BebasBanjir2015

Kolam Retensi

Palembang Keruk 22 Kolam Retensi

Rabu, 07 Februari 2007 | 00:56 WIB

TEMPO Interaktif, Palembang:

Untuk mengantisipasi banjir seperti di Jakarta beberapa hari ini, Pemerintah Kota Palembang mengeruk 22 kolam retensi yang ada di dalam kota. Selain itu pemerintah kota juga membentuk tim reaksi cepat penangulangan banjir.

Pengerukan kolam retensi hanya untuk menormalkan long storage (penampungan sementara) luapan air. Selain itu, kolam retensi di Sungai Bendung dan kolam retensi di dekat RSI Siti Khadijah serta Sungai Baung akan diberi pompa.

“Kami harus waspada dengan menyiapkan tenda, dapur, perahu, dan keperluan evakuasi banjir lainnya,” kata Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Kota Palembang Apriadi S Busri di Palembang pada Selasa (6/2). Apriadi juga bertinda sebagai Koordinator Penanggulangan Pascabencana.

Langkah lain yang dilakukan adalah membersihkan drainase, pembuatan kanal besar, dan perluasan parit. Sampai saat ini pemerintah kota mendirikan posko di 14 kecamatan yang siaga sepanjang 24 jam.

Sebelumnya, Departemen Sosial memberikan bantuan berupa tiga perahu cepat Dolphin berukuran 6×2 meter dengan mesin 30 PK. Selain itu masih ada bantuan lain berupa empat unit buah tenda peleton, dan 30 pasang baju pelampung. Arif Ardiansyah

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2007/02/07/brk,20070207-92627,id.html

Penanganan Rob, Penggarapan Kolam Retensi Terkendala Air

Jumat, 18 Mei 2007 

Semarang, Kompas – Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Kamis (17/5), mengerjakan pengerukan lahan dan normalisasi selokan bagian dalam pelataran bus dalam kota Terminal Terboyo Semarang untuk membuat kolam retensi dan pintu air. Dalam penggarapan itu, DPU sempat kesulitan mendapat air tawar di kompleks terminal.

Staf Subdinas Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Isworo Syamsul Hadi, mengaku DPU Kota Semarang sempat mengalami kendala di awal penggarapan, yaitu mengatasi rob dan mencari air tawar untuk adonan semen. Rob diatasi dengan membangun kisdam atau bendungan kecil yang terbuat dari karung berisi pasir dan memasang dua pompa portabel di selokan tempat rob muncul.

Untuk mengatasi kesulitan air tawar sebagai bahan baku adonan semen, DPU Kota Semarang mengambil air tawar dari tempat lain. “Awalnya kami mau memakai air resapan yang muncul dari pengerukan lahan untuk kolam retensi. Karena airnya asin, kami tidak jadi menggunakannya. Air asin tidak baik untuk adonan semen. Bangunan bisa cepat rusak dan tidak tahan lama,” katanya.

Isworo mengemukakan, kolam retensi yang dibuat di bagian barat sebelah utara terminal bus dalam kota memiliki panjang lima meter, lebar lima meter, dan kedalaman 1,75 meter. Di samping kolam itu akan dibangun dua pompa air berkapasitas 50 liter per detik dan saluran air yang dilengkapi pintu air.

DPU juga membangun saluran pembawa air sepanjang 76,5 meter yang berfungsi untuk mengalirkan genangan air dari pelataran menuju kolam retensi. Saluran itu terletak di dekat trotoar bagian barat terminal dalam kota yang melintang dari selatan sampai utara. Gerakan

Menurut Isworo, DPU Kota Semarang sedikit mengubah rencana pembuatan pintu air. DPU tetap akan membuat enam pintu air yang salah satunya ditempatkan di selokan pembuang air kolam retensi dan akan memperbaiki pintu air yang terletak di selatan Terminal Terboyo.

Ukuran pintu air itu beragam sesuai dengan lokasi pembuatan. Menurut rencana, empat pintu air dengan lebar daun pintu 75 sentimeter akan dipasang di empat tempat, 70 sentimeter di dua tempat, dan 45 sentimeter di satu tempat.

“Kami akan memaksimalkan waktu dua minggu yang diberikan Wali Kota Semarang dengan bekerja 24 jam,” ujar Isworo.

Secara terpisah, sopir bus Langgeng Harjo trayek Semarang-Demak- Mijen, Suyono (29), menyambut baik gerakan pembangunan ini. Ia berharap agar pemkot tidak sekadar membuat kolam retensi dan pintu air tetapi juga meninggikan pelataran bus dalam kota.

“Sayangnya, kenapa pemkot tidak dari dulu mengerjakan pembangunan itu,” katanya. (AB4)

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0705/18/jogja/1037428.htm

Pompa dan Kolam Retensi Dicoba

Fasilitas Segera Bisa Dioperasikan untuk Mengatasi Rob

Senin, 11 Juni 2007

SEMARANG, KOMPAS – Dinas Pekerjaan Umum atau DPU Kota Semarang, Minggu (10/6), menguji coba pompa otomatis dan kolam retensi yang baru selesai dibangun di terminal bus dalam kota Terminal Terboyo Kota Semarang.

Pompa dan kolam itu bisa bekerja maksimal dan segera bisa dioperasikan untuk mengatasi rob. Kolam retensi berukuran 5×5 meter dengan kedalaman 1,75 meter itu mampu menampung limpasan air laut ke daratan yang sering menggenangi terminal beberapa waktu lalu. Ketinggian air kolam pada uji coba pertama ini sekitar 1,3 meter.

Begitu dua pompa masing-masing berkapasitas maksimal 50 liter per detik itu dioperasikan sekitar tujuh menit, air dalam kolam itu segera terbuang ke anak Kali Sringin. Air dalam kolam retensi itu tersisa sekitar 0,15 meter.

Kepala DPU Kota Semarang Achmad Kadarisman mengatakan, dalam uji coba ini setiap pompa bisa membuang air sekitar 35,5 liter air per detik. Padahal, kapasitas normal masing-masing pompa itu adalah 34 liter per detik.

“Kolam retensi sudah bisa menampung rob yang dulu menggenangi pelataran bus dalam kota, sedang pompa air itu bekerja melebihi kapasitas normal. Dengan demikian, pompa dan kolam retensi ini sudah bisa dioperasikan sejak sekarang,” kata dia.

Kadarisman mengaku pengoperasian pompa air otomomatis akan terkendala jika listrik mati. Namun untuk mengantisipasi kejadian itu, DPU sudah menyediakan pompa-pompa portabel sebagai penggantinya sehingga air yang tidak bisa dibuang dengan pompa otomatis akan dibuang dengan pompa-pompa portabel.

Setelah proyek dan pemantauan DPU selesai, DPU akan menyerahkan pengelolaan kolam retensi dan pintu-pintu air kepada pengelola terminal. Untuk itu, Kadarisman meminta kepada pengelola terminal menyediakan petugas yang mengoperasikan pintu-pintu air dan membersihkan sampah di setiap saluran dan kolam retensi.

Dalam kesempatan itu, staf Subdinas Pengairan DPU Kota Semarang sekaligus pelaksana penanganan rob Terminal Terboyo Isworo Syamsul Hadi mengatakan, proyek penanganan rob terminal sudah hampir selesai.

“Air limbah yang berada di saluran depan kios-kios bagian timur terminal bus dalam kota sering meluber ke pelataran bus. Air itu akan dialirkan langsung ke kolam retensi melalui saluran lingkar terminal,” kata dia.

Isworo juga mengemukakan awalnya DPU akan mengalirkan air itu ke kolam retensi dengan membuat saluran air sepanjang 50 meter dari timur ke barat. (AB4)

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0706/11/jateng/54613.htm

Pasar Waru Dilengkapi Kolam Retensi

Gantikan Fungsi Rawa

(12 Januari 2008 )

SEMARANG- Untuk menggantikan fungsi rawa yang diuruk, Pemkot telah menyiapkan pembangunan sebuah kolam retensi di sebelah barat Pasar Waru. Kolam tersebut akan menampung air yang berasal dari daerah di sekitarnya. Dengan demikian, kompleks pasar PKL itu dapat terhindar dari genangan.

Kasubdin Permukiman Dinas Tata Kota dan Permukiman, Sugeng Wahjono menyampaikan hal itu, Jumat (11/1), menjawab kekhawatiran pedagang terhadap dampak pengurukan rawa di sebelah timur pasar tersebut.

Seperti diberitakan kemarin, pedagang mengeluhkan pengurukan rawa seluas 2,4 hektare di sebelah timur kompleks Pasar Waru untuk pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Kaligawe.

Menurut mereka, aktivitas pengurukan akan memperparah banjir di areal pasar tersebut. Selama ini, rawa-rawa tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapan air dari sekitar kawasan Sawahbesar. Jika diuruk, tempat penampungan itu hilang. Dampaknya, air menggenang di areal pasar yang permukaannya paling rendah di kawasan itu.

Saat ini, bakal lokasi kolam retensi masih berupa rawa-rawa. Sugeng mengaku telah membebaskan lahan milik warga tersebut pada 2007. ”Lahannya sudah beres, dananya juga sudah ada. Jadi tinggal menunggu proses tender proyek saja,” kata Sugeng.

Dana pembangunan kolam retensi sebesar Rp 15 miliar, berasal dari APBD Kota Tahun 2008. Proyek tersebut meliputi kolam berukuran 500 m2 dengan kedalaman 2-3 meter, tanggul, rumah pompa, serta saluran air mengelilingi area bekas rawa yang diuruk dengan lebar 3 meter dan kedalaman antara 1-2 meter.

Menjamin

Sugeng menjamin, kolam retensi tersebut dapat menampung genangan air yang berasal dari daerah sekitar Pasar Waru. ”Kami sudah lakukan kajian serta sosialisasi mengenai proyek pembangunan Rusunawa Kaligawe. Selain itu kapasitas genangan air juga sudah dihitung sebelum membangun kolam retensi. Jadi pedagang Pasar Waru tidak perlu khawatir lagi.”

Keberadaan rumah pompa juga akan mengatasi genangan di kawasan Pasar Waru. Genangan akan dipompa ke Banjirkanal Timur, jika permukaan sungai itu tinggi. Kalau Banjirkanal Timur surut, pembuangan genangan dilakukan secara alami, sesuai hukum gravitasi.

”Perlu diketahui, Pasar Waru merupakan daerah rawan banjir. Itu terjadi karena permukaan tanahnya lebih rendah dari permukaan air laut. Sistem kolam retensi adalah satu-satunya cara mengatasi banjir di kawasan itu,” tandas Sugeng.

Untuk sementara waktu, sebelum kolam retensi dibangun, genangan air akan diatasi dengan pompa.(H6-18)

Sumber: http://suaramerdeka.com/harian/0801/12/kot08.htm

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: