BebasBanjir2015

Guludan

Guludan dan Guludan bersaluran

Guludan adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Tinggi tumpukan tanah sekitar 25 – 30 cm dengan lebar dasar sekitar 30 – 40 cm. Jarak antara guludan tergantung pada kecuraman lereng, kepekaan erosi tanah, dan erosivitas hujan. Semakin curam lereng, semakin pendek jarak guludan; semakin peka tanah terhadap erosi semakin pendek jarak lereng; dan semakin tinggi erosivitas hujan, semakin pendek jarak lereng.

Untuk tanah dengan kepekaan erosinya rendah, guludan dapat diterapkan pada tanah dengan kemiringan sampai 8 %. Penampang guludan disajikan pada Gambar 1. Guludan dapat diperkuat dengan menanam rumput atau tanaman perdu.

Gambar 1. Sketsa pPenampang Guludan dan Guludan Bersaluran

Gambar 1. Sketsa pPenampang Guludan dan Guludan Bersaluran

Pada lereng yang lebih curam dari 8 % atau tanah yang lebih peka erosi, guludan mungkin tidak akan mampu mengurangi erosi sampai batas laju erosi yang masih dapat dibiarkan. Dalam keadaan ini dapat digunakan metode lain yaitu metode bersaluran. Guludan bersaluran juga dibuat memanjang menurut arah garis kontur  atau memotong lereng.  Pada guludan bersaluran  di sebelah atas sejajar dengan guludan dibuat saluran, seperti  tertera pada Gambar 1 (b). Ukuran guludan pada guludan bersaluran sama seperti guludan biasa, sedangkan kedalaman saluran adalah 25 sampai 40 cm dengan lebar 30 cm.

Pada metode ini guludan diperkuat dengan tanaman rumput, perdu atau pohonan yang tidak begitu tinggi dan tidak rindang. Guludan bersaluran dapat dibuat pada lereng sampai 12%. Guludan bersaluran pada tanah permeabilitasnya tinggi dapat dibuat tepat menurut garis kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan bersaluran dibuat berlereng terhadap konsut  sebesar tidak lebih dari satu persen menuju ke arah saluran pembuangan. Tujuannya adalah agar air yang tidak dapat segera masuk ke dalam tanah disalurkan dengan kecepatan yang rendah ke luar lapangan.

Sumber: Sitanala Arsyad (2006). Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.

1 Komentar »

  1. Pada area sepanjang daerah aliran sungai (DAS) perlu sosialisasi konsep ini.

    Komentar oleh hermawan — April 18, 2010 @ 9:39 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 170 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: