BebasBanjir2015

Dam Pengendali (Check Dam)

DAM PENGENDALI

1. Pembuatan Rancangan Dam Pengendali (DPi)

a. Persiapan

Dam Pengendali Tipe Busur

Contoh Penerapan Dam Pengendali Tipe Busur. (Sumber Foto: BTP DAS Surakarta)

  1. Pemilihan calon lokasi
    Pemilihan calon lokasi dilakukan dengan cara inventarisasi terhadap beberapa calon lokasi dam pengendali yang telah ditetapkan dalam Rencana Teknik Tahunan (RTT) yang telah disusun, dengan kriteria sebagai berikut :
    a) Lahan kritis dan potensial kritis
    b) Sedimentasi dan erosi sangat tinggi
    c) Struktur tanah stabil (badan bendung)
    d) Luas DTA 100 -250 ha
    e) Tinggi badan bendung 8 meter
    f) Kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15-35 %
    g) Prioritas Pengamanan bangunan vital
  2. Orientasi lapangan
    Calon lokasi yang terpilih (memenuhi kriteria) kemudian dilakukan orientasi lapangan untuk menentukan letak dan ukuran badan bendung, saluran pelimpah dan daerah tangkapan air (DTA) serta daerah genangan air.
  3. Konsultasi
    Berdasarkan hasil orientasi lapangan dilakukan konsultasi dengan instansi terkait baik secara formal (Dinas Kimpraswil/PU, Dinas Pertanian dsb.) maupun non formal (kelompok tani, lembaga adat dsb)
    untuk memperoleh masukan sebelum lokasi dan tipe dam pengendali ditetapkan.
  4. Pengadaan bahan dan alat
    Pengadaan bahan dan alat diprioritaskan terhadap bahan habis pakai, sedangkan peta dasar dan peralatan lain seperti alat ukur/survey lapangan dapat memanfaatkan yang sudah ada.
  5. Administrasi
    Persiapan administrasi meliputi :
    a) Administrasi kegiatan
    b) Surat menyurat (pemberitahuan, surat ijin, kesepakatan masyarakat dsb.)

b. Pengumpulan data dan informasi lapangan.

  1. Data primer
    Data primer diperoleh dengan cara survey dan pengukuran lapangan, meliputi sebagai berikut :
    a) Topografi lokasi bangunan
    b) Penutupan lahan dan pola tanam
    c) Tanah (jenis, tekstur, permeabilitas)
    d) Luas DTA
    e) Jumlah, kepadatan dan pendapatan penduduk dan tingkat harga/upah disekitar lokasi
  2. Data sekunder, meliputi :
    Data sekunder dapat diperoleh dengan cara pengumpulan data yang telah ada/tersedia baik di instansi pemerintah, swasta dsb.
    a) Administrasi wilayah
    b) Curah hujan (jumlah, intensitas dan hari hujan)
    c) Erosi dan sedimentasi
    d) Adat istiadat masyarakat disekitar lokasi

c. Pengolahan dan analisa data/informasi.

Dari hasil pengumpulan data dan informasi di lapangan dilakukan pengolahan dan analisa, sebagai berikut :

  1. Dari data tanah, erosi/sedimentasi, topografi, curah hujan dan luas DTA diolah dan dianalisa menjadi:
    a) Letak bangunan
    b) Spesifikasi teknis bangunan utama dan pelengkap
    c) Debit aliran air/debit banjir rencana
    d) Daya tampung air
    e) Umur teknis bangunan
  2. Dari data jumlah penduduk, mata pencaharian, pendapatan serta adat istiadat diolah dan dianalisa menjadi informasi:
    a) Potensi ketersediaan tenaga kerja
    b) Standar satuan biaya/upah yang berlaku.

d. Penyusunan rancangan teknis

Sesuai norma yang berlaku rancangan dam pengendali (DPi) berisi :

  1. Tata letak bangunan
    a) Administrasi
    b) Geografis
  2. Kata Pengantar
  3. Lembar pengesahan
  4. Rísalah/data umum lokasi
  5. Spesifikasi teknis
    a) Fisik
    b) Hidrologi
    c) Sosek dan budaya
  6. Rencana anggaran biaya (RAB).
    Rencana anggaran biaya disusun secara rinci didasarkan pada volume pekerjaan dan satuan biaya (bahan, upah) yang berlaku.
  7. Tata waktu pelaksanaan.
    Rancangan harus memuat tata waktu pelaksanaan baik kegiatan fisik maupun pemeliharaan.
    Penyusunan rancangan sebaiknya dibuat pada T-1. Namun demikian pada kondisi tertentu penyusunan rancangan dapat dibuat pada T-0 sebelum pelaksanaan pekerjaan.
  8. Sosialisasi
    Sebelum dilakukan pembuatan dam pengendali, agar dilakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada kelompok tani yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Disamping itu pada saat pengukuran
    dan penyusunan rancangan dam pengendali, kelompok tani tersebut dilibatkan sehingga ada rasa memiliki dan ini akan meningkatkan kontinuitas atau kelestarian kegiatan tersebut khususnya pasca proyek.
  9. Gambar dan peta
    Rancangan dam pengendali perlu dilampiri gambar dan peta yang meliputi
    a) Gambar detail konstruksi dan spesifikasi teknis bangunan utama (badan bendung), saluran pelengkap (saluran pelimpah, saluran pembagi) skala 1 : 50 s/d 1 : 100.
    b) Peta situasi/administrasi, skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000.
    c) Peta kontur site (lokasi) bangunan utama, pelengkap dan daerah tangkapan air serta daerah genangan air, skala 1 : 1000 s/d 1 : 10.000.
  10. Mekanisme Prosedur
    Rancangan Dam Pengendali (DPi) disusun oleh Kepala Sub Dinas yang menangani perencanaan pada Dinas Kabupaten/Kota, dan dikonsultasikan dengan Dinas Kimpraswil/PU. Sebagai penilai adalah
    BPDAS dan disahkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota.

e. Hasil Kegiatan

Sebagai hasil kegiatan penyusunan rancangan berupa buku rancangan dam pengendali (DPi) yang dilengkapi dengan lampiran data, gambar dan peta dan telah disahkan oleh instansi terkait yang berwenang.
Gambar skematis tentang bangunan pengendali tipe busur dan tipe kedap air dapat dilihat pada Gambar 14 dan 15 di bawah ini.

Gambar 14. Dam Pengendali (Tipe busur)

Gambar 1. Dam Pengendali (Tipe busur)

Gambar 2. Dam Pengendali (tipe kedap air)

Gambar 2. Dam Pengendali (tipe kedap air)

2. Pembuatan Dam Pengendali (DPi)

a. Persiapan

  1. Penyiapan Kelembagaan
    a) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi rencana pelaksanaan pembuatan dam pengendali.
    b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
  2. Pengadaan sarana dan prasarana
    Pengadaan peralatan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan habis pakai. Sedang pembuatan sarana dan prasarana dibuat dengan tujuan untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di
    lapangan yang antara lain :
    a) Pembuatan jalan masuk
    b) Pembuatan gubuk kerja/gubuk material
  3. Penataan areal kerja
    a) Pembersihan lapangan
    b) Pengukuran kembali
    c) Pemasangan patok batas
    d) Pembuatan badan bendung dan saluran pelimpah/spill way di tanah milik masyarakat, tidak ada ganti rugi.

b. Pembuatan

  1. Pembuatan profil bendungan
  2. Pengupasan, penggalian dan pondasi bangunan
  3. Pembuatan saluran pengelak
  4. Pembuatan/pemadatan tubuh bendung
  5. Pembuatan saluran pengambilan/lokal dan pintu air
  6. Pembuatan bangunan pelimpah (spill way)
  7. Pembuatan bangunan lain untuk sarana pengelolaan: jalan inspeksi
  8. Pemasangan gebalan rumput

c. Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan Dam Pengendali (DPi) meliputi :

  1. Pemeliharaan badan bendung dan saluran pelimpah serta saluran pembagi
  2. Perbaikan gebalan rumput

d. Pelaksanaan Pembuatan Dam Pengendali

Berdasar sistem pembayarannya, pembuatan bangunan Dam Pengendali dapat dilaksanakan melalui dua alternatif, yaitu:

  1. Sistem Swakelola, melalui SPKS dengan kelompok tani, dalam rangka pemberdayaan sumberdaya dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal secara langsung serta menumbuhkan rasa memilikinya dan kepedulian memelihara apabila konstruksi telah selesai.
  2. Sistem pemborongan oleh Pihak III, melalui lelang dengan mengutamakan potensi lokal yang ada.

e. Organisasi pelaksana

Sebagai pelaksana dalam rancangan pembuatan Dam Pengendali adalah kelompok masyarakat dan/atau pihak ketiga didampingi Petugas Lapangan Gerhan dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota yang diserahi
tugas dan tanggung jawab di bidang Kehutanan.

f. Jadwal Kegiatan

Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang tertuang dalam rancangan.

g. Hasil Kegiatan

Hasil kegiatan adalah berupa bangunan Dam Pengendali (DPi) yang dibuat sesuai dengan rancangan. Hasil kegiatan diserahkan kepada Dinas Kehutanan Kab/Kota yang selanjutnya diserahkan kepada Kepala Desa
oleh Bupati untuk pemanfaatan dan pemeliharaannya.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 22/Menhut-V/2007 TENTANG …
File Format: PDF/Adobe Acrobat – View as HTML
Kehutanan tentang Pedoman Teknis dan Petunjuk. Pelaksanaan Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi. Hutan dan Lahan Tahun 2007. Mengingat ..

Sumber: PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 22/Menhut-V/2007 tentang PEDOMAN TEKNIS. GERAKAN NASIONAL REHABILITASI. HUTAN DAN LAHAN. (GN-RHL/Gerhan). DEPARTEMEN KEHUTANAN. 2007 …www.dephut.go.id/files/L1_P22_07.pdf

Tanggul Penghambat

Tanggul penghambat atau cek dam adalah bendungan kecil dengan konstruksi sederhana (urugan tanah atau batu), dibuat pada alur jurang atau sungai kecil. Tanggul penghambat berfungsi untuk mengendalikan sedimen dan aliran permukaan yang berasal dari daerah tangkapan di sebelah atasnya.

Tanggul penghambat dibuat dengan luas daerah tangkapan air  dari 100 – 250 ha, dan dapat lebih luas untuk wilayah-wilayah tertentu yang mempunyai curah hujan yang rendah. Tinggi dan panjang bendungan maksimal adalah 10 meter tergantung pada kondisi geologi dan topografi lokasi yang bersangkutan. Pembuatan tanggul penghambat biasanya dilakukan pada musim kemarau.

Keuntungan

  • Menghindari pendangkalan waduk / sungai yang ada di hilirnya.
  • Mengendalikan aliran permukaan di daerah hilir
  • Menyediakan air untuk  kebutuhan air minum, air rumah tangga, pengairan daerah di sebelah bawahnya (terutama pada musim kemarau), ternak dan sebagainya.
  • Meningkatkan permukaan air tanah daerah sekitar tanggul penghambat
  • Pengembangan perikanan di daerah genangan tanggul penghambat
  • Pebaikan iklim mikro setempat
  • Untuk rekreasi

Kelemahan

  • Perlu pemeliharaan termasuk pengerukan sedimentasi
  • Perlu tambahan tenaga kerja
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi

Faktor biofisik

  • Ketersediaan bahan-bahan untuk membangun tanggul penghambat

Faktor sosial ekonomi

  • Pembuatannya perlu gotong royong atau dibiayai pemerintah
  • Perlu insentif bagi pengelolaan tanggul penghambat

Pakar IPB Usul Pembangunan Cek Dam di Hulu

Jakarta, CyberNews. Pakar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Konservasi Tanah dan Air Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Naik Sinukaban mengusulkan pembangunan cek dam di wilayah hulu (puncak Bogor) agar Jakarta tidak terkena banjir besar lagi.

Menurutnya, cek dam merupakan salah satu teknik konservasi tanah dan air yang sederhana, namun berguna untuk menampung air hujan yang turun. Dengan demikian dapat menurunkan koefisien aliran permukaan sungai yang selama ini menjadi penyebab banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya.

“Di setiap sungai di daerah hulu hendaknya dibangun cek dam. Cukup dengan ukuran kecil, misalnya dengan daya tampung sekitar 100 atau 200 meter kubik. Selain dapat mencegah banjir, cek dam juga dapat memberikan manfaat untuk irigasi dan sebagainya,” kata Prof Naik dalam siaran pers IPB, Jumat (9/2).

Tingginya aliran permukaan, disebutkan Prof. Naik, juga mengakibatkan hilangnya jumlah air sebanyak 1,5 miliar liter kubik di setiap musim hujan. Padahal, dengan jumlah tersebut, dapat memenuhi kebutuhan air bagi 11 juta warga Jakarta dan dapat mengairi sekitar 20 ribu hektar area persawahan.

Lebih lanjut Prof Naik menjelaskan, masalah banjir Jakarta hanya bisa diselesaikan jika pemerintah pusat melakukan intervensi, yakni dengan membuat badan khusus untuk menanganinya. Sebab DAS Jabodetabek melibatkan lebih dari satu pemerintah provinsi dan menyangkut departemen terkait, seperti Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan.

Menyinggung proyek Banjir Kanal Timur yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, Prof Naik mengatakan, hal tersebut perlu dilakukan, namun tidak cukup efektif. Karenanya ia mengusulkan, sebagian pendanaan proyek tersebut, hendaknya bisa diperuntukkan bagi pembuatan cek dam di daerah hulu.( mh habieb shaleh/Cn08 )

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0702/09/nas14.htm, 9 Pebruari 2007

Bupati Wonogiri Ajak Bupati Wilayah Hilir Bantu Bangun Cekdam

Reporter : Widjajadi

WONOGIRI–MI: Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi mengajak sejumlah bupati di wilayah hilir Bengawan Solo agar bersedia membantu membangunkan cekdam atau bendungan di bagian hulu, sebagai upaya mencegah bencana banjir berskala besar seperti yang terjadi pada 26 Desember 2007 lalu tidak terulang lagi.

“Kalau saja pemerintah pusat bersedia menyetujui usulan pembangunan 22 cekdam di tiga aliran sungai wilayah hulu yang pernah diajukan Pemkab Wonogiri sejak 2003 silam, saya yakin banjir akhir Desember lalu tidak perlu terjadi. Tapi sudahlah, saya kini mencoba membujuk para bupati yang ada di wilayah hilir untuk kepentingan pembangunan waduk di bagian hulu. Dan syukurlah, Bupati Karanganyar dan Sragen langsung menyatakan kesediaan,” ungkap Begug kepada Media Indonesia, Kamis (7/2).

Selain dua bupati tersebut, sejumlah pengusaha di Solo ternyata juga menyatakan kesediannya untuk secara kongsi membangunkan cekdam di bagian hulu. Mereka yang berimpati untuk membangunkan cekdam, karena mengaku sedih melihat banjir luapan Bengawan Solo pada 26 – 29 Desember itu, telah menenggelamkan puluhan ribu rumah ,menghancurkan tanaman padi serta merusakkan berbagai infrastruktur yang ada di wilayah hilir mulai dari Sukoharjo, Jateng hingga Tuban, Jatim, hingga kerugian mencapai Rp 2 triliun lebih.

Bupati Wonogiri menambahkan,dengan adanya cekdam-cekdam di bagi an hulu, nantinya sedimentasi yang masuk ke Waduk Gajah Mungkur jelas lebih bisa diminimalisasi. Selain itu cekdam bisa menjadi pengatur debit air yang masuk ke waduk terbesar di Asia Tenggara itu, jika sewaktu-waktu curah hujan di bagian hulu sangat tinggi sebagaimana yang terjadi pada akhir Desember tahun silam.

“Jadi ketika di bagian hulu hujan deras, dan waduk tidak lagi mampu menampung air maka pintu cekdam bisa ditutup dahulu, sehingga hilir tidak lagi banjir seperti akhir Desember lalu. Yang jelas terkait bantuan pembangunan cekdam, Pemkab Wonogiri hanya fasilitator. Pelaksanaan terserah mereka yang mau bantu,” imbuhnya.

Sedangkan Bupati Karanganyar Rina Iriani ketika dikonfirmasi menyatakan, kesediaan untuk membangunkan cekdam di bagian hulu Bengawan Solo ini, dilatarbelangi oleh kepentingan rakyatnya agar tidak terganggu lagi oleh banjir, yang bisa menganggu pertanian teknis serta pemukimannya. “Sebab sebagian besar pertanian teknis di Kabupaten Karanganyar selama ini sangat menggantungkan irigasi dari Waduk Gajah Mungkur. Kalau air terukur jelas dibutuhkan, tapi kalau banjir seperti Desember lalu, petani kan jelas jadi rugi besar. Karena itu cekdam di bagian hulu Bengawan Solo memang perlu dibangun. Kita sedang memikirkan dananya,” ungkap Rina Iriani.

Yang jelas, di tengah penantian realisasi pembangunan cekdam dari para bupati di bagian hilir serta kepedulian pengusaha, Bupati Begug mengaku terus melakukan program penghijauan di bagian hulu dan juga pengerukan lumpur enam sungai besar yang airnya bermuara di Waduk Gajah Mungkur. Setidaknya sejak sepekan terakhir ini, 5000 warga Wonogiri telah dikerahkan untuk melakukan pengerukan lumpur di sungai Keduang sepanjang 10 km.

Saat ini aliran air dan lumpasan Sungai Keduang yang memiliki luas sekitar 35.993 hektare mengakibatkan terjadinya sedimentasi setebal 4,1 milimeter.

Tingginya laju sedimentasi yang dialami Waduk Gajah Mungkur berasal dari lima sungai besar di bagian hulu. Selain Keduang, maka sungai lainnya adalah Wiroko, Solo Hulu, Alang, dan Wuryantoro.

“Karena luas sungai berbeda, laju sedimentasi pun lain. Jadi, tidak semua wilayah harus ditangani dengan cara yang sama. Saya saat ini juga menunggu pembicaraan dengan pihak Perum Jasa Tirta I untuk penanganan sedimentasi waduk ini,” tandas dia sekali lagi. (WJ/OL-03)

Sumber: http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?Id=158398, 07 Februari 2008 11:45 WIB

Check Dam (CD)

Practice Description

Check Dam

Check Dam

A check dam is a small barrier or dam constructed across a swale, drainage ditch or other area of concentrated flow for the purpose of reducing channel erosion. Channel erosion is reduced because check dams flatten the gradient of the flow channel and slow the velocity of channel flow. Most check dams are constructed of rock, but hay bales, logs and other materials may be acceptable. Contrary to popular opinion, most check dams trap an insignificant volume of sediment.

This practice applies in small open channels and drainageways, including temporary and permanent swales. It is not to be used in a live stream. Situations of use include areas in need of protection during establishment of grass and areas that cannot receive a temporary or permanent non-erodible lining for an extended period of time.

Typical Components of the Practice

  • Site Preparation
  • Materials Installation
  • Erosion and Sediment Control
  • Construction Verification

Construction

Prior to start of construction a qualified design professional should determine the location, elevation and size of the structure to optimize flattening of channel grade. Usually, check dam dimensions are taken from a standard drawing. Check dams are typically constructed using materials included in a contract. Note: Construction with rock is the only check dam material covered in this edition of the handbook.

Site Preparation

Determine location of any underground utilities.

Locate and mark the site for each check dam in strategic locations (to avoid utilities and optimize effectiveness of each structure in flattening channel grade).

Remove debris and other unsuitable material which would interfere with proper placement of the check dam materials.

Excavate a shallow keyway (12”-24” deep and at least 12” wide) across the channel and into each abutment for each check dam.

Materials Installation

As specified, install a non-woven geotextile fabric in the keyway in sandy or silty soils. This may not be required in clayey soils.

Construct the dam with a minimum 2:1 side slopes over the keyway and securely embed the dam into the channel banks. Position rock to form a parabolic top, perpendicular to channel flow, with the center portion at the elevation shown in the design so that the flow goes over the structure and not around the structure.

Erosion and Sediment Control

Install vegetation (temporary or permanent seeding) or mulching to stabilize other areas disturbed during the construction activities.

Construction Verification

Check finished size, grade and shape for compliance with standard drawings and materials list (check for compliance with specifications if included in contract specifications).

Common Problems

Consult with a qualified design professional if any of the following occur:

  • Variations in topography on site indicate check dam will not function as intended. Change in plan will be needed.
  • Materials specified in the plan are not available.

Maintenance

Inspect the check dam for rock displacement and abutments for erosion around the ends of the dam after each significant rainfall event. If the rock appears too small, add additional stone and use a larger size.

Inspect the channel after each significant rainfall event. If channel erosion exceeds expectations, consult with the design professional and consider adding another check dam to reduce channel flow grade.

Sediment should be removed if it reaches a depth of ½ the original dam height. If the area behind the dam fills with sediment there is a greater likelihood that water will flow around the end of the check dam and cause the practice to fail.

Check dams may be removed when their useful life has been completed. The area where check dams are removed should be seeded and mulched immediately unless a different treatment is prescribed.

Sumber: http://www.swcc.state.al.us

5 Komentar »

  1. Kami yakin foto DAM tipe busur yang ditampilkan pada gambar di atas adalah foto dari instansi kami Balai Teknologi Pengelolaan DAS (BTPDAS) yang sekarang telah berubah nama jadi Balai Penelitian Kehutanan Solo (BPK Solo). Kami mohon kepada admin untuk mencantumkan sumber foto tersebut dari instansi kami. Terima kasih.

    Komentar oleh Eko Priyanto — Oktober 12, 2009 @ 12:25 pm

  2. Terima kasih Pak Eko. Betul foto itu dari BTP DAS Surakarta.

    Komentar oleh Sahroel Polontalo — Oktober 12, 2009 @ 4:52 pm

  3. makasih banyak infonya sangat membantu saya.kebetulan mahasiswa teknik sipil pengairan,semester akhir.

    Komentar oleh munatsir(acci) — April 5, 2010 @ 10:00 pm

  4. trims ya gan ….

    Komentar oleh Anonymous — Maret 15, 2012 @ 11:02 am

  5. jangan bosan untuk berbagi, trims salam sukses

    Komentar oleh Anonymous — April 23, 2012 @ 2:08 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 171 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: