BebasBanjir2015

Polder

SISTEM POLDER

OPTIMALISASI SISTEM POLDER UNTUK KURANGI KAWASAN BANJIR

Jakarta, 3/7/2007 (Kominfo–Newrsroom) – Seorang pakar pengairan Belanda menyarankan perlunya pemerintah mengoptimalkan sistem polder dengan memasang tanggul pengaman untuk kawasan rendah dan mengembangkan drainase di perkotaan yang masih memiliki gravitasi, guna mengurangi kawasan banjir akibat genangan.

“Kawasan perkotaan seperti Jakarta, Semarang dan kota lain yang berada di kawasan rendah selalu dilanda banjir sehingga masyarakat setempat akan selalu mendapat masalah,” kata Penasehat Utama Kementerian Transportasi dan Pengairan Kerajaan Belanda, Prof Bart Schultz, di Jakarta, Selasa (3/7).

Sementara kondisi drainase yang kurang baik dan penumpukan sampah pada saluran air akibat warga kurang memiliki kesadaran lingkungan, menambah parah kondisi tersebut.

Apalagi saat ini dengan ada isu pemanasan global dan perubahan iklim berakibat terjadi naiknya air laut dan turunnya permukaan tanah akibat pengambilan air tanah, akan semakin menambah luasan kawasan genangan.

Selain itu, berdasarkan penelitian pakar dunia, terjadi naiknya permukaan air laut sekitar 19-58 cm/abad, perubahan kondisi sungai dan debit puncak sekitar 10-30 persen/abad serta meningkatnya curah hujan rata-rata hingga 45 persen/abad.

Untuk itu, katanya, pemerintah yang kawasannya berada di kawasan rendah seperti Indonesia harus mewaspadainya dengan cara mengoptimalkan segala sistem dan membangun infrastruktur dan sarana penting di kawasan yang relatif tinggi,

Sementara itu, Peneliti Madya Puslitbang SDA Departemen PU Joyce Marha Widjaya mengatakan, dalam mengembangkan sistem polder perkotaan harus dilakukan secara terintegrasi antara rencana tata ruang dan tata air utamanya pada kota-kota pantai yang memiliki cekungan.

Setiap tetes air buangan yang jatuh pada kawasan polder harus didrainase dengan bantuan pompa, dan untuk itu perlu disosialisasikan konsep pengendalian pengembangan sistem polder berkelanjutan sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan akibat pembangunan yang sangat mempengaruhi dan berdampak pada lingkungan..

Sementara itu Forum Peduli Lingkungan Kelapa Gading, Firman, berharap dengan ada sistem polder tersebut dapat membantu kawasannya yang selalu tergenang akibat limpasnya air dari Danau sunter.

Dia berharap, sistem tersebut bisa dilaksanakan segera dan meminta pemda dan Dinas PU DKI memperhatikan pemasangan tanggul dan drainase, yang dinilai sudah tidak memadai dan airnya sering menggenangi perumahan sekitar meski hujannya sebentar.

Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Pluit Ir Agus Johan mengatakan,hingga saat ini penanganan masalah banjir dan lingkungan baru sebagian yang dijalankan dari yang disepakati.

Menurut dia, masih banyak masalah substansial polder Pluit yang perlu dicarikan solusinya oleh pemangku kepentingan, dengan terhindarnga kawasan Pluit dari genangan tahun 2007 yang lalu, bukan jaminan kawasan tersebut terhindar dari masalah banjir.

Sementara itu Kepala Bappeda Kota Semarang Ir M Farhan mengatakan, untuk mengatasi daerah genangan di kota Semarang pemerintah melakukan upaya pengendalian di daerah hulu dengan mengurangi daerah terbangun.

Dia mengarahkan memperbanyak fungsi konservasi guna mengurangi pendangkalan sungai dan menyebabkan terjadi perluasan genangan dan membangun waduk Jatibarang sebagai kolam retensi guna mengurangi air menuju hilir. (mf/toeb/c)

Sumber: http://depkominfo.go.id 

Polder Kaligawe Dibangun

Senin, 13 Oktober 2008 00:00

SEMARANG—Setiap musim penghujan tiba, Pasar Waru yang terletak di Kelurahan Kaligawe Semarang selalu terendam banjir. Akibatnya pasar ini semakin dijauhi pengunjung. Tak heran jika para pedagang yang sebagian besar pindahan dari PKL Jalan Kartini mengeluh karena dagangannya tidak laku. Selain menggenangi Pasar Waru, banjir juga terjadi di jalan masuk menuju rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Kaligawe yang saat ini masih dalam tahap penye-lesaian.

Agar banjir tidak lagi menggenangi kawasan ini, pemerintah kota Semarang merencanakan pembangunan kolam retensi atau semacam polder di kawasan ini. Polder ini dibangun pada sisi barat Pasar Waru dan saat ini sudah dalam tahap pengerukan. Berdasarkan pantauan Radar Semarang Minggu (12/10) sebuah alat berat terlihat mengeruk tanah di lokasi ini. Rencananya, luas polder tersebut sekitar 5.000 meter persegi dengan kedalaman 4 meter. Polder ini akan menjadi tempat penampungan air dari saluran di kawasan tersebut.

”Supaya kawasan ini tidak banjir, memang butuh penanganan pada saluran drainasenya. Nantinya akan dibuat saluran di sekeliling kawasan rusunawa dan Pasar Waru,” tutur Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) Bambang Haryono.

Rencananya, saluran drainase akan dibangun di sekeliling kawasan dengan lebar sekitar 60 sentimeter dan kedalaman sekitar setengah meter. Rencana pembangunan kolam retensi di kawasan Pasar Waru disambut para pedagang Pasar Waru maupun masyarakat sekitar. Diharapkan dengan pembenahan saluran drainase yang ada di kawasan tersebut, dapat mengurangi banjir yang sering melanda wilayah itu.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang Agung Purno Sarjono menyambut baik pembuatan polder di kawasan Pasar Waru untuk mengatasi banjir. Tapi ia mengingatkan agar dinas terkait juga memikirkan saluran pembuangan air dari polder tersebut. “Yang tak kalah penting adalah saluran pembuangan dari polder sampai muara harus jelas,” ujar Agung PS.

Ia berharap polder tersebut tidak hanya untuk menampung air di kawasan Pasar Waru dan rusunawa saja. Jangan sampai keberadaan polder tersebut malah menimbulkan banjir di wilayah lain. Untuk itulah perlu juga diperhatikan saluran pembuangan dari polder hingga ke muara. “Kalau saluran pembuangan berfungsi maksimal, maka keberadaan polder dalam mengatasi banjir juga akan maksimal,” ujar politisi asal PAN ini. (ton)

Sumber: http://www.radarsemarang.com/index.php

Menanggulangi Banjir dengan Sistem Polder

Amin Budiarjo

Gubernur DKI Sutiyoso menyatakan akan menggunakan sistem polder untuk menanggulangi banjir di Jakarta, khususnya untuk 40% wilayah Jakarta yang katanya berada di bawah permukaan laut. Sistem polder ini telah direncanakan oleh Herman van Breen dan tim (dengan banjir kanal barat dan timur) ketika merancang kota sebagai respon terhadap banjir besar yang melanda Batavia tahun 1918. Sayangnya rencana yang bagus ini belum bisa terealisasi sepenuhnya hingga saat ini. Di Jakarta sendiri sistem polder ini sebenarnya sudah diterapkan di kawasan perumahan elit di tepi laut Jakarta Utara.

Polder adalah sekumpulan dataran rendah yang membentuk kesatuan hidrologis artifisial yang dikelilingi oleh tanggul (dijk/dike). Pada daerah polder, air buangan (air kotor dan air hujan) dikumpulkan di suatu badan air (sungai, situ) lalu dipompakan ke badan air lain pada polder yang lebih tinggi posisinya, hingga pada akhirnya air dipompakan ke sungai atau kanal yang langsung bermuara ke laut. Tanggul yang mengelilingi polder bisa berupa pemadatan tanah dengan lapisan kedap air, dinding batu, dan bisa juga berupa konstruksi beton dan perkerasan yang canggih. Polder juga bisa diartikan sebagai tanah yang direkalamasi. Sistem polder banyak diterapkan pada reklamasi laut atau muara sungai, dan juga pada manajemen air buangan (air kotor dan drainase hujan) di daerah yang lebih rendah dari muka air laut dan sungai.

Polder identik dengan negeri kincir angin Belanda yang seperempat wilayahnya berada di bawah muka laut dan memiliki lebih dari 3000 polder. Sebelum ditemukannya mesin pompa, kincir angin digunakan untuk menaikkan air dari suatu polder ke polder lain yang lebih tinggi. Bicara tentang banjir kita perlu banyak belajar dari negara ini yang sudah kenyang bergulat memerangi banjir sejak abad ke-17 karena morfologi alamnya sebagian besar yang berupa rawa dan dataran rendah. Di negara ini, ancaman banjir datang secara rutin dari laut melalui gelombang pasang dan ganasnya badai Laut Utara, ataupun dari luapan sungai Ijssel, Maar, dan Rijn akibat mencairnya es di hilir sungai pada akhir musim dingin. Sistem polder dipakai untuk mengeluarkan air dari dataran rendah dan juga menangkal banjir di wilayah delta dan daerah aliran sungai.

Di negara ini, rencana penanganan banjir ditetapkan pada level nasional, provinsi, dan kotapraja. Terdapat Badan Manajemen Air yang sejajar dengan pemerintahan lokal dan berperan khusus dalam perencanaan, manajemen aktivitas yang berkait dengan air, juga upaya mitigasi bencana banjir. Upaya penanganan banjir juga melibatkan masalah penyediaan perumahan, tempat kerja, suplai air minum, pertanian, lingkungan ekologis, galian mineral, bahkan pariwisata dan rekreasi. Sungai Rijn (Rheine) yang menyebabkan banjir adalah lintasan jalur wisata perahu pesiar yang bermula di Swis, melewati Jerman, dan berakhir di Belanda.

Berkaitan dengan aspek ruang, bermacam kemungkinan terjadinya banjir (ketinggian, daerah tergenang) dari beragam periode ulang (return period) dikaji untuk menentukan sistem pengaliran air dan batas polder. Ada beberapa daerah di sekitar badan sungai yang memang disiapkan untuk digenangi ketika banjir besar (periode yang lebih lama) melanda. Daerah ini biasanya dimanfaatkan untuk fungsi pertanian atau daerah hijau. Ketentuan sempadan sungai dan tanggul juga diterapkan untuk menjamin tidak ada bangunan pada daerah tersebut. Kontrol pada pemanfaatan lahan agar sesuai dengan peruntukannya amatlah ketat, dimulai dari kelayakan pada saat perijinan, pengawasan rutin, hingga penggunaan foto udara kawasan. Selain ditunjang sumberdaya manusia, teknologi, dan finansial, upaya penegakan hukum dan peraturan merupakan salah satu kunci keberhasilan penanggulangan banjir di negara ini.

Untuk menerapkan sistem polder di Jakarta, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, pemanfaatan lahan di sekitar tanggul harus dikontrol seketat mungkin, paling tidak sepanjang bantaran sungai dan tanggul kanal harus bebas dari bangunan dan permukiman liar. Daerah ini memiliki resiko tertinggi bila terjadi banjir. Alternatif pemanfaatannya bisa berupa taman ataupun jalan. Berkait dengan tata ruang secara umum, penegakan ketentuan tata ruang seperti guna lahan (land use) dan koefisien dasar bangunan (KDB) juga harus benar-benar dilaksanakan, tidak sekadar menjadi proyek untuk menghabiskan anggaran pemerintah.

Kedua, ketika semua air buangan dialirkan ke laut, ancaman banjir dari laut juga perlu diperhatikan. Bukan tidak mungkin gelombang pasang akan membanjiri kota melalui kanal banjir yang ada. Mungkin saja diperlukan pintu atau gerbang kanal yang bisa dibuka-tutup sewaktu-waktu.

Ketiga, sistem polder amatlah bergantung pada lancarnya saluran air, kanal, sungai, serta kinerja mesin-mesin yang memompa air keluar dari daerah polder. Aspek perawatan (sumber daya manusia dan peralatan) perlu mendapat perhatian dalam bentuk program kerja dan anggaran. Yang terjadi selama ini kita lebih pandai mengadakan sarana dan prasarana publik ketimbang merawatnya.

Keempat, resapan air hujan perlu lebih dimaksimalkan melalui daerah resapan mikro seperti taman, kolam, perkerasan yang permeabel, dan sumur resapan. Prinsipnya adalah mengurangi buangan air hujan ke sungai dan memperbanyak resapannya ke dalam tanah. Disini, peran arsitek, kontraktor, dan pemilik properti amatlah penting untuk mengalokasikan sebagian lahannya untuk fungsi resapan seperti taman rumput (bertanah) dan sumur resapan. Daerah resapan yang tidak terlalu luas namun jika banyak jumlahnya dan tersebar di seluruh penjuru kota tentu akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah.

Sistem polder merupakan upaya struktural penanggulangan banjir yang konsekuensinya jelas adalah biaya yang amatlah besar dan waktu yang lama, baik untuk pembebasan tanah, pembangunan fisik, maupun untuk pengadaan dan perawatan mesin-mesin dan peralatan. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah upaya non-struktural yang berkaitan dengan pendidikan publik. Upaya membangun kesadaran seperti tidak membuang sampah di saluran air, memperbanyak penanaman pohon, menggunakan perkerasan grass-block dan paving-block yang permeabel, atau bahkan bagaimana bersikap ketika banjir datang akan jauh lebih berguna untuk mencegah banjir dan meminimalisir kerugian akibat banjir yang bisa datang setiap tahun.

Keterangan Foto dan Illustrasi

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo. Skematik pengairan air buangan pada sistem polder.

Sumber: Brosur Making Polders, Directorate Flevoand, Lelystad, Belanda
Skematik pembangunan di daerah polder yang memadukan guna lahan residensial, komersial, industri, dan konservasi.

Sumber: Brosur Wat doen we als…, Kementrian Transportasi, Pekerjaan Umum dan Manajemen Air serta Kementrian Dalam Negeri (Ministerie van Verkeer en Waterstaat ・Ministerie van Binnenlandse Zaken), Den Haag, Belanda. Ilustrasi dibuat oleh Henk Stolker dan diterjemahkan oleh Amin Budiarjo.
Tiga alternatif strategi menangani banjir pada badan dan daerah aliran sungai di Belanda. Strategi 1 mengontrol atau menampung genangan pada satu daerah tertentu. Strategi 2 membuat beberapa kompartemen yang akan tergenang pada luapan sungai yang berbeda-beda intensitasnya. Strategi 3 memberikan ruang yang lebih besar bagi air dengan pendalaman badan sungai dan alokasi beberapa daerah genangan di daerah aliran sungai sekitarnya.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Salah satu bentuk tanggul musim dingin (winterdijk) yang dimanfaatkan sebagai jalan lingkungan di Flevoland Selatan. Daerah di sisi kiri akan tergenang saat musim dingin berakhir dan es mulai mencari di hulu sungai. Daerah yang akan tergenang dialokasikan untuk fungsi pertanian ataupun daerah hijau resapan.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Pada daerah yang memang memerlukan struktur pertahanan banjir yang amat kuat, tanggul bisa berupa kontruksi beton yang canggih seperti tampak pada tanggul Laut Utara di Provinsi Zeeland ini.


Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Bukit pasir di tepi pantai (dune) merupakan salah satu bentuk pertahanan alami terhadap banjir yang sekaligus juga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas ekologi lingkungan.


Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Rumah pompa pada polder di Mastenbroek, Flevoland Selatan. Seiring dengan penggunaan mesin berteknologi baru, mesin uap dan kincir dijadikan monumen seperti yang tampak pada gambar.


Sumber: Dokumentasi Nannette Kingma
Akses menuju daerah polder yang dikelilingi tanggul bisa berupa pintu atau gerbang geser yang dapat ditutup ketika banjir.

Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Untuk mencegah banjir dari laut, terdapat konstruksi gerbang penahan gelombang badai yang memisahkan muara sungai Oosterschelde (sebelah kanan) dengan Laut Utara (sebelah kiri). Konstruksi ini juga dimanfaatkan sebagai penyangga jembatan antar pulau serta fungsi museum di dalam rongga struktur jalan.


Sumber: Dokumentasi Amin Budiarjo
Proses pembangunan tanggul polder di tepi sungai Maas. Konstruksi ini menggunakan lapisan kedap air seperti karpet.

Sumber: Dokumentasi Basja
Skema upaya meresapkan dan menampung buangan air hujan ke dalam daerah resapan dan kolam-kolam keci di sekeliling kawasan perumahan.

Amin Budiarjo, Praktisi Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan

Sumber: http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-04-09-Menanggulangi-Banjir-dengan-Sistem-Polder.shtml

4 Komentar »

  1. sistim polder memang tepat untuk mencegah banjir di kota semarang, kalau mau belajar tentang polder pada siapa dan dimana?

    Komentar oleh jp.supriyanto — Mei 4, 2010 @ 12:45 pm

  2. polder dah ada di semarang mas,…mau belajar ya sekolah :)

    Komentar oleh CozCroZ — April 11, 2011 @ 11:13 am

  3. sekarang saya mengerjakan DED Pembangunan Mini Polder Kawasan PHB Gabus daerah Ragunan Jakarta Selatan,mungkin bapak ada refrensi tentang mini polder dengan ketentuan topografi daerah yang tidak merata

    Komentar oleh Muhamad Rosyid Fadhlillah — November 2, 2011 @ 2:02 pm

  4. bagaimana menghitung imbangan air dalam kolam polder?

    Komentar oleh iinovitasari — Desember 4, 2011 @ 7:23 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 166 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: