BebasBanjir2015

M. Fakhrudin

KAJIAN SUMUR RESAPAN SEBAGAI PENGENDALI BANJIR DAN KEKERINGAN DI JABODETABEK

M. Fakhrudin,  Staf Peneliti Puslit Limnologi-LIPI
Diterima redaksi : 3 April 2010, Disetujui redaksi : 10 Mei 2010

LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 8-16

Sumber:  http://limnologi.lipi.go.id/

ABSTRAK

Pembuatan sumur resapan merupakan salah satu cara yang efektif untuk  meningkatkan kapasitas infiltrasi lahan, yang selanjutnya dapat menambah cadangan air  tanah. Selain itu, sumur resapan berfungsi untuk mengurangi volume dan kecepatan  aliran permukaan sehingga menurunkan puncak banjir. Penelitian sumur resapan ini  bertujuan untuk karakterisasi sumur resapan dalam kaitannya sebagai pengendali banjir dan kekeringan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).  Hasil analisa sumur resapan menunjukkan bahwa kecepatan rata-rata penurunan air  sumur resapan pada wilayah hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) di Jabodetabek berkisar  antara 0,94 – 1,14 cm/menit, wilayah tengah berkisar antara 0,63 – 0,64 cm/menit, dan  wilayah hilir berkisar antara 0,24 – 0,43 cm/menit. Penurunan kecepatan resapan air  sumur yang semakin kecil ke arah hilir ini juga sejalan dengan resapan dinding sumur resapan yang semakin kecil ke arah hilir. Pada wilayah hulu resapan dinding sumur  resapan per cm2 berkisar antara 0,12 – 0,13 m3/menit, wilayah tengah berkisar antara  0,08 – 0,09 m3/menit, dan wilayah hilir berkisar antara 0,04 – 0,05 m3/menit. Kecepatan  resapan air pada sumur resapan tersebut berbanding lurus dengan permeabilitas tanah,  sedangkan permeabilitas tanah dipengaruhi oleh tekstur tanah, pori-pori tanah, dan  kepadatan tanah (bulk density). Hasil analisa contoh tanah menunjukkan bahwa wilayah  hulu mempunyai permeabilitas tanah yang semakin besar bila dibandingkan wilayah  tengah maupun wilayah hilir. Begitu juga untuk tekstur dan pori tanah ke arah hulu semakin besar dan kepadatan tanah semakin kecil.

Kata kunci : Daerah terbangun, sumur resapan, banjir, kekeringan,

ABSTRACT

STUDY OF ARTIFICIAL RECHARGE AS CONTROL FLOOD AND DROUGHT  IN JABODETABEK. Infiltration wells is one of effective way to increase land  infiltration capacity, furthermore can increase groundwater reserves. In addition,  infiltration wells serves to reduce volume and rate of runoff thereby reducing the flood peak discharges. This study aims to characterize infiltration wells as control of flood and  drought in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Result of  infiltration wells analysis showed that infiltration rate in Jabodetabek upstream  watershed area ranged from 0.94 to 1.14 cm/min, in middle area 0.63 – 0.64 cm/min and  in downstream area ranged from 0.24 to 0.43 cm/min. Infiltration rate of wells are  getting smaller to downstream area, in line with infiltration of wall wells which is smaller  to downstream area. In upstream area, wall infiltration of wells per cm2 ranged from 0.12  to 0.13 m3/min, middle area ranged from 0.08 – 0.09 m3/min and downstream area  ranged from 0.04 – 0.05 m3/min. Infiltration rate of wells is proportional to soil permeability, while permeability is influenced by soil texture, porosity and bulk density.  Soil analysis results showed that permeability in upstream area greater than in  downstream area. Texture and soil porosity are greater to upstream area, and bulk density is smaller.

Key words : Artificial recharge, impermeable area, flood, drought

PENDAHULUAN

Wilayah Jakarta, Bogor, Depok,  Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) merupakan kawasan yang aktivitas  pembangunannya sangat pesat, sehingga memerlukan sumber air dalam jumlah yang  memadai. Di sisi lain tekanan terhadap lahan  khususnya alih fungsi lahan dari lahan yang  dapat meresapkan air hujan menjadi lahan  yang kedap air juga semakin meningkat, akibatnya sering terjadi banjir ketika musim  hujan dan ketika kemarau terjadi kelangkaan  air bersih. Menurut Fakhrudin, dkk (2008) di  masa yang akan datang banjir di Jakarta  semakin besar mengingat daerah  terbangun/kedap air semakin luas,  kecenderungan hujan deras juga semakin  besar, dan pasang air laut juga semakin meningkat.

Sumur resapan merupakan sistem  resapan buatan yang dapat menampung air  hujan melalui atap bangunan atau aliran  permukaan yang tidak terserap oleh  permukaan tanah, dapat berbentuk sumur,  kolam resapan, saluran porous dan  sejenisnya. Pemilihan lokasi sumur resapan  sebaiknya pada lahan yang datar, tidak  berlereng curam, atau labil dan jauh dari septic tank.

Sumur resapan merupakan salah satu  cara yang efektif untuk meningkatkan kapasitas infiltrasi lahan dan sekaligus dapat  menambah cadangan air tanah (Fetter,  1994). Selain itu sumur resapan dapat  berfungsi untuk mengurangi volume dan  kecepatan aliran permukaan, sehingga dapat  menurunkan puncak banjir. Oleh karena  pentingnya sumur resapan ini maka  Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta  telah menerbitkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 115 tahun 2001 dan kemudian  disempurnakan lagi dengan SK Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 68 th 2005 yang  menyebutkan bahwa pembuatan sumur  resapan diwajibkan kepada perorangan dan  badan hukum yang mengajukan IMB (Izin Mendirikan Bangunan).

Kelebihan lain dari pengendalian  banjir dan kekeringan dengan sumur resapan  adalah tidak memerlukan lahan yang besar,  dapat dibangun di bawah garasi mobil atau  halaman rumah yang diatasnya bisa dibuat  taman dan dapat dibangun secara massal  oleh masyarakat, sehingga akan memberikan dampak yang sangat besar.

Penelitian sumur resapan ini  bertujuan untuk karakterisasi sumur resapan dalam kaitannya sebagai pengendali banjir  dan kekeringan di wilayah Jabodetabek.  Informasi ini penting sebagai dasar dalam  pengelolaan dan konservasi sumberdaya air  untuk pembangunan yang berkelanjutan di wilayah sekitar Ibu Kota Jakarta.

BAHAN DAN METODE

Data yang diperlukan dalam  penelitian ini terdiri dari data primer dan  sekunder. Data sekunder yang digunakan  berupa Peta Rupa Bumi (Sumber:  Bakosurtanal), Peta Tanah (Pusat Penelitian  Tanah Bogor) dan data curah hujan (Badan  Meteorologi Klimatologi dan Geofisika),  sedangkan data primer didapatkan langsung  dari pengukuran di lapangan dan analisa contoh tanah di laboratorium.

Gambar 1. Lokasi Percobaan Sumur Resapan

Pengukuran kecepatan resapan air  sumur resapan dilakukan pada daerah hulu, tengah dan hilir DAS di Jabodetabek.  Pemilihan lokasi sumur resapan didasarkan pada kelompok hidrologi tanah dengan  mengacu pada SCS National Engineering Handbook, Section 4, Hydrology (1971) dan  Ward and Elliot (1995). Lokasi pengukuran  sumur resapan daerah hulu (Tugu Utara, Cakar Dipa dan Jogjokan) merupakan  gabungan kelompok hidrologi tanah A dan  B, yang mempunyai sifat tingkat drainase  cepat sampai sedang, tekstur sedang – kasar,  dan infiltrasi cepat – sangat cepat. Lokasi  pengukuran sumur resapan pada daerah  tengah (Bojong Gede – Cilodong –  Margonda) merupakan daerah yang  mempunyai grup hidrologi tanah B dan C,  yang mempunyai tekstur sedang – halus, drainase sedang dan infiltrasi cepat – sedang.   Lokasi pengukuran sumur resapan daerah hilir (Bekasi – Rawa Lumbu – Grogol)  merupakan kelompok hidrologi tanah C dan D, yang bertekstur halus dan infiltrasi  sedang – rendah (Gambar 1). Selain pengukuran resapan pada sumur resapan  juga dilakukan pengambilan contoh tanah  untuk dianalisa sifat-sifat fisik tanah di laboratorium.

Sumur resapan percobaan dibangun  dengan menggali tanah yang berbentuk empat persegi panjang dengan dimensi  kurang lebih panjang 80 cm, lebar 40 cm, dan kedalaman 100 cm. Contoh tanah  diambil pada berbagai kedalaman, untuk contoh tidak terganggu (undisturbed)  menggunakan ring contoh tanah dan yang terganggu (disturbed) dengan kantong  plastik. Analisa parameter tekstur, kepadatan  tanah (bulk density), ruang pori tanah, kadar  air, dan permeabilitas di laboratorium Pusat Penelitian Tanah Bogor.

Pengukuran kecepatan resapan pada  sumur dilakukan dengan mengisi sumur dengan air sampai mendekati penuh dan  kemudian dicatat penurunan permukaan air  sumur dan waktu sampai penurunannya dianggap tetap.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi DAS di Jabodetabek

Curah Hujan

Curah hujan merupakan faktor utama  yang mengendalikan proses daur hidrologi  di suatu DAS (Asdak, 1995). Intensitas  hujan yang melebihi kemampuan tanah untuk meresapkan air akan menjadi aliran  permukaan. Aliran permukaan inilah yang  perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin  supaya tidak menimbulkan kekeringan dan banjir.

Distribusi curah hujan mempunyai  pola yang berbeda-beda menurut ruang dan  waktu (Viessman. et al.,1989). Pada wilayah  Indonesia umumnya kejadian hujan lebih  didominasi oleh hujan orografis, semakin ke  arah pegunungan curah hujan semakin besar.  Tetapi untuk kasus di Jabodetabek pola  curah hujan agak berbeda, khususnya di  Empang-Bogor (wilayah tengah). Analisa  curah hujan tahunan berdasarkan data  stasiun curah hujan yang mewakili daerah  hulu (Stasiun Citeko, 920 meter dpl), tengah  (Stasiun Empang, 234 meter dpl) dan hilir  (Stasiun Cengkareng, 9 meter dpl) selama periode tahun 1973 – 2005, menunjukkan  daerah tengah mempunyai curah hujan  tahunan lebih besar (3.536 mm/tahun)  dibandingkan dengan daerah hulu (2.534  mm/tahun), sedangkan di daerah hilir jauh lebih kecil lagi (1.447 mm/tahun).

Berdasarkan fluktuasi hujan tahunan,  daerah tengah menunjukkan nilai yang relatif konstan bila dibandingkan dengan  daerah hulu maupun hilir. Pada tahun 1987  yang mempunyai hujan tahunan tinggi,  tercatat di Stasiun Empang lebih dari 464  mm di atas rata-rata, sedangkan pada Stasiun  Citeko lebih dari 966 mm dan Stasiun  Cengkareng lebih dari 653 mm di atas rataratanya.  Begitu juga pada tahun 2003  merupakan tahun dengan hujan yang rendah,  pada Stasiun Empang curah hujan masih  diatas rata-rata sebesar 364 mm, sedangkan  Stasiun Citeko dan Stasiun Cengkareng,  masing-masing sebesar 1.534 mm dan 1.147 mm, di bawah rata-ratanya.

Berdasarkan jumlah curah hujan  yang besar dan fluktuasi tahunan yang relatif  kecil menunjukkan bahwa wilayah tengah  DAS di Jabodetabek (Ciawi, Empang,  Hambalang, Cimanggu, Atang Sanjaya dan  sekitarnya) merupakan daerah yang berpotensi sebagai sumber air.

Karakteristik Tanah

Hasil analisa tanah berdasarkan  kelompok hidrologi tanah menunjukkan, terutama pada daerah yang mencakup antara  Depok sampai Manggarai sebagian besar  (sekitar 59%) termasuk kedalam grup C.  Kelompok hidrologi tanah ini mempunyai  sifat drainase baik, dan tekstur sedang sampai halus serta laju infiltrasi rendah.

Kelompok hidrologi tanah D yang  mencakup daerah dari Manggarai sampai ke  arah pantai, sekitar 22% dari wilayah kajian,  mempunyai sifat tekstur halus dan laju  infiltrasi sangat rendah, dan hanya sebagian  kecil termasuk yang mempunyai infiltrasi  sedang sampai tinggi. Kelompok hidrologi  tanah B, yang mencakup sekitar 12% dari  wilayah kajian yang tersebar di sekitar Bogor dan kelompok hidrologi tanah A  sekitar 7% terutama pada hulu Sungai Ciliwung dan Sungai Bekasi.

Karakteristik tanah ini menunjukkan  bahwa wilayah kajian sebagian besar mempunyai kapasitas infiltrasi rendah,  sehingga ketika hujan hanya sebagian kecil  yang dapat diresapkan ke dalam tanah.  Sedangkan untuk daerah-daerah di hulu  Sungai Ciliwung dan Sungai Bekasi air  hujan mempunyai potensi yang besar untuk  meresap ke dalam tanah, tetapi  permasalahannya wilayah ini sebagian besar sudah menjadi areal yang kedap air.

Daerah Kedap Air

Wilayah Jabodetabek merupakan  kawasan yang aktivitas pembangunannya sangat pesat, sebagaimana dikemukakan  Syarifuddin (2003) investasi di Kawasan  Barat Indonesia (KBI) sebesar 80% dari total  nasional dan 75% dari investasi di KBI  tersebut berada di Jabodetabek. Pada sisi  lain dengan pertumbuhan penduduk yang  tinggi mengakibatkan kebutuhan lahan untuk bangunan/perumahan semakin besar.  Berdasarkan analisa data penggunaan lahan  2006 menunjukkan bahwa setengah lahan DAS di Jabodetabek merupakan daerah  terbangun atau seluas 89.308 ha, sedangkan  luas lahan hutan hanya 4% (7.445 ha), lahan  untuk pertanian kering 23% (39.339 ha), sawah, situ, dan empang 7% (12.651 ha), dan semak/rumput 15% (26.512 ha).

Lahan terbangun merupakan  pencerminan dari tanah yang kedap air. Pada areal pemukiman tanah kedap air bisa  mencapai 70-90% bahkan pada lokasi-lokasi   tertentu semua tanah kedap air, seperti di  kawasan industri dan bisnis. Ketika terjadi  hujan, pada lahan terbangun hanya sebagian  kecil air yang dapat diresapkan kedalam  tanah dan sebagian besar menjadi limpasan, yang selanjutnya dapat mengakibatkan banjir.

Perubahan penggunaan lahan akan  berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi dan  tampungan permukaan (surface storage)  atau gabungan antara keduanya, dan efek  selanjutnya adalah mengakibatkan  perubahan aliran permukaan (U.S. SCS,  1972). Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran  permukaan, sedangkan penurunan kapasitas  tampungan permukaan berpengaruh pada  kecepatan aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS.

Peresapan Air Pada Sumur Resapan

Hasil pengukuran imbuhan pada  sumur resapan di daerah hulu, tengah dan hilir DAS di Jabodetabek disajikan pada  Tabel 1. Pada daerah hulu kecepatan imbuhan pada tiga sumur resapan  mempunyai pola yang sama, pada saat awal  kecepatan besar dan secara bertahap  kecepatannya menurun sampai mencapai  kecepatan yang konstan (Gambar 2).  Kecepatan awal berkisar antara 6 – 10,4  cm/menit (Jogjokan 10,4 cm/menit, Cakar  Dipa 10,3 cm/menit, dan Tugu Utara 6  cm/menit), kecepatan yang cukup besar ini  terkait dengan ruang pori tanah. Pada awal  pemasukan air ke dalam sumur resapan, air  meresap/mengisi pori tanah pada dinding  sumur, semakin besar ruang pori tanah  semakin cepat resapan dari dinding sumur  dan ini juga terkait dengan kadar air saat  pengukuran, tetapi hasil analisa laboratorium  kadar air pada tanah saat pengukuran tidak jauh berbeda (Tabel 2).

Gambar 2. Hasil Pengukuran Sumur Resapan di Daerah Hulu dan Tengah

Pola imbuhan pada sumur resapan di  daerah tengah DAS di Jabodetabek juga menyerupai pola resapan pada wilayah hulu,  tetapi kecepatan resapan pada saat awal  lebih kecil (Tanah Baru 1,8 cm/menit,  Cilodong 3,3 cm/menit, dan Bojong Gede 5  cm/menit) (Gambar 2). Penurunan kecepatan  resapan ini terkait dengan ruang pori  total tanah di daerah tengah DAS yang  memiliki nilai lebih kecil dibandingkan  dengan wilayah hulu, yaitu berkisar antara 56 – 70%.

Pola imbuhan di wilayah hilir juga  mempunyai pola yang sama dengan daerah  hulu maupun tengah, tetapi kecepatan awal  resapan lebih rendah dari daerah tengah,  yaitu Cikunir 3,8 cm/menit dan Rawa  Lumbu 0,6 (Gambar 3). Kecepatan awal  yang semakin kecil ini juga disebabkan oleh ruang pori tanah yang juga semakin kecil  ( 53 – 54%) dari pada daerah hulu maupun  hilir. Menurut Arsyad (1989) pori-pori tanah  berukuran besar dapat disebabkan oleh  struktur kasar atau agregasi butir-butir.  Semakin kecil ukuran butir tanah maka  ruang pori total juga semakin sempit, sehingga kemampuan tanah untuk  melewatkan air akan semakin besar. Hasil  analisa contoh tanah pada lokasi pengukuran  sumur resapan menunjukkan bahwa pada  daerah hulu tekstur tanah lebih kasar, ukuran  butir cenderung fraksi pasir – debu, sedangkan  daerah tengah tekstur tanah lebih halus  (debu – liat), dan daerah hilir bertekstur lebih halus lagi, yaitu liat (Tabel 2).

Kecepatan rata-rata penurunan air  sumur resapan pada daerah hulu DAS di Jabodetabek berkisar antara 0,94 – 1,14  cm/menit, daerah tengah berkisar antara 0,63 – 0,68 cm/menit, dan daerah hilir   berkisar antara 0,24 – 0,43 cm/menit.  Kecepatan penurunan air sumur resapan  yang semakin kecil ke arah hilir ini juga  sejalan dengan resapan dinding sumur  resapan yang semakin kecil ke arah hilir.  Pada daerah hulu resapan dinding sumur  resapan per cm2 berkisar antara 0,12 – 0,13  m3/menit, daerah tengah berkisar antara 0,08  – 0,09 m3/menit, dan daerah hilir berkisar antara 0,04 – 0,05 m3/menit (Tabel 1).

Kecepatan resapan air pada sumur  resapan tersebut berbanding lurus dengan  permeabilitas tanah, sedangkan permeabilitas  tanah dipengaruhi oleh tekstur tanah,  pori-pori tanah, dan kepadatan tanah (bulk density).

Hasil analisa contoh tanah (Tabel 2)  menunjukkan bahwa daerah hulu mempunyai permeabilitas tanah yang  semakin besar bila dibandingkan daerah  tengah maupun hilir. Begitu juga untuk  tekstur tanah, dan pori tanah ke arah hulu  semakin besar tapi nilai kepadatan tanah semakin kecil.

Gambar 3. Hasil Pengukuran Sumur Resapan di Daerah Hilir

Hal ini juga diperkuat oleh analisa  hidrologi tanah daerah hulu termasuk grup A  dan B yang mempunyai tingkat infiltrasi  cepat – sangat cepat dan tekstur sedang – kasar yang didominasi oleh fraksi pasir.  Daerah tengah termasuk grup B dan C yang  mempunyai tingkat infiltrasi cepat – sedang  dan tektur sedang – halus, dan daerah hilir  termasuk grup C dan D yang mempunyai  tingkat infiltrasi sedang – lambat dan tektur halus – sangat halus.

Seperti telah dikemukakan di atas  bahwa sumur resapan sangat efektif untuk mengurangi kekeringan dan banjir. Kedua  fungsi ini dapat dicapai apabila sumur   resapan dibangun pada daerah yang  tanahnya mempunyai permeabilitas yang  cukup tinggi, tetapi sebaliknya bila lokasi  sumur resapan pada tanah yang  permeabilitas rendah maka sumur resapan  hanya berfungsi sebagai tampungan air  hujan. Pada tanah yang memiliki  permeabilitas rendah, kemampuan sumur  resapan untuk meresapkan air sangat  terbatas, sehingga hanya sebagian kecil air hujan yang dapat menambah cadangan air
tanah.

Berdasarkan analisa kecepatan  resapan air pada sumur resapan dan analisa permeabilitas, porositas, tekstur dan bulk  density tanah DAS di Jabodetabek yang  telah diuraikan di atas menunjukkan bahwa  sumur resapan di daerah hulu mempunyai  kecepatan resapan yang relatif tinggi bila  dibandingkan daerah tengah dan semakin  kecil pada daerah hilir. Dengan demikian,  untuk daerah hulu apabila sumur resapan  diisi oleh air permukaan akan dengan cepat  diresapkan oleh dinding-dinding sumur yang  kemudian akan meningkatkan pasokan air tanah.

Pada daerah tengah fungsi sumur  resapan sama dengan wilayah hulu tetapi kecepatan resapan lebih kecil. Untuk  mengoptimalkan sumur resapan di daerah  tengah kapasitas tampung airnya diperbesar,  terutama memperbesar luasan dinding  sumur, sehingga meningkatkan kapasitas  total dari sumur resapan. Sumur resapan  pada wilayah hilir DAS di Jabodetabek lebih  berfungsi sebagai tampungan air permukaan,  karena di wilayah ini kecepatan resapan  tergolong kecil. Sumur resapan lebih berfungsi sebagai pengendali banjir.

KESIMPULAN

Sumur resapan sangat efektif untuk  pengendali banjir dan sekaligus menambah  pasokan air tanah terutama pada hulu DAS  di Jabodetabek dengan debit resapan dinding  sumur per cm2 berkisar antara 0,12 – 0,13 m3/menit. Sumur resapan daerah hilir  mempunyai debit resapan dinding sumur per  cm2 berkisar 0,04 – 0,05 m3/menit, sehingga  lebih berfungsi sebagai tampungan air  permukaan dan efektif untuk pengendali  banjir. Sumur resapan semakin efektif bila  dimensi perbandingan luas dinding dengan  volume sumur semakin besar dan dibangun  pada tanah yang mempunyai permeabilitas  tinggi, ruang pori besar, tektur pasir, dan kepadatan tanah rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S., 1989, Konservasi Tanah dan Air, IPB Press, Bogor, 289 hal.

Asdak, Chay, 1995, Hidrologi dan  Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.  Gadjah Mada University Press. Yokyakarta, 571 hal.

Fetter, C.W., 1994, Applied Hydrogeology,  MacMillan College Publishing Company, New York USA, 691 pp.

Fakhrudin, Iwan R., Dini D., Idung R. &  Nono S., 2005, Kajian Pola Penggunaan Lahan untuk Mengendalikan  Banjir Sungai Ciliwung, Laporan Akhir Kumulatif, Puslit Limnologi LIPI, Bogor, 97 hal.

Syarifuddin Akil, 2003, Kebijakan Rencana  Tata Ruang Wilayah Nasional dalam  Manajemen Bioregional Jabotabek :  Tantangan dan Harapan, Puslit Biologi LIPI, Bogor, 13-27 hal.

Starosolszky, O., & Stelezer, K., 1986,  Characteristics of Surface Water, In : Starosolszky, O (ed). Applied Surface  Hydrology, Water Resources Publication, USA, Pages 1-39.

U.S.Soil Conservation Service, 1972,  Hydrology, National Engineering Handbook, Section 4, Washington D.C.

Viessman.W, Lewis.G.L., & Knapp.J.W.,  1989, Introduction To Hydrology, Harper & Row Publishers, Inc. New York, USA, 780 pp.

Ward, A.D., & Elliot, W.J, 1995,  Environmental Hydrology, Lewis Publishers, New York, USA.

1 Komentar »

  1. saya tertarik dengan tullisan ini. apakah saya bisa mendapatkan dokumen file /buku makalah kajian sumur resapan ini. ?
    saat ini saya sedang melakukan penelitian yang berkaitan dengan sumur resapan juga. mohon balasannya.
    terimaksaih sebelumnya

    Komentar oleh zuliswati — Maret 18, 2011 @ 6:53 am


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 171 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: