BebasBanjir2015

Hidayat Pawitan

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP HIDROLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI

Land Use Changes and Their Impacts on Watershed Hydrology

Hidayat Pawitan

Laboratorium Hidrometeorologi FMIPA – IPB, Bogor 16144 hpawitan @indo.net.id

ABSTRAK

Pembangunan nasional selama tiga-empat dekade terakhir ini telah membawa perubahan besar, tidak saja pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat, akan tetapi juga pada pola penggunaan lahan yang telah memberi dampak sangat nyata terhadap fungsi-fungsi daerah aliran sungai dan tanggap hidrologi daerah aliran sungai. Sejumlah kasus perubahan penggunaan lahan di beberapa daerah aliran sungai di Indonesia disajikan dengan bahasan mengenai hubungan sebab-akibat dari aspek hidrologi daerah aliran sungai, khususnya yang menyangkut daya dukung daerah aliran sungai dan frekuensi banjir. Karakteristik hidrologi dan limpasan sejumlah sungai utama di Indonesia (Jawa) disajikan dengan menunjukkan tingkat perkembangan penggunaan lahannya. Disimpulkan bahwa perubahan penggunaan lahan telah terjadi dalam skala luas, khususnya di Pulau Jawa, dan telah memberi dampak nyata terhadap hasil air daerah aliran sungai dengan semakin meningkatnya frekuensi kejadian ekstrem, seperti banjir dan kekeringan. Yang juga perlu dicermati adalah bahwa dalam kurun waktu setengah abad terakhir telah terjadi penurunan jumlah curah hujan secara luas di Jawa dan beberapa wilayah lain di Indonesia dibandingkan dengan waktu setengah abad sebelumnya yang kelihatannya berhubungan dengan penurunan luas hutan.

ABSTRACT

The national development in the last three to four decades has brougth about significant impacts not only to the people’s socio-economy, but also to land use changes with serious consequences on watershed functions and hydrologic responses. Cases of land use changes in some areas in Indonesia will be presented with discussion on the causes and effects of watershed hydrology, especially in relation to carrying capacity and sensitivity of the watersheds and flood frequency. Hydrologic and discharge characteristics of some major rivers in Indonesia (especially in Java) will be given in relation to the status of watershed development. It was concluded that land use changes have occurred at large scale, especially in Java, and significant impacts on water yields of the river basins were observed, with increased frequencies of extreme events such as floods and droughts. Also of importance is the drop of present mean annual rainfall compared to earlier time of this century in Java and some other regions in Indonesia, which is believed to be related to the disappearance of proper forest land covers.

PENDAHULUAN

Perkembangan pembangunan nasional selama tiga sampai empat dekade terakhir ini dicirikan oleh semakin menurunnya kontribusi ekonomi sektor pertanian terhadap total GDP (Gross domestic product) dari 47,2% pada tahun 1970 menjadi 24,8% pada tahun 1980 dan tinggal 17,6% pada tahun 1990 (ADB, 1994). Penurunan andil ini bertentangan dengan meningkatnya tekanan penduduk terhadap sumber daya lahan dan air yang telah menunjukkan sejumlah dampak negatif yang serius seperti perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali berupa perambahan hutan dan penebangan liar ke daerah hulu, hilangnya tutupan lahan hutan menjadi jenis penggunaan lahan lainnya yang terbukti memiliki daya dukung lingkungan lebih terbatas, sehingga bencana banjir dan kekeringan semakin sering terjadi, disertai bencana ikutannya, seperti tanah longsor, korban jiwa, pengungsian penduduk, gangguan kesehatan, sampai kelaparan, dan anak putus sekolah.

Semakin sering terjadinya bencana banjir dan kekeringan ini telah ditunjukkan dengan peningkatan frekuensi kejadian ekstrem tersebut, sehingga diperkirakan banjir dan kekeringan akan terjadi setiap tahun dengan intensitas yang semakin kuat pula. Memasuki musim hujan tahun 2002 lalu dan terjadi lagi tahun 2003 ini yang dikejutkan dengan bencana Bohorok, dan berlanjut dengan bencana banjir yang terus meluas sehingga menjadi berita setiap hari lewat media cetak dan elektronik, diprakirakan akan mencapai puncaknya bersamaan puncak musim hujan pada bulan Januari 2004 mendatang. Kerugian material dan ekonomi yang diakibatkannya juga cenderung meningkat. Hanya dari banjir Jakarta 2002 selama satu-dua minggu saja tercatat kerugian ekonomi mencapai 5-6,7 triliun rupiah, dan tentunya jauh lebih besar untuk tingkat nasional. Dari sektor pertanian tercatat rerata luas padi sawah yang terkena banjir mencapai 100 ribu ha/tahun, sedang akibat kekeringan mencapai >200 ribu ha/tahun dan kebakaran hutan >100 ribu ha pada tahun-tahun El Nino (263.991 ha tahun 1997). Rekor kebakaran hutan terjadi tahun 1982-1983 di Kalimantan Timur dengan total luas 3 juta ha dan estimasi kerugian sebesar 9 milyar USD atau setara 77 triliun rupiah dengan kurs saat ini.

Peningkatan deforestasi dengan dampak negatifnya telah dikenali terjadi di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di Jawa sejak awal abad 20 lalu, dan disadari sebagai awal permasalahan lingkungan hidup di Indonesia. Mohr (1906 dalam ECI, 1994) mendapatkan bahwa pengaruh merugikan pada lahan sawah beririgasi untuk air dari Sungai Pekacangan, anak sungai dari Serayu, yang mengandung deposit kelabu dari butiran kuarsa, telah menurunkan kesuburan dan produksi beras. Laju erosi untuk sebagian daerah Serayu diduga mencapai 5.700 t/km2 di Sojokerto sampai 24.600 t/km2 untuk Sungai Pekacangan. Rutten (1917 dalam ECI, 1994) membandingkan hasil sedimen layang berdasarkan ciri litologi dan menyimpulkan bahwa laju penggundulan sangat ditentukan oleh jenis litologi setempat. Material volkanik memiliki laju erosi rendah (0,1-0,4 mm/tahun) dibandingkan dengan jenis batuan marl (1,6-5,0 mm/tahun). Sedangkan Van Dijk dan Vogelzang (1948 dalam ECI, 1994) membandingkan hasil sedimen DAS Cilutung di Jawa Barat untuk masa 1911-1912 dan 1934-1935, masing-masing 900 m3/km2 pada curah hujan tahunan 1.797 mm dan 1.900 m3/km2 pada curah hujan tahunan 1.941 mm. Menurut Thijsse (1974, 1976 dalam ECI, 1994) sekitar 40% dari total lahan kering Indonesia, sejumlah 100 juta ha sudah dalam kondisi rusak (desert land). Perkiraan konservatif sebesar 80 juta ha dari lahan marginal ini akan terjadi menjelang tahun 2000.

Kondisi hidrologi Pulau Jawa dan Indonesia umumnya saat ini dicirikan oleh meningkatnya kejadian ekstrem seperti banjir dan kekeringan dengan kandungan cemaran yang tinggi di badan-badan air seperti sungai dan danau. Krisis air juga semakin terasa, terutama menjelang dan selama musim kemarau, khususnya untuk Pulau Jawa yang sudah diantisipasi akan mengalami kelangkaan air yang serius akibat tekanan penduduk yang akut dan kondisi perubahan penggunaan lahan yang buruk. Diperkirakan bahwa sebagai dampak yang perlu dicermati dari perubahan penggunaan lahan dalam skala luas adalah telah terjadinya penurunan curah hujan dan rezim hidrologi di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap aspek hidrologi DAS dan frekuensi banjir menjadi fokus kajian dalam tulisan ini.

KARAKTERISTIK HIDROLOGI SUMBER DAYA AIR BEBERAPA SUNGAI UTAMA

Informasi dasar mengenai karakteristik hidrologi sejumlah sungai utama di Indonesia dan negara-negara Asia-Pasifik dapat diperoleh di Catalogue of Rivers 1995, 1997, 2000, dan 2002 (Publikasi Unesco-IHP) yang memuat karakteristik 10

sungai di Indonesia seperti disajikan pada Tabel 1 dan 2. Delapan dari sepuluh sungai tersebut terdapat di Jawa dengan total luas seluruh DAS mencapai separuh dari luas Pulau Jawa dan total rerata debit sebanding dengan proporsi luas DAS. Status penggunaan lahan dari sepuluh DAS utama ini sudah didominasi oleh lahan budi daya dan perkotaan yang menunjukkan tingkat perkembangan wilayah yang ada. Penggunaan lahan pertanian dan padi sawah telah mencapai 50-85%, dan perkotaan mencapai hampir 30% untuk Citarum dan Brantas, sedangkan luas lahan hutan kebanyakan sudah di bawah 20%. Data terakhir dari Badan Planologi Dephut menyatakan bahwa luas tutupan hutan Pulau Jawa saat ini tinggal 4%.

Karakteristik debit sungai sebagaimana tercantum pada Tabel 2 menunjukkan variasi aliran yang tinggi, baik untuk rezim aliran sungai-sungai tertentu maupun antar-sungai. Rasio debit maksimum/minimum bervariasi dari kurang dari 20 kali sampai lebih dari 100 kali, walau perlu dicermati juga akurasi informasi debit yang diberikan ini antara debit maksimum sesaat atau rerata bulanan. Sebagai indikator penting untuk menilai karakteristik hidrologi banjir dari suatu sungai adalah debit jenis (specific discharge) yang dibataskan sebagai besar debit per satuan luas (m3/s/100 km2). Nampak bahwa sungai-sungai utama di Indonesia ini memiliki sifat banjir yang moderate dibandingkan dengan sungai-sungai di dunia, yaitu dengan debit jenis (Qmax/A) antara 10-80 m3/s/100 km2 kecuali Tuntang dan Jeneberang yang melampaui 100 m3/s/100 km2 atau termasuk tinggi. Sebagai ukuran ketersediaan air dapat dinyatakan debit jenis terhadap debit rerata yang menghasilkan besaran antara 4-10 m3/s/100 km2. Debit minimum menyatakan kondisi ketersediaan air pada musim kering yang tentunya harus digunakan terbatas untuk jenis penggunaan air tertentu saja, seperti penggunaan domestik dan industri, dan tidak untuk pertanian.

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI BEBERAPA DAS

Perkembangan penggunaan lahan di sejumlah daerah aliran sungai-sungai di Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir ini telah memberi dampak berupa peningkatan frekuensi, debit, dan volume banjir yang telah menggenangi wilayah permukiman dan infrastruktur umum yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian material dan non-material. Kejadian banjir memasuki dan selama musim hujan 2002 yang lalu menunjukkan tingkat gangguan yang sulit diterima (intolerable) yang memerlukan tindakan koreksi untuk menghindari terulangnya kejadian serupa. Pertanyaannya adalah: Apakah bentuk tindakan koreksi yang diperlukan? Apakah hal ini mungkin dilakukan dalam jangka waktu dekat ini? Untuk ini kajian hidrologi DAS sangat diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai fungsi hidrologi, khususnya yang menyangkut hubungan sebab-akibat yang dinyatakan dengan koefisien limpasan dan waktu konsentrasi, serta faktor-faktor yang berperan, seperti kondisi penggunaan lahan dan perubahannya.

DAS Ciliwung: Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai utama yang bermuara ke Teluk Jakarta dengan total luas daerah aliran 347 km2 dan panjang sungai utama 117 km. Estimasi debit banjir 2-tahunan menurut Nedeco-PBJR (1973) adalah 100 m3/s dan debit banjir 25-tahunan sebesar 200 m3/s, dan nampaknya nilai estimasi ini telah berubah sejalan dengan perubahan penggunaan lahan yang telah terjadi dalam tiga dasawarsa terakhir ini. Debit banjir 100 tahunan diperkirakan telah meningkat dari 370 m3/s (1973) menjadi 570 m3/s (2000) dan hal ini terkait erat dengan perubahan penggunaan lahan di wilayah DAS, khususnya di wilayah hulu.

Pola penggunaan lahan di wilayah DAS Ciliwung masih didominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan, yaitu 61% dari luas DAS Ciliwung Hulu dan 73% dari luas DAS Ciliwung Tengah. Kawasan hutan didapatkan di DAS Ciliwung Hulu seluas 5.310 ha, sebagaimana secara lengkap ditunjukkan pada Tabel 3 berikut untuk kondisi tahun 1981 dan 1999, sedangkan Gambar 1 menunjukkan pola penggunaan lahan DAS untuk tahun 1999. Perbedaan total luas antara dua tahun pengamatan tersebut dikarenakan pengukuran luas diperoleh dari dua peta dengan sumber berbeda yang masing-masing diperoleh sebagai hasil interpretasi citra landsat pada tahun-tahun bersangkutan.

Perubahan penggunaan lahan dari kondisi dua tahun pengamatan ini menunjukkan penurunan luas hutan di Ciliwung Hulu seluas 2 ha, perkebunan seluas 35 ha, sawah total seluas 62 ha, dan lahan tegalan/ladang seluas 152 ha. Penurunan penggunaan lahan serupa didapati juga pada kawasan tengah. Peningkatan yang mencolok terjadi pada luas kawasan permukiman, baik di Ciliwung Hulu maupun Tengah, masing-masing meningkat dari 255 ha menjadi 506 ha untuk Ciliwung Hulu dan dari 1.147 ha menjadi 1.961 ha untuk Ciliwung Tengah, atau peningkatan masing-masing sebesar 98% dan 71%, yang diperoleh terutama dari pengurangan luas sawah dan tegalan, baik di kawasan hulu maupun tengah.

Perubahan pola penggunaan lahan ini memberi dampak pada pengurangan kapasitas resapan, terutama dilihat dari proporsi perubahan luasan permukiman ini di Ciliwung Tengah, sehingga akan meningkatkan laju limpasan permukaan yang menghasilkan banjir di kawasan hilir Ciliwung, sampai ke Jakarta. Rachman (1992) menyatakan penurunan nyata laju infiltrasi untuk berbagai penggunaan lahan di Ciliwung Hulu mulai dari hutan alami, pertanian, kebun teh, dan permukiman.

Gambar 1. Peta penggunaan lahan DAS Ciliwung Hulu – Tengah tahun 1999

Kabupaten Batanghari: Kabupaten Batanghari memiliki luas 1.054.104 ha, dengan jumlah penduduk 294.381 jiwa (29 jiwa/km2) pada tahun 1986 dan meningkat menjadi 380.097 jiwa (38 jiwa/km2) pada tahun 1992 atau bertambah 31% dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 466.356 jiwa pada tahun 2004. Tabel 4 dan Gambar 2 menunjukkan bahwa laju perubahan lahan hutan dataran rendah maupun tinggi (LHF) menjadi penggunaan lahan lain adalah 2% atau 132 ha/tahun. Wujud dari alih fungsi lahan LHF adalah berupa lahan bekas tebangan (LLOF), yaitu sebesar 790 ha yang terjadi selama 6 tahun. Hutan rawa gambut (PSF) juga telah mengalami perubahan fungsi, yaitu menjadi LLOF, areal tanaman/vegetasi sekunder (SR), dan lahan untuk tanaman padi huma serta tanaman pangan lain (MUR) berturut-turut seluas 14.810 ha, 167 ha dan 10 ha yang juga terjadi selama kurun waktu 6 tahun. Laju perubahan lahan lain yang juga cukup dominan di Kabupaten Batanghari adalah bertambah luasnya lahan perkebunan karet (SHR). Pertambahan luas tersebut berasal dari perubahan fungsi lahan LLOF, SR, MFT (kebun buah-buahan, kayu manis dan kopi), dan MUR menjadi SHR. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka perubahan penggunaan lahan tertentu menjadi penggunaan lahan lain tampaknya mengikuti suatu pola yang khas, yaitu: (1) perubahan penggunaan lahan hutan menjadi penggunaan lahan lain adalah mungkin terjadi, tapi penggunaan lahan turunannya belum pernah ada yang kembali menjadi hutan, dan (2) perubahan penggunaan lahan terakhir di Kabupaten Batanghari pada umumnya berupa lahan perkebunan atau perkotaan, yaitu suatu lahan yang langsung memberi dampak ekonomi pada penduduk setempat (Dasanto, 2003).

Gambar 2. Peta penggunaan lahan Kabupaten Batanghari tahun 1986 dan 1992

Lampung Barat: Syam et al. (1997) memonitor dan mengkaji perubahan penggunaan lahan berbukit di Lampung Barat seluas 27 km2 selama periode 1970 sampai 1990 dan menyatakan bahwa penggunaan lahan telah berubah dari bentuk satu ke lainnya dalam interval waktu 6-8 tahunan. Pada tahun 1970 penggunaan lahan dicirikan oleh 50% hutan primer dan menjadi 13% pada tahun 1990, dan lahan perkebunan yang tidak tercatat pada tahun 1970 meningkat menjadi 60% pada tahun 1990. Lebih lanjut diamati perubahan dari tanaman monokultur (terutama kopi) pada tahun 1984 menjadi kebun campuran pada tahun 1990. Total lahan kering, termasuk perladangan, berkurang dari 21% pada tahun 1970 menjadi 0,1% pada tahun 1990. Hal ini menunjukkan perkembangan lahan perkebunan kopi di daerah perbukitan serta konversi menjadi lahan pertanian dan produksi sayuran di teras lereng di Propinsi Lampung. Peningkatan penduduk, termasuk transmigrasi, merupakan faktor utama dalam perubahan penggunaan lahan.

Lahan kritis dan rehabilitasi lahan: Dampak nyata dari perubahan penggunaan lahan ini adalah peningkatan erosi tanah dan meluasnya lahan-lahan kritis. Saat ini diperkirakan terdapat lahan kritis seluas 43 juta ha walaupun Tabel 5 menunjukkan status lahan kritis pada tahun 1988 seluas 13 juta ha dengan target laju rehabilitasi tahunan sebesar 500 ribu ha/tahun untuk periode 1976-1987.

PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP FUNGSI HIDROLOGI DAS

Pengaruh vegetasi terhadap hidrologi DAS: Perubahan penggunaan lahan dengan pembangunan kota tentunya tidak terhindarkan, mulai dari penggundulan hutan yang digantikan dengan permukaan kedap berupa atap perumahan, jalan-jalan, tempat parkir, bandara, dan sebagainya. Dampaknya secara nyata telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir. Tercatat bahwa antara tahun 1981 dan 1999 telah terjadi peningkatan kawasan permukiman untuk Ciliwung Hulu sebesar 100% dengan dampak berupa peningkatan debit banjir di Katulampa sebesar 68%, dan di Depok 24%, sedangkan peningkatan volume banjir adalah 59% untuk Katulampa dan 15% untuk Depok (Pawitan, 2002). Fakta hidrologi demikian telah lama melahirkan mitos yang menyatakan bahwa gunung dan hutan berperan menahan/menyimpan air hujan, serta menghindari terjadinya banjir dan kekeringan, yang sepertinya dapat diterangkan oleh hukum sebab-akibat. Persepsi yang keliru tentang hubungan hutan dan fungsi DAS seperti dibahas oleh Van Noordwijk et al. (2003) sangat relevan untuk disimak, khusus pada kesimpulan bahwa yang penting dipertahankan adalah adanya tutupan vegetasi dan lapisan serasah dan tidak semata dalam bentuk hutan. Setidaknya ada enam aspek pengaruh hutan terhadap fungsi hidrologi wilayah (Calder, 1998) yang dapat dicatat sebagai berikut:

  1. Hutan meningkatkan curah hujan: Walaupun awalnya sulit dibuktikan, saat ini dapat ditunjukkan bahwa hilangnya hutan juga diikuti oleh berkurangnya curah hujan seperti yang dialami oleh Pulau Jawa. Pengurangan hutan yang nyata dalam kawasan yang luas dalam tiga dekade terakhir ini telah menurunkan jumlah curah hujan tahunan sampai 1.000 mm/tahun atau 25% lebih rendah dari kondisi awal abad ini. Implikasi lebih serius dapat terjadi dengan hilangnya kawasan hutan
  2. Hutan meningkatkan aliran sungai: Yang terjadi adalah vegetasi hutan juga mengkonsumsi air dalam jumlah yang besar, sehingga hutan justru cenderung menurunkan aliran sungai. Walaupun untuk hutan yang mapan, telah terjadi keseimbangan hidrologi wilayah, sehingga penurunan ini tidak terasa lagi. Sebaliknya, dengan hilangnya hutan maka aliran sungai akan meningkat dengan banjirnya, sampai tercapai keseimbangan hidrologi yang baru setelah jangka waktu yang panjang (ratusan tahun).
  3. Hutan mengatur fluktuasi aliran sungai – meningkatkan aliran rendah musim kemarau: Pengamatan di Inggris dan juga di Afrika Selatan menunjukkan bahwa penghutanan kembali padang rumput dengan pohon pinus tidak hanya menurunkan aliran sungai sejumlah 440 mm/tahun, tetapi juga menurunkan aliran rendah musim kemarau sebesar 15 mm. Kesimpulannya adalah: pengaruh hutan terhadap aliran rendah sangat ‘site specific’ dan tidak ada jaminan penghutanan akan meningkatkan aliran rendah musim kemarau.
  4. Hutan mengurangi erosi: Hal ini sangat bergantung pada situasi dan kondisi, seperti intensitas hujan, kelerengan lahan, dan faktor geologi batuan, serta metode pengelolaan yang dipilih. Pengalaman di Jawa, hutan jati menunjukkan tingkat erosi yang tinggi.
  5. Hutan mengurangi banjir: Barangkali pengalaman dan pemberitaan media massa membenarkan pernyataan ini, padahal kajian hidrologi umumnya menunjukkan lemahnya hubungan penggunaan lahan dan banjir dan menyimpulkan kurangnya bukti ilmiah yang mendukung laporan bahwa deforestasi meningkatkan banjir. Perkembangan teori saat ini menunjukkan peran skala DAS dalam hubungan hujan-limpasan, di mana semakin luas DAS semakin kecil peran aktivitas manusia.
  6. Hutan meningkatkan mutu pasokan air: Kecuali pada daerah dengan iklim yang tercemar berat yang menghasilkan hujan asam, mutu air lazimnya lebih baik pada kawasan berhutan, walaupun sangat dipengaruhi oleh praktek pengelolaan hutan itu sendiri. Saat ini DAS berhutan menjadi andalan untuk menjamin pasokan air bersih kota-kota metropolitan dunia.

Perubahan jangka panjang keseimbangan hidrologi Pulau Jawa: perubahan tutupan lahan telah berlangsung di Pulau Jawa sejak awal abad lalu akibat konversi lahan dari hutan menjadi penggunaan lain dan hal ini berlangsung sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dari empat juta pada awal abad 19 yang meningkat menjadi 40 juta pada awal abad 20 dan saat ini mencapai 130 juta jiwa. Pertambahan penduduk ini berbanding terbalik dengan luas hutan yang terus berkurang hingga kurang dari 20%. Penggundulan lahan ini telah berlangsung sejak awal abad 20 dan meningkat secara luas dalam tiga dasawarsa terakhir ini. Dampak perubahan tutupan lahan dalam skala luas ini nampak dari perubahan fungsi hidrologi DAS yang berawal dari penurunan curah hujan wilayah dan diikuti oleh hasil air DAS. Gejala penurunan curah hujan Pulau Jawa nampak dari rataan curah hujan tahunan periode 1931-1960 dan 1968-1998 di banyak stasiun yang meliputi sepanjang Jawa bagian selatan yang mencapai selisih 1.000 mm antara dua periode pengamatan tersebut. Hasil serupa juga diamati dengan perubahan jangka panjang untuk DAS Citarum untuk masa 1896-1994 yang mengalami trend penurunan curah hujan dengan laju 10 mm/tahun dan diikuti oleh penurunan debit limpasan sebesar 3 mm/tahun.

Kepekaan sistem hidrologi DAS: Penilaian kepekaan dan daya dukung sistem hidrologi DAS akibat perubahan penggunaan lahan dapat dilakukan dalam tiga tahapan berikut: (i) pengembangan skenario perubahan penggunaan lahan; (ii) simulasi hidrologi wilayah; dan (iii) evaluasi dampak dari variasi hidrologi yang dihasilkan sistem sumber daya air yang meliputi aspek pengembangan dan pengelolaan serta menilai kinerja sistem akibat bencana seperti banjir dan kekeringan, operasi waduk, saluran, mutu air, serta berbagai isu lingkungan. Pawitan (1999) menyatakan bahwa perubahan pola penggunaan lahan berdampak pada penurunan ketersediaan air wilayah akibat meningkatnya fluktuasi musiman dengan gejala banjir dan kekeringan yang semakin ekstrim, dan ukuran DAS serta kapasitas sistem storage DAS, baik di permukaan (tanaman, sawah, rawa, danau/waduk, dan sungai) maupun bawah permukaan (lapisan tanah dan air bumi), akan merupakan faktor dominan yang menentukan kerentanan dan daya dukung sistem sumber daya air wilayah terhadap perubahan iklim. Dalam kaitan ini perubahan paradigma dari pengelolaan sumber daya air dari blue water menjadi green water menjadi relevan saat ini. Kajian dampak perubahan penggunaan lahan antara tahun 1981 dan 1999 menggunakan model hidrologi HEC-1 menunjukkan meningkatnya debit banjir Ciliwung Hulu (Katulampa) sebesar 68% dan untuk Ciliwung Tengah sebesar 24%, sedang peningkatan volume banjir untuk Ciliwung Hulu sebesar 59% dan Ciliwung Tengah sebesar 15%. Perubahan ini juga telah diikuti oleh terjadinya peningkatan andil daerah hulu terhadap debit dan volume banjir di daerah hilir DAS.

FREKUENSI BANJIR SEJUMLAH SUNGAI UTAMA

Informasi banjir untuk sungai-sungai utama di Indonesia dapat diperoleh dari data debit sungai yang dikompilasi oleh Balai Hidrologi – Puslitbang Air, Bandung. Pengamatan debit secara meluas dilakukan sejalan dengan program Pelita I, kecuali untuk sejumlah sungai seperti Citarum-Nanjung yang memiliki data debit sejak tahun 1918. Loebis (1998) memberikan inventori banjir untuk Indonesia dengan identifikasi luasan banjir. Untuk mengetahui tingkat banjir (flood severity) suatu sungai dapat digunakan ukuran debit jenis seperti ditunjukkan pada Tabel 2, dengan Sungai Tuntang dan Jeneberang dari sepuluh sungai tersebut memiliki debit jenis melampaui 100 m3/s/100 km2. Untuk Pulau Jawa sesungguhnya dicatat sejumlah sungai dengan langganan banjirnya. Dari debit jenisnya, selain Tuntang, hanya Sungai Citanduy dan Serayu saja yang masih dapat dikelaskan sebagai moderate (sedang), sedangkan sungai-sungai lainnya tergolong rendah. Untuk sungai-sungai dengan luas <100 km2 atau bagian hulu yang dicirikan oleh lereng yang curam, perlu dikenali juga bahaya bencana banjir bandang untuk daerah hulu sungai (headwater area) yang dapat menghasilkan debit sangat tinggi.

Dari data seri debit banjir yang tersedia dapat dihitung statistik deskriptif maupun frekuensi debit banjir sungai-sungai yang ada seperti ditunjukkan pada Tabel 6. Koefisien variasi dapat dijadikan ukuran untuk menilai variasi debit maksimum yang ada, dengan Sungai Progo, Tuntang, dan Jeneberang berada pada posisi paling bervariasi dari tahun ke tahun. Dari data seri ini juga dapat diketahui perubahan besar banjir dari tahun ke tahun. Rerata debit banjir Sungai Citarum pada Stasiun Nanjung telah mengalami peningkatan debit banjir dari 242 m3/s pada awal abad ini menjadi 300 m3/s pada masa setelah 1973. Peningkatan debit banjir ini berlawanan dengan kondisi debit rerata yang mengalami penurunan sebesar 3 mm/tahun, yang berarti memang telah terjadi peningkatan intensitas banjir di Sungai Citarum.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Perkembangan pembangunan nasional selama ini telah menunjukkan sejumlah dampak negatif berupa perubahan penggunaan lahan yang berakibat hilangnya tutupan lahan hutan menjadi jenis penggunaan lahan lainnya, yang terbukti memiliki daya dukung lingkungan lebih terbatas, sehingga bencana banjir dan kekeringan semakin sering terjadi, disertai bencana ikutannya seperti longsor, korban jiwa, pengungsian penduduk, gangguan kesehatan, sampai kelaparan dan anak putus sekolah.
  2. Karakteristik DAS sejumlah sungai utama di Indonesia, khususnya di Jawa, dicirikan oleh dominasi lahan budi daya pertanian dan padi sawah yang mencapai 50-85%, dan perkembangan perkotaan yang sudah mencapai 30% untuk Citarum dan Brantas, sedangkan luas hutan sudah dibawah 20%. Hal ini diyakini telah ikut mempengaruhi terjadinya peningkatan frekuensi dan volume debit banjir maupun kekeringan di banyak wilayah di Indonesia.
  3. Dari besaran debit jenis sungai-sungai utama dapat dikatakan bahwa sifat banjir sungai-sungai di Indonesia (Jawa) termasuk moderat dengan nilai 10-80 m3/s/100 km2 kecuali untuk Tuntang dan Jeneberang yang lebih dari 100 m3/s/100 km2.
  4. Perubahan penggunaan lahan hampir pasti mengikuti pola dari jenis penggunaan hutan ke pertanian, perkebunan, dan berlanjut ke permukiman sejalan dengan perkembangan wilayah perkotaan. Perubahan demikian jelas sangat berpengaruh terhadap neraca air wilayah dan rezim hidrologi DAS bersangkutan. Perlu dicermati adanya kesimpulan yang menyederhanakan dampak perubahan penggunaan lahan seolah-olah jenis tutupan vegetasi tidak banyak berperan dan mengabaikan air konsumtif tanaman.
  5. Kepekaan sistem hidrologi DAS terhadap perubahan penggunaan lahan dapat dievaluasi menggunakan model-model hidrologi dan ditentukan oleh sifat biofisik DAS bersangkutan. Untuk kasus DAS Ciliwung dengan model HEC-1 didapatkan bahwa dampak perubahan penggunaan lahan dari kondisi 1981 ke 1999 telah meningkatkan debit puncak banjir Ciliwung Hulu sebesar 68% dan Ciliwung Tengah sebesar 24%, sedangkan peningkatan volume banjir untuk Ciliwung Hulu adalah 59% dan Ciliwung Tengah 15%.

DAFTAR PUSTAKA

  • ADB. 1994. Climate Change in Asia: Indonesia. Regional Study on Global Environmental Issues. Manila.
  • Calder, I.R. 1998. Water Resources and Land Use Issues. System Wide Initiative on Water Management, Paper No.3, IWMI, Colombo, Sri Lanka.
  • Catalogue of Rivers for Southeast Asia and the Pacific – Volumes: 1(1995), 2(1997), 3(2000), and 4(2002). A Unesco-IHP Publication.
  • Dasanto, B.D. 2003. Proyeksi Perubahan Penggunaan Lahan Menggunakan Metode Regresi Logistik (Studi kasus: Kabupaten Batanghari, Jambi). Laporan Penelitian Departemen Geofisika dan Meteorologi-Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor (Tidak dipublikasikan).
  • ECI (Engineering Consultants International). 1994. Segara Anakan Conservation and Development Project – Indonesia. Draft Final Report. TA No. 1624 –INO (Unpublished).
  • Loebis, J. 1998. Inventory of Flooding Area in Indonesia and its Problems. Symposium on Japan-Indonesia IDNDR Project, Sep. 21-23, Bandung, Indonesia.
  • Nedeco-PBJR. 1973. Masterplan of Jakarta Urban Drainage System 1965-1985. Project Report by Nedeco and Proyek Banjir Jakarta Raya.
  • Pawitan, H. 1999. Penilaian kerentanan dan daya adaptasi sumber daya air terhadap perubahan iklim. Makalah Lokakarya Nasional – Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta, Februari 1999.
  • Pawitan, H. 2002. Present situation of water resources and water related disasters and the role of agro-environmental education in Indonesia. Presented at the Tsukuba Asian Seminar on Agricultural Education, Tsukuba, Japan, November 6-12.
  • Rachman, S. 1992. Infiltration under Different Land use Types at the Upper Ciliwung Watershed of West Java, INDONESIA. M.Sc. Thesis. University of Canberra, Australia.
  • Syam, T., H. Nishide, AK Salam, M. Utomo, AK Mahi, J. Lumbanraja, SG Nugroho, and M. Kimura. 1997 Land use and cover changes in a hilly area of South Sumatra, Indonesia (from 1970 to 1990). Soil Sci. Plant Nutr 43(3): 587-599.
  • Singgih, I. 2000. Kajian Hidrologi DAS Ciliwung Menggunakan Model HEC-1. Tesis M.S. PS Pengelolaan DAS. Program Pascasarjana IPB, Bogor.
  • Van Noordwijk, M., Farida, B. Verbist, and T.P. Tomich 2003. Agroforestry and watershed functions of tropical land use mosaics. The Second Asia Pacific Training Workshop on Ecohydrology, Cibinong-Bogor, 21-26 July (Unpublished).

Sumber: http://balittanah.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=63&Itemid=52

HIDROLOGI DAS CILIWUNG DAN ANDILNYA TERHADAP BANJIR JAKARTA

Hidayat Pawitan

Laboratorium Hidrometeorologi – Geomet IPB, Jl. Raya Pajajaran Bogor 16144. hpawitan @indo.net.id

ABSTRAK

Hidrologi DAS Ciliwung menurut toposekuennya dibagi ke dalam tiga bagian: hulu, tengah dan hilir, masing-masing dengan stasiun pengamatan arus sungai di Bendung Katulampa, Ratujaya, dan Pintu Air Manggarai. Karakteristik hidrologi DAS Ciliwung di ketiga bagian DAS ini dicirikan tidak hanya ditentukan oleh sifat-sifat hujannya, akan tetapi juga ditentukan oleh sifat topografi dan jenis penggunaan lahannya. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Jabotabek dan Bopunjur dalam tiga dasarwarsa terakhir ini telah mengakibatkan berubahnya fungsi hidrologi DAS yang secara nyata telah meningkatkan frekwensi dan intensitas banjir bagi DKI Jakarta.

Untuk wilayah Ciliwung Hulu didapatkan bahwa hujan harian lebih dari 50 mm dan hujan 3-harian melebihi 100 mm dapat dikelaskan sebagai hujan deras yang dapat menghasilkan banjir di daerah hilirnya. Dari analisis frekwensi untuk data hujan maksimum harian untuk stasiun Katulampa (1972 – 1997) menghasilkan nilai curah hujan maksium harian untuk periode ulang 5-tahunan sebesar 164 mm; 10 tahunan sebesar 189 mm; 25 tahunan sebesar 220 mm; 50 tahunan sebear 243 mm; dan 100-tahunan sebesar 266 mm. Nisbah limpasan bervariasi antara 10% sampai 100 % sedang waktu pemusatan sampai Manggarai antara 1,6 jam sampai 15,5 jam.

Kajian dampak perubahan penggunaan lahan antara 1981 dan 1999 menggunakan model hidrologi HEC-1 menunjukkan meningkatnya debit banjir Ciliwung Hulu (Katulampa) sebesar 68 persen dan untuk Ciliwung Tengah sebesar 24 persen, sedang peningkatan volume banjir untuk Cliwung Hulu sebesar 59 persen dan Ciliwung Tengah sebesar 15 persen. Perubahan ini juga diikuti oleh terjadinya perubahan andil debit dan volume banjir di daerah hilir DAS. Dengan model HEC-1 juga ditunjukkan bahwa pengelolaan lahan DAS hulu yang tepat sebagai tindakan koreksi dapat mengendalikan debit dan volume banjir di daerah hilir sampai tingkat yag diinginkan.

Kata kunci: hidrologi DAS Ciliwung, hujan maksimum, banjir, perubahan penggunaan lahan, andil banjir.

PENDAHULUAN

Perkembangan pengunaan lahan di daerah aliran sungai-sungai yang mengalir ke DKI Jakarta, khususnya kawasan Jabotabek dan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur) dalam tiga dasawarsa terakhir ini telah memberi dampak berupa peningkatan frekwensi, debit dan volume banjir yang telah menggenangi wilayah permukiman dan jalan-jalan di Jakarta, yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian material dan non material. Kejadian banjir menjelang akhir Januari sampai awal Pebruari 2002 yang baru lalu menunjukkan tingkat ganguan yang sulit diterima (intolerable) yang memerlukan tindakan koreksi untuk menghindari terjadinya kejadian serupa. Pertanyaannya adalah: apakah bentuk tindakan koreksi yang diperlukan? Dan apakah hal ini mungkin dilakukan dalam waktu dekat ini? Untuk itu kajian hidrologi DAS Ciliwung akan disajikan untuk memberikan gambaran mengenai fungsi hidrologi, khususunya yang menyangkut sifat hujan wilayah dan hubungan hujan-limpasan yang dinyatakan dengan koefisien limpasan dan waktu konsentrasi, serta faktor-faktor yang berperan, seperti kondisi penggunaan lahan dan perubahannya. Untuk mengetahui kontribusi DAS Ciliwung terhadap banjir di DKI Jakarta akan disajikan hasil kajian dengan model hidrolgi HEC-1 yang menduga dampak perubahan penggunaan lahan yang telah terjadi dalam dua dasawarsa terakhir, dan tindakan pengelolaan lahan yang diperlukan untuk menekan perubahan fungsi hidrologi yang tidak diingnkan.

HIDROLOGI DAS CILIWUNG

Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai utama yang bermuara ke Teluk Jakarta dengan total luas daerah aliran seluas 347 km2 dan panjang sungai utama 117 km. Estimasi debit banjir 2-tahunan menurut NEDECO-PBJR (1973) adalah 100 m3/s dan debit banjir 25-tahunan sebesar 200m3/s, dan nampaknya nilai estimasi ini telah berubah sejalan dengan perubahan penggunaan lahan yang telah terjadi dalam tiga dasawarsa terakhir ini. Di sebelah barat dibatasi oleh DAS Cisadane dan di timur dibatasi oleh DAS Citarum. Secara hidrologi DAS Ciliwung dapat dibagi menurut zonanasi toposekuennya, yaitu: bagian hulu yang merupakan pegunungan antara 300 m sampai 3000 m; bagian tengah yang merupakan daerah bergelombang dan berbukit-bukit dengan variasi ketinggian antara 100 m sampai 3000 m; dan bagian hilir, merupakan dataran rendah dengan topografi landai antara 0 m sampai 100 m.

DAS Ciliwung Hulu dengan luas 146 km2 terdiri dari 10 anak sungai, yang dalam kajian ini dibagi ke dalam 7 sub-DAS berikut: Tugu, Cisarua, Cibogo, Cisukabirus, Ciesek, Ciseuseupan, dan Katulampa. Bagian tengah Ciliwung seluas 94 km2 memiliki dua anak sungai: Cikumpay dan Ciluar, yang keduanya bermuara ke sungai Ciliwung. Dan bagian hilir seluas 82 km2 dibatasi sampai stasiun pengamatan Kebon Baru / Manggarai pada elevasi PP+8 m. Bagian lebih hilir dari Manggarai dicirikan oleh jaringan drainase, yang sudah dilengkapi dengan Kanal Barat sebagai penangkal banjir berupa saluran kolektor. Perlu dicatat bahwa pembagian demikian tidak memiliki batas yang tegas.

Ciliwung hulu dicirikan oleh sungai pegunungan yang berarus deras, variasi kelerengan yang tinggi, dengan kelerengan 2-15% seluas 70,5 km2 dan 15-45% seluas 52,9 km2, dan sisanya di atas 45%. Pengamatan debit harian di Katulampa menunjukan debit bulan maksimum pada bulan November. Bagian Tengah Ciliwung didominasi oleh kelerengan 2-15%, sedang bagian hilir didominasi oleh kelerengan 0 – 2% dengan arus sungai yang tenang. Keadaan airbumi tidak dapat dibatasi mengikuti batas DAS, terutama untuk bagian tengah dan hilir. Di bagian hulu masih banyak dijumpai mata-mata air yang bergantung pada komposisi litografi dan kelulusan batuan.

Bagian  hulu dan tengah menurut peta topografi yang dinyatakan oleh stasiun hidrometri Katulampa dan Ratujaya – Depok ditunjukan oleh Gambar 1 berikut:

Hujan Wilayah DAS: Curah hujan merupakan salah satu unsur dari daur hidrologi yang mempunyai peran penting dan paling sulit diprediksi, karena keterkaitan dan tingkat variabilitinya menurut ruang dan waktu. Keterbatasan lainya adalah kesulitan untuk dapat mengukur jumlah curah hujan dengan cukup teliti untuk kebanyakan kajian hidrologi dan klimatologi, yang menghasilkan pengetahuan kita terhadap curah hujan di suatu wilayah menjadi sangat terbatas, walau didapatkan data yang tercatat untuk sejumlah stasiun pengamatan sekalipun. Untuk mengatasi keterbatasan pengetahuan tersebut, berbagai upaya perlu dlakukan untuk dapat memahami karakteristik hujan di suatu wilayah terbatas, seperti yang dilakukan French dkk (1992) maupun Srikanthan dan McMahon (1985). Walau demikian, upaya ini tetap harus mengandal pada ketersediaan data pengamatan setempat, dimana dalam kajian ini akan dilakukan untuk daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, khususnya Ciliwung Hulu. Lebih spesifik lagi dalam kajian ini ingin diketahui karakteristrik curah hujan deras yang dapat menghasilkan hujan-hujan ekstrem karena perannya yang sangat menonjol dalam kajian hidrologi banjir maupun bagi kesejahteraan hidup masyarakat umumnya.

Cutrah hujan sebagai data dasar dalam analisis hidrologi dan klimatologi sering masih menjadi pembatas dalam upaya prediksi proses-proses hidrologi , khususnya dalam hubungan hujan-limpasan untuk suatu sistem daerah aliran sungai. Hal ini misalnya dapat dilihat mulai dari dominasi jumlah curah hujan dari hujan-hujan deras yang terbatas jumlah kejadiannya terhadap total hujan tahunan. Peran curah hujan deras inipun dapat diamati dari karakteristik hidrologi DAS yang dinyatakan oleh hubungan hujan-limpasan dalam suatu kawasan DAS, sebagaimana akan ditunjukan untuk DAS Ciliwung sebagai bahan bahasan terkait. Diharapkan bahwa tulisan ini dapat menjadi awal dari suatu kajian yang lebih mendalam mengenai karakteristik hidrologi DAS Ciliwung yang diperlukan sebagai landasan bagi pengelolaan DAS yang rasional.

Analisis frekwensi curah hujan deras. Dari analisis curah hujan deras didapatkan bahwa untuk daerah hilir Cliwung terjadi dengan rerata 5 kejadian hujan deras pada bulan Januari dan hanya 0,2 kejadian pada bulan Juli. Rerata intensitas hujan deras bervariasi antara 8 mm/jam sampai 20 mm/jam dengan lama kejadian 3 sampai 5 jam. Untuk wilayah Ciliwung Hulu didapatkan bahwa hujan harian lebih dari 50 mm dan hujan 3-harian melebihi 100 mm dapat dikelaskan sebagai hujan deras yang dapat menghasilkan banjir di daerah hilirnya. Sifat hujan deras ini dapat dianggap sama untuk wilayah hulu, tengah maupun hilir DAS Ciliwung. Dan hasil analisis frekwensi untuk data hujan maksimum harian untuk stasiun Katulampa (1972-1997) menghasilkan nilai curah hujan maksimum harian untuk periode ulang 5-tahunan sebesar 164 mm; 10-tahunan sebesar 189 mm; 25-tahunan sebesar 220 mm; 50 tahunan sebesar 243 mm; dan 100-tahunan sebesar 266 mm. Sedangkan statistik intensitas hujan maksimum pada jangka waktu singkat sampai 24 jam untuk stasiun #27 (JKakarta Obs, 1971-1987) adalah sebagai berikut:

ht1

Infiltrasi dan Erosi: Berdasarkan pengukuran lapang infiltrasi di DAS Ciliwung Hulu dan prediksi infiltrasi DAS diperoleh dugaan infiltrasi kumulatif tahunan sebesar 70 sampai 74 persen dari total curah hujan.  Prediksi erosi di Ciliwung Hulu didapatkan masih lebih tinggi dari erosi yang diperbolehkan (sebesar antara 20 – 43 ton/ha/tahun) yang terutama terjadi pada lahan tegalan, semak, dan perkebunan, yang meliputi lebih dari 50 persen dari luas Ciliwung Hulu.

Limpasan Permukaan dan Nisbah Limpasan : Limpasan permukaan dari DAS Ciliwung menunjukan nisbah yang berlebihan sebagaimana diperoleh untuk nilai bulanan, harian, maupun jam dengan variasi antara 10 sampai 100 persen. Diperkirakan andil dari airbumi perlu diperhitungkan dengan mempertimbangkan batas aquifer yang kemungkinan tidak sama dengan batas DAS. Hasil perhitungan nisbah limpasan untuk sejumlah periode banjir untuik statsiun Katulampa seperti diberikan pada Tabel 2 berikut.

ht2

Satu episode banjir dicirikan berlangsung selama 10 sampai 20 hari, dan dapat terjadi antara Agustus sampai April dengan mode pada Januari – Februari. Nisbah banjir antara 16% sampai 51%. Untuk bagian tengah dan hilir dapat diharapkan bahwa nisbah banjir ini akan lebih tinggi dari bagian hulu karena terjadinya penurunan kapaitas infiltrasi di bagian tengah dan hilir DAS.

Perhitungan waktu pemusatan juga menunjukan variasi yang besar yaitu antara: 0,4 sampai 3 jam untuk Ciliwung Hulu, 0,9 sampai 7,1 jam untuk Ciliwung Tengah; dan 1,6 sampai 15,5 jam untuk Ciliwung Hilir. Perbedaan ini dihasilkan dari penggunaan 4 rumus yang berbeda, dan tentunya memerlukan pengujian empirik untuk menentukan yang paling tepat. Waktu pemusatan 10 jam dinilai wajar untuk pintu air Manggarai.

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BANJIR CILIWUNG

Pola penggunaan lahan di wilayah DAS Ciliwung masih didominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan, yaitu 61% dari luas DAS Ciliwung Hulu dan 73% dari luas DAS Ciliwung Tengah. Kawasan hutan didapatkan di DAS Ciliwung hulu seluas 5.310 ha, sebagaimana secara lengkap diberikan pada Tabel 3 berikut untuk kondisi tahun 1981 dan 1991 (Singgih, 2000).

ht31

Perbedaan total luas antara dua tahun pengamatan tersebut dikarenakan pengukuran luas diperoleh dari dua peta yang berbeda, yang masing-masing diperoleh sebagai hasil interpretasi citra landsat tahun-tahun bersangkutan. Perubahan penggunaan lahan dari kondisi dua tahun pengamatan itu menunjukkan penurunan luas hutan di Ciliwung Hulu seluas 2 ha, perkebunan seluas 35 ha, sawah total seluas 62 ha, dan lahan tegalan / ladang seluas 152 ha. Penurunn penggunaan lahan serupa didapati juga pada kawasan tengah. Peningkatan yang mencolok terjadi pada luas kawasan permukiman, baik di Ciliwung Hulu maupun Tengah, masing-masing meningkat dari 255 ha menjadi 506 ha untuk Ciliwung Hulu dan dari 1147 ha menjadi 1961 ha untuk Ciliwung Tengah, atau peningkatan masing-masing sebesar 98% dan 71%, yang diperoleh terutama dari penguarangan luas sawah dan tegalan, baik di kawasan hulu maupun tengah.

Perubahan pola penggunaan lahan ini memberi dampak pada pengurangan kapasitas resapan, terutama dilihat dari proporsi perubahan luasan permukiman ini terjadi di Ciliwung Tengah, sehingga akan meningkatkan laju limpasan permukaan yang menghasilkan banjir di kawasan hilir Ciliwung, sampai ke jakarta. Dampak perubahan ini terhadap hidrologi banjir antara kawasan hulu dan tengah DAS Ciliwung akan disajikan pada bagian berikut dari suatu kajian menggunaakan model hidrologi HEC-1.

ANDIL DAERAH HULU DAN TENGAH DAS CILIWUNG TERHADAP DEBIT DAN VOLUME BANJIR

Untuk mengkaji andil daerah hulu dan tengah DAS Ciliwung terhadap debit dan volume banjir daerah hilir telah digunakan model hidrologi HEC-1 sebagai alat untuk menduga berbagai parameter hidrograf banjir, dengan menggunakan data pengamatan untuk kondisi DAS Ciliwung tahun 1981 dan 1999, sesuai dengan ketersediaan informasi penggunaan lahan yang ada.

DAS Ciliwung Hulu telah dibagi ke dalam tujuh subDAS, yang masing-masing dicirikan oleh paramaeter masukan model yang meliputi: intensitas hujan 30-menitan, bilangan kurva sebagai fungsi dari penggunaan lahan dan jenis tanah, luas SubDAS, kelerengan lahan, panjang lereng, dan karakteristik sungai yang meliputi: lebar sungai, kelerengan sungai, kekasaran Manning. Keseluruhan parameter itu juga diperoleh untuk dua SubDAS di Ciliwung Tengah. Pengujian model terhadap data masukan ini dilakukan untuk tujuh kejadian hujan deras (>20 mm / kejadian) tahun 1999 dengan hasil pada Tabel 4 berikut:

ht4

Hasil ini menunjukan tingkat akurasi prediksi model yang dapat diterima, sehingga model dengan parameter terkalibrasi kemudian digunakan untukmenstimulasi debit dan volume banjir untuk kondisi tahun 1981 dan 1999, termasuk kemudian digunakan utnuk menentukan pola penggunaan lahan, yang dapat menekan dampak perubahan lahan terhadap peningkatan debit dan volume banjir.

Hasil stimulasi model HEC-1 untuk kondisi penggunaan lahan DAS Ciliwung Hulu dan Tengah tahun 1981 dan 1999 diberikan pada Tabel 5 berikut:

ht5

Perubahan respon hidrologi DAS yang dinyatakan oleh debit dan volume banjir untuk berbagai subDAS di Ciliwung ini menunjukan peningkatan debit antara 1,6%  sampai 158% untuk subDAS-subDAS di Ciliwung Hulu, dan total untuk Ciliwung Hulu dengan peningkatan debit dari kondisi 1981 ke 1999 sebesar 67% dan untuk Ciliwung Tengah debit banjir meningkat sebesar antara 18 % sampai 31 %, dengan gabungan sebesar 24 %. Sedang untuk volume banjir, peningkatan di Ciliwung Hulu sebesar 59 % dan di Ciliwung Tengah sebesar 17 %.

Sedang untuk menghitung andil yang diberikan oleh kedua bagian DAS Ciliwung ini, volume aliran terhadap banjir di daerah hilir, hasil simulasi dengan HEC-1 untuk kondisi tahun 1981 menunjukan bahwa 43% diberikan oleh Ciliwung Hulu dan 57 % dari Ciliwung Tengah, sedang pada tahun 1999  keduanya sudah berubah menjadi 51 % dari Ciliwung Hulu dan 49% dari Ciliwung Tengah.

Simulasi pengelolaan lahan DAS dalam bentuk tindakan rehabilitasi dan konservasi tanah dan air yang dilakukan menggunakan model HEC-1 dengan memodifikasi nilai parameter model  menurut skenario yang dipilih secara nyata dapat menurunkan debit dan volume banjir sampai batas yang diinginkan.

Tiga skenario yang dipilih, dibandingkan kondisi 1999, adalah: (1) penerapan teknik konservasi tanah dan air terbatas di Ciliwung Hulu saja; (2) sama seperti (1) ditambah tindakan yang sama untuk kawasan tengah; dan (3) sama dengan (2) ditambah dengan tindakan penghutanan kembali lahan kebun campuran.

Hasil skenario (1) menunjukan penurunan 34 % debit puncak di Katulampa dan 25 % volume banjir di Ratujaya. Andil Ciliwung Hulu terhadap  debit di Ratujaya adalah 34 % dan sisanya dari bagian tengah sendiri, dengan peran dominan dari subDAS Ciesek dan Cibogor. Hasil skenario (2) menunjukan peningkatan penurunan volume banjir di Ciliwung-Hulu-Tengah dari 25 % (skenario 1) menjadi 43 %. Andil kawasan tengah sendiri turun 37 % untuk volume banjir dan penurunan 45 % debit banjir. Dan skenario (3) memberikan penurunan debit dan volume banji lebih lanjut untuk Ciliwung Hulu dan Tengah, masing-masing sebesar 53 % dan 65 % untuk Ciliwung Hulu dan 53 % dan 39 % untuk Ciliwung Tengah.

KESIMPULAN

  1. Karakteristik hidrologi DAS Ciliwung dicirikan tidak hanya  ditentukan oleh sifat curah hujannya, akan tetapi juga ditentukan oleh sifat topografi dan jenis penggunaan lahannya. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Jabotabek dan Bopunjur dalam tiga dasawarsa terakhir ini telah mengakibatkan berubahnya fungsi hidrologi DAS, yang secara nyata telah meningkatkan frekwensi dan intensitas banjir bagi DKI Jakarta.
  2. Untuk wilayah Ciliwung Hulu didapatkan bahwa hujan harian lebih dari 50 mm dan hujan 3-harian melebihi 100 mm dapat dikelaskan sebagai hujan deras yang dapat menghasilkan banjir di daerah hilirnya.
  3. Kajian dampak perubahan penggunaan lahan antara tahun 1981 dan 1999 menggunakan model hidrologi HEC-1 menunjukkan meningkatnya debit banjir Ciliwung Hulu (Katulampa) sebesar 68 persen dan untuk Ciliwung Tengah sebesar 24 persen, sedang peningkatan volume banjir untuk Ciliwung Hulu sebesar 59 persen dan Ciliwung Tengah sebesar 15 %. Perubahan ini juga telah diikuti oleh terjadinya peningkatan andil daerah hulu terhadap debit dan  volume banjir di daerah hilir DAS.
  4. Dengan model HEC-1 juga ditunjukkan bahwa pengelolaan lahan DAS hulu yang tepat sebagai tindakan koreksi dapat mengendalikan debit dan volume banjir di daerah hilir sampai tingkat yang diinginkan.

KEPUSTAKAAN

Fogel, M.M. and L. Duckstein, 1969. Point rainfall frequencies in convective storms. Water Resour. Res., Vol 5(6): 1229 – 1236.

French, M.N., W.F. Krajewski and R.R. Cuykendall, 1992. Rainfall forecasting in space and time using a neutral network. J. Hydrol., 137: 1-31.

McCuen, R.H., 1989. Hydrologic Analysis and Design. Prentice Hall, N.J.

Nedeco – PBJR (1973). Masterplan for Drainage and Flood Control of Jakarta

Pawitan, Hidayat, 1989. Kharakteristik Hidrologi dan Daur Limpasan Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Laporan Akhir Penelitian – Lembaga Penelitian IPB, Bogor.

————, (1989a). Present Status of the water management and conservation in the Jakarta urban drainage system. IHP – unesco Conference on Urban Drainage and Water Conservation, Nagoya, 1989.

————, Hendero dan Fakhrudin (2000). Kharakteristik curah hujan deras wilayah Ciliwung Hulu. Makalah hasil penelitian Limnologi – LIPI, Cibinong – Bogor.

Srikanthan, R. and T.A. McMahon, 1985. Stochastic  generation of rainfall and evaporation data. AGPS, Canberra.

Sumber: Hidayat Pawitan (2002). “Hidrologi DAS Ciliwung dan Andilnya Terhadap Banjir di Jakarta. Makalah disajikan dalam Lokakarya Pendekatan DAS dalam Menangglangi Banjir Jakata, diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian IPB bekerjasama dengan Andersen Consult, Jakarta, 8 Mei 2002.

13 Komentar »

  1. assalamualaikum,
    kalau tidak keberatan,data2 ini akan saya pakai
    terimakasih
    greeting from tokyo

    Komentar oleh rama — Juli 14, 2009 @ 11:14 pm

  2. Wa alaikum salam wr. wb.
    Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Kami pun hanya sekadar mengumpulkan berbagai tulisan / informasi tentang banjir yang tersebar diberbagai tempat. Syukur kalau bisa dimanfaatkan.
    Moga Mas Rama sukses dan kelak bisa ikut mewujudkan Indonesia yang bebas banjir (yang menyengsarakan).
    # Sungai Ciliwung, dan bayak sungai lainnya, sudah berkali-kali distudi oleh para konsultan Jepang tapi hasilnya? Masih tetap banjir.

    Komentar oleh Sahroel Polontalo — Juli 15, 2009 @ 3:13 pm

  3. Ass………..,
    Kalau boleh, data ini akan saya pakai.
    Trima kasih.
    Salam kenal

    Komentar oleh rIzki — Oktober 14, 2009 @ 10:47 am

  4. Aslamualikum…..kalau boleh data data ini saya pakai…terimaksih

    Komentar oleh iyunk jambrong — Maret 15, 2010 @ 5:09 pm

  5. ass mas,

    keren bener tulisannya dan bermanfaat, semoga tak bosan2 terus membagi ilmu yach mas… oh kalo butuh data banjir jakarta 1996 2002 2007 gmn yach?

    wass

    marhaendra

    Komentar oleh marhaendra — Maret 18, 2010 @ 12:06 pm

  6. wah.. terima kasih banget informasinya.. tulisannya sangat berisi dan bermanfaat.. saya sedang membuat suatu karya tulis ilmiah ttng banjir.. jika berkenan informasi ini akan saya gunakan..

    Komentar oleh ardi — April 20, 2010 @ 10:18 pm

  7. datanya saya mau pake ya mas??? Bisa toh??? Makasih sebelumnya.

    Komentar oleh nurul aini — September 1, 2010 @ 12:20 am

  8. data ini akan saya pakai buat belajar saya.

    Komentar oleh hapis — November 7, 2010 @ 6:44 pm

  9. G’day, terima kasih atas data-datanya. Aku mau pake buat tugas..

    Komentar oleh Metha — April 9, 2011 @ 1:14 am

  10. artikel ini akan saya pakai utk tugas saya..
    terima kasih …

    Komentar oleh lia — Mei 16, 2011 @ 11:17 am

  11. aslmkm,
    mas, kalo data topografi das ciliwung hulu apakah anda punya? brbentuk peta juga tidak apa2. trims sebelumnya

    Komentar oleh ardita — Juli 21, 2011 @ 1:54 pm

  12. Data yg sangat bernilai bagi kemajuan pembangunan penataan aliran sungai di DAS Ciliwung…dan bila dikelola dengan baik Jkt tdk akan banjir..mari kita berbagi info. salam dan terima kasih pada Bp Hidayat

    Komentar oleh Henricus Bambang Triantono — Januari 18, 2013 @ 1:23 pm

  13. Thx mass artikelnya….

    Komentar oleh Anonymous — Februari 6, 2013 @ 3:06 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 170 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: