BebasBanjir2015

Aspek Teknologi

Pencegahan Banjir : Padat Teknologi Tinggi Atau Konservatif?

Oleh Arien Heryansyah

Setelah diramaikan dengan berita krisis air berkepanjangan beberapa waktu lalu, Bumi Gemah Ripah Loh Jinawi yang bernama Indonesia ini mendapat sumbangan dari dunia pers berupa berita meluapnya beberapa sungai, yang menyebabkan kerugian yang tidak kecil. Padahal hanya beberapa waktu sebelumnya, sungai-sungai tersebut ‘disalahkan’ karena tidak memberikan air nya saat krisis air. Kejadian yang berulang sejak jaman purba di sekitar ‘Jabotabek’ ini memberikan inspirasi beberapa orang Engineers (Belanda) untuk membuat reservoir yang bisa menampung air ketika sedang berlebih, dan dapat menyuplai air ketika sedang dibutuhkan. Maka dibuatlah reservoir tersebut di daerah sekitar Serpong dan Depok sekarang. Dengan kata lain, adalah aneh jika Depok atau Serpong tidak tergenang disaat air sedang melimpah seperti saat ini, karena kedua daerah tersebut memang dialokasikan sebagai reservoir. Mungkin ide para engineers (Belanda) tersebut yang disalahkan: “Mengapa kalian membuat reservoir permukaan? Mengapa tidak dibuat reservoir di bawah tanah saja?” Nah, artikel ini berusaha menyajikan apa yang disebut reservoir bawah tanah ini.

Cikal Bakal

Jepang menata kembali sendi-sendi kehidupannya mulai dari nol, setelah kalah perang pada tahun 1945 lalu. Program konsolidasi lahan, yang menjadi kerangka dasar program recovery tersebut, mempunyai efek samping yaitu meningkatnya harga tanah. Sejalan dengan hal tersebut, teknologi kontruksi berkembang vertikal, yaitu ke atas (gedung-gedung pencakar langit) dan ke bawah (bunker). Seperti kita lihat saat ini, betapa banyak stasiun kereta api yang berada di bawah tanah khususnya di sekitar Tokyo.

Gambar 1. Struktur reservoir bawah permukaan beserta neraca airnya

Gambar 1. Struktur reservoir bawah permukaan beserta neraca airnya

Secara umum pun system drainase perkotaan mempunyai karakteristik ‘sempit dan dalam’, atau bahkan ada yang seluruhnya merupakan system drainase bawah permukaan. Teknologi bawah tanah itu pula yang digunakan oleh pertanian di Jepang untuk menjaga agar air tanah tidak turun drastis, sehingga lahannya tetap layak untuk ditanami. Pada perkembangannya, air tanah yang dikontrol kedalamannya tersebut digunakan untuk mengairi lahan, sehingga nama reservoir bawah permukaan menjadi lebih tepat. Reservoir bawah permukaan di Miyakojima, Kepulauan Ryukyu, Selatan Jepang, yang mempunyai kapasitas 20 juta meter kubik mungkin bisa dijadikan areal percontohan dengan intensifnya penelitian mengenai efek reservoir tersebut terhadap ekosistem. Meskipun kapasitasnya jauh lebih kecil dari kapasitas Waduk Jatiluhur yang mencapai 3000 juta meter kubik, Reservoir Miyakojima dianalogikan dapat menurunkan banjir Jakarta tahun 2002 sebesar 12.5 cm, dimana saat itu 24.25% areal Jakarta terendam setinggi 5meter.

Kelebihan dan kekurangan

Reservoir bawah tanah, yang dalam hal ini berhubungan erat dengan air tanah dangkal (kurang dari 40m), mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan reservoir biasa, diantaranya adalah : (1) Tidak memerlukan lahan. Lahan yang biasanya rusak akibat digenangi, dapat digunakan seperti apa adanya. Dengan demikian reservoir bawah permukaan hampir tidak mempunyai pengaruh dalam hal perubahan tata guna lahan, di samping tidak harus melakukan ‘pindah paksa’ bagi penduduk setempat. Habitat hidupnya parasit (nyamuk dan kuman lainnya) yang berupa ‘genangan’ air pun tereliminasi. Keuntungan berikutnya (2) adalah kehilangan air akibat evaporasi dapat ditekan ke tingkat yang minim (nol). Pada reservoir biasa, kehilangan air akibat evaporasi dapat mencapai 5mm per hari, setara 3 juta meter kubik untuk areal seluas DKI Jakarta. Kualitas air yang diperoleh dari reservoir bawah tanah ini relative lebih baik, sebagai kelebihan yang lain (3). Dengan demikian biaya pemrosesan air untuk keperluan domestik dapat dikurangi. Hilangnya resiko kerusakan di daerah hilir akibat runtuhnya dam/jebolnya reservoir juga merupakan kelebihannya yang lain (4). Jebolnya dam adalah merupakan hal yang hampir mustahil, dari sisi stabilitas dam, mengingat sisi hulu dan hilir ditopang oleh tanah. Jika sustainability turut diperhitungkan, reservoir bawah tanah ini juga mempunyai nilai plus (5). Air tanah dangkal yang dimanfaatkan itu berasal dari hujan, sehingga tidak mengganggu deposit air yang dikategorikan barang tambang.

Di luar begitu banyaknya kelebihan reservoir bawah tanah tersebut, ternyata ada kekurangan yang menjadi titik kritis dari penerapan reservoir bawah tanah ini, yaitu masalah pemilihan lokasi, konstruksinya yang padat teknologi tinggi, pengaruhnya terhadap kondisi air tanah di daerah hilir, serta penumpukan garam di lokasi reservoir. Penetapan lokasi reservoir bawah tanah ini lebih berdasarkan perkiraan struktur geologi bawah permukaan. Hal ini disebabkan pengukuran detil memerlukan alat survai yang bisa jadi belum tersedia, serta memerlukan metodologi yang rumit sehubungan tidak bisa dilakukannya pengamatan visual.

Sebagai contoh adalah pengukuran effective porosity, yang berarti besarnya ruangan di dalam tanah yang bisa diisi air, dalam bahasa umum. Kehandalan data tersebut hanya bisa didapat dari pengukuran contoh tanah. Hal ini berarti diperlukan contoh tanah yang luar biasa banyak untuk bisa memetakan kapasitas reservoir bawah tanah secara tepat di suatu lokasi. Penetapan lokasi reservoir juga perlu mempertimbangkan pergerakan air tanah untuk menjaga kesetimbangan antara daerah hulu dan hilir. Mengingat studi mengenai pergerakan air tanah masih sangat jarang, disain dan penetapan lokasi reservoir menjadi seolah olah berdasarkan pada hal yang abstrak.

Kembali ke Alam

Bedasarkan uraian di atas, adalah hampir tidak mungkin menerapkan reservoir bawah permukaan sebagai sarana pencegahan banjir, khususnya di DKI Jakarta. Padahal dalam perhitungan kasar, untuk menghilangkan banjir setinggi 5 meter hanya diperlukan reservoir berukuran luas yang sama dengan genangan banjir dan kedalaman 20 meter pada lapisan tanah yang mempuyai effective porosity sebesar 25%, kondisi umum tanah di Indonesia. Disain dan kontruksi reservoir bawah tanah tersebut pun akan terbentur masalah biaya dan ketersediaan data, masalah klasik di Negara berkembang. Kemudian, apakah ada manfaatnya dari teknologi reservoir bawah tanah ini? Tentu saja, ada yaitu, reservoir bawah tanah itu lokasinya bukan di lokasi banjir, melainkan di daerah hulunya untuk mengurangi kedalaman reservoir dengan cara memperluas permukaan reservoir.

Kemudian dengan berbagai cara berusaha memasukkan air hujan ke dalam reservoir bawah permukaan tersebut, misalnya menggunakan sumur resapan. Tapi kembali, hal ini akan menjadi mentah mengingat hanya sedikit studi mengenai sumur resapan ini, baik konstruksi ataupun pemilihan lokasinya. Kesalahan penempatan sumur resapan bisa mengakibatkan Land slide, atau bahkan longsor. Penelusuran teknologi ‘kuno’ bisa menjawab masalah ini, yaitu dengan menggunakan pohon pohon besar (tingginya lebih dari 10 meter). Pohon pohon besar membantu menangkap air hujan dan memasukkannya ke dalam tanah, sementara system perakaran pohon-pohon besar menjaga kestabilan tanahnya. Akhirnya, terbukti gabungan antara teknologi terkini (reservoir bawah permukaan) dan teknologi kuno (penanaman pohon pohon besar di daerah hulu) diharapkan menjadi solusi atas bencana banjir ini. Solusi yang sudah diketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dan para pengambil keputusan, tinggal apakah kita mau melakukannya.

Penutup

Tidak jarang teknologi ‘kuno’ dengan sedikit penyesuaian dapat memecahkan masalah rumit dan padat teknologi tinggi. Tentu kita pernah mendengar bahwa ketika USA menciptakan alat tulis yang yang bisa bekerja pada gravitasi zero, Rusia hanya mendisain ulang pinsil. Atau ketika USA menciptakan bom pintar yang bisa mendeteksi ‘asam amino’ (manusia), tentara Vietnam menggunakan ‘air seni’ untuk mengecohnya…..

 Gambar 2. Skema manajemen air (mitigasi banjir dan krisis air) menggunakan reservoir bawah permukaan

Gambar 2. Skema manajemen air (mitigasi banjir dan krisis air) menggunakan reservoir bawah permukaan

Arien Heryansyah. Peneliti ISTECS ; Environmental Hydrology and Watershed Management, Utsunomiya University

Sumber: http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-02-15-Pencegahan-Banjir-:-Padat-Teknologi-Tinggi-Atau-Konservatif.shtml, Kamis, 15 Februari 2007 06:16:54
Artikel Iptek

1 Komentar »

  1. Saya sependapat dg Arien Heryansyah untuk kembali kealam dengan mengurangi aliran permukaan yang diakibatkan curah hujan yang turun dengan membuat sumur resapan pada daerah hulu/ perkotaan yang yang letaknya lebih tinggi. Dan untuk yang daerah hilir yang terdapat situ/ rawa jangan di ganggu gugat atau jangan dikembangkan untuk keperluan lain oleh daerah biarkan sebagai daerah resapan dan saluran drainase perkotaan sebaiknya dasar saluran jangan dibuat pasangan agar mudah meresap kedalam lapisan tanah .

    Komentar oleh sarudji ismail — Januari 3, 2010 @ 6:36 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 170 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: