BebasBanjir2015

Artificial Recharge

Teknologi “Artificial Recharge” Simpan Air, Atasi Banjir

Sumber: http://sains.kompas.com/ 27 Maret 2009

JAKARTA, KOMPAS.com — Teknologi artificial recharge menawarkan solusi mengatasi permasalahan ketersediaan air tanah, sekaligus pengendalian air limpasan penyebab banjir. Terobosan ini bisa diterapkan di berbagai gedung bertingkat khususnya di kota-kota besar seperti ibu kota Jakarta.

“Dengan teknologi ini air limpasan hujan di perkotaan secara gravitasi dimasukkan ke dalam air tanah dalam. Gedung-gedung bertingkat bagus sekali membuat ini,” kata pakar hidrologi dari BPPT Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Jumat (27/3).

Sutopo Purwo Nugroho mencontohkan, hanya dengan pralon sedalam lebih dari 60 meter dengan diameter 10 cm yang ditanam di halaman gedung bertingkat, maka air limpasan yang mengalir berlimpah di kala hujan akan langsung masuk ke air tanah dalam.

Selama ini di Jakarta, 85 persen air hujan menjadi limpasan dan hanya 10 persen yang masuk ke tanah dan menjadi air tanah. “Air limpasan inilah penyebab Jakarta digenangi air di mana-mana di kala hujan, sementara air tanah terus disedot sehingga persediannya semakin minim bahkan mengancam Jakarta menjadi ambles,” kata Sutopo.

Jika diterapkan di setiap gedung bertingkat, maka teknologi artificial recharge yang sederhana ini, ujarnya, akan menyelamatkan Jakarta dari kekurangan persediaan air tanah dengan cepat, tanpa harus menunggu bertahun-tahun, sekaligus mengurangi banjir.

Teknologi yang masih terus diriset ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan teknologi yang telah diperkenalkan sebelumnya, seperti biopori, bioretensi, dan sumur resapan.

Jika biopori memasukkan air limpasan ke air tanah dangkal, maka artificial recharge memasukkan air limpasan ke air tanah dalam. Sedangkan sumur resapan diletakkan di bawah talang air rumah dan bioretensi merupakan kolam konservasi air dengan fungsi serupa.

Teknologi Artificial Recharge Airtanah Dalam Mengatasi Banjir dan Kekeringan

Sumber: http://dns.iptek.net.id/ 07 Oktober 2009

Kemajuan pembangunan yang pesat dan tingkat pertumbuhan penduduk yang semakin besar, mempunyai konsekuensi beban terhadap sumberdaya air semakin besar. Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa adanya air, berbagai proses kehidupan dan pembangunan tidak bisa berjalan.

Pada tahun 2025 diperkirakan jumlah penduduk di Jabodetabek akan mencapai 39 juta jiwa, dimana 13 juta jiwa akan menempati DKI Jakarta, 10 juta jiwa di Kabupaten Bogor, 9,2 juta jiwa di Kabupaten Tangerang dan 6,8 juta jiwa di Kabupaten Bekasi (Studi JWRM, 1994). Dengan semakin besarnya konsentrasi penduduk di wilayah Jabodetabek tersebut, maka beban terhadap sumberdaya air di wilayah tersebut semakin besar. Keadaan di atas merupakan ancaman bagi konservasi sumber daya air. Bila hal ini dibiarkan tanpa adanya upaya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan boleh jadi akan terjadi defisit sumber daya air di tahun-tahun mendatang.

Exploitasi airtanah dangkal maupun airtanah dalam terutama di Jakarta meningkat sangat pesat pada akhir dasawarsa ini. Perkembangan kota dan industrialisasi yang tidak diimbangi oleh penyediaan sumber air baku oleh pemerintah merupakan dampak untuk pemanfaatan airtanah secara besar besaran. Akibat dari exploitasi airtanah yang berlebihan tersebut, mengakibatkan terjadi penurunan muka airtanah secara berkala dan mengakibatkan keringnya sumur sumur dangkal masyarakat setempat dan terjadi intrusi air laut di daerah pesisir, amblesan tanah dan dapat terjadi pencemaran air tanah.

Ini merupakan permasalahan yang diangkat pada acara Workshop yang diselenggarakan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) pada tanggal 7 Oktober 2009 di Ruang Komisi II BPPT Lantai 3 Jalan MH Thamrin 8 Jakarta. Penyelenggaraan Workshop ini, merupakan kerja bareng dengan BPPT, Departemen ESDM, Departemen PU, Kementerian KLH, Pemda DKI, Universitas Indonesia, ITB, IPB dan Universitas Tarumanegara. Jumlah peserta workshop sekitar 250 orang yang terdiri dari berbagai kalangan seperti Pemerintah pusat dan daerah, Lembaga riset, PT, BUMN, swasta, LSM, masyarakat, mahasiswa, organisasi profesi dan sebagainya.

Teknologi “artificial recharge” adalah teknik menyimpan air permukaan/hujan ke dalam akifer tertentu dengan cara injeksi melalui sumur dalam ketika air berlebih seperti hujan atau banjir menurut Idwan Suhardi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek KNRT membacakan sambutan Mennegristek pada acara tersebut. Idwan Suhardi mengatakan: “Hal ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat imbuhan airtanah secara alamiah di beberapa daerah padat penduduk sudah sangat sulit terjadi, karena intensifnya pemanfaatan lahan dan tingginya laju perubahan penggunaan lahan serta pengaturan tata guna lahan yang belum menganut pada faham undang-undang RUTR dan RUTRW”. Yang seharusnya sepenuhnya diterapkan di wilayah otonomi daerah, baik Kota maupun Kabupaten serta Provinsi secara keseluruhan.

Materi Pembahasan yang diangkat pada acara ini terdiri dari Overview Pemanfaatan Teknologi Untuk Mendukung Artificial Recharge untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan oleh Idwan Suhardi – Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek KNRT, Penerapan Sumur Resapan Dangkal di Kawasan Perumahan oleh Fachi M, Masyarakat Air Indonesia, Penerapan Sumur Resapan Dalam di Kawasan Perumahan oleh Widodo Hadinata, Masyarakat Peduli Lingkungan, Kondisi Geologi dan Geohidrologi Lingkungan Air Tanah Dalam Wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya oleh Lambok Hutasoit – ITB, Bandung.

Selain itu, dipaparkan pula Kajian dan Penerapan Teknologi Artificial Recharge Air Tanah Dalam untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan oleh Teddy W. Sudinda – Tim Ristek – BPPT, Kajian dan Penerapan Teknologi Waduk Resapan untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan oleh Sri Legowo – ITB, Bandung, Kajian dan Penerapan Sumur Resapan untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan oleh Chaidir Anwar Makarim, UNTAR, Jakarta serta Kajian dan Penerapan Teknologi Biopori untuk Konservasi Air Tanah oleh Kamir R. Brata, IPB, Bogor.

Dengan diadakan workshop ini, diharapkan dapat dihasilkan pemikiran yang matang dari para ahlli akademis maupun praktisi agar kemanfaatan dari Artificial Recharge atau sumur resapan dapat dipahami secara baik oleh masyarakat dan juga dapat diterapkan di daerah lain di seluruh Indonesia(ad-uaki/Humasristek)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 170 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: