BebasBanjir2015

Lubang Resapan Biopori

Lima Juta Lubang Biopori di Jakarta

Tuesday, 27 January 2009 07:36 Eri Kartiadi 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan membuat lima juta lubang resapan biopori di Jakarta terwujud dalam waktu setahun hingga akhir 2009 ini. Saat ini, lubang biopori di Jakarta sebanyak 438 ribu buah. Gubernur Fauzi Bowo bahkan mengeluarkan Instruksi Gubernur untuk percepatan pembuatan biopori.

Hal itu disampaikan oleh Fitratun Nisa dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, saat berbincang di acara Green Talk Green Radio.

GR (Green Radio): Bagaimana angka lima juta itu keluar?

FN (Fitratun Nisa): Target lima juta biopori itu merupakan target dari ibu Tatiek Fauzi Bowo. Beliau mencanangkannya di Hari Keluarga Nasional. Desember tahun lalu, Fauzi Bowo menargetkan sekitar satu juta lubang biopori.

GR: Metode apa yang dilakukan agar mencapai target itu?

FN: Salah satunya dengan melakukan koordinasi dengan ibu-ibu PKK dan kader Posyandu, sebagai pelaksana di lapangan. Saat ini, Jumlah posyandu di Jakarta sekitar 4069. Jika ada lima kader aktif di setiap posyandu, dan setiap satu kader membuat 10 lubang biopori, maka jumlah lubang biopori cepat mendekati target.

GR: Daerah mana yang akan digelar?

FN: Pengerjaannya bisa diterapkan di semua jenis tanah di seluruh wilayah DKI. Sehingga tidak ada pengecualian bagi masyarakat. Karena pembuatan lubang biopori itu mudah, murah, efisien dan efektif.

GR: Seperti apa kesulitan yang akan dijumpai?

FN: Secara prinsip, tidak ada kesulitan. Masyarakat cukup antusias membuat lubang biopori. Hal ini terlihat dari banyaknya permintaan masyarakat untuk disosialisasikan lubang biopori di wilayah mereka. Mungkin kesulitannya dari ketersediaan alat bor.

GR: Solusinya?

FN: Sebenarnya, harga alat bor relatif murah, sekitar Rp 200 ribu. Satu alat bor bisa digunakan bergantian membuat lubang biopori. Nah, saat ini BPLHD mendistribusikan alat bor tersebut di setiap kelurahan, namun belum seluruhnya mendapatkan alat tersebut.

GR: Apa efek yang diharapkan bila mencapai target?

FN: Efeknya cukup banyak, terlebih masyarakat telah merasakan manfaatnya. Seperti, berkurangnya genangan air di wilayah atau rumah mereka. Meminimalisir sampah organik yang terbuang atau keluar dari rumah, ketiga, jangka panjangnya adalah meresapnya air ke tanah sebagai cadangan air tanah.

Efek lainnya mungkin hilangnya berbagai penyebab penyakit, akibat berkurangnya genangan. Efek luasnya turut berpartisipasi dan antisipasi pada pemanasan global

Sumber: http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&view=article&id=303%3Alima-juta-lubang-biopori-di-jakarta&catid=1%3Alatest-news&Itemid=263&lang=

Biopori, Cara Sederhana Atasi Banjir

Kompas

Kamir S Brata. Sumber: Kompas

Setiap tahun, Kota Jakarta mendapat jatah banjir baik karena curah hujan yang tinggi atau kiriman dari daerah penyangga seperti Depok dan Bogor. Sebagai daerah hilir, semestinya menyiapkan dan menata Ibukota harus dipenuhi dengan daerah resapan air, sehingga dalam kondisi debit air meningkat bisa terserap.

Kenyataannya, persoalan yang multikompleks akibat urbanisasi menyebabkan lahan di Jakarta hampir ditutupi oleh bangunan dan daerah kedap air, karena tertutup semen. Lahan-lahan yang semula menjadi penampungan air, kini diuruk menjadi perumahan elite. Alhasil, air tidak terserap, tetapi meluber dan menggenangi permukiman penduduk.

Di tengah ketidakpastian menangani solusi karena belum kelarnya pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT), sedangkan ancaman banjir kian sulit diprediksi, seorang ilmuwan dari Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, Kamir R Brata menawarkan solusi alternatif meminimalkan dampak banjir dengan teknologi lubang serapan Biopori atau mulsa vertikal.

Berbeda dengan penemuan padi Super toy dan Blue Energy yang sempat mencoreng citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akibat tidak diuji kebenarannya secara ilmiah, penemuan Kamir sudah melalui tahapan tersebut, sehingga sangat layak ditawarkan ke publik untuk diterapkan mulai dari ruang lingkup yang paling kecil dalam skala rumah tangga.

Apalagi, teknologi yang ditawarkan sangat sederhana, tepat guna, mudah diterapkan, dan harganya sangat terjangkau, tetapi dampaknya luar biasa untuk menyelamatkan lingkungan khususnya menjaga ketersediaan air tanah dan meminimalkan dampak banjir.

Teknologi ini pada prinsipnya menahan air hujan tidak langsung mengalir ke daerah yang lebih rendah, tetapi membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang resapan tersebut. Dinamakan teknologi biopori, karena mengandalkan jasa hewan-hewan tanah seperti cacing dan rayap untuk membentuk pori-pori alami dalam tanah, dengan bantuan sampah organik, sehingga air bisa terserap, sehingga memperbaiki struktur tanah.

“Cara ini di samping membantu mengatasi masalah sampah perkotaan, juga diharapkan menjadi solusi mengatasi banjir yang selalu melanda Jakarta,” kata Kamir saat menyampaikan penemuannya itu beberapa waktu lalu.

Di kawasan perumahan yang hampir semua lahannya kedap air, teknologi lubang serapan biopori ini diterapkan dengan membuat lubang di saluran air ataupun di areal yang sudah telanjur diperkeras dengan semen dengan alat bor. Selanjutnya, sampah organik berupa daun atau ranting kering serta sampah tumah tangga dimasukkan ke dalam lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 80 cm hingga maksimal satu meter. Sampah organik, berfungsi membantu kehidupan cacing tanah dan rayap yang nantinya akan membuat biopori.

Di saluran air, lubang serapan ini bisa dibuat setiap satu meter dan di ujung saluran dibuat bendungan sehingga air tidak lagi mengalir ke hilir, namun diserap sebanyak-banyaknya ke dalam lubang. “Jangan khawatir sampah organik akan meluap, karena air akan begitu cepat terserap ke dalam lubang. Lubang yang diisi sampah juga tidak akan menimbulkan bau busuk, karena terjadi proses pembusukan secara organik,” katanya.

Selain di lahan perumahan kedap air, teknologi ini juga bisa diterapkan di rumah-rumah yang memiliki lahan terbuka seperti di dekat pohon. Demikian juga di persawahan lahan miring, sebaiknya ditanami dengan padi gogo yang tidak membutuhkan banyak air.

Selain menjaga ketersediaan air tanah, biopori juga menyelamatkan lingkungan dari kepungan sampah. Sampah-sampah rumah tangga yang selam ini langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah (TPS), dengan teknologi ini memaksa masyarakat mengurai dan memasukkan sampah organik ke lubang tersebut.

Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam menerapkan teknologi ini sangat sederhana seperti bor tanah, cangkul, golok, palu, pahat, ember, gayung, bambu, pipa, dan sendok semen. Bor berfungsi untuk melubangi bidang tanah sekaligus mengangkat tanah hasil galian. Bor juga bisa digunakan untuk memasukkan kompos dalam lubang. Bor tanah terbuat dari besi yang didesain khusus. Di sepanjang bor ada alat ukur angka satuan sentimeter untuk mengetahui kedalaman lubang.

Mata bor dibuat dari lempengan besi tipis yang dibuat oval meruncing pada bagian ujungnya. Dengan desain seperti ini, bor bisa menembus tanah yang keras sekalipun. Panjang bor sekitar 120 sentimeter. Sementara di bagian pangkal dibuat pegangan, sehingga memudahkan dalam penggunaan. Bor tanah bisa dibeli di toko dengan kisaran harga Rp 175.000-Rp 250.000.

Cangkul digunakan untuk membersihkan permukaan tanah. Pahat dan palu digunakan untuk membongkar lapisan semen pada permukaan tanah yang disemen. Bahan yang digunakan untuk membuat lubang berupa semen, pasir, batu hias, air, dan sampah organik. Semen dan pasir digunakan untuk memperhalus permukaan lubang. Batu hias atau pecahan keramik berfungsi sebagai pemanis. Air untuk melunakkan tanah dan sampah organik digunakan untuk pengisinya.

Lubang resapan biopori (LRB) yang telah dibor selanjutnya pada sekeliling permukaan mulut lubangnya diberi semen agar kuat, lalu dimasukan potongan pipa PVC yang telah dibungkus koran pada lubang LRB sedalam 2 sentimeter. Lalu, sisipkan adukan semen dan pasir di sekeliling pipa. Bila penguat bibir lubang sudah mengeras, cabut pipa PVS dari tempatnya. Selanjutnya dorong kertas koran ke dalam lubang menggunakan jari tangan. Setelah lubang LRB siap, masukkan sampah organik ke dalam lubang sampai penuh.

Untuk memasukkan sampah lebih dalam bisa menggunakan bambu untuk mendorong ke dalam lubang. Pengisian sampah jangan terlalu padat agar tidak mengurangi jumlah oksigen di dalam tanah. Agar tidak membahayakan, lubang ditutup dengan besi beton atau alat penutup lain yang bisa dilalui air dan kuat menahan beban jika terinjak.

Dengan melihat uraian teknologi biopori yang mudah dan tepat guna, maka selayaknya pemerintah memberi apresiasi pada penemunya berupa penghargaan. Kendati demikian, penghargaan yang tidak ternilai jika pemerintah lebih gencar menyosialisasikan ke masyarakat.

Alasan keterbatasan anggaran kurang tepat, karena terbukti proyek triliunan untuk membangun bendungan justru menuai banyak masalah, karena dugaan praktik-praktik kurang terpuji dalam pembebasan lahan. Pemerintah seharusnya lebih arif dengan mendorong hasil penemuan yang murah dan tepat guna, ketimbang mendorong proyek-proyek mercusuar yang sarat dengan dugaan penyalahgunaan uang negara. Teknologi biopori salah satu solusi alternatif terkesan masih diabaikan, karena biayanya murah. [SP/Budi TP]

Sumber: Suara Pembaruan – 17 September 2008

Membuat Lubang Resapan Biopori

Pada edisi yang lalu, dalam rubrik Persona, Majalah Air Minum memuat hasil wawancara dengan Kamir R. Brata, dosen IPB yang menggagas Lubang Resapan Biopori sebagai teknologi tepat guna untuk mengatasi banjir dan sampah, serta untuk memelihara kelestarian air bawah tanah. Berikut ini adalah petunjuk cara membuat lubang resapan biopori tersebut. Mengingat segala manfaatnya, tidak ada salahnya jika anda mencoba untuk membuat lubang resapan ini di rumah atau di kantor anda.

Apa itu LRB?

Lubang resapan biopori (LRB) adalah lubang silindris yang dibuat ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori. Biopori adalah pori berbentuk liang (terowongan kecil) yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman.

Keunggulan dan Manfaat LRB

LRB adalah teknologi tepat guna ramah lingkungan untuk meningkatkan laju peresapan air hujan dan memanfaatkan sampah organik ke dalam tanah. Manfaat LRB:
• memelihara cadangan air tanah
• mencegah terjadinya keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah
• menghambat intrusi air laut,
• mengubah sampah organik menjadi kompos
• meningkatkan kesuburan tanah
• menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah
• mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah dsb.
• mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan
• mengurangi emisi gas rumah kaca (COZ dan metan)
• mengurangi banjir, longsor, dan kekeringan.

Lokasi Pembuatan LRB

LRB dapat dibuat di dasar saluran yang semula dibuat untuk membuang air hujan. Di dasar alur yang dibuat sekeliling batang pohon atau batas taman.

Cara Pembuatan LRB

Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran atau alur yang telah dibuat. Jarak antar lubang 50 sampai 100 cm.

Mulut lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2-3 cm, setebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.

Segera isi lubang LRB dengan sampah organik yang berasal dari sisa tanaman yang dihasilkan dari dedaunan pohon, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur.

Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang menyusut karena proses pelapukan.

Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

Jumlah LRB yang Perlu Dibuat

Sebagai contoh untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100): 180 = 28 lubang.

Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm kedalaman 100 cm, setiap lubang dapat menampung 7,8 liter sampah organik, berarti tiap lubang dapat diisi sampah organik dapur 2-3 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi sampah organik yang dihasilkan selama 56- 84 hari, di mana dalam kurun waktu tersebut lubang perlu diisi kembali.

Biaya yang Diperlukan

Pembuatan LRB akan dipermudah dengan alat bor tanah yang didesain disesuaikan untuk kegunaan peresapan air dengan pendekatan biopori. Alat bor LRB juga diperlukan untuk mempermudah pemanenan kompos yang terbentuk bersamaan dengan pemeliharaan LRB.

Bila I lubang LRB dapat dibuat dalam waktu 10 menit, tiap rumah tangga perlu membuat 30 LRB, berarti akan selesai dalam waktu 300 menit (5 jam) berarti perlu 1 hari orang kerja (Rp 35 000,-).

Bila setiap rumah tangga ingin memiliki bor LRB sendiri (harga bor Rp 175.000 – Rp 200.000), maka diperlukan biaya (Rp 205 000 – Rp 235 000). Biaya tersebut akan dapat
berkurang bila I bor tanah dimiliki bersama oleh beberapa orang.

Keterangan lebih lanjut, hubungi: TIM BIOPORI IPB, Bagian Konservasi Tanah clan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor Telp. 0251422321, Fax. 0251629358, website:http://www.biopori.com, e-mail: sekretariat@biopori.com

Sumber:  Majalah Air Minum – 01 April 2008

 

LUBANG RESAPAN BIOPORI

Genangan Banjir di Cipinang Muara Berhasil Diminimalisasi

Penemu LRB, Kamir R. Brata. Sumber: Kompas

Jumat, 2 Mei 2008
JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 500 lubang resapan biopori (LRB) yang dibangun Desember 2007 terbukti mengurangi genangan banjir di Cipinang Elok (Cipinang Muara RW 010), Jakarta Timur. Kini sudah dibangun lagi 2.000 LRB di RW 10 Cipinang Muara. Pembuatan dibantu mahasiswa Usakti dan sudah dijadikan percontohan untuk penyuluhan BPLHD DKI.

“Kini masyarakat di beberapa wilayah membangun ribuan lubang resapan biopori lagi. Kita targetkan tahun 2008 di seluruh Jakarta 1 juta lubang resapan biopori,” kata Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI, Budirama Natakusumah, kemarin.

Budirama, didampingi seorang staf Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Fitratunisa, menuturkan, tahun 2002 dan 2005 daerah Cipinang Elok banjir hampir sedada atau minimal sepaha. Kemudian, setelah dibangun 500 LRB, banjirnya tinggal sebetis. Setelah dibangun 2.000 LRB lagi, waktu banjir Februari 2008 genangan airnya tinggal 20-30 cm, bahkan cepat surut.

Menurut Budirama, pembuatan LRB ini tanpa upacara seremonial, tetapi langsung dipraktikkan setelah sosialisasi dan menunjukkan hasil. Memang, pertama kali diadakan apel besar dengan dibuka gubernur dan dihadiri 3.800 orang. Namun berikutnya berjalan dengan dukungan para mahasiswa dari 6 universitas di Jakarta, antara lain Usakti, Universitas Sahid, dan Universitas Negeri Jakarta.

Lokasi yang sudah dibangun LRB antara lain di Jalan Wijaya (300 titik), di Taman Surapati (300 titik), di rumah dinas guru, di rumah Wapres. “Kini sedang dibangun di Padang Golf Ancol sebanyak 1.250 titik dan Serdang Kemayoran 500 titik,” kata Fitratunisa menambahkan.

LRB, menurut Budirama, suatu teknologi tepat guna mengurangi genangan air dan sampah organik. Lubang tersebut dalamnya 80-100 cm, diameter 10-30 cm. Bagian dalamnya diberi sampah organik dan ketika hujan langsung kemasukan air. Sampah organiknya nanti berproses menjadi pupuk kompos. Bila sampah organik dari dapur, untuk menjadi kompos butuh 15-30 hari. Bila daun dan ranting, butuh 2-3 bulan. Tanah sekitar LRB gembur dan subur untuk tanaman.

Selain pembangunan LRB, warga DKI juga diharuskan membangun sumur resapan sesuai Peraturan Gubernur DKI No 68 Tahun 2005.

Ketua RW 010 Cipinang Muara, Ir Saksono Suhodo, Kamis (1/5), membenarkan penjelasan Budirama tersebut. Dengan 2.000 LRB itu RW 010 yang terdiri dari 15 RT dengan 627 rumah berhasil mengurangi sampah organik 4 m3 per hari dari total produksi sampah 15 m3 per hari. Setiap 14 hari, warga juga memanen pupuk kompos untuk penghijauan. “Sampai sekarang mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Trisakti terus mencatat dan memonitor hasilnya,” kata Saksono yang mantan Kadis Kebersihan DKI ini.

RW ini, mewakili Kelurahan Cipinang Muara, 3 kali memenangi lomba kebersihan tingkat kecamatan. Pada tahun 2006 pernah juara I lomba daur ulang se-Jakarta Timur. Saksono mengatakan, beberapa kelurahan daerah banjir baru-baru ini studi banding ke Cipinang Muara soal LRB. (Dwi Putro AA)

Sumber: Suara Karya Online, 2 Mei 2008

Pelaksanaan Training of Trainers (ToT) Biopori dan Workshop

Bertempat di Gedung Serbaguna Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, tanggal 9 Juli 20008 Dharma Wanita Persatuan Pusat didukung oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Biopori dengan tema ”Lubang Resapan Biopori Teknologi Tepat Guna Mengatasi banjir, sampah & kelestarian Air Bawah Tanah”.

Acara ini merupakan kegiatan dalam rangka meningkatkan pengetahuan bagaimana cara untuk dapat mengantisipasi akan bahaya kekurangan air dan juga berkurangnya tempat pembuangan sampah. Hal ini mengingat makin pesatnya pembangunan pemukiman serta prasarana fisik perkotaan telah mengakibatkan berkurangnya ruang terbuka yang mengakibatkan berkurangnya pula tempat pembuangan sampah sementara (TPS) maupun tempat pemrosesan akhir (TPA). Selain itu dengan adanya gejala pemanasan global seringkali mengakibatkan perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan air hujan yang tidak terduga yang dapat menyebabkan banjir.

Dalam acara tersebut DWP Pusat mengundang Ibu Masnelyarti Hilman Msc, Deputi III dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan juga bapak Ir. Kamir R. Brata MS sebagai pembicara. Selain itu turut pula hadir bapak Ir. Saksono Suhodo sebagai testimoni dan ibu Wanda Hamidah sebagai moderator. Acara juga dihadiri oleh ibu-ibu dari organisasi PKK, KOWANI, KLH dan perwakilan DWP dari beberapa instansi.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Ketua Umum DWP Pusat Ibu Nila F. Moeloek yang mengatakan betapa pentingnya kita sebagai manusia untuk menjaga lingkungan yang amat sangat berguna untuk menjaga ekosistem mengingat saat ini sudah terlampau tingginya polusi yang disebabkan oleh polusi yang berasal dari banyaknya kendaraan dan lain-lain. Beliau juga mengatakan sesuai dengan anjuran Bapak Gubernur DKI Jakarta, Bapak Fauzi Bowo agar kita sedapat mungkin mengatasi pemanasan global, penghijaun dan sanitasi air. Diakhir sambutannya beliau mengatakan marilah kita menggalakkan industri pangan yang berasal dari tanaman atau tumbuhan disekitar kita.

Acara dimulai dengan pembicara pertama Ibu Masnelyarti Hilman Msc, yang mengutarakan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pemanasan global yang dapat mengakibatkan berkurangnya persediaan air dan banjir untuk itu kita sedapat mungkin menanggulangi masalah tersebut. Sebagai contoh banjir saat ini diakibatkan sekarang ini telah terjadi banyaknya pembukaan lahan seperti di Jawa sehingga terjadi ketidak seimbangan antara curahan hujan dan resapan air, banyaknya sampah yang menutupi selokan-selokan dan juga karena banyaknya erosi yang mengurangi daya tampung air. Untuk itu kita mengupayakan dengan membuat bak penampung, sumur penampung, pari dan taman resapan, lubang resapan biopori, yang merupakan cara dan metoda dalam memanen air pada musim hujan. Diakhir keterangannya beliau mengatakan sebaiknya pembangunan lingkungan harus selaras dengan pembangunan sekitarnya bukan saling bertentangan.

Sebagai pembicara ke II bapak Kamir R. Brata mengutarakan bahwa alam tidak dapat merencanakan ekosistem tetapi harus dibantu oleh manusia. Oleh karena itu kita sebagai manusia salah satu cara menanggulanginya dengan membuat Lubang Resapan Biopori yang dapat menampung air dan sampah-sampah organik. Biopori itu sendiri mempunyai arti pori yang berbentuk liang (terowongan-terowongan kecil) di dalam tanah yang dibuat oleh akar tanaman & fauna tanah. Sedangkan manfaat dari Lubang Resapan Biopori itu adalah sebagai pemanfaatan tempat sampah organik, penyuburan tanah, penghijauan, pengurangan bahaya banjir, mengurangi pencemaran lingkungan, dll. Beliau juga menerangkan cara mudah pembuatan Lubang Resapan Biopori yaitu dengan menggali lubang vertikal kedalan tanah, diameter sekitar 10 cm, sedalam < 1m, kemudian diisi dengan sampah organik. Diameter dibuat kecil untuk mengurangi beban resapan, sehingga laju peresapan air dapat dipertahankan. Dengan demikian sampah organik dalam LRB dapat mengalami proses pelapukan cepat sehingga tidak menimbulkan bau busuk. Dengan lubang diameter yang kecil maka LRB dapat dibuat menyebar seperti di sekitar pohon, kontur tanaman dan dasar saluran/got.

Pada acara ini juga dihadirkan bapak Ir. Saksono Suhodo dari RW.10 Kelurahan Cipinang Muara, Komplek Perumahan Cipinang Elok sebagai testimoni. Beliau mengatakan betapa pentingnya pembuatan Lubang Resapan Biopori di lingkungan tempat tinggal karena masayarakat daerah tersebut telah merasakan manfaatnya terutama pada musin hujan sebagai bukti sebelum di buatnya Lubang Resapan Biopori daerah tersebut mengalami banjir hingga ketinggian 1 m namun setelah dilakukannya pembuatan LRB banjir hanya mencapai ketinggian 10-15cm.

Sumber: http://www.dwp.or.id

Biopori di Kediaman Wapres Ditambah

Sebelumnya, lubang biopori di rumah wapres hanya 50 lubang, kini bertambah menjadi 67 lubang.

Pembuatan lubang biopori dilakukan Walikota Jakarta Pusat bersama wapres, Sabtu (14/6) sore. Puluhan warga sekitar tampak menyaksikan pembuatan lubang, sekaligus ingin mengetahui cara pembuatan dan manfaat dari lubang biopori itu sendiri. Bahkan beberapa warga ikut mencoba melakukan pengeboran tanah di pekarangan rumah dinas wapres yang tidak jauh dari Taman Suropati.

Sylviana Murni, Walikota Jakpus mengatakan, tujuan sosialisasi pembuatan lubang biopori dilakukan karena sudah diketahui betul manfaat teknologi tepat guna untuk mengurangi genangan air. “Sistim pori dan terowongan pada lubang biopori yang terbentuk dari cacing mampu menyerap air dengan cepat,” tukasnya, Sabtu (14/6).

Cacing yang membentuk pori-pori dan terowongan dalam tanah itu dihasilkan dari sampah yang disimpan dalam lubang biopori. Berarti, lanjutnya, lubang biopori mampu mengurangi sampah rumah rumah tangga. Seperti diketahui, bahwa sekitar 60 persen sampah di Jakarta dihasilkan dari rumah tangga.

Manfaat lainnya, kata mantan None Jakarta Timur ini, peran aktivitas cacing tanah dan akar tanaman juga bisa mengurangi dampak bencana akibat genangan air dan sampah. “Tersedianya cadangan air tanah bisa mengantisipasi dampak pemanasan global,” katanya. Semakin banyaknya lubang biopori diharapkan resapan biopori akan lebih baik lagi serta mikroba tanah semakin hidup dan bisa berwawasan lingkungan.

Budirama Natakusumah, Kepala BPLHD DKI Jakarta menambahkan, target pembuatan lubang biopori di DKI Jakarta sekitar 76 juta biopori, dan akan dilakukan secara bertahap. Di tahun ini saja lubang biopori yang ada sekitar 17 ribu biopori dari target satu juta lubang.

Beberapa kawasan sudah dijadikan lokasi percontohan manfaat dari lubang biopori. Misalnya saja di kawasan perumahan Cipinang Elok Jakarta Timur, setelah ada lubang biopori, kawasan itu sudah tidak tergenang air lagi. “Saya dapat informasi dari masyarakat bahwa di Cipinang Elok sudah tidak adalagi genangan meskipun turun hujan,” ujarnya.

Dipilihnya teknologi yang diserap dari IPB ini karena tidak membutuhkan biaya besar. Untuk satu lubang biopori, hanya membutuhkan biaya Rp 6.000. “Semua warga bisa berpartisipasi membuat biopori di lingkungannya karena biayanya sedikit dan manfaatnya besar,” pungkasnya.

Sumber Berita : Beritajakarta.com, Senin , 16/06/2008

Dana PPMK Akan Bantu Pengadaan Alat Lubang Biopori

Kepala BPLH Provinsi DKI Jakarta Budirama mengatakan target pembuatan lubang resapan Biopori di DKI Jakarta adalah 5 juta lubang, sampai saat ini baru terlaksana 350 ribu lubang dikarenakan kendala alat Biopori yang sangat terbatas.

Untuk mencapai target tersebut saya berupaya mencari solusinya, BPM sanggup membatu melalui dana PPMK di setiap kelurahan diadakan 100 alat lubang biopori dengan 260 kelurahan yang ada di DKI berarti ada alat 2.600.000 ini akan memudakan pencapaian target kita,”jelasnya saat emplemetasi kesepakatan wanita Jakarta dalam pembuatan lubang resapan biopori dalam rangka hari air di Kantor PKK Melatih di Kel.Kebagusan Pasar Minggu Jaksel, Selasa (12/8).

Sekarang lubang resapan biopori Jakarta Selatan paling banyak dan paling sedikit Jakarta Utara, ini disebabkan permukaan air tanah, dan tidak harus 1 meter kedalaman cukup ½ meter juga sudah bisa karena air akan meresap disampingnya.

Dikesempatan lain Ketua TP PKK Provinsi DKI Jakarta Tatiek Fauzi Bowo menambahkan bahwa peranan TP PKK juga membantu mensosialisasikan resapan biopori dan ini sudah dicanangkan Gubernur awal tahun dan PKK sudah bergerak untuk mensosialisasikan dalam masyarakat.

Melalui PKK dari BPM akan memberikan bantuan alatnya masing-masing kelurahan 100 alat, melalui kader PKK juga mengajak warga yang dan jangan mengandalkan aparat saja kader PKK harus tapi masyarakat harus peduli dan juga ikut membantu membuat lubang resapan biopori,”tambahnya.

Kalau kita mau memahami dan menyadari itu suatu kebutuhan selain untuk resapan juga berharap Jakarta bebas dari bahaya banjir dan itu sangat menolong, contoh di Cipinang Elok yang sudah berhasil kalu dulu kebanjiran sekarang sudah berkurang dan tidak kebanjiran lagi,”jelasnya.

Tatiek katakana yang apling penting adalah merawatnya biopori dan kalau bisa mengolah sampah organic dari dapur 30% sampak tidak terbuang sia-sia dan juga dijadikan pupuk kompos yang banyak manfaat nya untuk rumah tangga yang puny ataman serta sampak akan jadi uang sampak organic menjadi pupuk dan non organic menjadi sesuatu,”imbuhnya.

Sumber: selatan.jakarta.go.id, Kamis, 14 Agustus 2008

Ibu-ibu Jurkam Biopori

* Untuk Cegah Banjir Jakarta

Menteng, Warta Kota
BIOPORI-Ny Sri Hartati Fauzi Bowo mempraktikkan pembuatan lubang resapan biopori di halaman rumah dinas Gubernur DKI di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/3). Para ibu-ibu didaulat menjadi juru kampanye pembuatan lubang pencegah banjir ini.ahmad sabran

Sekitar 50 orang ibu-ibu dari berbagai elemen masyarakat mengikuti pengenalan pembuatan lubang resapan biopori (LRB) di rumah dinas Gubernur DKI di Jalan Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/3).
Acara silaturahmi Menuju Jakarta Nyaman Sejahtera itu diadakan oleh LSM Caring Community (CC). Ketua Dewan Pendiri CC, Ny Sri Hartati Fauzi Bowo, mengatakan, kepedulian kepada lingkungan harus terus disosialisasikan, “Terutama tentang pembuatan lubang biopori,”ujarnya.
Para ibu itu akan menjadi juru kampanye LRB di wilayah masing-masing. “Saya kira melalui ibu-ibu akan sangat efektif, mereka bisa menyebarluaskan dengan cepat tentang ini,” ujarnya. LRB diharapkan dapat mencegah banjir di Jakarta.
Para tamu undangan diberikan pengertian dan teknik membuat LRB. Mereka juga dapat bertanya berbagai masalah terutama lingkungan. Disiarkan pula video tetang warga RW 10 Cipinangelok, Jakarta Timur, yang sudah menerapkan pabrik kompos dan LRB di kawasan perumahan mereka.
Ny Hartati mengatakan, kegiatan ini adalah yang kedua kalinya dilakukan CC. Setiap dua minggu sekali, CC akan mengadakan silaturahmi untuk terus mengampanyekan LRB. “Ini perlu di proses dan waktu, harus kita jalankan terus. Jadi jangan hanya karena sekarang musim hujan saja,” tandasnya. Selain itu LRB juga harus dilakukan sebagai sistem pengelolaan sampah organik.
CC dibentuk dari ibu-ibu yang mempunyai kepedulian pada lingkungan dan sangat antusias membantu berbagai program Pemprov DKI. Para tamu yang diundang yakni aktivis berbagai organisasi dan ibu-ibu penggerak PKK.
Fungsi LRB adalah untuk menyuburkan tanah serta mengonservasi air dalam tanah sehingga saat kemarau tidak terjadi kekeringan dan saat musim hujan tidak banjir. Sampah organik sisa dapur dan dedaunan dapat dimasukkan ke LRB untuk dijadikan kompos.
LRB ditemukan oleh Kamir Raziudin Brata, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). Dengan LRB, tanah akan mendapatkan cukup air dan oksigen. Lubang sedalam 60-100 cm dengan diameter 10-30 cm itu dibuat menggunakan bor besi sederhana, besi panjang, atau linggis.
Lokasi lubang dapat dibuat di pekarangan yang permukaan tanahnya lebih rendah, sehingga air dapat mengalir ke lubang tersebut. Satu LRB dapat menampung 7,8 liter sampah organik, sehingga tiap lubang bisa penuh dalam waktu 2-3 hari. Jika ada 25 lubang, maka baru akan penuh dalam 50-75 hari. Dalam kurun waktu itu, lubang perlu diisi kembali karena sampah telah menjadi kompos. (m1)

Sumber: Warta Kota,  05 Maret 2008

Selamatkan Jakarta dengan Biopori

*M Clara Wresti*

Pemandangan Jakarta yang macet akibat genangan air menjadi pemandangan yang mudah ditemukan saat hujan mengguyur. Genangan air hujan yang membuat kendaraan antre satu kilometer itu lama kelamaan menyusut karena air mengalir ke selokan dan akhirnya ke laut.

Air hujan yang bisa menjadi sumber air minum bagi warga Jakarta itu akhirnya hanya terbuang percuma ke laut. Sementara ratusan ribu warga Jakarta Barat dan Jakarta Utara harus merogoh kantong membeli air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Krisis air bukan monopoli Jakarta. Di Pulau Jawa, indeks ketersediaan air hanya 1,6. Angka ini jauh di bawah indeks rata-rata nasional yang mencapai 16,8. Kini Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menemukan biopori, lubang di dalam tanah yang menjadi pori-pori alami hingga memungkinkan air hujan meresap ke tanah. Menurut penemunya, Kamir R Brata, pori-pori ini dibuat oleh organisme di dalam tanah, seperti cacing, akar tanaman, dan rayap.

“Lubang yang dibuat oleh organisme inilah yang nantinya menjadi jalan masuk air untuk meresap ke dalam tanah. Dengan demikian, debit air yang menggenang di permukaan akan jauh berkurang,” kata Kamir, pengajar di Bagian Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB.

Selama ini, air hujan sulit masuk ke dalam tanah karena permukaan tanah telah tertutup bangunan. Pembangunan di Jakarta yang tiada henti membuat daerah tangkapan air menciut setiap tahun.

Menurut Budirama Natakusumah, Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, DKI Jakarta membutuhkan satu juta sumur resapan. Namun, hingga kini jumlah sumur resapan di Jakarta hanya sekitar 29.000 buah. Oleh sebab itu, biopori memungkinkan air bisa masuk ke tanah di lahan yang sempit karena ukuran biopori yang kecil, hanya berdiameter sekitar 10 sentimeter.

*Sampah organik*

Menurut Kamir, biopori tidak ubahnya dengan sumur resapan. Namun, jika sumur resapan dibuat oleh manusia, biopori dibuat oleh organisme di dalam tanah. Manusia hanya bertugas memberi makan organisme ini agar mereka membuat liang-liang lebih banyak lagi di dalam tanah.

“Makanannya hanya berupa sampah organik dari rumah tangga. Dengan demikian, kita juga telah mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke tempat penampungan akhir,” kata Kamir.

Sampah ini bisa berupa daun-daunan, sisa makanan seperti nasi, ikan, tulang, sayuran, dan sebagainya. Jika semua sampah organik dimasukkan ke dalam lubang biopori, sampah yang tersisa hanyalah sampah anorganik yang bisa dimanfaatkan oleh pemulung untuk didaur ulang.

Pemerintah pun senang karena jumlah sampah berkurang, dan lingkungan pun menjadi lebih bersih. Menurut Wali Kota Jakarta Timur Koesnan Abdul Halim, setiap harinya ada sekitar 80 meter kubik sampah di Jakarta Timur yang tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir Bantar Gebang, Bekasi.

Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori ini tidak hanya
bermanfaat sebagai makanan organisme. Sampah ini juga bisa diambil sebagai kompos setelah diuraikan oleh organisme. Dengan demikian, nilai manfaat yang bisa diperoleh warga dari biopori pun bertambah. Jika produksi komposnya banyak, bukan tidak mungkin kompos ini bisa dijual dan mendatangkan uang.

*Pembuatan biopori*

Untuk membuat biopori, dibutuhkan sebuah bor tanah hasil ciptaan IPB. Bor tanah tidak saja berfungsi untuk membuat lubang resapan biopori, tetapi juga untuk mengambil sampah organik yang telah berubah menjadi kompos. Untuk mengubah sampah menjadi kompos diperlukan waktu sekitar 10-14 hari.

Bor ini dijual dengan harga Rp 175.000 per buah. Namun, tidak perlu setiap rumah memiliki bor. Satu RT bisa memiliki dua-tiga unit bor karena pemakaiannya bisa bergantian. Pemesanan bisa dilakukan melalui internet di http://www.biopori. com.

Untuk membuat lubang resapan biopori diperlukan waktu sekitar 10 menit. Tidak ada ketentuan membuat jarak antarlubang. Namun, menurut Kamir, asalkan lubang itu tidak dibuat bersebelahan. Idealnya dalam jarak lima meter dibuat tiga lubang. Di lahan seluas 50 meter persegi, Kamir mengatakan, bisa dibuat lubang sebanyak 20-40 lubang.

Lubang ini akan lebih bagus jika ditempatkan di tempat mengalirnya air, di pinggir taman, di sekitar pohon, dan di daerah terbuka lainnya. Lahan yang telah telanjur disemen juga bisa dilubangi agar air masuk ke dalam.

Agar terlihat rapi dan tidak longsor, sebaiknya bibir lubang diberi semen atau pipa. Lalu atasnya diberi sebilah besi melintang untuk mencegah ada kaki anak kecil terperosok di dalam lubang itu.

Kedalaman lubang tidak boleh lebih dari satu meter untuk memudahkan
organisme di dalam tanah mendapatkan oksigen. Oleh karena itu, tinggi bor dibuat sekitar 120 sentimeter.

Setelah lubang selesai dibuat, mulailah dimasukkan sampah organik ke
dalamnya. Sampah yang dimasukkan ke dalam lubang tidak akan menimbulkan bau karena berada di dalam tanah dan segera diurai oleh organisme.

“Lubang ini juga tidak akan menjadi sarang tikus karena hewan bertulang belakang ini akan kesulitan untuk keluar dari lubang,” kata Kamir.

Dengan cara yang mudah dan murah membuat biopori, tidak ada alasan lagi buat warga Jakarta untuk tidak membuat biopori di halaman rumah.

Sudah waktunya warga Jakarta berpartisipasi menyelamatkan Jakarta dari banjir.

Sumber: Kompas, 26 Desember 2007

Membuat Lubang Resapan Sendiri

Akibat kurangnya daerah resapan air, musim hujan jadi identik dengan banjir. Anda bisa, lho, membuat lubang resapan sendiri. Dengan teknologi resapan biopori, dan sumur resapan, misalnya.

LUBANG RESAPAN BIOPORI

Salah satu teknik pembuatan lubang resapan yang belakangan populer adalah teknologi biopori, yang dikembangkan Tim Biopori dari Bagian Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. “Teknologi ini sebetulnya bukan teknologi baru,” kata Wahyu Purwakusuma, Wakil Ketua Tim Biopori IPB.

Dinamakan teknologi biopori atau mulsa vertikal karena teknologi ini mengandalkan jasa hewan-hewan tanah, seperti cacing dan rayap, untuk membentuk pori-pori alami dalam tanah, dengan bantuan sampah organik, sehingga air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki.

Tim yang diketuai Ir. Kamir R Brata, MS ini juga mengadopsi kondisi alam. “Kita lihat hutan tak pernah banjir, saat hujan lebat sekalipun. Itu karena di hutan banyak aktivitas biota tanah. Mereka membuat pori-pori di tanah, sehingga resapan hutan terus terjaga. Di hutan, makanan biota tanah juga selalu tersedia, yaitu daun-daunan dan sampah organik hutan,” lanjut Wahyu.

Untuk membuat biopori, dibuat lubang berdiameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. “Kedalaman 100 cm ini dengan pertimbangan kebutuhan oksigen bagi biota tanah. Kalau di bawah 100 cm terlalu rendah, sehingga aktivitas biota tanah tidak efektif,” kata Wahyu. Lubang dibuat dengan bor tanah khusus yang dirancang Tim Biopori IPB. Panjang bor 120 cm, diameter bor 10 cm, dan panjang mata bor 20 cm.

Lokasi pembuatan lubang bisa dimana saja di bagian rumah, yang penting ada tanahnya. Lubang ini kemudian diisi dengan sampah organik. Jika sampah belum siap, disumpalkan saja sebagian di bagian atas lubang. “Tidak terlalu padat, tapi dimampatkan. Kalau penuh, jumlah sampah yang dimuat dalam 1 lubang mencapai 8 liter. Itu kalau hanya satu lubang. Idealnya, untuk 100 meter bidang kedap (bidang tanah yang ditutup bangunan) dengan perhitungan curah hujan 50 mm per hari (hujan lebat), butuh sekitar 30 lubang. Jika 30 lubang tadi dikalikan 8 liter sampah per lubang, berarti ada 240 liter sampah yang bisa ditampung,” lanjut Wahyu.

Sampah-sampah ini akan menjadi makanan biota tanah, lalu akan menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. “Kalau tidak mau pakai, komposnya bisa diambil dan diganti sampah yang baru. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.”

Bisa juga memasukkan biota tanah (cacing, misalnya) ke dalam lubang untuk mempercepat proses. “Ada yang ingin membuat kompos di lubang bipori. Mereka membuat starter untuk mempercepat dekomposisi. Nanti dipanen pas kemarau pada saat tidak ada air.”

Sebetulnya, begitu lubang selesai dibuat, saat itu juga ia akan langsung berfungsi, meski biopori belum terbentuk. “Tapi sifatnya masih resapan pasif, belum ada kegiatan biota tanah yang membuat pori-pori tanah. Begitu ada biota tanah, sekitar seminggu-dua minggu setelah pembuatan lubang, maka resapan akan berfungsi penuh. Ini ditandai dengan bagusnya resapan. Air lebih cepat meresap ke tanah,” lanjut Wahyu.
Teknologi biopori ini sangat cocok bagi rumah tangga, karena sangat mudah dan hanya butuh ruang yang kecil. “Panjang mata bor hanya 20 cm, hanya mengebor untuk kedalaman 20 cm. Setelah 20 cm, tanah dikeluarkan dulu, baru kemudian dibor lagi. Tak perlu khawatir lubang ini bakal menjadi lubang persembunyian tikus atau ular. Tikus nggak suka lubang vertikal, karena kalau ia masuk, nggak bakal bisa keluar. Ular pun begitu. Apalagi nantinya ada sampah. Panas. Tikus nggak bakal mau.”

Tim Biopori IPB menyediakan bor tanah untuk membuat lubang biopori. Pemesanan (online) dapat dilakukan melalui email ke sekretariat@biopori.com atau SMS ke: 0817225172 (Wahyu Purwakusuma). HASTO PRIANGGORO.

Sumber: http://www.tabloidnova.com/article.php?name=/membuat-lubang-resapan-sendiri&channel=news%2Fperistiwa, Rabu 27 Februari 2008 17:27

IPB Tawarkan LRB Solusi Atasi Banjir

[BOGOR] Pembuatan lubang resapan biopore (LRB) disarankan untuk dibuat di kawasan yang permukaan tanahnya sudah kedap air. Fungsi lubang itu bisa menjadi resapan air, sehingga ketika hujan, air tidak langsung menggelontor ke selokan dan kali atau sungai, tapi ada yang terserap ke dalam tanah.

Lubang resapan biopore itu, menurut Kamir R Brata, pakar dari Institut Penelitian Bogor (IPB), sudah bisa diterapkan setelah diuji coba di sejumlah kawasan oleh para peneliti IPB. Menurut dia, LBR berteknologi sederhana dan biayanya murah.

“Banyaknya lahan dan bangunan yang kedap air, menyebabkan air hujan yang turun tidak terserap tanah hingga terjadi penggelontoran air dari hulu ke hilir dan berdampak banjir. Untuk itu diperlukan solusi dengan teknologi tepat guna, sederhana dan biaya murah serta bisa dilakukan oleh siapa saja,” ujar Kamir di kediamannya di Desa Cibanteng, Kecamatan Dramaga, Bogor, Kamis (8/2).

Bagaimana cara membuat teknologi LRB untuk atasi banjir itu? Kamir menjelaskan, dengan cara membuat lubang dengan kedalaman 80 centimeter (cm) dan diameter lubang sekitar 10 cm. Langkah selanjutnya memasukan sampah lapuk sebanyak 2 sampai 3 kilogram (bergantung jenis sampah) ke dalam lubang atau sumur itu.

“Sampah-sampah ini kemudian diurai oleh organisme pengurai sehingga terbentuk pori-pori,” jelas staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian IPB ini. Dengan cara demikian, lanjutnya, air hujan yang turun tidak membentuk aliran permukaan melainkan meresap ke
dalam tanah melalui pori-pori.

Namun tidak perlu khawatir tanah akan menjadi lunak karena air yang terserap justru akan tersimpan menjadi cadangan air bawah tanah. Namun dalam pembuatan teknologi LRB ini disarankan agar kedalaman lubang yang dibuat kurang dari satu meter. Sebab  apabila lebih dari satu meter, cacing-cacing dan organisme pengurai lainnya akan mengalami kekurangan oksigen sehingga tidak dapat bekerja
dengan baik.

Selain mempraktikan proses pembuatan lubang, Kamir sempat menunjukkan juga penerapan LRB di lahan percobaan Cikabayan pada areal Kampus IPB Dramaga Bogor. Di lokasi itu, saluran pembuangan di lahan
tertutup semen dilubangi dengan jarak antar lubang yakni satu meter.

“Teknologi sederhana LRB ini sangat tepat diterapkan pada pemukiman warga yang umumnya di areal rumah mereka kedap air karena permukaan tanah tertutup semen,” ujarnya. Bencana banjir yang melanda Jabodetabek, baru-baru ini, pun membuat IPB turut prihatin terhadap bencana alam banjir itu.

Sebenarnya, bencana seperti ini tidak perlu terjadi apabila kita dapat mengantisipasi sebelumnya. “Bencana dapat diminimalisasikan secara terintegrasi bersama dan berkeseimbangan, hal ini dapat dijadikan sebagai bentuk kepedulian kita bersama,” kata Kepala Kantor Prohumasi IPB, drh. R.P. Agus Lelana, SpMP, M.Si secara terpisah.

Banyak Masalah Sementara itu, Staf Pengajar Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan – IPB, Dr Supriyanto, yang juga Ketua Gerakan Penghijauan Peduli Banjir Jakarta dan Sekitarnya (GPPBJS), menegaskan,
permasalahan yang dialami Jabodetabek karena beberapa faktor antara lain, wilayah itu menjadi Kota Megapolitan, kepadatan penduduk akibat urbanisasi, polusi baik industri dan kendaraan serta banjir tahunan dari Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.

Banjir merupakan salah satu masalah yang sering dialami DKI Jakarta. “Penyebab banjir Jakarta di antaranya
karena curah hujan yang tinggi, adanya lahan kritis dan vegetasi kurang, resapan air menurun, waduk, situ dan saluran irigasi tidak berfungsi dengan baik,” ungkap Supriyanto.

Menurut dia, dari data sebaran curah hujan di Jabodetabek, curah hujan tertinggi sekitar 3.000-3.500 milimeter per tahun terjadi di Bogor, dan terendah terjadi di DKI Jakarta dengan angka 1.700 milimeter per tahun. Untuk Tangerang, Bekasi dan Depok sekitar 2000-3000 milimeter per tahun.

Ditambah lagi kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung yang cenderung mengarah pada penurunan
daya dukung lingkungan berupa penurunan kemampuan lahan dalam meresapkan air dan peningkatan laju erosi. Kondisi ini menyebabkan tingginya limpasan air permukaan yang berakibat timbulnya banjir tahunan di DKI Jakarta. “Oleh karenanya perlu transfer cost (kompensasi) dari daerah hilir
ke hulu. Kompensasi ini, terangnya, sangat diperlukan dalam penanganan
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane,” ujarnya.

Luas lahan kritis sampai dengan tahun 2004 di DAS Ciliwung telah mencapai sekitar 5.400 hektar, yang tersebar di Kabupaten Bogor sekitar 4.600 hektar, Kota Bogor sekitar 70 hektar dan Kota Depok sekitar 730 hektar. “Lahan kritis tersebut perlu dibangun kembali dengan menaman jenis-jenis yang produktif dan disukai oleh masyarakat. Dengan demikian, penanganan DAS Ciliwung harus terpadu yang melibatkan dua propinsi, Jawa Barat dan DKI Jakarta,” imbuhnya.

Sementara saat ini enam dari 20 situ yang dimiliki DKI Jakarta telah rusak parah. Yaitu, Situ Rawa Dongkal,
Aneka Elok, Rawa Badung, Ria Rio, Kebon Melati, dan Pluit. Selain tercemar sampah dan limbah, pendangkalan terjadi oleh tumbuhan air. Solusi penanggulangan banjir, menurut dia, bukan hanya didasarkan pada civil engineering tetapi harus didasarkan pula pada agricultural, fisheries dan
forestry engineering.

“Salah satunya dengan peningkatan resapan air melalui rehabilitasi hutan dan lahan (penghijauan),” tandasnya. GPPJS dan IPB telah melakukan berbagai kegiatan seperti berbagai pelatihan, pembibitan dan penghijauan sebanyak 284.700 batang ditanam pada lahan 177,75 hektar, pengembangan sumberdaya manusia untuk Green School total peserta 603 orang, pembentukan kelompok tani. Kepedulian sivitas akademika juga ditunjukkan Badan Ekskutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB, ketika musibah melanda DKI Jakarta, mahasiswa mengumpulkan dana sukarela dari masyarakat sekitar kampus. [126]

ttp://www.suarapembaruan.com/last/index.html

Sumber: Suara Pembaruan, 12 Pebruari 2007

Teknologi Biopori, Solusi Tepat Atasi Banjir

Bogor (ANTARA News) – Sebagai salah satu upaya mengatasi banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya setiap tahun, Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkenalkan teknologi lubang serapan biopori yang relatif mudah diaplikasikan mulai dari skala rumahtangga hingga skala lebih luas.

Teknologi ini bisa diaplikasikan di kawasan perumahan yang 100 persen kedap air atau sama sekali tidak ada tanah terbuka maupun di areal persawahan yang berlokasi di kawasan perbukitan, kata dosen Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir. Kamir R Brata MS di Bogor, Selasa.

Prinsip dari teknologi ini adalah menghindari air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang resapan tersebut.

“Selama ini yang menjadi salah satu faktor penyebab banjir adalah air hujan yang mengguyur wilayah hulu tidak bisa diserap dengan baik karena berkurangnya pepohonan dan banyaknya bangunan, sehingga wilayah hilir kebanjiran,” kata dia.

Dinamakan teknologi biopori atau mulsa vertikal karena teknologi ini mengandalkan jasa hewan-hewan tanah seperti cacing dan rayap untuk membentuk pori-pori alami dalam tanah, dengan bantuan sampah organik, sehingga air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki.

“Cara ini disamping membantu mengatasi masalah sampah perkotaan, juga diharapkan menjadi solusi atas bencana banjir yang selalu melanda Jakarta,” kata Kamir.

Di kawasan perumahan yang 100 persen kedap air, teknologi lubang serapan biopori ini diterapkan dengan membuat lubang di saluran air ataupun di areal yang sudah terlanjur diperkeras dengan semen dengan alat bor.

Kemudian ke dalam lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 80 cm atau maksimal satu meter tersebut, dimasukkan sampah organik yang bisa berupa daun atau ranting kering serta sampah rumahtangga.

Keberadaan sampah organik ini berfungsi untuk membantu menghidupkan cacing tanah dan rayap yang nantinya akan membuat biopori.

Di saluran air, lubang serapan ini bisa dibuat setiap satu meter dan pada ujung saluran dibuat bendungan sehingga air tidak lagi mengalir ke hilir namun diserap sebanyak-banyaknya ke dalam lubang.

“Tidak perlu khawatir sampah organik akan meluap karena air akan begitu cepat terserap ke dalam lubang. Begitu pun tidak ada bau yang ditimbulkan dari sampah karena terjadi proses pembusukan secara organik,” ujarnya.

Penyerapan air ini juga tidak akan merusak pondasi bangunan karena air meresap secara merata.

Teknologi ini juga bisa diterapkan di rumah-rumah yang memiliki lahan terbuka. “Saya sudah membuktikan, dengan membuat lubang-lubang semacam ini di dekat pohon, pohon menjadi semakin subur,” kata dia.

Sementara itu, untuk kawasan persawahan di lahan miring, sebaiknya ditanami dengan padi gogo yang tidak membutuhkan banyak air.

Air justru diserapkan ke dalam tanah dengan cara diberi serasah di dasar saluran atau dengan membuat cekungan berisi serasah. Prinsip ini sama dengan lubang serapan yang diisi dengan sampah organik.

“Jangan khawatir ada tikus atau ular karena cekungan ini akan selalu tergenang air,” kata Kamir.

Lebih lanjut ia menegaskan, aplikasi teknologi tepat guna ini memerlukan dukungan masyarakat untuk mengubah kebiasaan mencampur sampah organik dan anorganik.

Diperlukan keterlibatan masyarakat secara luas, dari wilayah hulu hingga hilir, sehingga teknologi ini bisa dirasakan manfaatnya untuk mengatasi banjir, kata Kamir.(*)

Sumber: ANTARA, 06/02/07 18:08

9 Komentar »

  1. Dimana kita bisa membeli alat unt pembuatan lubang biopori ?
    Kita tinggal d magelang jateng.
    Harga 1 alat berapa ?
    Tks.

    salam,
    Lilies.

    Komentar oleh lilies dr — Maret 24, 2009 @ 5:37 pm

  2. Mbak Lilies, terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Alat bor biopori bisa diperoleh di jaringan toko Trubus. Ada dua macam bor yang dijual di Trubus di Cimanggis Depok, ada yang per unit sekitar Rp. 200.000 dan ada yang Rp. 300.000.
    Mungkin yang terdekat bisa tanya ke Toko Trubus Semarang: 024-70718601

    Komentar oleh Sahroel Polontalo — Maret 26, 2009 @ 9:25 am

  3. Sejak Awal diperkenalkan saya sudah kagum. Sederhana dan jelas cerdas. Mengingatkan saya pada Kakek yang selalu berpindah-pindah menggali tempat setiap dua atau tiga bulan, untuk sampah dedaunan dari pohon2 buah di halaman rumahnya. katanya itulah yang diajarkan gurunya yang orang Belanda. Waktu itu saya masih TK, dan suka ngeri melihat lubang yang digali kakek karena seperti lubang kuburan. Tapi LRB tampaknya lebih ramah ya.
    Sekarang, saya bertekad mengenalkan kembali teknologi ini pada yang lebih muda.Terlebih saya sudah membuktikan sendiri manfaatnya. Kebun buah kakek tak pernah diberi pupuk buatan tapi buahnya jauh lebih enak dari buah-buah bangkok!

    Komentar oleh Mia Damayanti — Mei 7, 2009 @ 8:50 pm

  4. saya bertempat tinggal di Denpasar, dimana tempat membeli bor biopori ? Mohon informasinya !

    Komentar oleh IWayan Reta — November 7, 2009 @ 12:59 pm

  5. sewa tukang aja.. atw buat sendiri pake alat apa gitu.. yang pentingkan “bioporinya” bukan bornya!
    ide biopori memang solusi cerdas…. :D

    Komentar oleh Anonymous — November 25, 2009 @ 9:37 pm

  6. Teknologi biopori untuk mengurangi banjir dan menjaga ketersediaan air tanah memang baik namun ada yang saya tanyakan bagaimana dengan pengaruhnya dengan daya resap tanah dimana tanah didaerah pulau jawa beda dengan yang berada di pulau kalimantan

    Komentar oleh zaini — Februari 23, 2011 @ 11:16 am

  7. Bila musim hujan telah berlangsung lama, tanah sudah menjadi jenuh air muka air tanah relatip tinggi apakah lubang biopri
    masih bisa berungsi secara effektip

    Komentar oleh Winarno — November 3, 2011 @ 11:23 am

  8. […] Idealnya, sebagai ilustrasi, 100 m2 bidang peresapan air (seperti taman/pekarangan) memiliki 30 lubang biopori. Atau 20 m2 tutupan bangunan (lahan terbangun) memiliki 3 lubang biopori dan setiap 7m2 tutupan bangunan bertambah maka lubang biopori pun perlu bertambah 1 lubang. [18][19] Sayangnya, sampai akhir tahun 2012 diberitakan baru ada 239.225 lubang biopori. Jumlah yang masih jauh dari kebutuhan Jakarta untuk mengatasi banjir, yaitu sebanyak 75 juta lubang. [20] Pendekatan melalui ibu rumah tangga sebagai pelaku lubang biopori untuk menghasilkan 5 juta lubang biopori pada akhir tahun 2009, yang dicetuskan pada masa gubernur Fauzi Bowo, juga masih jauh dari target. [21] […]

    Ping balik oleh DAG » Anda Penentu Banjir atau Tidaknya Jakarta! — Desember 3, 2013 @ 2:06 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: