situ untuk pariwisata sering dilakukan dengan membuat sarana prasarana pariwisata tanpa memperhitungkan ekologi danau, telaga, atau situ tersebut.  Dampaknya, sarana-prasarana tersebut justru mengambil areal vegetasi dan menjadi pemicu rusaknya ring-ring ekologi danau, telaga, atau situ tersebut. Oleh karena itu, selain perbaikan daerah tangkapan air yang masuk ke danau, telaga atau situ, juga upaya melestarikan dan menumbuhkan pohon-pohon dan vegetasi di sekelilingnya baik pada ring pertama, kedua dan ketiga. Pengembangan sarana pariwisata hendaknya diletakan di luar ring ketiga dan hendaknya mengacu pada konsep eko wisata.

Dalam konsep eko-hidraulik pembuatan talud melingkar harus sejauh mungkin dihindari, karena bangunan ini akan mematikan ekosistem secara destruktif, disamping talud tersebut tidak efektif untuk menahan rembesan air secara horisontal. Justru dengan  penanaman vegetasi yang sesuai dengan kondisi setempat dapat menurunkan  rembesan horisontal secara efektif, menahan longsoran, menurunkan suhu, menahan air dan meningkatkan kualitas ekosistem. Demikian juga dengan cara pengerukan dan pelapisan aspal akan berakibat sebaliknya yaitu menurunkan kualitas ekosistem dan bahkan menahan base flow.

Dalam revitalisasi danau, telaga, dan situ, dalam konteks memanen air hujan dapat dilakukan dengan menumbuhkan dan memelihara ekologi daerah sempadan (bantaran) danau, telaga atau situ. Danau, telaga dan situ yang lestari dapat dilihat dari kesuburan daerah sempadannya. Pada ring pertama banyak ditumbuhi tanaman-tanaman besar yang rapat, pada ring lingkaran kedua sempadan tersebut ditumbuhi tanaman-tanaman keras yang lebih kecil dari ring pertama, dan pada ring ketiga daerah sempadan danau tersebut banyak ditemukan tumbuhan-tumbuhan produksi yang relatif rapat.

Gambar 3. Sempadan danau (ring pertama, kedua, dan ketiga); ekologi hidup maka air lestari, ekologi hancur maka danau rusak

Perkembangan yang ada di Indonesia akhir-akhir ini adalah banyak sekali danau, telaga dan situ yang rusak karena pendangkalan oleh sedimen, pengurugan untuk dijadikan areal perumahan atau permukiman, direlokasi untuk ditukar guling, dijadikan tempat timbunan sampah, dialihfungsikan sebagai areal pertanian dan lain-lain. Perkembangan seperti ini akan menghilangkan manfaat danau, situ dan telaga secara drastis. Oleh karena itu perlu dilakukan revitalisasi secepat mungkin sebelum semua terlambat sehingga tidak bisa direvitalisasi kembal. Berikut ini contoh danau yang diurug dan dijadikan tempat pembuangan sampah.

Gambar 4. Contoh danau dan situ yang diurug dan dijadikan tempat pembuangan sampah (kanan). Kiri: danau / situ baru di Bekasi, Jawa Barat). Perlu segera direvitalisasi dan


Sumber: Agus Maryono dan Edy Nugroho Santoso (2006). Metode Memanen dan memanfaatkan Air Hujan untuk Penyediaan Air Bersih, Mencegah Banjir dan Kekeringan. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup.

11 Komentar »

  1. selamat, terima kasih, semoga semakin banyak orang yang sadar dan menyelesaikan masalah danau dengan konsep ekohidraulik. Danau tempe di Sulawesi akan dihancurkan dengan membangun bendung gerak di hilirnya. Masih banyak sekali pola pikir hidarulk murni.

    Salam,
    Agus M

    Komentar oleh agus maryono — Januari 25, 2009 @ 9:29 pm

  2. Terima kasih Pak Agus Maryono karena sempat mengunjungi blog ini. Mudah-mudahan dengan blog ini, kita dapat mendorong aksi-aksi kolektif skala lokal di tiap DAS, yang berkontribusi pada ikhtiar pengendalian banjir. Kami sedang membuat percontohan aksi kolektif lokal dengan menfasilitasi sebuah RW percontohan di pinggir Sungai Ciliwung, dengan konsep RW Hijau. Kami bermimpi, model RW Hijau ini dapat direplikasikan di seluruh RW di DAS Ciliwung. Model ini disamping bertujuan ikut mengendalikan banjir, juga bertujuan untuk ikut memulihkan kualitas air Sungai Ciliwung.

    Komentar oleh Sahroel Polontalo — Februari 2, 2009 @ 11:11 am

  3. mohon ijin paper saya copy untuk dibaca. mohon bantuan konsultasi model pengelolaan danau/situ yang baik seperti apa pak? agar kelestarian situ-situ yang ada di depok ini bisa dilestarikan.
    kita tahun bahawa dengan pertambahan penduduk yang meningkat banyak situ yang diurug serta sempadan pada dibangun rumah-rumah. situ menjadi kotor dll. bagaiman menumbuhkan kepedualian masyarakat akan lingkungan hidup
    terima kasih

    Komentar oleh tuky — Februari 20, 2009 @ 1:31 am

  4. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.

    Pengelolaan situ, antara lain bisa didekati dari aspek property right (hak kepemilikan). Pertanyaannya adalah situ itu milik siapa? Jika mengacu pada aturan, situ jelas milik negara (state property) yang pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah. Kalau saya memiliki sesuatu, dan sesuatu itu berharga, maka saya pasti akan menjaganya. Berkaitan dengan situ, faktanya, meski situ dianggap penting, negara tak memiliki kemampuan yang memadai untuk menjaganya, sehingga meski secara de jure situ itu milik negara (state property), namun secara de facto, situ menjadi sumber daya yang open access (siapa saja bisa melakukan apa saja terhadap situ dan sempadannya). Misalnya, diurug dan dibangun rumah, dibuangi sampah di sekitarnya, dibuangi limbah cair, dan sejenisnya.

    Salah satu pemecahan yang kami usulkan adalah dengan merekayasa dari aspek property right ini. Yakni, meski situ itu secara de jure merupakan state property, namun dapat saja dalam pengelolalannya dijadikan sebagai common property (milik bersama) pemerintah dan masyarakat sekitarnya. Karena itu yang mungkin dapat dilakukan adalah:

    Pertama, mengorganisir masyarakat sekitar situ, seperti yang ada di Kota Depok yaitu dengan Pokja-Pokja Situ. Tugas utama dari Pokja Situ adalah merumuskan aturan main (rules) yang disepakati bersama oleh warga di sekitar situ tentang bagaimana warga di sekitar situ memperlakukan situ yang ada. Dan yang lebih penting adalah menegakan aturan main itu, sehingga membentuk perilaku warga. Aturan main ini tentu harus sejalan dengan aturan-aturan yang ada.

    Kedua, dibangun kesepakatan-kesepakatan aturan main antara Pemerintah (instansi yang berwenang mengelola situ) dengan Pokja-Pokja situ tentang pengelolaan masing-masing situ. Itu dari segi kelembagaan.

    Dan ketiga, dari aspek teknis pengelolaan situ harus menggunakan pendekatan ekohidraulik. Pemanfaatan untuk apa pun, sepanjang tidak bertentangan dengan ekohidarulik itu dimungkinkan.

    Tentang property right bisa ke http://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/property-right/

    Komentar oleh Sahroel Polontalo — Februari 20, 2009 @ 7:08 am

  5. trimakasih atas infonya, mungkin saya telat ya komennya.. hehe ;p
    skrg saya sedang menyusun tulisan ttg perencanaaan ulang situ gintung (pasca bencana), jadi saya rencananya mau bikin beberapa satuan lahan yang nanti tujuan utamanya dapat menciptakan kondisi situ yang berkelanjutan dan lestari (normatif banget ya.. ;p).
    ya tapi intinya saya ingin fungsi situ itu kembali dan mengatur ruang2 di sekitarnya agar bisa melindungi sekaligus mendukung kondisi ekologis situ.
    mohon bantuan informasi dan referensinya pak… apa bisa berkirim info via email?
    trimakasih…

    email : halosayaika@yahoo.com

    Komentar oleh nurika nf — Desember 28, 2010 @ 10:56 am

  6. Terima kasih pak Agus cs atas informasinya yg sangat berharga sekali. taahun ini (2011) saya sebagai peneliti ekologi perikanan akan mencoba menginventarisir seluruh potensi sumberdaya telaga/situ/danau/waduk kecil yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Terutama bila dikaitkan pemanfaatannya untuk pengembangan usaha perikanan berbasis masyarakat. Mungkin Bapak bisa membantu, tapi bagaimana caranya ya? Terima kasih dan salam saya (Kunto Purnomo)

    Komentar oleh Kunto Purnomo — Juli 22, 2011 @ 5:47 am

  7. Disamping banyak danau, situ, waduk yg juga rusak akibat limbah padat (sampah), juga banyak rusak akibat limbah cair (zat kimiawi).

    Komentar oleh Evani Marsianada — Januari 12, 2012 @ 6:19 pm

  8. Saya mau buat semacam pembersihan/revitalisasi sungai di tengah kota (perumahan daerah bintaro). Saya bingung harus mulai darimana, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dperhatikan,
    minta tolong bantuannya, terima kasih
    mail aja ke ontosenobudiaji@gmail.com

    Komentar oleh Ontosenofr — November 15, 2013 @ 5:51 pm

  9. Terimah kasihbanyak

    Komentar oleh putri — Februari 25, 2014 @ 6:14 pm

  10. Saya akan menjadi salah satu generasi terbaik Indonsia

    Komentar oleh putri — Februari 25, 2014 @ 6:17 pm

  11. Saat ini sudah semakin sedikit daerah resapan air maupun danau. Banjir terus deh…

    Komentar oleh Toko Bunga Jakarta — Maret 3, 2014 @ 2:18 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 170 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: